Arsip Tag: kecamatan raihat

Tim Ring I SAHABAT 2015 Tinggalkan SAHABAT Jilid II, Ini Alasannya

2.371 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | “Saya, (tahun) 2015, tim ring I paket SAHABAT. Saya harus bicara terbuka supaya bapak mama tahu. Kenapa saya tinggalkan paket SAHABAT? Setiap ring I paket SAHABAT waktu itu bekerja pakai otak, pakai tenaga, bagaimana SAHABAT harus menang. Tetapi, satu hal yang membuat saya tinggalkan SAHABAT adalah kalimat janji, ‘Saya maju satu kali saja. Setelah itu, saya kaderkan orang–orang muda dari utara’. Janji itu, tidak ditepati! Maka, saya dan beberapa teman menyatakan sikap tinggalkan SAHABAT. Kita mau lihat dia punya jago sampai di mana?”, alas Anis Ati saat kampanye paket SEHATI di Desa Tohe, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu, 18 November 2020.

Bahkan, menurut Anis Ati, ada janji tentang air dan listrik. Soal jalan, sempat membuat tim ring I SAHABAT 2015 pusing bukan kepalang, lantaran jalan sabuk merah yang saat ini melintas di wilayah Belu Utara sudah mulai diukur.

“Sekarang mereka pakai gaya yang sama dengan 2015. Ada oknum–oknum kepala desa yang pakai bantuan rumah dari pusat (untuk tekan masyarakat, red). Katanya, kalau tidak dukung SAHABAT berarti nama dicoret. Kasih tahu dia, dia bisa coret keputusan menteri kah? Dia hebat sekali,” tekan Anis Ati geram.

Anis Ati, Foto (*/istimewa)

Kekesalannya terhadap sikap beberapa oknum kepala desa pun terpaksa diungkapkan Anis Ati, bahwa sewaktu SAHABAT menang di tahun 2015, oknum-oknum itu datang meminta bantuan kepada dirinya untuk tolong bicara ke bupati, agar diberikan rekomendasi calon kepala desa.

Anis Ati juga meminta kepada para kepala desa diam selama masa politik ini. Jadilah wasit dan pemimpin yang baik, mengayomi seluruh masyarakat demi kepentingan Belu ke depan.

Kepentingannya saat ini, lanjut Anis Ati, untuk bagaimana menyelamatkan ‘muka’ orang utara, bagaimana memperjuangkan kepentingan orang utara, bagaimana memperjuangkan calon wakil bupati, orang utara yang asal–usulnya jelas. Alo Haleserens, orang Lamaknen yang rumah sukunya jelas bila dibandingkan dengan paket SAHABAT. “SAHABAT yang rumah sukunya tidak jelas itu yang mau tipu kita. Janji 2015, 50% saja tidak ditepati, berarti tipu. Saya duduk mengatur kemenangan paket SAHABAT 2015. Jadi, kasih tahu tim SAHABAT yang masih bertahan. Kasih tahu bilang, Anis Ati tahu semua. Tanya mereka, kamu masih bertahan itu karena apa? Kalau tidak ada alasan, pasti tidak mungkin bertahan. Kalau bilang tim SAHABAT yang lari duluan ke SEHATI itu karena tidak dapat proyek, suruh dia datang ke saya, supaya saya buka dia punya aib. Saya tahu semua, siapa atur siapa, proyek di Haekesak siapa yang dapat, saya tahu semua. Jadi, kalau mau Belu berubah untuk kebaikan ke depan, maka tidak ada pilihan yang lebih baik, selain pilih paket SEHATI, paket nomor 2,“ bebernya.

“Tim paket SAHABAT bergabung sudah dengan tim paket SEHATI. Sekarang saya lihat, ada orang baru yang dekat ke SAHABAT. Padahal, mereka itu yang dulu menjelekkan SAHABAT. Mereka itu yang dulu bilang bodok, bilang tidak tahu omong. Cukup sudah kita ditipu! Cukup sudah kita dibodohi! Kita ingin Belu berubah, kita mau Belu lebih baik! Jangan pakai program pusat untuk membodohi rakyat. Jalan sabuk merah, ada di Kabupaten Belu, ada di Pulau Timor, ada di Papua, ada di Kalimantan. Jalan ini dibangun di perbatasan Indonesia dan negara lain. Kita pasti menang, karena paket Belu Memanggil dan paket Viva Mateke sudah menyatakan bergabung ke Paket SEHATI,” imbuhnya mengajak. (*)

Penulis: (*/Herminus Halek)

Dana Bantuan Rumah Sederhana Sehat di Belu, Nama Janda Tua Tak Diusulkan

573 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia| Nasib malang menimpa Kristina Hoar, seorang janda tua di Dusun Siarai, Desa Raifatus, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Informasi yang dihimpun Garda Indonesia di rumah ibu tua berdinding seng bekas pada Jumat, 24 Juli 2020; menyebutkan bahwa Kristina Hoar hidup seorang diri di gubuk reyot itu lantaran tidak memiliki suami dan anak. Karena itu, Kristina mengadopsi satu orang anak keluarganya dan kini sedang merantau di Malaysia.

Disaksikan Garda Indonesia, rumah Kristina berukuran 4×4 meter itu berada tepat di belakang Posyandu Siarai. Menyedihkan, ketika ibu tua yang sudah hidup menjanda selama 10 tahun itu, diminta berdiri di salah satu sisi kediamannya untuk diambilkan gambar. Pintu dan dinding gubuk reyot itu pun sama menggunakan lembaran seng bekas.

Berdasarkan daftar nama-nama usulan yang diterima media ini, terdapat 25 orang calon penerima Bantuan Dana Rumah Sederhana Sehat dengan sumber Dana Alokasi Khusus (DAK) Afirmasi T.A 2020 tahap I . Daftar usulan itu pun telah ditandatangani oleh PPK Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Belu, Laurensius Tahuk, S.T.

Dikeluhkan beberapa warga sekitar, dari daftar nama yang ada itu, terdapat dua orang yang sudah memiliki rumah permanen atas nama Marselinus Lauk (warga Dusun Siarai) dan Blasius Asuk (warga Dusun Wetear).

“Dua orang itu tidak perlu dibantu lagi. ‘Kan masih ada orang lain yang lebih membutuhkan uang tujuh belas juta lima ratus itu. Seharusnya, janda seperti mama Kris itu yang perlu dibantu”, ungkap sumber Garda Indonesia.

Terpisah, Kepala Desa Raifatus Heribertus Bere Koi belum berhasil dikonfirmasi. Garda Indonesia sudah berulang-ulang menghubungi dua nomor kontaknya tetapi tidak ada satu pun yang aktif. (*)

Penulis + foto (*/ HH)
Editor (+ rony banase)