Arsip Tag: universitas kristen artha wacana

Program GKH, Pakar Lahan Kering dari UKAW Rekomendasi Tanam Pohon

294 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Pemkot Kupang sedang berfokus menghijaukan wilayah Kota Kupang melalui program Gerakan Kupang Hijau (GKH). Sejak tahun 2019 telah dilakukan penanaman ribuan pohon di berbagai ruas jalan.

Terkait program ini, pakar lahan kering Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Ir. Zeth Malelak, M.S. kepada awak media menjelaskan Kota Kupang yang sangat kering membutuhkan sebanyak mungkin pohon. Oleh karena itu, program GKH yang sedang dilaksanakan oleh Pemkot Kupang sangat membantu.

Ia menjelaskan dengan adanya banyak pohon akan meningkatkan kelembaban udara sehingga udara semakin sejuk. Selain itu, menciptakan keindahan, menyumbang oksigen dan menjaga tingkat hidrasi air dalam tanah.

Zeth pun meminta Pemkot Kupang agar sebaiknya tidak lagi menanam anakan yang baru tumbuh seperti sebelum-sebelumnya. “Kami tidak rekomendasikan menanam tanaman yang kecil. Kita membutuhkan perakaran yang sudah baik. Tanaman yang sudah dibiarkan lebih dari dua tahun. Karena kelembaban tanah kita di bawah 30 persen, curah hujan rendah, dan lahan kita batu-batu dan cepat menyerap panas. Kalau tanaman kecil mudah stres dan ini riset, bukan pribadi saya yang bilang. Semua proyek di lahan kering sebaiknya tanam tanaman yang sudah dewasa bukan anakan lagi,” jelas Zeth.

Ia juga menjelaskan, apa yang dilakukan Pemkot Kupang saat ini sudah bagus, namun harus konsisten dalam pemeliharaan dan perawatannya. Ia menjelaskan membuat hutan di lahan kering atau forestry secara teori keberhasilannya di bawah 30 persen. Keberhasilan tertinggi hanya 30 persen, sehingga harus ada dobel anakan. Dengan didobel maka tentu akan menambah biaya.

Di wilayah Timor, lanjut Zeth, hujan hanya berlangsung tiga bulan. Oleh karena itu, jika menanam anakan lalu perawatan kurang maka pasti di bawah 30 persen. “Saya lihat ada beberapa tanaman di kota ini keberhasilan hampir 100 persen. Memang ada beberapa yang mati dan itu pasti diganti, tapi secara keseluruhan yang berhasil atau hidup itu sudah di atas 60 persen. Itu sudah hebat,” jelas Zeth.

Ia mengatakan tanaman-tanaman di Kota Kupang yang ditanam bukan pada musim hujan. Apalagi tahun lalu Kota Kupang mengalami El Nino dan hujan kurang dari dua bulan. Rata-rata hari hujan di Kupang tidak lebih dari 40 hari. “Padahal kita mengalami gangguan musim. Biasanya kalau ada gangguan musim di daerah kering itu tingkat pertumbuhan malah 0%, apalagi ada kebakaran,” kata Zeth.

Ia juga menyentil soal banyaknya proyek penggalian yang sedang berlangsung di Kota Kupang. Ini menjadi penyebab adanya gangguan terhadap tanaman. “Jadi bisa terjadi ada akar yang terputus di dalam saat dia sedang tumbuh,” ujarnya.

Namun, menurut dia, ada beberapa tanaman dengan daya tumbuh yang cukup bagus seperti pohon asam (Tambaring Belanda) di jalan depan Ina Boi, hampir 100 persen tumbuh. Tanaman ini punya daya tumbuh yang bagus. “Pemilihan tanaman sudah cukup hebat, apalagi Flamboyan ini menggambarkan tingkat kehebatan pak wali kota untuk menciptakan kota yang indah. Karena Kota Kupang memang terkenal dengan Kota Flamboyan,” kata Zeth.

Ia juga menyarankan agar pemerintah memperbanyak hutan kota. Ia mengakui program ini sulit, namun untuk menjaga lingkungan tetap nyaman maka harus dilaksanakan. “Program ini harus jalan karena tingkat kelembaban kita makin hari makin menurun. Tetap menanam dengan tanaman hutan, tapi tingkat kerapatannya lebih diperkecil lagi,” kata Zeth.

Ia meminta Pemkot Kupang menaikkan anggaran dan memperkuat jajaran yang bekerja dan menambah sosialisasi kepada semua orang. “Wali kota di mana-mana bicara, di gereja, media, wali kota ajak untuk menanam dan ini konsep yang dibangun kembali pak wali kota mengingat filsafat yang dibangun Gubernur El Tari yaitu tanam sekali lagi tanam,” jelas Zet.

Terkait anggaran, Zeth mengakui anggaran di lahan kering memang mahal. Pasalnya, perawatannya sangat berat. “Harus ada anggaran untuk perawatan. Dan perawatan di lahan kering tidak main-main. Bisa sampai tiga tahun. Tidak satu-dua tahun. Tanaman yang hebat di lahan kering itu tidak mudah. Menggali lubang di lahan kering yang berbatu beda dengan tanah yang lembut. Anggaran tidak sama,” ujarnya.

Salah satu alasan, menurut dia, top soil Kota Kupang hanya 2—5 centimeter, selebihnya berbatuan. Oleh karena itu, penggalian saja butuh anggaran besar. “Harus dibantu alat berat. Bisa saja biaya per pohon ini 10 juta baru jadi. Di daerah lain mungkin hanya 100 ribu. Kadang-kadang orang bilang anggaran ini sangat besar. Oh tidak, besar di mana dulu,” beber Zeth.

“Saya bangga karena pak wali kota mendorong tanpa bosan-bosan menyampaikan tentang tanam sekali lagi tanam dengan berbagai persoalan yang ada. Siapa yang berani membongkar batu karang ini untuk tanam pohon? Kalau tanam di daerah subur semua orang bisa. Tapi kalau dengan membongkar batu karang memang butuh keberanian,” pungkas Zeth. (*)

Sumber berita dan foto pendukung (*/PKP-Chris)

Foto utama (*/istimewa)

Editor (+rony banase)

PJKR Unkris Kupang Budayakan Olahraga Melalui Gerak Budaya

519 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pemeliharaan kekayaan budaya merupakan tanggung jawab generasi muda sebagai pewaris kekayaan seperti tarian daerah, benda-benda pusaka yang perlu dilakukan melalui pendidikan terutama sejak dini sehingga rasa memiliki terhadap budaya tertanam dalam jiwa para pewaris.

Sabtu, 06 Juli 2019, bertempat di Perpustakaan Umum Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Program Studi (Prodi) Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) UKAW Kupang melaksanakan Festival Gerak Budaya, yang diikuti oleh mahasiswa yang mengambil mata kuliah Sosiologi dan Antropologi Olahraga.

Kegiatan ini merupakan bagian dari proses perkuliahan yaitu ujian akhir yang diramu dalam bentuk Festival Gerak Budaya dengan menampilkan gerak budaya dari masing-masing kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan dipentaskan oleh mahasiswa dari setiap daerah.

“Festival ini merupakan Ujian Akhir Semester (UAS), yang biasanya berupa ujian teori, kita kasih ujian praktek untuk mata kuliah sosiologi dan antropologi olahraga”,ujar Dr. Andreas Jhon Lumba, S. Pd., M. Pd, selaku dosen pengasuh mata kuliah tersebut.

Jhoni, sapaan akrabnya, kepada Media Garda Indonesia mengatakan bahwa mata kuliah sosiologi dan antropologi olahraga, berbicara tentang hubungan manusia sebagai makhluk sosial.

“Mata kuliah ini, berbicara tentang hubungan dan interaksi manusia dengan sesama, manusia dengan Tuhan, manusia dengan makhluk ciptaan lainnya, serta dengan benda mati”, ujar dosen yang memiliki hobi bermain bola kaki itu.

Lebih lanjut, Jhoni mengatakan, mahasiswa harus dibekali dengan pengetahuan dalam menganalisis setiap gerak budaya untuk dapat mengetahui makna dari setiap gerakan tersebut.  “Sejumlah aktivitas gerak budaya jika dianalisis lebih detail maka akan memberikan makna tentang hubungan manusia dan juga gerak olahraga. Sehingga mahasiswa tidak boleh mengabaikan gerak budaya. Itu menjadi fondasi sosial dan olahraga”, ujar pria yang membawa team sepak bola Perss Soe menjuarai ETMC tahun 2000.

Jhoni menambahkan, gerak budaya bonet yang ditampilkan dari mahasiswa asal TTS menunjukkan pola hubungan antar manusia juga berkaitan dengan aktivitas yang harus dilakukan dalam olahraga.

“Dari bonet kita belajar bagaimana hubungan kita dengan sesama. Bahwa persatuan itu sangat penting, karena kehidupan masyarakat akan maju jika bersatu. Begitu juga dalam bidang olahraga permainan tim, butuh kekompakan antar semua atlet didalam tim”, ujarnya.

Selain itu, tarian yang ditampilkan dari Lembata yaitu Tarian Baleo atau gerak budaya penangkapan ikan paus, jelas Jhoni, gerak tersebut penuh semangat dan sebagai mahasiswa semangat tersebut yang harus diadopsi oleh mahasiswa.

” Gerak budaya penangkapan ikan paus ini, menunjukkan bahwa semangat dan kerja keras itu sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita. Mau sukses harus punya semangat dan harus kerja keras. Dan jangan lupa bahwa kerja sama dalam kelompok itu juga sangat membantu “, ungkap dosen yang juga pelatih bola kaki itu.

Dirinya berharap bahwa kekayaan budaya harus tetap dijaga dan dilestarikan, karena dari kebudayaan tersebut kita dapat belajar banyak hal tentang kehidupan manusia dan juga tentang olahraga.

“Ya, kita berharap menjadikan olahraga sebagai budaya begitu pula budaya sebagai olahraga. Karena antara olahraga dan budaya memiliki hubungan timbal balik, juga banyak hal positif yang dapat kita pelajari dari keduanya”, pungkas Jhoni Lumba.

Adapun gerak budaya yang ditampilkan yaitu dari Manggarai dengan gerak budaya Tarian Caci, Alor menampilkan Tarian Lego-Lego dan Caka Lele, Tarian Hedung yang ditampilkan mahasiswa asal Ende, dan dari Kabupaten TTU mempertontonkan Tarian Gong dan Tarian Adat TTU.

Sementara itu, Kabupaten TTS menampilkan Bonet, Kabupaten Kupang tampil dengan Tarian Adat dari Amarasi, Tarian Gemu Fa Mi Re dari Maumere, Kabupaten Malaka tampil dengan gerak Budaya Tebe, mahasiswa Rote Ndao menampilkan Tarian Kebalai.

Sementara itu dari daratan Sumba, Kabupaten Sumba Barat Daya menampilkan Tarian Woleka, Sumba Timur tampil dengan Tarian Kataga, mahasiswa asal Sabu tampil dengan Tarian Pedoa serta mahasiswa Lembata yang menampilkan Tarian Baleo.(*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)