Arsip Tag: fatu kapal

Di Fatu Kapal Matahari Tenggelam di Hatimu, Destinasi di Ketiak Kota Kupang

3.790 Views

Oleh : Marsel Robot dan Tim Dosen PKM Undana dan Kepala Pusat Studi Kebudayaan dan Pariwisata Undana

Sensualitas Pulau Timor acap dihubungkan dengan hamparan sabana disulam lenguh sapi menerpa dinding tebing, atau onggokan pulau yang berserakan di telapak semesta. Belakangan, tidak hanya itu. Gunung Batu bercerita tentang Timor sebagai pulau yang indah. Kita mengenal beberapa bukit batu yang telah menjadi destinasi wisata, di antaranya gunung batu Fatu Le’u (Kabupaten Kupang), Fatu Kopa di Amanuban Timur (TTS), Fatu Braun (Amarasi, Kabupaten Kupang), Fatu Mnasi (Molo, TTS). Fatu Na’usus (Molo, TTS), Fatu Un (Kolbano, TTS). Bukit-bukit batu menjadi ikonik wisata alam di pulau ini. Di atas bukit batu itu, Anda menjahit serpihan kenangan yang meliar dan puisi-puisi orang kasmaran merimbun di atas karang.

Namun, masih ada bukit batu yang luput dari catatan album kenangan Anda. Bahkan, kenangan Anda tak akan ranum bila belum mencapai bukit batu yang satu ini yakni Fatu Kapal (Batu kapal). Batu yang berbentuk kapal, lengkap dengan anjungan, geladak, dan buritan.

Batu Kapal, tampak depan yang merupakan anjungan. Kiri dan kanan terdapat geladak batu. Dari atas batu ini Anda bisa menyaksikan purnama sunset paling sempurna. Fatu Kapal terletak di Kelurahan Naioni Kecamatan Alak, Kota Kupang. Tampak destinasi ini belum disentuh oleh pemerintah Kota Kupang. Keadaannya sangat alami. (Foto, dokumen Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Undana).

Panjang Fatu Kapal kurang lebih 75 meter, lebar 20 meter, dan tinggi 18 meter. Anjungan menghadap ke barat yang dibatasi rongga dengan badan kapal bagian belakang. Samping kiri dan kanan berbentuk geladak terbuka yang cukup lebar. Jika Anda berada di anjungan Batu Kapal dan menunggu purnama sunset merayap di ubun bukit barat, maka kota dan kata seakan raib di sana. Sebab, Anda hanya terkagum memergok ulah matahari membuka gerendel senja. Terasa sempurna dengan kepak burung camar di barat mendorong samar. Pun percakapan binatang malam menambah mistik di sekitar tubuh batu. Sambil memandang kedipan matahari terakhir di ujung pulau, mungkin hanya seutas kalimat yang melukiskan keadaan itu, “Fatu Kapal memagut hatimu dan terasa matahari terbenam di hatimu.”

Fatu Kapal terletak di Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Destinasi wisata ini bagai tersembunyi di ketiak Kota Kupang (dekat yang terasa jauh), karena belum dijamah oleh pemerintah Kota Kupang. Akses ke Fatu Kapal cepat dan jalan terbilang mulus. Anda hanya membutuhkan waktu 30 menit dengan sepeda motor atau mobil dari pusat Kota Kupang, Hanya 32 menit dari Bandara Internasional El Tari Kupang dan 35 menit dari Pelabuhan Tenau.

Panorama Matahari Terbenam (sunset) di Fatu Kapal

Jika Anda berangkat dari Kota Kupang, maka Anda memilih jalur jembatan Petuk, lebih sepi, hingga Gapura Fatu Koa. Dari Gapura Fatu Koa Anda hanya membutuhkan 15 menit sampai ke Fatu Kapal. Jika Anda datang dari luar Kota Kupang, menginap, maka Hotel Silvia, Hotel Sasando, atau hotel-hotel di Kota Kupang bisa menjadi pilihan. Sebab, Anda hanya membutuhkan waktu 30 menit dengan kendaraan roda dua atau roda empat untuk sampai ke Fatu Kapal. Jalan masuk sebelum kantor Kelurahan Naioni. Hanya 13 menit mengarungi jalan aspal sempit, dan 7 menit melewati jalan batu hingga Batu Kapal. Mungkin keadaan itulah yang menyebabkan Fatu Kapal terlewatkan dari intip intim warga Kota Kupang, wisatawan domestik, atau wisatawan asing.

Eksotik Fatu Kapal diperkuat oleh lima batu gunung di sekitarnya. Pada bagian samping kanan batu terdapat Batu Ike Perempuan dan Batu Ike Laki-Laki. Jarak antara Fatu Ike Laki-laki dan Fatu Ike Perempuan 20 meter. Sedangkan jarak kedua batu itu dengan batu kapal sekitar 30 meter atau tak jauh dari buritan Fatu Kapal. Raut Batu Ike Laki-laki dan Batu Ike Perempuan menghadap Fatu Kapal. Menurut Bapak Kleopas, pemilik tanah di lokasi Fatu Ike, nama Fatu Ike berasal dari kata fatu yang berarti batu dan ike adalah alat pintalan benang yang berbentuk kerucut. Posisi demikian seakan menyampaikan kisah tentang pengantar penumpang yang hendak berangkat dengan Fatu Kapal. Memang tak ada tangan melambai, tak ada bintik air mata, bahkan tak tertinggal legenda hubungan ketiga batu itu. Itulah salah satu keunikan Fatu Kapal. Bukan hanya tempat paling representatif memergok mentari tenggelam, tetapi ia memberikan kita perenungan tentang legenda batu itu. Itulah yang menyebabkan eksotik batu kapal dan batu Ike dapat di mata, jatuh di hati dan belum tiba di pikiran.

Fatu Ike Laki-laki yang tampak menjulang tinggi sekitar 21 meter. Jarak 30 meter dari Fatu Kapal. Fatu Ike berasal dari kata fatu yang berarti batu dan ike adalah alat lintingan kapas menjadi benang. Kisah ini menyimpan kuat tradisi menenun di kalangan masyarakat Timor. Tak ada konotasi lain dari segi bentuk batu ini. Ada juga yang berkisah bahwa kata ike berasal dari ika, merupakan keong laut yang juga digunakan untuk memintal kapas menjadi benang. (Foto, dokumen Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Undana).

Tidak hanya itu, 30 meter bagian kiri anjungan Fatu Kapal terdapat Fatu Biloka. Fatu ini menurut penduduk setempat dapat didaki dan di sana akan tampak purnama sunset yang tak kalah indahnya dibandingkan dengan sunset di anjungan Batu Kapal. Empat gunung batu berjejer berdekatan seakan pohon-pohon abadi yang terus berbicara dengan kebisuannya.

Jika hendak bepergian ke Fatu Kapal atau ke Fatu Ike untuk waktu yang lama, memang memerlukan persiapan. Soal akomodasi memang tak tersedia di sana. Anda membawa sendiri air minum, makanan ringan atau apa pun. Sebab, di sana belum ada lapak jualan atau pedagang, warung, atau kedai kopi. Atau jika Anda tak ingin repot dengan hal-hal seperti itu, maka siang hari Anda boleh menikmati makan siang di rumah makan Sari Pita di ujung Jembatan Petuk, rumah makan di Sikumana, atau di pusat Kota Kupang.

Juga, belum ada pondok wisata atau home stay buat bermalam di sekitar Fatu Kapal dan Fatu Ike. Maklum, destinasi ini masih amat perawan dan belum disentuh oleh pemerintah. Namun, jarak begitu dekat dari pusat Kota Kupang memudahkan semua orang untuk mengakses langsung dari hotel-hotel di Kota Kupang yang hanya ditempuh 35 menit. Mungkin itu salah satu alasan, pemerintah Kota Kupang belum menggarap wilayah destinasi Naioni secara serius.

Namun, Bapak Kleopas, salah seorang pemilik tanah di Fatu Ike mengatakan, “kami siap bekerja sama dengan pemerintah Kota Kupang untuk mengelola daerah ini sebagai destinasi wisata Kota Kupang.” Sayangnya, Dinas Pariwisata Kota Kupang belum menjamah ke sana. Berkali-kali Tim PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat Undana) meminta bermitra dengan Dinas Pariwisata Kota untuk menggarap Fatu Kapal sebagai destinasi, tak direspons.

Fatu Biloka yang juga tidak jauh dari Batu Kapal. Di atas batu ini dapat menikmati sunset secara sempurna. Terkesan pohon-pohon batu merimbun di kelilingi Fatu Kapal, suatu pemandangan yang tidak hanya indah di mata, tetapi melengket di hati dan tersisah di pikiran mengapa semesta ini begitu ajaib. (Foto, dokumen Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Undana).

Jangan percaya narasi ini sebelum Anda pergi menjadi penumpang di Fatu Kapal. Tentu menumpang bukan untuk berangkat ke mana dan tak ada pelabuhan untuk berlabuh. Tetapi, di atas Fatu Kapal itu, Anda akan memandang sunset purnama yang perlahan merebah di pangkuan senja. Pun sensasi Kota Kupang dengan kerlap-kerlip lampu kota yang manja menyapu galau. Kepak camar mempercepat senja. Laut seakan menjauh, kenangan merapat, dan matahari terbenam di hatimu.