Arsip Tag: psbb

Hikmah di Balik Orang NTT Pertama Positif Covid-19

727 Views

Hikmah di Balik Orang NTT Pertama Positif Covid-19

Oleh : Rony Banase

Membayangkan kita terpapar Covid-19, dinyatakan positif lalu diumumkan dan masuk dalam list orang positif Covid-19, ibarat peristiwa paling menyeramkan dalam sejarah hidup kita. Namun, kondisi ini berbeda terhadap seorang Putra Terbaik asal Pulau Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama El Asamau.

Dengan predikat baru yang disandang “Pasien 01” pemilik nama lengkap Elyas Y. Asamau, S.IP., MPP. Tak urungkan niat baik untuk secara terbuka mengumumkan jati dirinya (melalui chanel youtube https://youtu.be/uw1b9YvJwjo  mengidap Corona Virus Disease (Covid-19) yang melanda dunia dan tercatat (Hingga 10 April 2020) ada 1.600.984 kasus, dengan jumlah kematian sebanyak 95.604 jiwa dan yang telah sembuh sebanyak 355.671 orang (data dari Worldometer).

Kondisi ini drastis mengubah predikat “Zona Hijau NTT Negatif Covid-19” menjadi Zona Merah dan mereposisi provinsi dengan julukan New Tourism Territory sebagai provinsi ke-33 yang terpapar Covid-19 diumumkan oleh Jubir Pemerintah Penanganan Covid-19 di Indonesia (baca : https://gardaindonesia.id/2020/04/09/ntt-1-positif-covid-19-total-nasional-capai-3-293-kasus/

Kondisi tersebut tak pelak menjawab teka-teki siapa orang positif pertama Covid-19 (karena muncul berbagai spekulasi warga media sosial [citizen journalism]), dalam hitungan detik berbagai sudut medsos dibanjiri oleh viralnya pengakuan tulus El dengan bumbu penguatan dan edukasi bagi seluruh masyarakat NTT agar siap mental dan tenang menghadapi pandemi Covid-19.

Tak lazim? Memang, siapa di dunia ini yang berani dan berbesar hati mengumbar kondisi positif Covid-19 (meski protap Gugus Tugas Penanganan Penyebaran Covid-19, wajib merahasiakan identitas pasien Covid-19). Berbanding terbalik bagi El Asamau, pegiat literasi yang sempat viral beberapa waktu (sekitar 2—3 bulan) lalu di berbagi platform media sosial karena kegigihan dan ketabahan berupaya mencari jalan agar saudari perempuan tersayangnya sembuh dari penyakit kejiwaan dan kembali waras.

Sontak berbagai pemberitaan bermunculan ibarat jamur di musim hujan, mulai dari postingan ala kadar di medsos hingga karya jurnalistik merebak seisi pengguna smartphone yang setiap detik menelusuri berita Covid-19 yang mengalahkan rating berita hubungan asmara pejabat publik, kasus pemerkosaan, pelecehan seksual, korupsi, pembunuhan, hingga berita edukatif dan komunikatif di media daring (online), elektronik dan cetak.

Warganet pun menggapai ide dan memperoleh ruang ekspresi mengumbar dan menjual berita hot “Orang NTT Pertama Positif Covid-19” berbagai sudut dihiasi potret El Asamau, beragam corak pemberitaan hingga meme kaya ragam menghiasi dinding layar hp android teman kita sehari-hari.

Lantas, apa hikmah dari pengakuan tulus El Asamau? Itu sebuah pelajaran berharga bagi kita Orang NTT yang dikenal gigih dan berwatak keras layaknya batu karang. Kita diedukasi oleh anak seorang petani yang mengenyam pendidikan hingga jenjang S3 (Doktor) di American University. Lagi pula, Tuhan amat baik bagi kita karena peneguhan positif Covid-19 El Asamau bertepatan pada rentetan momentum sakral umat kristiani di Provinsi Nusa Terindah Toleransi.

Masa Paskah 2020, bersanding mesra dengan masa tanggap darurat Covid-19, masa ini memaksa kita memindahkan lokasi altar pemujaan, puji-pujian dan penyembahan dari gereja ke rumah masing-masing. Masa Paskah tahun ini memotret sejarah dan bakal dikenang oleh anak cucu kita bahwasanya tergores dalam tatanan budaya, Prosesi Semana Santa di Kota Reinha Flores Timur dibatalkan, Pawai Paskah di Kupang pun demikian, hingga pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengekang ekspresi di beberapa kota.

Lalu, sebuah pesan menggantung manja di benak saya, apa pesan Tuhan bagi kita melalui Pandemi Covid-19 ini? El tertular Covid-19 bukanlah sebuah kebetulan, tetapi Tuhan punya rancangan dan rencana yang luar biasa, Tuhan menyiapkan El Asamau menjadi saluran berkat dan bermanfaat lebih besar bagi Nusa Tenggara Timur.

Namun, kita dituntut lebih memproteksi diri dari Covid-19, kita dipaksa dengan pertimbangan keselamatan jiwa untuk melakukan pembatasan interaksi sosial (social distancing), jaga jarak interaksi (physical distancing), membudayakan diri cuci tangan, memakai masker, dilarang berjabat tangan hingga menakar tradisi cium hidung (Henge’do) yang menjadi budaya keakraban dan pemutus sengketa.

Kita pun dipinta oleh pemerintah untuk tidak panik dan melakukan protokol kesehatan diri, jangan menciptakan kerumunan, menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan bergizi dan berolahraga, dan memakai masker, baca https://gardaindonesia.id/2020/04/10/pasien-positif-covid-19-dirawat-di-rs-w-z-yohanes-gubernur-pinta-jangan-panik/

Efek kejut dari pengakuan tulus dari pegiat literasi dan pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kabupaten Alor ini justru agak memudahkan pemerintah melakukan penelusuran (contact tracing) dengan siapa saja El Asamau berinteraksi. Prosedur ini tampaknya bakal berbuntut pada kesadaran kita untuk lebih mawas diri memosisikan lokasi berdiri mengantri saat berbelanja obat di apotik, namun tidak serupa saat berbelanja di pasar tradisional, memesan makanan favorit via aplikasi, menghabiskan waktu membaca buku favorit, memainkan game online, berkumpul bersama keluarga tercinta (menepis sejenak kesibukan diri), bahkan menyadarkan kita membaca buku terlaris di dunia (Alkitab, red) guna mengisi waktu perpanjangan masa Pandemi Covid-19 entah sampai kapan.

Salam Sehat dan Jaga Jarak. Tuhan Memberkati Nusa Tenggara Timur

Presiden Jokowi : Pemberlakuan PSBB Tidak Seragam di Seluruh Indonesia

220 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo menjelaskan bahwa dalam situasi pandemi virus korona atau Covid-19 saat ini, semua pengambilan keputusan haruslah didasarkan pada sikap kehati-hatian dan tidak terburu-buru. Hal tersebut juga berlaku bagi penetapan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diajukan oleh pemerintah daerah.

“Saya kira kita semuanya dalam kondisi seperti ini jangan sampai mengambil keputusan itu salah, semuanya harus hati-hati dan tidak grasah-grusuh,” kata Presiden dalam keterangan persnya di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 9 April 2020.

Menurut Kepala Negara, pelaksanaan PSBB juga tidak diberlakukan secara seragam di seluruh Indonesia. Pemerintah akan melihat kondisi masing-masing daerah sebelum nantinya Menteri Kesehatan menetapkan status PSBB di daerah tersebut, sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku.

Seperti diketahui, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 dijelaskan bahwa PSBB paling sedikit meliputi libur sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan/atau pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Presiden menjelaskan bahwa keputusan menetapkan status PSBB di suatu daerah didasarkan pada pertimbangan berbagai hal.

“Kita tahu, bahwa keputusan memberikan PSBB atau tidak, baik itu yang berkaitan dengan libur sekolah, penutupan kantor, pembatasan kegiatan keagamaan, pembatasan kegiatan-kegiatan di (tempat) umum ini harus melihat beberapa hal, yaitu jumlah kasus yang ada, jumlah kematian di setiap, baik kabupaten/kota maupun provinsi, dan tentu saja didasarkan pada pertimbangan epidemiologi, besarnya ancaman, dukungan sumber daya, pertimbangan ekonomi, sosial, budaya, dan keamanan,” jelasnya.

“Ini penting sekali. Sekali lagi, kita tidak ingin memutuskan itu grasah-grusuh, cepat tetapi tidak tepat. Saya kira lebih baik kita memutuskan ini dengan perhitungan, dengan kejernihan dan kalkulasi yang detail dan mendalam,” tandasnya. (*)

Sumber berita dan foto (*/BPMI Setpres) Editor (+rony banase)

Kemenhub Berikan Rekomendasi bagi Daerah untuk Lakukan PSBB

167 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) mengeluarkan Surat Edaran Nomor SE 5 BPTJ Tahun 2020, menyusul dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Juru Bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati dalam keterangan pers pada Rabu, 1 April 2020 mengatakan Surat Edaran tersebut bertujuan memberikan rekomendasi kepada daerah apabila sudah dikategorikan sebagai daerah yang diperkenankan untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dapat melakukan pembatasan penggunaan moda transportasi untuk mengurangi pergerakan orang dalam upaya memutus rantai penyebaran covid-19.

“Sesuai dengan PP No 21 tahun 2020, untuk dapat dikategorikan sebagai wilayah PSBB daerah terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes),” terang Adita.

Dengan demikian, imbuh Adita, jika belum secara resmi mendapatkan persetujuan Kemenkes mengenai status PSBB Daerah belum dapat melakukan pembatasan transportasi.

“Sebaliknya bagi wilayah di Jabodetabek yang sudah berstatus PSBB, Surat Edaran BPTJ Nomor SE 5 Tahun 2020 dapat menjadi pedoman untuk melakukan pembatasan moda transportasi,” tandas Adita. (*)

Sumber berita (*/Biro Komunikasi dan Informasi Publik–Kementerian Perhubungan)
Foto utama oleh portonews.com
Editor (+rony banase)