Arsip Tag: isyak nuka

Penerbangan Beroperasi Hingga 11 Juli, Penutupan Berlaku Mulai 12 Juli 2021

4.819 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kadis Perhubungan Provinsi NTT, Isyak Nuka kepada Garda Indonesia pada Kamis siang, 7 Juli 2021 mengungkapkan, pihaknya telah menghelat rapat bersama dengan para operator penerbangan dan pelayaran guna mempersiapkan kondisi tersebut terkait rencana penutupan penerbangan maupun pelayaran yang sebelumnya telah diberlakukan dengan dikeluarkannya Surat Nomor : Dishub.550/553.440/284/VII/21 tertanggal 6 Juli 2021 perihal “Pembatasan Pelayanan Angkutan Udara, Laut, dan Penyeberangan pada Daerah yang Masuk dalam Zona Merah Covid-19 dalam Wilayah NTT”.

“Kami telah mengeluarkan surat yang telah diketahui masyarakat dan terlalu mendadak karena diterbitkan tanggal 6 Juli dan diberlakukan 7 Juli, namun kami pemerintah menyadari surat tersebut terlalu mendadak, maka kami mengundang semua (operator layanan penerbangan dan pelayaran, red) dan kami menarik surat itu untuk direvisi,” urai Kadis Perhubungan Provinsi NTT, Isyak Nuka.

Surat tersebut, imbuh Isyak Nuka, ditarik untuk direvisi karena terkait lonjakan kasus Covid-19 di NTT guna mengambil langkah-langkah apakah penutupan penerbangan maupun pelayaran. “Surat tersebut tidak terdapat waktu mulai dan berakhir pemberlakuan, maka kami sedang mempersiapkan surat terbaru dengan perincian waktu pemberlakuan hingga berakhir pemberlakuan penutupan maupun pengetatan di pintu masuk,” ungkapnya.

Untuk sementara, urai Isyak Nuka, mulai dari tanggal 7—11 Juli 2021 masih berlaku normal dan bakal dilakukan pengetatan di semua pintu masuk penerbangan maupun pelayaran mulai 12—21 Juli 2021. “Kami berlakukan selama dua minggu dan bentuk pengetatan bakal terurai pada surat terbaru,” ujarnya.

Saat ini, tandas Kadis Perhubungan Provinsi NTT, dengan demikian masyarakat bisa mempersiapkan diri untuk melakukan rencana perjalanan dapat mempersiapkan segala sesuatu.

Penulis, editor dan foto (+roni banase)

Bantu Korban Badai Seroja, Bukti Cinta Satu Hati Untuk NTT Ultras Victory

673 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Diaspora Masyarakat NTT yang tergabung dalam Satu Hati Untuk NTT yang berada di Jabodetabek dan Jawa Barat menghimpun bantuan bagi warga NTT terdampak bencana Badai Seroja yang menerjang 14 kabupaten dan 1 kota pada kisaran waktu 3—5 April 2021.

Aksi Kemanusiaan dari Satu Hati Untuk NTT disalurkan di wilayah terdampak melalui Ultras Victory (organisasi sayap kanan Gubernur NTT, red). Tahap pertama bantuan berupa sembako dan kebutuhan pokok sekitar 60 ton bagi korban banjir bandang di Flores Timur dan tahap kedua sekitar 120 ton.

PIC Satu Hati Untuk NTT, Jemmy Rojers Rata (kanan) kepada Perwakilan Tokoh Agama (Ketua MUI NTT), Abdul Kadir Makarim (berpeci)

Penyerahan secara simbolis dilakukan di Posko Satu Hati Untuk NTT Ultras Victory (Ruko milik Irjen Pol Johni Asadoma, red) di Jalan Nangka, Kelurahan Oeba, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur; dari PIC Posko Satu Hati Untuk NTT, Jemmy Rogers Rata dan Ketua Ultras Victory, Jongky Asadoma kepada Kalak BPBD Provinsi NTT, Isyak Nuka dan perwakilan Tokoh Agama pada Sabtu, 24 April 2021.

PIC Satu Hati Untuk NTT, Jemmy Rogers Rata berharap kepada para Tokoh Agama dapat membantu mendistribusikan bantuan sehingga dapat bermanfaat bagi saudara-saudara yang tertimpa bencana. “Semoga bantuan ini dapat bermanfaat,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Ultras Victory Jongky Asadoma mengungkapkan rekan-rekan diaspora di Jabodetabek berupaya mendistribusikan bantuan dari masyarakat diaspora di luar NTT. “Bantuan ini merupakan bukti cinta masyarakat diaspora. Bantuan ini berasal dari masyarakat NTT di Jakarta, Jawa Timur, Bali, Sumatra Barat, Manado, Maluku, dan Papua,” urai Jongky seraya mengucapkan terima kasih atas dukungan dalam membantu menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak Badai Seroja.

Ketua Ultras Victory NTT, Jongky Asadoma (bertopi) saat menyampaikan keberadaan dan kepedulian masyarakat diaspora di luar NTT kepada masyarakat terdampak Badai Seroja

Kalak BPBD Provinsi NTT, Isyak Nuka mewakili Gubernur dan Wakil Gubernur NTT mengapresiasi kerja luar biasa dan menyampaikan terima kasih kepada Satu Hati Untuk NTT Ultras Victory. “Untuk diketahui masih banyak saudara kita yang membutuhkan bantuan pangan, sandang, dan papan. Kami terus berupaya menggelorakan semangat dari ikatan keluarga besar diaspora di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Senada, mewakili Tokoh Agama, Ketua MUI Provinsi NTT Abdul Kadir Makarim menyampaikan terima kasih kepada Satu Hati Untuk NTT Ultras Victory yang begitu peduli terhadap masyarakat terdampak Badai Seroja di NTT. “Walaupun berada di daerah perantauan, namun punya kepedulian terhadap saudara-saudara kita di sini. Semoga apa yang dilakukan memperoleh balasan dari Tuhan,” tandasnya.

Penulis, editor dan foto (+roni banase)

Covid-19 Naik di NTT, Pelabuhan Udara & Laut Tak Tutup dan Wajib ‘Pool Test’

1.111 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Kebijakan penutupan bandara dan pelabuhan laut sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di NTT yang mengalami kontraksi 1,96 persen (kuartal kedua, red). Atas dasar tersebut, maka kita berlakukan apa yang kita sebut new normal,” jelas Kadis Perhubungan Provinsi NTT, Isyak Nuka dalam sesi jumpa media pada Senin siang, 28 September 2020 di Gedung Sasando Kantor Gubernur NTT.

Meski angka kasus Positif Covid-19 di Provinsi NTT terus merangkak naik, namun Pemprov NTT tidak akan menutup jalur penerbangan udara maupun pelayaran laut. Kondisi ini, sebut Isyak Nuka, “Pilihan untuk membatasi itu tidak mudah, karena ekonomi harus berjalan, terutama distribusi logistik dan kita tak bisa mendeteksi saat awal bahwa seseorang terkonfirmasi positif Covid-19, namun kita mendorong agar protokol kesehatan diberlakukan ketat.”

Kondisi new normal di Provinsi NTT, imbuh Isyak, untuk penerbangan maupun pelayaran dalam wilayah NTT bebas ketentuan rapid test dan swab, termasuk surat keterangan kesehatan. “Itu semua kita bebaskan, agar para pelaku perjalanan di dalam wilayah NTT seolah-olah merasakan masa sebelum kasus Covid-19 merebak,” urainya.

Ķecuali, pelaku perjalanan dari luar NTT, terang Isyak Nuka, mereka harus menggunakan rapid test, dites suhu tubuh dan mengisi HAC. “Termasuk yang ke luar NTT berlaku hal yang sama, maka setelah new normal angka positif di NTT meningkat akibat dari pelaku perjalanan di Labuan Bajo maupun di Bandara El Tari Kupang,” ungkapnya.

“Kita di NTT, tak melakukan swab,” ungkap Isyak.

Seperti kita tahu bersama, urai Isyak, rapid test itu berlaku 14 hari. “Pada saat dia melakukan rapid test itu negatif, namun bisa saja pada hari ketujuh saat berada di wilayah NTT, dia (pelaku perjalanan, red) terkonfirmasi positif Covid-19. Ini memang menjadi kesulitan kita di pintu-pintu masuk dan menjadi kesulitan petugas di KKP,” ungkapnya.

Oleh karena itu, beber Isyak, Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Perhubungan NTT mencoba menggandeng Forum Akademia NTT (FAN) yang menemukan pengetesan cepat Covid-19 terhadap para pelaku perjalanan atau dinamakan Pool Test. “Ini memang belum diuji coba, teman-teman sedang men-setting, kita telah berkoordinasi dengan KKP, operator, kepala bandara dan pelabuhan, jika alat pool test telah siap, maka dipakai di pintu masuk bandara dan pelabuhan,” tandasnya.

Sementara, Dr. Elcid Lee dari FAN  saat dihubungi media ini via telepon untuk menelisik tentang mekanisasi dan manfaat pool test, hingga berita ini ditulis, belum merespons.

Kasie Pengendalian Risiko Lingkungan dan Kesehatan wilayah Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Hengki Jezua mengatakan instrumen pengendalian telah diperketat terhadap para pelaku perjalanan dengan mengisi Kartu Kewaspadaan Kesehatan. “Dengan mengisi kartu tersebut, maka ke mana pun pelaku perjalanan dapat dipantau secara baik,” jelasnya.

Selain itu, urai Hengki, dilakukan pengamatan terhadap tanda dan gejala. “Tanda dan gejala ini, ada yang muncul dan yang tidak. Ketika pelaku perjalanan datang tanpa konfirmasi tanpa gejala di suatu daerah, kemudian pada hari ketujuh atau kesepuluh muncul gejala (karena masa inkubasi covid sekitar 14 hari),” terangnya sembari mengatakan seluruh pelaku perjalanan diberlakukan tidak diskriminatif.

Manajer Pelayanan Terminal Pelindo III, Cahyo Mursito mengatakan pihaknya berkomitmen untuk mengurangi kerentanan penyebaran Covid-19 di NTT. “Secara teknis, telah bekerja sama dengan pihak pelayaran dengan membatasi penumpang yang turun yakni menunda turunnya penumpang secara bertahap, misalnya 30 orang duluan, termasuk pembatasan penumpang hanya 50 persen dari kapasitas normal dan telah berlaku efektif,” tandasnya.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Penerbangan Zona Merah Dilarang, Lokal NTT Tetap Beroperasi

581 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kadis Perhubungan Provinsi NTT, yang juga Sekretaris Bidang Pengendalian Pintu Masuk Keluar gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 di Provinsi NTT, Isyak Nuka, S.T., M.M. menjelaskan tentang Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 25 tahun 2020 tentang pengendalian transportasi selama masa mudik Idul Fitri 1441 H dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19.

Kami perlu menyampaikan kepada masyarakat NTT hal-hal sebagai berikut :

Pertama, Larangan penggunaan sarana transportasi yang dimaksudkan dalam PM 25 tahun 2020 berlaku untuk transportasi darat, transportasi laut, dan transportasi udara. Untuk diketahui transportasi laut sudah kita lakukan sejak 13 April 2020 sesuai dengan surat Dishub Nomor 250 tanggal 11 April 2020; sedangkan untuk transportasi darat yang kita larang adalah angkutan penyeberangan Ferry. “Itu masih kita larang sesuai dengan surat yang sama berlaku sejak 13 April 2020; sedangkan angkutan umum lainnya dalam wilayah Provinsi NTT tetap beroperasi sebagaimana biasanya,” jelas Kadis Perhubungan Provinsi NTT.

“Jadi bus-bus AKDP (Antar Kabupaten Dalam Provinsi) masih boleh beroperasi. Kendati masih beroperasi namun tetap dengan protokol kesehatan yang ketat. Hukumnya wajib,” tandasnya.

Kedua, untuk angkutan udara; transportasi udara yang dilarang sesuai dengan PM 25 tahun 2020 adalah penerbangan pesawat dari daerah terpapar. Itu dilarang; yang dimaksud dari daerah terpapar itu yang datang dari luar NTT.

“Itu seluruh penerbangan yang memuat penumpang; itu kita larang. Yang tidak dilarang adalah kargo; pemuatan alat-alat kesehatan yang berkaitan dengan Covid-19. Sedangkan untuk penumpang seluruhnya kita larang,” tegas Kadis Perhubungan Provinsi NTT.

Kadis Perhubungan Provinsi NTT, Isyak Nuka (tengah berbaju putih) saat menyampaikan keterangan pers pada Jumat malam, 24 April 2020 di Biro Humas dan Protokol Setda NTT

Lanjutnya, “Tetapi dalam Provinsi NTT; di dalam wilayah kita, penerbangan tidak kita larang. Boleh tetap beroperasi seperti biasa.”

Nah, apa pertimbangannya ? Jelas Kadis Perhubungan, “Kita daerah kepulauan. Kalau penerbangan lokal NTT, kita tutup lalu bagaimana kalau ada kejadian-kejadian luar biasa. Kemudian ini berkaitan dengan pengiriman alat-alat pelindung diri (APD), alat-alat kesehatan, sampel yang berkaitan dengan Covid-19 dari daerah-daerah,” tanyanya.

Beber Kadis Perhubungan, “Ini menjadi pertimbangan kita. Kalau orang-orang tiba-tiba sakit dan membutuhkan rujukan segera; ini menjadi pertimbangan. Jadi kesulitan-kesulitan ini membuat kita harus mengambil suatu kebijakan. Tentunya kebijakan ini tidak bertentangan dengan PM 25 2020 seperti itu.”

Jadi esok, terang Kadis Perhubungan Provinsi NTT, pada Sabtu, 25 April 2020 tetap beroperasi seperti biasa untuk penerbangan di dalam wilayah NTT. “Tentunya juga dengan pengawasan yang ketat sesuai protokol kesehatan yang berlaku; social distancing tetap harus kita perhatikan; penumpang yang naik dan yang turun tetap diperiksa di bandara; baik bandara keberangkatan maupun bandara tujuan,” tegasnya.

“Itu tetap dilakukan pemeriksaan oleh petugas KKP maupun petugas dinas kesehatan setempat. Jadi sekali lagi disampaikan bahwa penerbangan lokal di dalam wilayah NTT tetap beroperasi,” tandas Kadis Perhubungan Provinsi NTT.(*)

Sumber berita (*/Valeri Guru–Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)
Editor (+rony banase) Foto utama oleh Kemenparekraf

Dampak Corona di NTT, Pelabuhan Ditutup & Frekuensi Penerbangan Dikurangi

290 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sekretaris Bidang Pengendalian Pintu Masuk Keluar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Provinsi NTT yang juga Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTT, Isyak Nuka, S.T., M.M. menegaskan, kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT di bidang perhubungan tidak berubah.

“Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelum-sebelumnya; kalau di bandara belum kita tutup tetapi yang terjadi adalah memang pengurangan frekuensi penerbangan. Itu juga karena maskapai penerbangan (airlines) sendiri yang mengambil kebijakan demikian,” tandas Isyak Nuka kepada pers di Kupang, pada Senin, 20 April 2020.

Dia mengaku, di dalam wilayah NTT umumnya masih dilayani oleh Wings Air dan Nam Air. “Kalau yang keluar masih ada Garuda, Lion Air, Batik Air dan City Link. Namun itu pun sudah banyak yang berkurang frekuensi penerbangannya. Ke depan kita akan meminta kepada pengelola bandara dalam hal ini pihak Angkasa Pura I mengurangi jam operasionalnya; kalau yang biasa dari pagi sampai malam. Maka berkaitan dengan pencegahan Covid-19 ini diminta supaya jam operasional mereka dikurangi sampai pukul 18.00 WITA atau jam 6 sore saja,” jelas mantan Sekretaris Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi NTT

Terkait video yang viral di media sosial warga masyarakat yang masih tertahan di Sape Kabupaten Bima Provinsi NTB, lanjut Isyak Nuka, semuanya disebabkan oleh ketidaktahuan mereka saja. “Mungkin 1—2 hari yang menjadi viral di media khususnya di pintu masuk sampai Labuan Bajo dan Lembor – Waingapu masih ada; semua itu lebih banyak dikarenakan ketidaktahuan dari para saudara kita terutama anak-anak mahasiswa,” ucap dia, berargumen.

Kadis Perhubungan Provinsi NTT, Isyak Nuka saat memberikan keterangan pers pada Senin, 20 April 2020 di Biro Humas dan Protokol Setda Pemprov NTT (Foto oleh Very Guru)

Sejumlah warga masyarakat yang berada di luar NTT, sambung dia, tidak mendapatkan informasi adanya pelarangan pelayaran. “Nah, terhadap mereka ini kita masih memberikan toleransi. Semata-mata alasannya kemanusiaan. Sekali lagi saya tekankan karena ketidaktahuan mereka terhadap informasi adanya penutupan,” tandas dia sembari menambahkan dari waktu ke waktu disosialisasikan terutama kepada rekan kerja perhubungan baik Kadis Perhubungan di NTB, di Bali, dan di Jawa Timur.

Kebijakan yang diambil Pemprov NTT, kata Isyak Nuka, sesungguhnya hanya untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Provinsi NTT. “Kita di NTT mengambil kebijakan ini dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19 secara lebih meluas dengan melarang penumpang untuk tidak melakukan perjalanan atau bepergian,” ujarnya seraya melanjutkan, “Hal ini saya pikir sudah sejalan dengan imbauan dan larangan pemerintah untuk melakukan social distancing.”

Dia berharap kebijakan yang diambil Pemprov NTT ini dapat dimengerti dan dipahami oleh masyarakat NTT. “Sekali lagi semata mata untuk itu. Untuk diketahui oleh rekan-rekan media, virus ini belum ada obatnya. Karena itu, langkah antisipatif kita satu-satunya adalah memutus mata rantai. Memutus mata rantai menurut pemahaman kami adalah meniadakan sama sekali transportasi,” ungkap Kadis Perhubungan Provinsi NTT.

Ini karena selama masih ada pergerakan manusia dalam jumlah yang banyak seperti itu maka angkanya akan terus meningkat. “Beri kita ruang. Penutupan atau pelarangan semata- mata untuk memberi ruang kepada kita; yang karena keterbatasan sarana prasarana, tenaga, terutama tenaga kesehatan, para relawan kita agar juga mempersiapkan tempat-tempat karantina terpusat, mempersiapkan peralatan mereka, mempersiapkan mereka melatih tenaga-tenaga kesehatan kita. Untuk itu, kita mohon pengertian dari sanak saudara kita. Kita berdoa supaya bencana ini segera selesai sehingga tidak perlu kita tutup sampai tanggal 30 Mei 2020,” pungkasnya.

Ikut hadir Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Provinsi NTT yang juga Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si. (*)

Sumber berita (*/Valeri Guru–Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)
Foto utama dan Editor (+rony banase)

‘Covid-19 di NTT’ Rencana Penutupan Bandara dan Pelabuhan Perlu Dikaji

721 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Rencana penutupan bandara di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meminimalkan penyebaran virus corona atau Covid-19 yang diusulkan berbagai kalangan termasuk oleh Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Cabang NTT, ditanggapi oleh Pemprov NTT dalam sesi konferensi pers pada Minggu, 22 Maret 2020 pukul 14.30 WITA—selesai di Kantor Dinkes Provinsi NTT.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2020/03/22/update-covid-19-ntt-hingga-21-maret-2020-odp-mencapai-101-orang/

Kadis Perhubungan Provinsi NTT, Isyak Nuka

Kadis Perhubungan Provinsi NTT, Isyak Nuka mengetahui adanya permintaan tersebut dari media. “Hari-hari terakhir ini di media kita baca paling tidak ada permintaan untuk penghentian penerbangan yang diminta oleh Persatuan Dokter Umum Indonesia wilayah Kupang. Terkait penutupan ini tentu tidak serta merta misalnya kita melarang penumpang dari kota-kota yang masuk ke NTT. Misalnya dari Jakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar. Masuknya ke mana? Ya ke Bandara El Tari, Tambolaka, Bandara Komodo, dan Frans Seda. Itu tidak bisa serta merta kita tutup. Hal ini tentu perlu dipikirkan,” jelasnya.

Pernyataan serupa dilontarkan oleh General Manager Angkasa Pura Bandara El Tari Kupang, Barata Singgih yang menyampaikan bahwa pihaknya belum berani mengambil keputusan. “Kita belum putuskan. Namun, untuk sementara mengantisipasi ini karena data memang menunjukkan ODP terbanyak itu berasal dari beberapa kota seperti Denpasar terbesar jumlahnya,” katanya.

General Manager Angkasa Pura Bandara El Tari Kupang, Barata Singgih

Berdasarkan data itu, lanjut dia, pihaknya akan mencoba mencari jalan keluar yang terbaik. “Karena kalau kita tutup, itu sama saja dengan kita lockdown. Namun, hal itu bukan tidak mungkin. Mungkin saja, namun perlu kita diskusikan secara baik dengan semua stakeholder. Tidak bisa langsung, katakan saja dinas perhubungan, bandara maupun pihak maskapai,” jelasnya.

Sementara, Kepala Kesehatan Pelabuhan (KKP) Wilayah Kupang, Putu Sudarma mengungkapkan bahwa KKP diberlakukan yang namanya HAC (Health Allert Card) atau Kartu Kewaspadaan Kesehatan dan sudah dilakukan.

Pernyataan senada disampaikan oleh Kabiro Humas dan Protokol Setda Pemprov NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius yang mengatakan bahwa perhatian dan masukan yang disampaikan berbagai kalangan termasuk Perhimpunan Ikatan Dokter Umum Indonesia Provinsi NTT agar Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) menutup jalur penerbangan dan pelayaran dari dan ke Kupang dan sejumlah bandara serta pelabuhan lainnya di Provinsi NTT mendapat tanggapan pihak Pemprov NTT.

“Barang dan jasa ke Provinsi NTT, kita harapkan tetap berjalan. Mengingat NTT sangat bergantung pada wilayah lain di luar NTT; sembako dan sebagainya dan memang salah satu cara memutus mata rantai penyebaran Covid-19 adalah membatasi penerbangan,” ujar Dr. Jelamu.

Pemerintah Provinsi NTT, imbuh Marius, harus bijak dalam menyikapi berbagai masukan, usul dan saran dari berbagai pihak terkait penanganan Covid-19 di Provinsi NTT. “Tetapi ketika kita menyelesaikan itu tentu dampak yang lain akan muncul. Karena khusus untuk NTT; kita membutuhkan sarana prasarana kesehatan, membutuhkan Alat Pelindung Diri (APD), fasilitas obat-obatan dan lainnya yang harus cepat didistribusi dari luar ke NTT, termasuk ketika kita mengirim sampel darah pasien ke Litbang Kementerian Kesehatan RI tentu membutuhkan kecepatan dengan menggunakan transportasi udara,”jelas Marius.

Selain alasan sosial ekonomi, imbuh Marius dari sisi lainnya khusus untuk pelabuhan tetap membuka jalur-jalur kapal yang masuk ke NTT. “Kapal barang memang sangat dibutuhkan karena kebutuhan masyarakat NTT 60—70 persen masih berasal dari luar. Kita belum mandiri secara ekonomi untuk memenuhi semua kebutuhan itu seperti gula, garam, beras dan sebagainya,” ungkapnya.

Dirinya akan mengkaji hasil pemikiran dari para pengamat, para dokter tetapi juga perlu menjelaskan secara keseluruhan agar dapat dipahami oleh publik. “Jadi kita tidak melihat dari satu variabel saja tetapi banyak variabel; dan akan dianalisa dan dibuat sebuah kebijakan. Tentu maksudnya baik tetapi kita juga menganalisis dari berbagai variabel yang lain,” tandasnya.(*)

Sumber berita (*/Valeri Guru/Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)

Editor dan foto (+rony banase)