Arsip Tag: vaksinasi covid

Kesan Presiden Jokowi Usai Vaksinasi Covid-19 dari Prof dr Abdul Muthalib

52 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo menjadi pihak pertama yang menerima suntikan dosis vaksin Covid-19 perdana pada Rabu pagi, 13 Januari 2021, di Istana Merdeka, Jakarta. “Syukur alhamdulillah pagi tadi sudah terlaksana dan vaksinasi berjalan baik,” ujar Presiden saat sesi tanya jawab setelah menyelesaikan seluruh tahap vaksinasi.

Vaksin CoronaVac produksi Sinovac, yang disuntikkan kepada Presiden dan penerima awal lainnya, sebelumnya telah melalui uji klinis yang ketat dan independen, memperoleh izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta mendapatkan fatwa halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Lalu, apa yang Presiden Jokowi rasakan ketika menerima suntikan dosis vaksin tersebut?

“Enggak, enggak terasa apa-apa. Waktu suntik ya. Tapi setelah dua jam tadi agak pegal sedikit,” jawabnya.

Namun, saat penyuntikan berlangsung, banyak pihak yang memperhatikan bahwa sang vaksinator tampak gemetar. Mengapa? “Mungkin karena ini juga vaksin pertama kali dan mungkin juga yang disuntik Presiden, apalagi ini juga disiarkan secara langsung di TV-TV. Jadi mungkin beliau, Prof. dr. Abdul Muthalib, sedikit agak gemetar dan saya lihat memang,” kata Presiden.

Namun, untuk diketahui, Prof. dr. Abdul Muthalib, Sp.PD-KHOM. yang merupakan seorang Wakil Ketua Dokter Kepresidenan adalah vaksinator yang menyuntikkan dosis vaksin kepada Presiden dalam proses vaksinasi tadi.

“Tapi, beliau ini kan dokter yang sudah sangat berpengalaman dan andal. Jadi, waktu disuntik tadi tidak terasa sakit sama sekali,” imbuhnya.

Terkait hal tersebut, kira-kira kapan terakhir kali Presiden Joko Widodo mengikuti vaksinasi?

“Disuntik vaksin terakhir? Waduh, sudah lama ya. Saya sudah lupa. Tapi mungkin pas mau haji itu ada suntik untuk meningitis dan flu,” tuturnya.

Apa pun itu, Kepala Negara sangat menaruh harapan besar terhadap program vaksinasi yang diberikan secara gratis kepada masyarakat. Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo juga meminta tolong agar masyarakat mau berpartisipasi dalam program ini demi kemaslahatan bangsa.

“Tentunya saya berharap, nanti seluruh masyarakat, seluruh rakyat, bersedia divaksin karena ini adalah upaya kita untuk bebas dari pandemi. Mengenai waktunya kapan semuanya harus bersabar karena akan diatur dan dilakukan secara bertahap. Tapi yang pasti vaksin ini gratis,” ucap Presiden.

Terakhir, Presiden kembali mengingatkan agar seluruh pihak yang telah menerima vaksin Covid-19 untuk tetap berdisiplin dalam menjalankan protokol kesehatan, yakni mengenakan masker, rutin mencuci tangan, menjaga jarak, serta menghindari kerumunan.

“Ingat, walaupun sudah divaksin, nantinya kita tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan. Yang paling penting itu,” ujarnya yang sekaligus mengakhiri sesi tanya jawab.

Vaksinasi Covid-19 ini tampaknya akan menjadi sebuah sejarah baru bagi Indonesia di mana diharapkan sebanyak 70 persen dari seluruh penduduk Indonesia memperoleh vaksin tersebut agar tercipta kekebalan komunal. Kekebalan komunal tersebut nantinya akan mencegah infeksi virus korona yang pada akhirnya dapat menjadikan pandemi Covid-19 terkendali.(*)

Sumber berita dan foto (*/BPMI Setpres)

Editor (+roni banase)

Presiden Jokowi Terima Vaksinasi Covid-19, Tak Ada Gejala Pascaimunisasi

177 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo pada Rabu pagi, 13 Januari 2021, di Istana Merdeka, Jakarta, menjadi orang pertama yang menerima vaksin dalam program vaksinasi massal secara gratis di Indonesia. Vaksinasi tersebut menjadi titik awal pelaksanaan vaksinasi nasional di Indonesia sebagai salah satu upaya penanganan pandemi Covid-19.

Sekitar pukul 09.36 WIB, Presiden tampak berjalan menuju teras Istana Merdeka yang telah ditata seperti tempat simulasi vaksinasi di puskesmas beberapa waktu lalu. Sebelum disuntik vaksin, Presiden terlebih dahulu melakukan pendaftaran dan verifikasi data, serta penapisan kesehatan, antara lain pengukuran suhu tubuh dan tekanan darah.

Hasil penapisan kesehatan oleh petugas menunjukkan suhu tubuh Presiden saat diperiksa adalah 36,3 derajat celcius dan tekanan darah 130/67 mmHg. Presiden juga menjawab sejumlah pertanyaan seputar riwayat kesehatan hingga dinyatakan sehat dan layak mengikuti vaksinasi.

Kepala Negara kemudian menuju meja berikutnya di mana proses penyuntikan dilakukan. Adapun yang bertindak selaku vaksinator presiden adalah Wakil Ketua Dokter Kepresidenan, Prof. dr. Abdul Muthalib, Sp.PD-KHOM dengan dibantu seorang asisten yang mempersiapkan peralatan.

Vaksinator tampak menyuntikkan vaksin di lengan kiri Presiden Jokowi, sekitar pukul 09.42 WIB. Proses penyuntikan pun berjalan dengan aman dan lancar.

“Bagaimana, Pak?” tanya vaksinator.

“Tidak terasa sama sekali,” jawab Presiden.

Untuk diketahui, vaksin yang disuntikkan kepada Presiden adalah vaksin CoronaVac buatan Sinovac Life Science Co.Ltd. yang bekerja sama dengan PT. Bio Farma (Persero). Vaksin tersebut telah melalui sejumlah uji klinis yang melibatkan 1.620 relawan di Bandung.

Persiapan vaksinasi Covid-19 kepada Presiden Jokowi oleh Wakil Ketua Dokter Kepresidenan, Prof. dr. Abdul Muthalib, Sp.PD-KHOM

Vaksin tersebut juga telah mengantongi izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan telah dinyatakan suci dan halal oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sehingga dapat digunakan untuk program vaksinasi di Indonesia.

Usai penyuntikan, Presiden mengikuti proses observasi kemungkinan Kejadian Ikutan Pascaimunasisi (KIPI) di Ruang Oval, Istana Merdeka, selama sekitar 30 menit. Presiden tampak berkegiatan seperti biasa setelah proses vaksinasi dan tampak berbincang dengan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

Vaksin Sinovac membutuhkan dua kali penyuntikan masing-masing sebanyak 0,5 mililiter dengan jarak waktu 14 hari. Untuk itu, para penerima vaksin akan mendapatkan kartu vaksinasi dan diingatkan untuk kembali menerima vaksin untuk kedua kalinya.

Sebelumnya, saat memberikan keterangan pada Rabu, 16 Desember 2020 di Istana Merdeka, Jakarta, Presiden menegaskan bahwa Kepala Negara akan menjadi penerima vaksin Covid-19 pertama kali. Hal ini untuk menepis keraguan masyarakat akan keamanan vaksin yang disediakan.

“Saya juga ingin tegaskan lagi, nanti saya yang akan menjadi penerima pertama divaksin pertama kali. Hal ini untuk memberikan kepercayaan dan keyakinan kepada masyarakat bahwa vaksin yang digunakan aman,” tuturnya saat itu.(*)

Sumber berita dan foto (*/BPMI Setpres) Editor (+roni banase)

Dian Lenggu, Staf Kemenkumham NTT Enggan Divaksin Covid, Kenapa ?

817 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Meski telah diterbitkannya izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) terkait vaksin Covid-19 oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) pada Senin, 11 Januari 2021, belum dapat memberikan rasa yakin dan nyaman kepada masyarakat tentang kepastian aman dan tak berefek samping bagi tubuh penerima vaksin.

Apalagi vaksin produksi Sinovac dengan kerja sama antara Universitas Padjadjaran Bandung dan Bio Farma tersebut, telah dinyatakan berlaku gratis bagi seluruh warga negara Indonesia oleh Presiden Jokowi pada Desember 2020 dan proses vaksinasi massal akan dilakukan pada sekitar awal Maret 2021, usai pelatihan vaksinator Covid-19 dan pemberian vaksin bagi tenaga kesehatan.

Dian Lenggu, staf Divisi Administrasi, Sub Bagian Humas, Reformasi Birokrasi dan Teknologi Informasi, Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Provinsi NTT ini pun enggan dan masih memiliki keraguan untuk memperoleh vaksinasi Covid-19, meski itu juga berlaku gratis bagi dirinya.

“Pada dasarnya, sebagai masyarakat awam, jelas banyak tanda tanya di kepala, apalagi ini menyangkut kesehatan,” ujar Dian Lenggu kepada Garda Indonesia dalam percakapan singkat pada Selasa, 12 Januari 2021.

Menurut Ibu dari tiga anak perempuan ini pun mengungkapkan bahwa hingga saat ini, dirinya belum tahu jelas efek samping dari vaksin Covid-19 tersebut. “Sampai saat ini, beta (saya, red) belum terlalu tahu dengan jelas efek samping dari vaksin, walaupun beta banyak dengar dan baca berita kalau vaksin Sinovac ini minim efek samping,” ungkapnya.

Tapi mungkin, lanjut perempuan yang juga berprofesi sebagai Penyiar TVRI NTT ini, akan lebih yakin kalau telah orang ada telah divaksi, lalu melihat sendiri proses vaksinasi Covid-19 tersebut.  “Terutama testimoni dari orang yang telah  divaksin,” ucapnya sembari dengan yakin mengungkapkan bahwa dirinya tak takut terhadap jarum suntik.

Istri dari Yonathan Laifoi, pegawai Kanwil Kemenkumham Provinsi NTT yang bertugas di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak (LPKA) Kupang ini juga menyampaikan bahwa ada keraguan dalam dirinya. “Ya, hanya ada keraguan saja, karena ini hal baru, harus lihat reaksi vaksin covid gratis tersebut, apalagi bayi dan balita saja, kalau imunisasi bakal ada efek samping berupa ruam dan demam,” urainya.

Saat disampaikan bawah Vaksin Covid-19 produksi Sinovac telah memperoleh izin BPOM, pemilik nama lengkap Dian Lestary Raynilda Lenggu ini juga memberikan respons meskipun ada izin BPOM.

“Bukan beta (saya, red) meragukan BPOM, namun efek samping pasti ada,” ucapnya lepas.

Namun, pegawai Kanwil Kemenkumham Provinsi NTT angkatan 2010 ini berharap, semoga Vaksinasi Covid-19 bisa jadi peluru paling akhir untuk menuntaskan pandemi yang telah berlangsung sejak Maret 2020.

“Capek ruang gerak ketong (bahasa Melayu Kupang untuk “kita”) dibatasi karena corona. Semoga beta punk (saya punya, red) keraguan jangan jadi kenyataan,” tandasnya mengakhiri percakapan kami.

Simak video imbauan dari Ketua ITAGI : https://youtu.be/qEcAMgIgMT8

Prof. Dr. Sri Rezeki Hadinegoro, dr., SpA (K), Ketua Indonesian Technical Advisory Group for Immunization (ITAGI) melalui video yang ditayangkan oleh Kementerian Kesehatan, mengatakan bahwa vaksinasi menjadi momentum penting untuk mengakhiri pandemi Covid-19. Selain itu, vaksinasi sendiri tidak bisa menjadi upaya pencegahan karena harus menjadi kesatuan dan pelindung dari protokol kesehatan (praktik 3 M).

“Vaksinasi tidak hanya melindungi diri sendiri, namun dapat melindungi keluarga, dan masyarakat di sekitar kita,” terangnya.

Vaksinasi menjadi penting, agar masyarakat dapat mengambil bagian dalam vaksinasi Covid-19 secara bertahap. “Karena semakin banyak masyarakat yang divaksin, maka makin tinggi cakupan kekebalan kelompok atau herd immunity,” ungkapnya.

Prof. Sri Rezeki pun mengimbau masyarakat agar jangan menunggu atau memilih vaksin yang akan hadir di Indonesia karena vaksin yang ada telah dievaluasi dan direkomendasikan oleh Badan POM aman.

“Percayalah, vaksin Covid-19 ini aman,” tandasnya.

Penulis, editor, dan foto (+roni banase)

Izin BPOM Keluar, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo Siap Vaksinasi 14 Januari

29 Views

Semarang, Garda Indonesia | Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) terkait vaksin Covid-19. Terkait hal itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan segera mendistribusikan vaksin ke kabupaten/kota. Ia juga memastikan penyuntikan vaksin (vaksinasi) di Jawa Tengah siap dimulai pada Kamis, 14 Januari 2021.

“Kami sudah siap semuanya. Jadi begitu BPOM mengeluarkan izin maka Dinkes tinggal menyebarkan. Sebenarnya rantai dingin sampai ke tingkat Puskesmas di Jawa Tengah sudah siap semua,” ujarnya saat ditemui usai rapat koordinasi sosialisasi vaksin dengan Menteri Kesehatan secara virtual di Rumah Dinas Puri Gedeh, pada Senin, 11 Januari 2021.

Sebanyak 62.560 vaksin Covid-19 telah sampai di Semarang, Jawa Tengah pada 4 Januari 2021. Sejak saat itu, vaksin disimpan di gudang penyimpanan milik Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Vaksin tidak langsung didistribusikan ke kabupaten/kota karena masih menunggu izin penggunaan atau EUA dari BPOM.

“Kita tinggal men-deliver saja, kemarin kita hanya menunggu izin BPOM karena kalau terlanjur dikasih ke sana (kabupaten/kota) terus sampai sana masih belum ada izin kita khawatirkan perawatannya nanti berbeda-beda. Jadi kita keep dulu di sini karena peralatan bagus. Begitu izin ini keluar maka langsung kami siapkan (pendistribusian),” imbuh Gubernur Pranowo.

Berdasarkan arahan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, MUI sudah memberikan sertifikasi halal dan BPOM juga sudah memberikan izin penggunaan vaksin Covid-19. Maka dari itu setiap daerah harus menyiapkan tempat vaksinasi dan vaksinator untuk mulai menyuntikkan vaksin pada Kamis, 14 Januari 2021 atau Jumat, 15 Januari 2021.

“Arahan Menteri Kesehatan tadi sudah sangat jelas agar kita menyiapkan untuk vaksinasi. Tanggal 13 Januari untuk Presiden. Diharapkan Gubernur dan seluruh forkopimda termasuk para dokter dan perawat (nakes), kemudian tokoh agama dan tokoh masyarakat pertama di tanggal 14 Januari. Kita sudah siapkan secara teknis,” urai Ganjar.

Ia pun menyatakan siap untuk divaksin. “Tanggal 14 itu sudah siap suntik. Vaksinator sudah siap semuanya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yulianto Prabowo mengatakan distribusi vaksin ke kabupaten/kota akan dilakukan setelah izin dari BPOM keluar. Setelah sampai di daerah, domain distribusi akan berada di bawah Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten/Kota, kemudian disalurkan ke fasilitas kesehatan.(*)

Sumber berita dan foto (*/tim relawan ganjar)

Editor (+roni banase)

400 Juru Suntik Dilatih Vaksinasi Covid-19 Selama Seminggu

391 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Vaksin Covid-19 produksi Sinovac telah tiba di Bandara El Tari Kupang pada Selasa pagi, 5 Januari 2021. Kedatangan 13.200 vaksin Covid-19 tersebut dijemput oleh tim Gugus Tugas Covid-19 dan petugas Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selanjutnya, sebagai tahap awal, vaksin Covid-19 tersebut akan digunakan untuk vaksinisasi 6.600 tenaga kesehatan (nakes) yang tersebar di sekitar 370 fasilitas kesehatan (fakes) di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, dr. Meserasi Ataupah pada Senin, 4 Januari 2021, mengatakan waktu vaksinasi Covid-19 kepada para tenaga kesehatan usai dilakukan pelatihan kepada para juru suntik. “Fakes yang ada sekitar 370, maka minimal juru suntik yang dilatih sekitar 400 orang,” ungkapnya.

Ditanya terkait waktu pelatihan kepada para juru suntik, dr Meserasi menyampaikan bahwa dibutuhkan waktu sekitar 1 (satu) minggu. “Proses vaksinasi Covid-19 kepada para tenaga kesehatan usai pelatihan juru suntik dan durasi penyuntikan 2 (dua) kali dengan jeda waktu sebanyak 14 hari,” jelasnya.

Untuk sementara, imbuh dr. Meserasi, para tenaga kesehatan yang diprioritaskan memperoleh vaksinasi Covid-19 dan terkait waktu tiba Vaksin Covid-19 tahap kedua, ia menyampaikan belum memperoleh informasi dari pusat.

Penulis, editor dan foto (+roni banase)

Tenaga Kesehatan Jadi Pihak Pertama Penerima Vaksinasi Covid-19

170 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Pemerintah telah menetapkan tahapan-tahapan terkait program vaksinasi Covid-19 yang akan diberikan gratis bagi seluruh masyarakat. Rencana tahapan tersebut sebelumnya telah dikonsultasikan dengan Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) atau badan independen yang memberikan saran kepada menteri kesehatan terkait program vaksinasi di Indonesia.

Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan bahwa tenaga kesehatan akan menjadi pihak pertama yang berada dalam tahapan vaksinasi tersebut. Hal itu disampaikannya melalui keterangan pers di Kantor Presiden, Jakarta, pada Selasa, 29 Desember 2020.

“Tahap yang pertama akan dilakukan ialah vaksinasi ke tenaga kesehatan (nakes). Di Indonesia ini ada 1,3 juta orang di 34 provinsi. Tahap kedua kita akan berikan ke public workers, ini sekitar 17,4 juta orang. Kemudian tahap selanjutnya adalah masyarakat lansia di atas 60 tahun yang jumlahnya 21,5 juta orang. Sesudah itu, nanti masyarakat normal akan mulai divaksinasi,” ucapnya.

Sebagai perbandingan, setiap negara tentu memiliki tahapan vaksinasi yang berbeda-beda. Namun, satu hal yang sama adalah menempatkan tenaga kesehatan sebagai yang utama dan pertama dalam menerima vaksin Covid-19 ini.

“Ini (nakes) adalah garda terdepan dalam pandemi krisis Covid-19. Jadi apa yang kita lakukan pertama kali konsisten dengan yang dilakukan di Amerika dan semua negara bahwa tenaga kesehatan merupakan prioritas pertama yang akan kita vaksinasi,” kata Budi.

Namun, pemerintah memastikan bahwa pemberian vaksin bagi tenaga kesehatan ini hanya akan dilakukan apabila telah mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Pemerintah berpegangan penuh pada data-data sains untuk memastikan keamanan dari vaksin Covid-19.

Menkes juga menerangkan bahwa selama ini BPOM telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, juga berbicara dengan otoritas di sejumlah negara seperti Turki, Brazil, dan Tiongkok terkait dengan uji klinis vaksin dari Sinovac yang merupakan salah satu penyedia vaksin Covid-19 di Indonesia sehingga BPOM dinilai dapat mengambil keputusan yang independen berdasarkan data-data sains.

“Arahan Bapak Presiden mohon juga dilakukannya bertahap dan hati-hati. Bapak Presiden sampaikan bahwa beliau sangat sayang kepada tenaga kesehatan ini. Jadi walaupun katanya bisa dilakukan cepat coba dilakukan secara bertahap dan hati-hati,” imbuh Menkes.(*)

Sumber berita dan foto (*/BPMI Setpres)

Editor (+roni banase)

Foto utama oleh bbc.com