Arsip Tag: pool test fan

Gubernur VBL : Mulai Hari Ini, Gratis ‘Swab dan Rapid Test’ bagi Masyarakat NTT

4.198 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Saya hitung mulai hari ini, masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang akan melakukan perjalanan ke Jakarta atau ke mana pun, apalagi Desember nanti, anak-anak yang akan berangkat sekolah ke luar NTT, tidak lagi dibebani dengan swab atau rapid test dengan anggaran-anggaran seperti itu,” ujar Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL).

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/10/08/per-8-oktober-2020-pemprov-ntt-sesuaikan-tarif-swab-900-ribu-rupiah/

Pernyataan VBL tersebut disampaikannya saat Launching Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur (Kerja sama Pemerintah Provinsi NTT, Universitas Nusa Cendana, dan Forum Academia NTT) yang dilaksanakan di Klinik Undana Naikoten I pada Jumat, 16 Oktober 2020.

Gubernur VBL pun mengungkapkan telah menandatangani Pergub pada Kamis, 15 Oktober 2020. “Mulai berlaku pada hari ini (Jumat, 16 Oktober 2020), swab dan rapid test berlaku gratis bagi semua masyarakat Nusa Tenggara Timur,” tegasnya di hadapan Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi; Pjs. Bupati Malaka, dr. Meserasi Ataupah; Rektor Undana Kupang, Prof, Ir. Fredrik Benu, M.Si. Ph.D. Direktur RSUD Prof. W. Z. Johannes Kupang, dan undangan lainnya.

Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Undana, tandas VBL, untuk kesehatan masyarakat telah diresmikan dan ini tentunya sangat membantu dalam peningkatan pelayanan kesehatan.

Foto bersama Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dengan Forum Academia NTT, dan Mahasiswa Kedokteran Undana tingkat akhir

Sementara itu, dilansir dari siaran pers dari Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Rektor Universitas Nusa Cendana Prof. Ir. Fredrik Benu, M. Si., Ph. D memberikan apresiasi pada Pemprov NTT yang ikut membantu adanya laboratorium tersebut. “Saya apresiasi yang sangat besar pada kepemimpinan Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur yang berkenan untuk mendorong adanya Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat di Provinsi ini, kerja sama dengan pihak Kampus Undana dan juga atas inisiasi dari adik-adik di Forum Academia NTT,” urai Prof. Fredrik

Forum Academia NTT (FAN) melalui dr. Fima Inabuy menjelaskan, Laboratorium tersebut dinamakan Laboratorium Kesehatan Masyarakat karena tujuan laboratorium ini bukan untuk diagnosa atau mengobati tetapi menjaga masyarakat tetap sehat melalui upaya surveilance yang berbasis biomolekuler.

“Artinya kita menggunakan PCR untuk menentukan strategi-strategi pencegahan penularan penyakit. Dan dalam konteks pandemi Covid-19 agenda dari laboratorium ini adalah melakukan pool test yakni screenning massal, untuk mendeteksi kelompok mana yang orangnya terinfeksi dan kelompok mana yang belum,” ungkapnya.

“Rencana skema kerja sama kami dengan agenda pool test pada kelompok-kelompok pelaku perjalanan dan tenaga-tenaga kesehatan. Namun menanggapi akumulasi sampel di RSUD W.Z. Johannes saat ini yang sudah mencapai lebih dari 3.000 sampel, maka tentu kami membantu dahulu di RSUD W. Z. Johannes. Menghadapi kedaruratan akumulasi sampel ini maka skema pemeriksaan sampel yang kami usulkan adalah kerja sama pembagian tugas antara laboratorium biomolekuler kesehatan masyarakat ini dan dengan laboratorium biomolekuler RSUD W.Z. Johannes,” terang dr. Fima.

Penulis dan Editor (+rony banase)
Foto oleh Biro Humas dan Protokol Setda NTT

Covid-19 Naik di NTT, Pelabuhan Udara & Laut Tak Tutup dan Wajib ‘Pool Test’

930 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Kebijakan penutupan bandara dan pelabuhan laut sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di NTT yang mengalami kontraksi 1,96 persen (kuartal kedua, red). Atas dasar tersebut, maka kita berlakukan apa yang kita sebut new normal,” jelas Kadis Perhubungan Provinsi NTT, Isyak Nuka dalam sesi jumpa media pada Senin siang, 28 September 2020 di Gedung Sasando Kantor Gubernur NTT.

Meski angka kasus Positif Covid-19 di Provinsi NTT terus merangkak naik, namun Pemprov NTT tidak akan menutup jalur penerbangan udara maupun pelayaran laut. Kondisi ini, sebut Isyak Nuka, “Pilihan untuk membatasi itu tidak mudah, karena ekonomi harus berjalan, terutama distribusi logistik dan kita tak bisa mendeteksi saat awal bahwa seseorang terkonfirmasi positif Covid-19, namun kita mendorong agar protokol kesehatan diberlakukan ketat.”

Kondisi new normal di Provinsi NTT, imbuh Isyak, untuk penerbangan maupun pelayaran dalam wilayah NTT bebas ketentuan rapid test dan swab, termasuk surat keterangan kesehatan. “Itu semua kita bebaskan, agar para pelaku perjalanan di dalam wilayah NTT seolah-olah merasakan masa sebelum kasus Covid-19 merebak,” urainya.

Ķecuali, pelaku perjalanan dari luar NTT, terang Isyak Nuka, mereka harus menggunakan rapid test, dites suhu tubuh dan mengisi HAC. “Termasuk yang ke luar NTT berlaku hal yang sama, maka setelah new normal angka positif di NTT meningkat akibat dari pelaku perjalanan di Labuan Bajo maupun di Bandara El Tari Kupang,” ungkapnya.

“Kita di NTT, tak melakukan swab,” ungkap Isyak.

Seperti kita tahu bersama, urai Isyak, rapid test itu berlaku 14 hari. “Pada saat dia melakukan rapid test itu negatif, namun bisa saja pada hari ketujuh saat berada di wilayah NTT, dia (pelaku perjalanan, red) terkonfirmasi positif Covid-19. Ini memang menjadi kesulitan kita di pintu-pintu masuk dan menjadi kesulitan petugas di KKP,” ungkapnya.

Oleh karena itu, beber Isyak, Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Perhubungan NTT mencoba menggandeng Forum Akademia NTT (FAN) yang menemukan pengetesan cepat Covid-19 terhadap para pelaku perjalanan atau dinamakan Pool Test. “Ini memang belum diuji coba, teman-teman sedang men-setting, kita telah berkoordinasi dengan KKP, operator, kepala bandara dan pelabuhan, jika alat pool test telah siap, maka dipakai di pintu masuk bandara dan pelabuhan,” tandasnya.

Sementara, Dr. Elcid Lee dari FAN  saat dihubungi media ini via telepon untuk menelisik tentang mekanisasi dan manfaat pool test, hingga berita ini ditulis, belum merespons.

Kasie Pengendalian Risiko Lingkungan dan Kesehatan wilayah Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Hengki Jezua mengatakan instrumen pengendalian telah diperketat terhadap para pelaku perjalanan dengan mengisi Kartu Kewaspadaan Kesehatan. “Dengan mengisi kartu tersebut, maka ke mana pun pelaku perjalanan dapat dipantau secara baik,” jelasnya.

Selain itu, urai Hengki, dilakukan pengamatan terhadap tanda dan gejala. “Tanda dan gejala ini, ada yang muncul dan yang tidak. Ketika pelaku perjalanan datang tanpa konfirmasi tanpa gejala di suatu daerah, kemudian pada hari ketujuh atau kesepuluh muncul gejala (karena masa inkubasi covid sekitar 14 hari),” terangnya sembari mengatakan seluruh pelaku perjalanan diberlakukan tidak diskriminatif.

Manajer Pelayanan Terminal Pelindo III, Cahyo Mursito mengatakan pihaknya berkomitmen untuk mengurangi kerentanan penyebaran Covid-19 di NTT. “Secara teknis, telah bekerja sama dengan pihak pelayaran dengan membatasi penumpang yang turun yakni menunda turunnya penumpang secara bertahap, misalnya 30 orang duluan, termasuk pembatasan penumpang hanya 50 persen dari kapasitas normal dan telah berlaku efektif,” tandasnya.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)