Arsip Tag: kelompok umat basis

KUB Sta.Theresia dari Avilla & Santo Polikarpus Dikukuhkan, Ini Pesan Pastor

391 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Gereja masa depan ada di tangan anak muda ‘Orang Muda Katolik (OMK)’ yang dapat mendampingi orang muda untuk berorganisasi dan jangan lupa untuk menyelesaikan kuliah,” pesan Pastor Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui Kupang, Romo Kristinus Saku kepada OMK yang turut dilantik dalam rangkaian Pengukuhan Badan Pengurus Kelompok Umat Basis (KUB) Sta. Theresia dari Avilla dan KUB Santo Polikarpus (pemekaran KUB) di Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur NTT (NTT).

Misa Ekaristi Pengukuhan Pengurus KUB Sta Theresia dari Avila dan Santo Polikarpus (prosesi komuni suci)

Misa Ekaristi Pengukuhan KUB Sta Theresia dari Avila dan Santo Polikarpus diiringi oleh kor ‘paduan suara’ Santo Polikarpus berlangsung di kediaman Ketua KUB Santo Polikarpus periode 2020—2023, Eduardus Taito pada Sabtu, 7 Maret 2020 pukul 19.00 WITA—selesai. Lokasi Misa Ekaristi merupakan areal pemukiman para mahasiswa yang menempuh pendidikan di Universitas Katolik (Unika) Widya Mandira Kupang.

Pastor Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui Kupang, Romo Kristinus Saku

Selain itu, pesan Pastor Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui Kupang kepada para pengurus KUB yang dilantik agar dapat melayani dengan persekutuan dan persaudaraan dan dapat memobilisasi umat ke paroki. “Sekarang ini masing-masing kampung memiliki pastor termasuk dari Paroki Santo Yoseph Pekerja Penfui, karena kebutuhan umat maka dimekarkan KUB dari Santa Theresia dari Avila ke Santo Polikarpus,” ujar Romo Kristinus Saku.

Romo Kristinus Saku juga berharap agar sebelum Paskah 2020, renovasi Gereja Santo Yoseph Pekerja Penfui dapat diselesaikan. “Kita di paroki memang sedang membangun, doa dan harapan kita sebelum paskah dapat selesai agar kita dapat masuk dalam gereja yang dapat menampung semua umat, itu yang diharapkan,” pintanya.

Pengurus KUB Santo Polikarpus dan Santa Theresia dari Avila saat diambil sumpah dalam Misa Ekaristi

Dalam urusan dana solidaritas yang dikelola oleh masing-masing KUB, Romo Kristinus Saku meminta agar dana tersebut dapat dikelola dengan baik dan dapat digulirkan ke umat. “Dana solidaritas itu dari, oleh, dan dikembalikan ke umat dan KUB yang telah menerima agar dapat disosialisasikan bahwa telah menerima dana solidaritas lalu digulirkan ke KUB yang membutuhkan karena dana itu tak ada sangkut pautnya dengan paroki,” tegas Romo Kristinus Saku sembari mengatakan sesuai dengan tema Paskah 2020, Membangun Ekonomi Keluarga, Romo Kristinus Saku, usai pembangun gereja bakal dilakukan pemberdayaan ekonomi umat.

Sementara itu, Ketua KUB Sta Theresia dari Avila periode 2017—2020, Aloysius Kamil menyampaikan pemekaran KUB Santo Polikarpus berawal dari pembentukan KUB Yohanes dari Salib kemudian dimekarkan ke Santa Theresia dari Avila lalu dimekarkan ke Santo Nobertus, lagi dimekarkan ke Santo Polikarpus. “KUB Sta. Theresia dari Avilla memiliki 28 KK dan Santo Polikarpus mempunyai 20 KK dengan total jiwa 1.046 orang dengan total 58 pondok kos,” ungkapnya.

“Banyak hal yang dilakukan bersama KUB Santa Theresia dari Avila dapat meraih piala sebanyak 19 buah dan memiliki arisan simpan pinjam dan mempunyai solidaritas untuk orang sakit,” beber mantan Ketua KUB Sta Theresia dari Avila.

Penyerahan dokumen dan aset KUB dari Pengurus KUB Sta Theresia dari Avila ke Pengurus KUB Santo Polikarpus

Sedangkan, Wilhemus Seminar selaku Ketua KUB Sta Theresia dari Avila periode 2020—2023 menyampaikan bahwa aspirasi pemekaran telah muncul sejak tahun lalu dan disalurkan ke Pastor Paroki dengan berproses cukup lama dan merupakan sebuah tantangan. “Begitu banyak potensi yang dapat dimanfaatkan untuk pelayanan iman dan doa di Sta Theresia Avila,” katanya.

Ketua KUB Santo Polikarpus periode 2020—2023, Eduardus Taito saat sambutan menyampaikan bahwa pada 1997—1999 hanya terdapat 4 (empat) kepala keluarga. “Saat itu, kami masih dalam pelayanan KUB Santo Norbertus lalu datang Alm. Bapak Simon Seran bermukim di sini dan kemudian berproses pemekaran dengan 20 Kepala Keluarga dengan jumlah jiwa berkisar 400—500 orang,” ujarnya menggambarkan kondisi awal hingga pemekaran dan pelantikan KUB Santo Polikarpus.

“Memang perpisahan ini terasa pahit karena selama bertahun-tahun berseteru dan silang pendapat namun tak sampai pada bentrok fisik. Kami bersebelahan rumah dan hidup bersama dan pada malam ini kami harus berpisah dari KUB Santa Theresia dari Avila,” tandasnya sambil mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga proses pemekaran dapat berjalan sampai pada pengukuhan Badan Pengurus KUB Santo Polikarpus.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Kilas Balik, Bulan Mei & Oktober Bulan Rosario Bagi Umat Katolik

578 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Setiap memasuki bulan Mei dan Oktober, seluruh Umat Katolik menjalankan devosi kepada Bunda Maria. Termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Bulan Rosario juga digunakan sebagai wahana mempererat relasi dan harmonisasi antar personal lingkup Komunitas Umat Basis (KUB), sebuah lingkup Komunitas kecil dari Gereja Katolik di setiap wilayah

Mulai dari anak-anak, Pemuda-pemudi atau Orang Muda Katolik (OMK), dewasa, orang tua dan lansia akan mengikuti jadwal Doa Rosario yang dimulai sejak tanggal 1—31 Mei dan 1—31 Oktober setiap tahunnya

Dikutip dari www.katolisitas.org; devosi kepada Bunda Maria secara tradisi, Gereja Katolik mendedikasikan bulan- bulan tertentu untuk devosi tertentu. Bulan Mei yang sering dikaitkan dengan permulaan kehidupan, karena pada bulan Mei di negara- negara empat musim mengalami musim semi atau musim kembang. Maka bulan ini dihubungkan dengan Bunda Maria, yang menjadi Hawa yang Baru.

Hawa sendiri artinya adalah ibu dari semua yang hidup, “mother of all the living” (Kej 3:20). Devosi mengkhususkan bulan Mei sebagai bulan Maria diperkenalkan sejak akhir abad ke 13. Namun praktek ini baru menjadi populer di kalangan para Jesuit di Roma pada sekitar tahun 1700-an, dan baru kemudian menyebar ke seluruh Gereja.

Pada tahun 1809, Paus Pius VII ditangkap oleh para serdadu Napoleon, dan dipenjara. Di dalam penjara, Paus memohon dukungan doa Bunda Maria, agar ia dapat dibebaskan dari penjara. Paus berjanji bahwa jika ia dibebaskan, maka ia akan mendedikasikan perayaan untuk menghormati Bunda Maria.

Lima tahun kemudian, pada tanggal 24 Mei 1814, Bapa Paus dibebaskan, dan ia dapat kembali ke Roma. Tahun berikutnya ia mengumumkan hari perayaan Bunda Maria, Penolong umat Kristen. Demikianlah devosi kepada Bunda Maria semakin dikenal, dan ketika Paus Pius IX mengumumkan dogma “Immaculate Conception/ Bunda Maria yang dikandung tidak bernoda” pada tahun 1854, devosi bulan Mei sebagai bulan Maria telah dikenal oleh Gereja Universal.

Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya, The Month of Mary mengatakan, “Bulan Mei adalah bulan di mana devosi umat beriman didedikasikan kepada Bunda Maria yang terberkati,” dan bulan Mei adalah kesempatan untuk “penghormatan iman dan kasih yang diberikan oleh umat Katolik di setiap bagian dunia kepada Sang Ratu Surga.

Sepanjang bulan ini, umat Kristen, baik di gereja maupun secara pribadi di rumah, mempersembahkan penghormatan dan doa dengan penuh kasih kepada Maria dari hati mereka. Pada bulan ini, rahmat Tuhan turun atas kita … dalam kelimpahan.” (Paus Paulus VI, the Month of May, 1)

Sedangkan penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario, berkaitan dengan peristiwa yang terjadi 3 abad sebelumnya, yaitu ketika terjadi pertempuran di Lepanto pada tahun 1571, di mana negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman yang menyerang agama Kristen.

Terdapat ancaman genting saat itu, bahwa agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John) dari Austria, komandan armada Katolik, berdoa rosario memohon pertolongan Bunda Maria.

Demikian juga, umat Katolik di seluruh Eropa berdoa rosario untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore.

Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober.

Kemudian, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan setiap tanggal 7 Oktober. Kemudian penerusnya, Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci.

Demikianlah sekilas mengenai mengapa bulan Mei dan Oktober dikhususkan sebagai bulan Maria. Bunda Maria memang terbukti telah menyertai Gereja dan mendoakan kita semua, para murid Kristus, yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus menjadi anak- anaknya (lihat. Yoh 19:26-27).

Bunda Maria turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus Putera-Nya, dan bekerjasama dengan-Nya untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman. (*)

Sumber berita (*/Berbagai Sumber)
Editor (+rony banase)