Arsip Tag: jembatan rusak

Jembatan Noebunu Rusak, Viktor Soinbala Pinta Pemkab TTS Siapkan Strategi

334 Views

SoE-TTS, Garda Indonesia | Kondisi Jembatan Noebunu yang menghubungkan Kecamatan Amanuban Timur, Fatukopa, Amanatun Utara, Toianas, Kokbaun, Santian, Boking saat ini sangat memprihatinkan karena sejak bulan Januari 2019 hingga saat ini belum diperbaiki.

Jembatan Neobunu yang roboh diantisipasi dengan 4 buah besi baja untuk dapat dilalui oleh kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Namun sambungan tersebut hanya dapat menahan beban 1.000 Kg.

Jembatan tersebut terancam roboh lagi pada musim hujan ini karena sambungan tersebut dimuat di atas tanah yang kondisinya sangat tidak menjanjikan untuk bertahan. Ditambah lagi satu besi baja yang dipasang sudah bengkok akibat dilalui oleh kendaraan yang mengangkut alat berat.

Viktor Soinbala, anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang dikonfirmasi pada Jumat, 18 Oktober 2019 mengatakan bahwa jembatan Noebunu belum masuk dalam rencana pembangunan sehingga pihaknya akan memperjuangkan hal tersebut dalam pembahasan APBD tahun 2020.

“Saya lihat belum ada rencana untuk pembangunan. Dalam pembahasan APBD 2020 saya bersama teman-teman dari daerah pemilihan (dapil) 3 akan memperjuangkan untuk bisa diperbaiki,” ujar Viktor via telepon.

Dengan belum adanya perencanaan maka dipastikan bahwa dalam tahun ini belum dapat diperbaiki. Kondisi ini bisa membuat arus transportasi dari beberapa Kecamatan yang harus melalui jembatan tersebut bisa terputus jika jembatan tersebut kembali ambruk lagi.

Viktor meminta kepada Pemerintah TTS untuk segera mengambil tindakan untuk mengantisipasi putusnya transportasi dari beberapa Kecamatan tersebut karena akan menghambat aktivitas masyarakat.

“Saya berharap Pemerintah tidak tinggal diam. Walaupun belum ada perencanaan, Pemerintah harus mengambil tindakan yang dapat memungkinkan masyarakat untuk bisa melalui jembatan tersebut, karena jembatan tersebut merupakan jalur yang selama ini dilalui masyarakat menuju Ibukota Kabupaten dan Ibukota Provinsi,” jelas Viktor.

Permintaan tersebut disampaikan lantaran pada musim hujan air di kali tersebut akan meluap dan jalan alternatif yang dibuat melalui kali pun tidak bisa dilewati sehingga dibutuhkan langkah strategis untuk dapat menyiasati jembatan tersebut jika terjadi longsor lagi.

Selain itu, dirinya yang merupakan perwakilan rakyat yang sering berkunjung ke desa dan melihat secara langsung pekerjaan yang dilakukan di desa, mengharapkan kepada inspektorat daerah agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap setiap proyek yang dikerjakan agar benar-benar rampung dikerjakan.

“Saya berkunjung ke desa-desa dan melihat perencanaan yang dilakukan sudah tepat sasaran untuk penggunaan dana desa. Tapi sayang ada pekerjaan yang tidak rampung sehingga hasilnya tidak maksimal,” imbuh Viktor.

Ia pun berharap ke depan inspektorat lebih intensif dalam melakukan pengawasan, karena menurut pengamatannya, pendamping desa pun kurang mengawasi pelaksanaan pekerjaan sehingga masih terdapat kekurangan.

Viktor juga meminta kepada pihak desa agar lebih cermat lagi dalam melakukan perhitungan anggaran pekerjaan. Dirinya memberikan contoh pembangunan rumah layak huni bagi warga, yang seharusnya bisa dibangun tembok penuh, hanya dibangun bangun setengah tembok saja.

“Saya juga melakukan perhitungan, bukan hanya asal bicara saja. Jadi menurut perhitungan saya, pembangunan rumah bagi masyarakat itu bisa tembok penuh, tapi hanya dibuat setengah tembok saja,” ungkapnya.

Dirinya meminta kepada pihak desa untuk bisa melakukan perhitungan yang matang terkait anggaran sehingga penyerapan anggaran bisa maksimal dan manfaatnya juga maksimal, sehingga dampak pembangunan itu dapat dirasakan. Hal tersebut diminta untuk dilakukan untuk semua pekerjaan yang direncanakan oleh desa. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Rusak Sejak Januari 2019, Jembatan di Neobunu-TTS Belum Diperbaiki

324 Views

Amanuban Timur-TTS, Garda Indonesia | Jembatan Noebunu yang menghubungkan Desa Oelet dan Desa Oe’ekam di Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur, ambruk pada Januari 2019 lalu, namun sampai saat ini belum ada kepastian dari pemerintah untuk memperbaiki jembatan tersebut.

Pemerintah mengantisipasi kerusakan tersebut dengan memasang 4 (empat) besi baja yang hanya bisa dilalui oleh kendaraan dengan berat tidak lebih dari 1.000 Kg (1 ton). Namun beberapa waktu lalu, salah satu besi baja mengalami kerusakan sehingga tidak bisa dilalui.

Saat ini jembatan Neobunu, hanya menggunakan 3 (tiga) besi baja sehingga hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua dan roda empat. Sementara untuk kendaraan roda enam harus melalui jalan alternatif yang dibuat masyarakat melalui kali Noebunu.

Yohanis Sau, salah satu warga RT 22, RW 08, Desa Oe’ekam, Kecamatan Amanuban Timur, ketika di temui di kediamannya yang berdekatan dengan jembatan Neobunu, mengatakan bahwa kondisi jembatan Neobunu saat ini memprihatinkan, karena walaupun saat ini disiasati dengan besi baja namun tidak menjamin untuk bertahan di musim hujan.

“Sekarang masih bisa lewat (jembatan) tapi musim hujan pasti rusak lagi”, ujar Sau kepada Garda Indonesia pada Rabu, 14 Agustus 2019.

Lanjutnya, jembatan tersebut harus digarap dalam musim kemarau ini untuk menghindari terputusnya arus transportasi di musim hujan. Jelasnya, jika jembatan Neobunu ambruk lagi maka roda ekonomi masyarakat akan terhambat juga.

“Kalau tidak bisa lewat (jembatan) lagi, kasihan masyarakat yang sering membawa hasil kebun untuk dijual di Niki-niki”, jelas pria yang hari-hari bekerja sebagai petani.

Selain menghambat ekonomi, menurutnya arus transportasi akan terganggu dan masyarakat akan terisolasi didalam kampung. Aktivitas masyarakat akan terhalang jika ingin pergi ke Ibukota Kabupaten, atau daerah diseberang jembatan.

“Sebagai pengguna jalan, kita punya kerja juga terganggu. Kita mau ke kampung sebelah saja akan susah”, ucapnya.

Lebih lanjut, Sau Mengungkapkan bahwa jembatan Neobunu menjadi jalan utama yang dilalui masyarakat dibeberapa Kecamatan, sehingga melihat kondisi jembatan saat ini, dirinya meminta agar pemerintah segera mengambil tindakan yang bisa menyelamatkan kebutuhan masyarakat.

“Harus diperbaiki sekarang, tidak bisa tunggu sampai musim hujan. Terlambat perbaiki bisa putus lagi”, ujarnya.

Dirinya menambahkan bahwa memang ada jalan darurat yang dibuat melewati kali, namun di musim hujan tidak bisa lewat karena air di kali (=sungai kecil) tersebut akan meluap sehingga tindakan cepat harus segera dilakukan pemerintah.

“Kita tidak bisa berharap di jalan darurat. Karena musim hujan itu air penuh di kali”, tutupnya.

Perlu diketahui bahwa jembatan Neobunu juga merupakan jalur menuju Ibukota Kabupaten dan Provinsi yang dilalui oleh masyarakat lain dari kecamatan Fatukopa, Amanatun Utara, Toianas, Kokbaun, Santian, Boking serta Amanuban Timur.

Sementara itu, Plt. Camat Amanuban Timur, Johanes Nuban, S.Ip. ketika dikonfirmasi diruang kerjanya mengatakan bahwa, pihak kecamatan tidak bisa berbuat banyak karena tidak memiliki anggaran untuk perbaikan jembatan.

Lanjutnya, pada awal ambruknya jembatan Neobunu pemerintah sudah antisipasi dengan tindakan manual memasang besi baja tersebut. Namun besi tersebut ditaruh juga di atas tanah yang bisa ambruk ketika musim hujan.

Dirinya mengatakan bahwa kerusakan tersebut juga terindikasi adanya perusakan yang sengaja dilakukan oleh pemuda-pemuda disekitar jembatan Neobunu. Termasuk merusak papan informasi yang dipasang juga dirusak oleh orang tak bertanggung jawab.

“Ada pemuda-pemuda yang sengaja merusak jembatan. Mereka beraksi pada malam hari dan tidak diketahui. Papan informasi tentang berat maximum kendaraan yang harus lewat juga dicabut, sehingga ada kendaraan yang kapasitasnya lebih dari 1 ton melintas diatas jembatan dan merusak salah satu besi baja yang dipasang”, jelas Nuban.

Terkait aksi yang dilakukan oknum tak diketahui, lanjut Nuban, pihaknya bersama aparat keamanan setempat sudah melakukan pengawasan dan memberikan arahan sehingga saat ini tidak lagi dirusak.

Pemerintah daerah (Pemda) TTS juga telah mengetahui kondisi jembatan Neobunu. Menurut Nuban, pada kegiatan Bursa Inovasi Desa (BID) yang diadakan di Kecamatan Amanuban Timur beberapa waktu lalu, Bupati TTS juga sudah meminta kepada masyarakat untuk tidak melakukan perusakan pada jembatan tersebut.

Lebih lanjut, Nuban menjelaskan bahwa pihaknya sudah menyampaikan kepada Pemda TTS namun belum ada jawaban yang menjanjikan. Dirinya mengutarakan bahwa dari pihak Pemda belum bisa memastikan jadwal perbaikan jembatan karena belum ada anggaran terkait perbaikan jembatan Neobunu.

“Seharusnya (jembatan) diperbaiki sekarang sehingga bisa digunakan dimusim hujan. Kita sudah bersurat (ke Pemda TTS), namun belum ada anggaran. Kita berharap dalam perubahan anggran tahun ini, bisa dialokasikan anggaran untuk memperbaiki jembatan Neobunu”, tutupnya.

Pantauan media Garda Indonesia di jembatan Neobunu, kendaraan roda enam harus mengambil jalan alternatif yang dibuat masyarakat, namun jalan tersebut juga tidak menjamin untuk dilalui dimusim hujan karena akan sangat berlumpur. Sementara untuk kendaraan roda dua dan empat masih bisa melintasi jembatan dengan baik.(*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)