Arsip Tag: Gubernur Bali

Kunjungan Kerja di Bali, Presiden Jokowi Singgah ke Toko Mebel di Ubud

299 Views

Denpasar-Bali, Garda Indonesia | Usai meninjau vaksinasi massal di Puri Saren Agung, Kabupaten Gianyar, Selasa, 16 Maret 2021, Presiden Joko Widodo melanjutkan perjalanan menuju lokasi acara berikutnya. Dalam perjalanan tersebut, rangkaian kendaraan Presiden sempat berhenti di bilangan Jalan Raya Mas, Ubud. Ternyata Presiden hendak singgah di salah satu toko yang menjual sejumlah mebel dan kerajinan.

Ibu Yani sang pemilik toko pun mengaku terkejut dengan kedatangan Presiden Jokowi ke tempatnya. Tokonya yang memang biasanya sepi terdampak pandemi, mendadak dikunjungi. “Kaget banget. Tadi senang banget dapat lambaian tangan. Kita nggak menyangka beliau datang ke tempat kita,” ujarnya.

Menurut Ibu Yani, Presiden sempat menanyakan bahan yang digunakan untuk membuat sebuah kerajinan. Ibu Yani pun berharap, pandemi Covid-19 bisa segera berakhir sehingga ekonomi bisa pulih kembali.

“Biar cepat pulih, tamu kita ke Bali,” tandasnya.

Didampingi Gubernur Bali, I Wayan Koster, Presiden Jokowi meninjau Toko Mebel di Jalan Raya Mas Ubud

Tak lama, usai melihat-lihat sejumlah kerajinan, Presiden Jokowi pun kembali ke kendaraannya untuk melanjutkan perjalanan dalam rangkaian kunjungan kerjanya.

Presiden Jokowi Tinjau Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19

Masih dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Bali, Presiden Joko Widodo meninjau pelaksanaan vaksinasi Covid-19 secara massal pada Selasa, 16 Maret 2021. Kegiatan vaksinasi massal pada kunjungan tersebut dipusatkan di Puri Saren Agung, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Vaksinasi gratis pemerintah tersebut diikuti oleh kurang lebih 680 orang yang pemberiannya dilakukan bertahap dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Saya ingin melihat proses berjalannya vaksinasi yang telah diberikan kepada para pelayan publik, tokoh-tokoh agama, juga sebagian di lingkungan masyarakat. Jadi dari setiap banjar (kesatuan masyarakat hukum di Bali), dari 13 banjar yang ada, ditunjuk 50 orang dan proses pada siang hari ini berjalan baik dan lancar,” ujar Presiden.

Presiden Jokowi saat memasuki lokasi Vaksinasi Massal Covid-19 di Puri Saren Agung, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar

Vaksinasi ini utamanya ditujukan bagi para pekerja publik khususnya pelaku industri pariwisata, pemuka agama, perwakilan budayawan, perwakilan pemuda, dan masyarakat setempat. Tak hanya Kabupaten Gianyar, pelaksanaan vaksinasi massal ini juga dilakukan serentak di 7 kabupaten dan 1 kota lainnya, yakni Kabupaten Badung, Bangli, Buleleng, Jembrana, Karangasem, Klungkung, Tabanan, dan Kota Denpasar.

Kepala Negara pun turut melakukan konferensi video dengan para bupati dan wali kota. Dalam arahannya melalui konferensi video tersebut, Presiden menyampaikan ucapan terima kasih atas kerja keras pemerintah daerah untuk turut serta menyukseskan program vaksinasi massal dari pemerintah.

Presiden mengingatkan agar jajaran di daerah tidak lengah dan tetap mengarahkan kedisiplinan terhadap protokol kesehatan untuk menjaga keamanan masyarakat setempat.

“Yang penting tetap selalu menjaga protokol kesehatan secara ketat sehingga betul-betul nanti laju penyebaran Covid-19 ini bisa berkurang di Provinsi Bali,” ucapnya.

Pemerintah Provinsi Bali sendiri sebelumnya menetapkan tiga wilayahnya sebagai zona hijau Covid-19. Ketiganya yakni Ubud di Kabupaten Gianyar, Sanur di Kota Denpasar, dan ITDC Nusa Dua di Kabupaten Badung.

Presiden Jokowi menyapa dan berdialog dengan petugas Vaksinasi Covid-19 di Puri Saren Agung, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar

Penetapan zona tersebut dimaksudkan untuk membentuk zona berpola hidup sehat dan menerapkan standar protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19 secara ketat dengan kebijakan vaksinasi menyeluruh terhadap orang yang tinggal dan beraktivitas di wilayah tersebut. Hal itu sekaligus merupakan prakondisi dari tahapan-tahapan yang nantinya akan ditempuh untuk kembali membuka sektor pariwisata apabila situasi pandemi telah terkendali.

Berkaitan dengan hal itu, Presiden Joko Widodo menyampaikan harapan agar Provinsi Bali, masyarakat, dan sektor pariwisatanya dapat segera bangkit. Melalui prakondisi terhadap tiga zona hijau itu, pihaknya akan melakukan evaluasi berkala terhadap penanganan dan tindakan pencegahan penyebaran pandemi di wilayah pariwisata Bali.

“Kita harapkan dengan kita fokus di tiga zona ini kebangkitan sektor pariwisata di Provinsi Bali akan dimulai dan akan kita evaluasi setiap minggu bagaimana perkembangan yang ada di kawasan-kawasan ini dan pada umumnya di Provinsi Bali,” tandasnya.

Turut hadir dalam peninjauan tersebut antara lain Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Gubernur Bali Wayan Koster, Wakil Gubernur Bali Tjok Oka Artha Ardhana, dan Bupati Gianyar I Made Mahayastra. (*)

Sumber berita dan foto pendukung (*/BPMI Setpres)

Editor (+roni banase)

Pemprov Bali Bantah Tolak KM Splendor Turunkan PMI di Pelabuhan Benoa

290 Views

Denpasar, Garda Indonesia | Ramai diberitakan di media online tentang penutupan bandara dan pelabuhan pada Jumat, 24 April 2020, mengakibatkan 327 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang datang dari Australia dengan menumpang Kapal Motor (KM) Carnival Splendor tidak bisa bersandar di Pelabuhan Benoa, Bali. Ratusan penumpang kapal yang di antaranya 188 warga Bali itu, kini terdampar di perairan Karangasem.

Diberitakan, kapal yang dinakhodai Binaci, awalnya bertolak ke Batam, tapi ditolak oleh pihak otoritas pelabuhan setempat. Akhirnya, pada Minggu, 19 April 2020, kapal tersebut diizinkan masuk ke Bali. Mirisnya, saat tiba di perairan Lombok, Nusa Tenggara Barat pada Kamis, 23 April 2020 sekitar pukul 11.00 WITA, kapal ditolak masuk ke Bali dengan alasan yang tidak jelas.

Mengenai pemberitaan penolakan Kapal Motor (KM) Carnival Splendor yang membawa Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Pelabuhan Benoa tersebut, dibantah oleh Gubernur Bali Wayan Koster.

Di sela-sela pelaksanaan video telekonferensi bersama Kapolda Bali Irjen. Pol. Petrus R Golose; Pangdam IX/Udayana Mayjen. TNI. Benny Susianto; Kejati Bali Idianto, S.H., M.H. dan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bali guna memantapkan penanganan Covid-19, di ruang rapat Gedung Gajah, Jayasabha Denpasar, pada Sabtu, 25 April 2020, Gubernur Koster dengan tegas menyampaikan bantahan itu.

“Tidak benar Pemprov Bali yang menolak kedatangan kapal dimaksud,” tegas Gubernur Koster.

Kapal tidak sandar di Benoa, lanjut Gubernur Koster, pertama, karena memang belum ada izin dari pusat. Kewenangan untuk itu ada di pusat, bukan Bali. Kedua, sesuai keputusan Gugus Nasional, setiap armada yang melalui jalur laut, turunnya di Tanjung Periok.

“Dikarantina di sana, di Jakarta. Ini adalah keputusan Gugus Tugas Nasional melalui protokol Kemenlu, Gugus Tugas Nasional dan Kementerian Perhubungan. Jadi kedatangan kapal pesiar yang membawa awak PMI sepenuhnya menjadi kewenangan pusat dan saat ini sudah diambil alih oleh Gugus Tugas Pusat,” beber Gubernur Koster.

KM yang sempat dikabarkan terkatung-katung di perairan Karangasem tersebut, menurut Gubernur Koster saat ini sudah bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, guna mendapatkan tindak lanjut sesuai prosedur penanganan Covid-19.

“Karena sudah diambil alih oleh Gugus Tugas Pusat, tentu harus melalui jalur khusus yang ditentukan di sana yakni bersandar di Tanjung Priok. Selanjutnya para awak kapal akan mengikuti rapid test dan proses karantina,” imbuhnya seraya melanjutkan teleconference.

Di tempat dan waktu yang sama, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali IGW Samsi Gunarta ketika dikonfirmasi menjelaskan, berkaitan dengan repatriasi PMI/ABK merupakan kewenangan Gugus Tugas Covid-19 Nasional.

“Keputusan sandar tidaknya kapal pesiar untuk repatriasi PMI di pelabuhan yang ditunjuk merupakan kewenangan Gugus Tugas Covid-19 Nasional setelah diajukannya permohonan oleh Ditjen Konsuler dan Protokol Kementerian Luar Negeri Kepada Gugus Tugas Nasional. Gugus Tugas Provinsi tidak dalam posisi memutuskan pintu masuk yang digunakan untuk repatriasi. Kita di provinsi selalu menyiapkan seluruh kapasitas untuk mengantisipasi setiap keputusan tersebut,” ujarnya seraya menegaskan bahwa sebelumnya Pemerintah Provinsi Bali sudah pernah menerima kedatangan PMI/ABK yang bersandar atau turun di Benoa sesuai keputusan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Samsi Gunarta pun menandaskan, Gugus Tugas Nasional tentunya sudah mempertimbangkan semua aspek berkaitan dengan efektivitas dan kemudahan penanganan untuk mengontrol penyebaran Covid-19 di daerah sesuai data yang berhasil dikumpulkan secara nasional. (*)

Sumber berita dan foto (*/Vivi—Tim IMO Bali)
Editor (+rony banase)

‘Imported Case Covid-19 Bali’, Konjen Jepang Apresiasi Kerja Gugus Tugas

241 Views

Denpasar-Bali, Garda Indonesia | Saat melakukan kunjungan ke Gubernur Bali Wayan Koster pada Kamis, 23 April 2020 siang di Rumah Jabatan Jaya Sabha; Konsul Jenderal (Konjen) Jepang di Denpasar Hirohisa Chiba mengucapkan salam perpisahan karena dirinya akan mengakhiri masa jabatannya di Indonesia pada 3 Mei 2020 mendatang.

Gubernur Koster pun mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan jalinan persahabatan yang berlangsung selama 4 (empat) tahun masa jabatan Konjen Chiba di Bali.

Di sisi lain, Konjen Chiba juga melontarkan pujian atas kesigapan dan skema yang dilakukan Pemerintah Provinsi Bali dalam penanggulangan Pandemi Covid-19. “Saya sangat menghargai kebijakan-kebijakan Pemerintah Provinsi Bali lewat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bali, yang menurut saya cukup meminimalkan penyebaran Virus Corona ini di Bali. Selain itu saya juga merasakan ada ‘kekuatan’ yang melindungi Bali,” ungkap Konjen Chiba.

Menurutnya, dukungan dan persahabatan yang diberikan Gubernur Bali, jajaran dan masyarakat Bali sangat berharga bagi Konjen Chiba selama melaksanakan tugas di sini. Senang sekali bisa 4 tahun menjabat di Bali.

“Saya terus akan berusaha memberikan dukungan terhadap kerja sama dua negara seperti apa yang telah saya lakukan selama ini. Banyak hal yang saya pelajari, wawasan tentang adat istiadat, tradisi dan budaya Bali serta tentu saja menambah banyak sahabat baru selama di Bali. Saya berharap, dengan kesigapan dan kesiapan Bali menghadapi Covid-19, semuanya akan segera pulih dan kembali seperti sedia kala,” harap Konjen Chiba.

Konjen Chiba pun berjanji akan selalu mengunjungi Bali sebagai tujuan utama berwisata bersama keluarga.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Koster juga menyerahkan cendera mata kepada Konjen Chiba berupa lukisan khas Bali dengan mengambil tema pewayangan. “Saya mengucapkan terima kasih yang sebesarnya atas kerja sama selama ini dan mudah-mudahan ke depannya bisa lebih baik lagi jalinan dan hubungan Bali dengan Jepang,” kata Gubernur Bali.

Terkait Covid-19 hingga 23 April 2020, sebanyak 167 orang positif Covid-19, Gubernur Poster bersyukur penyebarannya termasuk sedikit, dan mudah-mudahan empat orang korban meninggal (2 WNA dan 2 WNI, red) tidak bertambah lagi di hari-hari ke depan. “Secara umum di Bali penularan transmisi lokal terhitung sedikit, dan kebanyakan kasus positif (Covid-19, red) berasal dari imported case, atau tertular di luar Bali,” ungkap Gubernur Koster.

Selain kesiapsiagaan Gugus Tugas, beber Gubernur Koster, di Bali sangat mengandalkan desa adat sebagai perangkat yang secara disiplin mampu menjalankan instruksi pemerintah dan sangat berperan menekan laju penyebaran virus Covid-19. “

“Selain, ada juga ‘kekuatan’ niskala yang senantiasa melindungi Bali selama ini,” tandas Gubernur Koster. (*)

Sumber berita dan foto (*/Vivi—IMO Bali)
Editor (+rony banase)

Kementan & Pemda Bali Berkomitmen Kendalikan Kasus Kematian Babi

166 Views

Denpasar, Garda Indonesia | Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menyampaikan kesiapan dan komitmennya untuk terus membantu dalam mengendalikan penyakit pada babi yang dalam 1 (satu) bulan terakhir ini menjangkiti beberapa wilayah di Provinsi Bali.

Hal tersebut disampaikan I Ketut Diarmita, Dirjen PKH pada saat menemui Gubernur Bali, I Wayan Koster, di Kantor Gubernur Bali, pada Jumat, 14 Februari 2020.

Menurut Ketut, penyakit babi yang terjadi di Bali merupakan suspek African Swine Fever (ASF), dan tindakan pengendalian yang dilakukan oleh petugas kesehatan hewan di Provinsi Bali sudah tepat, hal ini terbukti dengan terkendalinya kasus.

“Berbeda dengan daerah ataupun negara lain, kasus kematian babi di Bali saat ini hanya mencapai 0,11% dari total populasi babi di Bali yang berjumlah 800 ribu ekor. Artinya petugas sudah sigap menghadapi kasus ini,” tambahnya.

Ketut juga menjelaskan bahwa Pemerintah telah berupaya membangun kapasitas dalam menghadapi kasus seperti kematian babi di Bali ini, karena kejadian kasus memang sudah diprediksi akan terjadi sebelumnya. Hal ini mengingat adanya penerbangan langsung dari negara tertular serta praktik pemberian sisa-sisa makanan sebagai pakan (swill feeding) yang memang biasa dilakukan masyarakat.

Swill feeding diduga merupakan sumber masuknya penyakit ini, mengingat sifat virus yang tahan pada makanan olahan dan juga di lingkungan,” ungkapnya. Namun demikian, Ketut juga menegaskan bahwa virus penyebab penyakit babi di Bali ini tidak dapat menular ke manusia (bukan zoonosis), sehingga masyarakat diimbau tidak takut konsumsi daging babi.

Pada kesempatan bertemu Gubernur Bali tersebut, Ketut memperkenalkan sebagian anggota tim ahli yang terdiri dari beberapa guru besar dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) yakni Prof. I Nengah Kerta Besung dan Prof. IGN Kade Mahardika (FKH Unud), Prof. Sri Hadi Agung Priyono dan Prof. I Wayan Teguh Wibawan (FKH IPB University), Dr. AA Gde Putra (Komisi Ahli Kesehatan Hewan), dan drh. Agung Suganda (Kepala Pusvetma) yang saat ini dalam proses mengembangkan vaksin untuk mencegah ASF.

“Dalam waktu dekat, prototipe vaksin akan segera diuji coba, mudah-mudahan berhasil, sehingga bisa mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut,” imbuhnya.

Ketut menjelaskan bahwa pembuatan vaksin ASF ini tidak mudah, dan telah banyak negara mencoba membuatnya, namun belum ada yang berhasil membuat vaksin yang efektif mencegah penyakit. Ia berharap ada terobosan dalam pengembangan vaksin di Indonesia.

Sementara itu, Gubernur Bali menyampaikan apresiasinya kepada Kementan atas dukungannya dalam pengendalian penyakit babi yang terjadi. Ia meminta Ida Bagus Wisnuardhana, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali dan jajarannya untuk tetap sigap dalam mengantisipasi kasus, dan mencegah penyebaran penyakit.

“Ini penting, mengingat babi merupakan penghidupan bagi masyarakat, khususnya untuk masyarakat Bali,” ungkapnya.

Mengakhiri kunjungan, Ketut kembali menegaskan komitmennya untuk terus membantu pengendalian penyakit pada babi di Bali.

Sumber berita (*/PBI/Red)
Editor (+rony banase)

Legalisasi Arak Bali, Upaya Pemprov Bali Jadikan Arak Sebagai ‘Welcome Drink’

667 Views

Denpasar, Garda Indonesia | Peraturan Gubernur (Pergub) Bali nomor 1 tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan atau distilasi khas Bali disahkan oleh Gubernur Bali Dr. Ir. I Wayan Koster, MM., bertempat di Jaya Sabha yang merupakan kediaman resmi Gubernur Bali, pada Rabu, 5 Februari 2020.

Upaya ini untuk mem-branding arak yang merupakan minuman khas Bali menjadi produk bermerek (branded). Selama ini, arak diproduksi oleh masyarakat di Karangasem dan Bangli maupun daerah lain yang mengembangkannya. Biasanya produksi arak ini ada yang bekerja sama dengan pemerintah daerah (Perusda), asosiasi restoran, bartender dan koperasi dari para pelaku industri arak kalangan masyarakat kecil.

Dengan disahkannya Pergub Nomor 1 tahun 2020 ini agar branding arak semakin tinggi. Ke depan, agar produksi arak semakin meluas penikmatnya di kalangan masyarakat, maka akan kita buat event-event untuk mempromosikan minumas khas Bali ini.

Hal itu disampaikan Gubernur Koster saat sosialisasi Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 1 Tahun 2020 yang mengatur tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Distilasi Khas Bali.

Legalisasi Arak Bali oleh Gubernur Bali Dr. Ir. I Wayan Koster, MM., bertempat di Jaya Sabha yang merupakan kediaman resmi Gubernur Bali, pada Rabu, 5 Februari 2020.

Peraturan Gubernur ini telah disetujui oleh Kementerian Dalam Negeri; yang diundangkan pada hari Rabu (Buda Wage, Wuku Warigadean), pada 29 Januari 2020. Menurut Koster, pihaknya akan berupaya melakukan promosi arak ini menjadi minuman branded melalui acara yang dikemas dalam bentuk pameran (expo) di luar negeri dan festival arak Bali yang rencananya segera akan digelar dalam waktu dekat.

“Festival itu akan dijadikan momentum memperkenalkan secara luas dengan mengundang daerah-daerah lain di Indonesia yang memiliki produk minuman serupa hasil fermentasi. Di festival tersebut, minuman arak akan dicoba bersama – sama dengan wisatawan di ITDC dalam waktu dekat,” ujar Koster.

Dia berharap, hotel dan restoran di seluruh Bali diharapkan menawarkan program khusus dalam mempromosikan arak Bali misalnya dengan menjadikan minuman arak sebagai minuman “welcome drink.” Bahkan, pihaknya berencana untuk keperluan ekspor, Gubernur akan mengajukan usulan kepada Dirjen Bea dan Cukai agar mendapat fasilitas bebas biaya atau keringanan biaya untuk perdagangan lokal Bali dan / atau insentif lainnya guna mendorong pengembangan industri Tuak/ Brem/ Arak Bali dan Produk Artisan.

“Kebijakan pro rakyat berbasis kearifan lokal dalam bentuk salah satu sumber daya keragaman budaya Bali yang perlu dilindungi, dipelihara, dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mendukung pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan dengan berbasis budaya sesuai dengan visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali,” imbuh Koster.

Perlu diketahui, dalam proses pembuatan minuman fermentasi dan/atau distilasi khas Bali tidak menggunakan bahan baku dari alkohol. Nantinya produksi Arak Bali untuk upacara keagamaan diberikan label warna merah bertuliskan ”hanya untuk keperluan upacara keagamaan”.

Arak Bali dikemas dalam bentuk jeriken ukuran paling banyak 1 (satu) liter. Pemberian label dan pengemasan dilakukan oleh koperasi. Masyarakat yang melaksanakan upacara keagamaan dapat membeli Arak Bali paling banyak 5 (lima) liter dengan menunjukkan surat keterangan dari Bendesa Adat. Pembelian Arak Bali dapat dilakukan pada distributor yang bekerjasama dengan koperasi. Dalam peredarannya, Arak Bali tetap dilakukan pengendalian sehingga tidak dikonsumsi oleh anak-anak.

Ditegaskan Gubernur,”minuman fermentasi dan/atau distilasi khas Bali dilarang dijual kepada anak di bawah umur dan/atau anak sekolah.” Oleh karena itu, minuman fermentasi dan/atau distilasi khas Bali dilarang dijual pada: 1) gelanggang remaja, pedagang kaki lima, penginapan, bumi perkemahan; 2) tempat yang berdekatan dengan sarana peribadatan, lembaga pendidikan, lembaga pemerintahan dan fasilitas kesehatan; dan 3) tempat-tempat sebagaimana diatur dalam ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

Sementara itu, Bendesa Agung MDA Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet mendukung kebijakan itu agar minuman tetap terkendali. Arak bagian sarana upakara yang patut tetap dilestarikan dan konsumsi tetap terkontrol. (*)

Sumber berita (*/beritafajartimur.com) Foto utama oleh beritabali.com
Editor (+rony banase)

Gubernur Bali Apresiasi Terselenggaranya ‘Udayana Run di Kuta Beach Area’

289 Views

Badung-Bali, Garda Indonesia | Udayana Run bertujuan untuk membudayakan masyarakat sehat melalui olahraga, sebagaimana tema dari Hari Ulang Tahun ke 74 Kemerdekaan RI yakni ‘SDM Unggul Indonesia Maju’, sehingga sangat relevan jika dikaitkan dengan SDM yang unggul maka harus ditopang dengan kondisi fisik yang prima.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2019/08/16/pastikan-udayana-run-berjalan-aman-dan-lancar-kodam-ix-udy-helat-tfg/

Oleh sebab itu Kodam IX/Udayana menggalakkan olahraga melalui kegiatan Udayana Run 10K dan 5K ini. Demikian disampaikan Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Benny Susianto, S.I.P., disela-sela kegiatan Udayana Run yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT ke 74 RI dan HUT ke 62 Kodam IX/Udayana, yang dihadiri oleh Gubernur Bali bertempat di Pantai Kuta, Badung, pada Minggu, 18 Agustus 2019 pagi.

Berkaitan dengan pelaksanaan Udayana Run ini, Pangdam mengucapkan terima kasih seraya memberikan penghargaan kepada panitia, sponsor, undangan dan seluruh peserta Udayana Run yang turut berpartisipasi meramaikan kegiatan ini, tidak terkecuali juga kepada media yang telah menyuarakan kegiatan ini secara luas kepada masyarakat.

“Terima kasih juga atas suport dari rekan-rekan media, apa yang kita lakukan ini saya mohon untuk disuarakan, sehingga ini menjadi virus-virus positif untuk semua anak bangsa,” demikian ungkap Pangdam seraya menuturkan bahwa virus juga ada yang positif.

Sementara itu, Gubernur Bali I Wayan Koster sangat antusias dengan diselenggarakannya kegiatan ini. Dirinya mengatakan bahwa kegiatan ini sangatlah positif dengan tujuannya yang jauh lebih penting yaitu menghidupkan kembali komitmen masyarakat dalam membangun kesadaran akan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

“Sebagai Gubernur Bali mewakili masyarakat Bali, saya mengucapkan apresiasi terhadap kegiatan ini dan berharap agar dapat diagendakan sebagai kegiatan tahunan oleh Bapak Pangdam. Tentu saja kedepan nanti kegiatan seperti ini juga akan disinergikan dengan instansi lainnya, tetapi leadernya adalah dari Kodam supaya betul-betul kegiatannya menjadi besar untuk mempromosikan Bali sebagai destinasi wisata karena melibatkan peserta dari luar pulau Bali bahkan luar negeri,” ungkap Gubernur Koster.

Sepintas, Gubernur Bali mengingat bahwa dulu pernah ada event ‘Bali 10K’ yang sangat terkenal dan diminati oleh peserta dari mancanegara. “Lama itu sudah tenggelam, dan sekarang muncul lagi, diinisiasi oleh bapak Pangdam,” demikian tutur Gubernur dengan ekspresi bahagia.

Selain membudayakan masyarakat sehat melalui olahraga, kegiatan Udayana Run tersebut juga peduli terhadap lingkungan, terbukti setelah kegiatan berakhir, para panitia maupun peserta melaksanakan kegiatan membersihkan pantai dengan memungut dan mengumpulkan botol botol plastik minuman yang habis digunakan peserta lomba sebagai komitmen kebijakan Pemerintah Provinsi Bali dalam memerangi sampah plastik.

Pose bersama para juara ‘Udayana Run’ 2019

Kapendam IX/Udayana Kolonel Jonny Harianto G, S.I.P., disela kegiatan Udayana Run, mengungkapkan bahwa pada kegiatan tersebut, panitia menyiapkan total hadiah sebesar Rp. 200 juta untuk 150 pelari yang capai garis finish (finisher) pertama pada tiap kategori jarak akan memperoleh medali, serta juara 1 sampai dengan harapan 3 masing-masing kategori akan diberikan uang pembinaan, juga telah disiapkan hadiah berupa 5 unit sepeda motor, 7 unit sepeda gunung dan puluhan hadiah hiburan menarik lainnya.

Dari kegiatan yang dimulai pada pukul 06.10 WITA tersebut, Kapendam menyebutkan bahwa pada kategori Pelajar 5K Putra telah ditetapkan sebagai juara pertama yakni Komang Deni Gunawan dengan catatan waktu 17’27’62 dan Putri dimenangkan oleh Arceling Hada dengan catatan waktu 19’51’55.

Untuk kategori Umum 5K Putra juara pertama diraih oleh Elisar Gamashi dengan catatan waktu 15’57’12 dan Putri diperoleh oleh Afriano Paijo dengan catatan waktu 19’03’99. Sedangkan untuk Kategori TNI-Polri 5K sukses diraih oleh Mursalim sebagai juara pertama dengan catatan waktu 167’09’09.

“Dikategori Umum 10K Putra telah ditetapkan sebagai juara pertama yakni Ridwan dengan waktu tempuh 31’42’21 dan untuk Putri diraih oleh Meri Mariana dengan waktu tempuh 37’20’00, sedangkan Asep Sappudin dengan waktu tempuh 31’55’48 berhasil menempati podium pertama pada kategori TNI-Polri 10K,” demikian disampaikan Kapendam disela kesibukannya mendampingi Pangdam.

Kegiatan Udaya Run yang diikuti oleh 3.000 orang peserta tersebut, juga dihadiri oleh Kasdam IX/Udy, Irdam IX/Udy,Danrem161/WSI,Danrem 163/WSA, Danrindam IX/Udy, Asrendam IX/Udy, Para Asisten Kasdam IX/Udy, Kapok Sahli Pangdam IX/Udy, Para Staf Ahli Pangdam IX/Udy, LO AU, Para Dan/Kabalakdam IX/Udy, Para Dandim Jajaran Rem 163/WSA, Pewakilan dari Polda Bali, Dansat Brimob Polda Bali, serta undangan lainnya.(*)

Sumber berita (*/Pendam IX/Udy)
Editor (+rony banase)

Gubernur Bali Terbitkan Pergub Pemasaran & Pemanfaatan Produk Lokal

173 Views

Denpasar-Bali, gardaindonesia.id | Pemprov Bali mengeluarkan kebijakan strategis berupa Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali. Pergub itu terdiri dari 14 Bab dan 30 Pasal.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, Pergub ini bertujuan untuk menjadi panduan dalam memberikan kepastian dan kesinambungan dalam Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali. Hal ini disampaikannya pada acara Sosialisasi dan Peresmian Implementasi Pergub No 99 Tahun 2018 di Desa Pengotan, Kabupaten Bangli, Senin (7/1/2019).

Sosialisasi ini dihadiri Wagub Cok Ace, Sekda Dewa Indra, Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Kepala OJK Regional 8 dan stakeholders di bidang pariwisata dan pertanian yang mengapresiasi positif kehadiran Pergub yang berpihak kepada rakyat ini.

Gubernur mengatakan peraturan ini sesuai dengan visi ‘Nangun Sat Kertih Loka Bali’ dengan misi mewujudkan kemandirian pangan, meningkatkan nilai tambah dan daya saing pertanian, perikanan dan industri kerajinan rakyat.

”Oleh karena itu, antara pariwisata dengan pertanian harus dipertemukan, diberdayakan dan disinergikan sebagai strategi dalam membangun perekonomian Bali guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para petani, nelayan, dan pelaku serta pegiat industri lokal Bali,” jelas Gubernur Koster.

Selain memberikan kepastian pemasaran, Pergub ini bertujuan memberikan kepastian harga jual terhadap produk pertanian, perikanan, dan industri lokal Bali. Pergub ini juga akan mengatur tata niaga produk pertanian, perikanan, dan industri lokal Bali yang berpihak kepada masyarakat Bali, meningkatkan kuantitas, kualitas dan kontinuitas produksi sehingga meningkatkan lapangan kerja, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu yang diatur dalam Pergub ini adalah mewajibkan Toko Swalayan membeli dan menjual dengan besaran masing-masing produk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan serta peternakan paling sedikit 60 % dari total volume produk yang dipasarkan.

Selain itu produk perikanan lokal Bali dan industri lokal Bali paling sedikit 30 % dari total volume produk yang dipasarkan. Pergub ini juga mewajibkan Hotel, Restoran, Usaha Katering dan Toko Swalayan bermitra dengan petani, UMKM dan koperasi.

Foto bersama Gubernur Koster dengan sejumlah pelaku usaha Hotel, Restoran, Toko Swalayan dan kelompok tani

Untuk memastikan pemasaran dan pemanfaatan produk pertanian, perikanan dan industri lokal Bali agar dapat berjalan dengan baik, maka Pemerintah Provinsi Bali akan melakukan pembinaan dan pengawasan dengan membentuk Tim yang anggotanya dari unsur instansi vertikal, perangkat daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, akademisi dan asosiasi.

Dalam acara sosialisasi itu, sejumlah pelaku usaha Hotel, Restoran, Toko Swalayan ikut melakukan penandatanganan kerjasama dengan kelompok petani.

Perjanjian kerjasama pemasaran diantaranya terjalin antara Kelompok Petani Batur Cempaka dengan PT Tiara Dewata yang mengelola jaringan toko swalayan di Bali. UD Bali Prima dengan Wisesa Ubud, Duta Orchid dengan Hotel intercontinental dan UD Sayur Segar dengan Restoran Bale Udang.

Gubernur Koster mengatakan, Pergub No 99 Tahun 2018 yang ditandatangani pada 7 Januari 2019 itu, menjadi jembatan antara pelaku pariwisata dengan petani. Kedepan, menurutnya, dengan skema perekonomian yang sedang dirancang Pemerintahan Koster-Ace, bakal terjadi keseimbangan antara struktur pariwisata dan pertanian.

“Antara pariwisata dan pertanian harus dipertemukan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pariwisata harus jadi lokomotif, jangan ingin bahagia sendiri,” ujar Gubernur Koster. (*)

 

Sumber berita (*/Tim IMO Indonesia)

Editor (+rony banase)