Arsip Tag: data bps

Perlunya Pengembangan Lembaga Keterampilan di Provinsi NTT

155 Views

Oleh Josephin N. Fanggi, S.ST.

Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi dengan persentase penduduk miskin terbesar ketiga di Indonesia sebesar 21,03 persen pada Semester II tahun 2018 [Data Badan Pusat Statistik (BPS)]. Berdasarkan piramida penduduk, sebagian besar penduduk berada pada usia muda.

Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Bulan Agustus Tahun 2018 yang dilakukan oleh BPS terdapat 3,01 persen penduduk dari penduduk angkatan kerja yang berstatus pengangguran. Berdasarkan data Sakernas di atas, sebagian besar pengganggur berpendidikan SMA ke atas, yaitu 76,92 persen.

Selain itu, sebagian besar penduduk yang bekerja berpendidikan SD ke bawah, yaitu 56,77 persen. Hal ini berarti tingkat pendidikan pengangguran sudah baik/tinggi, sedangkan tingkat pendidikan sebagian besar penduduk yang bekerja masih rendah. Permasalahan yang dihadapi adalah kurangnya ketersediaan lapangan usaha sesuai pendidikan penganggur dan produktivitas bekerja yang rendah. Dengan produktivitas yang rendah maka upah yang diperoleh pekerja juga rendah.

Josephin Fanggi, S.ST

Lalu, apakah kita harus menunggu tersedianya lapangan pekerjaan dan bekerja dengan keterampilan yang kurang baik? Berbagai fasilitas telah disediakan pemerintah untuk bagi warga negara yang ingin berwirausaha. Contoh fasilitas tersebut adalah bantuan modal (bantuan peralatan dan perlengkapan, kredit dana melalui bank dengan bunga rendah (kredit usaha rakyat), dana Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (PEM) untuk penduduk Kota Kupang, dana desa yang dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Josephin Fanggi (paling kiri) bersama teman ASN BPS Provinsi NTT

Dengan adanya fasilitas tersebut akan sia-sia jika penduduk yang memperolehnya tidak memiliki keterampilan yang bagus. Dengan keterampilan yang bagus akan menghasilkan produk yang bagus. Pengembangan keterampilan akan menumbuhkan percaya diri bagi yang mempelajarinya karena telah memberikan gambaran dan ilmu pengetahuan tentang usaha yang akan dilakukannya.

Selain itu, akan mengasah bakat-bakat terpendam yang sering kali tidak bisa ditempuhnya karena putus sekolah dan tidak tersedia di lembaga pendidikan formal. Bakat yang disertai dengan pelatihan dan proses pembelajaran secara terus-menerus akan menjadikan seseorang ahli untuk hal tersebut. Pendidikan yang ditempuh penganggur sering tidak sesuai dengan potensi sumber daya yang ada di desanya.

Untuk jenis lapangan usaha industri, modal kecil, tempat usaha kurang strategis, peralatan secukupnya, apabila produknya bagus maka usaha orang tersebut tetap akan sukses. Untuk jenis lapangan usaha perdagangan, modal besar tetapi jika keterampilan marketingnya tidak bagus maka usaha tersebut tidak berlangsung lama.

Banyak cara atau program yang telah dilakukan oleh pemerintah, contohnya adalah program yang dijalankan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Ketenagakerjaan, yaitu program kursus dan pelatihan. Program ini terdiri dari berbagai kursus dan pelatihan di berbagai bidang, seperti pelatihan agrobisnis, tata boga, teknik kelistrikan, teknik otomotif, perikanan, industri, garmen, pariwisata, tata rias, seni, fotografi, administrasi, perpajakan, sekretaris, mengemudi.

Bila dilihat dari data Podes tahun 2018 dalam Publikasi Statistik Potensi Desa Indonesia 2018, terdapat 3.184 desa yang tidak memiliki lembaga keterampilan. Karena banyak penduduk yang masih dalam kategori miskin maka diharapkan untuk adanya lembaga keterampilan yang ada di desa untuk menghemat biaya pelatihan (transportasi, penginapan, dan makan minum).

Program yang diadakan oleh pemerintah adalah Desa Vokasi dan 4in 1.

Desa Vokasi
Program Desa Vokasi dimaksudkan untuk mengembangkan sumber daya manusia dan lingkungan yang dilandasi oleh nilai-nilai budaya dengan memanfaatkan potensi lokal. Melalui program Desa Vokasi ini diharapkan dapat membentuk kawasan desa yang menjadi sentra beragam vokasi, dan terbentuknya kelompok-kelompok usaha yang memanfaatkan potensi sumber daya dan kearifan lokal. Dengan demikian, warga masyarakat dapat belajar dan berlatih menguasai keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja atau menciptakan lapangan kerja sesuai dengan sumber daya yang ada di wilayahnya, sehingga taraf hidup masyarakat semakin meningkat.

4 in 1
Program Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) diselenggarakan melalui pendekatan “4 in 1”, sesuai dengan tahapan :

  1. Analisis peluang kerja
    Pada tahap ini, diidentifikasi lowongan kerja dan peluang usaha;
  2. Kursus dan pelatihan kerja
    Untuk mengisi lowongan kerja diberikan kursus keterampilan. Sedangkan untuk menciptakan usaha diberikan pendidikan kewirausahaan dan keterampilan;
  3. Uji kompetensi/sertifikasi
    Sebagai jaminan bahwa kursus dan pelatihan yang diberikan dipelajari dengan baik maka diadakan uji kompetensi. Sebagai bukti pernah mengikutinya diberikan sertifikat bagi yang mengikutinya;
  4. Jaminan penempatan lulusan
    Setelah selesai mengikuti kursus dan pelatihan, peserta dapat memperoleh pekerjaan dan menciptakan lapangan usaha karena telah adanya identifikasi lowongan pekerjaan yang tersedia dan peluang usaha yang bisa tercipta terlebih dahulu.

Program pertama di atas cocok diterapkan di desa karena keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan potensi sumber daya dan kearifan lokal dan mengingat keterbatasan biaya penduduk di wilayah ini sehingga dapat menyejahterakan penduduk dan mengembangkan desa tersebut secara berkesinambungan. Bahan mentah yang dimiliki di desa tersebut diolah menjadi barang siap dikonsumsi dengan nilai jual yang lebih tinggi dan dipasarkan dengan menggunakan teknologi sehingga memberikan penjualan yang lebih banyak. Selain itu, bisa menjadi sarana konsultasi berkelanjutan bagi warga mengenai pengembangan sumber daya di desa tersebut.

Pada program yang kedua terdapat identifikasi lowongan kerja dan jaminan penempatan lulusan. Selain itu, adanya uji kompetensi/sertifikasi yang merupakan jaminan bagi perusahaan yang memperkerjakannya dan usaha sendirinya. Mengingat bermanfaatnya lembaga keterampilan dan cocok dengan kondisi di wilayah ini maka diperlukan perhatian serius mengenai keberadaan lembaga keterampilan secara konsisten dan berkesinambungan di wilayah ini oleh pemerintah. (*)

Penulis merupakan ASN BPS Provinsi NTT
Editor (+rony banase)

Kepala BPS NTT Darwis Sitorus Bakal Sajikan Data Terbaik

149 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Darwis Sitorus yang menggantikan Maritje Pattiwaellapia, S.E., M.Si. yang mana berpindah tugas ke Papua; menyatakan kesiapan pihaknya untuk menyajikan data terbaik.

Pernyataan Kepala BPS NTT asal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut disampaikannya saat jumpa pers bersama awak media pada Jumat, 1 November 2019 di Aula Teleconference BPS NTT.

“Saya sangat bersyukur bisa bekerja di Nusa Tenggara Timur yang sangat menarik. Sebagai pengelola data, kami bakal berupaya untuk menyajikan data terbaik,” ujar Darwis Sitorus menjawab pertanyaan media ini tentang asal domisilinya.

Selain itu, kata Darwis Sitorus, pihaknya juga bakal menyajikan data terbaik bagi Gubernur NTT beserta jajarannya.

Kepala Badan Pusat Statistik NTT, Darwis Sitorus

Darwis Sitorus juga mengharapkan partisipasi masyarakat untuk menyukseskan Sensus Penduduk Nasional 2020.

Mengenai data pariwisata NTT tentang Tingkat Penghunian Kamar, Jumlah Tamu Menginap dan rata-rata lama tamu menginap dan jumlah penumpang angkutan udara bulan September 2019; secara gamblang Darwis Sitorus menjelaskan bahwa Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Bintang di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada bulan September 2019 sebesar 52,26 persen, turun 6,46 poin dibanding TPK Agustus2019 yang sebesar 58,72 persen.

“Jumlah tamu menginap pada hotel bintang bulan September2019 sejumlah 38.769 orang dengan rincian 34.372 orang tamu nusantara dan 4.397 orang tamu mancanegara,” paparnya.

Tambahnya, “Rata-rata lama tamu menginap di hotel berbintang pada bulan September 2019 selama 1,61 hari. Rata-rata lama tamu nusantara menginap selama 1,50 hari dan rata-rata lama tamu mancanegara menginap selama 2,44 hari.”

Sementara itu, beber Sitorus, Jumlah penumpang angkutan udara yang tiba di NTT pada bulan September 2019 berjumlah 171.652 orang sedangkan penumpang yang berangkat berjumlah 165.297 orang.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

‘Indoor Farming’, Apakah Tepat Untuk Dipraktekkan di Indonesia?

217 Views

Penulis : Raka Andika Cahyo Putra

Jakarta, Garda Indonesia | Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah di seluruh wilayah negeri. Namun sayangnya, kita sebagai warga Indonesia masih banyak yang menggunakan hasil impor.

Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dalam pengolahan sumber daya alam serta kurangnya sumber daya manusia yang kompeten. Dengan sumber daya alam yang melimpah, masyarakat Indonesia seharusnya dapat memanfaatkan potensi tersebut sebagai ladang ekonomi yang menjanjikan.

Namun, hingga saat ini masyarakat Indonesia hanya bergantung dari sektor pertanian yang cenderung konvensional.

Ya, salah satu permasalahan yang belum teratasi sampai saat ini adalah pertanian di Indonesia. Pertanian merupakan sektor yang sangat krusial saat ini. Bahkan, Indonesia dijuluki sebagai negara agraris dimana sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. Akan tetapi, masih banyak orang yang menganggap bahwa petani itu identik dengan lahan yang kotor dan berlumpur sehingga petani dianggap sebagai profesi yang tidak potensial dan menguntungkan.

Oleh sebab itu, masih banyak sifat apatis terhadap pertanian di Indonesia. Padahal jika tanpa petani, dari mana masyarakat bisa mendapatkan bahan makanan dan bertahan hidup?

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi salah satu dari tiga sektor teratas dalam hal kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2019 dengan kontribusi sebesar 12,65%, lalu ada sektor industri dengan kontribusi sebesar 20,07%, serta sektor perdagangan 12,20%.

Untuk komoditas padi saja, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat produksi padi 2014 mencapai 70,8 ton gabah kering giling (GKG). Angka tersebut terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2015 meningkat menjadi 75,4 ton, 2016 (79,35 ton) 2017 (81,14 ton), dan pada 2018 naik lagi menjadi 83,04 ton GKG.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, pertanian di Indonesia banyak menemui kendala contohnya dalam hal modal, lahan yang sulit, serta masih memakai teknologi konvensional yang menyebabkan lamanya jangka waktu pengolahan dan hasil yang kurang memadai.

Oleh karena itu, dibutuhkan kebijakan dari pemerintah untuk dapat segera mengatasi permasalahan yang terjadi diantaranya dengan memberikan penyuluhan yang intensif terhadap petani-petani di Indonesia.

Cara lain untuk dapat mengatasi pertanian di Indonesia adalah dengan menciptakan “Pertanian Modern”. Pertanian modern merupakan teknologi atau inovasi di bidang pertanian yang lebih maju dari segi mesin, pengendalian hama penyakit hingga panen dan pasca panen. Hal yang membedakan pertanian modern dengan pertanian konvensional adalah perlakuan dan cara perawatan dalam proses budidayanya.

Pertanian modern ini bukan lagi yang dimaksudkan dengan petani yang mempunyai sawah dan lahan yang berlumpur, melainkan menjadi petani masa kini yang mempunyai teknologi baru dan penciptaan hasil pertanian dalam bentuk baru. Menjadi petani modern tidak harus dilakukan dalam kelompok yang besar melainkan dapat dilakukan secara individual.

Indoor farming merupakan salah satu bentuk pertanian modern secara vertikal yang dapat dilakukan pengusaha di Indonesia. Cara yang dapat dilakukan dalam upaya indoor farming adalah tanaman hidroponik (di atas air), aquaponic (di atas kolam ikan), serta aeroponic (di udara).

Indoor farming dapat dilakukan di dalam ruangan dan juga di luar ruangan tanpa harus menggunakan lahan yang luas dan berlumpur. Indoor farming menggunakan teknik controlled-environment agricultural (CEA), yakni mulai dari suhu, kelembaban, dan cahaya harus dikontrol dengan ketat.

Perubahan iklim serta hujan terus menerus bukanlah suatu ancaman yang akan mempengaruhi indoor farming, sehingga tidak akan ada gagal panen. Produk yang dihasilkan indoor farming tidak kalah dengan pertanian biasa, namun di Indonesia belum banyak yang menjadi industri besar meski sudah banyak yang mencoba indoor farm.

Teknik indoor farming ini banyak memiliki keunggulan antara lain dapat meningkatkan produktivitas, menghasilkan sumber makanan yang sehat dan bebas hama, bahkan dapat mengurangi biaya dalam hal transportasi dan bahan bakar.

Selain itu, dengan semakin terbatasnya lahan di Indonesia, petani tidak perlu lagi khawatir karena indoor farming bisa dilakukan di berbagai tempat misalnya di gedung yang tinggi, di atap rumah, di basement, truk kontainer, dan masih banyak lagi. Namun disamping keunggulan yang dimiliki, indoor farming juga memiliki beberapa kelemahan yaitu biaya untuk menjalankan sistem ini sangatlah mahal karena menggunakan teknologi yang canggih, software, dan hardware.

Untuk perawatannya pun dibutuhkan kontrol tingkat tinggi, serta teknik ini juga dianggap menghasilkan CO2 yang lebih banyak dibandingkan dengan pertanian sawah sehingga masih memunculkan perdebatan antara pihak yang pro dan kontra. (*)

(*/Penulis merupakan Mahasiswa Politeknik Statistika STIS Jakarta)
Editor (+rony banase) Foto : Istimewa