Arsip Tag: penyandang disabilitas

Jangan Berasumsi Terhadap Teman Difabel

191 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Jangan bantu aku, alat bantuku adalah bagian dari tubuhku, jangan memegang atau memindahkan,” petikan pernyataan dari para penyandang disabilitas atau difabel yang disampaikan oleh Kuni Fatonah, Amd. saat Webinar Pelatihan Pshycology First Aid (PFA) dan Self Care oleh Humanity And Inclusion yang diikuti oleh para peserta di wilayah Kota Kupang pada tanggal 22—23 Februari 2021.

Kondisi tersebut, ujar Duta Inklusi tahun 2016 ini, dapat terjadi pada teman-teman difabel yang menggunakan tongkat. “Misalnya ada antrean di balai desa, ketika dia duduk dan tongkatnya disimpan di samping, lalu dipindahkan, bagaimana dia berjalan,” tanya Kuni seraya menyampaikan kondisi serupa dapat terjadi saat ada gempa bumi di mana semua orang lari, sementara teman difabel masih harus mencari tongkatnya.

Kondisi serupa, urai Kuni, dapat pula diberlakukan pada difabel yang menggunakan kursi roda. “Misalnya teman wartawan ingin bertanya (wawancara, red) dengan teman difabel pengguna kursi roda, maka dapat mengambil posisi jongkok agar sejajar, saat berbicara, maka upayakan pandangan mata sejajar, begitu pun ketika teman-teman non-difabel berjalan dengan teman difabel, pastikan dapat berjalan seirama,” urainya.

Ilustrasi saat mewancarai teman difabel pengguna kursi roda

Hal lain, imbuh Kuni yang juga merupakan difabel pengguna kursi roda, ketika teman non-difabel ingin membantu teman difabel pengguna kursi roda, maka pastikan jalur jalan lurus dan tidak terlalu menanjak. “Jika ingin membantu mendorong kursi pada posisi turun atau naik, maka sebaiknya buka kuncinya dulu kemudian dorong secara perlahan,” terangnya.

Selain itu, lanjut Kuni, jika teman non-difabel bertemu teman difabel Tuli (memiliki hambatan pendengaran, red). “Teman-teman yang memiliki hambatan pendengaran lebih nyaman dan suka dipanggil dengan “Teman Tuli” dan bukan Tuna Rungu. Cara berkomunikasi dengan mereka dapat dilakukan dengan bahasa isyarat atau dengan membuat gerakan bibir kita,” terang Asisten Program I am Safe di lembaga Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia (Kolaborasi SIGAB dan Human And Inclusion).

Maka, tegas peraih Penghargaan “Wanita Insipiratif “  di Kabupaten Sleman pada tanggal  21 April 2018, jika ingin membangun komunikasi dengan teman-teman Tuli, jangan berasumsi dengan mereka. “Saat bertemu dengan mereka, jangan bingung atau khawatir. Khusus di masa pandemi ini, tersedia masker transparan untuk Teman-teman Tuli. Juga kepada teman wartawan saat bertanya kepada Teman Tuli, upayakan bertanya tidak panjang (bertele-tele) dan dapat menggunakan gerak bibir,” jelasnya.

Kuni Fatonah (kiri bawah) saat menyampaikan materi dalam webinar yang dihelat oleh Humanity And Inclusion pada Senin, 22 Februari 2021

Bagaimana saat teman non-difabel bertemu dengan teman difabel netra (memiliki hambatan penglihatan, red) dan mengutamakan pendengaran? “Teman Netra memaksimalkan pendengaran. Ketika bertemu dengan mereka, kita dapat menggunakan cara visual (menggunakan suara dan menggambarkan situasi, red) dan saat ingin membantu menuntun berjalan, maka mereka yang memegang kita, bukan kita yang memegang mereka. Tujuannya agar saat kondisi naik atau turun mereka dapat merasakan gerak tubuh kita sambil memberikan penjelasan secara visual sambil menuntun mereka merasakan pijakan untuk mereka,” urai wanita kelahiran Bantul, 25 Mei 1973 ini dengan gamblang.

Lalu, bagaimana kita berinteraksi dengan teman-teman yang memiliki hambatan  intelektual (down syndrom)? Caranya secara perlahan kita memberikan tugas satu per satu, misalnya setiap pagi kita berikan tugas menyapa di pagi hari dan dilakukan secara terus-menerus dan memberikan  kepada mereka. “Dan bagaimana berhadapan dengan teman-teman yang memiliki hambatan mental (orang dengan gangguan jiwa [ODGJ] atau orang dengan gangguan psikososial [ODGP]), maka jangan kasar kepada mereka, kita harus sabar dan menghargai mereka,” tandasnya.

Kuni Fatonah pun kembali menegaskan bahwa kita jangan berasumsi kepada teman-teman difabel. “Pernah terjadi terhadap Teman Tuli, ketika seorang dokter tak bisa bahasa isyarat dan tidak ada juru bicara bahasa isyarat, maka terjadi kesalahan dalam pemberian obat,” pungkasnya seraya menyampaikan teman difabel mempunyai hak yang sama dengan teman non-difabel sehingga perlu perlakuan yang sama.

Penulis dan Editor (+roni banase)

Foto utama oleh trubus.id

Hari Disabilitas, Presiden : Difabel Harus Dapat Program Pemerintah

41 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Peringatan Hari Disabilitas Internasional pada tahun 2020 harus menjadi momentum penegasan kepedulian dan solidaritas dalam meletakkan dasar yang kuat bagi perlindungan penyandang disabilitas.

Dalam sambutannya secara virtual pada peringatan Hari Disabilitas Internasional yang digelar pada Kamis, 3 Desember 2020, Presiden Joko Widodo menyebut bahwa pemerintah selalu berupaya untuk meningkatkan kesetaraan dan kesempatan terhadap akses pendidikan, kesehatan, pekerjaan, serta infrastruktur yang akses bagi para penyandang disabilitas.

“Banyak Peraturan Pemerintah (PP) yang telah saya tanda tangani di tahun 2019. Ada PP tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial bagi Penyandang Disabilitas dan PP tentang Perencanaan, Penyelenggaraan, dan Evaluasi terhadap Penghormatan, Perlindungan, dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas,” ujar Presiden sebagaimana ditayangkan kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Kamis, 3 Desember 2020.

Di tahun 2020 ini, terdapat empat PP yang juga ditandatangani Presiden, yakni PP tentang Akomodasi yang Layak bagi Peserta Didik Penyandang Disabilitas, PP tentang Akomodasi yang Layak dalam Proses Peradilan, PP tentang Aksesibilitas terhadap Permukiman, Pelayanan Publik, dan Perlindungan dari Bencana bagi Penyandang Disabilitas, serta PP tentang Unit Layanan Disabilitas Ketenagakerjaan.

Selain itu, dua Peraturan Presiden (Perpres) juga telah ditandatangani Presiden, yaitu Perpres tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Penghargaan terhadap Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas serta Perpres Nomor 68 tahun 2020 tentang Komisi Nasional Disabilitas.

“Payung regulasi rasanya sudah cukup banyak dan kalau memang sangat diperlukan saya siap untuk menerbitkan peraturan lagi. Tetapi, kuncinya bukan semata-mata di regulasi. Peraturan yang baik, rencana yang baik, tidak ada gunanya tanpa keseriusan dalam pelaksanaannya. Kuncinya adalah di implementasi,” kata Presiden.

Oleh sebab itu, tugas semua pihak ke depannya ialah memastikan bahwa semua kebijakan dapat terlaksana dengan baik, dieksekusi dengan tepat, dan dirasakan manfaatnya oleh penyandang disabilitas. Dalam hal ini, Komisi Nasional Disabilitas yang dibentuk melalui Perpres Nomor 68 tahun 2020 memiliki peran yang sangat strategis.

Presiden memberikan tanggung jawab sekaligus harapan besar bagi komisi tersebut untuk mempercepat pelaksanaan visi besar Indonesia terhadap penyandang disabilitas. Semua pihak mulai dari kementerian hingga pemerintah daerah juga harus aktif dalam mendukung hal tersebut.

“Tidak boleh ada satu pun penyandang disabilitas tertinggal dari berbagai program layanan yang diberikan oleh pemerintah,” tandasnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/BPMI Setpres)

Peduli dan Bantu Masyarakat Disabilitas Saat Pandemi Covid-19

136 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Ketua Umum Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Pinky Saptandari mengajak masyarakat juga memperhatikan nasib para penyandang disabilitas di tengah pandemi Covid-19. Sebab, mereka menjadi yang paling terdampak dan lebih membutuhkan bantuan.

“Sering kali orang melupakan, bahwa ada yang paling terdampak dibandingkan kita. Kita semua susah, betul ya. Pengusaha susah, karyawan susah, tetapi ada yang lebih susah daripada kita, gitu ya, yaitu teman-teman disabilitas,” ujar Pinky dalam dialog yang dimoderatori oleh dokter, aktris, dan presenter Lula Kamal di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada Minggu, 17 Mei 2020.

Pinky memberi contoh bagi tuna netra yang pekerjaannya memijat, tentunya menjadi tidak ada pendapatan sama sekali. Maka orang yang seperti mereka ini adalah yang paling terdampak dan memerlukan bantuan.

“Jadi, ini contoh bagaimana mereka, kalau kita bicara semua kena dampaknya, barangkali yang harus kita pikirkan, mereka yang paling terdampak,” jelas Pinky.

Berdasarkan data yang dimiliki Direktur Yayasan Plan International, Dini Widiastuti, setidaknya ada 34 juta penduduk disabilitas yang terdampak oleh kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sebagai upaya untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

Dini yang juga sering melakukan pendampingan para disabilitas di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur menjelaskan bahwa informasi mengenai pencegahan Covid-19 bahkan belum secara benar diperoleh masyarakat yang memiliki keterbatasan pada layanan informasi.

Selain itu, anak-anak dengan disabilitas juga menjadi yang paling kesulitan mendapatkan pembelajaran dalam masa pandemi. “Apalagi anak-anak dengan disabilitasnya dengan segala keterbatasannya. Itu harus diperhatikan oleh pemerintah juga. Jadi, Kementerian Pendidikan juga bagaimana supaya anak-anak itu tidak tertinggal, ya. _No one left behind_, kan katanya,” jelas Dini.

Selain bermasalah pada kondisi keuangan, Pingky juga mengungkapkan bahwa penduduk dengan disabilitas juga kerap mengalami masalah dalam memenuhi kewajiban seperti pembayaran tagihan listrik dan cicilan koperasi atau bank.

Menurutnya, warga dengan disabilitas juga harus membutuhkan bantuan dalam pengelolaan keuangan untuk mengatur kewajiban yang harus dibayarkan dalam masa pandemi.

Pinky berharap masyarakat yang lebih mampu dapat membantu sesama mulai dari tetangganya sendiri dengan berbagi dan membeli apabila ada yang warga yang menjual produknya. “Jadi, misalnya Mbak Lula ditawarin bumbu pecel, walaupun tak butuh, ya kita beli aja, gitu. Bagikan ke yang lain, karena dengan cara itu, kita membantu, selain sembako kita membantu mereka dengan lebih detail, begitu,” pungkas Pingky.(*)

Sumber berita dan foto (*/Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional)
Editor (+rony banase)