Arsip Tag: fppa atambua

Terkait Pengaduan EB ke FPPA Atambua, Ini Tanggapan Keluarga VM

352 Views

Atambua-Belu, Garda Indonesia | Dalam pemberitaan media ini sebelumnya dinilai tidak ada rasa tanggung jawab dari VM yang diduga telah menghamili EB. Perwakilan keluarga VM, Benny Kaligis melalui sambungan telepon seluler padaa Jumat malam, 9 Agustus 2019 menjelaskan, informasi yang dirilis berdasarkan keterangan pihak korban itu tidak benar.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2019/08/09/tidak-tanggung-jawab-atas-kehamilan-eb-vm-diadukan-ke-fppa-atambua/

Sementara, kondisi EB yang kini sudah mengandung empat bulan itu, dengan didampingi om kandungnya Daniel Metkono telah mengadu ke FPPA Atambua, pada Kamis 8 Agustus 2019.

Dikatakan Benny Kaligis , VM itu keponakannya dan dipekerjakan di rumahnya sebagai sopir tangki miliknya.

“Vinsen itu keponakan saya, dia karyawan di rumah. Dia sopir tangki, bukan sopirnya anggota DPRD”, tegasnya.

Benny mengimbuhkan, kedua rumpun keluarga dari EB dan VM telah melakukan pertemuan tiga kali untuk mencarikan solusi. Tetapi diakuinya, meski pun sudah tiga kali bertemu dengan melibatkan ketua RT/ RW setempat, VM tetap menolak untuk mengakui janin yang ada dalam kandungan EB itu sebagai hasil hubungan gelapnya dengan EB.

Benny membenarkan, VM pernah menjalin hubungan asmara dengan EB. Namun, pacaran yang dijalani kedua remaja itu telah berakhir.

Ia pun menegaskan, jika ada bukti silakan dilakukan tuntutan terhadap VM. Keluarga VM siap bertanggung jawab apabila bisa dibuktikan.

“Menurut VM, dia memang pernah pacaran dengan EB, tapi sudah putus. Kalau VM yang menghamili; ya dia harus tanggung jawab. Saya juga ada anak perempuan, untuk apa kita bikin susah anak nona orang,” tandas Kaligis.

Menurutnya, ia mempersilakan pihak korban untuk menempuh jalur hukum. Ia juga menawarkan kepada pihak korban untuk melakukan tes DNA ketika bayi itu lahir.

“Silakan melapor, itu hak korban. Anak itu sudah lahir, mau tes DNA juga silakan. Kalau terbukti VM yang menghamili kita siap tanggung jawab,” ujar suami oknum DPRD, MKH itu.

Terpisah, Om kandung EB, Daniel Metkono, korban hamil di luar nikah siap menempuh berbagai langkah demi nasib keponakannya, termasuk siap tes DNA bayi ketika lahir nanti.

Demikian pernyataan Daniel saat ditemui wartawan di kediamannya, Halikelen, desa Bakustulama, kecamatan Tasifeto Barat, kabupaten Belu, propinsi Nusa Tenggara Timur pada Kamis, 8 Agustus 2019.

“Saya siap test DNA bayi kalau sudah lahir. Berapa pun biayanya saya siap berkorban untuk ponakan saya,” tandas Daniel.

Menyinggung EB, Daniel menuturkan, korban yang kini yatim piatu, ditinggal mati oleh kedua orang tuanya harus menjadi tanggung jawabnya secara penuh.

Daniel Metkono, Om Kandung EB

Selain itu, ia juga menceritakan, EB sejak ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya, EB tinggal bersama YM, adik kandung dari ibundanya EB yang juga adalah saudara kandung Daniel yang berdomisili di Kelurahan Manuaman, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu.

Korban EB, lanjutnya, selain tinggal bersama YM, EB juga ditanggung biaya sekolahnya oleh YM mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

“Bapa dan mama anak ini sudah meninggal. Selama ini dia tinggal dengan mama kecilnya di Atambua. Dia punya mama kecil ini yang sekolahkan dia hingga tamat SMA,” ulas Daniel.

Kondisi EB yang kini hidup tanpa belaian kasih sayang ayah bunda itu membuat Daniel berkisah hingga meneteskan air matanya.

Disaksikan wartawan, Daniel tampak sedih memikirkan nasib EB yang malang itu.

“Kasihan, dia sudah yatim piatu. Dia hidup tidak ada bapak mama. Kalau ada laki- laki yang mau pacaran dengan dia, jangan bikin susah tambah lagi toh. Kalau sudah berbuat ya tanggung jawab, biar dia tidak tambah menderita,” kata Daniel sedih bercampur marah. (*)

Sumber berita (*/HH)
Editor (+rony banase)

Tidak Tanggung Jawab atas Kehamilan EB, VM Diadukan ke FPPA Atambua

397 Views

Atambua-Belu, Garda Indonesia | Korban hubungan di luar nikah, MGB/ EB (24) warga Kecamatan Atambua Selatan mengadu ke Forum Peduli Perempuan dan Anak (FPPA) Atambua, pada Kamis, 8 Agustus 2019. Pengaduan itu berkaitan dengan kondisi EB yang kini sudah hamil empat bulan karena perbuatan bejat VM.

Kondisi EB yang sudah hamil , ketika disampaikannya kepada VM, tetapi VM mengelak dan tidak mau mengakui.

Disaksikan media ini, laporan itu diterima langsung oleh koordinator FPPA Atambua, Sr. Sesilia A.A.Kt. SsPs di ruang kerjanya. Di hadapan Sr. Sesilia, korban EB didampingi Om kandungnya, Daniel Metkono menceritakan kronologis.

Korban dan pelaku menjalin hubungan pacaran sejak 2015. Keduanya baru berhubungan badan pertama kali pada Februari 2019. Kejadian itu bermula saat pelaku menjemput korban di tempat kerjanya di kota Atambua sekitar pukul 18:00 WITA, lalu dibawanya ke hutan pinggir jalan umum arah Atapupu, Kecamatan Kakuluk Mesak.

Sesampainya di tengah jalan VM memaksa EB untuk berhubungan badan. Usai melakukan tindakan bejatnya itu, korban dibawa pulang ke rumahnya. Setibanya di dekat rumah, korban diturunkan begitu saja di depan jalan umum.

Selanjutnya, pada 19 Maret 2019 hubungan badan kedua kali terjadi di dalam dapur, rumah tinggal korban. Saat itu kisahnya, EB sedang memasak di dapur. VM masuk menghampiri EB, lalu mengajaknya bersetubuh. Sama seperti sebelumnya, begitu selesai memuaskan hasrat seksnya, VM langsung meninggalkan EB.

Persetubuhan ketiga terjadi pada 7 April 2019 di rumah, tempat tinggal EB. Saat itu sekitar pukul 18:00 WITA. EB yang saat itu sedang melipat pakaian, dengan tiba- tiba VM mendatangi rumah dan langsung menarik paksa masuk ke dalam kamar untuk melampiaskan nafsu bejatnya itu. Begitu selesai, VM pun seperti biasa langsung menghilang pergi meninggalkan korban.

Atas kejadian itu, kedua keluarga besar sudah mengambil urusan secara kekeluargaan hingga tiga kali dengan agenda pihak korban meminta pengakuan dari pelaku.

Akan tetapi, pelaku tetap ngotot tidak mengakui janin dalam rahim itu sebagai hasil persetubuhan dengan si korban.

“Kami sudah urus tiga kali tapi dia tidak mau mengaku,” urai EB.

Menanggapi pengaduan itu, Sesilia menyodorkan format untuk diisi oleh EB. Selain itu, ia menuturkan, pihak FPPA akan segera pelajari kasus untuk ditindaklanjuti.

Sesilia menjelaskan, apabila memenuhi unsur pidana seperti cukup saksi dan bukti, maka FPPA langsung membuat laporan lebih lanjut ke Polres Belu. Sebaliknya, jika tidak cukup bukti pihak FPPA akan membantu memediasi dalam rangka mempertemukan kedua belah pihak.

“Kami pelajari dulu kasusnya. Kalau saksi dan buktinya lengkap, kita akan dampingi korban untuk lapor ke polisi. Tapi kalau tidak cukup bukti dan saksi kita mediasi biasa,” papar suster Sesilia.

Untuk diketahui, sesuai pengakuan korban EB, ternyata VM itu berprofesi sebagai sopir dari salah satu oknum anggota DPRD Kabupaten Belu berinisial MKH.

Wartawan sudah menghubungi oknum DPRD itu melalui sambungan telepon seluler, tetapi ia menjawab sedang sibuk. “Hari ini saya sibuk”, jawabnya. (*)

Sumber berita (*/HH)
Editor (+rony banase)