Arsip Tag: desa stop bab sembarangan

Asisten III Setda Belu Deklarasi 2 Desa STBM & 3 Desa ODF

216 Views

Belu–NTT, Garda Indonesia | Asisten Administrasi Umum Setda Belu, Drs. Alfredo Pires Amaral mendeklarasikan Desa Loonuna di Kecamatan Lamaknen Selatan dan Desa Dirun di Kecamatan Lamaknen sebagai Desa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), Desa Debululik di Kecamatan Lamaknen Selatan, Desa Kewar dan Desa Maudemu di Kecamatan Lamaknen sebagai Desa Open Defication Free (ODF) di aula Kantor Desa Loonuna, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Jumat, 23 Juli 2021.

Sambutan tertulis Wakil Bupati Belu, Drs. Aloysius Haleserens, M.M. yang dibacakan Alfredo Pires Amaral menyebutkan, pembangunan kesehatan di Kabupaten Belu akan tercapai apabila semua masyarakat secara sadar mau mengubah perilaku menjadi lebih sehat, salah satunya melalui pendekatan STBM.

“STBM merupakan pendekatan untuk mengubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat. STBM adalah program yang memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang betapa pentingnya berperilaku hidup bersih dan sehat”, tandasnya.

Dikatakannya, kegiatan deklarasi kelima desa itu menambah jumlah desa/kelurahan Stop Buang Air Besar Sembarangan di Belu menjadi 25. Sedangkan desa/kelurahan STBM bertambah menjadi 31.

Asisten III Setda Belu mengaku bahwa terselenggaranya deklarasi tersebut sebagai hasil dari kerja keras dan partisipasi aktif semua pihak baik pemerintah, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama yang saling bersinergi dalam mengupayakan agar masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Belu saya memberikan apresiasi kepada masyarakat di Desa Loonuna, Dirun, Kewar, Maudemu, dan Desa Debululik, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama dan seluruh komponen masyarakat 5 desa yang telah berhasil menerapkan pilar pertama serta lima pilar STBM dalam kesehariannya,” tutur Alfredo Amaral.

Mewakili Pemerintah, Asisten III Setda Belu mengucapkan terima kasih kepada tim pendamping STBM Kabupaten Belu, Kecamatan Lamaknen, Kecamatan Lamaknen Selatan, Puskesmas Weluli, Puskesmas Nualain, Yayasan Plan Internasional dan Yayasan Pijar Timur yang telah memfasilitasi masyarakat untuk hidup bersih dan sehat.

“Saya berharap kegiatan hari ini nantinya dapat memicu dan memotivasi desa–desa lainnya di Kecamatan Lamaknen dan Lamaknen Selatan untuk mencapai desa STBM. Khusus untuk masyarakat di 5 desa yang dideklarasikan hari ini agar tetap mempertahankan dan terus membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari–hari,” pinta Alfredo.

Kepala Desa Loonuna, Maximus Bau Mau dalam sambutannya mengatakan, pembangunan kesehatan adalah salah satu bagian dari pembangunan nasional agar tercapainya kemauan, kesadaran dan kemampuan menuju derajat kesehatan yang optimal. “STBM merupakan pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemacuan sehingga akses masyarakat terhadap sanitasi yang layak merupakan target nasional dalam menurunkan penyakit yang berbasis lingkungan,” imbuh kades yang akrab disapa Maxi.

Maxi Bau Mau menerangkan bahwa proses pelaksanaan STBM di kelima desa ini diawali dengan sosialisasi tentang lima pilar STBM dan diikuti dengan pembentukan tim STBM kelurahan dan desa, dilanjutkan dengan pemacuan dan pendataan kepemilikan jamban untuk memastikan perubahan yang terjadi di masyarakat.

“Kami patut berterima kasih pada Yayasan Plan International Indonesia dengan mitra kerja Yayasan Pijar Timur Indonesia yang sudah mendampingi dan berjibaku bersama kami dalam mengubah perilaku masyarakat di desa dan kelurahan kami sehingga dalam melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat melalui 5 Pilar STBM,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Yayasan Pijar Timur Indonesia, Vincent Kiabeda mengatakan, dengan menaati 5 pilar STBM maka dampak jangka pendeknya adalah pencegahan diare, jangka menengahnya yaitu gizi kurang dan gizi buruk serta dampak jangka panjangnya adalah pencegahan stunting. Karena itu, ia berharap masyarakat dapat selalu menaati dan melaksanakan ikrar STBM yang telah diucapkan sehingga dapat hidup secara bersih dan sehat.

“Ini adalah awal untuk kita berperilaku hidup bersih dan sehat. Kita berharap ini tetap dipertahankan dan dilaksanakan,” ujar Vincent Kiabeda. (*)

Penulis: (*/Herminus Halek)

Foto: prokopimdabelu

Wakil Bupati Belu Deklarasi Desa Sanitasi & Stop BAB Sembarangan

470 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Wakil Bupati Belu, Drs. Aloysius Haleserens, M.M. mendeklarasikan Desa Mandeu dan Faturika sebagai Desa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), serta Desa Teun sebagai Desa Stop Buang Air Besar Sembarangan (Open Defecation Free/ODF) yang dihelat di Kantor Desa Mandeu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Selasa, 22 Juni 2021.

Dalam arahannya, Wakil Bupati Belu menuturkan, melalui deklarasi Desa STBM dan ODF, maka kondisi 3 (tiga) desa bebas dari kebiasaan–kebiasaan buruk, seperti melepaskan kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS), tidak cuci tangan, rumah dan lingkungan tidak bersih. “Hari ini, kita mau pastikan bahwa kita sudah biasa cuci tangan pakai air bersih mengalir dengan menggunakan sabun, BAB di WC. Kita mulai melepaskan kebiasaan buruk karena sudah ada perbaikan dan pendampingan. Dengan ini, kesadaran masyarakat mulai bertumbuh,” tekan Alo Haleserens.

Wakil Bupati menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Plan International Indonesia dan Pijar Timur Indonesia yang telah bekerja bersama Pemerintah Daerah dalam menuntaskan kebiasaan semula yang buruk. “Kesadaran itu tidak tumbuh dan berkembang begitu saja, tetapi dengan dibimbing, diajar, dididik, dibina, dan didampingi oleh orang lain,” imbuhnya.

Alo Haleserens meminta pihak yayasan, agar tidak bosan–bosannya mendampingi masyarakat dalam mempertahankan dan mengembangkan kebiasaan baik karena ketika dibiarkan maka masyarakat akan kembali lagi ke kebiasaan lama.

Wakil Bupati Belu menyerahkan piagam penghargaan Desa STBM kepada Kepala Desa Mandeu

Terkait adanya sejumlah keluarga yang hingga kini masih tinggal bergabung dalam satu rumah, Wakil Bupati mengaku tak bermasalah. “Tidak apa–apa, kondisi kita masih begitu. Tetapi, kita siapkan fasilitas dasar, ada jamban dan air bersih. Tugas kita bersama menjaga kesehatan lingkungan,” sebut Wakil Bupati.

Berhubungan dengan kesehatan, Wakil Bupati Belu menegaskan bahwa masyarakat wajib menaati protokol kesehatan, mengingat saat ini ada 46 (empat puluh enam) orang di wilayah Belu terpapar wabah Covid–19. “Kita harus jaga jarak dengan menghindari kerumunan, pakai masker, cuci tangan menggunakan sabun, air mengalir dan pakai handsanitizer, serta membatasi bepergian,” nasihat Wakil Bupati.

“Camat, Kepala Desa, Kepala Dusun, Ketua RT dan RW mengontrol orang baru yang datang, agar wajib melaporkan diri ke pemerintah setempat,” pesan Alo Haleserens.

Laporan Kepala Desa Mandeu, Heribertus Luan

Wilayah Desa Mandeu memiliki 766 Kepala Keluarga (KK), 535 (lima ratus tiga puluh lima) rumah. Artinya, masih ada rumah tangga yang tinggal bersama. Dari 535 rumah di tahun 2019 masih ada 56 rumah yang anggotanya buang air besar sembarangan (BABS). Akan tetapi, berkat jalinan kerja sama dengan Yayasan Plan International Indonesia dan Pijar Timur Indonesia sehingga sukses dideklarasikan sebagai Desa STBM dan ODF.

“Ini, awal pengabdian kami yang baik. Selama 76 tahun Indonesia merdeka, baru hari ini desa kami dideklarasikan sebagai Desa STBM dan ODF. Semoga dengan deklarasi ini, Desa Mandeu bisa segera bebas dari 67 (enam puluh tujuh) kasus stunting dan gizi buruk yang tersebar di 7 (tujuh) posyandu,” harap Heri Luan.

Hadir dalam kegiatan, sejumlah OPD teknis, Camat Raimanuk, Tarsisius Edi, Kapolsek Raimanuk, Ilmuddin, Kepala Puskesmas Webora, Hubertus Y.N Hale, A.Md.Kep., Kepala Puskesmas Rafae,  Narsijo Trindade, S.Kep.,Ns., Pj. Kepala Desa Faturika, Kepala Desa Teun, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda, Insan Pers dan undangan lainnya. (*)

Penulis (*/ Herminus Halek)

Foto utama oleh prokopimdabelu