Arsip Tag: tarian bonet

Bonet & Tarian Perang Meriahkan HUT RI di Kecamatan Amanuban Timur

387 Views

Amanuban Timur-TTS, Garda Indonesia | Menyongsong HUT ke-74 Republik Indonesia, Kecamatan Amanuban Timur, sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melakukan berbagai kegiatan dalam mengisi kemerdekaan, salah satunya dengan mengadakan bonet dan tarian ma’ekat (tari perang).

Kegiatan tersebut masuk dalam kategori Kesenian yang dirangkum dalam acara Pentas Seni dan Budaya yang berlangsung pada Selasa, 13—16 Agustus 2019, bertempat di lapangan sepak bola mini Oe’ekam. Kegiatan tersebut melibatkan 16 SD/MI dan 4 SMP/MTs se-Kecamatan Amanuban Timur.

Koordinator Seksi Kesenian, Maximus Neonub, S.Ag. mengatakan bahwa kegiatan tersebut sebagai upaya menggali dan menumbuhkan bakat yang dimiliki oleh para generasi penerus bangsa, yang selama ini terkubur rapat dalam ketiadaan ruang ekspresi.

“Anak-anak kita punya kemampuan yang luar biasa namun belum tereksplorasi dengan baik”, ujarnya ketika ditemui disela-sela kegiatan.

Lanjutnya, sesuai dengan tema HUT RI tahun ini ” Menuju Indonesia Unggul”, kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah mempersiapkan generasi penerus bangsa yang unggul.

“Bakat anak-anak kita harus jadi salah satu aspek menuju Indonesia Unggul. Seni dan budaya jadi salah satu bidang,” jelas Maxi.

Terkait tarian ma’ekat (tari perang), Maxi menjelaskan bahwa tarian tersebut menunjukkan kegembiraan atas keberhasilan yang diperoleh suatu suku. Tarian tersebut menunjukkan sifat kesatria dari seorang pejuang yang berada di medan perang digambarkan melalui sebilah pedang yang digunakan.

“Tarian ini merupakan luapan kegembiraan atas kemenangan para ‘meo’ (pejuang) di medan perang, karena zaman dulu ada perang antar suku dan kampung. Kegembiraan tersebut nampak dari liukan para penari,” ujarnya.

Tari Perang (tarian ma’ekat) dibawakan oleh anak-anak

Tarian tersebut dilakukan oleh pria yang berpasangan dengan pria lainnya dengan menampilkan liukan badan dilengkapi pakaian adat Timor Amanuban, ditambah destar yang menunjukkan kebesaran, serta pedang sebagai lambang kesatriaan.

Maxi mengungkapkan bahwa bonet merupakan tarian kelompok yang melibatkan pria dan wanita yang dipentaskan dalam bentuk lingkaran sebagai bentuk persaudaraan serta sebagai tempat mencari pasangan bagi muda-mudi.

Selain itu, syair-syair yang dilantunkan dalam bonet biasanya berkaitan dengan masalah kehidupan sehari-hari. Jelasnya, syair tersebut menggambarkan hal-hal positif yang harus dilakukan masyarakat, seperti pentingnya pendidikan juga hidup sehat.

Syair tersebut ada yang berupa sindiran tentang akibat dari tidak bersekolah. Menurutnya, para muda-mudi biasanya tidak mampu membedakan surat keterangan jual binatang dengan surat cinta. Mereka akan tertipu karena tidak bisa membaca. Selain itu, jika tidak bisa berbahasa Indonesia, maka masyarakat akan menjadi tuli terhadap percakapan dengan orang-orang dari luar daerah menggunakan Bahasa Indonesia.

“Anak muda kalau terima surat keterangan jual babi, mereka mengira itu surat cinta. Kalau omong bahasa Indonesia, sengaja tuli karena sonde (tidak) bisa omong” ucapnya.

Dirinya menambahkan bahwa melalui syair-syair yang menyindir tersebut, masyarakat di edukasi untuk bisa merubah pola hidup yang masih primitif untuk bisa mengikuti perkembangan zaman dan mampu bersaing dengan masyarakat dari daerah lainnya.

Pantauan Garda Indonesia, penampilan para peserta disambut sorakan gembira masyarakat yang memadati Lapangan Sepak Bola Mini Oe’ekam. Terutama penampilan tarian bonet dengan syair-syair yang menyindir kehidupan masyarakat.

Pentingnya budaya juga menjadi alasan dari pemerintah untuk tetap mempertahankan nilai-nilai budaya. Menurut Maxi, degradasi nilai-nilai budaya harus mendapatkan perhatian dari pemerintah dan juga masyarakat sehingga nilai-nilai budaya tidak menjadi punah. Nilai budaya juga terpampang dalam kekayaan budaya seperti tarian.

“Kita melihat terjadinya pergeseran dalam budaya, sehingga harus kita pelihara kembali lewat kegiatan seperti ini. Jangan sampe anak-anak yang lahir tahun 2000-an keatas tidak mengenal budaya kita”, pungkas Maxi.

Selain tarian bonet dan tarian ma’ekat, dalam kegiatan pentas seni dan budaya tingkat kecamatan Amanuban Timur, perlombaan lain yang digelar yaitu natoni dan juga lomba paduan suara. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)

Editor (+rony banase)

PJKR Unkris Kupang Budayakan Olahraga Melalui Gerak Budaya

523 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pemeliharaan kekayaan budaya merupakan tanggung jawab generasi muda sebagai pewaris kekayaan seperti tarian daerah, benda-benda pusaka yang perlu dilakukan melalui pendidikan terutama sejak dini sehingga rasa memiliki terhadap budaya tertanam dalam jiwa para pewaris.

Sabtu, 06 Juli 2019, bertempat di Perpustakaan Umum Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Program Studi (Prodi) Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) UKAW Kupang melaksanakan Festival Gerak Budaya, yang diikuti oleh mahasiswa yang mengambil mata kuliah Sosiologi dan Antropologi Olahraga.

Kegiatan ini merupakan bagian dari proses perkuliahan yaitu ujian akhir yang diramu dalam bentuk Festival Gerak Budaya dengan menampilkan gerak budaya dari masing-masing kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan dipentaskan oleh mahasiswa dari setiap daerah.

“Festival ini merupakan Ujian Akhir Semester (UAS), yang biasanya berupa ujian teori, kita kasih ujian praktek untuk mata kuliah sosiologi dan antropologi olahraga”,ujar Dr. Andreas Jhon Lumba, S. Pd., M. Pd, selaku dosen pengasuh mata kuliah tersebut.

Jhoni, sapaan akrabnya, kepada Media Garda Indonesia mengatakan bahwa mata kuliah sosiologi dan antropologi olahraga, berbicara tentang hubungan manusia sebagai makhluk sosial.

“Mata kuliah ini, berbicara tentang hubungan dan interaksi manusia dengan sesama, manusia dengan Tuhan, manusia dengan makhluk ciptaan lainnya, serta dengan benda mati”, ujar dosen yang memiliki hobi bermain bola kaki itu.

Lebih lanjut, Jhoni mengatakan, mahasiswa harus dibekali dengan pengetahuan dalam menganalisis setiap gerak budaya untuk dapat mengetahui makna dari setiap gerakan tersebut.  “Sejumlah aktivitas gerak budaya jika dianalisis lebih detail maka akan memberikan makna tentang hubungan manusia dan juga gerak olahraga. Sehingga mahasiswa tidak boleh mengabaikan gerak budaya. Itu menjadi fondasi sosial dan olahraga”, ujar pria yang membawa team sepak bola Perss Soe menjuarai ETMC tahun 2000.

Jhoni menambahkan, gerak budaya bonet yang ditampilkan dari mahasiswa asal TTS menunjukkan pola hubungan antar manusia juga berkaitan dengan aktivitas yang harus dilakukan dalam olahraga.

“Dari bonet kita belajar bagaimana hubungan kita dengan sesama. Bahwa persatuan itu sangat penting, karena kehidupan masyarakat akan maju jika bersatu. Begitu juga dalam bidang olahraga permainan tim, butuh kekompakan antar semua atlet didalam tim”, ujarnya.

Selain itu, tarian yang ditampilkan dari Lembata yaitu Tarian Baleo atau gerak budaya penangkapan ikan paus, jelas Jhoni, gerak tersebut penuh semangat dan sebagai mahasiswa semangat tersebut yang harus diadopsi oleh mahasiswa.

” Gerak budaya penangkapan ikan paus ini, menunjukkan bahwa semangat dan kerja keras itu sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita. Mau sukses harus punya semangat dan harus kerja keras. Dan jangan lupa bahwa kerja sama dalam kelompok itu juga sangat membantu “, ungkap dosen yang juga pelatih bola kaki itu.

Dirinya berharap bahwa kekayaan budaya harus tetap dijaga dan dilestarikan, karena dari kebudayaan tersebut kita dapat belajar banyak hal tentang kehidupan manusia dan juga tentang olahraga.

“Ya, kita berharap menjadikan olahraga sebagai budaya begitu pula budaya sebagai olahraga. Karena antara olahraga dan budaya memiliki hubungan timbal balik, juga banyak hal positif yang dapat kita pelajari dari keduanya”, pungkas Jhoni Lumba.

Adapun gerak budaya yang ditampilkan yaitu dari Manggarai dengan gerak budaya Tarian Caci, Alor menampilkan Tarian Lego-Lego dan Caka Lele, Tarian Hedung yang ditampilkan mahasiswa asal Ende, dan dari Kabupaten TTU mempertontonkan Tarian Gong dan Tarian Adat TTU.

Sementara itu, Kabupaten TTS menampilkan Bonet, Kabupaten Kupang tampil dengan Tarian Adat dari Amarasi, Tarian Gemu Fa Mi Re dari Maumere, Kabupaten Malaka tampil dengan gerak Budaya Tebe, mahasiswa Rote Ndao menampilkan Tarian Kebalai.

Sementara itu dari daratan Sumba, Kabupaten Sumba Barat Daya menampilkan Tarian Woleka, Sumba Timur tampil dengan Tarian Kataga, mahasiswa asal Sabu tampil dengan Tarian Pedoa serta mahasiswa Lembata yang menampilkan Tarian Baleo.(*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)