Arsip Tag: kabupaten ttu

Selamat Pagi

217 Views

Oleh : Roni Banase

Hari ini, Jumat, 5 Maret 2021, pukul 06.16 WITA, saat kunikmati pagi di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Suhu berkisar 18—20 derajat Celcius dengan balutan kabut lumayan menusuk rusuk, dinginnya udara pagi ini yang membangunkan diriku dari tidur malam pada pukul 01.30 WITA.

Aku memilih duduk di Lopo (rumah adat masyarakat Timor, tempat menyimpan hasil bumi, dan menyambut sanak keluarga dan tamu, red), sambil kunikmati suguhan teh panas dan kudapan olahan Mama sambil menyimak Papa yang sibuk sejak sekira pukul 05.00 WITA.

Kunikmati sebaiknya udara pagi, seraya bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Pemilik Kehidupan yang telah memberikan umur panjang bagi kedua orang tua kami yang memilih menghabiskan masa tua mereka di sini, desa yang berbatasan langsung dengan Sungai Noemuti.

Terus kusibak setiap sudut Lopo, kulihat beberapa ikat Jagung hasil panen tahun lalu (diikat dengan jumlah bervariasi, red), lalu digantung di sela dahan kayu penopang atap alang-alang Lopo, sambil mulai kunikmati teh panas…nikmat seraya ku ucap syukur dengan sukacita.

Beberapa detik berselang, kudengar sapaan, “ Selamat Pagi,” sapa seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun.

“Selamat Pagi,” jawabku sambil melihatnya berlalu memikul ikatan sedang kayu kering untuk dijadikan bahan bakar.

Lopo Adat Keluarga Banase di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten TTU

Kulanjutkan menikmati kudapan Mama Mooy (sapaan kami bagi Mama kami yang lahir dan besar di Pulau Rote, red), lalu aku disapa lagi oleh seorang Ibu yang menggandeng anak perempuannya menuju ke Sungai Noemuti untuk mengambil air bersih sambil mencuci pakaian kotor.

Lalu ku menjawab dengan sukacita,” Selamat Pagi”.

Kemudian, aku menyusuri setiap sudut rumah yang dipenuhi Pohon Jagung (makanan pokok masyarakat Timor, meski tersedia beras hasil panen sawah kerja keras Papa dan Mama), kutemukan hal unik yang dilakukan Mama, dikumpulkannya daun kering Pohon Asam dalam sebuah wadah tumpukan kayu kering berukuran sekitar 2 x 2 meter.

Saat kuamati, datanglah Mama dan berujar, “Kakak, ini Mama tampung, simpan, dan jadikan sebagai pupuk”.

Ya, terbukti. Semua bunga dan berbagai jenis pohon buah tumbuh sehat dan subur dengan tatakan batu kali di sekitar areal Rumah Tua Keluarga Banase (tempat saya, adik, dan keluarga menginap jika berkunjung ke Kabupaten TTU).

Lalu, dari arah belakang, ku dengar lagi sapaan Selamat Pagi dari seorang bapak. Kutengok ke belakang sambil melemparkan senyum dan berkata, “Selamat Pagi Bapa”.

Tampak, ada sukacita, saat kulihat senyum bahagia di antara deretan gigi yang tampak merah karena kebiasaan mengunyah Sirih Pinang.

Ya, ucapan Selamat Pagi masih akan kita jumpai di sini. Bahagia dan Sukacita mengiringi rencana kerjaku hari ini untuk terus menulis dan berkarya dengan hasrat.

Foto utama (+koleksi pribadi)

Dampak Pandemi, Unimor Berlakukan Keringanan Uang Kuliah Tunggak

350 Views

Kefa-TTU, Garda Indonesia | Universitas Timor (Unimor) di Kefa, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memberlakukan 2 (dua) sistem perkuliahan yakni tatap muka (offline) dan secara daring (online). Sistem kuliah tersebut diterapkan akibat pandemi Covid-19 sejak Maret 2020.

Rektor Unimor TTU, Dr. Ir. Stefanus Sio, M.P. saat ditemui Garda Indonesia di ruang kerjanya pada Selasa, 12 Januari 2021, mengungkapkan, penerapan dua sistem perkuliahan akibat pandemi Covid-19. “Ada dua sistem perkuliahan yang selama ini dijalankan ,yaitu kuliah tatap muka (offline) dan online, pandemi ini tidak seperti di kabupaten lain. Jika pandemi sudah aman, kita akan melakukan kuliah tatap muka,” urainya.

Sesuai Surat keputusan Bupati TTU, imbuh Rektor Stefanus, untuk Kabupaten TTU tidak dilakukannya PSBB, maka sistem perkuliahan tetap kita jalankan seperti dua konteks di atas. “Untuk mahasiswa atau mahasiswi tetap melakukan penelitian di lapangan karena tidak melibatkan banyak orang atau menimbulkan kerumunan,” terangnya.

Terkait perkuliahan yang akan dimulai pada tanggal 15 Februari 2021 mendatang, Rektor Unimor akan menyampaikan kepada tiap Dekan untuk model perkuliahan. “Surat Edaran sementara kita siapkan, akan kita bagikan ke tiap Dekan untuk mematuhi protokol kesehatan yakni, pengecekan suhu tubuh, pakai masker, menggunakan hand sanitizer, dan menjaga jarak; saat aktivitas sistem tatap muka dilangsungkan,” paparnya.

Ketika ditanya terkait dampak penyebaran  Covid-19 yang dapat bermula dari klaster keluarga, sekolah atau kampus, Stefanus menegaskan, harus mengikuti protokol kesehatan. “Saya akan tegaskan ke para dosen, yang melakukan perjalanan keluar daerah, jika akan masuk kantor, lapor diri ke Satgas Covid TTU di Rusunawa – BTN, agar tidak berpengaruh kepada yang lain,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Stefanus, Unimor akan membentuk Satuan Gugus Tugas (Satgas) Covid-19, untuk menangani rutinitas semua dosen hingga mahasiswa/mahasiswi.

Untuk semester genap ini, tandas Rektor Unimor, akan dilakukan sistem perkuliahan secara online. Menurutnya, mahasiswa atau mahasiswa bakal mengalami kesulitan, karena tidak mengerti dan tidak ada tanya jawab.

“Yang sangat tepat adalah kuliah tatap muka atau secara langsung,” katanya.

Unimor, tandas Stefanus, akan memberikan keringanan uang kuliah tunggak (UKT) sebesar 25% , kepada mahasiswa semester atas, meliputi mahasiswa yang melakukan penelitian, skripsi dan lain-lain. “Dan untuk semester bawah, tidak ada keringanan,” pangkasnya.(*)

Penulis dan foto : Melkianus Nino

Editor (+roni banase)

11 Desa di Miomaffo Timur TTU Terima Bantuan APBN Kemensos 2021

336 Views

Kefa-TTU, Garda Indonesia | Kecamatan Miomaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) membagikan bantuan sembako berupa beras 14 kilogram dan 15 butir telur yang bersumber dari APBN (Anggaran Perencanaan dan belanja Negara), Kementerian Sosial RI tahun anggaran 2021.

Bertempat di aula Kantor Desa Tun’noe Kecamatan Miomaffo Timur, pada Sabtu, 9 Januari 2021, para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) memadati ruangan tersebut, dengan dibantu pemerintah desa; menerima bantuan yang diserahkan oleh pihak Pendamping Sosial Pangan Kecamatan (PSPK).

Florianus Tnesi Manumanas selaku Pendamping Sosial Pangan Kecamatan (PSPK) menuturkan, dari kuota penerima manfaat sekira 26.600-an, terjadi  pengurangan sebanyak 3.570-an KPM. “Jadi yang akan menerima adalah sebanyak 23.000-an KPM. Kuota ini untuk seluruh wilayah di Kabupaten TTU,” ungkapnya.

Lanjut Florianus, untuk Kecamatan Miomaffo Timur sebanyak 1.215 KPM dan terjadi pengurangan sebanyak 123 KPM. “Dan yang sudah menerima sebanyak 1.092-an KPM tersebar di 4 (empat) desa se-Kecamatan Miomaffo Timur,” terangnya.

Terjadi pengurangan KPM tersebut, urai Florianus, karena ada perbedaan data nama antara Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). “Kedua data tersebut  harus sepadan atau sinkron atau sama. Dengan adanya alasan nama yang kusut itu, kita akan mengusulkan kembali, karena deadline sampai Senin, 11 Desember 2021, pukul 12.00 WITA,” bebernya.

Kondisi tersebut, tandas Florianus, karena ada nama kampung, nama mayat (identitas orang meninggal, red), dan nama lain.

“Itulah benang kusut yang harus diluruskan,” pungkasnya.

Penulis dan foto (*/ Melkianus Nino)

Editor (+roni banase)

Kristiana Muki Dorong Tenun TTU Masuk Mulok & Tercatat di Kemenkumham

969 Views

Kefa-T.T.U, Garda Indonesia | Anggota DPR RI Komisi II Fraksi Partai NasDem, Kristiana Muki, S.Pd., M.Si. mendorong agar kain tenun asal Timor Tengah Utara (T.T.U), lebih ditonjolkan dan diangkat sebagai kekayaan luar biasa.

“Jangan sampai besok sampai ke depannya ada yang mengklaim tenun T.T.U,” ucapnya kepada Garda Indonesia dalam sesi wawancara eksklusif pada akhir Juni 2020 di kediamannya di Naen, Kefamenanu.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/06/25/kristiana-muki-sosok-sederhana-pemerhati-anak-dan-perempuan/

Ia pun mengakui suka dengan corak-corak yang dari Insana, Biboki hingga corak-corak lainnya hingga menjadi koleksi.

Kita juga berupaya mendorong lewat OPD terkait agar dicatatkan di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Provinsi NTT. “Namun, ego sektoral masih sangat tinggi. Beberapa orang menganggap itu biasa. Ke depan perlahan-perlahan akan hilang,” ungkapnya seraya berharap kondisi tersebut dapat terkikis secara bertahap.

Ia juga meminta agar menenun dimasukkan dalam muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah di Kabupaten T.T.U. “Saya juga mengusulkan di salah satu sekolah tempat saya mengajar dulu untuk menenun dimasukkan dalam mata pelajaran muatan lokal,” urainya.

Lanjutnya, “Kita tidak akan tahu budaya ini bertahan sampai kapan, makanya saya mendorong SMP Negeri Fatunfaun dan SMP Maubesi juga memulai hal begini.”

Paling tidak, imbuh wanita berusia 45 tahun yang selalu tampil sederhana, namun modis dengan balutan tenunan khas T.T.U ini memaparkan bahwa kita harus bisa mengajarkan kepada anak-anak tentang keragaman, keunikan, dan cara menenun.

“Tidak semua kita menjadi PNS, banyak yang melamar tapi hanya satu hingga dua orang yang lolos. Kita bisa memulai dari hal-hal seperti ini [menenun]. Tahun kemarin saya juga mendorong bapak [Bupati T.T.U] agar mendukung saya agar semua sekolah memakai rompi adat pada hari Kamis atau acara-cara tertentu,” tandas istri Bupati T.T.U, Raymundus Sau Fernandes ini dengan penuh keyakinan.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Tapak Tilas Kota Kefa, Refleksi Terbentuknya Kab.Timor Tengah Utara

582 Views

Kefa-T.T.U, Garda Indonesia | 22 September 2019, Kefamenanu sebagai ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-97. Berbagai kegiatan perayaan dilaksanakan oleh Pemkab TTU seperti Pameran dan Pesta Rakyat di pelataran Kantor Bupati, Tarian Bonet massal, upacara bendera bernuansa budaya dan tapak tilas.

Tapak Tilas Kota Kefamenanu diikuti oleh 35 tim (1 tim 5 orang) dari pelajar SMA/SMK dan unsur masyarakat yang menempuh rute kurang lebih 40 km dengan rute awal di Noeltoko Kecamatan Miomafo Barat kemudian melalui beberapa etape dan berakhir di Kantor Bupati TTU. 35 tim Tapak Tilas dilepas oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten TTU, Fransiskus Tilis pada Sabtu, 21 September 2019 pukul 09.30 WITA dan akan menggapai etape akhir di Lapangan Oemanu pada Minggu sore, 22 September 2019.

Sekda Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Fransiskus Tilis

Kepada Garda Indonesia, Sekda TTU menyampaikan bahwa tapak tilas ini terjadi saat salah satu ASN Pemkab TTU, Wilibrodus Silab yang menelusuri sejarah pembentukan pemerintahan TTU.

“Penelusuran terbentuknya Kabupaten TTU merupakan proses panjang dan Noeltoko sebagai pusat pemerintahan awal namun kondisi Noeltoko dianggap pemerintah feodal (Pemerintah Hindia Belanda) tidak memadai sehingga dilakukan proses pencarian lokasi ibukota Kabupaten TTU hingga ditemukan Kefamenanu sebagai ibukota Kabupaten TTU,” jelas Frans Tilis sapaan akrabnya.

Lanjutnya, ibukota TTU sejak berdiri pada tahun 1922 terus berpindah di beberapa lokasi dan tapak tilas merupakan sebuah proses menapaki setiap proses pencarian tempat ideal untuk pusat pemerintahan.

“Tapak Tilas ini juga sebagai bentuk edukasi bagi generasi muda agar mereka dapat menghargai sejarah karena memperoleh sesuatu tidak semudah membalikkan telapak tangan dan harus melalui perjuangan panjang,” tegas Frans Tilis.

Selain itu, jelas Frans Tilis, Tapak Tilas ini juga dilombakan dan para peserta akan diberikan apresiasi saat puncak peringatan HUT Ke-97 Kota Kefamenanu.

Salah satu Tim Tapak Tilas Kota Kefamenanu

Disamping itu, Plt. Kadis Pariwisata Kabupaten TTU, Raymundus Thal menuturkan bahwa pemberangkatan 35 tim tapak tilas dilaksanakan pada Jumat, 20 September 2019 di Kantor Dinas Pariwisata kemudian menuju ke Noeltoko.

“Sebelumnya para peserta tapak tilas mengikuti pembekalan tentang kriteria penilaian kerja sama peserta, kekompakkan, pengetahuan umum dan sejarah Kota Kefamenanu,” terang Raymundus Thal.

Mengenai rute tapak tilas, Ray Thal menjabarkan, 35 tim Tapak Tilas menempuh rute dari Desa Noeltoko, Desa Oetulu, Desa Batnes, Desa Oeolo lalu menyusuri perbatasan TTU dan Timor Leste di Desa Nainaban dan Desa Inbate kemudian melalui Desa Buk dan bermalam di Desa Haumeni. Selanjutnya peserta melanjutkan tapak tilas ke Fatusuba, Fatusene, dan berakhir di Kefa.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)