Arsip Tag: banjir di kabupaten malaka

Suara Lapar dan Haus Warnai Kondisi Pasca-Banjir Bandang Malaka

330 Views

Malaka-NTT, Garda Indonesia| Sedih, ibarat anak ayam kehilangan induk, warga korban banjir bandang Malaka meneriakkan rasa ingin makan dan minum. Pengalaman nan amat mengharukan ini disaksikan langsung Garda Indonesia dan OMK Paroki Roh Kudus Halilulik, Kabupaten Belu, ketika melintasi sepanjang jalan Desa Fahiluka, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat siang, 9 April 2021.

Dugaan kuat Garda Indonesia, suara – suara menyedihkan itu hadir lantaran sedang merindukan jamahan tangan – tangan penuh kepedulian. Pengalaman ini pun dialami usai menyerahkan sumbangan berupa sembako, pakaian layak pakai ke Posko Ante Morten, Pusat Paroki Maria Fatima Betun.

Kondisi terakhir pasca–bencana banjir bandang Desa Fahiluka, suara–suara spontanitas terdengar dari setiap halaman rumah dan pinggiran jalan penuh timbunan lumpur sisa banjir bandang.

Romo Yogar Fallo dan OMK Paroki Roh Kudus Halilulik, Kabupaten Belu saat menyerahkan bantuan kepada korban banjir bandang di Malaka

Terlihat, semua orang tengah sibuk membersihkan bentangan lumpur di dalam dan luar rumahnya masing–masing. Ada yang mencuci, ada yang menjemur perlengkapan rumah tangga seperti sofa dan kasur, dan ada juga yang menguras sumur. Di sepanjang jalan itu pun tidak tampak binatang–binatang piaraan berkeliaran. Udara di sekitar lokasi bencana tercium  bau–bau tak sedap, terasa menyengat indra penciuman dari sisa–sisa bangkai.

Menanggapi kondisi tersebut, Romo Yogar Fallo menuturkan, bantuan kemanusiaan yang dihantar oleh berbagai pihak ke Malaka belum bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan semua korban banjir. Karena itu, ia masih terus berjuang bersama OMK Paroki yang sebagian besar merupakan anggota THS – THM paroki untuk melanjutkan penggalangan dana kemanusiaan termasuk sumbangan pakaian layak pakai. “Setelah kami serahkan bantuan ke Posko Dekenat Malaka, ternyata di lokasi masih ada teriakan haus dan lapar. Open donasi tetap harus kita lakukan karena banyak warga yang belum tersentuh bantuan terutama kampung– kampung yang sulit dijangkau,” ungkapnya.

Romo Yogar mengaku, pelayanan terhadap para korban banjir tentu ada banyak kekurangan dan kekeliruan. “Seperti di posko Dekenat Malaka ada yang sakit dan terpaksa berbaring saja di lantai beralaskan terpal. Mau minum obat, tapi makanan terlambat. Para petugas mestinya memilah, mana yang darurat dan mana yang tidak. Pendataan perlu dilakukan secara akurat sehingga tidak ada yang terabaikan,” sebutnya.

Kondisi pengungsi di penampungan Posko Ante Morten Betun

Romo Yogar juga meminta, kiranya ada kerja sama yang baik antara gereja dan pemerintah setempat agar bantuan– bantuan yang sedang mengalir deras ke Malaka bisa secepatnya diterima para korban, terutama makanan, minuman dan bantuan air bersih yang sifatnya darurat.

Pemuda Halilulik Bantu Korban Banjir Bandang di Malaka

Kelompok Pemuda Halilulik, Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, turut mengambil bagian dalam memberikan perhatian kepada para korban banjir bandang di Kabupaten Malaka.

Informasi yang diterima Garda Indonesia pada Kamis, 8 April 2021 menyebutkan, kelompok pemuda yang diinisiasi oleh Ronald Dalung dan kawan–kawan itu bergerak menggalang dana dari warga sekitar wilayah Halilulik dengan terlebih dahulu mengantongi surat izin dari Camat Tasifeto Barat dan dukungan dari Koramil Tasifeto Barat, Paroki Roh Kudus Halilulik, Polsek Tasifeto Barat, dan Pemerintah Desa Naitimu.

Bantuan sembako dan pakaian layak pakai itu sudah diserahkan ke Posko Induk Susteran SSpS Betun pada Kamis, 8 April 2021. (*)

Penulis: (*/ Herminus Halek)

“Ngamen di Pasar Halilulik” Pastor Bantu Korban Banjir di Malaka

336 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Orang Muda Katolik (OMK)  Paroki Roh Kudus Halilulik- Keuskupan Atambua, dipimpin Romo Yogar Fallo, Pr, mencari dan mengumpulkan dana di pasar mingguan Halilulik, Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT),  pada Kamis, 8 April 2021.

Disaksikan Garda Indonesia, sejumlah dana yang berhasil dikumpulkan itu berasal dari para penjual dan pengunjung pasar mingguan. Dana itu, kemudian dipakai untuk membelanjakan sembako sesuai dengan kondisi kebutuhan para korban banjir bandang di Malaka. Upaya pencarian sumbangan itu selain di pasar, juga diumumkan secara terbuka melalui mimbar gereja dan dari pintu ke pintu.

Romo Yogar Fallo mengungkapkan, kegiatan kemanusiaan itu berawal dari adanya inisiatif spontan guna membantu sesama umat Allah yang dilanda bencana banjir di Malaka.

Romo Yogar Fallo, Pr (kanan berbaju kaos biru) saat ngamen di Pasar Halilulik

Sebelum menjalankan aksi kemanusiaan itu, sebut Romo Yogar, dirinya sudah terlebih dahulu mempersembahkan intensi khusus dalam misa harian, yang mana menurutnya perkara kemanusiaan melebihi segala sesuatu. Dan, karena itu perlu dijunjung tinggi. “Kebetulan bertepatan dengan hari pasar, sehingga kami memanfaatkan momen itu. Awalnya ada keraguan, tetapi ketika sudah memulai aksi peduli nyata ini, justru ada antusias respons dari banyak orang untuk memberikan sumbangan”, jelasnya.

Dikatakannya, semangat membantu itu benar – benar berasal dari ketulusan hati dengan rasa solidaritas tinggi, merasa bagian dari diri kita sendiri, saudara dalam satu penciptaan, dalam satu dosa, dan dalam satu penebusan melalui kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.

Romo Yogar pun menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan yang telah menggerakkan hati banyak orang untuk memberikan sumbangan secara sukarela. “Terima kasih untuk semua orang yang sudah peduli. Kita jangan melihat sumbangan ini sebagai beban, melainkan melihat ini sebagai bantuan kepada diri kita yang lain. Apresiasi dan terima kasih kepada sesama non – Katolik yang juga telah mengambil bagian dalam peduli kemanusiaan ini. Mari, kita bersama membangkitkan kembali keceriaan saudara – saudara kita di Malaka,” papar Romo Yogar, pastor pembantu Paroki Roh Kudus Halilulik.

Warga sedang memberikan sumbangan bagi korban banjir bandang di Malaka

Pada kesempatan yang sama, Pastor Paroki, Romo Febronius Fenat, Pr menuturkan bahwa aksi peduli kemanusiaan ini merupakan kerja sama antara Paroki Roh Kudus Halilulik dan OMK Paroki sebagai bentuk perwujudan rasa turut prihatin terhadap para korban bencana alam di Malaka.

Inisiatif pengadaan dana ini sebut Romo Roni, timbul atas dasar iman Katolik untuk membantu sesama saudara yang sedang menderita akibat bencana banjir bandang di Malaka. “Kita buat kotak amal, lalu bawa ke pasar, toko – toko, rumah sakit, BRI, dan instansi – instansi pemerintahan. Kita juga buatkan surat pengantar dari Paroki sehingga orang tahu bahwa pencarian dana ini, resmi”, tandas Romo Roni.

Ia pun memaparkan, donasi ini merupakan pemberian dari hati terdalam dari umat paroki dan warga sekitarnya kepada sesama saudara korban bencana. “Jangan melihat besar kecilnya nilai bantuan ini. Inilah keterlibatan kami dalam membantu para korban di Malaka,” ujar Romo Roni.

Romo Eman Siki, Pr menegaskan, aksi peduli kemanusiaan ini sangat tepat dengan implementasi dari tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) Keuskupan Atambua tahun 2021: ‘Pemberdayaan Ekonomi yang Berbela Rasa’. “Mari kita berbela rasa dengan sesama kita yang terkena dampak banjir bandang di Malaka dengan memberikan bantuan seadanya. Inilah pemberian dari keterbatasan kami. Semoga bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan sesama korban di Malaka,” harap Romo Eman, pastor pembantu Paroki Roh Kudus Halilulik. (*)

Penulis: (*/ Herminus Halek)

Waspada Bencana Hidrometeorologi, Banjir Landa Sejumlah Wilayah Indonesia

273 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Banjir melanda sejumlah wilayah Indonesia pada Jumat, 22 Mei 2020. Kejadian itu dipicu salah satunya intensitas hujan tinggi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana memonitor wilayah dengan banjir di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, NTT dan Aceh.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mengungkapkan banjir yang terjadi di Kabupaten Luwu, Provinsi Selatan mengakibatkan 4 unit rumah rusak berat. Bahkan dua lainnya hanyut terbawa arus deras banjir. Banjir yang terpantau pada pukul 2 dini hari waktu setempat mengakibatkan 75 jiwa mengungsi. Banjir ini berlokasi di Desa Pompengan Tengah dan Pompengan Pantai di Kecamatan Lamasi Timur, Luwu. Kondisi terkini, pada Sabtu, 23 Mei 2020 pukul 09.00 WIB, banjir berangsur surut.

“Kerugian material lain berupa bangunan terendam banjir, yakni 230 unit rumah, 2 sekolah dan 1 tempat ibadah. Sedangkan areal terdampak berupa 450 hektar sawah dan 150 hektar kebun,” urai Raditya.

BNPB juga mendapatkan laporan kejadian banjir dari BPBD Provinsi Sulawesi Barat, imbuh Raditya, Banjir di wilayah itu terjadi pada Jumat, 22 Mei 2020 pukul 07.00 waktu setempat. Banjir melanda tiga desa di tiga kecamatan, yakni Batupanga di Kecamatan Luyo, Mammi di Binuang dan Labasang di Matakali. “Sebanyak 55 unit rumah terendam akibat banjir, dengan rincian 40 unit di Kelurahan Batupanga dan 15 di Mammi, sedangkan puluhan hektar sawah di Matakali,” bebernya.

Pantuan pada Sabtu pagi, 23 Mei 2020 sekitar pukul 09.20 WIB banjir telah surut.

Banjir juga melanda wilayah timur Indonesia, tepatnya di empat kecamatan, Kabupaten Malaka, Provinsi NTT. Kecamatan terdampak banjir di Kecamatan Wewiku, Malaka Tengah, Malaka Barat dan Welimpan.

Banjir di sejumlah kecamatan ini merendam 276 rumah dan 20 hektar sawah dan kebun dengan ketinggian air beragam 30 hingga 50 cm. Namun demikian, banjir telah surut pada pagi ini.

Dua kejadian banjir lain yaitu di Kabupaten Hulu, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Aceh Selatan di Provinsi Aceh. Banjir di Kelurahan Barabai Selatan dan Barabai Darat, Kecamatan Barabai, Hulu, Kalsel terjadi pada Jumat pagi, 22 Mei 2020, pukul 05.00 waktu setempat.

Warga terdampak berjumlah 190 KK (585 jiwa), dengan rincian Kelurahan Barabai Selatan berjumlah 70 KK (210 jiwa) dan Barabai Darat 120 KK (375 jiwa). Sedangkan dampak material mencakup 190 unit rumah terendam.

Terakhir, tandas Raditya, banjir di Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Banjir terjadi pada Jumat, 22 Mei 2020, pukul 20.00 WIB ini melanda tiga kecamatan. Beberapa desa di kecamatan tersebut terendam dengan ketinggian air beragam 30—50 cm. Banjir telah surut di beberapa titik lokasi. Berikut ini desa atau gampong terdampak banjir di kabupaten tersebut, Gampong Ladang Kasik Putih (Kecamatan Samadua), Drien Jalo dan Jambo Papuen (Meukek), Panton Pawoh, Tengah Iboh, Pulo le dan Tutong (Labuhan).

Upaya pemerintah daerah yang dipimpin oleh masing-masing BPBD sangat cepat dengan melakukan evakuasi warga, pendataan dan dukungan logistik penanganan darurat.

Terkait dengan potensi intensitas hujan tinggi dan pergantian musim dari hujan ke kemarau, warga diimbau untuk mewaspadai bahaya bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor dan angin puting beliung. (*)

Sumber berita dan foto (*/Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB)
Editor (+rony banase)