Arsip Tag: BNNP NTT

Tiga Pengedar Narkoba Diringkus Petugas BNNP NTT di Labuan Bajo

228 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Jajaran petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil mengungkap dan menangkap 3 (tiga) pengedar narkoba yang diringkus pada Sabtu, 29 Juni 2019 oleh Bidang Pemberantasan BNNP NTT.

Meski dengan keterbatasan personil dan luas jangkauan kerja di wilayah Provinsi NTT yang memiliki 22 kab/kota dengan 1.192 pulau dan hanya memiliki 3 (tiga) kantor BNN yang berada di Kota Kupang, Kabupaten Rote Ndao, dan Kabupaten Belu; tak menyurutkan semangat Bidang Pemberantasan yang hanya memiliki 14 (empat belas) orang petugas dengan alokasi personil polisi sebanyak 11 (sebelas) orang dan ASN sebanyak 3 (tiga) orang.

Demikian disampaikan Plt. Kabid Pemberantasan BNN Provinsi NTT, AKP Yulie Beribe, S.H. pada awak media di Aula Kantor BNNP NTT pada Kamis, 14 November 2019 pukul 09.30 WITA—selesai

“Tiga tersangka tersebut berinisial TAT, MT dan SL. Tersangka TAT alias A, seorang sopir bus berusia 36 tahun asal Aimere Kabupaten Ngada, KTP beralamat di Jalan A Yani Kelurahan Tetandara, Ende; tersangka MT alias M, pengemudi sopir bus berusia 47 tahun, berasal dari Welamosa, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende. Sementara tersangka SL adalah seorang ibu rumah tangga asal Banjar, Kecamatan Perak Timur, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur,” terang Yulie Beribe didampingi oleh Bripka Yance Thedens, dr. Daulat Samosir, dan Kabid Rehabilitasi BNNP NTT, Stef Joni Didok, S.H.

Plt. Kabid Pemberantasan BNN Provinsi NTT, AKP Yulie Beribe, S.H.

Yuli menambahkan bahwa dalam penyidikan terhadap tiga tersangka penyidik BNN Provinsi NTT berhasil menyita barang bukti (BB) berupa 1 (satu) paket narkotika jenis Shabu atau Methamfetamin dengan berat Netto 0,0078 gr sesuai hasil uji laboratorium, 1 (satu) bungkus rokok Sampoerna Mild putih, 3 (tiga) batang pipet kaca atau pirex, 1 (satu) jaket dengan motif bergaris coklat-hitam, 1 (satu) buah handphone merek Nokia tipe 150 warna hitam dan 1 (satu) handphone Oppo.

Shabu atau methamfematin diperoleh dari tersangka SL alias M yang beralamat di Surabaya dan dikirim melalui jasa sopir ekspedisi, tersangka MT alias M yang memesan dan diserahkan kepada tersangka TAT alias A.

Plt. Kabid Pemberantasan BNN Provinsi NTT, AKP Yuli Beribe saat menyampaikan press release

Menurut Yuli, tiga tersangka kasus peredaran gelap narkotika ini telah dilimpahkan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Labuan Bajo dan telah disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Manggarai Barat.

Persidangan yang digelar pada Selasa, 2 November 2019, Majelis Hakim PN Labuan Bajo menjatuhkan vonis 5 (lima) tahun penjara bagi tersangka/terdakwa TAT, 6 (enam) tahun penjara bagi tersangka/terdakwa MT dan hukuman 7 (tujuh) tahun penjara bagi tersangka/terdakwa SL.

Lebih lanjut Yuli mengatakan, bahwa kasus ini merupakan kasus narkotika yang kedua kalinya menjerat SL alias M seorang ibu rumah tangga dan sudah pernah dihukum.

Ia menambahkan, selama tahun 2019 ini pihaknya berhasil memperoleh 5 target dari 8 target yang diberikan BNN RI terhitung 21 September 2019. “Kami bekerja keras melakukan pemutusan jaringan peredaran Narkotika di NTT walau dengan personil yang terbatas juga kondisi geografis yang luas, kami serius, kerja keras berusaha dengan segala kemampuan dalam penanganan narkoba,” tegasnya.

Yuli juga meminta awak media untuk membantu menyampaikan dan melapor ke BNNP NTT jika menemukan orang di sekitar yang menggunakan atau menjadi pengedar narkotika.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

UPP. Katekisasi Jemaat Kaisarea BTN Kolhua & BNNP NTT Edukasi Bahaya Narkoba

262 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Akhir-akhir ini penyalahgunaan narkoba di Indonesia semakin marak. Pengedaran narkoba pun sangat beragam caranya sehingga banyak orang secara tidak sadar terjerumus dalam penyalahgunaan maupun tergolong pengedar.

Hal tersebut perlu diantisipasi sejak dini, seperti yang dilakukan oleh UPP. Katekisasi Jemaat Kaisarea BTN Kolhua, kepada 48 orang katekumen yang dibekali dengan pemahaman tentang narkotika dan bahaya penyalahgunaan narkotika.

Kegiatan belajar di alam terbuka yang merupakan program khusus UPP. Katekisasi Jemaat Kaisarea BTN Kolhua, dilaksanakan di Pantai Lasiana, pada Minggu 22 September 2019. Hadir sebagai pemateri, Kepala Seksi Pencegahan BNNP NTT, Markus Raga Djara didampingi Duta Anti Narkotika NTT 2019, Ivana Ndun.

Dalam penyampaian materinya, Markus menegaskan bahwa penyalahgunaan narkoba akan berdampak pada kecanduan atau ketergantungan. Dampak dari ketergantungan tersebut adalah gangguan fisik, psikis dan juga sosial. “Jika sekali memakai maka akan ketagihan untuk terus mengonsumsi. Itu bisa berakibat fatal,” jelasnya.

Orang yang menggunakan narkoba, lanjut Markus biasanya sulit tidur, gangguan pada kulit, gangguan kesadaran dan mudah berhalusinasi. “Orang yang kecanduan narkoba biasanya halusinasi tinggi, liat perempuan yang lanjut usia sama seperti nona cantik,” kelakar Markus.

Gangguan lainnya, pecandu narkoba mudah menyakiti diri sendiri dan juga lamban dalam bekerja. Markus menegaskan bahwa pengguna narkoba biasanya mudah gelisah, hilang kepercayaan diri, apatis dan sering curiga.

“Dia (pecandu narkoba, red) akan mengalami gangguan mental dan anti sosial. Dia akan melakukan tindakan-tindakan brutal,” jelasnya.

Peserta Katekisasi Jemaat Kaisarea BTN Kolhua tolak bahaya penyalahgunaan narkoba

Pada Kesempatan yang sama, Ivana Ndun mengajak para anggota katekumen untuk memaksimalkan potensi diri yang sudah dikaruniakan oleh Sang Pencipta.

Ivana membagikan beberapa hal penting melalui permainan mengenal diri sendiri dengan menuliskan hal dan sikap positif dari setiap huruf pada nama panggilan.

Dalam penjelasannya, Ivana menanyakan kepada semua yang hadir terkait maksud dari permainan tersebut. Ivana mencoba menjajal pemahaman para anggota katekumen.

Dirinya lalu menjelaskan bahwa dalam kehidupan manusia, perbuatan baik dan buruk itu bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan. Namun yang perlu dikembangkan adalah hal-hal positif.

“Kita harus mengembangkan sikap positif dan juga hal positif dalam duri agar mampu menangkal setiap hal buruk yang bisa saja terjadi dalam hidup kita,” jelas Ivana.

Diakhir penjelasannya, Ivana menegaskan pentingnya mengembangkan potensi diri. Dirinya menjelaskan bahwa setiap orang telah dibekali dengan potensi yang berbeda-beda, jika dikembangkan dengan baik maka hal itu akan menjadi prestasi yang membanggakan pribadi, keluarga dan tentunya mengangkat nama daerah.

“Mari kita kembangkan talenta yang sudah Tuhan berikan untuk turut serta dalam memajukan Indonesia khususnya NTT tanpa narkoba,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua UPP. Katekisasi Jemaat Kaisarea BTN Kolhua, Madelina Saununu Makandolu, menyampaikan bahwa tujuan diadakan kegiatan belajar di alam terbuka agar para anggota katekumen tidak hanya monoton belajar tentang Alkitab, tetapi juga bisa belajar menikmati dan menghargai Ciptaan Tuhan, serta mampu memahami hal-hal buruk yang bisa merusak masa depan dan mampu mengantisipasinya.

“Narkoba itu sangat berbahaya dan saat ini darurat di Indonesia, sehingga kita harus membekali mereka (anggota katekumen, red) dengan pemahaman tentang apa itu narkoba dan bahaya penyalahgunaannya sehingga tidak mudah terjerumus,” jelas Madelina.

Dalam program belajar di alam terbuka, jelas Madelina ada juga permainan (games) Alkitab yang dilakukan di luar ruang agar belajar memahami Alkitab juga bisa menghargai dan merawat ciptaan Yang Maha Kuasa.

Selain program tersebut, program lainnya yang juga dilakukan oleh anggota katekumen di Jemaat Kaisarea setiap tahunnya adalah kegiatan implementasi kasih di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak dan kunjungan ke panti asuhan.

“Mereka sudah belajar tentang kasih di dalam album Alkitab, maka mereka dituntut untuk mampu mengimplementasikan hal itu, bukan hanya sekadar memahami saja,” ujarnya.

Kegiatan yang dilakukan di lapas berupa Ibadah bersama, berbagi (sharing) bersama terkait pengalaman hidup juga memberikan bantuan-bantuan seperti perlengkapan mandi bagi anak-anak yang berada di Lapas.

“Di panti asuhan juga sama seperti di lapas, mereka beribadah bersama, bercerita, berbagi pengalaman bersama,” pungkas Madelina. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Dua Pedagang di Kabupaten Sikka Tertangkap Pakai Narkoba

190 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Tim Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Nusa Tenggara Timur berhasil mengungkapkan 2 (dua) kasus peredaran gelap narkotika di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dua kasus tersebut melibatkan 2 (dua) orang pedagang di Kampung Garam Jalan Diponegoro Maumere, Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur yang tertangkap menggunakan narkoba jenis sabu-sabu atau metamfetamina pada 17 Mei 2019 lalu. Kasus tersebut melibatkan pelaku berinisial I alias A dan I. Dua orang tersebut merupakan pedagang buah asal Makassar.

Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi NTT dalam press release pada Kamis, 19 September 2019 di Kantor BNNP NTT Jalan Palapa 1A Kota Kupang membeberkan kasus penyalahgunaan narkoba tersebut.

“Dari Tempat Kejadian Perkara (TKP), kami menemukan dua paket kecil sabu yang masing-masing berisi 0,1414 gram dan 0,4808 gram dan satu set alat isap, sebuah pemantik, satu bungkus rokok LA, juga satu paket sabu yang tersisa sedikit dan sudah dipakai untuk tes laboratorium,” ujar Kepala Bidang Pemberantasan BNN NTT, Kompol Doni Bramantyo, SIK. didampingi oleh Kabid Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (P2M), Hendrik J Rohi, S.H. dan Kabag Umum, Anwar Gemar, S.Sos.

Penangkapan dilakukan setelah pihak BNN mendapat laporan dari warga sekitar yang sering melihat ada sesuatu yang aneh di kos di mana kedua pelaku ditangkap. Kos tersebut sering dijadikan tempat nongkrong oleh pelaku dan para koleganya.

“Berdasarkan informasi tersebut kita lakukan pendalaman dan pada tanggal 17 Mei malam sekitar pukul 19—22 WITA (7—10 malam) kami mendatangi tempat tersebut. Saat itu mereka sedang menggunakan sehingga kami langsung membawa mereka ke BNNP NTT untuk proses selanjutnya,” ungkap Doni.

Doni menuturkan, sabu-sabu yang dipakai kedua pelaku dibeli oleh I alias A dari L yang juga berasal dari Makassar dan sekarang masuk dalam Daftar pencarian Orang (DPO). DPO L memberikan sabu-sabu tersebut ke I alias A melalui I. Dari hasil screening awal, kedua pelaku diketahui positif menggunakan metamfetamina.

Kasus tersebut sedang diproses di Pengadilan Negeri Maumere. Dua pelaku dijerat dengan tiga pasal UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, yaitu Pasal 114 (1), Pasal 112 (1), dan Pasal 127 (1) huruf a.

“Ancaman hukumannya minimal 5 tahun penjara karena mereka diketahui menguasai, membeli, menyediakan, memiliki, dan menyimpan. Itu nanti akan dinilai oleh hakim berdasarkan alat bukti dan keyakinannya,” terang Doni.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Angka Stunting Tinggi di NTT; Daulat Samosir : Manfaatkan Faskes dengan Baik

138 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Masalah stunting menjadi fokus pemerintah saat ini, mengingat tingginya angka stunting di NTT, sehingga memerlukan penanganan yang lebih intensif. Menurut dr. Daulat Samosir, untuk mengatasi hal tersebut, harus dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan baik.

Hal tersebut disampaikan di ruang kerjanya di BNN Provinsi NTT, Jumat 9 Agustus 2019. Menurutnya, pemanfaatan fasilitas kesehatan yang baik akan sangat menunjang pengurangan angka stunting.

Daulat mengatakan bahwa posyandu menjadi salah satu fasilitas yang harus dimanfaatkan secara benar-benar oleh para praktisi kesehatan.

“Kita harus jemput bola dengan memanfaatkan posyandu karena posyandu bukan hanya untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak, tapi juga untuk mengetahui status gizi, berat badan dan juga melakukan imunisasi”, jelas Plt. Kepala Seksi Penguatan Lembaga Rehabilitasi BNNP NTT itu.

Penggunaan fasilitas kesehatan yang baik, menurut Daulat, akan berdampak sangat baik pula pada kondisi anak, terutama pemanfaatan fasilitas kesehatan pada usia kehamilan. Karena masa-masa kehamilan merupakan momen yang akan menentukan anak akan mengalami stunting atau tidak.

“Kesehatan ibu hamil dan janin harus dijaga, dan selalu diasupi dengan makanan-makanan yang bergizi. Karena di mana status gizi seseorang baik,maka stunting itu tidak akan ada”, ujarnya.

Plt. Kepala Seksi Penguatan Lembaga Rehabilitasi BNNP NTT, dr. Daulat Samosir

Untuk dapat melakukan itu semua, Daulat menjelaskan bahwa ada beberapa hal dasar yang harus dilakukan, yang pertama adalah mengubah pola pikir masyarakat dengan memberikan pemahaman yang benar tentang pentingnya menjaga kesehatan kandungan.

“Bagaimana ibu-ibu hamil mendapatkan pemahaman yang baik dan benar tentang merawat kehamilan, bagaimana menyikapi kehamilan usia beresiko, bagaimana menyikapi kehamilan pada bulan-bulan rentan penyakit. Itu harus ada pendekatannya”, ujar Daulat.

Perubahan pola pikir masyarakat, menurutnya akan berdampak pada penggunaan fasilitas kesehatan yang tepat sasaran. Masyarakat, terutama ibu-ibu hamil bisa rajin memeriksa kandungannya agar dapat mengetahui kesehatan kandungan dan mendapatkan anjuran dari dokter.

Selain kepada masyarakat, Daulat juga menolak dengan tegas alasan tenaga medis terkait anggaran untuk melakukan pelayanan bagi masyarakat. Menurutnya, ada banyak cara yang bisa digunakan untuk menjangkau masyarakat, salah satunya melalui posyandu.

“Jangan alasan anggaran untuk tidak turun ke posyandu. Saya tidak suka seperti itu. Kita pernah lakukan itu dan terbukti berhasil”, ujar dokter yang pernah berperan menekan angka kematian ibu dan anak menjadi nol persen di Kecamatan Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) pada 2011—2013.

Hal kedua lanjutnya, setelah mengubah pola pikir masyarakat, maka harus diikuti dengan upaya pemenuhan status gizi bagi Ibu hamil serta janin dalam kandungannya.

“Kandungan usia muda jangan malas mengonsumsi makanan bergizi seperti sayur-sayuran dan juga buah”, jelasnya.

Daulat mengungkapkan bahwa dirinya sangat setuju dengan program yang sedang gencar dilaksanakan pemerintah yaitu pengolahan makanan lokal menjadi makanan yang bergizi, terutama daun kelor.

“Saya sangat setuju dengan program pemerintah untuk mengolah daun kelor, karena itu makanan yang bergizi. Karena bukan stuntingnya yang harus diperangi tapi status gizinya yang harus diperbaiki”, ucapnya.

Dirinya menjelaskan bahwa stunting tidak akan ada jika perbaikan status gizi dilakukan sejak dalam kandungan. Sehingga merubah pola pikir masyarakat untuk rutin memeriksakan diri di posyandu maupun puskesmas sangat penting, juga untuk melakukan perbaikan status gizi.

“Hanya ada dua hal, rutin periksakan diri serta perbaiki status gizinya,” tandas Daulat.(*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Kabar Gembira!, Pecandu Narkoba Lapor Diri ke BNN Tidak Akan Dipidana

131 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Penyalah guna atau masyarakat pecandu narkoba yang melaporkan diri secara sukarela di Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat maupun Provinsi, tidak akan dipidana.

Hal tersebut disampaikan oleh Plt. Kepala Seksi Penguatan Lembaga Rehabilitasi BNNP NTT, dr. Daulat Samosir, ketika ditemui disela-sela pemeriksaan narkoba bagi mahasiswa baru Undana Kupang, Rabu 7 Agustus 2019 di Klinik Pratama Undana Kupang.

Daulat menyebutkan bahwa masyarakat yang secara sukarela melaporkan diri tidak akan dipidana karena yang bersangkutan secara sadar ingin berhenti dari penyalahgunaan narkotika, sehingga harus dibantu dan tidak boleh dipersulit.

“Yang datang melaporkan diri, bahwa saya pecandu, saya penyalahguna narkotika, tolong bantu saya untuk diobati. Kita akan mengakomodir”, tegas Daulat.

Daulat juga menjelaskan bahwa salah satu hal penting bagi masyarakat yang melaporkan diri akan dilakukan rehabilitasi tanpa pemungutan biaya sepeserpun.

Plt. Kepala Seksi Penguatan Lembaga Rehabilitasi BNNP NTT, dr. Daulat Samosir

“Pemerintah sudah menyiapkan anggaran untuk rehabilitasi”, jelas Daulat.

Daulat menambahkan bahwa perlakuan berbeda akan terjadi bagi masyarakat yang tidak mau melaporkan diri untuk mengikuti proses rehabilitasi. Lanjutnya, masyarakat yang tertangkap menyalah gunakan Narkotika akan dipidana sesuai aturan yang berlaku.

“Kalau tidak melaporkan diri dan ditangkap langsung oleh aparat, itu prosesnya panjang dan jelas akan dipidana “, ucapnya.

Sementara untuk proses rehabilitasi itu sendiri, lanjut Daulat, akan dilakukan secara berjenjang mulai dari pemeriksaan, assessmen untuk menentukan terapi yang akan dijalani oleh pecandu Narkotika tersebut.

“Proses rehabilitasi untuk setiap individu yang menyalah gunakan Narkotika berbeda-beda, tergantung dari hasil assesment, yang dilihat dari lama waktu penyalahgunaan dan tingkat kemarahannya”, ujar Daulat.

Dirinya juga menjelaskan bahwa masyarakat bisa melakukan pemeriksaan secara gratis di BNNP NTT, dengan membawa alat pemeriksaan tersendiri dan akan dibantu oleh BNNP NTT.(*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

HANI 2019: Beta Sehat, Beta Kuat, Beta Hebat. Stop Narkoba!

152 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Narkoba merupakan kejahatan global yang terjadi diberbagai kalangan dan berbagai usia. Narkoba dapat menciptakan kecanduan bagi penggunanya, sehingga masa depan akan menjadi suram serta menjadi sumber bagi masalah-masalah lainnya.

Upaya menghentikan penggunaan narkoba menjadi sasaran utama Badan Narkotika Nasional (BNN), baik di Pusat maupun di daerah. Upaya Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) terus dilakukan melalui berbagai cara. Rabu, 26 Juni 2019, bertempat di Grand Mutiara Ballroom Lantai II, Badan Narkotika Nasional Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2019, dengan mengangkat tema: Milenial Sehat Tanpa Narkoba Menuju Indonesia Emas.

Hadir pada kegiatan tersebut, Asisten I bidang pemerintahan sekda NTT, Drs. Jamaludin Ahmad, M.M., unsur Forkopimda, Kapolda NTT, Irjen Pol. Drs. Raja Erizmen bersama jajaran, Danrem 161/Wirasakti Kupang, Brigjen TNI Syaiful Rahman, S. Sos., beberapa pimpinan Perguruan Tinggi di Kota Kupang, Insan pers serta ratusan kaum milenial dari kalangan mahasiswa dan pelajar.

Peringatan HANI 2019 ditandai dengan penyerahan Piagam penghargaan kepada Danrem 161/Wirasakti Kupang serta Yayasan Warna kasih atas partisipasi mereka dalam mensosialisasikan bahaya narkoba serta melakukan tes urine untuk mencegah penyalahgunaan narkoba.

Pada kesempatan tersebut, dilakukan pengukuhan 6 (enam) orang Duta Anti Narkoba Provinsi NTT, atas nama :Yoseph Mariano Aprio Ngga, Jesicca Ludjiani De Kyrieleison, Ivanna Jublyana Ndoen, Sinyo Demitrio Kurniawan Pandie, Prischa Maylieta Dewi Putri Ratu Kore ,Josua Andrew Kasih Lapuisaly.

Enam orang duta ini, kedepannya akan bersama-sama dengan BNNP NTT akan membahas berbagai program untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang bahaya narkoba.

“Kita akan sama-sama dengan BNNP NTT akan membahas beberapa program untuk sosialisasi tentang bahaya narkoba. Kita juga akan turun ke masyarakat, bekerja sama dengan berbagai komunitas untuk penyuluhan tentang narkoba”, ungkap Ivana Ndoen salah satu Duta Anti Narkoba Provinsi NTT 2019.

Sebagai bentuk dukung dan pernyataan perang terhadap narkoba, Duta Anti Narkoba Provinsi NTT, membacakan Deklarasi dan mengajak semua yang hadir untuk turut memerangi narkoba melalui yel-yel, ” Beta Sehat, Beta Kuat, Beta Hebat. Stop Narkoba!”.

Sementara itu, Asisten I Sekda Provinsi NTT, Jamaludin Ahmad, dalam dialog P4GN, mengatakan bahwa generasi muda merupakan tulang punggung bangsa, sehingga menjaga dan mewujudkan cita-cita mereka merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa.

“Masa depan sebuah bangsa bergantung pada generasi hari ini. Menjaga mereka dan menjauhkan mereka dari hal-hal buruk, termasuk narkoba merupakan tanggung jawab pemerintah”, ungkap Ahmad.

Bentuk dukungan pemerintah terhadap P4GN diwujudkan melalui peraturan yang dikeluarkan oleh gubernur. Pihaknya juga mendorong pembentukan Perda tentang narkoba baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

” Pemerintah mendukung P4GN melalui Instruksi Gubernur Nomor 1 Tahun 2018, namun itu hanya berlaku untuk aparatur negara, dengan sosialisasi dan pemeriksaan urin. Kita mendorong kedepannya bisa dibentuk Perda tentang narkoba baik di lingkup Provinsi maupun pada tingkat Kabupaten/Kota “, ujarnya Ahmad.

Hadir pula sebagai pembicara, Direktur Reserse Narkoba Polda NTT, Koordinator Tindak Pidana Umum Kejaksaan Tinggi NTT, Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Negeri Kupang, mantan pecandu Narkoba serta Kepala BNNP NTT.

Direktur Resnarkoba Polda NTT, Kombes Pol. Cornelis M. Simanjuntak, S. I. K., mengatakan ada 3 (tiga) pintu masuk narkoba. Pengguna biasanya dari kalangan menengah dan juga para pekerja diluar NTT.

” Sepanjang tahun 2018 sampai saat ini sudah ada 39 kasus yang kita tangani. 30 kasus di tahun 2018 dan 9 kasus di tahun 2019 ini. Ada 3 pintu masuk yaitu melalui Flores, Labuan Bajo dan dari pintu darat di perbatasan Timor Leste – Indonesia. Pengguna biasanya dari kalangan menengah, para pendatang juga para pekerja di luar NTT dan mahasiswa yang kuliah di luar NTT “, ujar Simanjuntak.

Sementara itu, mantan pecandu narkoba, Ragu Nadan mengatakan bahwa dirinya menjadi pecandu narkoba selama 18 tahun. Banyak kejahatan akibat dari narkoba yang sudah dilakukannya. Kejahatan dan ketergantungan pada narkoba membuatnya menjadi bosan dan menyerahkan diri untuk dipenjara dengan harapan bisa mengatasi kecanduan narkoba di penjara.

” Saya sejak SMP sudah gunakan narkoba. Awalnya coba-coba saja. Tapi lama kelamaan kecanduan. Dan efeknya saya buat banyak sekali kasus. Berharap bisa lepas dari ketergantungan pada narkoba di dalam penjara. Tapi dipenjara juga banyak pengedarnya”, tutur Ragu.

Lebihnya, dirinya pernah menjalani pengobatan, tetapi hasilnya nihil. Sampai akhirnya dia menjalani rehabilitasi di Bogor dan bisa melepaskan diri dari kecanduan pada narkoba.

“Saya pernah berobat ke Malaysia, tapi masih kecanduan. Akhirnya saya menjalani rehabilitasi selama 3 tahun di Bogor, saya belajar tentang adiksi, lalu saya terapkan pada diri saya. Dan itu berhasil, saya sampai sekarang tidak kecanduan narkoba lagi”, ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Kepala BNNP NTT, Brigjen Pol. Teguh Imam Wahyudi, SH., MM., menyampaikan rencana program yang akan dilakukan BNNP NTT kedepan serta meminta kepada pemerintah Provinsi untuk membantu dalam rangka menciptakan Perda tentang narkoba serta alokasi dana untuk BNNP NTT.

“Kedepannya kami akan membentuk komunitas relawan anti narkoba untuk membantu penyuluhan tentang narkoba. Kami meminta kepada pemerintah untuk pelajaran tentang narkoba dimasukkan dalam pelajaran di sekolah, disinergikan dengan pelajaran lainnya. Kami juga meminta kepada pemerintah untuk membuat Perda khusus tentang narkoba sehingga ada alokasi dana khusus untuk BNNP NTT dalam pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di NTT”, ujar Teguh.

Peringatan HANI 2019 di NTT juga turut dimeriahkan oleh pementasan Band Timor Raggae Family Kupang serta penampilan Tarian Kreasi Baru dari siswi SMA NEGERI 5 Kupang.(*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Duta Anti Narkoba: Milenial Sehat Tanpa Narkoba Menuju Indonesia Emas

239 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2019 diperingati diberbagai tempat dibelahan dunia sebagai bentuk dukungan terhadap Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN), guna menyelamatkan para generasi muda dari ancam kecanduan narkoba.

Kecanduan narkoba bisa menyebabkan terjadinya kemiskinan, kejahatan dan masa depan dari generasi muda menjadi suram akibat kesenangan sesaat yang ditimbulkan dari penyalahgunaan narkoba.

Peringatan HANI 2019 juga dilakukan BNNP NTT, yang berlangsung pada Rabu, 26 Juni 2019 bertempat di Grand Mutiara Ballroom. Peringatan ini ditandai dengan pengukuhan 6 (enam) orang Duta Anti Narkoba Provinsi NTT.

Ke – 6 orang Duta Anti Narkoba ini adalah Yoseph Mariano Aprio Ngga, Jesicca Ludjiani De Kyrieleison, Ivanna Jublyana Ndoen,Sinyo Demitrio Kurniawan Pandie,Prischa Maylieta Dewi Putri Ratu Kore,Josua Andrew Kasih Lapuisaly.

Mereka adalah remaja yang bergabung pada Komunitas Generasi Berencana dibawah naungan BKKBN Provinsi NTT. Tentunya mereka sangat potensial untuk dapat mempromosikan, menggaungkan dan mensosialisasikan tentang bahaya narkoba bagi masa depan remaja.

Kepada Media Garda Indonesia, Ivana Ndoen salah satu Duta Anti Narkoba NTT, mengatakan bahwa mereka adalah Duta Generasi Berencana (Genre). Mereka dipilih dan dibekali dengan berbagai pemahaman tentang narkoba oleh BNNP NTT.

“Kami berenam adalah Duta Genre NTT. BNNP NTT bekerja sama dengan BKKBN NTT lalu kami dipilih oleh BNNP NTT, dan dibekali dengan berbagai materi tentang narkoba”, ujar alumni SMA Negeri 2 Kupang itu.

Dirinya menambahkan bahwa, jumlah Duta Genre NTT berada pada kisaran 40-an lebih orang. Melalui seleksi lalu mereka ditetapkan menjadi Duta Anti Narkoba Provinsi NTT tahun 2019.

” Kita di Genre NTT itu, Dutanya ada sekitar 40-an lebih orang. Kita diseleksi oleh BNNP NTT, dan akhirnya kami 6 orang ditetapkan sebagai Duta Anti Narkoba NTT tahun 2019″, ujar gadis cantik asal Rote itu.

Sementara itu, Prischa Ratu Kore ketika diwawancarai media ini mengatakan bahwa sebelum bergabung di BNNP NTT, mereka di Genre sudah melakukan berbagai kegiatan melalui sosialisasi tentang narkoba juga karena masalah ini juga punya kaitan langsung dengan remaja sebagai generasi masa depan bangsa.

“Kita di Genre juga sudah sering melakukan sosialisasi termasuk tentang narkoba, karena ini sebenarnya merupakan masalah bagi remaja yang membutuhkan perhatian intens guna menghindarkan remaja dari bahaya narkoba, agar masa depan generasi bangsa jangan menjadi suram. Kita kerjakan bersama dengan komunitas-komunitas untuk melakukan sosialisasi”, ungkap Duta Bahasa NTT tahun 2018 itu.

Berkaitan dengan yel-yel ‘Beta Sehat,Beta Kuat, Beta Hebat.Stop Narkoba’, yang sudah diikrarkan di depan para peserta kegiatan, lanjut Prischa gadis cantik dari Sabu itu, mereka akan mendukung setiap program dari BNNP NTT, termasuk kegiatan yang dilakukan rutin setiap minggu.

” Yel-yel tersebut menjadi motivasi bagi kita untuk terus menggaungkan tentang anti narkoba di kalangan remaja juga di masyarakat. Kita dukung semua program dari BNNP NTT, termasuk yang dilakukan rutin setiap hari sabtu di cara free day (CFD). Disana ada mobil BNN yang selalu parkir dan biasanya ada tarian zumba juga kita lakukan edukasi tentang bahaya narkoba “, ungkap mahasiswa Ilmu Komunikasi Undana itu.

Joshua Lapuisaly, dalam pernyataannya, mengatakan kedepan sebagai bentuk tindakan nyata meraka akan mengunjungi masyarakat untuk menyuarakan tentang cara-cara menghindari narkoba kepada masyarakat.

“Kita akan turun langsung ke masyarakat untuk menyuarakan tentang pentingnya menjauhi narkoba dan cara-cara apa yang harus dilakukan masyarakat ketika ada sesama yang diketahui kecanduan narkoba. Itu akan kita lakukan dalam waktu dekat “, tutur Joshua.

Lebih lanjut, Yoseph Ngga, mengungkapkan bahwa BNNP NTT sudah memiliki relawan dan tindakan lanjutnya adalah pembentukan komunitas yang akan hadir ditengah masyarakat untuk memberikan edukasi tentang narkoba.

“BNNP NTT sudah punya relawan, dan itu terbuka untuk siap saja yang mau bergabung, tidak ada syarat, yang terpenting ada kemauan untuk memberikan edukasi. Tindak lanjut dari itu adalah pembentukan komunitas relawan anti korupsi yang nantinya ada ditengah-tengah masyarakat “, ujar mahasiswa kedokteran Undana itu.

Sinyo Pandie, ketika dikonfirmasi via WA, mengatakan sebagai Duta Anti Narkoba mereka akan memanfaatkan media sosial sebagai wadah promosi dan akan mengunjungi setiap komunitas yang belum pernah didatangi.

” Sekarang ini, semua remaja menggunakan media sosial, kta akan manfaatkan ini untuk promosi. Kita juga akan berkunjung ke komunitas yang belum kita datangi “, pungkas Sinyo.

Perlu diketahui bahwa ke-enam Duta Anti Narkoba Provinsi NTT ini akan bersama-sama dengan BNNP NTT membahas program kerja dalam satu tahun dan akan mengeksekusinya bersama demi mencapai Milenial Sehat Tanpa Narkoba Menuju Indonesia Emas.(*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

BNNP NTT & Komunitas Zumba Aerotech Edukasi Bahaya Narkoba

71 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Cara unik dan kreatif dilakukan oleh Badan Narkotik Nasional (BNN) Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan menggandeng Komunitas Zumba Aerotech memberikan edukasi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba di arena Car Free Day Jalan El Tari Kota Kupang, Sabtu/12/1/2019 pukul 06.00—09.00 WITA.

Cara unik dilaksanakan dengan melakukan zumba bersama dengan para penikmat arena car free day menggunakan mobil edukasi BNN; tak hanya zumba, edukasi berupa pembagian selebaran dan seruan ‘Stop Narkoba’ juga dikumandangkan sepanjang kegiatan.

Suasana Zumba bersama para penikmat Car free day

Dipandu oleh ZIN Itha, komunitas Senam zumba yang mempunyai Motto “Sehat Melalui Senam Zumba bukan dengan Narkoba” ini menggelorakan semangat berolahraga terutama zumba dikalangan penikmat car free day.

“Terima Kasih kami kepada Kepala BNNP NTT Brigjend. Pol. Teguh Iman Wahyudi.SH.MM., yang merespon dengan cepat permintaan Komunitas Senam zumba akan mobil panggung untuk berkampanye Stop Narkoba di arena CFD melalui olah raga / senam zumba bersama”, ujar ZIN Itha.

Kepala Seksi Pencegahan BNNP NTT, Markus Raga berharap kehadiran Mobil Edukasi (Panggung) BNN di arena CFD akan selalu dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai kegiatan.

“Semoga semakin banyak masyarakat yang paham akan bahaya narkoba dan semakin tahu akan keberadaan BNN, karena sampai saat ini masih banyak masyarakat yang belum tahu kehadiran institusi BNN di Provinsi NTT. BNN juga memberikan secara gratis memakai mobil panggung BNN dan tes narkoba di kantor BNN tanpa biaya, cukup beli alat tes di apotik; jika ada keluarga yang mau direhabilitasi juga gratis karena ditanggung oleh negara”, ungkap Markus Raga.

Partisipasi salah satu pengunjung arena Car Free Day

Tambah Markus, Harapan kami dari BNN, semoga bisa semakin menyadarkan masyarakat dan pemerintah agar selalu mensosialisasikan bahaya narkoba di mana saja walau dengan cara yang sangat sederhana tapi bisa dipahami.

Kampanye stop narkoba dan senam zumba diikuti oleh sekitar 350 orang; Turut hadir Kepala BNN Kota Kupang. (*)

Sumber berita (*/humas BNNP NTT)
Editor (+rony banase)