Arsip Tag: bekraf

IKKON Kupang & Perajin Tenun Penkase, Hasilkan Pewarna Alam & Tenun Khas

376 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Tim Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON) Kupang melaksanakan Tanabae Festival 2019 yang merupakan wujud akuntabilitas publik dari tim IKKON kepada masyarakat Kota Kupang.

Kegiatan yang dilangsungkan di alun-alun Subasuka Cafe and Restoran, dimeriahkan oleh pameran berbagai hasil kreasi kolaborasi IKKON Kupang dengan setiap stakeholder kreatif di Kota Kupang.

Pada Tanabae Festival 2019, IKKON Kupang yang berkolaborasi dengan Perajin tenun dari Penkase Oeleta, memamerkan hasil tenun dengan warna yang berbeda dari tenun sebelumnya.

Desainer Produksi IKKON Kupang, Wisnu Purbandaru yang ditemui media ini di stan pameran hasil tenun Mama-mama dari Penkase mengatakan bahwa tim IKKON Kupang memberikan workshop kepada para perajin tenun pada beberapa bulan lalu, terutama terkait penggunaan warna alami.

“Sebenarnya mereka (perajin tenun), sudah tahu warna-warna alami itu, tapi mereka berpikir bahwa itu mahal dan akhirnya ditinggalkan. Mereka memilih menggunakan benang yang dijual di toko,” jelas Wisnu.

Setelah bertemu dan bertukar pikiran, lanjut Wisnu akhirnya masyarakat perajin tenun kembali menggunakan pewarna alam yang sudah ada dan membuat beberapa motif baru.

“Setelah workshop, kita sama-sama membuat pewarna alam tersebut lalu kita gunakan serta kita buat motif baru yaitu daun sepe,” ujarnya.

Deretan tenun khas yang dipamerkan dalam Festival Tanabae 2019

Sebelum bertemu Tim IKKON Kupang, para penenun menggunakan benang-benang yang dijual di toko-toko dengan berbagai warna. Dan harga jual untuk 1 selendang yang dibuat itu berkisar antara Rp.30.000—40.000,- saja.

“Pewarna alam itu digunakan pada benang katun. Jadi dari hasilnya, bisa dijual 1 selendang seharga Rp.100.000—200.000,-saja,” tutur Wisnu.

Bahkan hasil tenun kolaborasi tersebut, sudah dibawa dan dipamerkan pada Festival Bekraf di Solo dan animo pengunjung saat itu sangat tinggi serta hasil tenunan tersebut banyak menuai pujian.

Sementara itu, Elizabeth Selly selaku desainer tekstil tim IKKON Kupang, di sela-sela kesibukannya menjelaskan kepada para pengunjung yang melihat hasil kreasi tersebut mengatakan bahwa ada kurang lebih 8 (delapan) warna alam yang mereka hasilkan.

“Warna alam yang ditemukan dari tanaman sekitar 8 warna, yaitu merah sepe, lembayung, biru langit, coklat, kuning, hitam, warna gading sama warna krem,” jelas Elizabeth.

Elizabeth menjelaskan bahwa dari satu tanaman bisa menghasilkan beberapa warna tergantung campuran yang diberikan. “Tanaman yang digunakan yang itu-itu saja, seperti kulit pohon mahoni dan kulit pohon burung atau pohon secang. Warnanya tergantung dicampur dengan apa. Kalau dicampur dengan tawas itu akan menghasilkan satu warna, kalau dengan kapur itu warnanya berbeda lagi,” ujarnya.

Selain tanaman-tanaman tersebut, untuk pewarna alami digunakan bisa menggunakan kunyit dan pohon kersen. Elizabeth menjelaskan bahwa pihaknya dalam memilih warna selalu menyesuaikan dengan bahan alam yang ada, sehingga yang tidak bisa ditemukan tidak digunakan.

“Warna yang sulit ditemukan adalah warna biru, tapi akhirnya kami berhasil mendapat warna biru langit,” tuturnya.

Dirinya pun mengungkapkan adanya kemungkinan muncul lapangan pekerjaan baru serta mampu mendongkrak perekonomian masyarakat, yaitu dengan produksi pewarna alam tersebut. “Bisa jadi. Karena dari Dekranasda juga memberikan bimbingan terkait pembuatan warna juga. Dan instruktur warna dekranasda pastinya banyak memberikan ilmu bagi masyarakat, “ jelas perempuan cantik asal Denpasar itu.

Elizabeth juga berterima kasih karena melalui kolaborasi tersebut dirinya juga belajar banyak hal dari Mama-mama perajin tenun di Penkase terkait warna alam dari bahan-bahan alam. “Saya memberikan ilmu desain, tapi saya juga belajar ilmu pewarna dari mama-mama di Penkase. Kita saling bertukar, itulah proses kolaborasi kita, “ pungkas Elizabeth.

Nama festival ‘Tanabae’ merupakan bahasa Kupang, dalam bahasa Indonesia baku ‘Tanah baik’, yang sebenarnya ingin disampaikan oleh tim IKKON Kupang bahwa Kupang adalah daerah yang penuh potensi. Biasanya orang-orang Kupang mengatakan ‘bae sonde bae tanah Kupang lebe bae’. Biar tanah lain lebih baik, tanah Kupang tetap lebih baik. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

IKKON 2019 Picu Pelaku Ekonomi Kreatif Lahirkan Ikon Baru di Kota Kupang

483 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) meluncurkan Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON) 2019 untuk penyelenggaraan keempat kalinya dan merupakan program unggulan Bekraf untuk percepatan ekonomi kreatif.

IKKON adalah program dengan konsep live in designer berkolaborasi antara profesional di bidang kreatif, perajin lokal, dan pemangku kepentingan di daerah. Sejak 2016, Bekraf melalui IKKON telah mendukung pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) daerah di 15 kota/kabupaten dengan mengembangkan produk yang sudah ada maupun menciptakan produk kreatif baru.

Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON) merupakan sebuah program yang menempatkan seseorang atau sekelompok pelaku kreatif pada suatu wilayah di Indonesia yang bertujuan untuk mendorong dan membantu pengembangan potensi ekonomi kreatif lokal.

Tahun 2019, IKKON hadir di Kabupaten Aceh Utara, Kota Tanjung Pinang, Kota Tomohon, Kabupaten Lombok Timur dan Kota Kupang. Pelaksanaan IKKON dibagi menjadi empat tahapan kegiatan yaitu, pemetaan potensi, perencanaan desain, purwarupa, dan pameran/festival.

Tim IKKON Kupang 2019 didampingi oleh Kabid Pengembangan SDM dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kota Kupang, Maria Bunga Fernandez (baju batik corak hitam) dalam sesi jumpa pers di Ja’o Cafe

Tim IKKON Kupang 2019 dengan formasi Budi Suyanto (Mentor), Aminah Agustinah (Antroplog), Sri Wahyuni (Pengembang Bisnis), Eko Cahyo Saputro (Arsitek), Ferry C. Nugroho (koreografer), Elizabeth Marce!lina (Desainer Tekstil), Mirza Maulana (Desainer Grafis), Wisnu Purbandaru (Desainer Produk), Aldri Indrayana (Desainer Fashion), Rina Kusumastuti (Fotografer), Ulul Albab (Videographer) mendapatkan dukungan dari Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore.

Dalam sesi jumpa pers pada Jumat, 6 September 2019 di Ja’o cafe pukul 15.00 WITA—selesai, Mentor IKKON Kupang 2019, Budi Suyanto menyampaikan kegiatan IKKON Kupang mengajak seluruh kalangan masyarakat kreatif Kota Kupang untuk berpartisipasi dalam kegiatan IKKON Kupang 2019.

“Kolaborator yang telah kami ajak untuk berpartisipasi dalam kegiatan IKKON 2019 adalah Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang, Dinas Pariwisata Kota Kupang, Dekranasda Kota Kupang, Komunitas Kreatif Kota Kupang, Pengrajin tenun, anyaman lontar, sanggar tari, media lokal Kota Kupang dan nasional,” beber Budi.

Lanjutnya, “Selama kurang lebih 14 hari melakukan penelitian (research) di trip pertama pada bulan Juli 2019. Kemudian di trip dua kami melakukan perencanaan desain. IKKON Kupang telah menemukan brand essence Kupang yaitu Romantic, Empahty, Passionate, Raw, Nostalgic dan menghasilkan slogan baru (New Brand) Kota Kupang yakni Tanabae”.

Menurut Budi, Tanabae ini merupakan inti sari dari detak kehidupan di Kota Kupang yang merupakan tempat di mana hidup banyak sekali etnis.

“Di sini, kita mendapatkan satu kata yang menjadi satu DNA dari karya yang akan lahir, yaitu ‘Di tanah yang kering ini tumbuh cinta kasih, tanah harapan bagi warga NTT, menjadikan tanah ini tanah yang baik atau Tanabae’,” ungkap Budi.

Selain itu, harap Budi Suyanto, Keberadaan IKKON Kupang 2019 diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi secara nyata bagi perekonomian daerah dan masyarakat secara langsung dan diharapkan akan muncul produk-produk kreatif baru yang dapat menjadi ikon dari masing-masing daerah.

“Kami juga berharap kedepannya semakin banyak pelaku ekonomi kreatif (komunitas, pelaku, usaha, dan seluruh masyarakat) Kota Kupang dapat berkolaborasi dengan Tim IKKON Kupang 2019 untuk berinovasi dan berkreasi memajukan ekonomi kreatif Indonesia,” pintanya.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)