Arsip Tag: budidaya ikan kerapu

Budidaya Ikan Kerapu di Mulut Seribu, Pemprov NTT Sedia Anggaran 50 Miliar

555 Views

Rote Ndao-NTT, Garda Indonesia | Saat mengunjungi kawasan wisata Mulut Seribu di Kabupaten Rote Ndao pada Jumat, 21 Agustus 2020; Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) meminta masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengembangan wisata di sana.

“Kita akan siapkan anggaran 50 M untuk membantu masyarakat dalam pengembangan 40-an keramba dalam rangka pembudidayaan ikan kerapu. Juga untuk mempersiapkan masyarakat agar bisa menyediakan wisata kuliner ikan yang lezat dan bergizi,” ujar Gubernur VBL saat melakukan rapat kerja dengan Bupati Rote Ndao bersama jajarannya di Cottage Pia Heu Victory dan Resto Mama Hoko di Kawasan Mulut Seribu.

Menurut Gubernur VBL, ke depan, kawasan Mulut Seribu akan menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan baik mancanegara maupun domestik.

“Kawasan ini akan menjadi destinasi pariwisata internasional. Masyarakat sekitar perlu dipersiapkan agar bisa menyediakan kebutuhan bagi para pengunjung dengan baik. Saya minta investor yang akan berinvestasi di kawasan ini bekerja sama dengan pemerintah daerah Rote Ndao untuk menata kawasan ini secara lebih baik, terutama dalam membangun tempat budidaya ikan,” pinta Gubernur VBL.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat saat saat melakukan rapat kerja dengan Bupati Rote Ndao bersama jajarannya di Cottage Pia Heu Victory dan Resto Mama Hoko di Kawasan Mulut Seribu

VBL pun mengungkapkan, pembangunan destinasi pariwisata baru tidak hanya dilakukan di Rote Ndao tapi juga di daerah lainnya di NTT yang memiliki wisata unggulan, namun belum dioptimalkan.

“Pariwisata menjadi prime mover ekonomi NTT yang didukung penuh oleh sektor pertanian, peternakan, perikanan dan kelautan yang jadi supply chain utama untuk pariwisata,” tandas VBL.

Tampak hadir pada kesempatan tersebut, Bupati Rote Ndao, Ny. Paulina Haning-Bullu, SE, Ketua Pengerak PKK Kab. Rote Ndao, Leonard Haning, Unsur Forkompinda Kabupaten Rote Ndao, kalangan investor, Kadis Perikanan NTT, Kadis Pariwisata NTT, Staf Khusus Gubernur yakni Toni Djogo Dan Dr. David Pandie.(*)

Sumber berita dan foto (*/Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Ketika VBL Bangkitkan Optimisme Rakyat Flores

353 Views

Oleh : Valeri Guru

Satu pekan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) bersama sejumlah pejabat penting bersafari keliling ke kabupaten-kabupaten di Pulau Flores bagian barat, mulai dari Labuan Bajo hingga berakhir di Kota Pancasila, Ende. Ada spirit besar yang digelorakan VBL di setiap titik pertemuan bersama rakyat.

Ia mau membangkitkan rasa optimisme rakyatnya di Flores Barat, untuk tetap bersinergi dan bersatu dalam spirit NTT Bangkit, NTT Sejahtera.

Senin, 22 Juni 2020, Gubernur VBL memulai safari pembangunan yang dikemas dalam kunjungan kerja di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Dari bumi Komodo itu, VBL kembali mempertegas komitmennya untuk menjadikan pariwisata sebagai prime mover pembangunan NTT. Dalam spirit Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super premium, Gubernur VBL perlahan membenahi Labuan Bajo.

Hal pertama yang dilakukan adalah menertibkan tanah milik Pemerintah Provinsi NTT di Pantai Pede, yang akan dijadikan hotel dan area publik. Semua itu harus dikelola berbasis ekologis yakni, membangun disesuaikan dengan lingkungan. Tidak boleh ada pohon yang dirusak. VBL malah mengingatkan agar bangunan hotel di bibir Pantai Pede, harus jauh lebih bagus dan representatif, dari bangunan hotel lain di kawasan tersebut. Tentu, desain pun harus lebih wah, sehingga wisatawan pun akan merasa at home dan nyaman. Prinsipnya, pembangunan pariwisata harus berbasis masyarakat.

Dari Pantai Pede, VBL berkeliling melihat Pulau Padar dengan speed boat untuk memastikan bahwa kawasan itu kembali menggeliat dan sudah bisa dikunjungi wisatawan di era normal baru setelah tiga bulan sepi karena pandemi corona. Menariknya, dari Labuan Bajo pula VBL mengingatkan semua stakeholder bahwa untuk membangun NTT harus dimulai dengan riset; harus dengan perencanaan yang matang-baik.

Sebab, mengutip para pakar, bahwa kalau perencanaan baik dan benar, maka laba 50 persen sudah ada di tangan. Karena itu, dalam pelaksanaannya pun harus benar dan konsisten, sehingga VBL meyakini akan terjadi loncatan-loncatan besar dan signifikan untuk kemajuan pembangunan di NTT. Setiap pemimpin, menurut VBL, harus bisa meninggalkan karya besar dan karsa yang akan selalu dikenang oleh masyarakat.

Di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Gubernur VBL “bersilaturahmi” dengan Mgr. Siprianus Hormat, Pr. Di hadapan Mgr. Sipri, VBL menegaskan kehadirannya dalam konteks pelayanan kepada masyarakat. Bagi VBL, kehadiran Mgr. Sipri membawa energi baru dalam membangun NTT.

Dalam konteks ini, VBL mengingatkan bahwa masalah serius di Provinsi NTT selama ini adalah seolah-olah kita bekerja; seolah-olah kita orang baik. Kita kerja seolah-olah kita pintar. Padahal, masyarakat terjebak di dalam keterbatasan pengetahuan. Karena itu, butuh perencanaan yang baik untuk membangun NTT. Butuh energi bersama untuk membangun NTT. Pun, perlu desain bersama antara gereja dengan pemerintah.

Gayung pun bersambut. Mgr. Sipri tegas menyatakan bahwa Keuskupan Ruteng senantiasa mendukung pembangunan manusia NTT yang utuh dan menyeluruh meliputi penguatan aspek mental dan kerohanian. Artinya, menurut Uskup Ruteng, gereja berkontribusi secara khas untuk menguatkan dan mengembangkan aspek etis spiritual dari kehidupan manusia dan masyarakat NTT. Gereja selalu siap membantu dan mendoakan Bapak Gubernur VBL dalam mewujudkan NTT Bangkit NTT Sejahtera.

Di Lawara, Kecamatan Reok TPI Reo, Kabupaten Manggarai, pada Rabu 24 Juni 2020, VBL lagi-lagi berkata tegas bahwa tugasnya sebagai gubernur adalah membawa kesejahteraan rakyat NTT.

Tidak pernah ada kata takut dalam diri VBL. Kalau ada kinerja yang baik dan positif di masa pandemi corona, pantas diapresiasi.

Sebab, VBL optimis bahwa kehadirannya atas perintah Tuhan dan rakyat NTT untuk membawa kesejahteraan masyarakat. Karena itu, ia tidak ada urusan dengan yang berbeda pendapat, termasuk demo sekalipun. Yang mau demo, ya silakan, ia tidak pernah takut.

Kunker VBL kali ini lebih bernuansa wisata. Dari Labuan Bajo, VBL menyisir pantai utara Flores yang memiliki panorama yang indah, untuk memastikan bahwa infrastruktur di wilayah itu bisa dikebut untuk mendukung pariwisata. Manggarai Raya pun mendukung penuh pariwisata sebagai prime mover pembangunan NTT.

“Kami dukung program pariwisata dengan memanfaatkan sumber daya lokal sehingga masyarakat bisa dapat manfaat dari pengembangan pariwisata khususnya di Wae Rebo,” tutur Bupati Manggarai Kamilus Deno. Khusus di Wae Rebo. Menurut Deno, masyarakat telah menyediakan tanah untuk membangun home stay. “Masyarakat sudah siap tanah dan pemerintah akan bangun home stay,” kata Deno.

Tak cuma itu, VBL pun masuk sawah di Kelurahan Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Di sini, VBL membangkitkan optimisme petani bahwa sawah itu simbol kesejahteraan dan kehidupan. Karena itu, jika masyarakat di desa atau daerah persawahan tidak bekerja, maka hanya menunggu waktu untuk orang-orang di kota tidak berdaya atau menunggu waktu untuk mati.

Lalu, di tengah pro kontra pembangunan pabrik semen dan batu gamping di Manggarai Timur (Matim), Gubernur VBL tak bergeser dari posisi dasar; melanjutkan pembangunan itu. Bahkan, meminta Bupati Manggarai Timur Ande Agas untuk melanjutkan rencana tersebut, sembari menunggu proses Amdal-nya. Bagi VBL, jika ada pabrik semen, maka Matim akan bertumbuh luas biasa.

VBL pun amat menghargai perbedaan pandangan dalam masyarakat terkait rencana pendirian pabrik semen di Matim. “Kita semua yang pro dan kontra ikut terlibat menjaga agar Amdalnya itu bisa berjalan baik. Setelah semuanya selesai, saya harapkan pabrik semen ini bisa berjalan. Sebagai gubernur saya sudah bertemu dengan pihak-pihak dan saya sudah pergi lihat masyarakat di sekitar sana; mereka hidup selama ini dari menjual kayu api. Tapi dengan industri itu masuk dengan tetap menjaga lingkungan hidup dan pembangunan yang inklusif, kita berharap agar pembangunan pabrik semen dapat tetap menjaga lingkungan agar tidak rusak,” urai Gubernur VBL.

Di Ngada, Gubernur VBL memberi perhatian ekstra ke sektor perikanan dan kelautan. VBL melihat dari dekat budi daya sejuta Ikan Kerapu di Wae Kelambu, Desa Sambi Rasa Barat, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada. Ada prospek menjanjikan. Asumsinya, dari satu juta ikan kerapu di Wae Kelambu, yang gagal atau mati sekitar 300 ribu ekor, maka masih ada 700 ribu. Nah, 700 ribu ini dianggap paling murah, dijual Rp.100.000 per ekor. Itu berarti di sini ada sekitar Rp.70 miliar; hari ini, di sini. Ada optimisme.

Di Mbay, Kabupaten Nagekeo, di tengah jaringan irigasi persawahan 1 km Mbay Kanan, 27 Juni, VBL kembali mengingatkan bahwa tugas utama pemerintah adalah membebaskan rakyat NTT dari kemiskinan. Pemerintah bekerja menyejahterakan rakyatnya. Apalagi, menyelamatkan rakyat merupakan tugas mulia seorang pemimpin.

Pemimpin [versi VBL] yang bodoh dan malas tidak mungkin sanggup keluar dari box atau kotak yang mengungkung. Karena itu, dalam memimpin mulailah berpikir dan bertindak out of the box; yang penuh inovasi dan kreatif. Jangan bosan berkreasi. Karena pemimpin punya wewenang dan kekuasaan yang besar dalam berkreasi untuk membawa rakyatnya mencapai kesejahteraan.

Dalam perspektif VBL, Kabupaten Nagekeo merupakan destinasi wisata yang sangat indah dan menarik. Karena itu, benahi semua infrastruktur, sarana prasarana, dan lain sebagainya.

Di bidang pendidikan, anak-anak NTT harus memperkuat kemampuan di aspek literasi dan numerik. Harus memperkuat kemampuan anak-anak terhadap mata pelajaran bahasa (Bahasa Indonesia dan Inggris), logika dan matematika. Anak-anak NTT pun harus mengikuti berbagai kompetisi untuk meningkatkan aspek kognisi, psikomotorik dan afeksi. Sebab, di kemudian hari generasi NTT yang unggul ini akan menjadi kekuatan bangsa di dalam seluruh proses pembangunan.

Kunker VBL akhirnya tiba di etape terakhir, Kota Pancasila Ende. Di Kota bersejarah ini, tempat Bung Karno, Proklamator Bangsa, menggali nilai-nilai Pancasila, VBL memotivasi rakyat NTT untuk kokoh menjaga kemajemukan dan persatuan, dalam spirit patriotisme dan nasionalisme.

Salah satu caranya, terus mengemahkan Salam Kebangsaan khas NTT. (*)

Valeri Guru

*/Penulis merupakan Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum pada Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT
Editing (+rony banase)
Foto oleh facebook Valeri Guru

Gubernur VBL Dorong Pertumbuhan Budi Daya 1 Juta Ikan Kerapu di Ngada

179 Views

Ngada, Garda Indonesia | Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) sangat serius dalam memperhatikan sektor perikanan dan kelautan di Provinsi NTT. Buktinya, di sela-sela kunjungan kerja (kunker) di wilayah Flores khususnya di Kabupaten Ngada, pada Kamis, 25 Juni 2020.

Gubernur VBL didamping Bupati Ngada, Drs. Paulus Soliwoa dan sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah lingkup Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada mengunjungi dan melihat dari dekat budi daya sejuta Ikan Kerapu di Wae Kelambu Desa Sambi Rasa Barat, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada.

“Sekarang ada satu juta ikan kerapu di Wae Kelambu. Kita beranggapan, misalnya yang gagal atau mati sekitar 300 ribu ekor. Maka masih ada 700 ribu di sini. Nah, 700 ribu ini kita anggap yang paling murah, dijual Rp.100.000 per ekor. Itu berarti di sini ada sekitar Rp.70 miliar; hari ini, di sini,” ucap Gubernur VBL, bernada optimis.

Karena itu, sebut Gubernur VBL, jika pihak Pemprov NTT melepas atau membudidayakan lagi sekitar tiga juta ekor maka mari hitung. “Kita anggap saja 30% hilang maka masih ada 2,1 juta ekor. Maka ada sekitar Rp 140—300 miliar ada di sini, di Wae Kelambu ini. Belum lagi kalau hasil ikan kerapu ini bekerja sama dengan pihak restoran dan sebagainya,” tegas Gubernur sembari menambahkan, “ Ikan kerapu ini di bisnisnya, kalau masuk di restoran maka harganya sekitar Rp.2 juta per ekor.”

Di tempat terpisah, Pengelola Tambak Ikan Kerapu Wae Kelambu, Anshari Ashar mengaku, pihaknya selama ini mengalami kesulitan pakan ikan. “Selama ini di Wae Kelambu ini kami kesulitan pakan ikan,” kata Ashar.

Padahal menurut dia, kebutuhan pakan ikan kerapu cukup tinggi. “Untuk kebutuhan pakan ikan kerapu selama ini, kami ambil dari pakan ikan lokal dan pakan ikan yang dibeli pada sejumlah ruko di Bajawa, Kabupaten Ngada. Karena itu, kami mengharapkan dukungan Pemprov NTT terutama pembiayaan untuk membeli pakan ikan. Jika tidak maka ikan kerapu yang ada di sini sulit tumbuh dan berkembang; karena kekurangan pakan,” sebut Ashar, beralasan.

Sesuai agenda, Gubernur VBL bersama rombongan pada Jumat pagi, 26 Juni 2020, bertatap muka bersama masyarakat di Kantor Camat Riung Kabupaten Ngada dan usai santap siang bersama, Gubernur bersama rombongan bertolak menuju Mbay Kabupaten Nagekeo. (*/rb)

(Valeri Guru/Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)