Arsip Tag: bbksda ntt

3 Pilar Pengembangan Taman Wisata Alam Manipo di Kabupaten Kupang

435 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pulau Manipo dipisahkan oleh selat sempit yang merupakan bagian dari Desa Enoraen , Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Terlihat sekilas pulau ini tidak terlalu luas. Sehingga Pulau Manipo tidak ditampilkan dalam peta geografis manapun.

Untuk berkunjung ke Pulau Manipo, kita dapat menggunakan kendaraan roda 2 atau roda 4 dengan menempuh perjalanan sekitar 3 (tiga) jam melalui Oesao atau Batu Putih.

Karena terpisah oleh selat sempit dari Pulau Timor, untuk menuju Taman Wisata Alam (TWA) Manipo harus menggunakan perahu yang sudah di sediakan di dermaga yang terbuat dari kayu yang ada di sekitar selat.
Seperti pulau kecil di tengah pantai, TWA ini memiliki pasir putih yang menjadi tempat bertelurnya penyu-penyu sisik .

Tak sekadar itu saja, di TWA Pulau Manipo ini kita dapat melihat indahnya lampu-lampu kecil dari Australia (pada malam hari), juga terdapat banyak satwa langka di TWA seperti Rusa Timor, Kakatua Jambul Kuning, Buaya Muara dan Kelelawar.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, Ir. Timbul Batubara, M. Si., saat jumpa pers yang berlangsung pada Kamis, 11 Juli 2019, bertempat di Kantor BBKSDA NTT, mengatakan bahwa Taman Wisata Alam Manipo kedepan akan dijadikan role model dengan pengembangan 3 pilar yaitu pemerintah, pendekatan adat, dan juga pendekatan agama.

“Perlu sinergitas antara pihak-pihak tersebut agar terciptanya wisata yang harmonis “, ujar Timbul kepada para awak media.

Dirinya mengatakan bahwa pemerintah yang dimaksud adalah pemerintah pusat sampai pemerintah desa. Sementara pendekatan adat perlu dilakukan, karena peminat wisata pada era milenial lebih banyak berbasis budaya.Lanjut Timbul, pihaknya juga akan menggandeng pihak Agama, dalam hal ini Sinode GMIT untuk pengembangan TWA Manipo.

“Manipo itu punya sejarah budaya, sehingga kita perlu menggandeng tokoh-tokoh adat juga”, ujar Timbul.

Lebihnya, menurut Timbul, Manipo itu memiliki potensi yang sangat unik. Keunikan tersebut, jelas Timbul, satwa yang ada di Manipo sangat bersahabat dengan manusia. Tidak ada ketakutan ketika berada disana.

“Manipo ini sangat unik, dan jarang ditemukan dimanapun. Kita bisa lihat burung kakak tua dari jarak dekat, ada juga rusa disana”, ungkap Timbul.

Sebagai salah satu tindakan nyata dalam pengembangan TWA Manipo, sebut Timbul, bahwa dalam waktu dekat akan diadakan Festival Manipo.

“Sekitar akhir September atau Oktober akan diadakan Festival Manipo. Kita berharap semakin banyak tempat wisata maka perekonomian masyarakat juga bisa berkembang”, pungkas Timbul. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase) Foto by https://today.line.me

Repatriasi 26 Kura-kura Leher Ular Rote di Pulau Rote Provinsi NTT

276 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kura-kura leher ular (Chelonida mccordi) Rote sudah tidak ditemukan lagi di habitatnya, namun di beberapa tempat seperti di Singapura, Amerika, dan Jakarta masih bisa ditemukan satwa ini. Sehingga proses repatriasi atau pengembalian ke habitat asli perlu dilakukan.

“Kura-kura leher ular ini sulit sekali ditemukan di daerah lain, di Flores juga tidak ada, di Timor juga begitu dan hanya ada di Rote. Oleh karena itu kita perlu untuk melindunginya agar terhindar dari kepunahan”, ujar Mugi Kurniawan, Kasie P2 BBKSDA NTT saat jumpa pers yang berlangsung pada Kamis, 11 Juli 2019, bertempat di Kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT.

Sedangkan, Kepala BBKSDA NTT mengatakan bahwa habitat di pulau Rote, ada di seluruh pulau Rote namun untuk sekarang ada 3 danau yang akan dijadikan habitat dari kura-kura leher ular.

“Karena jumlah debit air yang makin berkurang, maka melalui kajian bersama WCS IP ada 3 danau yang ditetapkan sebagai habitat”, ujar Timbul Batubara.

Timbul mengungkapkan bahwa ada 26 ekor kura-kura leher ular yang akan didatangkan dari Singapura untuk dikembalikan. Sebelum dilepas akan dilakukan habituasi.

“Untuk sementara ada 26 ekor yang siap didatangkan, dan masih dalam tahap negosiasi, semoga jumlahnya bisa bertambah. Kita juga masih menyiapkan berbagai dokumen pendukungnya”, ujar Timbul.

Sebelum dilepas, lanjut Timbul, kura-kura leher ular akan berada di Kantor BKSDA Seksi Konservasi Wilayah II (SKW II), yang akan melalui tahap Karantina lalu dilanjutkan dengan perkembangbiakan.

” Sebelum di lepas akan di karantina, lalu dipindahkan untuk proses perkembangbiakan yang juga dibantu dengan alat-alat teknologi untuk perkembangbiakannya berjalan dengan baik. Setelah itu proses habituasi yang dibuat sama dengan habitat asli.

“Tujuan melalui ketiga sesi ini agar nanti bisa dipastikan bahwa kura-kura leher ular tidak terjadi kepunahan atau dimangsa oleh predator’, ujar Timbul.

Sementara itu, proses repatriasi yang dilakukan di danau bukan merupakan daerah konservasi maka oleh Gubernur NTT ditetapkan sebagai kawasan ekosistem esensial.

“Karena ketiga danau itu di luar daerah konservasi dan merupakan lahan masyarakat maka untuk perlindungannya dibuat menjadi kawasan ekosistem esensial”, ujar Emanuel Ndun.

Selain itu, akan diadopsi juga tradisi Holok dan Papada yang merupakan ritual adat sebagai sumpah bersama untuk tidak mengambil hasil sembarangan.

” Ritual ini akan mengundang seluruh masyarakat di daerah sekitar dan akan melakukan penyembelihan seekor kerbau dan dinikmati bersama sebagai perjanjian bersama, jika ada yang melanggar maka akan dikenakan sanksi “, tandas Emanuel. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase) Foto by www.profauna.net

BBKSDA NTT Kembalikan 6 Ekor Komodo dari Jawa Timur ke Flores Utara

327 Views

Kota Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pelbagai upaya pelestarian terhadap sumber daya alam yang dimiliki NTT terus dilakukan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT. Hal tersebut disampaikan pada jumpa pers yang berlangsung pada Kamis, 11 Juli 2019, bertempat di Kantor BBKSDA NTT.

Hadir pada kesempatan tersebut, Kepala BBKSDA NTT, Ir. Timbul Batubara, M. Si., Kepala seksi Pemanfaatan dan Pelayanan (P2), Mugi Kurniawan, Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan (P3), Emanuel Ndun, serta Kepala Bidang Teknis BBKSDA NTT, M. Saidi.

Mugi Kurniawan, dalam penyampaiannya kepada awak media mengatakan bahwa ada beberapa hal yang akan dilakukan oleh BBKSDA NTT, diantaranya Rencana penyerahan dan pelepasliaran Komodo yang diperdagangkan secara liar oleh BBKSDA Jawa Timur (Jatim) kepada BBKSDA NTT, rencana repatriasi Kura-kura Leher Ular (Chelonida mccordi) Rote yang didatangkan dari Singapura.

Yang berikut pengembangan Taman Wisata Alam (WTA) Manipo, melalui konsep 3 (tiga) pilar, yang melibatkan pemerintah, pendekatan adat dan juga pendekatan Agama.

“Kenapa Manipo?, karena di sana satwa seperti buaya hidup berdampingan dengan masyarakat, ada juga rusa dan masih ada yang lain”, ujar Mugi.

Kepala BBKSDA NTT, Ir. Timbul Batubara, M. Si.

Pengembalian Komodo ke Habitatnya

Penggagalan perdagangan liar komodo oleh Polda Jatim, bersama BBKSDA Jatim dan juga Mabes Polri beberapa waktu lalu juga telah melewati tahap pemeriksaan DNA oleh LIPI dan sudah mendapatkan kecocokan habitat.

“Sesuai hasil identifikasi DNA oleh LIPI menunjukkan bahwa ada kemiripan dengan habitatnya di Flores Utara”, ujar Emanuel Ndun.

Sementara itu, Timbul Batubara, mengatakan bahwa penetapan habitat ada beberapa tempat yang menjadi pilihan di Flores yaitu di pulau Lomos di Manggarai Barat, Hutan Lindung Kota Manggarai Timur dan juga di Ngada, Pulau Ontoloe, tetapi pilihan tepat berada di pulau Ontoloe, Riung, Kabupaten Ngada.

“Pilihan habitat di Ontoloe karena berdasarkan hasil identifikasi kami dengan berbagai pertimbangan bahwa ketika dilepas memudahkan pemantaun”, ujar Timbul.

Jumlah Komodo yang akan dilepas di Ontoloe, menurut Timbul, ada 6 (enam) ekor, yang akan didatangkan pada tanggal 15 Juli mendatang melalui jalur udara dari Surabaya ke Bali lalu dilanjutkan ke Labuan Bajo kemudian akan menempuh perjalanan darat menuju Pulau Ontoloe.

Proses pelepasan liar Komodo, lanjut Timbul, ada 3 (tiga) hal penting yang harus dipenuhi yaitu sifat liar dari Komodo, agar dapat bertahan dari serangan mangsa. Menurutnya, kesehatan komodo juga perlu diperhatikan.

“Sifat liar komodo harus diperhatikan agar mampu bertahan dari serangan predator. Karena komodo bisa memangsa komodo juga, bisa juga dari buaya atau ular. Kesehatan komodo juga perlu diperhatikan sebelum dilepaskan”, tutur Timbul.

Yang ketiga, menurut Timbul adalah zoonosis atau infeksi yang ditularkan antara hewan vertebrata dan manusia.

Untuk memenuhi ketiga hal tersebut serta menjamin kenyamanan dan keamanan dari komodo tersebut akan dilakukan habituasi dikandang habituasi.
“Habituasi ini akan dilakukan kurang lebih 5-7 hari supaya satwa kita ini nyaman kembali ke habitatnya”, tandas Timbul. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase) Foto by www.google.com