Arsip Tag: jalan rusak di desa dubesi

Mekar Sejak Tahun 1993, Desa Dubesi di Belu Masih Jadi ‘Anak Tiri’

611 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | “Saya sendiri yang bilang (berkata), Desa Dubesi masih tetap seperti Anak Tiri,” demikian curahan hati Andreas Atok, Kepala Desa Dubesi, Kecamatan Nanaet Dubesi, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin, 22 Juni 2020.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/06/24/pembangunan-di-desa-dubesi-batas-ri-rdtl-diduga-diabaikan-pemda-belu/

Andreas menjelaskan, sejak pemekaran pada tahun 1993 hingga sekarang ini (2020), Desa Dubesi sudah empat kali pergantian kepala desa. Mulai dari desa persiapan (6 tahun), desa definitif dengan kepala desa pertama mantan Blasius Manek (8 tahun), diganti lagi oleh mantan Sipri Moruk (6 tahun), dan sekarang dijabat oleh dirinya di periode kedua (tahun ke-7). Dengan demikian, berdirinya Desa Dubesi sudah 27 tahun, tetapi kondisi jalan desa masih juga belum beraspal. Kalau jabatannya menembus 12 (dua belas) tahun, maka jumlah tahun pemekaran menjadi 32 (tiga puluh dua) tahun.

Selain itu, Andreas juga menyinggung soal air bersih. Di wilayah lain, lokasi pengeboran air bersihnya sangat berdekatan. Tetapi di Dubesi sama sekali tidak ada. Proposal usulannya sudah dikirimkan berulang- ulang bahkan sampai ke pusat.

Hal lain lagi terkait jaringan telkomsel dan jaringan internet. “Tower jaringannya ada dulu, baru kita bicara pemasangan wi-fi dalam ruangan kantor desa. Kita mau telepon saja jaringan sulit, apalagi jaringan internet? Sekarang ini kita baru nikmati listrik. Itu pun belum semua rumah, terutama mereka yang ekonominya lemah belum bisa lakukan pemasangan,” urainya.

Di akhir pembicaraannya itu, Andreas mewakili masyarakatnya meminta kepada pemerintah baik kabupaten, provinsi maupun pusat agar bisa mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Kabupaten Belu, khususnya di Desa Dubesi.

“Yang sangat kami butuh itu jalan, air, jaringan telkomsel dan jaringan internet. Soal rumah, kita dari desa bisa tangani sendiri dengan dana desa yang ada,” pintanya. (*)

Penulis + foto (*/HH)
Editor (+ rony banase)

Pembangunan di Desa Dubesi Batas RI-RDTL, Diduga Diabaikan Pemda Belu

354 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Tampak menyedihkan ketika sejumlah jurnalis melintasi jalan di wilayah Desa Dubesi, Kecamatan Nanaet Dubesi, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Perbatasan RI- RDTL, pada, Senin 22 Juni 2020. Kala itu, Garda Indonesia ditemani dua wartawan perlahan memacu kendaraan roda dua menuju Kantor Desa Dubesi.

Miris terasa, adrenalin seakan terpacu saat menanjak dan menuruni jalan jalan berbatu dan berkerikil di wilayah desa Dubesi yang terkesan diabaikan. Sepanjang perjalanan, sejauh melewati, kerikil jadi pijakan dan batu pun jadi landasan. Tajam meruncing, aus mengikis putaran roda- roda karet. Sedih, memang! Kantor Desa Dubesi yang hendak dituju itu pun cukup menyita waktu.

“Mungkin Belu terlalu luas, sehingga pembangunan jalan dan jembatan di wilayah ini harus terhenti di setiap kali usulan,” demikian ungkapan hati Kepala Desa Dubesi Andreas Atok kepada awak media, saat ditemui siang itu di ruang kerjanya pada Senin, 22 Juni 2020.

Kepala Desa Dubesi Andreas Atok

Andreas mengaku, masa kepemimpinannya sebagai kepala desa di wilayah itu sudah memasuki periode kedua (2013—2019, 2019—2025). Namun, kondisi pembangunan yang dirasakannya hingga saat ini sangat memprihatinkan. Rasa itu terus memotivasi semangatnya untuk tiada berhenti dan terus berjuang untuk menggapai cita demi rasa nyaman mengaluti segenap warga Desa Dubesi.

“Sebagian besar masyarakat desa ini masih mempercayakan saya di periode kedua dalam pilkades tahun lalu. Saya hanya bisa yakinkan warga dengan alasan bahwa ‘Mungkin Belu Ini Luas’. Bersabar saja, karena usulan perbaikan jalan dan jembatan sudah berulang-ulang kita sampaikan melalui Musrembangkab”, kisahnya sembari berharap agar segera ada realisasi pembangunan jalan dan jembatan di wilayah desanya itu.

Andreas pun menggambarkan wilayah desa Dubesi seluas 231,61 m2 bujur sangkar dengan jumlah penduduk lebih banyak dari 3 (tiga) desa lain (Nanaet, Fohoeka, Nanaenoe) di Kecamatan Nanaet Dubesi. Jumlah Kepala Keluarga (KK) 373 (tiga ratus tujuh puluh tiga) dengan jumlah jiwa 1.572 (seribu lima ratus tujuh dua). Sedangkan, jalan utama yang melintasi empat dusun di wilayah desa Dubesi sepanjang kurang lebih 5 (lima) kilometer.

Andreas menjelaskan, musim hujan menjadi kendala utama yang selalu dihadapi masyarakatnya dalam distribusi hasil komoditi (kemiri, jambu mente dan maek bako). Ekonomi masyarakat menurun lantaran akses jalan yang sangat tidak memadai.

“Soal jalan, kita tidak tinggal diam, setiap tahunnya kita masukan. Tugas kita, usul lewat musdus, musrembangdes di tingkat kecamatan. Tidak pakai proposal juga, sudah masuk rangking. Bahkan, rangking setiap tahun. Hanya, Belu ini luas,” ungkapnya lagi.

Menurutnya, tahun 2020 ini sudah ada sebaran kegiatan di tingkat musrembangcam berupa pembangunan jalan aspal sepanjang 3 (tiga) kilometer yang menghubungkan wilayah Desa Nanaet dan Desa Dubesi, rumah bantuan 8 (delapan) unit, dan 1 (satu) unit embung di We’marten dengan kapasitas penampungan 1000 liter (pagu anggaran 1 miliar).

“Mungkin, terkendala dengan wabah Corona ini. Kita berdoa menunggu, tidak bisa memaksakan. Saya tidak bermaksud melapor. Jangan sampai ada revisi anggaran besar- besaran di Kabupaten karena wabah Corona ini, kita tidak tahu. Sebaran kegiatan Kabupaten tingkat Kecamatan Nanaet Dubesi tahun ini betul ada, tetapi tergantung revisi anggaran dan kemampuan APBD-nya,” tandas kepala desa Andreas melalui sambungan telepon pada Rabu 24 Juni 2020 pagi. (*)

Penulis + foto (*/HH)
Editor (+ rony banase)