Arsip Tag: rekonsiliasi nasional

‘Pertemuan Seorang Saudara’ antara Presiden Jokowi & Prabowo Subianto

192 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Presiden RI terpilih periode 2019-2024 Joko Widodo bertemu dengan Prabowo Subianto. Pertemuan yang ditunggu-tunggu masyarakat di Tanah Air ini terjadi pada Sabtu, 13 Juli 2019 di Stasiun Moda Raya Terpadu (MRT), Lebak Bulus, Jakarta.

Sekitar pukul 10.05 WIB, keduanya bertemu dan bersalaman di depan loket Stasiun MRT Lebak Bulus. Senyum terpancar dari wajah keduanya dalam pertemuan hangat tersebut.

Momen itu langsung diabadikan oleh para jurnalis yang telah menunggunya sejak pagi hari. Masyarakat yang sedang berada di stasiun MRT pun langsung riuh menyambut pertemuan keduanya.

Keduanya kemudian berjalan bersama, menuju tap gate, lalu bergegas naik menuju peron stasiun. Sesaat setelah keduanya naik di gerbong 2, kereta pun melaju.

Di dalam kereta tampak keduanya mengobrol dengan akrab dan hangat. Tawa ringan keduanya sesekali menyelingi obrolan keduanya. Tak terasa kereta yang mereka tumpangi pun tiba di Stasiun MRT Senayan, Jakarta.

“Seluruh rakyat Indonesia yang saya cintai, pertemuan saya dengan Bapak Prabowo Subianto pada pagi hari ini adalah pertemuan seorang sahabat, pertemuan seorang kawan, pertemuan seorang saudara,” kata Presiden Jokowi dalam keterangannya kepada awak media.

Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto di dalam Moda Raya Terpadu (MRT), Lebak Bulus, Jakarta

Sementara itu, Prabowo mengatakan pertemuan di atas MRT itu adalah gagasan dari Presiden Jokowi. Menurutnya, ia juga belum pernah naik moda transportasi anyar di Jakarta ini.

“Ini juga gagasan beliau. Beliau tahu bahwa saya belum pernah naik MRT jadi saya terima kasih. Saya naik MRT luar biasa. Kita bangga bahwa Indonesia akhirnya punya MRT yang bisa membantu kepentingan rakyat,” ungkapnya.

Dari Stasiun MRT Senayan, keduanya berjalan menuju FX Sudirman yang berjarak sekitar 350 meter. Setibanya di FX Sudirman, keduanya langsung menuju salah satu restoran untuk santap siang bersama.

Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto makan siang bersama

Duduk semeja, obrolan ringan dan hangat kembali terjadi di antara keduanya. Beberapa hidangan yang disajikan yaitu sate kambing, sate ayam, lontong, pecel madiun, ongol-ongol, hingga es kelapa batok.

Usai santap siang bersama, Prabowo berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Tak lama berselang, Presiden Jokowi pun meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut.

Dua Pidato Satu Tujuan

Pidato Presiden Joko Widodo:
Bismilahirohmanirohim, Asalamualaikum warohmatulohi wabarokatuh

Bapak ibu dan saudara sekalian, seluruh rakyat Indonesia yang saya cintai.
Pertemuan saya dengan Bapak Prabowo Subianto pada pagi hari ini adalah pertemuan seorang sahabat. Pertemuan seorang kawan. Pertemuan seorang saudara, yang sebetulnya ini sudah kita rencanakan lama.

Tetapi Pak Prabowo juga sibuk, kemarin mondar-mandir ke luar negeri. Saya pun juga begitu. Perga-pergi dari Jakarta ke daerah, dan ada juga yang keluar, sehingga pertemuan yang telah lama kita rencanakan itu belum bisa terlaksana dan alhamdulilah pada pagi hari ini kita bisa bertemu dan mencoba MRT. Karena saya tahu Pak Prabowo belum pernah mencoba MRT.

Yang kedua, setelah kontestasi kompetisi di Pilpres, kita tahu, kompetisi di Pilpres adalah kompetisi yang harus ngomong apa adanya, kompetisi yang sangat keras.

Baik di antara kami maupun di antara para pendukung. Oleh sebab itu, setelah pilpres usai, silaturahmi antara saya dengan Bapak Prabowo Subianto bisa kita satukan pada hari ini. Alhamdulillah.

Sekali lagi sebagai sahabat, sebagai kawan, sebagai saudara, saya sangat berterima kasih sekali atas pengaturan, sehingga kami bisa bertemu dengan Bapak Prabowo Subianto.

Dan kita juga berharap agar para pendukung juga melakukan hal yang sama. Karena kita adalah saudara sebangsa dan setanah air.

Tidak ada lagi yang namanya 01. Tidak ada lagi yang namanya 02. Tidak ada lagi yang namanya cebong. Tidak ada lagi yang namanya kampret. Yang ada, yang ada adalah Garuda Pancasila.

Kita rajut, kita rajut, kita gerakkan kembali, persatuan kita sebagai sebuah bangsa, karena kompetisi global, kompetisi antarnergara sekarang ini semakin ketat, sehingga memerlukan sebuah kebersamaan dalam memajukan negara ini, dalam membangun negara yang kita cintai.

Saya rasa itu sedikit yang bisa saya sampaikan. Assalamualaikum warohmatulohi wabarokatuh.

Pidato Prabowo Subianto:

Bismilahirohmanirohim, Assalamualaikum warohmatulohi wabarokatuh
Salam sejahtera untuk kita sekalian
Shalom, Om Swastiastu.

Yang saya hormati Bapak Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, saudara-saudara sekalian, sebangsa dan setanah air.

Hari ini, sebagaimana saudara-saudara saksikan, saya dan Pak Joko Widodo bertemu di atas MRT. Ini juga gagasan beliau. Beliau tahu bahwa saya belum pernah naik MRT. Jadi saya terima kasih Pak. Luar biasa. Kita bangga bahwa Indonesia akhirnya punya MRT, yang bisa membantu kepentingan rakyat.

Walaupun pertemuan ini seolah-olah tidak formal, tetapi saya kira memiliki suatu dimensi dan arti yang sangat penting.

Ada yang bertanya kenapa Pak Prabowo belum mengucapkan selamat atas ditetapkannya Pak Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia untuk 2019-2024.

Saya katakan, saya ini bagaimanapun ada ewuh pakewuh, ada tata krama. Jadi kalau ucapan selamat, maunya langsung, tatap muka.

Jadi…. jangan sedikit-sedikit….

Jadi… saudara-saudara….

Tadi dikatakan oleh beliau, bahwa kita bersahabat, dan kita berkawan. Memang kenyataannya seperti itu. Jadi kalau kita kadang-kadang kita bersaing, kadang-kadang saling mengkritik, itu tuntutan politik, itu tuntutan demokrasi. Demikian kan?

Tetapi sesudah kompetisi, sesudah bertarung dengan keras, kadang-kadang, tapi kita tetap dalam kerangka keluarga besar Republik Indonesia. Kita sama-sama anak bangsa, kita sama-sama patriot, kita sama-sama ingin berbuat terbaik untuk rakyat dan bangsa Indonesia.

Saya mengerti banyak yang mungkin masih emosional, dan kita mengerti banyak hal yang kita harus perbaiki, tapi intinya, saya berpendapat, bahwa antara pemimpin kalau hubungannya baik, kita saling mengingatkan.

Kalau beliau mau ketemu saya, ya saya juga akan memanfaatkan untuk menyampaikan hal-hal demi kebaikan bersama. Saya ucapkan selamat bekerja.

Saya juga ucapkan selamat, tambah rambut putih, Pak

Saudara-saudara, menjadi Presiden itu adalah mengabdi. Jadi masalah yang beliau pikul besar. Kami siap membantu kalau diperlukan, Pak. Untuk kepentingan rakyat.

Tapi kalau kami, juga minta maaf Pak, kalau kami mengkritisi Bapak, sekali-sekali. Kan demokrasi butuh checks and balances. Saya kira demikian dari saya.

Tanggapan Presiden Joko Widodo :
Saya kira sudah jelas dan gamblang semuanya. Saya kira tidak ada pertanyaan lagi. (*)

Sumber berita (*/Plt. Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden-Chandra A. Kurniawan + https://jokowidodo.app/post/detail/dua-pidato-satu-tujuan)

Editor (+rony banase)

Pancasila Terancam, Indonesia Butuh Menteri dengan Perspektif Pancasila

210 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Pasca pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto di Stasiun MRT, Lebak Bulus, Jaksel, Sabtu, 13 Juli 2019, sepertinya wacana mengenai apakah Partai Gerindra akan bergabung dengan partai koalisi pendukung pemerintah dan siapa saja orang-orang yang akan mengisi komposisi menteri-menteri pembantu presiden akan kembali mencuat.

Hal tersebut juga menjadi perhatian dari Presidium Nasional organisasi Perhimpunan Pancasila. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pancasila, Edi Susilo mengingatkan dan meminta kepada Presiden Jokowi, agar memilih menteri, khususnya Menteri Pendidikan yang memiliki komitmen yang kuat terhadap ideologi Pancasila.

Menurutnya hal ini penting dilakukan mengingat adanya kelompok-kelompok yang ingin mengganti Pancasila sebagai ideologi dasar negara ini. Edi Susilo mengatakan menunjuk sosok Menteri yang punya komitmen kuat terhadap nilai nilai kebangsaan adalah suatu keharusan yang harus dijadikan landasan oleh Presiden Jokowi untuk ditempatkan di Kementerian Pendidikan.

“Pendidikan adalah hal paling pokok dalam pembangunan suatu bangsa. Baik buruknya sebuah bangsa terletak pada sistem pengajaran di dalam bangsa tersebut,” ujar Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pancasila, Edi Susilo dalam press rilisnya, Sabtu (13/7/19).

Mengutip apa yang disampaikan Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu bulan lalu pada acara Halal Bi Halal Mabes TNI di GOR Ahmad Yani Mabes Cilangkap, Jakarta Timur, Edi mengatakan menurut data Kementerian Pertahanan bahwa jumlah kelompok masyarakat atau orang yang akan mengganti Ideologi Pancasila dengan paham lain sangat tinggi.

“Menteri Pertahanan memaparkan bahwa sebanyak 23.4% persen mahasiswa setuju dengan Negara Khilafah bukan Negara Pancasila, selanjutnya ada 23.3% pelajar SMA sepakat untuk tidak percaya Negara Pancasila. 18,1% pegawai swasta juga tidak setuju dengan Ideologi Pancasila dan parahnya 19.4% PNS dan 19.1 persen Pegawai BUMN tidak sepakat Pancasila, ini sungguh hal yang memprihatinkan,” paparnya.

Lebih lanjut, Menteri pertahanan menyatakan bahwa di dalam tubuh TNI sendiri ada 3 persen dari jumlah seluruh TNI yang ada di Indonesia 975.750 personel TNI (Aktif dan cadangan) yang tidak sepakat Pancasila, artinya ada sekitar kurang lebih 29 ribu lebih personel TNI yang terpapar ideologi di luar Pancasila.

“Ini tidak bisa dianggap remeh sebab jumlah sebesar itu memegang senjata,” tegasnya.

Oleh karena itu dengan melihat fakta yang diungkapkan dari data Kementerian Pertahanan tersebut diatas maka menurutnya Presiden Joko Widodo harus menyeleksi betul calon menterinya yang akan duduk di dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Bisa dibayangkan 23.3 persen pelajar SMA yang tidak sepakat dengan ideologi bangsa yaitu Pancasila, kelak dalam 5 atau 10 tahun kedepan merekalah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan republik ini,” ujarnya.

Menurutnya, setidaknya ada dua hal yang menjadi kriteria utama dalam menunjuk siapapun yang akan dijadikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yakni ia haruslah: Pertama, mau dan mampu Menerapkan Pancasila di setiap jenjang pendidikan di Indonesia. Kedua, memiliki Komitmen Kebangsaan yang kuat.

Sebagaimana, Bung Karno pernah juga berpesan pada pertemuan Gerakan Pembela Pancasila pada 17 Juni 1954; ia mengatakan, “Aku minta kepadamu sekalian, untuk betul-betul menganjurkan hal Pancasila ini kepada segenap rakyat agar supaya selamatlah negara kita ini,” mendengar apa yang disampaikan Bung Karno pada ceramah tersebut mengingatkan bahwa agar bangsa ini selamat kita harus berpegang teguh terhadap Pancasila. (*/dk)

Sumber berita (*/Tim IMO Indonesia)
Editor (+rony banase) Foto by m.republika.co.id

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko: “Rekonsiliasi Bangsa Bukan Negosiasi!”

111 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Usai penetapan hasil Pilpres 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum, muncul pertanyaan bagaimana bentuk ideal rekonsiliasi dari pihak pemerintah dengan oposisi. Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko menegaskan bahwa isu ini sebaiknya tidak usah dibesar-besarkan, karena saat ini keadaan bangsa Indonesia setelah pengumuman penetapan Pilpres oleh KPU sudah kembali normal.

“Semua sudah berjalan normal. Jangan terjebak di situ terus. Bangsa ini memiliki tantangan yang lebih besar, bukan hanya politik. Ini hanya suatu peristiwa politik yang kita hadapi dari tahun ke tahun,” kata Moeldoko dalam keterangan pers kepada media di Bina Graha, Jumat, 5 Juli 2019.

Panglima TNI masa jabatan 2013—2015 itu menekankan, bangsa Indonesia memiliki tantangan yang lebih besar, bukan hanya persoalan politik.

“Nanti kita semuanya hanya terjebak di situ kita menjadi enggak maju-maju,” ucapnya.

Karena itu, Moeldoko meminta kepada semua pihak untuk tak membesar-besarkan masalah rekonsiliasi ini. Ia khawatir nantinya akan terjebak dalam rekonsiliasi yang hanya memikirkan negosiasi politik dan kepentingan kelompok tertentu.

“Saya khawatir rekonsiliasi hanya membahas negosiasi, hanya kepentingan kelompok tertentu. Ini negara loh, memikirkan negara jangan terjebak antara satu elite ke elite, jangan terjebak satu kelompok ke kelompok,” katanya.

“Jangan terjebak hanya memikirkan ‘gua dapat apa, gua dapat apa’, tapi kita harus bicara negara,” imbuh Moeldoko.

Mantan Wakil Gubernur Lemhanas itu juga menggarisbawahi, untuk masalah kepentingan bangsa dan negara secara luas, segala sesuatu perlu pemikiran yang panjang dan hati-hati.

“Sepanjang itu untuk kepentingan negara atau national interest, kita harus berpikir lebih panjang. Kita tidak boleh terjebak dalam pikiran pragmatis yang nantinya akan menganggu sistem,” katanya.

Menurut Moeldoko, untuk membangun Indonesia tidak cukup di tangan satu atau dua kelompok. Karena itu, pidato Presiden Jokowi pada penetapan hasil Pilpres 2019 di KPU pada 30 Mei 2019 lalu sudah jelas, mengajak semua pihak untuk bersama-sama berkontribusi dalam pembangunan bangsa Indonesia.

“Pak Presiden mengatakan, siapa pun ayo bergabung. Disebut secara nyata Pak Prabowo-Sandi dan seterusnya ini sudah cukup sudah sebuah statement yang perlu dipahami. Nggak perlu lagi kita mendorong kanan-kiri, karena ini sebuah statement yang nyata dari seorang presiden, dari seorang Pak Jokowi,” pungkasnya.(*)

Sumber berita (*/Tim IMO Indonesia)
Editor (+rony banase)

Pasca Putusan MK, Jokowi & Ma’ruf Imbau Rekonsiliasi Bangun Indonesia

139 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak permohonan dari pemohon PHPU (Perselisihan Hasil Pemilihan Umum), pasangan calon nomor urut 02 Prabowo-Sandi dan menyatakan Ir. H. Joko Widodo dan Prof. KH. Ma’aruf Amin (Jokowi-MA) sebagai pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia terpilih pada Kamis, 27 Juni 2019 pukul 21:16 WIB.

Maka, Paslon Presiden dan Wapres Jokowi dan Ma’ruf Amin, pada Kamis, 27/06/19 di Kediaman Ma’ruf Amin menyampaikan pernyataan dan imbauan sebagai berikut :
Assalamualaikum wr. wb.
Selamat malam
Salam sejahtera

Bapak ibu dan saudara-saudara sebangsa tanah air seluruh rakyat Indonesia yang saya cintai. Proses pemilu pilpres dan pileg yang kita lalui dalam 10 bulan telah menjadi pembelajaraan pendewasaan dalam kita berdemokrasi di negara kita. Rakyat sudah berbicara, berkehendak, suara rakyat sudah didengar. Rakyat sudah memutuskan dan telah diteguhkan oleh jalur konstitusi dalam jalan bangsa yang beradab dan berbudaya.

Kita telah melalui tahapan pendaftaran kampanye, kemudian pencoblosan, perhitungan suara, penetapan hasil rekapitulasi oleh KPU, pengawasan oleh Bawaslu, serta penyelesaian sengketa di MA dan MK.

Semua tahapan telah kita jalani secara terbuka transparan dan konstitusional dan syukur alhamdulillah malam hari ini kita telah sama-sama mengetahui hasil putusan MK. Kita menyaksikan proses persidangan di MK yang dilaksanakan secara adil dan terbuka dan disaksikan secara langsung oleh seluruh Rakyat Indonesia melalui televisi dan media elektronik lainnya.

Putusan MK adalah bersifat final dan sudah seharusnya kita semua menghormati dan laksanakan bersama-sama. Keberhasilan bangsa Indonesia menyelenggarakan pemilu yang jujur dan adil patut kita syukuri bersama.

Terima kasih kepada KPU, kepada Bawaslu, dan kepada DKPP yang melalui perannya masing-masing telah sukses memastikan terselenggaranya pemilu yang jujur dan adil. Terima kasih kepada penegak hukum, termasuk Mahkamah Agung dan lembaga peradilan di bawahnya yang telah mengawal proses penegakan hukum pemilu yang adil.

Terima kasih juga kami sampaikan kepada TNI dan Polri yang telah mengamankan jalannya pemilu. Dan terima kasih kami sampaikan kepada MK yang telah memutus sengketa pilpres dengan adil dan transparan.

Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu kembali, bersama-sama membangun Indonesia, bersama-sama memajukan negara Indonesia, tanah air kita tercinta. Tidak ada lagi 01 dan 02, yang ada hanyalah Persatuan Indonesia.

Walau pilihan politik berbeda, tetapi kita harus saling menghargai. Walau pilihan politik berbeda, kita harus saling menghormati. Walau pilihan politik berbeda pada saat pilpres namun kami sampaikan bahwa presiden dan wakil presiden terpilih adalah presiden dan wakil presiden bagi seluruh anak bangsa bagi seluruh rakyat Indonesia.

Saya yakin semangat kita sama yaitu Indonesia yang bersatu untuk membangun Indonesia yang maju, yang mampu bersanding dengan negara-negara besar lainnya, membangun Indonesia yang menang menghadapi kompetisi global yang ketat, dan membangun situasi yang unggul yang membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Saya meyakini kebesaran hati dan kenegarawanan dari sahabat baik saya, Bapak Prabowo Subianto dan Bapak Sandiaga Uno. Beliau berdua memiliki visi yang sama dalam membangun Indonesia ke depan. Indonesia yang lebih baik, Indonesia yang lebih maju, adil, sejahtera.

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada seluruh Rakyat Indonesia. Semoga amanah yang kembali diberikan kepada saya sebagai presiden dan Ma’ruf Amin sebagai wakil presiden periode 2019—2024 dapat kami jalankan sebaik-baiknya. Untuk mewujudkan pembangunan yang adil, pembangunan yang merata demi keadilan sosial seluruh bagi rakyat Indonesia.

Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada seluruh partai koalisi, seluruh relawan yang telah bekerja keras. Dan sekali lagi untuk seluruh rakyat Indonesia.

Saya dan Ma’ruf Amin berjanji akan menjadi presiden dan wakil presiden bagi Rakyat Indonesia tanpa kecuali. (*)

Sumber berita (*/Tim GWJ)
Editor (+rony banase)

Jelang Putusan MK, Rekonsiliasi Bergema di Seluruh Tanah Air

127 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Pasca Pilpres dan jelang putusan MK menjadi situasi yang berbeda dengan pada saat konstestasi pilpres kemarin, pasalnya saat ini banyak kalangan mendorong untuk secepatnya dilakukan rekonsiliasi oleh kedua belah pihak.

“Mari kita rajut kembali kebersamaan dan kebinekaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”, pinta Drs. Habib Umar Bin Husain Assegaff,.M.Ag beserta rombongan pada saat audiensi dengan Deputi IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden, Rabu 26 Juni 2019.

Habib Umar dalam sambutannya menyampaikan bahwa perbedaan adalah kodrati yang ada dimana-mana, maka menyikapi realita itu adalah menjadikan perbedaan sebagai suatu kekayaan yang justru harus dijunjung tinggi dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa diatas kepentingan pribadi.

Titik Nol Limbangan Garut

Lebih lanjut Habib menuturkan, Dalam rangka mewujudkan rekonsiliasi nasional yang digagas bersama Dr. K.H Ikyan Sibaweh,MA, K. H Yusuf Maulana, Troy Elevon Pomalingo serta Eko Presetyo dan para tokoh lainnya akan menyelenggarakan Rekonsiliasi Nasional dengan tema ” Silaturahmi Kebangsaan Untuk Keutuhan Bangsa dan Negara Indonesia” .

Kegiatan tersebut diharapkan mampu memberikan gagasan dasar sebagai pondasi persatuan dalam menjawab tantangan keadaan bangsa hari ini agar sesuai kembali dengan karateristik perilaku Bangsa Indoensia serta memupuk semangat demi keutuhan bangsa dan negara dengan membangun kembali nilai-nilai persatuan di semua golongan Rakyat Indonesia.

Giat yang akan digelar pertengahan Juli 2019 tersebut akan dikonsentrasikan di Alun-alun Limbangan Garut yang diisi dengan serangkaian kegiatan diantaranya dialog kebangsaan dengan tema “Mengamalkan Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari”, dan akan ditutup dengan deklarasi komitmen bersama untuk menjaga persatuan bangsa dan negara. (*/@yfi)

Sumber berita (*/Tim IMO Indonesia)
Editor (+rony banase)