Arsip Tag: isu agama

Masih Gampang Tersinggung? Habis Gelap, Kapan Terbit Terang?

524 Views

Oleh: Andre Vincent Wenas

“Hentikan semua ucapan atau tindakan yang dapat menyinggung perasaan sesama saudara sebangsa dan setanah air.” – Joko Widodo, 19 Agustus 2019.

Lagi -lagi soal penistaan agama. Seperti tidak ada lelahnya bangsa ini menyibukkan diri dengan soal yang satu ini.

Apa sih sulitnya untuk membawa urusan agama hanya sebagai urusan privat-vertikal? Alias urusan pribadi dengan Tuhan via kepercayaan masing-masing dengan yang di atas.

Kalau ada yang mau membahas soal agama ya perlakukan saja sebagai diskusi terbatas internal, mau antar sesama penganut agama yang sama atau lintas agama yang berbeda. Khususkan saja sebagai forum dialog lintas iman untuk mereka yang memang terbuka hati dan pikirannya.

Untuk mereka yang tidak mau ikut serta dalam dialog itu ya tidak usah ikutan. Sederhana saja kan? Kenapa mesti dibikin ribet sih?

Negara ya fokus saja dalam soal penegakan hukum, ketertiban serta distribusi keadilan sosial. Siapa pun yang melanggar serta bikin keributan sosial dan ya proses secara hukum.

Sementara ini, kita punya kementerian yang mengurusi soal agama, Kementerian Agama. Ini juga sebagai simbol negara ikut-ikutan dalam soal agama yang seyogianya jadi urusan privat.

Beruntung saja saat ini kita dapat Menteri Agama yang rasional-nasionalis serta punya jiwa kepemimpinan. Tapi itu bisa sampai kapan?

Fenomena seperti Joseph Paul Zhang, Yahya Waloni, Rizieq Shihab, Abdul Somad, Lia Eden atau banyak lainnya masih saja bikin kotor belantika wacana sosial politik. Ya fenomena sosial yang rentan dipolitisasi oleh para petualang politik.

Apa tidak bosan? Berapa besar energi bangsa yang larut percuma hanya untuk mengurusi soal-soal tak berfaedah macam itu?

Masih terlalu banyak urusan lain yang jauh lebih penting untuk diurusi oleh bangsa ini. Pandemi pun bikin situasinya jadi lebih menantang untuk disikapi lewat kekompakan, solidaritas yang ekstra solid dari segenap anak bangsa.

Energi bangsa masih sangat dibutuhkan untuk membawa bangsa ini – bersama bangsa-bangsa lain – untuk pertama-tama keluar dengan selamat dari pandemi ini.

Konstelasi regional dan internasional pun mesti mendapat perhatian, pemikiran serta aksi politik yang adekuat. Negara yang dikaruniai sumber daya alam (SDA) melimpah seperti Indonesia ini membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang juga bermental limpah-ruah (abundant mentality) serta cerdas.

Bukan mentalitas baperan (terbawa perasaan), gampang tersinggung, pikiran kotor serta bersumbu-pendek yang gampang disulut oleh isu murahan.

Masih ada tantangan bersama untuk merawat bumi sebagai rumah bersama (isu lingkungan global), menyudahi berbagai perang dan kekerasan, memperjuangkan skema perdagangan dunia yang jauh lebih adil serta yang bisa membawa kesejahteraan bersama.

Siapa pun, dari latar belakang agama apa pun, sudahlah… hentikan semua ucapan atau tindakan yang dapat menyinggung perasaan sesama saudara sebangsa dan setanah air.

Di Hari Kartini ini, kita masih punya optimisme di penghujung gelap. Asalkan kita tetap mau untuk berjalan beriring bersama. Fakta perbedaan (kebinekaan) itu adalah realitas kebangsaan kita.

“Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita, lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.” – R.A. Kartini

Kapan terang itu terbit? Segera setelah kita semua membuka mata hati.

Rabu, 21 April 2021

Penulis merupakan Direktur Kajian Ekonomi, Kebijakan Publik & SDA Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB)

Foto utama oleh lpmpriau

Musuh Pancasila adalah Manipulator Agama!

427 Views

Oleh: Andre Vincent Wenas

Bukan agama yang jadi musuh Pancasila. Tapi manipulasi terhadap agamalah yang jadi musuh Pancasila. Itu jelas. Tak perlu dipolemikkan, atau dipolitisir. Buang tenaga dan buang waktu saja.

Realitas politik belakangan ini menunjukkan fakta bahwa isu agama adalah komoditi paling murah (gampangan) untuk menyulut emosi massa.

Ada dua permasalahan di sini.

Pertama, masih ada sementara pihak yang hitam hatinya untuk tega memanipulasi agama demi kepentingan sektarian atau kepentingan politik sempitnya sendiri. Peristiwa-peristiwa di Karimun, Sampang-Madura, Minahasa Utara, dan beberapa wilayah lain telah menunjukkan fakta ini.

Kedua, masih kentara juga betapa ceteknya pemahaman agama, atau katakanlah kadar keimanan sementara kelompok masyarakat. Takut keimanannya rontok gara-gara terpapar dengan hal-hal yang absurd (gedung gereja, lagu, ucapan selamat, dan lain-lain). Kita tidak bisa menggeneralisasi bahwa seluruh rakyat Indonesia masih cetek pemahaman agamanya. Tidak ada survei yang bisa memverifikasi ini.

Maka terhadap kedua hal tadi, perlu diambil langkah taktis dan strategis dalam penanganannya.

Taktis, terhadap setiap gerakan anarkis, pengacau keamanan, dan perusak keharmonisan hidup berbangsa, harus segera ditumpas. Wajib bagi aparatus negara untuk bertindak dengan sigap dan cepat.

Gerakan atau ulah anarkisme seperti ini sangat berbahaya, toxic atau racun bagi konsensus hidup bersama di Indonesia yang bhinneka. Satu saja pembiaran terhadap anarkisme seperti ini, akan menular dan menjalar ke mana-mana.

Mengapa begitu? Sebabnya sederhana saja. Bukan di sisi masyarakatnya, tapi ini bisa jadi preseden bagi para penjahat politik lainnya. Mereka merasa bahwa anarkisme dan kesewenang-wenangan yang dibungkus agama bisa jadi alat untuk menekan pemerintah pusat dan lawan politik demi memaksakan kehendak egoistik mereka. Sekali dibiarkan, toman, ketagihan.

Strategis, terhadap kelompok masyarakat yang kenyataannya gampang digosok dengan sentimen keagamaan (padahal cuma manipulasi agama) mereka ini mesti di-reedukasi terus. Peran pendidikan oleh para ulama, rohaniwan dan cendekia menjadi imperatif. Panggilan untuk mencerdaskan bangsa. Jangan biarkan saudara-saudara kita ini jadi bebek tolol yang gampang disetir.

Namun, saat kelompok sumbu pendek seperti ini melihat ketegasan sikap aparat negara dalam menangani anarkisme, mereka juga  akan belajar dengan sendirinya. Seeing is believing. Bahwa negara tidak pernah menoleransi intoleransi dalam keragaman hidup beragama, latar belakang suku, maupun antar golongan.

Sekali lagi digaris bawahi di sini bahwa ketegasan sikap, dan kesigapan bertindak dari aparat negara adalah ‘conditio sine qua non’ terhadap jaminan keamanan dan kedamaian.

Musuh Pancasila adalah para manipulator agama. Kalau ada, segera sikat!

Penulis merupakan Sekjen Kawal Indonesia — Komunitas Anak Bangsa

Foto utama oleh bpip.go.id