Arsip Tag: gereja masehi injili di timor

Gubernur VBL : “Kembalikan Kejayaan Sekolah GMIT di NTT!”

511 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), meminta pihak Gereja untuk segera mengembalikan kejayaan sekolah Gereja Majelis Injili di Timur (GMIT) Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Hal itu dikatakan Gubernur saat menghadiri syukuran HUT Jemaat Yegar Sahaduta Oenaek, Klasis Kupang Barat, Kabupaten Kupang, pada Jumat, 6 September 2019.

“Saya ingat persis, dulu itu sekolah GMIT dibawah Yayasan Yupenkris, sangat ditakuti oleh sekolah negeri dalam hal prestasi dan juga kedisiplinannya. Setiap kali ada perlombaan apapun, pasti sekolah GMIT yang juara. Tetapi sekarang keadaan itu berubah drastis. Oleh karena itu saya minta pihak GMIT melalui gereja – gereja untuk segera mengembalikan kejayaan itu,” kata Gubernur.

“Karakter Yesus harus ditampilkan di dalam pribadi setiap jemaat, sehingga menurut saya pendidikan berkarakterlah yang harus dikedepankan untuk menjadikan karakter Yesus nampak dalam diri setiap orang. GMIT dan Gereja harus bersama – sama serius mengerjakan hal ini,” pinta Gubernur Viktor Laiskodat.

Orang nomor satu di NTT ini juga mengajak seluruh anggota jemaat yang 80 persennya bekerja sebagai petani dan peternak ini, untuk serius mengerjakan usaha mereka ini.

“Saya bangga masyarakat di tempat ini mau berwirausaha. Jangan hanya mau menjadi PNS, karena pengusaha itu penghasilannya lebih besar dari PNS. Tinggal dirubah cara berpikir dan cara kerjanya. Mereka bukan lagi menjadi buruh tani maupun buruh ternak, tetapi harus dijadikan pengusaha tani dan pengusaha ternak. Pemerintah saat ini serius memperhatikan hal ini, mulai dari sistem permodalan maupun bagaimana memfasilitasi penjualan hasil yang mereka peroleh,” sambung VBL.

Foto bersama Gubernur NTT Viktor Laiskodat, Ketua GMIT Dr. Merry Kolimon, Wakil Bupati Jerry Manafe dan Jemaat Yegar Sahaduta Oenaek, Klasis Kupang Barat,

“Akan ada sebuah aplikasi informasi yang dibuat oleh pemerintah, namanya Ladang Rakyat. Aplikasi ini akan memuat informasi berapa banyak lahan yang akan ditanam, berapa banyak hasil yang akan dipanen, semuanya akan dimuat dalam aplikasi ini. Dengan demikian para petani dan peternak tidak kesulitan khususnya dalam memasarkan hasil mereka, karena pasarnya sudah jelas dan akan langsung turun ke lokasi untuk membelinya,” kata mantan anggota DPR RI dari Partai Nasdem ini.

Di akhir sambutannya, Gubernur kembali mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan.

“Saat ini Kota Kupang mulai berbenah dan sudah mulai menunjukkan hasil yang baik. Kebersihan sudah mulai nampak, walaupun belum sesuai harapan. Oleh karena itu kita harus mendukung agar NTT bisa bebas dari masalah sampah, khususnya sampah plastik. Khusus mengenai sampah plastik ini, jika ada pembangunan gedung atau rumah yang harus dicor, maka sampah plastik ini juga dicampur dengan semen lalu dicor. Hal ini saya pelajari di Singapura, dan mereka berhasil menanggulangi masalah sampah plastik,” tambah gubernur.

Sementara itu dalam Suara Gembala yang disampaikan oleh Ketua Majelis Sinode GMIT, Dr. Merry Kolimon, menjelaskan bahwa saat ini Gereja sedang berusaha untuk membawa perubahan demi membuat NTT bisa sejahtera.

“Selain tugas Gereja membawa kabar baik bagi semua orang, saat ini kami juga sedang mempersiapkan Gereja untuk menjadi pusat belajar bagi anak – anak. Kita mempersiapkan SDM sedini mungkin, sehingga masyarakat NTT dapat terbebas dari tawanan, baik tawanan kebodohan maupun tawanan kemiskinan. Kami akan berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, sehingga target kami untuk menghasilkan masyarakat sejahtera di NTT dapat terealisasi dalam waktu dekat,” kata Merry.

Turut hadir dalam kesempatan ini Wakil Bupati Kabupaten Kupang, Jerry Manafe, Kepala Dinas PUPR Provinsi NTT, Maksi Nenabu. (*)

Sumber berita (*/Sam Babys–Biro Humas dan Protokol Setda Prov. NTT)
Editor (+rony banase)

PPMT SoE, Gubernur Viktor Laiskodat Tantang Vikaris Jadi Pribadi Militan

367 Views

SoE-TTS, Garda Indonesia | “Orang-orang militan itu tidak pernah cemburu, tidak hanya melayani kelompoknya saja. Mereka melayani manusia dan alam. Karena itu, Bapak Ibu vikaris yang dipersiapkan di sini tidak boleh hanya melayani agamanya saja.” ujar Gubernur NTT Viktor Laiskodat

Pernyataan tersebut disampaikannya saat menutup kegiatan Pengembangan Swadaya Masyarakat Vikaris GMIT Angkatan ke-3 di Pusat Pelatihan Misi Terpadu (PPMT) SoE di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kamis 25 Juli 2019.

“Untuk konkritnya, dua hari dari sekarang kirim proposal usaha kepada saya. Saya ingin lihat orang kaya yang cinta alam dan sesama, menjadi orang kaya yang bisa berbagi,” kata Viktor Laiskodat menantang 96 vikaris peserta yang berasal dari 45 klasis GMIT di NTT itu.

Hadir mendampingi Gubernur Viktor dalam acara tersebut Wakil Bupati TTS Army Konay, Ketua Komisi IV DPRD NTT Thomas Tiba, Asisten Bidang Pemerintahan Sekda NTT Jamaludin Achmad, Kepala Biro Hukum NTT Alex Lumba dan rombongan.

Gubernur NTT Viktor Laiskodat saat memberikan semangat dan apresiasi kepada Vikaris GMIT saat kegiatan Pengembangan Swadaya Masyarakat Vikaris GMIT Angkatan ke-3 di Pusat Pelatihan Misi Terpadu (PPMT) SoE

Di hadapan peserta, Gubernur Laiskodat menyentil kata Militan yang juga merupakan semboyan PPMT. Semboyan Militan tersebut merupakan akronim dari kata Melayani, melatih dan menyejahterakan. Lebih lanjut ia menyebutkan kalau nilai-nilai militansi itu ada pada orang yang pikirannya benar, hatinya benar dan punya keberanian.

“ Inever stop when tired. I only stop when I am done, itu baru militan. Orang militan itu mampu berpikir di luar kotak, optimis, kerja mati-matian, peduli luar biasa, berani ambil resiko, nyawapun diberikannya untuk kepentingan publik,” sebut Gubernur Viktor Laiskodat dengan bersemangat dalam pelatihan yang sudah dimulai sejak tanggal 1 Juli 2019 lalu.

Secara khusus, Gubernur NTT ini memuji karya pelayanan Sinode Gereja Kristus Yesus (GKY) sebagai pionir. GKY dinilainya mampu mendorong Sinode Gereja Masehi Injili Timor (GMIT) untuk juga memberi karya pelayanan yang lebih nyata. Politisi NasDem itu bahkan meminta GKY untuk turut membantu masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua dan Alor.

Hasil karya Vikaris GMIT yang dipamerkan saat kegiatan Pengembangan Swadaya Masyarakat Vikaris GMIT Angkatan ke-3 di Pusat Pelatihan Misi Terpadu (PPMT) SoE

Viktor Bungtilu Laiskodat meyakini kalau pemerintah dan gereja bekerja serius maka semuanya mungkin. Berkali-kali Putra Semau itu menyebut bangganya menjadi orang NTT, Provinsi yang disebutnya sangat kaya. Ia berharap dapat terus dilatih tenaga-tenaga terampil seperti yang sudah ada, dengan jumlah yang lebih banyak lagi setiap tahunnya.

Mewakili sinode masing-masing, dua orang perwakilan ikut diberikan kesempatan memberikan sambutan pada awal acara. Mereka adalah Pendeta Johari Yohanis,M.Th dari sinode GKY Jakarta dan Penatua GMIT Liven Rafael.

Pendeta Johari Yohanis,M.Th menyebutkan tantangan gereja yang semakin kompleks, untuk menjalankan dua mandat ilahi. Dua mandat yang dimaksudnya adalah mandat spiritual dan sosio kultural.

“Mandat spiritual, mengajak kita untuk mampu mengenal dan dekat dengan Tuhan. Sedangkan Mandat kultural, menuntut kita untuk bertanggung jawab mengelola semua sumber daya alam di sekitar,” sebutnya seraya mengajak gereja untuk tidak terjebak pada urusan spiritual saja, gereja juga harus nyata membantu setiap persoalan sosial masyarakat.

Putra Dayak Kalimantan Timur itu juga menyebut alasan mereka membekali para calon pendeta itu. Menurutnya, mereka memiliki kompetensi dan authority untuk menggerakan umat sebagai warga bangsa. Mereka diyakini memiliki pengaruh yang lebih besar untuk mempercepat upaya menumbuhkembangkan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Liven Rafael menyebutkan pentingnya Kemitraan. Dengan bekal berbagai ilmu dan ketrampilan yang didapat selama 25 hari itu, para vikaris diharapkan mampu membangun kerja sama dengan semua lembaga sosial, terutama dengan pemerintah. Menurutnya, kalau jemaat sejahtera, masyarakat juga pasti sejahtera.

Turut didaulat dua vikaris untuk menyampaikan pesan dan kesan mereka, mewakili peserta. Mereka mengungkapkan rasa syukur yang tak terhingga untuk pengalaman bersama itu. Terungkap kebahagiaan mendalam karena bisa saling mendengar, belajar menerima perbedaan-perbedaan yang dijumpai.

Mereka merasa tertantang untuk menjadi pelayan yang sempurna. Tidak hanya mampu berdoa dan berkotbah. Mereka tak sabar untuk segera beraksi nyata menerapkan ketrampilan mengolah lahan, melayani jemaat untuk mengejar kesejahteraan.(*)

Sumber berita (*/Lucky– Biro Humas dan Protokol Pemprov NTT)
Editor (+rony banase)