Arsip Tag: Presiden RI Ir Joko Widodo

Mendagri Ajak Kepala Daerah untuk Berinovasi dalam Pelayanan Publik

43 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengungkapkan kesiapannya dalam menjalankan perintah Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam membangun sinergi dan menciptakan inovasi dalam pelayanan publik di sela acara Opening Ceremony International Public Service Forum 2018 di Jakarta Convention Center Senayan, (Rabu,7/11/18).

“Saya kira bagaimana tadi arahan bapak Wapres bahwa kunci suatu keberhasilan pemerintahan dan birokrasi adalah bagaimana membangun sinergi dan menciptakan inovasi dalam pelayanan publik”, ujar Tjahjo.

Tjahjo menjelaskan bahwa Kementerian dan Lembaga sudah mulai memberikan penghargaan kepada daerah berprestasi yang telah ikut membantu pemerintah pusat dalam menjalankan reformasi birokrasi. Hal ini sesuai dengan yang ditekankan oleh Presiden Joko Widodo dalam membangun tata kelola pemerintah pusat dan daerah yg efektif dan efisien,serta mempercepat reformasi birokrasi untuk memperkuat otonomi daerah.

Dalam penjelasannya, Tjahjo mengungkapkan bahwa Inovasi juga berguna sebagai percontohan daerah lainnya. “Kementerian dan lembaga sudah mulai memberi penghargaan sebagai motivasi agar semua daerah menunjukkan inovasinya”katanya. Tjahjo meniai Indonesia memililki 514 kota/kabupaten dan 34 provinsi, apabila salah satu punya inovasi dan prestasi untuk memberikan pelayanan yg terbaik maka dampaknya akan sangat luas.

Inovasi yang diharapkan Tjahjo adalah inovasi yang dapat memacu investasi, meningkatkan pertumbuhan dan menekan pengangguran serta menekan angka kemiskinan demi meningkatkan kualitas hidup serta membangun tata kelola pemerintah yang bersih dan efektif.

Diakhir penjelasan, Tjahjo tidak bosan-bosannya mengingatkan agar kepala daerah harus dapat memahami area rawan korupsi. “Kepala daerah harus dapat memacu investasi dan meningkatkan pertumbuhan daerah. Termasuk juga harus memahami area rawan korupsi” pungkas Tjahjo. (*/Puspen Kemendagri)

5 Pesan Presiden Jokowi untuk Pekerja dan Industri Konstruksi

50 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Program besar pembangunan infrastruktur berkeadilan di Tanah Air memberi kesempatan kerja bagi para pekerja konstruksi. Program tersebut memang tak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan dari para tenaga kerja konstruksi Indonesia.

Namun, di balik kesempatan itu, turut pula melekat sebuah tanggung jawab besar bagi para pekerja dan industri konstruksi. Hal itu disampaikan Presiden Joko Widodo saat Pembukaan Pameran Konstruksi Indonesia 2018 di JI-Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 31 Oktober 2018.

Setidaknya, ada 5 (lima) catatan Presiden bagi program pembangunan.
Pertama, mengenai keamanan bagi para pekerja dan penggunanya yang mesti diprioritaskan.
“Jangan sampai ada lagi kasus bangunan roboh atau kecelakaan kerja yang fatal. Perhatian lebih serius harus diberikan terhadap proyek-proyek yang dikerjakan di daerah rawan baik daerah rawan bencana, gempa, longsor, banjir, dan bencana alam lainnya,” kata Presiden.

Kedua, Terkait dengan lingkungan hidup, Kepala Negara mengingatkan bahwa pembangunan harus memperhatikan prinsip kelestarian lingkungan. Keselamatan lingkungan tak boleh diabaikan hanya untuk kepentingan pembangunan.
“Jangan sampai infrastruktur yang dibangun tidak ramah lingkungan. Jangan sampai merusak lingkungan. Pembangunan yang dikerjakan harus memenuhi prinsip-prinsip dan prosedur yang terkait dengan keselamatan lingkungan. Hati-hati masalah ini,” ucapnya.

Ketiga, berkaitan dengan dampak pembangunan bagi kehidupan sosial dan kemasyarakatan, Presiden Joko Widodo mengingatkan bahwa setiap pembangunan selalu membawa pergeseran sosiokultural dan ekonomi masyarakat. Untuk itu, pembangunan yang dilakukan hendaknya diarahkan kepada peningkatan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
“Setiap proyek pembangunan harus semakin memperkuat fondasi yang baik, fondasi sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Jangan sebaliknya justru merusak fondasi sosial dan ekonomi di masyarakat setempat,” tuturnya.

Keempat, Tak kalah pentingnya dengan sejumlah hal di atas, kemajuan teknologi harus terus diikuti dan diantisipasi oleh industri konstruksi. Dengan itu, pelaku industri tak perlu khawatir akan tertinggal.
“Beberapa tahun ini dunia konstruksi global juga ramai soal 3D printing Membangun rumah hanya 24 jam. Membangun jembatan bisa sangat cepat. Bahkan nanti dengan 3D printing bisa membangun satu kawasan industri hanya dalam hitungan bulan. Bisa terjadi,” ujar Kepala Negara.

Terakhir, mengenai pembiayaan, Kepala Negara kembali mengingatkan bahwa infrastruktur di seluruh Tanah Air tak mungkin dibangun hanya dengan mengandalkan APBN. Untuk itu, diperlukan kreativitas pembiayaan untuk dapat membiayai pembangunan infrastruktur secara merata.

“Jangan kita monoton tergantung terus pada APBN. Ada kerja sama pemerintah dengan badan usaha,” kata Presiden.

 

(*/Bey Machmudin-Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden)

‘Ungkap Sepak Terjang Bamsoet’ – Dari Wartawan ke Senayan

49 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, meluncurkan buku biografinya “Dari Wartawan ke Senayan”. Buku setebal 280 halaman ini mengungkapkan perjalanan hidup hingga karier Bamsoet yang ditulis oleh tim yang juga seniornya dan rekan-rekan sesama wartawan di Harian Prioritas tahun 1986-1987.

“Mulanya saya menolak untuk dibuatkan biografi. Namun Bang Derek Manangka (almarhum) akhirnya berhasil meyakinkan saya. Bahwa buku itu penting untuk adik-adik yang sedang menggeluti profesi wartawan agar mereka juga bisa melihat bahwa karier mereka bisa menjulang dan punya masa depan,” jelas Bamsoet panggilan akrab Bambang Soesatyo yang pernah berprofesi sebagai wartawan.

Karena, lanjut Bamsoet sebenarnya dari profesi wartawan kita bisa menjadi apa saja. Wartawan punya peluang yang lebih besar ketimbang profesi lainnya dalam akses dan jaringan. Mulai tukang sampah hingga presiden.

“Wartawan punya akses kepada siapa pun dan dapat bertanya tentang apa pun,” kata Bamsoet dalam acara peluncuran buku “Dari Wartawan ke Senayan” di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta, Kamis/25 Oktober 2018.

Dalam acara yang dihadiri berbagai tokoh politik nasional dan sesepuh wartawan itu, Bamsoet juga mengungkapkan, dia merintis karier wartawan dari kasta paling bawah, yaitu reporter baru.

”Waktu itu karena masih pake mesin tik, kalau satu dua alinea tulisan kita dianggap sudah tidak bagus, langsung disobek oleh redaktur. Apalagi kalau ketemu Bang Panda Nababan. Belum dibaca udah dirobek-robek,” katanya disambung tertawa hadirin.

Demikian juga kehidupan ekonominya yang sekarang dicapainya dengan tidak mudah dan harus kerja keras. Dia merintis bisnisnya dari paling bawah pula, yaitu dari jual beli sayur, bawang merah dan telor di Pasar Induk, Kramat Jati, Jakarta.

Waktu ditugaskan meliput di Pasar Induk, Bamsoet mengetahui dari pedagang mereka mengambil barang dari Bekasi. Lantas Bamsoet menawarkan diri untuk ikut memasok juga. Para pedagang menyetujui sepanjang harganya lebih murah atau sama dari pemasok lainnya.

Dengan kedaraan umum dan kendaraan bak terbuka sewaan, Bamsoet bolak-balik Bekasi-Pasar Induk. “Bekasi waktu itu masih sangat jauh, belum ada jalan tol seperti sekarang,” papar Bamsoet. Dia harus kerja keras bangun lebih pagi dan waktu luang dipakai untuk mengurus bisnisnya.

“Bagi saya prinsip bisnis atau dagang itu mudah. Kita tinggal mencari di daerah mana bisa kita beli barang lebih murah dan daerah mana kita bisa menjual barang lebih mahal. Selisihnya itulah keuntungan,” tuturnya.

Untuk modal, Bamsoet terpaksa mengadaikan jam tangan dan beberapa barang miliknya, sebab awalnya semua harus bayar kontan. Setelah dipercaya baru kemudian boleh konsinyasi. Dari sana usaha terus melaju membangun jaringan dengan para pengusaha papan tengah dan papan atas melalui HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) dan KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia).

Bamsoet menerangkan, banyak yang bertanya kepada dirinya setelah menjadi ketua DPR mau ke mana, termasuk apakah mau menjadi ketua Umum Golkar. Bamsoet menjawab singkat, “Berpikir saja belum. Karena fokus saya saat ini adalah bagaimana menaikkan rating DPR agar dipercaya rakyat.”

Sosok Produktif

Selama ini Bamsoet memang dikenal produktif menulis buku. Paling tidak sudah 13 bukunya yang diterbitkan selama menjadi anggota DPR. Antara lain Skandal Gila Bank Centuri, Presiden Dalam Lingkaran Sengkuni, Perang-Perangan Melawan Korupsi, Republik Galau, Indonesia Gawat Darurat, dan Ngeri-ngeri Sedap

Kali ini bukunya ditulis almarhum Derek Manangka yang kemudian diteruskan oleh wartawan senior Wina Armada, Nano Bramono, Heru Subroto, dan Bobby Barata serta diterbitkan oleh Gramedia Kompas.

Sejumlah tokoh dan wartawan senior tampak hadir dalam acara tersebut. Antara lain Surya Paloh (Ketua Umum NasDem), pengusaha senior Chaerul Tanjung, Ketua Umum Pemuda Pancasila Yapto Suryosumarno, Budayawan Radar Panca Dahana, pelukis senior Hardi, tokoh pers senior Ishadi SK, Irjen Pol Setyo Wasisto (Kadiv Humas Polri), Melchias Mekeng (Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI), Taufiqulhadi (Anggota Fraksi NasDem DPR RI), Roemkono (Anggota Fraksi Golkar DPR RI), Robert Kardinal (Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI), Masinton Pasaribu (Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI), Ahmad Sahroni (Anggota DPR RI), Elman Saragih, Panda Nababan, Noorca Massardi, Wina Armada, serta Gigin Pragianto, J Osdar, Aristides Katopo dan Marcyanus Donny, yang menjadi narasumber dalam bedah buku tersebut.

Politisi Partai Golkar ini menjelaskan, dirinya memilih karier kewartawanan karena semasa kuliah senang berorganisiasi dan aktif di pers kampus. Profesi dan karakter kerja wartawan otomatis mengharuskan dirinya cakap berinteraksi dengan berbagai kalangan.

“Buku ini bercerita secara simpel, lugas dan mengena tentang lika-liku perjalanan karier saya sejak jadi wartawan pada 1986, lanjut berbisnis dan berpolitik lewat Partai Golkar. Hingga masuk parlemen sejak 2009 dan akhirnya diberi kepercayaan sebagai Ketua DPR RI, sebuah amanah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya,” tutur Bamsoet.

Mantan Ketua Komisi III DPR RI dan Sekretaris Fraksi Partai Golkar ini menjelaskan, buku “Dari Wartawan ke Senayan” merupakan buku terbarunya. Buku ini walaupun tidak langsung ditulis oleh dirinya, namun bisa mengungkap dengan jelas dan lugas pikiran Bamsoet sebagai seorang wartawan yang dulu bukan siapa-siapa hingga menjadi orang nomor satu di Senayan.

Tak heran jika pada kesempatan tersebut, legislator Dapil Jawa Tengah VII yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara dan Kebumen ini mengajak para tokoh, pimpinan dan anggota DPR, MPR dan DPD serta siapapun untuk membiasakan menulis mengenai berbagai hal. Baik mengenai perjalanan hidup, pandangan, pemikiran, kiprah ataupun pengabdian, sesuai dengan profesi masing-masing.

“Siapa tahu di sana ada mutiara dan hikmah yang dapat dipetik untuk jadi pelajaran bagi orang lain maupun sebagai sumbangsih bagi bangsa dan negara. Seperti kata Imam Al-Ghazali, menulislah maka Anda akan hidup selamanya,” jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN ini menjelaskan, penulisan buku “Dari Wartawan ke Senayan” awalnya diinisiasi oleh Derek Manangka, mentor jurnalistik pertama saat Bamsoet memulai karier wartawan di Harian Prioritas pada tahun 1986. Namun, penulisan buku sempat tertunda lantaran Derek meninggal pada 26 Mei 2018. Penulisan kemudian dilanjutkan oleh tim yang terdiri dari Wina Armada, Nano Bramono, Heru Subroto, dan Bobby Barata.

Tim penggarap bekerja inten dan kooperatif sejak awal dalam pengayaan data, foto dan testimoni dari 41 narasumber kunci. Bahkan delapan tokoh bangsa memberikan kesaksiannya atas perjalanan hidup Bamsoet.

“Kesan pertama saya terhadap Bamsoet, kalau mengkritik pedas sekali. Tapi saya tahu beliau adalah orang yang konsisten dan apa adanya. Perjalanannya yang berliku dan keras sebagai wartawan dan jiwa kewirausahaannya yang kuat saat menjadi pengusaha, telah membetuk kematangan jiwa dan pikirannya dalam berpolitik,” ujar Presiden Joko Widodo.

Wakil Presiden Jusuf Kalla juga tak ketinggalan memberikan komentar. Baginya, sebagai wartawan yang menjadi Ketua DPR RI, Bamsoet mempunyai informasi dan hubungan yang baik dengan banyak kalangan. Karena itu, Bamsoet bisa mengemban amanah ini dengan lebih baik, adil dan independen.

Sedangkan menurut Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan, sejak dipimpin Bamsoet, DPR-RI lebih terbuka dan kondusif. Tidak ada lagi kegaduhan yang berarti. Tidak mudah menyatukan pandangan 560 politisi dari 10 partai politik dengan latar belakang beragam. Itulah kepiawaian Bamsoet. (*/Tim IMO)

Hari Santri, Presiden Jokowi: “NKRI adalah Rumah Kita Sendiri“

42 Views

Bandung,gardaindonesia.id | Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, peringatan Hari Santri pada tanggal 22 Oktober yang ditetapkannya 3 (tiga) tahun lalu merupakan penghormatan dan rasa terima kasih Negara kepada para alim ulama, para kiai, para habaib, para ajengan, para santri, dan seluruh komponen bangsa yang mengikuti teladan para alim ulama, para habaib, para ajengan, para kiai.

“Sejarah telah mencatat peran besar para ulama dan santri dalam masa perjuangan kemerdekaan, dalam menjaga NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika yang selalu menjaga ke jalan kebenaran dan ke jalan kemajuan,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada Peringatan Hari Santri Nasional 2018, di Lapangan Gasibu, Bandung, Jawa Barat, Minggu (21/10/18) malam.

Menjadi santri, tegas Kepala Negara, adalah menjadi Islam yang cinta bangsa, menjadi muslim yang religus, menjadi anak yang religius sekaligus nasional sebagaimana diteladankan oleh para ajengan, oleh para ulama.

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi yang hadir dengan menggunakan busana sarung dan berjas warna biru mengingatkan kepada segenap peserta yang hadir dalam Peringatan Hari Santri Nasional 2018, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah rumah kita sendiri.

“Kita harus menyadari itu sekali lagi bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia ini adalah rumah kita sendiri yang perlu terus kita rawat, yang perlu terus kita jaga,” tutur Presiden seraya menambahkan salah satu yang menjaga adalah para santri.

“Kita patut bersyukur bahwa Bangsa Indonesia dipandu oleh tradisi kesantrian yang kuat, tradisi penghormatan dan penghargaan yang tinggi kepada sesama, menjunjung tinggi prinsip hablumminallah dan hablumminannas,” ujar Kepala Negara.

Ukhuwah Wathoniyah

Kepala Negara menegaskan, Negara kita ini adalah negara besar yang di dalamnya berbeda-beda, berbeda-beda suku, berbeda-beda agama, berbeda-beda adat, berbeda-beda tradisi, dan berbeda-beda bahasa daerah.

“Ini semua adalah anugerah dari Allah yang diberikan kepada kita Bangsa Indonesia. Jangan sampai perbedaan-perbedaan itu memecah kita,” tutur Kepala Negara.

Menurut Presiden Jokowi, Indonesia memiliki 714 suku dengan agama yang berbeda-beda, penduduk 263 juta yang hidup dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Hidup di 17 ribu pulau, 34 provinsi, 514 kabupaten dan kota.

Selain itu, Presiden menegaskan, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Oleh sebab itu, Presiden mengajak segenap umat Islam untuk menaga ukhuwah islamiah dan ukhuwah wathonniah.

“Jangan saling mencela. Jangan sampai di antara sesama publik menjelekkan, jangan sampai antar daerah, antar suku saling memfitnah,” pinta Presiden Jokowi.

Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam kesempatan ini antara lain Seskab Pramonmo Anung, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum, dan Wali Kota Bandung Oded M Danial. (*/humas RI)

Ketua DPR RI: “Presiden Jokowi Alihkan Ketahanan Pangan Jadi Kedaulatan Pangan“

54 Views

Jakarta,gardaindonesia.id | Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengagumi berbagai terobosan yang dilakukan pemerintahan Presiden Jokowi dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Diantaranya dengan memanfaatkan lahan rawa lebak dan pasang surut yang dijadikan lahan pertanian produktif guna meningkatkan produktifitas pertanian nasional.

“Ini membuktikan kehadiran negara yang secara sistematis mengakui, menghormati, dan memenuhi hak atas pangan warganya. Pemerintahan Presiden Jokowi sudah mulai mengalihkan pendekatan dari Ketahanan Pangan menjadi Kedaulatan Pangan,” ujar Bamsoet saat menghadiri puncak peringatan Hari Pangan Sedunia ke-38 di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Kamis (18/10/18).

Hadir dalam acara ini Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun, Anggota Komisi XI DPR RI Ahmadi Noor Supit, perwakilan Food and Agriculture Organization (FAO) Steven Rugards, Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor, Aster Kasad Mayjen (TNI) Supartodi serta Dubes sejumlah negara tetangga.

Wakil Ketua Umum KADIN ini menegaskan persoalan pangan tidak bisa disepelekan. Pasalnya, seiring besarnya pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia, pemenuhan kebutuhan pangan kerap menjadi masalah akibat ketersediaan pangan yang belum mencukupi.

“Peringatan hari pangan sedunia ini harus kita jadikan momentum untuk meningkatkan kesadaran dan tindakan masyarakat dalam mengatasi masalah kekurangan pangan dan gizi. Sekaligus, untuk mendorong terciptanya sistem pangan global yang efektif,” kata Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menjelaskan, hingga kini ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketersediaan pangan di Indonesia. Pertama, kendala lahan pertanian yang kian berkurang karena kebutuhan pembangunan yang terus meningkat. Kedua, dampak perubahan iklim global yang ekstrim. Ketiga, kondisi pertanian Indonesia didominasi petani kecil dengan kepemilikan lahan yang sangat kecil rata-rata hanya sekitar 0,5 hektar, sehingga mengakibatkan kesulitan terhadap akses permodalan, pasar, informasi dan teknologi.

“Keempat, proporsi kehilangan hasil panen dan pemborosan masih cukup tinggi sekitar 10-20 persen. Kelima, ketidakseimbangan produksi pangan antar wilayah. Akibatnya, daerah Jawa yang subur mempunyai produksi pertanian yang besar. Sementara, daerah luar Jawa produksinya relatif kecil karena lahannya kurang subur,” jelas Bamsoet.

Lebih jauh Bamsoet mengingatkan, dunia sempat mengalami beberapa kali krisis pangan global. Di tahun 2008, Food and Agriculture Organization (FAO) melaporkan naiknya angka kelaparan global mencapai 40 juta jiwa. Pada tahun 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan sebanyak 815 juta orang di dunia menderita kelaparan. Jumlah tersebut sama dengan 11 persen pupulasi penduduk dunia.

“FAO juga melansir 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahun ditengah 815 juta orang menderita kekurangan pangan di seluruh dunia. Ini ironis sekali. Kita bisa wujudkan dunia tanpa kelaparan dimulai dari diri sendiri. Mari belajar bersyukur dari hal-hal yang kecil seperti tidak membuang-buang makanan,” ajak Bamsoet.

Politisi Partai Golkar ini optimis pilot project lahan rawa lebak dan pasang surut yang dijadikan lahan pertanian oleh Kementerian Pertanian di Desa Jejangkit Muara Kalimantan Selatan, akan berhasil. Diatas lahan seluas 4.000 hektar dimana 750 ribu diantaranya sudah ditanami padi, akan bisa menopang stok beras nasional di masa paceklik yang biasa terjadi pada Desember – Januari akibat usainya panen padi di pulau Jawa.

“Pilot project ini akan mampu merangsang berbagai daerah lain di luar pulau Jawa untuk mengembangkan lahan pertanian. Lahan rawa lebak dan pasang surut yang selama ini tidak bisa dibuat apa-apa, kini dengan bantuan pemerintah pusat akan menjadi lahan yang produktif. Dengan demikian bisa meningkatkan nilai ekonomi bagi daerah dan masyarakat setempat, sehingga kita tidak hanya bergantung pada lahan pertanian pulau Jawa saja,” tutur Bamsoet.

Mantan Ketua Komisi III DPR RI ini mengingatkan agar pilot project tersebut digarap dengan serius. DPR RI siap bekerjasama memberikan berbagai dukungan yang diperlukan, baik dari segi peraturan perundangan maupun anggaran.

“Marilah kita jadikan momentum perayaan hari pangan sedunia ini untuk memantapkan program ketahanan pangan nasional. Sehingga, bangsa kita menjadi bangsa yang sejahtera, mempunyai kecukupan pangan serta jauh dari kelaparan dan kekurangan gizi. Sekaligus, mewujudkan bangsa Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045,” pungkas Bamsoet. (*/Tim IMO)

Presiden Jokowi Apresiasi & Evaluasi Fasilitas Ramah Disabilitas di GBK

65 Views

Jakarta,gardaindonesia.id | Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasmita, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau fasilitas penunjang bagi penyandang disabilitas di Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Selasa (16/10/2018).

Kompleks GBK sebelumnya menjadi salah satu tempat pertandingan Asian Para Games ke-3 tahun 2018. Pembangunan venue dan non venue oleh Kementerian PUPR untuk mendukung penyelenggaraan Asian Para Games telah dilengkapi fasilitas untuk penyandang disabilitas sesuai standar dan persyaratan berlaku seperti UU No.28/2002 tentang Bangunan Gedung, UU No.8/2016 tentang Penyandang Disabilitas dan Peraturan Menteri PUPR No. 14 tahun 2017 tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan.

Presiden Jokowi menilai fasilitas penunjang bagi penyandang disabilitas di kawasan GBK Senayan Jakarta sudah cukup baik. “Kita ingin melihat fasilitas untuk penyandang disabilitas terutama yang berkaitan dengan fasilitas yang ada di Senayan, baik toilet, mushola, trotoar, fasilitas menuju ke bangku penonton, saya kira 80 persen sudah baik,” kata Presiden.

Presiden yang tiba sekitar pukul 08.55 WIB langsung meninjau fasilitas pada toilet yang berada tak jauh dari monumen Patung Bung Karno. Dilanjutkan meninjau guiding block yang merupakan jalur pedestrian khusus berwarna kuning bagi para penyandang disabilitias. Peninjauan dilanjutkan ke arah Main Cauldron hingga ke dalam Stadion Utama GBK.

Dari hasil kunjungan tersebut, Presiden memberikan sejumlah catatan evaluasi untuk perbaikan fasilitas penyandang disabilitas di kawasan GBK seperti perbaikan pada pintu toilet yang seharusnya pintu geser dan wastafel yang dinilai masih terlalu tinggi, khususnya bagi mereka yang menggunakan kursi roda.

Presiden Jokowi berharap pemerintah daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota dapat menyediakan fasilitas publik ramah penyandang disabilitas. “Kita ingin mendorong agar semua provinsi, kota, kabupaten itu juga ramah terhadap disabilitas. Ini yang ke depan ingin terus kita dorong sehingga yang kurang apa, nanti secara detail saya diberi masukan oleh Pak Menteri PUPR, Pak Gubernur juga beri masukan,” ucap Presiden Jokowi.

Sementara Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan Kompleks GBK sebagai venue olahraga berstandar Internasional memerlukan perawatan yang baik. “Pertama adalah perawatan lansekap/taman di Kompleks GBK lebih efektif menggunakan sprinkler dibandingkan mobil tangki. Kedua aspek kebersihan kawasan. Ini tidak mudah, sehingga perlu orang yang kompeten dalam manajemen sport & leisure. Ketiga biaya perawatan. Pihak pengelola harus inovatif, karena venue yang dibangun berciri multifungsi sehingga dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan non keolahragaan,” ujar Menteri Basuki.

Sebanyak 20 venues yang digunakan untuk pertandingan & latihan serta non venue yang dibangun Kementerian PUPR melalui Ditjen Cipta Karya digunakan untuk pertandingan Asian Paragames ke-3 seperti Venue Panahan, Stadion Utama, Istora, Hockey, Aquatic Center, Basket, dan Tenis Indoor. Fasilitas difable yang disediakan yakni seperti di Aquatic Center dan stadion utama telah dilengkapi jalur landai (ramps), tribun khusus difabel berkapasitas masing-masing dan 100 dan 264 kursi, serta toilet difable seluas 10,6 m2 di akuatik dan toilet difabel seluas 66,65 m2 di SUGBK.

Selain itu Kementerian PUPR melalui Ditjen Penyediaan Perumahan telah melakukan renovasi sebanyak 1.000 kamar di Wisma Atlet Kemayoran yang digunakan para atlet Asian Para Games juga telah dilengkapi fasilitas difabel. Diantaranya penambahan ramp grab bar kamar mandi pada 200 unit hunian kursi roda, lift untuk akses kursi roda, ramp & treshold pada lantai beda elevasi, tactile pada lantai untuk penuntun arah, railing, signage dan directory pada area publik. (*/Biro KomPub PUPR)

Ketua DPR RI: “Pidato Presiden Jokowi dalam IMF-WB, Pidato Era Milenial“

53 Views

Nusa Dua-Bali, gardaindonesia.id | Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menilai pidato Presiden Jokowi tentang kondisi perekonomian dunia pada pembukaan Rapat Pleno Pertemuan Tahunan IMF – World Bank 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, sangatlah tepat. Terlebih, pidato disampaikan dalam bahasa millenial yang mudah dicerna. Tak heran, jika Presiden Jokowi mendapat standing ovation dan menjadi trending topik dunia maya.

“Rasanya tidak banyak pemimpin dunia yang bisa mengaitkan trend millenial dalam pidato resmi yang memuat berbagai pemikiran yang tajam. Butuh kecerdasan dan kelihaian yang luar biasa untuk meramu kondisi perekonomian global dikaitkan dengan serial televisi Game of Thrones yang saat ini sedang populer. Pak Jokowi menunjukan kelasnya sebagai pemimpin dunia yang out of the box,” ujar Bamsoet di sela acara pertemuan tahunan IMF – World Bank di Bali, Jumat (12/10/18).

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menerangkan, dalam pidatonya Presiden Jokowi menyampaikan pesan yang sangat penting. Bahwa tidak artinya negara-negara besar memupuk kekayaan jika harus menindas negara-negara lainnya.

“Sebetulnya pidato Presiden Jokowi tersebut sangat keras sekali menyindir negara-negara adikuasa. Namun, karena disampaikan dengan gaya yang enak didengar, apalagi menggunakan berbagai istilah dalam serial televisi Game of Thrones, sehingga tidak membuat merah kuping negara-negara lainnya. Inilah kelihaian diplomasi Presiden Jokowi,” terang Bamsoet.

Mantan Ketua Komisi III DPR RI ini menambahkan, dalam menjalankan diplomasi parlemen, DPR RI senantiasa segaris dengan arah kebijakan politik luar negeri yang dijalankan Presiden Jokowi. Dalam berbagai forum internasional, DPR RI selalu mengajak parlemen negara lain agar meninggalkan paradigma perekonomian lama, dimana yang kuat menindas yang lemah.

“Sudah menjadi tantangan dan tugas berat kita bersama untuk mewujudkan tatanan perekonomian dunia baru yang lebih transparan dan mempunyai aturan disiplin jelas. Selain, membuka peluang bagi negara-negara berkembang untuk meningkatkan akses ke pasar negara maju yang selama ini dirasakan sangat protektif,” papar Bamsoet.

Legislator Dapil VII Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen ini, optimis pidato Presiden Jokowi akan membawa semangat dan warna baru untuk merubah tatanan ekonomi dunia. Mengingat saat ini perang dagang Amerika – Tiongkok telah membuat kondisi ekonomi dunia tak menentu. Sehingga, berakibat membawa dampak terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi global.

“Pidato Presiden Jokowi tadi seharusnya mampu mengetuk pintu hati, khususnya negara-negara adikuasa untuk mengubah cara pandang mereka terhadap dunia. Sehingga, tatanan ekonomi dunia di masa depan harus berasaskan keadilan. Yang kuat tidak disudutkan, yang lemah tidak ditinggalkan,” pungkas Bamsoet. (*Tim IMO)

Jokowi Analogikan Pertumbuhan Ekonomi Layaknya Serial Game of Thrones

57 Views

Nusa Dua-Bali, gardaindonesia.id | Pada Opening Plenary Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Nusa Dua Bali, Presiden Joko Widodo menganalogikan pertumbuhan ekonomi dunia layaknya serial Game of Thrones. Di hadapan delegasi dari berbagai negara, mantan Walikota Solo itu mengisahkan sejumlah great houses dan great families bertarung hebat antara satu sama lain untuk mengambil alih kendali.

Perebutan kekuasaan antar para great houses, menurut Jokowi bagaikan sebuah roda yang berputar. Seiring perputaran roda, satu great houses tengah berjaya sementara house yang lain tengah menghadapi kesulitan.

“Saat ini kita tengah menghadapi ancaman global yang tengah meningkat pesat. Perubahan iklim tengah meningkatkan intensitas badai dan topan di Amerika,” jelas Jokowi dalam sambutannya di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Jumat, 12 Oktober 2018.

Pernyataan Presiden Jokowi sontak mengundang riuh tepuk tangan. Tak terkecuali Bos IMF, Christine Lagarde yang berada di kursi deretan depan Nusa Dua Hall. Di belakang podium juga diputar ilustrasi Mother of Dragons dalam serial Game of Thrones.

Dalam forum itu, Jokowi menegaskan, sekarang bukan saat yang tepat untuk untuk menciptakan rivalitas dan kompetisi. “Ataukah, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk kerjasama dan kolaborasi?”

“Apakah kita terlalu sibuk untuk bersaing dan menyerang satu sama lain, sehingga kita gagal menyadari adanya ancaman besar yang membayangi kita semua?”

Di akhir sambutan, Jokowi kembali menyambung analogi Game of Thrones yang tahun ini memamsuki ‘seasons terakhir’ atas pertarungan ekspansi ekonomi global yang penuh rivalitas dan persaingan.

“Saya berharap saudara-saudara semua pembuat kebijakan moneter dan fiskal dunia menjaga komitmen kerjasama global. Bisa jadi situasinya lebih genting dibandingkan krisis finansial global sepuluh tahun yang lalu,” jelas Jokowi. (*/Tim IMF- WB)