Arsip Tag: pendidikan vokasi

Pemerintah Siapkan Peta Jalan Pendidikan 2020—2035

451 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Perubahan global serta disrupsi teknologi yang berdampak pada seluruh sektor, termasuk pendidikan, menuntut adanya adaptasi atau penyesuaian terhadap sistem pendidikan mulai dari prasekolah, dasar, menengah, vokasi, hingga pendidikan tinggi harus mampu menjawab kebutuhan dari perubahan besar yang ada saat ini.

Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo bersama dengan jajaran terkait menggelar rapat terbatas melalui telekonferensi pada Kamis, 4 Juni 2020, yang membahas tentang peta jalan pendidikan tahun 2020—2035. Kepala Negara dalam pengantar rapat terbatas mengatakan bahwa negara kita harus dapat mengantisipasi perubahan-perubahan besar yang terjadi.

“Kita harus mengantisipasi perubahan-perubahan besar yang terjadi di dunia ini mulai dari disrupsi teknologi yang berdampak pada semua sektor baik penerapan otomatisasi, artificial intelligence, big data, internet of things, dan lain-lain. Kita juga harus mengantisipasi perubahan demografi profil sosio-ekonomi dari populasi yang termasuk perubahan dalam pasar tenaga kerja yang lebih fleksibel, perubahan lingkungan, hingga perubahan struktural yang sangat cepat akibat pandemi Covid yang kita alami sekarang ini,” ujarnya dari Istana Merdeka, Jakarta.

Banyak negara telah mengadaptasi sistem pendidikan mereka untuk dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan perubahan-perubahan tersebut. Sebab, cara kerja di masa mendatang tentu akan jauh berbeda dengan cara kerja yang dialami saat ini dan bahkan di masa lalu.

“Cara bekerja pada masa depan akan jauh lebih berbeda dengan yang kita alami hari ini, maka pembentukan SDM yang unggul di masa depan tidak bisa lagi berdasarkan perkembangan ilmu yang dibentuk berdasarkan tren masa lalu, tapi (mengacu) tren masa depan,” kata Presiden.

Tolok ukur mengenai hal tersebut selanjutnya dapat diperoleh melalui benchmarking terhadap negara-negara yang diketahui telah berhasil mengadaptasi sistem pendidikan mereka. Di antaranya ialah Australia untuk sistem pendidikan anak usia dini, Finlandia untuk sistem pendidikan dasar dan menengah, Jerman untuk pendidikan vokasinya, hingga Korea untuk sistem perguruan tinggi mereka.

Namun, Presiden Joko Widodo mengingatkan bahwa sumber daya manusia (SDM) yang nantinya hendak dicapai oleh adaptasi sistem tersebut merupakan SDM yang berkarakter, berakhlak mulia, serta memegang nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila. Seadaptif apa pun sistem pendidikan kita yang harus berubah, pendidikan karakter terhadap keluhuran bangsa tidak boleh ditinggalkan.

“Pendidikan karakter tidak boleh dilupakan karena ini merupakan hal yang sangat penting dalam pembangunan mental dan karakter bangsa,” tuturnya.

Kemudian, dalam mengimplementasikan peta jalan pendidikan 2020—2035 tersebut, diperlukan pula target-target tinggi dan terukur mengenai hasil belajar berkualitas, perbaikan kualitas guru, kurikulum, maupun infrastruktur sekolah, dan bagaimana mewujudkan distribusi pendidikan yang inklusif dan merata.

Kepala Negara juga menegaskan, berhasilnya reformasi di bidang pendidikan ini tidak hanya ditentukan oleh satu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saja, melainkan harus didukung pula oleh segenap komunitas pendidikan, kementerian dan lembaga lain, masyarakat, pemerintah daerah, juga kemitraan dengan pihak swasta.

“Karena reformasi pendidikan bukan hanya mencakup penyesuaian kurikulum, pedagogi, dan metode penilaian, tapi juga menyangkut perbaikan infrastruktur, penyediaan akses teknologi, dan yang berkaitan dengan dukungan pendanaan,” tandasnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/BPMI Setpres)
Editor (+rony banase)

Lepas 25 Peserta Vokasi Pariwisata ke Australia, Ini Pesan Wagub Josef

311 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Bertempat di Ruang Rapat Gubernur NTT, pada Jumat, 6 September 2019, Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi resmi melepas 25 Peserta Program Pendidikan Vokasi Pariwisata yang diberangkatkan ke Universitas Griffith, Australia.

Pada kesempatan tersebut turut hadir Sekretaris Daerah NTT, Benediktus Polo Maing dan Kepala Dinas Koperasi, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dra. Sisilia Sona.

Josef Nae Soi dalam arahannya kepada peserta mengatakan agar para peserta bisa belajar manajemen pariwisata melalui program tersebut.

“Saya mau agar kalian (para peserta) bisa belajar hal-hal praktis mengenai pariwisata di sana. Supaya ketika kembali ke NTT nanti bisa diterapkan. Anda harus mampu mengaplikasikan manajemen pariwisata yang baik,” jelas Wagub Josef.

Ia menambahkan pentingnya mempelajari pariwisata dengan 5 A yakni Atraktif, Akomodasi, Aksesibilitas, Ammenity (kenyamanan dan kenikmatan) dan Awarness (kesadaran).

“Kalian bisa mempelajari bagaimana di Kota Gold Coast ada pasar tradisional yang memikat pengunjung. Kemudian pantai yang menjadi wisata. Ada juga hotel, homestay serta makanan yang disajikan sederhana namun higienis. Anda harus mampu mempelajari pola manajemen pariwisata dan harus menirunya. Anda juga bisa mempelajari bagaimana masyarakat di sana menjaga kebersihan dan tata kelola wisata,” jelasnya.

Wagub Josef menginginkan agar setelah mengikuti program tersebut para peserta bisa membantu pemerintah untuk menularkan cara kerja dan pengelolaan pariwisata yang baik pada masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi NTT Dra. Sisilia Sona menjelaskan 25 peserta tersebut merupakan hasil seleksi di mana kemampuan bahasa inggris mereka sangat baik.

“25 peserta ini telah melewati beberapa tahapan seleksi. Termasuk TOEFL dengan skor 500 dan juga ada yang melampaui. Mereka akan belajar selama 5 minggu di Australia,” jelas Sisilia.

Sisilia menambahkan, setelah para peserta pulang maka sudah ada perjanjian kerja dengan Pemerintah daerah sesuai dengan bidang apa yang akan mereka kerjakan nanti.

Alberto Selan, salah satu peserta mengatakan sangat berterima kasih kepada Pemerintah NTT yakni Gubernur dan Wakil Gubernur yang sudah bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana dan Dinas Koperasi, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kopnakertrans) dalam mengadakan program pendidikan vokasi tersebut dan kiranya Pemerintah diharapkan untuk terus mendukung program tersebut sebagai salah satu cara untuk membentuk kualitas sumber daya manusia.

“Setelah kami kembali nanti akan ada project dari masing-masing peserta di bidang kuliner, pelestarian budaya dan enterpreneur,” jelas Alberto.(*)

Sumber berita (*/Meldo Nailopo—Biro Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Kadin Indonesia Tanggapi Positif Pidato Visi Indonesia Presiden Jokowi

189 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Jokowi secara lugas, tegas dalam rangkaian kata-kata sederhana pada pidatonya di SICC Sentul Bogor, pada Minggu 14 Juli 2019. Sebagian besar masyarakat Indonesia memberikan apresiasi yang baik atas pidato tersebut, demikian disampaikan Eddy Ganefo Ketua Umum Kadin Indonesia kepada IMO-Indonesia, Selasa 16 Juli 2019.

Baca juga:

https://gardaindonesia.id/2019/07/15/pidato-presiden-terpilih-pilpres-2019-joko-widodo-visi-indonesia/

Tidak terkecuali bagi dunia usaha pun menyambut positif Visi Indonesia, dan berhasil membangun kepercayaan para investor dan menggairahkan pelaku usaha nasional.

Indonesia diprediksi akan menjadi 5 (lima) besar kekuatan ekonomi dunia, dimana pada 2045, lebih dari 70% penduduk Indonesia akan berada pada usia produktif.

Hal tersebut merupakan salah satu kekuatan yang akan menopang pertumbuhan ekonomi yang baik. Tentu harus diiringi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia yang dapat bersaing, bukan hanya di dalam negeri, namun juga di tingkat dunia.

“Salah satu fokus Visi Indonesia adalah meningkatkan kualitas SDM yang unggul merupakan langkah bijak dan patut didukung semua pihak”, ujar Eddy mengapresiasi.

Namun, lanjut Eddy, bukan hanya peningkatan kualitas SDM dengan tujuan menjadi karyawan, namun perlu juga vokasi pendidikan untuk mempersiapkan talenta pelaku usaha yang mampu berkembang dengan baik dan mampu bersaing.

“Jumlah pelaku usaha nasional masih kalah dibanding dengan negara tetangga, dan bahkan paling rendah di Asia Tenggara dengan jumlah hanya 3,1% dari total penduduk”, ungkap Eddy.

Sementara Malaysia dan Singapura sudah diatas 5%, bahkan negara – negara maju rata-rata diatas 10%. Vokasi Pendidikan dalam mempersiapan pelaku usaha , memiliki peran penting didalam mempersiapkan jumlah pelaku usaha nasional, dan setidaknya minimal 5% dari total penduduk, merupakan pengusaha.

Pendidikan Vokasi yang diperlukan tidak hanya untuk calon pengusaha, namun juga memberikan bimbingan dan arahan yang baik bagi pelaku usaha yang ada untuk berkembang, baik dari usaha Mikro menjadi usaha Kecil, dari usaha Menengah menjadi pengusaha besar dan seterusnya.

“Masih minimnya kompetensi pelaku usaha nasional saat ini, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, namun segenap pihak terkait tanpa terkecuali. Kadin Indonesia yang terus melakukan pembinaan kepada pelaku usaha dan mendorong memperbanyak vocational training bidang entrepreneurship”, tutur Eddy.

Eddy Ganefo, Ketua Umum Kadin Indonesia

Daya beli masyarakat merupakan salah satu yang mempengaruhi bangkitnya pelaku usaha nasional. Investasi dari para investor sangat berperan didalam mengurangi pengangguran yang berdampak meningkatnya daya beli masyarakat. Daya beli dan investasi merupakan dua factor yang menjadi bagian yang saling mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

“Selain fokus pada peningkatan kualitas SDM, Visi Indonesia juga mengupas untuk mengundang Investor dalam dan luar negeri seluas-luasnya dengan memangkas jalur perijinan menjadi lebih cepat, dan reformasi birokrasi”, beber Eddy.

Hal tersebut dapat memberikan kepercayaan kepada pelaku Investasi baik dalam maupun luar negeri, dan menggairahkan bagi pelaku usaha lainnya didalam melakukan kerjasama Business to Business.

Kadin Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Infrastruktur dan Kontruksi Nasional, telah menyikapi hal ini dengan membentuk Tim Pengembangan Kawasan Terintegrasi yang membutuhkan investasi yang cukup besar didalam membangun kawasan yang belum tersentuh dan memiliki potensi yang baik berbasis wisata, dengan dukungan kelanjutan pembangunan infrastruktur yang dapat menyambungkan berbagai kawasan bisnis yang juga merupakan bagian fokus dari Visi Indonesia.

Saat ini merupakan era Revolusi Industri 4.0, dimana percepatan dan kemudahan berbagai hal akan terjadi. Teknologi yang tidak dapat kita tolak, namun perlu pengembangan banyak hal, baik dari sisi Sumber Daya Manusia, Investasi teknologi dan Regulasi yang mendukungnya.

Menurut Eddy, salah satu dampaknya akan banyak produk – produk luar negeri yang akan masuk ke Indonesia dengan harga yang lebih murah dan berdampak tergerusnya produk dalam negeri yang kurang efisien. Mesikipun banyak dari masyarakat yang menolak masuknya produk – produk luar negeri, namun tetap saja mereka mengkonsumsinya, karena lebih menguntungkan baik dari sisi harga yang lebih murah dengan mutu yang bersaing.

Perlu pembinaan dan bimbingan yang berkelanjutan bagi pelaku usaha dalam negeri agar lebih efisien dan efektif, agar baik mutu maupun harga dapat bersaing dengan produk luar negeri. Perlu suatu gerakan untuk lebih mencintai produk – produk dalam negeri, dengan mensosialisasikan secara terus menerus, baik oleh pemerintah maupun pihak – pihak terkait lainnya.

Kadin Indonesia akan mendukung Visi Indonesia yang disampaikan oleh Bapak Presiden Indonesia Ir. Joko Widodo. Kadin Indonesia memandang 5 hal yang disampaikan dalam Visi Indonesia memiliki keterkaitan satu sama lain dantujuan jangka Panjang menjadikan Indonesia sebagai 5 besar kekuatan ekonomi dunia.

“Kadin Indonesia sebagai mitra strategis dari Pemerintah akan mendukung pembangunan nasional, dengan berbagai pembinaan, usulan dan kritik membangun”, pungkas Eddy Ganefo Ketua Umum Kadin Indonesia. (*)

Sumber berita (*/@yfi IMO-Indonesia)
Editor (+rony banase)