Arsip Tag: destinasi wisata ntt

8 Destinasi NTT Masuk Nominasi API 2020, ‘Lonely Planet’ Harap Masuk Top 10 Dunia

820 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mengatakan Lonely Planet telah menghubunginya serta mengharapkan agar NTT tetap masuk 10 destinasi terbaik dunia 2021.

“Penerbit buku travelling terkemuka di dunia ini baru saja menghubungi saya dan mengharapkan NTT tetap jadi salah satu dari 10 daerah tujuan destinasi pariwisata dunia atau Top 10 tahun 2021,” kata Gubernur VBL usai pertemuan dengan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bupati Manggarai Barat, Badan Otorita Pariwisata Flores dan Kepala Taman Nasional Komodo (TNK) di Marina Bay, Labuan Bajo, pada Jumat, 17 Juli 2020.

Gubernur VBL menegaskan, harapan Lonely Planet ini tentu saja didasarkan pada berbagai referensi yang jadi acuan mereka. “Tentu ini suatu kebanggaan bagi masyarakat NTT. Karena destinasi-destinasi wisata kita menjadi sorotan dunia internasional,” jelas Gubernur VBL.

Pulau Melo di Adonara Flores

Lonely Planet merupakan satu panduan perjalanan wisata dunia yang punya reputasi internasional. Rekomendasi dari lembaga ini jadi panduan bagi sebagian besar traveller dan wisatawan internasional dalam memilih tempat tujuan wisata.

Tahun 2019 lalu, Lonely Planet merekomendasikan NTT pada posisi pertama dari 10 Destinasi wisata dunia yang wajib dikunjungi para wisatawan dunia dan para traveller tahun 2020.

Delapan Destinasi NTT Masuk Nominasi API 2020

Ditemui di tempat yang sama, Kepala Biro Humas dan Protokol NTT, Marius Ardu Jelamu mengungkapkan, ada delapan destinasi unggulan baru NTT yang masuk dalam nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API). Yakni Makanan Tradisional Daging Se’i, Sentra Tenun Ikat Ina Ndao (keduanya berada di Kota Kupang), Island Hopping Pulau Meko di Flores Timur, Dataran Tinggi Fulan Fehan di Belu, Kampung Adat Namata di Sabu Raijua, Destinasi Baru Pulau Semau di Kabupaten Kupang, Destinasi Mulut Seribu di Rote Ndao dan Situs Liang Bua di Kabupaten Manggarai.

“Kita tentunya bangga karena makin banyak destinasi pariwisata di NTT baik alam, budaya, kuliner, situs sejarah dan tenun ikat yang diminati oleh dunia internasional maupun nasional,” jelas mantan Kadis Pariwisata NTT itu.

Pesona Fulan Faham di Kabupaten Belu, Foto oleh imgrum.net

Marius mengajak seluruh masyarakat NTT di mana pun berada agar berperan aktif sehingga delapan destinasi itu mendapatkan hasil terbaik dalam ajang pemilihan API 2020.

“Saya mengajak seluruh masyarakat NTT untuk terlibat aktif. Caranya mudah ketik API (spasi)1G untuk Se’i Babi. API (spasi) 5H untuk sentra Tenun Ikat Ina Ndao, API (spasi) 8E untuk Pulau Meko, API (spasi) 10C untuk Fulan Fehan, API (spasi)13C untuk Kampung Namata. Serta API (spasi) 17I untuk Semau, API (spasi) 18D untuk Mulut Seribu dan API (spasi) 12F untuk Situs Liang Bua. Kirimkan masing-masing format tersebut ke nomor 99386. Berlaku bagi semua operator,” harap Marius.

“Semakin tinggi partisipasi masyarakat, semakin besar pula peluang berbagai nominasi asal NTT ini mendapatkan hasil terbaik. Periode voting dan pengiriman sms akan berlangsung dari tanggal 1 Agustus sampai dengan 31 Desember 2020,” pungkas Marius.(*)

Sumber berita (*/Aven Rame–Biro Humas dan Protokol Setda NTT)
Foto utama oleh travelingyuk.com
Editor (+rony banase)

Presiden Jokowi : “Tahun 2020, Penataan Total Labuan Bajo Rampung”

166 Views

Labuan Bajo, Garda Indonesia | Saat meninjau kawasan Puncak Waringin di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu, 10 Juli 2019; Presiden Jokowi menyampaikan tentang rencana pengembangan dan penataan kawasan tersebut menjadi sebuah kawasan industri pariwisata.

https://gardaindonesia.id/2019/07/11/labuan-bajo-kunjungan-ke-10-presiden-jokowi-di-provinsi-ntt/

“Kita kan sudah rencanakan dua tahun yang lalu kita ingin ada 10 destinasi baru dan ini yang ke-4 yang ingin kita prioritaskan. Salah satunya adalah Labuan Bajo,” ujar Presiden selepas meninjau Puncak Waringin di kawasan Labuan Bajo yang akan diprioritaskan pemerintah sebagai salah satu destinasi wisata baru yang akan dikembangkan.

Berdasarkan pemaparan yang disampaikan kepada Presiden oleh Direktur Jenderal Cipta Karya, Danis H. Sumadilaga, kawasan Puncak Waringin akan mencakup area seluas kurang lebih 1 hektare yang dilengkapi dengan pusat cenderamata, amfiteater, ruang terbuka hijau, area parkir, dan dek observasi.

Direktur Jenderal Cipta Karya, Danis H. Sumadilaga saat memaparkan tentang kawasan Puncak Waringin kepada Presiden Jokowi

Presiden mengatakan, untuk mendukung pengembangan kawasan tersebut, pemerintah sedang melakukan percepatan pembangunan infrastruktur pendukung pariwisata. Di antaranya adalah pengembangan bandara yang ada di daerah tersebut.

“Maksimal tahun depan sudah rampung semua. Terminal airport, runway, rampung,” tuturnya.

Pengelolaan bandara juga akan menjadi perhatian tersendiri. Menurut Presiden, pemerintah ingin agar pengelola bandara di kawasan-kawasan wisata memiliki jaringan pariwisata internasional.

“Pengelolaan juga akan dilelangkan. Terutama kita ingin agar yang mengelola airport ini yang memiliki jaringan pariwisata internasional sehingga yang datang ke sini turis-turis yang kita harapkan akan meningkatkan devisa,” ucapnya.

Dalam peninjauan tersebut, Kepala Negara sempat menyusuri area pedestrian yang berjarak kurang lebih 100 meter dari kawasan Puncak Waringin. Penataan pedestrian yang dilalui Presiden tersebut juga akan menjadi bagian dari penataan kawasan pariwisata tersebut.

“Penataan kawasan di Labuan Bajo itu penting sekali. Seperti ini, akan kita buat trotoar. Tahun ini mulai (dibangun) nanti sampai ke ujung sana sehingga turis bisa berjalan ke sini sambil menikmati view yang ada di depan sana,” tuturnya.

Di samping itu, pemerintah juga akan membenahi dan mengembangkan sektor air minum dan sanitasi di kawasan Labuan Bajo. Penataan pelabuhan dan pelebaran jalan menuju lokasi wisata untuk lebih mendukung arus wisatawan juga akan dilakukan.

“Ini memang total penataannya,” kata Presiden.

Penataan tersebut diharapkan untuk dapat diselesaikan sesegera mungkin. Setelahnya, Presiden berharap agar pemerintah setempat mulai membuat dan mengemas atraksi wisata baru yang dapat menarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Labuan Bajo.

“Kita ini baru mulai membenahi. Insyaallah tahun depan sudah selesai airport-nya, runway-nya, dan penataan kawasan. Baru kita bicara bagaimana mengemas even-even, seni dan budaya yang ada di sini. Kemudian juga promosinya seperti apa,” tandasnya.

Presiden Jokowi saat menghampiri masyarakat dan membagikan kaos

Selepas peninjauan kawasan Puncak Waringin, Presiden Joko Widodo dan rombongan juga meninjau rencana kawasan pengembangan wisata baru di sekitar Pelabuhan Labuan Bajo. Kawasan sekitar pelabuhan tersebut nantinya akan terdiri atas hotel, kawasan terpadu Marina, dan area komersial. Penataan tersebut akan mengubah wilayah pelabuhan yang sebelumnya kumuh dan tak tertata menjadi sebuah kawasan wisata baru.

Kepala Negara kemudian meninggalkan lokasi tersebut dengan terlebih dahulu menghampiri para pekerja untuk berfoto bersama. Selain itu, Presiden juga tampak menyapa masyarakat yang hadir di lokasi peninjauan.

Turut mendampingi Presiden dalam peninjauan tersebut ialah Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Gubernur NTT Viktor Laiskodat, dan Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula. (*)

Sumber berita (*/Plt. Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden-Chandra A. Kurniawan)
Editor (+rony banase)

Di Alor, Pelabuhan Internasional Maritaing Bakal Dibangun Tahun 2020

301 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia |”Saat ini kita dalam tahap menindaklanjuti persiapan dan penyusunan rencana kerja. Kita harapkan nanti pada awal tahun 2020 sudah bisa kita mulai Pembangunan Pelabuhan Internasional Maritaing di Kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur”,ungkap Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Drs. Robert Simbolon, MPA

Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Rapat Penguatan Pengelolaan Perbatasan Negara, dengan Fokus : Tindak Lanjut Rencana Pembangunan Pelabuhan Internasional Maritaing, bertempat di Hotel Sotis, Kupang, pada Kamis, 4 Juli 2019.

“Kita perlu menindaklanjuti bersama arahan Bapak Presiden terkait rencana Gubernur NTT untuk meningkatkan Pelabuhan Maritaing menjadi Pelabuhan Internasional. Sekaligus sebagai pintu gerbang negara di kawasan perbatasan NTT”, jelas Robert.

Menurut Robert, kehadiran Pelabuhan Internasional Maritaing diharapkan dapat menjalankan dan memperkuat fungsi penyelenggaraan negara di beranda atau halaman depan negara. Hal ini sesuai dengan nawacita ketiga dari Presiden Jokowi yaitu membangun dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa.

Robert Simbolon saat memimpin Rapat Penguatan Pengelolaan Perbatasan Negara, dengan Fokus : Tindak Lanjut Rencana Pembangunan Pelabuhan Internasional Maritaing, bertempat di Hotel Sotis, Kupang, pada Kamis, 4 Juli 2019.

“Sesuai rencana, kita adakan Master Plan yang komprehensif. Nantinya bukan hanya memenuhi infrastruktur sebuah pelabuhan internasional tetapi juga infrastruktur untuk pelayanan sosial dasar di kawasan itu seperti ekonomi masyarakat dan terutama instrumen pelayanan lintas batas negara,” ujar Robert.

“Kita bersama PT ASDP yang akan menjadi vocal point (titik pusat) dalam fungsi penyeberangan Pelabuhan Internasional Maritaing tersebut,” imbuh Robert Simbolon yang pernah menjabat sebagai Penjabat Gubernur NTT.

“Kita juga akan melakukan survei bersama Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Alor pada akhir bulan juli ini. Melalui survei tersebut kita bisa petakan bagian – bagian mana yang akan dibangun menggunakan APBN dan APBD Provinsi. Karena ini kerja kita bersama baik Pemerintah pusat maupun provinsi. Kita juga menginginkan agar pembangunan Pelabuhan Internasional Maritaing ini dapat mendorong peningkatan bidang pariwisata yang menjadi destinasi wisata melalui fasilitas yang ada nanti,” tandasnya.

Kepala Bidang PAN BNPP NTT, Drs. Clementino C. Branco M.Si mengatakan, dalam tahap persiapan pembangunan Pelabuhan Internasional Maritaing tersebut telah disiapkan lahan oleh Pemda Kabupaten Alor.

“Untuk lahan pembangunan telah disediakan oleh Pemda Kabupaten Alor seluas 10 Ha. Lahan tersebut merupakan lahan yang dihibahkan Masyarakat Alor kepada Pemda”, jelas Clementino.

Dijelaskannya, persyaratan dokumen penting lainnya juga telah realisasikan diantaranya dokumen sertifikat penyerahan lahan dari Raja Kolana Maritaing kepada Pemda Kabupaten Alor. Juga dokumen tata ruang (RDTR Kawasan Maritaing) Pelabuhan Internasional Maritaing sudah disiapkan Pemda Kabupaten Alor.

Sementara itu Plt. Kasie Perencanaan Pelabuhan Dinas Perhubungan NTT, Arlan J. Lussy menjelaskan Dinas Perhubungan NTT telah mengirimkan Surat Gubernur kepada Menteri Perhubungan tentang pembukaan jalur penyeberangan antar negara . Juga Surat Gubernur kepada Menteri Perhubungan tentang peningkatan fungsi pelabuhan Maritaing menjadi pelabuhan internasional dan pembangunan sarana pra sarana penunjang serta proposal yang masih berproses.(*)

Sumber berita (*/Meldo Nailopo–Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)
Editor (+rony banase)

Pemprov NTT & Undana Kerjasama Prioritas Kelangsungan Hidup Komodo

202 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pemprov (Pemerintah Provinsi) NTT menggelar Rapat bersama dalam rangka menindaklanjuti upaya-upaya untuk pengelolaan Taman Nasional Komodo (TNK) yang lebih optimal.

Rapat dipimpin langsung oleh Sekda NTT Ir. Benediktus Polo Maing, dilaksanakan di Ruang Rapat Sekda Gedung Sasando, Selasa, 14 Mei 2019. Turut hadir dalam rapat tersebut diantaranya, Wakil Rektor Undana Bidang Kerja Sama Ir. I Wayan Mudita S.Sc, Ph.D, Direktur Program Pasca Sarjana Undana Prof.Drs. Mangadas Lumban Gaol,M.Si,Ph.D, Kepala Prodi Magister Ilmu Lingkungan PPs Undana Philiphi de Rozari,S.Si,M.Si,M.Sc,Ph.D, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Ir.Timbul Batubara,M.Si, Kepala Biro Ekonomi dan Kerja Sama NTT Dr.Lery Rupidara,M.Si, Plt.Bapelitbang NTT Luki Koli, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTT Ir.Ferdi J. Kapitan, Kepala Bidang Pembinaan Dinas LHK NTT Rudi Lismono, Kepala Balai Litbang LHK Kupang Sumitra Gunawan, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ir.Wayan Darmawa, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan NTT Ir.Samuel Rebo, serta tamu undangan lainnya.

Sekda NTT, Ir. Benediktus Polo Maing mengatakan pentingnya untuk melakukan kajian dan penelitian mengenai Taman Nasional Komodo sehingga dengan hasil penelitian oleh pihak Undana nantinya bisa menjadi acuan untuk mengkonkritkan kebijakan-kebijakan Pemerintah Provinsi NTT dan dari Kementerian pusat

“Dengan kerja sama kita bersama tim peneliti Undana ini, maka tentunya akan menjadi bagian penting dari pengelolaan habitat komodo untuk memprioritaskan keberlangsungan hidup komodo. Termasuk dalam menindaklanjuti ditutupnya TNK pada 1 Januari 2020 nanti,” ujarnya

Ia juga menambahkan bahwa kedepan perlu dilakukan pengkajian penelitian pada destinasi pariwisata NTT yang lain, selain TNK.

Suasana rapat Pemprov NTT dan Universitas Nusa Cendana (Undana)

Sedangkan, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Undana Ir.I Wayan,S.Sc,Ph.D, mengatakan, Undana telah menyiapkan tim peneliti secara internal dan juga mendukung kebijakan penutupan TNK.

“Undana sudah mempersiapkan tim internal, untuk melakukan kajian penelitian dan memberikan dukungan pada kebijakan pemda. Kita juga menginginkan dukungan pemda untuk memfasilitasi tim peneliti. Kita akan bekerja sesuai koridor, tentunya melalui perencanaan. Karenanya, perlu adanya legatimasi seperti MOU atau surat dari gubernur,” jelas Mudita.

Direktur Program Pascasarjana Undana yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Peneliti, Prof.Drs.Mangadas Lumban Gaol,M.Si,Ph.D, mengatakan Taman Nasional Komodo harus dikaji terus menerus. “Taman Nasional Komodo memerlukan kajian penelitian terus-menerus mulai dari habitat, keadaan dan kesehatan komodo sendiri, ketersediaan pangan juga sumber daya alam dan ekosistem sekitar TNK. Kita juga melibatkan stakeholders yang hadir dalam rapat ini, sehingga hasil kajian penelitian bisa komprehensif dan dapat membuahkan kebijakan yang positif pada TNK,” jelas Mangadas.

“Komodo ini adalah kekayaan NTT. Populasi komodo harus kita pertahankan. Kita harap nantinya kebijakan juga bisa diiplementasikan dalam menjaga keberadaan TNK ini”, tambah Mangadas.

Sementara itu, Kepala Balai KSDA NTT, Ir.Timbul Batubara,M.Si, juga mengatakan perlunya tata kelola dan konservasi sesuai konteks yang ada. “Kita berharap tim peneliti Undana untuk melihat adanya tata-kelola dan konservasi yang harus dilakukan dengan menyesuaikan konteks yang ada pada TNK.”, ujar Timbul.

“Harus ada value yang universal. Kita juga akan mendukung untuk kajian penelitian bagi seluruh kawasan di Nusa Tenggara Timur”, tambahnya.

Adapun Kepala Biro Ekonomi dan Kerja Sama NTT Dr.Lery Rupidara,M.Si, turut mengutarakan harapannya untuk penataan kembali Taman Nasional Komodo. “Dengan adanya tim peneliti yang telah dibentuk dan juga adanya stakeholder yang saling memberikan dukungan maka perlu berproses bersama dan tetap berintegrasi. Kita ini daerah otonom, perlu ada kebijakan yang dimulai dari kontrol manajemen dan inovasi pada TNK yang lebih baik,” jelas Leri.

Plt.Bapelitbangda NTT, Luki Koli, ikut menjelaskan pentingnya menjaga ekositem dan rantai makanan dari komodo. Ia mengatakan bahwa kajian tim peneliti undana memiliki sinkronisasi dengan apa yang dikatakan Gubernur. “Kita juga perlu melihat vegetasi dan mengembalikan habitat asli komodo. Nilai komodo yang paling dilihat adalah sebagai binatang liar, pemangsa yang agresif,” ujar Luki.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTT, Fredy J. Kapitan menyampaikan perlunya penanganan dalam menjaga lingkungan lain dalam TNK. “Kita perlu juga untuk melihat hutan mangrove dan hutan alam di sana. Masyarakat di sana memanfaatkan hutan untuk mendapatkan madu. Itu juga bisa berkontribusi untuk menarik wisatawan,” jelas Fredy.

Kepala Bidang Pembinaan Dinas LHK NTT Rudi Lismono memaparkan perlunya pemetaan yang baik dari kawasan wilayah TNK serta pengelolaan masyarakat sosial ekonomi dengan meningkatkan SDM dan membangun jejaring pasar.

Sementara itu Kepala Balai Litbang LHK Kupang Sumitra Gunawan, menyebutkan kawasan konservasi lain yang berpotensi untuk menjadi juga destinasi wisata. “Kita juga kedepannya akan melihat kawasan lain yang berpotensi dan juga mengadakan penelitian, diantaranya penyediaan ruang mangsa komodo dan dampak dari wisata perairan terhadap ekosistem laut di sekitar TNK,” jelas Sumitra.

Kepala Prodi Magister Ilmu Lingkungan PPs Undana Philiphi de Rozari,S.Si,M.Si,M.Sc,Ph.D, turut mengatakan bahwa telah dikumpulkan berbagai penelitian dan juga jurnal baik nasional maupun internasional yang mengkaji tentang Komodo, sebagai referensi dan sebagai alat untuk memfokuskan tujuan penelitian.

Selanjutnya Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi kreatif Ir.Wayan Darmawa mengatakan perlunya perhatian terhadap aspek sosial. “Di TNK sendiri terdapat desa dan di desa itu ada penduduk. Tentunya ke depan penduduk juga akan bertambah dan memungkinkan terjadinya perluasan wilayah pemukiman. Hal yang harus kita cermati adalah bagaimana komodo tidak terganggu dengan penduduk sekitar tersebut,” kata Wayan Darmawa.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan NTT Ir. Samuel Rebo yang hadir turut mendukung semua kinerja tim peneliti dan stakeholder. “Kita mau agar semua yang ada ini lebih terpadu, sehingga dapat mempercepat apa yang dikatakan Pak Gubernur. Kita satukan tim kerja yang ada dan kedepannya TNK bisa menjadi destinasi ekslusif. (*)

Sumber berita (*/ Biro Humas dan Protokol Pemprov NTT)

Editor (+rony banase) Foto by canon.co.uk

Kunjungi Mulut Seribu, Gubernur VBL Hadiah 10 Pemuda Kursus Bahasa Inggris

319 Views

Rote-NTT, Garda Indonesia | Mulut Seribu, perairan laut eksotik yang terletak di Pulau Rote Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur, bakal menjadi salah satu destinasi pariwisata prioritas dibawah kepemimpinan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL)

Pada, Senin, 29 April 2019, Gubernur Viktor Laiskodat mengunjungi kawasan Mulut Seribu Rote Ndao menggunakan speedboat; didampingi Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi NTT bersama Forkopimda Kabupaten Rote Ndao, mengelilingi kawasan itu.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Viktor memantau kemajuan penangkaran ikan gabus, melihat potensi wisata yang dapat dikembangkan serta melakukan dialog dengan warga di sekitar kawasan tersebut.

Saat berdialog dengan warga dari desa Landu Leko dan desa Puku Afu yang dimoderatori oleh Bupati Rote Ndao, Paulina Haning Bullu, terungkap beberapa permintaan warga. Di antaranya usulan pembangunan jembatan, pembangunan sekolah khususnya SMK Pariwisata di sekitar kawasan Mulut Seribu, penyediaan obat-obatan dan penambahan tenaga medis di puskesmas, pembangunan jalan, serta penyediaan sumur bor dan jaringan listrik.

Kawasan perairan Laut Eksotik Mulut Seribu di Pulau Rote

Menanggapi usulan tersebut, Gubernur Viktor setuju untuk membangun SMK Pariwisata tahun depan. Namun sebelum pendirian harus disiapkan sumberdaya manusia terutama tenaga pendidiknya.

Gubernur Viktor meminta Bupati Rote Ndao untuk memilih 10 (sepuluh) orang pemuda yang berumur 30-an tahun. Mereka akan dikirim untuk mengikuti kursus bahasa Inggris selama setahun. Pembiayaannya murni dari pribadi Gubernur dan bukan dari APBD Provinsi.

“Kirim nama-namanya ke saya sesegera mungkin. Ini sebagai hadiah bagi masyarakat sekitar kawasan Pulau Seribu. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik, sepuluh pemuda ini diharapkan dapat berkomunikasi lancar dengan wisatawan yang berkunjung. Juga dapat mempromosikan potensi Mulut Seribu kepada dunia melalui tulisan”, jelas Gubernur dalam dialog yang dilakukan di Dermaga Lokomanon.

Selanjutnya, Gubernur meminta agar masyarakat sungguh menjaga kawasan Mulut Seribu. Tidak boleh menembak atau berburu burung yang ada di kawasan itu. Juga hindari untuk menangkap ikan dengan bom rakitan. Pemerintah akan bantu agar kapal atau perahu masyarakat lebih ramah lingkungan, pemakaian solarnya dikurangi. Gubernur juga meminta agar masyarakat tidak boleh membuang sampah plastik dan puntung rokok di sepanjang pantai.

“Karang dan flora harus dijaga. Kita mesti menjaga dan memelihara alam ciptaan Tuhan yang indah ini. Karena siapa yang rusakkan alam, tempatnya pasti neraka. Keindahan mulut seribu ini harus bisa dinikmati oleh anak cucu kita sampai kapanpun”, himbau Viktor Laiskodat.(*)

Sumber berita (*/Aven Rame-Humas dan Protokol Pemprov NTT)
Editor (+rony banase)