Arsip Tag: imo ntt

Bedah Buku ‘Kuasa Media di Indonesia’, Media & Warganet Tangkal Isu Intoleransi

181 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Komunitas Peacemaker Kupang (KOMPAK) menghelat Diskusi dan Bedah Buku ‘Kuasa Media di Indonesia—Kaum Oligarki, Warga, dan Revolusi Digital’ karya Ross Tapsel pada Sabtu, 22 Februari 2020 pukul 09.00—selesai di Luy Pung Cafe areal Ruko Friendship.

Menghadirkan 5 (lima) pemantik diskusi yakni Anna Djukana dari Aliansi Jurnalis Independen, Beverly Rambu dari media Victory News, Pengelola Portal Berita Daring Garda Indonesia, Rony Banase yang mewakili Ikatan Media Online Indonesia (IMO-Indonesia) DPW Provinsi NTT, Novermy Leo dari media Pos Kupang dan Jurnalis detik indonesia, Yoseph Mbete Wangge yang mewakili Organisasi Jurnalis Muda NTT.

Turut hadir dalam Diskusi dan Bedah Buku, Ketua DPRD Provinsi NTT Emi Nomleni, Aktivis Perempuan untuk Kemanusiaan, Pdt.Emy Sahertian; Ketua Majelis Agama Buddha Theravada (Megbudhi) Provinsi NTT, Indra Effendy; dan perwakilan organisasi mahasiswa lintas agama.

Suasana Diskusi dan Bedah Buku “Kuasa Media di Indonesia’ karya Ross Tapsell di Luy Pung Cafe

Hasil bedah buku menunjukkan dua sisi antara Kaum Oligarki dan Warganet dimana Oligarki mengontrol ranah media media arus utama (mainstream) dan mendorong struktur kekuasaan elite terpusat di sektor politik dan media, sedangkan Warganet menggunakan media digital untuk membangun basis komunitas warga dengan tujuan aktivitas dan pembebasan yang dapat digunakan untuk menantang struktur kekuasaan elite melalui penggunaan media digital efektif.

Dari dua kelompok ini (Oligarki dan Warganet) akan memiliki intervensi dan dampak dengan tendensi luas dan jauh ke dalam politik dan budaya Indonesia ke depan. Kondisi ini, menurut Koordinator KOMPAK, Zarniel Woleka, media dapat digunakan sebagai alat pendidikan dan kampanye toleransi, gender, disabilitas, lingkungan inklusi yang adil bagi masyarakat Indonesia.

Dalam sesi diskusi, Zarniel berharap agar didorong sebuah Gerakan Toleransi Warganet (nitizen) karena 70 persen populasi daring (online) berada di bawah usia 35 tahun (Generasi Milenial atau Generasi Y) dan sekitar 71,6 persen penduduk Indonesia mengonsumsi berita melalui media sosial.

“Dengan adanya Gerakan Toleransi Warganet, dapat dilakukan pemahaman akan pentingnya isu keberagaman dan dapat mengedukasi nitizen tentang pentingnya kampanye toleransi, gender, disabilitas, lingkungan inklusi yang adil,” harap Zarniel.

Menyikapi kondisi di atas, Ketua IMO Indonesia Wilayah NTT, Rony Banase menyampaikan perlunya edukasi berupa Literasi Media Digital bagi Warganet untuk menggunakan internet secara positif dan sehat. “Diperlukan pembekalan bagi Warganet yang berada pada usia rentan dan dapat dipengaruhi dengan memberikan edukasi berupa Literasi Media Digital,” imbuh Rony Banase.

Menurut Rony, Sejalan dengan Visi Organisasi IMO Indonesia yang telah mengokohkan prinsip untuk tidak menyebarkan informasi yang bersifat hoaks, ujaran kebencian dan SARA Provokatif, maka merupakan kerja bersama untuk mengedukasi warganet yang merupakan citizen journalism (jurnalis warga).

“Karena warganet membentuk basis komunitas di era digital seperti grup facebook, grup whatsapp, dalam bentuk media jurnalis warga lainya, kita dapat melakukan panetrasi dan memberikan atensi berupa pemahaman akan keberagaman dan penyadaran akan isu Intoleransi,” imbuh Rony Banase sembari menyampaikan bahwa IMO NTT konsisten dan kontinu menyuarakan prinsip dasar kerja organisasi IMO-Indonesia.

Senada, perwakilan Aliansi Jurnalis Independen Anna Djukana, mengatakan masih banyak media yang tidak mendukung isu keberagaman dan gender bahkan banyak yang mengeksplorasi perempuan “Media tidak mendukung keberagaman dan isu – isu gender, banyak mengeksploitasi perempuan.” ungkap Anna.

Begitu pula dikatakan oleh perwakilan Pos Kupang, Novermy Leo menyatakan bahwa banyak media saat ini memilih pemberitaan dengan rating tinggi untuk kepentingan bisnis, dan mengesampingkan pesan pesan edukasi bagi masyarakat.
“Media hari ini memilih pemberitaan – pemberitaan dengan rating tinggi untuk tujuan bisnis. Sebenarnya kita bisa menyisipkan pesan – pesan dan edukasi bagi masyarakat melalui berita – berita dengan rating tinggi.” ujar Novermy Leo.

Perwakilan Victory News Beverly Rambu, menegaskan bahwa masyarakat sebagai kekuatan media, harus memiliki kecerdasan yang bijak untuk mengikuti perkembangan zaman dan dapat memanfaatkan platform digital untuk menyuarakan pendapat, fakta, peristiwa dengan bijak, tanpa harus disebarkan dengan sistem hoaks dan memprovokasi.

“Dalam berpendapat perlu diperjuangkan nilai-nilai positif yang berguna dan penuh tanggung jawab. “Berpendapatlah dan perjuangkan nilai-nilai positif yang berguna melalui berbagai platform digital dan media sosial dengan penuh tanggung jawab moral serta beretika sehingga benar-benar menjadi kekuatan bangsa yang membanggakan dan membawa perubahan signifikan bagi Indonesia.” ungkapnya.

Ketua II Jurnalis Muda NTT, Yoseph Mbete Wangge menyampaikan perlu ada kecerdasan dalam menyiapkan strategi berkampanye di media sosial, sehingga hasil ke depan dapat dihitung dengan baik serta memiliki nilai yang positif. “Cerdas menyiapkan strategi kampanye medsos misalnya, konsolidasi wacana merupakan salah satu solusi karena untuk menjadikan sebuah isu terakumulasi algoritma dan menjadi tranding, ”pungkasnya.

Penulis dan editor (+rony banase)

Empat Media Naungan IMO NTT Raih Juara Menulis Berita oleh Kantor Bahasa NTT

155 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | 4 (empat) media yang bernaung di bawah Organisasi Media Online (IMO) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil meraih juara dalam Lomba Menulis Berita bagi Media Massa Daring se-Kota Kupang yang dihelat oleh Kantor Bahasa NTT dalam rangkaian Semarak Bulan Bahasa 2019.

Adapun media yang tergabung dalam IMO NTT yang meraih juara yakni Medika Star (http://medikastar.com), Garda Indonesia (www.gardaindonesia.id); Topnews NTT (www.topnewsntt.com); dan Indonesia Menyapa (https://indonesiamenyapa.com).
Berikut daftar lengkap pemenang dalam lomba yang digelar sejak 13—21 November 2019 dan pengumuman hasil lomba pada Jumat, 22 November 2019 :
Pemenang I Cakrawala NTT (285)
Pemenang II Medika Star (268)
Pemenang III Garda Indonesia (254)
Harapan I Teropong NTT (252)
Harapan II Berita Lima (248)
Harapan II Topnews NTT (193)
Harapan III Mahensa Express (176)
Harapan III Indonesia Menyapa (141)

Foto bersama Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate dan para pemenang lomba menulis berita di media massa daring di Kota Kupang

Selain lomba menulis berita bagi Media Massa daring (online), Kantor Bahasa NTT juga menghelat Lomba Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Majalah Dinding (Mading) Digital SMP/MTS dan SMA/SMK/MA dan Penggunaan Bahasa Indonesia pada Tata Naskah Dinas lingkup Pemprov NTT dan Pemkot Kupang.

Plt.Ketua IMO NTT, Hironimus Dure Banase menyampaikan rasa bangga dan bahagia karena dari 8 (delapan) pemenang lomba, 4 (empat) pemenang berasal dari media dibawah naungan IMO NTT yang konsisten mengikuti penyuluhan penggunaan Bahasa Indonesia yang digelar oleh Kantor Bahasa NTT.

Plt.Ketua IMO NTT, Hironimus Dure Banase (baju putih) usai menerima piala pemenang III dan di samping Medika Star saat menerima piala pemenang II

Pemilik dan pengelola Media Top News NTT, Julia Bida Rehi usai menerima penghargaan berupa piala dan uang pembinaan pada Senin, 25 November 2019 mengucapkan terima kasih kepada Kantor Bahasa yang telah mengapresiasi para pekerja media. “Walaupun masih banyak kekurangan yang kami lakukan namun melalui apresiasi lomba ini, kami para pekerja media dapat lebih memperhatikan kaidah dan lebih mencintai Bahasa Indonesia,” tutur Julie, Pemenang Harapan III dengan antusias.

Sementara itu, Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd. saat menyampaikan hasil lomba beberapa kekurangan cara penulisan tata Bahasa Indonesia. “Catatan juri secara detail menilai masih banyak penulisan tata Bahasa Indonesia pada Media Massa Daring (online) terdapat kesalahan pada penulisan gelar, penggunaan kata tidak baku, penggunaan tanda baca kalimat langsung, kalimat belum efektif dan kerap kali lupa menempatkan tanda titik pada akhir penulisan kalimat, sering kali keliru menempatkan tanda baca sebelum dan sesudah tanda petik dua, mengulang dua kata yang sama dalam satu kalimat, dan tidak menggunakan huruf miring pada bahasa asing,” ungkap Kepala Kantor Bahasa NTT.

Valentina Tanate juga mengimbau para wartawan untuk lebih sering dan rajin untuk membuka Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) yang tersedia dalam versi Daring (Dalam Jaringan) dan Luring (Luar Jaringan) untuk melihat dan memeriksa kata yang baku dan tidak baku.

“Peringkat I—III telah cermat menggunakan Bahasa Indonesia meski belum terlalu sempurna. Sementara pemenang dibawahnya masih banyak melakukan kesalahan dalam penulisan Bahasa Indonesia,” tandas Valentina.

Sebelumnya, induk semang organisasi para pemilik media online (IMO Indonesia, red) pada Sabtu siang, 16 November 2019 telah menggelar Dialog Kebangsaan bertajuk “Pers Pemersatu Bangsa” di Gedung Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Jakarta dan secara aklamasi memilih Kasum TNI Letjen Joni Supriyanto sebagai Ketua Dewan Pembina IMO Indonesia.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)