Arsip Tag: pejuang eks timor timur

Tahap I, 328 Pejuang Eks Timor Timur Terima Piagam & Pin Bela Negara

412 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Mulai saat ini,  saya tidak mau dengar lagi bahwa ini bekas pejuang Timor-Timur. Tetapi Anda adalah Warga Negara Republik Indonesia, titik!. Tidak boleh ada dikotomi di NTT,  ini berasal dari ini, itu dari situ. Anda adalah WNI yang berdomisili di NTT dan menjadi penduduk NTT,” tegas Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Josef Nae Soi usai menyerahkan Piagam dan Pin Bela Negara Bagi Masyarakat NTT di Kompleks  Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) El. Tari, pada Kamis, 4 Maret 2021.

Penegasan tersebut disampaikan Wagub Nae Soi kepada 11.485 warga masyarakat NTT yang menerima piagam penghargaan, yang sebagian besar adalah eks pejuang Timor-Timur. Pemberian penghargaan ini akan diberikan secara bertahap selama 4 kali sampai dengan bulan Agustus 2021.  Untuk tahap pertama diberikan kepada 328 orang.

Wagub Nae Soi memberikan apresiasi khusus kepada para penerima penghargaan dari kalangan masyarakat eks Timor-Timur. Kesetiaan dan perjuangan untuk tetap memilih jadi Warga Negara Indonesia dan  menetap di NTT merupakan suatu bentuk kecintaan kepada NKRI.

“Saya minta kepada masyarakat NTT, tidak boleh ada dikotomi lagi dengan saudara-saudara kita ini. Saya yakin  perhatian Pemerintah Pusat tidak hanya sebatas kertas piagam penghargaan,” pintanya.

Foto bersama Wagub Josef Nae Soi dengan Pejuang Eks Timor Timur penerima Piagam dan Pin Bela Negara

Berdasarkan Keputusan Menteri Pertahanan (Menhan) Nomor Kep/1189/M/XII, masyarakat penerima Piagam dan Pin Bela Negara diharapkan dapat memperkuat Sistem Senjata Sosial (Sissos) terutama dalam membangun NTT menuju sejahtera. “Bela Negara tidak selamanya identik dengan angkat senjata untuk berperang yang kita kenal dengan Sistem Senjata Teknologi (Sistek). Tetapi bagi kita yang sipil, kita harus gunakan Sissos. Dengan bekerja keras dan membangun Nusa Tenggara Timur untuk bangkit menuju sejahtera sesuai profesi kita masing-masing, itulah salah satu bentuk bela negara,” urai Nae Soi.

Konsep Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata), imbuh Wagub Nae Soi, masih relevan dengan keadaan negara sekarang,  terlebih dengan Sissos. Karena sekarang tidak lagi perang fisik,  tapi perang untuk melawan penyakit-penyakit sosial. “Kita harus perkuat Sissos dengan menjaga Nusa Tenggara Timur, Nusa Terindah Toleransi dan Nusa Tanpa Terorisme. Karena matahari terbit dari Timur, Kita bangun Indonesia dari NTT. Membangun kerukunan civilius, bukan kerukunan semu.  Tidak hanya toleransi dogmatis artinya keyakinan saya tidak boleh diganggu gugat,  tapi juga membangun toleransi civilius ketika berhadapan dengan dan berinteraksi dengan orang lain yang tidak sesuku dan seagama,” terangnya.

Sementara itu, Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan  Dirjen Potensi Pertahanan (Pothan)  Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Mayjen (TNI), Dadang Hendrayudha mengatakan, kegiatan pemberian penghargaan dan Pin Bela Negara merupakan salah satu wujud penghargaan negara kepada Warga Negara Indonesia yang berjasa dalam bentuk bela negara. Menegakkan dan mempertahankan keutuhan NKRI serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.  Kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuh kembangkan semangat bela negara bagi semua komponen bangsa.

“Saya mengucapkan selamat kepada masyarakat NTT khususnya para penerima penghargaan yang pernah berjuang di Timor-Timur. Kesetiaan saudara-saudara kepada NKRI diwujudkan dengan tetap memilih jadi WNI setelah jajak pendapat tahun 1999. Karenanya, (saudara-saudara) berhak untuk terima penghargaan atas jasa dan pengorbanan ini. Piagam dan Pin ini merupakan bentuk komitmen pemerintah serta mengukuhkan saudara-saudara sebagai kader bela negara,” jelas Prabowo Subianto dalam sambutan tertulisnya. (*)

Sumber berita dan foto (*/Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT)

Editor (+roni banase)

21 Tahun Pejuang Eks Timor-Timur Ditelantarkan Pemerintah Indonesia

529 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Bertepatan dengan kunjungan kerja Menko Polhukam RI, Prof. Mahfud MD dan Mendagri, Prof. Tito Karnavian ke Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Kamis 18 Juni 2020; sejumlah perwakilan Eks Pejuang Timor- Timur menggelar Jumpa Pers di Atambua.

Para eks pejuang integrasi yang tergabung dalam Paguyuban Pejuang Timor-Timur (PPTT) itu, diketuai oleh Mantan Komandan Sektor C Pasukan Pejuang Integrasi, Cancio Lopes De Carvalho, S.H. Anggota paguyuban itu pun, kini tersebar di tiga kabupaten, Belu, Malaka, dan Timor Tengah Utara (T.T.U).

“Kami minta kepada pemerintah RI untuk segera memperjelas status hukum terhadap 401 pejuang yang dituduh sebagai pelanggar HAM berat tahun 1999 oleh PBB. Kami juga usulkan 4.115 pejuang dan korban politik Timor- Timur untuk diangkat menjadi Veteran RI dan diberikan bantuan kompensasi sesuai kemampuan keuangan negara,” demikian poin aspirasi tertulis yang disebutkan Cancio di hadapan wartawan.

Menurut Cancio, pihaknya tidak bisa menemui kedua pejabat negara itu lantaran tidak masuk dalam agenda kerja Melko Polhukam dan Mendagri.

“Kami sudah minta bupati untuk agendakan tetapi terlambat. Karena itu, bupati minta kami tuangkan dalam bentuk tulisan, dan kami sudah serahkan ke bupati. Selanjutnya, bupati yang teruskan kepada menteri,” cerita Cancio De Carvalho kepada wartawan sembari menuturkan bahwa jika kelompoknya dituduh melanggar HAM berat, kenapa selama 21 tahun ini tidak diproses untuk diadili? Kenapa dibiarkan terlantar?

Cancio De Carvalho juga menegaskan, apabila aspirasinya tidak diindahkan maka pihaknya akan menyatakan sikap melalui pagelaran Kongres Terbuka di Kota Atambua.

Terpisah, Bupati Belu Willybrodus Lay yang dikonfirmasi Garda Indonesia terkait aspirasi PPTT ini melalui telepon dan pesan Whatsapp pada Sabtu, 20 Juni 2020 pagi, belum memberikan respons. (*)

Penulis + foto (*/HH)
Editor (+ rony banase)