Arsip Tag: Kementerian PPPA

Perkawinan Anak adalah Pelanggaran Hak Anak & Itu Bukan Pilihan

114 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Beberapa waktu lalu, media sosial diramaikan kontroversi seorang youtuber yang membuat video dan membagikan pengalamannya menikah dengan anak perempuan berusia 16 tahun pada 2019. Saat itu revisi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan belum disahkan sehingga celah tersebut membuat youtuber itu merasa bebas untuk mendramatisasi romantisme perkawinan usia anak.

Hal tersebut menimbulkan banyak kritikan karena tindakan tersebut dianggap dapat menormalisasi praktik perkawinan usia anak.

Media briefing “Kawin Usia Anak Bukan Pilihan” melalui video conference, pada Rabu, 20 Mei 2020.

“Perkawinan anak merupakan pelanggaran hak anak dan juga pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia),” tegas Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Lenny N Rosalin saat membuka media briefing “Kawin Usia Anak Bukan Pilihan” melalui video conference, pada Rabu, 20 Mei 2020.

Menurut Lenny, pembentukan konsepsi keluarga dalam perkawinan di era globalisasi mempengaruhi cara pandang anak sehingga orang dewasa di sekitar anak terutama orang tua perlu memberikan pemahaman yang benar kepada anak tentang konsep keluarga dan perkawinan.

“Kita harus bangun sebuah konsepsi agar anak sebelum melakukan perkawinan betul-betul harus dilandasi dengan nilai, bahwa perkawinan jangan dilihat manis-manisnya saja atau romantisnya saja, tapi di balik itu, banyak yang harus dipersiapkan pasca perkawinan itu sendiri,” jelas Lenny.

Menanggapi hal ini, Psikolog Allisa Wahid yang juga menjadi narasumber dialog menyebutkan masih ada cara pandang lama masyarakat tentang perkawinan yang akhirnya bisa melanggengkan perkawinan anak.

“Faktor yang utama itu adalah pandangan tentang anak perempuan. Artinya yang mendorong budaya, masyarakat bahkan keluarga hingga tokoh agama mendukung perkawinan anak karena anak perempuan itu dianggap tidak perlu sekolah tinggi atau cukup dengan menjadi istri. Ini yang perlu diubah,” jelas Allisa Wahid.

Menurut Allisa Wahid, dari posisi anak, alasan anak terdorong untuk melakukan perkawinan anak karena adanya informasi atau pengaruh eksternal. “Dari sisi anak, ternyata faktornya adalah karena mereka terjebak romantisme perkawinan. Terlalu banyak menonton film yang melihat bahwa kawin itu modalnya cukup cinta. Mengapa demikian? Ya karena memang masih anak jadi pemahaman mereka terhadap perkawinan masih belum cukup,” tambah Allisa.

Lenny mengingatkan agar seluruh pihak tidak menganggap isu perkawinan anak selesai hanya karena penetapan regulasi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menetapkan usia minimal perkawinan bagi anak perempuan menjadi 19 tahun telah disahkan. Ada tantangan baru yaitu pelibatan agen perubahan di era global saat ini.

“Anak itu adalah peniru ulung. Apapun yang dilakukan oleh orang dewasa, anak itu meniru dengan mudah. Nah, bagaimana agen-agen perubahan di era global dan digital saat ini bisa kita buat lebih produktif dan kreatif dalam keikutsertaannya mencegah perkawinan anak. Jangan sampai ini (perkawinan anak) dianggap bukan masalah oleh orang-orang tersebut. Menghentikan perkawinan anak adalah tanggung jawab semua pihak. Dibutuhkan sinergi bersama seluruh elemen masyarakat, lembaga, dunia usaha, dan media untuk mewujudkannya,” tambah Lenny.

Dalam dialog tersebut, turut menjadi narasumber antara lain Ketua Komisi Perlindungan Anak (KPAI) Susanto, Peneliti Media Roy Thaniago, Ketua Forum Anak Nasional (2019—2021) Tristania Faisa, dan jurnalis Sonya Hellen Sinombor sebagai moderator. Selain media, kegiatan tersebut juga diikuti ratusan orang dari berbagai elemen di antaranya Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dan Forum Anak dari berbagai daerah, aktivis perempuan dan anak, organisasi masyarakat, serta masyarakat umum. (*)

Sumber berita dan foto (*/Publikasi dan Media Kementerian PPPA)
Editor (+rony banase)

Kementerian PPPA Bagi 1.134 Paket Kebutuhan Spesifik Perempuan & Anak

100 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia, Bintang Puspayoga pada Jumat, 8 Mei 2020, memberikan paket pemenuhan kebutuhan spesifik perempuan dan anak yang merupakan kelompok rentan terdampak Covid-19.

Pemenuhan kebutuhan spesifik oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) pada tahap awal ini didistribusikan melalui 18 lembaga dan 21 kelurahan di wilayah DKI Jakarta dan diberikan kepada 1.134 orang yakni 407 balita dan anak (di bawah usia 18 tahun), 98 anak yang memerlukan perlindungan khusus, perempuan kepala keluarga, lansia dan penyandang disabilitas sebanyak 629 orang (lansia 468, disabilitas 81, dan perempuan kepala keluarga 80) yang berasal dari keluarga miskin atau pra-sejahtera di DKI Jakarta dan sekitarnya.

“Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memastikan hak perempuan dan anak terpenuhi. Kegiatan ini terlaksana atas dukungan para mitra dan jejaring kerja Kemen PPPA.

“Selama ini pemenuhan bantuan-bantuan yang sifatnya umum seperti sembako sudah ada. Nah, untuk bantuan sangat spesifik yang kami berikan hari ini fokus dulu di DKI Jakarta. Hari ini baru tahap pertama, menyusul tahap-tahap berikutnya juga akan diberikan bagi perempuan dan anak kelompok rentan terdampak lainnya,” ujar Menteri PPPA, Bintang Puspayoga.

Menteri PPPA Bintang Puspayoga saat menyampaikan arahan terkait pemberian paket pemenuhan kebutuhan spesifik perempuan dan anak yang merupakan kelompok rentan terdampak Covid-19.

Pemberian bantuan ini merupakan bentuk perhatian pemerintah dalam meringankan beban kelompok rentan khususnya para perempuan dan ibu yang terdampak Covid-19 dan kebijakan pembatasan sosial. Penyaluran bantuan ini diserahkan Menteri Bintang setelah sebelumnya dilakukan pendataan dan verifikasi oleh tim pendataan Kemen PPPA berkoordinasi dengan pemda, Gugus Tugas Penanganan Covid-19 tingkat provinsi serta para mitra dan jejaring kerja Kemen PPPA. Distribusi bantuan kepada kelompok perempuan dan anak diprioritaskan untuk mereka yang berada di daerah padat penduduk, dan daerah miskin perkotaan.

“Tentunya ini salah satu contoh yang ingin kita sampaikan kepada masyarakat luas baik pemerintah, dunia usaha, tokoh adat dan agama, bahwa di luar sana yang dibutuhkan masyarakat tidak hanya kebutuhan pokok saja tetapi ada kebutuhan spesifik baik untuk kebutuhan tumbuh kembang anak maupun kebutuhan kesehatan reproduksi bagi perempuan serta kebutuhan spesifik lansia,” terang Menteri Bintang.

Pemenuhan kebutuhan spesifik anak ditujukan bagi 5 kelompok, yakni anak usia 0—2 tahun, anak usia 3—4 tahun, anak usia 5—10 tahun, 10—17 tahun serta anak yang memerlukan perlindungan khusus. Bantuan yang diberikan tidak hanya untuk tambahan pemenuhan gizi dan nutrisi untuk proses tumbuh kembangnya, seperti kacang hijau, susu (hanya untuk anak di atas 2 tahun) dan vitamin, tetapi juga diapers (untuk bayi di bawah 2 tahun), sabun antiseptik, dan pembalut bagi perempuan dan remaja putri.

Sementara itu untuk bantuan spesifik perempuan dibagi ke 3 kelompok, yaitu perempuan disabilitas, perempuan lansia dan perempuan kepala keluarga. Bagi perempuan lansia berupa sabun, masker, suplemen, sarung tangan, susu dan diapers untuk perempuan lansia dan disabilitas.

Dalam acara tersebut hadir Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) beserta perwakilan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi DKI Jakarta, mitra, dan jejaring Kemen PPPA.

“Kami menyampaikan terima kasih atas inisiatif pemenuhan kebutuhan spesifik untuk anak-anak terdampak Covid-19 untuk keluarga yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, dan juga bagi para lansia. Ini sebuah perhatian yang istimewa. Paket spesifik ini mengingatkan dan mengetuk kesadaran semua pihak, bahwa ada kebutuhan khusus kelompok rentan khususnya perempuan, anak, lansia dan disabilitas”, ungkap Missy dari lembaga masyarakat Kapal Perempuan.

Di sisi lain, Mieke dari lembaga masyarakat Kalyanamitra mengungkapkan pada masa pandemi Covid-19 anak-anak yang masih di bawah usia 18 tahun juga terdampak. Kebutuhan akan asupan gizi tinggi, vitamin, susu dan kebutuhan lainnya sangat dibutuhkan, namun saat ini sulit dibeli.

“Kami sangat senang sekali, Kemen PPPA memberikan perhatian terhadap kondisi anak-anak yang terdampak Covid-dengan memberi bantuan kebutuhan spesifik mereka,” ujar Mieke dari lembaga masyarakat Kalyanamitra.

Menteri Bintang juga menegaskan, bahwa seluruh unit kerja yang memiliki tugas urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di daerah juga perlu melakukan langkah serupa, untuk pemenuhan kebutuhan spesifik perempuan dan anak kelompok rentan di wilayah masing-masing, dengan menggandeng mitra dan jejaring kerjanya.

“Kebijakan kami untuk tidak memotong anggaran dana dekonsentrasi, diharapkan dapat turut meringankan beban perempuan dan anak di masa pandemi Covid-19. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan semua pihak sangat penting, tidak hanya di masa pandemi tetapi juga di setiap saat, dalam upaya kita untuk melindungi hak perempuan dan demi kepentingan terbaik anak,” tutup Menteri Bintang.

Pemberian pemenuhan kebutuhan spesifik perempuan dan anak, juga menjadi bagian dari Gerakan #BERJARAK (Bersama Jaga Keluarga Kita) yang telah diinisiasi Kemen PPPA sejak Maret 2020, dan hingga hari ini telah dilaksanakan di 28 provinsi dan 382 kabupaten/kota. Gerakan #BERJARAK meliputi 10 Aksi yang digerakkan oleh relawan/kader, yakni: (1) Tetap di rumah; (2) Hak perempuan dan anak terpenuhi; (3) Alat perlindungan diri tersedia; (4) Jaga diri, keluarga, dan lingkungan; (5) Membuat tanda peringatan; (6) Menjaga jarak fisik; (7) Mengawasi keluar masuk orang dan barang; (8) Menyebarkan informasi yang benar; (9) Aktivasi media komunikasi online; dan (10) Aktivasi rumah rujukan.(*)

Sumber berita dan foto (*/Publikasi dan Media Kementerian PPPA)
Editor (+rony banase)

Kemen PPPA: Mendongeng Bisa Siasati Anak Bosan Akibat Dampak Covid-19

40 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengungkapkan bahwa mendongeng bisa menjadi sarana untuk menyiasati kebosanan anak sekaligus mengkomunikasikan kepada mereka tentang situasi yang terjadi sebagai akibat dampak pandemi Covid-19.

“Prinsipnya dunia anak-anak adalah dunia bermain,” kata Deputi Bidang Perlindungan Anak KPPPA, Nahar dalam keterangannya di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 -19, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, pada Minggu, 3 April 2020.

Pernyataan itu disampaikan menyusul survei dari Forum Anak Nasional pada akhir Maret 2020 yang melibatkan ratusan anak di seluruh Indonesia.

Survei tersebut menemukan bahwa sebagian besar anak sepakat bahwa gerakan di rumah saja merupakan gerakan yang sangat penting dilakukan di tengah pandemi Covid-19. Akan tetapi, hampir 60 persen anak merasa tidak terlalu senang saat harus menjalani proses belajar dari rumah.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa 30 persen di antaranya merasa ragu atau tidak percaya dengan informasi tentang Covid-19 yang mereka terima.

Menanggapi hal itu, Nahar mengatakan bahwa anak-anak pada prinsipnya senang bermain dan merasa senang ketika mereka diperbolehkan untuk belajar dari rumah sehingga memiliki banyak waktu untuk bermain.

“Jadi ketika diberikan kesempatan di rumah maka senang di awal,” ungkapnya.

Namun, seiring dengan tugas yang semakin banyak karena harus belajar di rumah, anak-anak merasa hal itu tidak sesuai dengan harapan mereka ditambah dengan fakta bahwa mereka tidak bisa lagi bermain di luar rumah.

Anak-anak, menurut dia, memiliki hak untuk bermain, tetapi hak tersebut sering kali berbenturan dengan kepentingan anggota keluarga yang lain.

Oleh karena itu, gerakan di rumah saja bisa menjadi gerakan yang membosankan ketika mereka tidak mendapatkan kesempatan bermain seperti yang mereka harapkan.

“Posisi harus di rumah, kemudian mulai bosan inilah yang harus diwaspadai,” ujar Nahar.

Untuk itu, ia mengatakan bahwa menggunakan sarana belajar seperti mendongeng, terutama untuk mengkomunikasikan kepada anak tentang situasi yang mengharuskan mereka untuk tetap tinggal di rumah, merupakan sarana yang bisa dijadikan sebagai sebuah pola untuk menyiasati agar anak-anak tidak bosan untuk tinggal di rumah.

Tentunya, membacakan dongeng dengan penuh variasi dan kehangatan dari orang tua juga diharapkan bisa meredam kecemasan anak terhadap situasi yang sedang terjadi akibat wabah Covid-19.(*)

Sumber berita (*/Tim Komunikasi Publik GT Nasional)
Foto utama oleh anakku.net
Editor (+rony banase)

Multi Peran Saat Pandemi, Perempuan Perlu Atur dan ‘Manage’ Waktu

50 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Memiliki peran ganda yakni sebagai seorang ibu dan perempuan bekerja merupakan tantangan besar bagi perempuan selama masa pandemi Covid-19. Hal ini dirasakan betul oleh Dian Sastrowardoyo, aktris dan sutradara sekaligus ibu dari dua anak. Menurut Dian, menjadi ibu sekaligus perempuan yang bekerja dalam waktu yang bersamaan merupakan tantangan tersendiri.

“Ini tantangan. Gara-gara pandemi malah rasanya jadi banyak kerjaan. Antara life (kehidupan) sama work (pekerjaan) sekarang jadi satu kan. Jadi, our life also feels like work (kehidupan kita juga terasa seperti bekerja), jadinya kayak nggak ada nafasnya” ujar Dian Sastrowardoyo dalam webinar “Covid-19 dan digitalisasi, Cara Baru Perempuan Melawan Pandemi” kerja sama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) dengan Sisternet milik XL Axiata, pada Rabu, 29 April 2020.

Hal ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh Dian Sastro, tapi juga menjadi kondisi yang dialami banyak ibu di tengah situasi pandemi Covid-19. Disampaikan oleh Ratna Susianawati, Staf Ahli Bidang Komunikasi pembangunan Kemen PPPA, beban ganda merupakan salah satu dari 6 isu utama sekaligus dampak yang dirasakan perempuan dalam situasi pandemi Covid-19.

Ratna Susianawati, Staf Ahli Bidang Komunikasi Pembangunan Kementerian PPPA

“Beban ganda perempuan menjadi lebih besar dengan adanya kebijakan bekerja dan belajar dari rumah. Selain itu, risiko perempuan mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) juga lebih tinggi. Ada juga dampak terhadap pekerja perempuan yang mengalami PHK atau di rumahkan, perempuan pekerja migran, medis serta pelaku usaha mikro dan ultra-mikro,” terang Ratna.

Ratna menambahkan, situasi pandemi Covid-19 semakin menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran sangat besar di dalam keluarga. Perempuan perlu pintar-pintar dalam mengatur ekonomi dan pola hidup sehat keluarga, mendampingi anak belajar di rumah serta bekerja juga tetap profesional. Perempuan dituntut mengatur waktu agar dapat memberikan yang terbaik bagi keluarga.

“Banyak sekali peran perempuan yang semua dimulai dari keluarga, tetapi tidak mengesampingkan peran-peran domestiknya. Jadi perempuan berperan mengatur dan menyeimbangkan waktu-waktu tersebut dengan baik. Tetap berusaha profesional dalam situasi yang serba sulit ini. Jangan lupa antar anggota keluarga juga saling membantu,” jelas Ratna.

Besarnya peran dan tanggung jawab yang diemban perempuan apabila tidak diseimbangkan dengan baik ternyata dapat berpengaruh pada psikologis dan kesehatan jiwa bahkan memicu timbulnya KDRT. Demi mengantisipasi hal tersebut, pemerintah meresmikan layanan konseling kesehatan jiwa gratis bernama Sejiwa.

“Menteri PPPA, Bintang Puspayoga bersama Kementerian Kesehatan dan BNPB baru saja meresmikan layanan kesehatan jiwa, atau Sejiwa. Layanan Sejiwa ini meliputi layanan edukasi, konsultasi publik dan pendampingan. Kemen PPPA dalam layanan ini bertugas memberikan pendampingan, yang layanannya bisa diakses oleh masyarakat melalui online dan offline,” ujar Ratna.(*)

Sumber berita dan foto (*/Publikasi dan Media Kementerian PPPA)
Editor (+rony banase)

Belajar dari Rumah, Momen Penting Penguatan Relasi Anak dan Orang Tua

120 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Situasi Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) menyebabkan anak-anak dan sebagian besar orang tua menghabiskan waktu di rumah. Dalam kurun waktu tersebut, keberadaan anak dan orangtua di rumah berdampak pada pola rutinitas mereka.

“Sebagian besar orang tua bekerja dari rumah dan anak menjalani pembelajaran jarak jauh. Perubahan pola hidup ini menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga,” ujar Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga membuka webinar atau seminar online dengan tema How to Manage School-From-Home for Mom in Covid-19 Pandemic pada Selasa, 21.April 2020.

Menteri Bintang menegaskan, anak memiliki hak untuk mendapatkan pengasuhan yang berkualitas. Meski menghadapi tantangan terutama dalam pola asuh dan proses belajar pada anak, ada berbagai aspek positif yang diperoleh jika Belajar dari Rumah (BdR) dijalani dengan sabar, kreatif, dan menyenangkan.

“Penting disadari orang tua bahwa momen kebersamaan ini jadi proses berharga untuk menguatkan kembali relasi orang tua dengan anak. Menguatkan komunikasi dengan anak secara terbuka, menjadi pendengar yang baik, melatih anak keterampilan dasar mengurus diri dan pekerjaan rumah sehari-hari, serta mendampingi anak-anak dalam pelaksanaan BdR,” jelas Menteri Bintang.

Seminar Online dengan tema How to Manage School-From-Home for Mom in Covid-19 Pandemic

Menteri Bintang juga mengajak keluarga Indonesia berperan dalam membangun sistem BdR yang menyenangkan bagi orang tua dan anak. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan di antaranya, mengatur jadwal dan suasana kondusif antara orang tua dengan anak termasuk pembagian peran antara ayah dan ibu, membuat sistem BdR yang menarik, misalnya bermain dan bernyanyi bersama sebelum kegiatan belajar dimulai atau memberikan hadiah, serta memastikan anak tetap dapat berinteraksi dengan teman-temannya dengan menerapkan physical distancing atau jaga jarak fisik.

“Teladan sikap orang tua sangat dibutuhkan bagi perkembangan anak. Anak-anak akan melakukan imitasi atau meniru dari lingkungan terdekatnya. Oleh karena itu, peran orang tua, termasuk pembagian tugas yang setara antara ayah dan ibu sangat penting bagi tumbuh kembang mereka,” ujar Menteri Bintang.

Dalam webinar, Dr. Nur Afny Dosen Universitas Tenri Abeng juga membagikan beberapa tips dalam mendampingi anak belajar di rumah. “Love your kids atau cintai anak kita. Orang tua juga perlu belajar komunikasi yang efektif dengan anak, memahami fase dan gaya belajar anak sehingga bisa menerapkan metode ajar yang tepat, serta memahami kesiapan belajar anak,” terang Nur Afny.

Berlangsung selama 2 jam 30 menit, seminar online yang diselenggarakan oleh Women in Engineering (WIE) IEEE Indonesia diikuti oleh 12 Doktor Teknik Elektro Perempuan Indonesia sebagai pemateri dan masyarakat dari berbagai kalangan. Seminar ini diselenggarakan sebagai upaya bersama untuk mencari solusi bagi ibu-ibu Indonesia yang saat ini menghadapi tantangan dalam memberikan pendidikan terbaik bagi anak di rumah.(*)

Sumber berita dan foto (*/ Publikasi dan Media Kementerian PPPA)
Editor (+rony banase)

Kementerian PPPA: Survei AADC-19 Sebagian Besar Anak Waspada Covid-19

210 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) sebagai bagian dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menemukan fakta bahwa sebagian besar anak menjadi waspada terhadap wabah Covid-19. Hal tersebut diperoleh berdasarkan survei Ada Apa Dengan Covid-19 (AADC-19) yang digagas melalui “Forum Anak Nasional”.

Beberapa respons yang ditunjukkan tiap anak melalui survei tersebut berbeda-beda. Ada sebagian yang paranoid, merasa takut dan ada yang biasa saja dalam menyikapi Covid-19. Bagi orang tua, hal itu patut diwaspadai karena dapat mengganggu psikologi anak bahkan bagi yang merasa biasa saja dapat membuat anak lebih tidak peduli dan abai terhadap anjuran pencegahan dari Pemerintah.

“Namun, ada juga yang merasa paranoid, takut dan biasa saja. Ini harus diwaspadai karena dapat mengganggu psikologisnya, atau menganggap hal ini yang biasa juga akan membuat anak tidak peduli terhadap kondisi saat ini,” ujar Sekretaris Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak KPPPA, Eko Novi Ariyanti dalam konferensi pers di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, pada Sabtu, 11 April 2020.

Survei AADC-19 dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui persepsi dan pengetahuan anak tentang Covid-19, program belajar di rumah serta perasaan dan harapan anak dalam situasi saat ini. Pengumpulan data dilakukan melalui pesan berantai WhatsApp oleh jaringan pengurus Forum Anak Seluruh Indonesia yang dilakukan selama empat hari, yakni 26—29 Maret 2020.

Dalam survei tersebut respondennya adalah anak-anak usia di bawah 18 tahun atau usia 8—17 tahun, dengan persentase terbanyak usia 14 tahun. “Sebanyak 69 persen respondennya adalah anak perempuan, serta 31 persen adalah anak laki-laki,” ujar Novi Ariyanti.

Dalam survei itu, beber Novi, diperoleh hasil bahwa 98 persen anak merasa bahwa Covid-19 berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola hidup yang bersih dan sehat. Kemudian, 74 persen anak melihat bahwa kondisi lingkungan di sekitar mereka masih banyak yang keluar rumah. “10 persen anak mengetahui ada ODP, PDP, dan positif Covid-19 di lingkungan mereka,” ungkapnya.

Lalu, sebanyak 18 persen anak mengaku bahwa ada keluarganya yang bertugas sebagai tenaga medis Covid-19 yang mana hal itu membuat anak memiliki reaksi bangga namun juga cemas. “Hal ini membuat mereka cemas sekaligus bangga,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Eko Novi Ariyanti juga menyampaikan harapan anak terhadap situasi wabah Covid-19, mereka berharap kondisi saat ini dapat tertangani dan cepat usai sehingga dapat kembali seperti sedia kala sebelum Ramadhan tiba. “Situasi saat ini juga diharapkan menjadi momen perekat keluarga. Mereka berharap juga semua orang bisa menaati peraturan di rumah saja,” ucapnya.

Sementara itu, dalam persepsi anak tentang belajar di rumah saja, Eko Novi Ariyanti menyampaikan anak-anak mengharapkan mendapatkan akses internet gratis karena mereka juga banyak belajar di rumah. “Sebagian besar anak menganggap gerakan di rumah saja merupakan hal yang penting,” paparnya.

Kemudian, 58 persen anak mempunyai perasaan yang tidak menyenangkan selama belajar di rumah saja. Sebab, bagi sebagian anak mereka sulit untuk berinteraksi dengan teman-temannya secara langsung. “Hal itu karena mereka sulit berinteraksi dengan teman-temannya,” ucap Novi.

Selanjutnya ada beberapa anak yang berharap agar tidak terlalu banyak mendapatkan tugas belajar saat menjalankan program belajar di rumah. Selain itu, diharapkan ada penyediaan fasilitas internet serta perangkatnya yang mumpuni dan juga ada video interaktif.

“Kemudian diharapkan juga ada komunikasi dua arah dan pelaksanaan pembelajaran yang efektif,” pungkas Eko Novi Ariyanti.(*)

Sumber berita dan foto (*/Agus Wibowo– Kapus Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB)
Editor (+rony banase)

Peran Serta Dunia Usaha, Dorong Hak Anak Terpenuhi

73 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Kementerian PPPA melalui Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi, Ciput Eka Purwianti, bersama Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta H Abraham Lunggana dan Direktur PT. Sari Coffee Anthony Cottan ikut meresmikan Gerai Starbucks Community Store pertama di Indonesia di Pasar Tanah Abang, Blok B pada Sabtu, 22 Februari 2020.

Pembukaan Starbucks Community Store ini bermitra dengan Yayasan Komunitas Sahabat Anak (YKSA) dan Indonesia Street Children Organization (ISCO), dimana hasil penjualan nantinya akan didonasikan kepada masyarakat sekitar Tanah Abang, khususnya untuk mendukung pendidikan anak-anak. Dukungan yang diberikan berupa beasiswa dan kegiatan mengisi waktu luang bagi anak-anak melalui pelajaran seni tari dan Bahasa Inggris di gedung Community Store.

“Kami sangat mengapresiasi peran serta dunia usaha juga masyarakat dalam melakukan perlindungan bagi anak. Kami harap Starbuck Indonesia akan membuka community stores lainnya di Indonesia dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kami berharap juga bisa dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan untuk anak yang akan dilakukan oleh YKSA dan ISCO,” ujar Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi Kemen PPPA, Ciput Eka Purwianti.

Menurut pihak Starbucks, Tanah Abang merupakan kawasan perputaran ekonomi yang cukup tinggi namun banyak anak-anak yang ikut mencari nafkah di jalan untuk membantu orang tua, sehingga salah satu hak mereka terhadap akses pendidikan menjadi terputus.

“Kami berharap ke depan akan semakin banyak community store yang bisa dibangun di Indonesia sehingga semakin banyak masyarakat yang bisa terbantu terutama dapat memberikan perlindungan bagi anak secara maksimal,” ujar Direktur Starbucks Indonesia, Anthony Cottan.

Dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan pendidikan, kedua mitra juga akan melibatkan volunteer, baik dari kalangan umum maupun staf Starbuck Indonesia. Untuk itu, Ciput mengingatkan agar volunteer harus mendapatkan pelatihan tentang Konvensi Hak Anak (KHA) dan Sistem Perlindungan Anak termasuk kode etik dalam bekerja dengan anak. Kemen PPPA juga siap bekerjasama dengan YKSA dan ISCO untuk memberikan materi terkait KHA, SPA, dan kode etik dimaksud agar kepentingan terbaik anak terpenuhi dan terlindungi.(*)

Sumber berita (*/Publikasi dan Media Kementerian PPPA)
Editor (+rony banase)

Awasi Anak Berinternet, Menteri Bintang : “Orang tua dan Guru Jangan Gaptek”

163 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga meminta orang tua dan guru terlibat aktif mengawasi anak saat menggunakan internet. Mereka diharapkan dapat membantu mengantisipasi konten internet yang tidak sesuai bagi anak.

“Kami harapkan peran aktif para orang tua dan guru, karena orang tua dan guru merupakan pendidik dan pelindung utama bagi anak. Mudah-mudahan seperti harapan anak agar orang tua tidak gagal teknologi (gaptek) dan bisa mengikuti perkembangan, sehingga kita bisa mengawasi anak-anak dalam berinternet,” ujar Menteri Bintang Puspayoga dalam acara peluncuran ‘Tangkas Berinternet’ yang diselenggarakan Google Indonesia pada Senin, 10 Februari 2020.

Menteri Bintang menyebutkan, masyarakat yang mengakses internet dari tahun ke tahun meningkat termasuk usia anak. “Berdasarkan data BPS (2018), 25,62% penduduk yang mengakses internet adalah anak usia 5—18 tahun. Tak bisa dipungkiri, saat ini kita hidup di era digital,” kata Menteri Bintang.

Besarnya jumlah pengguna serta tingginya mobilitas pengguna dalam mengakses internet ditekankan Menteri Bintang perlu disertai kewaspadaan semua pihak akan risiko yang bisa timbul kemudian.

Menteri PPPA Bintang Puspayoga memberikan pengarahan saat peluncuran ‘Tangkas Berinternet’ yang diselenggarakan Google Indonesia pada Senin, 10 Februari 2020.

“Internet akan bermanfaat khususnya bagi anak-anak kita kalau itu dimanfaatkan secara positif. Itu (internet) akan membantu mereka dalam hal belajar dan mengembangkan dirinya. Tapi juga ada hal-hal yang rentan terjadi pada anak-anak yang perlu kita waspadai,” kata Menteri Bintang.

Menurut Kepala Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah dari Google Indonesia, Puteri Alam, 1 dari 3 pengguna internet adalah anak-anak. Oleh sebab itu, Google meluncurkan ‘Tangkas Berinternet’ sebagai program literasi digital dan keamanan online guna meningkatkan ketahanan berinternet pada anak.

“Tangkas berinternet menyediakan konten berbasis web yang dapat membantu mengajarkan konsep literasi digital dan keamanan online kepada anak-anak dengan bantuan guru dan orang tua,” kata Puteri Alam.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Bintang mengapresiasi program yang diluncurkan Google Indonesia karena ikut mendorong peran serta orang tua dan guru. Terkait pemanfaatan internet, Menteri Bintang juga menyampaikan pesan khusus kepada anak Indonesia. “Demikian juga bagi anak-anak, mudah-mudahan internet ini dimanfaatkan sebaik mungkin dalam hal positif dan bermanfaat bagi pengembangan dirinya,” tutup Menteri Bintang.(*)

Sumber berita (*/Publikasi dan Media Kementerian PPPA)
Editor (+rony banase)