Arsip Tag: pengembangan produk unggulan daerah

Tunjang Pemasaran ‘Online’ Rumah Sasando, PNK Beri Bantuan Tahap Dua

574 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Rumah Sasando yang dirintis oleh Almarhum Maestro Yeremias Aogust Pah di Desa Oebelo, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kembali memperoleh bantuan Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD) berbasis Kearifan Lokal diberikan kepada industri kerajinan Alat Musik Sasando dan Topi Ti’ilangga dari Kementerian Riset dan Teknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia (Ristek BRIN) melalui Politeknik Negeri Kupang.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2019/08/28/rumah-sasando-di-oebelo-gapai-bantuan-pppud-dari-politeknik-negeri-kupang/

Kali ini, pada Sabtu, 5 September 2020 pukul 11.00 WITA—selesai, diserahkan bantuan tahap kedua berupa seperangkat alat multi media yang mencakup 1 (satu) unit laptop, 1 (satu) unit kamera, tripod, sound card, dan video card.

Sebelumnya pada Selasa, 27 Agustus 2019 lalu, Rumah Sasando menerima bantuan 10 (sepuluh) item barang pendukung aktivitas produksi berupa mesin pelubang sekrup; mesin potong sekrup; mesin pemintal senar; mesin jahit merek JUKI; mesin pemipih; mesin gergaji jigsaw; papan nama neon box; meja kerja; lemari pajangan; dan perkakas K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja).

Penyerahan bantuan PPPUD Ristek BRIN dari Tim Politeknik Negeri Kupang kepada Pengelola Rumah Sasando, Djitron Pah

Penyerahan bantuan PPPUD tersebut, sebagai bagian dari Program Pengabdian Kepada Masyarakat dari Ristek BRIN Tahun Anggaran 2020 dilaksanakan oleh tim dosen Politeknik Negeri Kupang (PNK) yang terdiri dari Fransisko Piri Niron, S.T., M.Si. Heni M Sauw, S.E., M.M. Nikson Fallo, S.T., M.Eng. Feny S. Eky, S.S., M.A. dan dibantu oleh 3 (tiga) mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Program Studi (Prodi) Teknik Komputer Jaringan yakni Bonaventura P Jemi, Stef Filmon K. Tenis, dan Chrisdea Anavida Tamimaesa Fanggi.

Ketua Tim PPUD dari Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) Politeknik Negeri Kupang, Fransisko Piri Niron S.T., M.Si. kepada Garda Indonesia mengatakan, kali ini PPPUD lebih menyentuh produk pemasaran. “Sebenarnya, awal dari proposal kami untuk merenovasi rumah produksi, ketika kami datang (saat pandemi Covid-19, red) mendata apa saja renovasi yang bakal dilakukan; Djitron Pah (pengelola Rumah Sasando, red) mengeluh terkait menurunnya penjualan,” urainya.

Oleh karena itu, imbuh Kony Niron (sapaan akrabnya, red), untuk bantuan tahun kedua, kami berembuk dan memutuskan jenis bantuan dialihkan ke perangkat multimedia. “Jenis bantuan lain untuk mendukung pemasaran Rumah Sasando, berupa website yang bakal di-launching pada Oktober 2020,” urainya.

Mengenai apakah bakal ada kelanjutan bantuan PPUD tahun ketiga, tandas Kony, jadi seperti tahun pertama dari hasil penilaian reviewer menilai baik, maka ada bantuan di tahun kedua. “Begitu pun dengan tahun ketiga, jika penilaian baik, maka bakal ada bantuan,” bebernya.

Sementara itu, Djitron Pah selaku Pengelola Rumah Sasando menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ristek BRIN melalui Politeknik Negeri Kupang yang telah memberikan bantuan. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Ristek BRIN melalui Politeknik Negeri Kupang yang telah memberikan bantuan berupa seperangkat alat multimedia dan website, bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami, di mana saat pandemi Covid-19 yang melanda semua usaha, dan melalui alat-alat sangat memudahkan kami,” ucap penerus Maestro Sasando, Yeremias Aogust Pah ini antusias.

Ia pun mengidamkan dapat melakukan pemasaran secara online dengan menggunakan perangkat multimedia bantuan dari Ristek BRIN melalui Politeknik Negeri Kupang. Menurutnya, dalam situasi pandemi ini, lebih efektif jika penjualan hasil kerajinan berupa Sasando dan Topi Ti’ilangga dapat dilakukan secara online.

Dalam bincang-bincang, usai penyerahan bantuan dan memenuhi request lagu “To Love Sombody” dari Garda Indonesia, dengan piawai memetik senar Sasandonya, Djitron Pah juga mengutarakan gagasan agar dapat lebih mudah menjual kerajinan termasuk tersedianya layanan online berupa sekolah musik dan tutorial praktis memainkan alat musik Sasando yang berasal dari Pulau Rote tersebut.

Penulis, editor dan foto (+ rony banase)
Video oleh Mahasiswa Prodi Teknik Komputer Jaringan, Politeknik Negeri Kupang

Politeknik Negeri Kupang Dukung Usaha Dodol Pisang Legit Sari via Program PPUD

359 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Politeknik Negeri Kupang (PNK) dengan dukungan Kemenristek DIKTI melakukan penerapan dan pengembangan hasil riset perguruan tinggi untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan Mitra Kelompok Usaha ‘Dodol Pisang Legit Sari’ yang berlokasi di Kelurahan Nunleu Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Jenis dukungan yang merupakan bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) diberikan oleh PNK kepada Usaha Legit Sari dalam bentuk Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPUD) berbasis agribisnis pengolahan pisang lokal khas NTT yang berpotensi ekspor.

Ketua Tim PPUD Politeknik Negeri Kupang, Christa Elena Blandina Bire,ST,MT., kepada Garda Indonesia saat penyerahan dukungan kepada Usaha Dodol Pisang Legit Sari, Kamis, 26 Juli 2019 pukul 13:30 WITA menyampaikan bahwa metode yang digunakan dalam pelaksanaan PPUD ini berupa metode transfer teknologi dan metode knowledge (pengetahuan).

Pemilik Usaha Dodol Pisang Dolpin, Merry Letik (berbaju krem) dan Ketua Tim PPUD Politeknik Negeri Kupang, Christa Elena Bire, ST, MT (berbaju ungu)

“Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin dari Kemenristek DIKTI setiap tahun berupa pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk skim pengembangan produk unggulan daerah. Karena kami melihat potensi pisang hijau yang hanya ada di NTT dan belum diketahui diluar NTT”, ujar Christa Bire.

Lanjutnya, Jenis dukungan yang diberikan yakni alat atau mesin pengaduk adonan dodol pisang di tahun pertama dan bakal ada bantuan pada tahun kedua dan tahun ketiga.

“Kami membantu mitra Legit Sari dalam bentuk teknologi untuk proses mekanisasi pengolahan produk yang dibantu dengan alat pengaduk, penyempurnaan logo atau merek, dan kemasan produk”, beber Christa Bire dan didampingi oleh anggota tim Edwin P.D.Hattu,ST,M.Si., Yohanes Suban Peli,SST,M.Si., Janri Delastriani Manafe,S.Sos,MM., Melly Ully,Amd, dan tim teknisi Lab Tek-Mesin Politeknik Negeri Kupang.

Tim Teknisi Lab Tek-Mesin Politeknik Negeri Kupang berpose bersama saat mencoba mesin pengolah adonan dodol

Selain itu, mengenai target luaran atas solusi yang ditawarkan, Christa Bire menuturkan PNK memberikan dukungan berupa 1 (satu) unit mesin pengaduk dodol; mitra memiliki pembukuan keuangan yang rapi; adanya penambahan pekerja sebanyak 2 (dua) orang; 1 (satu) mesin mekanisasi pengiris dodol; packaging kemasan yang lebih higienis; mitra memiliki aplikasi pemasaran online (e-commerce) dan mitra dapat memiliki stasiun area kerja yang tertata rapi dan ergonomis.

Sementara itu, pemilik dan pengelola Usaha Dodol Legit Sari, Merry Letik menyampaikan bahwa awalnya usaha dengan coba mengolah pisang menjadi dodol sejak tahun 2012—2013

“Saya senang dengan produk lokal seperti pisang dan kacang, awalnya saya mencoba mengolah pisang menjadi dodol yang membutuhkan waktu hingga 3 (tiga) jam dan hasil olahan dodol tersebut bisa bertahan hingga 3 (tiga) bulan tanpa menggunakan bahan pengawet”, jelas isteri dari Ferry Dethan ini menyampaikan proses awal pembentukan usaha dodol pisang bermerek dolpin ini kepada Garda Indonesia.

Varian Dodol Pisang Dolpin terdapat 4 (empat) rasa yakni rasa asli (original); rasa vanila; dodol karamel; dan dodol coklat dengan harga relatif terjangkau dengan kisaran Rp.16.000,- hingga Rp.20.000,- per kemasan.

Pencipta Mesin Pengaduk adonan dodol, Edwin Hattu,ST,M.Si., dan Pemilik Usaha Legit Sari, Merry Letik sedang mengaduk adonan dodol dengan menggunakan mesin pengolah hasil kreasi tim teknisi Politeknik Negeri Kupang

Pemilik Usaha Dodol Pisang bermerek Dolpin ini juga menyampaikan terima kasih kepada Politeknik Negeri Kupang yang telah membantu dalam packaging, lemari, dan label

“Saya berharap pasaran dodol pisang dolpin ini dapat menjangkau pasaran di luar NTT”, terang Merry Letik.

Sedangkan, pencipta mesin pengolah dodol, Edwin Hattu,ST,M.Si.,menyampaikan proses penciptaan mesin olahan adonan dodol dimulai dengan permintaan dari tim PPUD untuk membuat mesin olahan/ mekanisasi yang dapat menggantikan proses mengaduk secara manual dengan mesin.

“Saya harus mendesain alat yang mempunyai keunikan sehingga saat ada komplain tentang paten tidak dapat disamakan”, jelas Edwin Hattu.

Lanjutnya, Kalau di internet telah banyak tersedia mesin sejenis namun tak tahu mana yang telah memiliki paten atau belum.

“Mesin ini sudah cukup menolong dengan daya tampung bahan dasar hingga 30 kg karena menggunakan desain mesin dengan gearbox sehingga tidak memerlukan daya motor yang besar dengan perbandingan 1:60 dan dengan kapasitas 750 watt”, pungkas Edwin.

Penulis dan editor (+rony banase)