Arsip Tag: andreas atok

Konflik Tanah di Desa Dubesi Batas RI- RDTL, Kepala Desa Sebut Sudah Selesai

337 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Konflik batas tanah antara Maria Bete dan Pit Mau yang terletak di RT 07/ RW 04, Dusun Haliwen B, Desa Dubesi, Kecamatan Nanaet Dubesi, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Perbatasan Timor Leste sejak tahun 2018 silam, dianggap telah selesai oleh Kepala Desa Andreas Atok.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/06/25/mekar-sejak-tahun-1993-desa-dubesi-di-belu-masih-jadi-anak-tiri/

“Masalah tanah itu sudah selesai. Kedua belah pihak sudah sepakat selesaikan di luar. Makanya, surat tidak bisa keluar,” sebut Andreas Atok kepada wartawan saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Jumat, 26 Juni 2020 siang.

Adreas mengaku, masalah tanah di wilayah desanya tidak selalu diselesaikan. “Sering di desa itu, kadang- kadang urus kadang- kadang tidak urus,” jelasnya kepada wartawan melalui sambungan telepon.

Sementara, pemilik tanah Maria Bete yang ditemui wartawan di kediamannya di Halilulik, Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat pada Jumat siang, 26 Juni 2020, menuturkan bahwa masalah tanah itu belum ada penyelesaian. Menurut Maria Bete, Andreas baru sebatas konsultasi melalui telepon pada Kamis, 25 Juni 2020 malam.

“Masalah belum selesai! Kalau mau selesaikan secara kekeluargaan juga tetap di kantor desa. Saya tidak mau di luar karena saya tahu pasti tidak aman. Kepala desa siap menghadirkan polisi dan linmas dan minta saya siapkan uang rokok untuk polisi per orang Rp.250.000 dan linmas Rp. 100.000. Saya bisa siap uang itu, yang penting urusannya di kantor desa,” kisah Maria Bete meniru percakapannya dengan kepala desa via telepon.

Maria Bete berharap, masalah tanah itu segera diselesaikan secepatnya di tingkat desa dengan menghadirkan kedua belah pihak. Maria Bete meminta kepada pihak pemerintah desa, dalam hal ini kepala desa untuk membuat surat penyerahan kembali tanah itu dan ditandatangani para saksi. Selain itu, dirinya meminta kepada pihak tergugat Pit Mau untuk menandatangani surat pernyataan.

“Kepala desa harus buat surat penyerahan kembali dan surat pernyataan dari Pit Mau supaya ke depan tidak muncul lagi masalah yang sama. Saya tidak mau selesaikan masalah tanah ini tanpa ada dua surat itu. Kalau besok- besok muncul lagi masalah siapa yang bertanggung jawab,” pintanya.

Diketahui, sebelumnya Kepala Desa Andreas yang ditemui wartawan di ruang kerjanya pada Senin, 22 Juni 2020, berjanji akan mengeluarkan surat undangan kepada kedua belah pihak untuk diselesaikan di tingkat desa pada Jumat, 26 Juni 2020. Tetapi, ketika dihubungi lagi oleh wartawan pada Jumat pagi, 26 Juni 2020), mengatakan masalah itu sudah selesai dengan dalil pihak tergugat sudah mengalah. Kata kepala desa, tergugat sudah siap membongkar rumah di atas tanah milik Maria Bete. (*)

Penulis (*/HH)
Editor (+rony banase)

Mekar Sejak Tahun 1993, Desa Dubesi di Belu Masih Jadi ‘Anak Tiri’

633 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | “Saya sendiri yang bilang (berkata), Desa Dubesi masih tetap seperti Anak Tiri,” demikian curahan hati Andreas Atok, Kepala Desa Dubesi, Kecamatan Nanaet Dubesi, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin, 22 Juni 2020.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/06/24/pembangunan-di-desa-dubesi-batas-ri-rdtl-diduga-diabaikan-pemda-belu/

Andreas menjelaskan, sejak pemekaran pada tahun 1993 hingga sekarang ini (2020), Desa Dubesi sudah empat kali pergantian kepala desa. Mulai dari desa persiapan (6 tahun), desa definitif dengan kepala desa pertama mantan Blasius Manek (8 tahun), diganti lagi oleh mantan Sipri Moruk (6 tahun), dan sekarang dijabat oleh dirinya di periode kedua (tahun ke-7). Dengan demikian, berdirinya Desa Dubesi sudah 27 tahun, tetapi kondisi jalan desa masih juga belum beraspal. Kalau jabatannya menembus 12 (dua belas) tahun, maka jumlah tahun pemekaran menjadi 32 (tiga puluh dua) tahun.

Selain itu, Andreas juga menyinggung soal air bersih. Di wilayah lain, lokasi pengeboran air bersihnya sangat berdekatan. Tetapi di Dubesi sama sekali tidak ada. Proposal usulannya sudah dikirimkan berulang- ulang bahkan sampai ke pusat.

Hal lain lagi terkait jaringan telkomsel dan jaringan internet. “Tower jaringannya ada dulu, baru kita bicara pemasangan wi-fi dalam ruangan kantor desa. Kita mau telepon saja jaringan sulit, apalagi jaringan internet? Sekarang ini kita baru nikmati listrik. Itu pun belum semua rumah, terutama mereka yang ekonominya lemah belum bisa lakukan pemasangan,” urainya.

Di akhir pembicaraannya itu, Andreas mewakili masyarakatnya meminta kepada pemerintah baik kabupaten, provinsi maupun pusat agar bisa mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Kabupaten Belu, khususnya di Desa Dubesi.

“Yang sangat kami butuh itu jalan, air, jaringan telkomsel dan jaringan internet. Soal rumah, kita dari desa bisa tangani sendiri dengan dana desa yang ada,” pintanya. (*)

Penulis + foto (*/HH)
Editor (+ rony banase)

Pembangunan di Desa Dubesi Batas RI-RDTL, Diduga Diabaikan Pemda Belu

368 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Tampak menyedihkan ketika sejumlah jurnalis melintasi jalan di wilayah Desa Dubesi, Kecamatan Nanaet Dubesi, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Perbatasan RI- RDTL, pada, Senin 22 Juni 2020. Kala itu, Garda Indonesia ditemani dua wartawan perlahan memacu kendaraan roda dua menuju Kantor Desa Dubesi.

Miris terasa, adrenalin seakan terpacu saat menanjak dan menuruni jalan jalan berbatu dan berkerikil di wilayah desa Dubesi yang terkesan diabaikan. Sepanjang perjalanan, sejauh melewati, kerikil jadi pijakan dan batu pun jadi landasan. Tajam meruncing, aus mengikis putaran roda- roda karet. Sedih, memang! Kantor Desa Dubesi yang hendak dituju itu pun cukup menyita waktu.

“Mungkin Belu terlalu luas, sehingga pembangunan jalan dan jembatan di wilayah ini harus terhenti di setiap kali usulan,” demikian ungkapan hati Kepala Desa Dubesi Andreas Atok kepada awak media, saat ditemui siang itu di ruang kerjanya pada Senin, 22 Juni 2020.

Kepala Desa Dubesi Andreas Atok

Andreas mengaku, masa kepemimpinannya sebagai kepala desa di wilayah itu sudah memasuki periode kedua (2013—2019, 2019—2025). Namun, kondisi pembangunan yang dirasakannya hingga saat ini sangat memprihatinkan. Rasa itu terus memotivasi semangatnya untuk tiada berhenti dan terus berjuang untuk menggapai cita demi rasa nyaman mengaluti segenap warga Desa Dubesi.

“Sebagian besar masyarakat desa ini masih mempercayakan saya di periode kedua dalam pilkades tahun lalu. Saya hanya bisa yakinkan warga dengan alasan bahwa ‘Mungkin Belu Ini Luas’. Bersabar saja, karena usulan perbaikan jalan dan jembatan sudah berulang-ulang kita sampaikan melalui Musrembangkab”, kisahnya sembari berharap agar segera ada realisasi pembangunan jalan dan jembatan di wilayah desanya itu.

Andreas pun menggambarkan wilayah desa Dubesi seluas 231,61 m2 bujur sangkar dengan jumlah penduduk lebih banyak dari 3 (tiga) desa lain (Nanaet, Fohoeka, Nanaenoe) di Kecamatan Nanaet Dubesi. Jumlah Kepala Keluarga (KK) 373 (tiga ratus tujuh puluh tiga) dengan jumlah jiwa 1.572 (seribu lima ratus tujuh dua). Sedangkan, jalan utama yang melintasi empat dusun di wilayah desa Dubesi sepanjang kurang lebih 5 (lima) kilometer.

Andreas menjelaskan, musim hujan menjadi kendala utama yang selalu dihadapi masyarakatnya dalam distribusi hasil komoditi (kemiri, jambu mente dan maek bako). Ekonomi masyarakat menurun lantaran akses jalan yang sangat tidak memadai.

“Soal jalan, kita tidak tinggal diam, setiap tahunnya kita masukan. Tugas kita, usul lewat musdus, musrembangdes di tingkat kecamatan. Tidak pakai proposal juga, sudah masuk rangking. Bahkan, rangking setiap tahun. Hanya, Belu ini luas,” ungkapnya lagi.

Menurutnya, tahun 2020 ini sudah ada sebaran kegiatan di tingkat musrembangcam berupa pembangunan jalan aspal sepanjang 3 (tiga) kilometer yang menghubungkan wilayah Desa Nanaet dan Desa Dubesi, rumah bantuan 8 (delapan) unit, dan 1 (satu) unit embung di We’marten dengan kapasitas penampungan 1000 liter (pagu anggaran 1 miliar).

“Mungkin, terkendala dengan wabah Corona ini. Kita berdoa menunggu, tidak bisa memaksakan. Saya tidak bermaksud melapor. Jangan sampai ada revisi anggaran besar- besaran di Kabupaten karena wabah Corona ini, kita tidak tahu. Sebaran kegiatan Kabupaten tingkat Kecamatan Nanaet Dubesi tahun ini betul ada, tetapi tergantung revisi anggaran dan kemampuan APBD-nya,” tandas kepala desa Andreas melalui sambungan telepon pada Rabu 24 Juni 2020 pagi. (*)

Penulis + foto (*/HH)
Editor (+ rony banase)