Arsip Tag: Ketua DPR RI Bambang Soesatyo

Deklarasi Perempuan Tangguh Pilih Jokowi; Ketua DPR RI Apresiasi

88 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Ketua DPR RI Bambang Soesatyo memandang Deklarasi Perempuan Tangguh Pilih Jokowi (PERTIWI) merupakan sebuah bagian dari bangunan besar kekuatan politik perempuan Indonesia. Tak hanya berkutat di sekitaran sumur dan dapur, perempuan Indonesia kini sudah masuk gelanggang politik untuk bertempur. Stimulus yang diberikan kaum perempuan akan membuat geliat politik menjadi lebih hidup.

“Deklarasi PERTIWI sekaligus menunjukan demokrasi di Indonesia telah tumbuh dan berkembang dengan pesat. Tanpa melupakan kewajiban kodratnya sebagai seorang ibu, para perempuan Indonesia sudah ikut meramaikan gegap gempita panggung kontestasi pemilihan umum,” ujar Bamsoet saat menghadiri acara deklarasi PERTIWI di Jakarta, Sabtu (17/11/18).

Sejumlah tokoh nasional dan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi – Maruf Amin turut hadir dalam acara tersebut. Antara lain Erick Tohir (Ketua TKN), Grace Natalie (Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia), Sidarto Danusubroto (Anggota Dewan Pertimbangan Presiden), KH. Maman Imanulhaq (Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Yenny Wahid (puteri Gus Dur), Mooryati Sudibyo (Budayawan, Penggerak Ekonomi Nasional), Miranda Goeltom (Ekonom Senior), Happy Djarot (istri mantan Gubernur DKI Jakarya Djarot Saiful Hidayat), Popy Hayono Isman, Dewi Motik dan Nurul Arifin.

Bagi legislator Dapil VII Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Kebumen, dan Banjarnegara ini, dibawah kepemimpinan Ketua Umum Putri K Wardani, PERTIWI bisa menjadi lokomotif bagi berbagai perempuan dengan beragam profesi dan latar belakang dalam berpolitik. Bukan hanya untuk mendukung pemenangan Jokowi – Maruf Amin, namun juga untuk memajukan perempuan Indonesia.

Baca juga

https://gardaindonesia.id/2018/11/08/teh-kelor-suguhan-resmi-bagi-tamu-pemerintah-provinsi-ntt/

“Siapapun tak akan bisa menutupi bahwa Presiden Jokowi merupakan pemimpin yang pro terhadap perempuan. Presiden Jokowi menjadi pemimpin pertama yang menempatkan banyak perempuan menjadi menteri. Ada delapan menteri yang mengisi posisi strategis seperi Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri Luar Negeri, maupun Menteri Keuangan,” tutur Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN ini menilai kaum perempuan punya daya sensitifitas yang tinggi dibanding kaum pria. Sehingga bisa turut meramaikan berbagai perdebatan ide dan gagasan yang ditawarkan oleh kandidat capres-cawapres, maupun caleg yang maju dalam kontestasi Pemiihan Umum.

“Mulut dan ucapan perempuan punya daya magis yang luar biasa. Jika digunakan untuk menyuarakan berbagai keberhasilan maupun program kerja yang sudah, sedang dan yang akan dilaksanakan Presiden Jokowi, saya yakin efeknya akan luar biasa sekali bagi peningkatan elektoral Pak Jokowi. PERTIWI harus memanfaatkan kekuatan daya magis tersebut,” terang Bamsoet.

Disisi lain, politisi Partai Golkar ini melihat kuatnya dukungan dari kaum perempuan terhadap sosok Presiden Jokowi, menandakan bahwa perekonomian bangsa saat ini aman terkendali. Tidak mengkhawatirkan seperti yang disampaikan oleh segelintir orang dengan sikap pesimistisnya.

“Maju tidaknya ekonomi sebuah negara bisa dilihat dari senyuman diwajah kaum perempuan. Jika saat ini banyak perempuan yang tersenyum, menandakan kondisi negara kita aman sentosa. Itu artinya Presiden Jokowi harus sekali lagi memimpin negeri ini, agar perempuan bisa terus bahagia,” senyum Bamsoet.

Untuk memastikan kemenangan Pasangan Jokowi-Maruf pada Pilpres 2019 nanti, Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini mendorong agar PERTIWI bisa mengajak berbagai elemen perempuan Indonesia lainnya menjadi ujung tombak yang militan. Para perempuan yang sudah berkeluarga bisa mengajak serta menyakinkan suami, anak, keluarga, tetangga, dan kerabat lainnya agar memilih Jokowi.

“Saya yakin kalau para ibu sudah bahagia memilih Pak Jokowi, para suami juga akan ikut serta. Kalau para wanita sudah senang memilih Pak Jokowi, bukan tidak mungkin pasangannya juga akan memilih yang sama. Ini menandakan dengan dukungan dari perempuan, kemenangan Pak Jokowi akan menjadi nyata,” pungkas Bamsoet. (*/Tim IMO)

‘Ungkap Sepak Terjang Bamsoet’ – Dari Wartawan ke Senayan

64 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, meluncurkan buku biografinya “Dari Wartawan ke Senayan”. Buku setebal 280 halaman ini mengungkapkan perjalanan hidup hingga karier Bamsoet yang ditulis oleh tim yang juga seniornya dan rekan-rekan sesama wartawan di Harian Prioritas tahun 1986-1987.

“Mulanya saya menolak untuk dibuatkan biografi. Namun Bang Derek Manangka (almarhum) akhirnya berhasil meyakinkan saya. Bahwa buku itu penting untuk adik-adik yang sedang menggeluti profesi wartawan agar mereka juga bisa melihat bahwa karier mereka bisa menjulang dan punya masa depan,” jelas Bamsoet panggilan akrab Bambang Soesatyo yang pernah berprofesi sebagai wartawan.

Karena, lanjut Bamsoet sebenarnya dari profesi wartawan kita bisa menjadi apa saja. Wartawan punya peluang yang lebih besar ketimbang profesi lainnya dalam akses dan jaringan. Mulai tukang sampah hingga presiden.

“Wartawan punya akses kepada siapa pun dan dapat bertanya tentang apa pun,” kata Bamsoet dalam acara peluncuran buku “Dari Wartawan ke Senayan” di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta, Kamis/25 Oktober 2018.

Dalam acara yang dihadiri berbagai tokoh politik nasional dan sesepuh wartawan itu, Bamsoet juga mengungkapkan, dia merintis karier wartawan dari kasta paling bawah, yaitu reporter baru.

”Waktu itu karena masih pake mesin tik, kalau satu dua alinea tulisan kita dianggap sudah tidak bagus, langsung disobek oleh redaktur. Apalagi kalau ketemu Bang Panda Nababan. Belum dibaca udah dirobek-robek,” katanya disambung tertawa hadirin.

Demikian juga kehidupan ekonominya yang sekarang dicapainya dengan tidak mudah dan harus kerja keras. Dia merintis bisnisnya dari paling bawah pula, yaitu dari jual beli sayur, bawang merah dan telor di Pasar Induk, Kramat Jati, Jakarta.

Waktu ditugaskan meliput di Pasar Induk, Bamsoet mengetahui dari pedagang mereka mengambil barang dari Bekasi. Lantas Bamsoet menawarkan diri untuk ikut memasok juga. Para pedagang menyetujui sepanjang harganya lebih murah atau sama dari pemasok lainnya.

Dengan kedaraan umum dan kendaraan bak terbuka sewaan, Bamsoet bolak-balik Bekasi-Pasar Induk. “Bekasi waktu itu masih sangat jauh, belum ada jalan tol seperti sekarang,” papar Bamsoet. Dia harus kerja keras bangun lebih pagi dan waktu luang dipakai untuk mengurus bisnisnya.

“Bagi saya prinsip bisnis atau dagang itu mudah. Kita tinggal mencari di daerah mana bisa kita beli barang lebih murah dan daerah mana kita bisa menjual barang lebih mahal. Selisihnya itulah keuntungan,” tuturnya.

Untuk modal, Bamsoet terpaksa mengadaikan jam tangan dan beberapa barang miliknya, sebab awalnya semua harus bayar kontan. Setelah dipercaya baru kemudian boleh konsinyasi. Dari sana usaha terus melaju membangun jaringan dengan para pengusaha papan tengah dan papan atas melalui HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) dan KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia).

Bamsoet menerangkan, banyak yang bertanya kepada dirinya setelah menjadi ketua DPR mau ke mana, termasuk apakah mau menjadi ketua Umum Golkar. Bamsoet menjawab singkat, “Berpikir saja belum. Karena fokus saya saat ini adalah bagaimana menaikkan rating DPR agar dipercaya rakyat.”

Sosok Produktif

Selama ini Bamsoet memang dikenal produktif menulis buku. Paling tidak sudah 13 bukunya yang diterbitkan selama menjadi anggota DPR. Antara lain Skandal Gila Bank Centuri, Presiden Dalam Lingkaran Sengkuni, Perang-Perangan Melawan Korupsi, Republik Galau, Indonesia Gawat Darurat, dan Ngeri-ngeri Sedap

Kali ini bukunya ditulis almarhum Derek Manangka yang kemudian diteruskan oleh wartawan senior Wina Armada, Nano Bramono, Heru Subroto, dan Bobby Barata serta diterbitkan oleh Gramedia Kompas.

Sejumlah tokoh dan wartawan senior tampak hadir dalam acara tersebut. Antara lain Surya Paloh (Ketua Umum NasDem), pengusaha senior Chaerul Tanjung, Ketua Umum Pemuda Pancasila Yapto Suryosumarno, Budayawan Radar Panca Dahana, pelukis senior Hardi, tokoh pers senior Ishadi SK, Irjen Pol Setyo Wasisto (Kadiv Humas Polri), Melchias Mekeng (Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI), Taufiqulhadi (Anggota Fraksi NasDem DPR RI), Roemkono (Anggota Fraksi Golkar DPR RI), Robert Kardinal (Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI), Masinton Pasaribu (Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI), Ahmad Sahroni (Anggota DPR RI), Elman Saragih, Panda Nababan, Noorca Massardi, Wina Armada, serta Gigin Pragianto, J Osdar, Aristides Katopo dan Marcyanus Donny, yang menjadi narasumber dalam bedah buku tersebut.

Politisi Partai Golkar ini menjelaskan, dirinya memilih karier kewartawanan karena semasa kuliah senang berorganisiasi dan aktif di pers kampus. Profesi dan karakter kerja wartawan otomatis mengharuskan dirinya cakap berinteraksi dengan berbagai kalangan.

“Buku ini bercerita secara simpel, lugas dan mengena tentang lika-liku perjalanan karier saya sejak jadi wartawan pada 1986, lanjut berbisnis dan berpolitik lewat Partai Golkar. Hingga masuk parlemen sejak 2009 dan akhirnya diberi kepercayaan sebagai Ketua DPR RI, sebuah amanah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya,” tutur Bamsoet.

Mantan Ketua Komisi III DPR RI dan Sekretaris Fraksi Partai Golkar ini menjelaskan, buku “Dari Wartawan ke Senayan” merupakan buku terbarunya. Buku ini walaupun tidak langsung ditulis oleh dirinya, namun bisa mengungkap dengan jelas dan lugas pikiran Bamsoet sebagai seorang wartawan yang dulu bukan siapa-siapa hingga menjadi orang nomor satu di Senayan.

Tak heran jika pada kesempatan tersebut, legislator Dapil Jawa Tengah VII yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara dan Kebumen ini mengajak para tokoh, pimpinan dan anggota DPR, MPR dan DPD serta siapapun untuk membiasakan menulis mengenai berbagai hal. Baik mengenai perjalanan hidup, pandangan, pemikiran, kiprah ataupun pengabdian, sesuai dengan profesi masing-masing.

“Siapa tahu di sana ada mutiara dan hikmah yang dapat dipetik untuk jadi pelajaran bagi orang lain maupun sebagai sumbangsih bagi bangsa dan negara. Seperti kata Imam Al-Ghazali, menulislah maka Anda akan hidup selamanya,” jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN ini menjelaskan, penulisan buku “Dari Wartawan ke Senayan” awalnya diinisiasi oleh Derek Manangka, mentor jurnalistik pertama saat Bamsoet memulai karier wartawan di Harian Prioritas pada tahun 1986. Namun, penulisan buku sempat tertunda lantaran Derek meninggal pada 26 Mei 2018. Penulisan kemudian dilanjutkan oleh tim yang terdiri dari Wina Armada, Nano Bramono, Heru Subroto, dan Bobby Barata.

Tim penggarap bekerja inten dan kooperatif sejak awal dalam pengayaan data, foto dan testimoni dari 41 narasumber kunci. Bahkan delapan tokoh bangsa memberikan kesaksiannya atas perjalanan hidup Bamsoet.

“Kesan pertama saya terhadap Bamsoet, kalau mengkritik pedas sekali. Tapi saya tahu beliau adalah orang yang konsisten dan apa adanya. Perjalanannya yang berliku dan keras sebagai wartawan dan jiwa kewirausahaannya yang kuat saat menjadi pengusaha, telah membetuk kematangan jiwa dan pikirannya dalam berpolitik,” ujar Presiden Joko Widodo.

Wakil Presiden Jusuf Kalla juga tak ketinggalan memberikan komentar. Baginya, sebagai wartawan yang menjadi Ketua DPR RI, Bamsoet mempunyai informasi dan hubungan yang baik dengan banyak kalangan. Karena itu, Bamsoet bisa mengemban amanah ini dengan lebih baik, adil dan independen.

Sedangkan menurut Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan, sejak dipimpin Bamsoet, DPR-RI lebih terbuka dan kondusif. Tidak ada lagi kegaduhan yang berarti. Tidak mudah menyatukan pandangan 560 politisi dari 10 partai politik dengan latar belakang beragam. Itulah kepiawaian Bamsoet. (*/Tim IMO)

Ketua DPR RI: “Pendidikan Tingkatkan Kualitas Pekerja Indonesia“

85 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menekankan fokus peningkatan SDM yang diikuti dengan pengembangan kompetensi para calon tenaga kerja harus mendapatkan prioritas utama. Konsentrasi peningkatan pada kualitas SDM harus pula diikuti dan disesuaikan dengan potensi daerah. Artinya, produk dari dunia pendidikan harus memiliki keterkaitan dengan dunia kerja serta keterkaitan dengan inovasi dan teknologi.

“Dalam konteks inilah revisi terhadap UU No 18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi harus jadi panduan dalam memperbaiki kualitas SDM di Indonesia. Revisi tersebut jadi panduan meletakan hasil penelitian agar memiliki daya manfaat bagi perencanaan pembangunan secara luas, khususnya bagi penguatan kualitas SDM dan tenaga kerja Indonesia,” ujar Bamsoet, panggilan akrab Bambang Soesatyo saat memberikan orasi ilmiah pada wisuda mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STEI) di Jakarta, Senin (22/10/18).

Mantan wartawan ini mengingatkan, penciptaan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berfungsi menopang pembangunan sangat dibutuhkan bangsa Indonesia. Perubahan struktural yang sangat cepat tanpa didukung SDM yang mumpuni hanya akan menghasilkan ketimpangan dan pengangguran yang makin luas.

“Daya ungkit pembangunan akan ditopang dari kualitas penduduk yang berpendidikan tinggi, memiliki wawasan luas, berketerampilan, memiliki kemahiran teknis, serta memiliki penguasaan terhadap teknologi handal,” tegas Bamsoet yang juga merupakan Ketua Badan Bela Negara FKPPI.

Sejalan dengan hal itu, Bamsoet memandang perguruan tinggi memiliki peranan vital dalam memberikan pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui riset guna melahirkan invensi serta inovasi dalam segala bidang. Peranan tersebut secara langsung memiliki dampak dengan keberhasilan pembangunan.

“Faktor pendidikan memegang peranan krusial untuk meningkatkan kualitas pekerja Indonesia. Pekerja kita sendiri, masih didominasi tenaga kerja berpendidikan rendah, yaitu SD ke bawah sebanyak 52,4 juta orang (43,46 persen) dan Sekolah Menengah Pertama sebanyak 21,5 juta (17,80 persen). Pekerja dengan kualifikasi pendidikan tinggi hanya sebanyak 13,7 juta orang mencakup sebanyak 3,2 juta orang (2,65 persen) berpendidikan diploma dan sebanyak 10,5 juta orang (8,69 persen) berpendidikan perguruan tinggi,” papar Ketua DPR RI.

Mantan Ketua Komisi III DPR RI ini melihat, dalam jangka pendek peran Kementerian Ketenagakerjaan dan BNP2TKI menjadi ujung tombak peningkatan kompetensi para pekerja Indonesia yang makin sulit mencari lapangan kerja. Namun, dalam jangka menengah dan panjang perguruan tinggi memiliki tanggungjawab yang lebih besar dalam mencetak kualitas tenaga kerja yang mahir dan mumpuni.

“Perguruan tinggi harus berada di garda depan Indonesia memenangkan kompetisi global. Karena itu unsur penting yang dihasilkan dari lulusan perguruan tinggi adalah kapabilitas yang didalamnya berisi tentang kompetensi, kemahiran, integritas dan profesionalisme. Tujuan-tujuan dari proses pembelajaran yang lebih terbuka dan fleksibel akan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuan, wawasan serta kapasitasnya,” jelas Bamsoet.

Legislator Dapil Jawa Tengah VII yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegera dan Kebumen ini memandang, investasi dalam bidang pendidikan bukanlah pekerjaan instan dan sesaat. Tetapi membutuhkan waktu, energi dan dana yang besar. Alokasi anggaran pendidikan yang cukup besar mestinya dapat dipertanggungjawabkan akuntabilitasnya. Pertanggungjawaban tersebut dapat diukur sejauhmana dampak yang dihasilkan dari anggaran yang ada.

“Peningkatan anggaran untuk kegiatan riset mesti dijadikan prioritas utama. Selama ini alokasi anggaran untuk kegiatan riset di Indonesia baru mencapai 0,25 persen dari PDB dengan rincian dari swasta sebesar 0,04 persen dan alokasi negara 0,21 persen. Anggaran riset tersebut masih jauh dibawah Malaysia yang sudah mencapai 1,25 persen dari PDB, China 2,0 persen, Singapura 2,20 persen, Jepang 3,60 persen, Korea Selatan, 4,0 persen, Jerman 2,90 persen, Swedia 3,20 persen dan Amerika Serikat 2,75 persen,” terang Bamsoet.

Menutup orasi, Wakil Ketua Umum KADIN ini berharap agar pasca kelulusan para wisudawan dapat berkarya dalam bidang dan keahlian masing-masing dengan tetap menjaga spirit, etika, moral dan norma intelektual yang telah didapatkan selama masa perkuliahan. Para sarjana baru juga diharapkan mampu menjaga integritas profesionalismenya sebagai bentuk pengabdian kepada nusa, bangsa dan agama.

“Teruslah berkarya, berani bermimpi besar, fokus pada usaha dan tujuan serta jangan pernah takut untuk gagal. Sudah banyak cerita orang-orang sukses yang berangkat dari kegagalan demi kegagalan. Mereka tak pernah mengeluh, tetapi selalu memiliki optimisme untuk bangkit dari kesalahan dan kegagalan,” pungkas Bamsoet. (*/Tim IMO)

Bambang Soesatyo Sodorkan Solusi Insiden Peluru Nyasar di gedung DPR RI

62 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Dalam pernyataannya, Kamis (18/10/2018) malam, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet), yang juga Ketua Bidang Penegakan Hukum dan Disiplin Perbakin mengajak pihak terkait untuk duduk bersama.
“Saya telah meminta BURT untuk mengundang pihak Pengelola Gelora Bung Karno selaku pengelola Lapangan Tembak Perbakin Senayan dan Pengurus Besar Perbakin yang selama ini menyewa tempat tersebut sebagai kantor PB Perbakin serta pihak Sekretariat Negara selaku pemilik lahan tersebut dan Kementerian Pemuda dan Olahraga selaku pembina atlit olah raga menembak nasional dan pihak Polri,” kata Bamsoet.

Legislator dari Dapil VII Jateng ini menyebutkan, para pihak itu diajak untuk membicarakan langkah-langkah pengamanan Kawasan Gedung MPR, DPR dan DPD RI yang masuk dalam katagori obyek vital. Agar kedepan insiden peluru nyasar tidak terulang kembali.

Mantan Ketua Komisi III DPR RI ini menyampaikan beberapa solusi atau alternatif yang bisa dilakukan, yakni:

Pertama, relokasi kawasan olahraga menembak tersebut ke tempat lain yang lebih aman dan jauh dari keramaian;

Kedua, pihak keamanan negara (Polri) segera menerapkan standard sistem keamanan obyek vital yang lebih efektif agar para wakil rakyat, karyawan dan rakyat yang berkunjung ke gedung parlemen tersebut terbebas dari rasa was-was, tidak saja pada peluru nyasar tapi juga pada ancaman-ancaman lainnya seperti aksi teror dan aksi penyadapan yang tidak sah.
“Apakah nanti mau dilapisi kaca-kacanya dengan film antipeluru dan antisadap atau tidak, kami serahkan sepenuhnya kepada pihak keamanan,” tegasnya.

Ketiga, melakukan pengetatan SOP dan pengamanan di kawasan lapangan tembak agar obyek atau sasaran tembak tidak mengarah ke gedung Parlemen.
Selain itu, pihak pengelola Gelora Bung Karno juga harus meninggikan tembok berlapis baja agar peluru tidak tembus ke luar kawasan lapangan tembak, termasuk juga diantisipasi tingginya tembok tersebut agar jika ada pengguna senjata olahraga yang lalai seperti kejadian kemarin pelurunya tidak nyasar ke sana kemari.

“Saya juga telah meminta pihak kepolisian Republik Indonesia dalam hal ini Polda Metro Jaya, jika uji balistik di Laboratorium Forensik nya sudah selesai agar segera digelar rekonstruksi di tempat kejadian perkara, yakni di lapangan tembak Perbakin Senayan dengan menghadirkan tersangka,” kata Ketua DPR.

Dari gelar rekonstruksi tersebut akan memberi jawaban kepada publik apakah perbuatan tersebut ada unsur kesengajaan atau tidak. Masuk diakal atau tidak, antara posisi menembak dan arah laras pistol yang digunakan benar mengarah dan bisa menyasar ke enam obyek lantai 6, 9, 10, 13, 16 dan 20 gedung Nusantara I DPR RI.

“Lalu diuji juga secara balistik kemampuan jelajah dan daya rusak peluru jenis kaliber 9mm dan pistol jenis Glock 17 modifikasi tersebut agar tidak menimbulkan berbagai spekulasi yang simpang siur di publik, “ pungkas Bamsoet. (*/Tim IMO)

Ketua DPR RI: “Presiden Jokowi Alihkan Ketahanan Pangan Jadi Kedaulatan Pangan“

76 Views

Jakarta,gardaindonesia.id | Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengagumi berbagai terobosan yang dilakukan pemerintahan Presiden Jokowi dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Diantaranya dengan memanfaatkan lahan rawa lebak dan pasang surut yang dijadikan lahan pertanian produktif guna meningkatkan produktifitas pertanian nasional.

“Ini membuktikan kehadiran negara yang secara sistematis mengakui, menghormati, dan memenuhi hak atas pangan warganya. Pemerintahan Presiden Jokowi sudah mulai mengalihkan pendekatan dari Ketahanan Pangan menjadi Kedaulatan Pangan,” ujar Bamsoet saat menghadiri puncak peringatan Hari Pangan Sedunia ke-38 di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Kamis (18/10/18).

Hadir dalam acara ini Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun, Anggota Komisi XI DPR RI Ahmadi Noor Supit, perwakilan Food and Agriculture Organization (FAO) Steven Rugards, Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor, Aster Kasad Mayjen (TNI) Supartodi serta Dubes sejumlah negara tetangga.

Wakil Ketua Umum KADIN ini menegaskan persoalan pangan tidak bisa disepelekan. Pasalnya, seiring besarnya pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia, pemenuhan kebutuhan pangan kerap menjadi masalah akibat ketersediaan pangan yang belum mencukupi.

“Peringatan hari pangan sedunia ini harus kita jadikan momentum untuk meningkatkan kesadaran dan tindakan masyarakat dalam mengatasi masalah kekurangan pangan dan gizi. Sekaligus, untuk mendorong terciptanya sistem pangan global yang efektif,” kata Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menjelaskan, hingga kini ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketersediaan pangan di Indonesia. Pertama, kendala lahan pertanian yang kian berkurang karena kebutuhan pembangunan yang terus meningkat. Kedua, dampak perubahan iklim global yang ekstrim. Ketiga, kondisi pertanian Indonesia didominasi petani kecil dengan kepemilikan lahan yang sangat kecil rata-rata hanya sekitar 0,5 hektar, sehingga mengakibatkan kesulitan terhadap akses permodalan, pasar, informasi dan teknologi.

“Keempat, proporsi kehilangan hasil panen dan pemborosan masih cukup tinggi sekitar 10-20 persen. Kelima, ketidakseimbangan produksi pangan antar wilayah. Akibatnya, daerah Jawa yang subur mempunyai produksi pertanian yang besar. Sementara, daerah luar Jawa produksinya relatif kecil karena lahannya kurang subur,” jelas Bamsoet.

Lebih jauh Bamsoet mengingatkan, dunia sempat mengalami beberapa kali krisis pangan global. Di tahun 2008, Food and Agriculture Organization (FAO) melaporkan naiknya angka kelaparan global mencapai 40 juta jiwa. Pada tahun 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan sebanyak 815 juta orang di dunia menderita kelaparan. Jumlah tersebut sama dengan 11 persen pupulasi penduduk dunia.

“FAO juga melansir 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahun ditengah 815 juta orang menderita kekurangan pangan di seluruh dunia. Ini ironis sekali. Kita bisa wujudkan dunia tanpa kelaparan dimulai dari diri sendiri. Mari belajar bersyukur dari hal-hal yang kecil seperti tidak membuang-buang makanan,” ajak Bamsoet.

Politisi Partai Golkar ini optimis pilot project lahan rawa lebak dan pasang surut yang dijadikan lahan pertanian oleh Kementerian Pertanian di Desa Jejangkit Muara Kalimantan Selatan, akan berhasil. Diatas lahan seluas 4.000 hektar dimana 750 ribu diantaranya sudah ditanami padi, akan bisa menopang stok beras nasional di masa paceklik yang biasa terjadi pada Desember – Januari akibat usainya panen padi di pulau Jawa.

“Pilot project ini akan mampu merangsang berbagai daerah lain di luar pulau Jawa untuk mengembangkan lahan pertanian. Lahan rawa lebak dan pasang surut yang selama ini tidak bisa dibuat apa-apa, kini dengan bantuan pemerintah pusat akan menjadi lahan yang produktif. Dengan demikian bisa meningkatkan nilai ekonomi bagi daerah dan masyarakat setempat, sehingga kita tidak hanya bergantung pada lahan pertanian pulau Jawa saja,” tutur Bamsoet.

Mantan Ketua Komisi III DPR RI ini mengingatkan agar pilot project tersebut digarap dengan serius. DPR RI siap bekerjasama memberikan berbagai dukungan yang diperlukan, baik dari segi peraturan perundangan maupun anggaran.

“Marilah kita jadikan momentum perayaan hari pangan sedunia ini untuk memantapkan program ketahanan pangan nasional. Sehingga, bangsa kita menjadi bangsa yang sejahtera, mempunyai kecukupan pangan serta jauh dari kelaparan dan kekurangan gizi. Sekaligus, mewujudkan bangsa Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045,” pungkas Bamsoet. (*/Tim IMO)

Ketua DPR RI Desak Kapolri Proses Pelaku Peluru Nyasar di Senayan

72 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Ketua DPR RI Bambang Soesatyo merespon peristiwa aktual yang terjadi; melalui rilis yang diterima oleh Ikatan Media Online (IMO) Indonesia, Selasa/16 Oktober 2018, Ketua DPR RI dari Fraksi Golkar tersebut menyikapi Peluru Nyasar dari Lapangan Tembak (LT) Perbakin, Senin/15 Oktober 2018.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menerangkan, terkait dengan dugaan adanya peluru nyasar dari Lapangan Tembak Perbakin Senayan bersama ini perlu disampaikan bahwa berdasarkan informasi yang ada, untuk sementara telah teridentifikasi bahwa pengguna senjata tsb berinisial ‘I’ seorang PNS berumur 32 tahun berdomisili di kawasan Bintaro, keanggotaan dari Pengda Perbakin Banten.

Lanjut Bamsoet (sapaan akrab Ketua DPR RI yang mantan wartawan ini); yang bersangkutan telah mengikuti penataran dan pendidikan Tembak Reaksi dan baru memiliki sertifikat kelulusan Tembak Reaksi tahun 2018. Patut diduga yang bersangkutan menggunakan senjata genggam Glock-17 cal 9mm yang telah dimodifikasi menjadi full automatis.

Seperti diketahui, penggunaan senjata otomatis dilarang keras digunakan dalam arena olahraga menembak Perbakin Senayan. Berdasarkan informasi lapangan, yang bersangkutan saat reloading atau saat mau mengeluarkan magazine terpencet pelatuk saat arah laras agak menghadap keatas. Dan kemudian meledak. Karena senjata diduga sudah dirubah menjadi otomatis, maka yang keluar lebih dari satu peluru. Dan 2 (dua) peluru diantaranya menyasar ke gedung DPR.

“Untuk itu kami mendesak kepada Polri untuk memproses kasus kelalaian yang berpotensi menimbulkan korban tersebut ke ranah hukum sesuai UU dan peraturan yang berlaku, “tegas Bamsoet.

“Kepada PB Perbakin; kami mendesak agar memberikan sanksi organisasi yang tegas kepada yang bersangkutan, pungkas Bamsoet.

Dikutip dari Merdeka.com, Senin (15/10/18), sekitar pukul 14.35 WIB Ruang kerja Wenny Warouw, anggota DPR dari Fraksi Gerindra di lantai 16 terkena peluru nyasar. Wenny menceritakan kejadian saat peluru menembus kaca ruang kerjanya. Saat itu, dirinya baru saja menerima tamu seorang pendeta dan polisi.

“Kemudian kami bertiga baru ngobrol 2-3 menit, kaca meledak. Lihat ada pecahan, kemudian dia lihat ada bocor di plafonnya,” kata Wenny saat ditemui wartawan di Gedung DPR. (*/Tim IMO)

Ketua DPR RI: “Pidato Presiden Jokowi dalam IMF-WB, Pidato Era Milenial“

70 Views

Nusa Dua-Bali, gardaindonesia.id | Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menilai pidato Presiden Jokowi tentang kondisi perekonomian dunia pada pembukaan Rapat Pleno Pertemuan Tahunan IMF – World Bank 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, sangatlah tepat. Terlebih, pidato disampaikan dalam bahasa millenial yang mudah dicerna. Tak heran, jika Presiden Jokowi mendapat standing ovation dan menjadi trending topik dunia maya.

“Rasanya tidak banyak pemimpin dunia yang bisa mengaitkan trend millenial dalam pidato resmi yang memuat berbagai pemikiran yang tajam. Butuh kecerdasan dan kelihaian yang luar biasa untuk meramu kondisi perekonomian global dikaitkan dengan serial televisi Game of Thrones yang saat ini sedang populer. Pak Jokowi menunjukan kelasnya sebagai pemimpin dunia yang out of the box,” ujar Bamsoet di sela acara pertemuan tahunan IMF – World Bank di Bali, Jumat (12/10/18).

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menerangkan, dalam pidatonya Presiden Jokowi menyampaikan pesan yang sangat penting. Bahwa tidak artinya negara-negara besar memupuk kekayaan jika harus menindas negara-negara lainnya.

“Sebetulnya pidato Presiden Jokowi tersebut sangat keras sekali menyindir negara-negara adikuasa. Namun, karena disampaikan dengan gaya yang enak didengar, apalagi menggunakan berbagai istilah dalam serial televisi Game of Thrones, sehingga tidak membuat merah kuping negara-negara lainnya. Inilah kelihaian diplomasi Presiden Jokowi,” terang Bamsoet.

Mantan Ketua Komisi III DPR RI ini menambahkan, dalam menjalankan diplomasi parlemen, DPR RI senantiasa segaris dengan arah kebijakan politik luar negeri yang dijalankan Presiden Jokowi. Dalam berbagai forum internasional, DPR RI selalu mengajak parlemen negara lain agar meninggalkan paradigma perekonomian lama, dimana yang kuat menindas yang lemah.

“Sudah menjadi tantangan dan tugas berat kita bersama untuk mewujudkan tatanan perekonomian dunia baru yang lebih transparan dan mempunyai aturan disiplin jelas. Selain, membuka peluang bagi negara-negara berkembang untuk meningkatkan akses ke pasar negara maju yang selama ini dirasakan sangat protektif,” papar Bamsoet.

Legislator Dapil VII Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen ini, optimis pidato Presiden Jokowi akan membawa semangat dan warna baru untuk merubah tatanan ekonomi dunia. Mengingat saat ini perang dagang Amerika – Tiongkok telah membuat kondisi ekonomi dunia tak menentu. Sehingga, berakibat membawa dampak terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi global.

“Pidato Presiden Jokowi tadi seharusnya mampu mengetuk pintu hati, khususnya negara-negara adikuasa untuk mengubah cara pandang mereka terhadap dunia. Sehingga, tatanan ekonomi dunia di masa depan harus berasaskan keadilan. Yang kuat tidak disudutkan, yang lemah tidak ditinggalkan,” pungkas Bamsoet. (*Tim IMO)

Keterlibatan Parlemen Sangat Penting bagi IMF & World Bank

62 Views

Bali,gardaindonesia.id – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menegaskan keterlibatan parlemen dalam memberi dukungan terhadap berbagai program International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB) sangatlah penting. Sinergisitas antara parlemen dengan IMF dan WB penting dalam menciptakan kebijakan politik yang positif bagi negara-negara penerima bantuan serta pinjaman dari IMF dan WB.

“Saya sangat mengapresiasi terselengaranya pertemuan ini sebagai sarana interaksi IMF dan WB dengan para anggota parlemen sedunia. IMF dan WB memiliki resources dan expert di berbagai aspek pembangunan, sehingga pertemuan ini tepat bagi para anggota parlemen untuk berbagi pengetahuan dan informasi guna mendapatkan hasil pembangunan yang bermanfaat,” ujar Bamsoet saat pembukaan Pertemuan Tingkat Tinggi Parlemen dalam Pertemuan Tahunan IMF-WB di Nusa Dua, Bali, Senin (08/10/18).

Pertemuan yang diselengarakan tanggal 8-9 Oktober 2018 ini, dihadiri sekitar 60 delegasi dari 25 negara di dunia. Sejumlah negara yang hadir antara lain Bangladesh, Bhutan, Kamerun, Perancis, India, Iran, Jordania, Kenya, Kosovo, Madagaskar, Malaysia, Malawi, Moroko, Nepal, Portugal, Senegal, Uganda, Tunisia, Switzerland, serta Afrika Selatan.

Mantan Ketua Komisi III DPR ini menjelaskan, pertemuan antar parlemen yang berlangsung membahas isu-isu tentang investasi sumber daya manusia. Khususnya, mengenai hal-hal konkrit yang dapat dilakukan anggota parlemen dalam mengoptimalkan sumber daya manusia, memastikan tercapainya program pembangunan dan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), serta meningkatkan akuntabilitas pemerintah.

“Sumber daya manusia memegang peranan penting dalam pembangunan suatu bangsa. Investasi pada sumber daya manusia dilakukan melalui peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, sehingga mampu mendorong pemberantasan kemiskinan serta pencapaian kemakmuran bersama. Pentingnya sumber daya manusia ini erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan pencapaian agenda pembangunan berkelanjutan 2030,” papar Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menuturkan, Indonesia sangat memprioritaskan investasi pembangunan manusia sebagai bagian upaya memajukan bangsa dan menghadapi tantangan global. Karena memiliki faktor demografi yang bagus, Indonesia telah melakukan berbagai terobosan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Terobosan-terobosan ini terwujud melalui berbagai bidang. Misalnya, pendidikan untuk mendorong inovasi sumber daya manusia yang terintegrasi dengan perkembangan teknologi, peningkatan akses dan kualitas kesehatan, perlindungan sosial untuk mendorong produktivitas sumber daya manusia, dan pembangunan infrastruktur guna mendorong daya saing melalui terobosan pembiayaan kreatif,” jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN ini mengungkapkan, pada Forum Ekonomi Dunia 2017, indeks global sumber daya manusia Indonesia telah meningkat, terutama di bidang pendidikan. Indonesia kini menempati urutan ke-65 dari 130 negara. Pada tahun 2016, Indonesia hanya menduduki peringkat ke-72.

“Hal ini dapat tercapai karena Indonesia memiliki kebijakan yang bagus dalam hal anggaran, dimana 20% dari total APBN dialokasikan untuk pendidikan. Indonesia juga memiliki beberapa program pendidikan yang sangat merakyat, yaitu bantuan operasional sekolah (BOS), bidik misi, ataupun sistem keamanan nasional di sektor kesehatan,” terang Bamsoet.

Legislator Dapil VII Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara dan Kebumen ini menambahkan, tantangan yang harus mendapat perhatian serius terkait sumber daya manusia adalah revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 memberikan dampak yang besar terhadap perekonomian global melalui otomisasi pekerjaan. Revolusi ini sekaligus memberikan peluang dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

“Indonesia menyadari pentingnya pembangunan digital terhadap masa depan bangsa. Kemajuan teknologi memiliki potensi untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan negara. Untuk itu, dibutuhkan reformasi kebijakan yang lebih adaptif terhadap perubahan teknologi, dan perlu memastikan tidak adanya yang tertinggal dalam mengakses teknologi,” pungkas Bamsoet.

Keuntungan Pertemuan

Di sela-sela acara, Bamsoet mengungkapkan perhelatan IMF-WB ini akan semakin memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dampak ekonomi langsung yang diterima Bali selama perhelatan sebesar Rp 1,1 triliun. Keuntungan tersebut berasal dari hotel, makan dan minum, tranportasi, belanja dan penyelenggaraan IMF-WB.

“Untuk dampak pertumbuhan ekonomi yang akan dirasakan oleh Bali mencapai 0,64 persen dan tersebar di beberapa sektor strategis pendukung IMF-WB. Tambahan pertumbuhan sebesar 0,26 persen ini berasal dari sektor konstruksi, pertumbuhan sektor lain-lain 0,21 persen, pertumbuhan sektor hotel 0,12 persen, serta pertumbuhan sektor makanan dan minuman 0,05 persen,” kata Bamsoet.

Tak hanya itu, dampak tidak langsung lainnya dari penyelenggaraan pertemuan IMF-WB bagi Bali adalah adanya kenaikan nilai PDRB riil sebesar Rp 894 miliar pada 2018. Nilai tersebut akan menambah secara keseluruhan PDRB riil Bali sebesar Rp 1,2 triliun pada periode 2017-2019.

Dari segi kontruksi dan infrastruktur, dampak ekonomi tidak langsung yang diperoleh mencapai Rp 4,5 triliun. Keuntungan tersebut berupa pemuktahiran atau renovasi Bandara I Gusti Ngurah Rai, pengembangan pelabuhan Benoa, pembangunan underpass serta penyelesaian patung Garuda Wishnu Kencana (GBK).

Penghitungan dampak ekonomi ini dilakukan dengan perkiraan sebanyak 19.800 peserta yang terdiri atas 5.050 delegasi dan 14.750 non delegasi akan menghadiri pertemuan tahunan IMF-WB yang berlangsung pada 8-14 Oktober 2018.

“Jika keuntungan yang bisa diperoleh cukup besar, tak aneh bila Indonesia mempersiapkan segala infrastuktur dengan baik untuk kenyamanan para delegasi yang datang. Toh, dari dana yang dialokasikan sebesar Rp 855 miliar dan itupun belum seluruhnya terpakai, keuntungan yang bisa diperoleh Indonesia dari pertemuan bergengsi kelas dunia ini bisa jauh lebih besar. Dan Indonesia telah menunjukan kelasnya,” tegas Bamsoet. (*/Tim IMO)