Arsip Tag: protokol kesehatan di pasar tradisional

Aksi Humanis Lurah Fatubesi Edukasi Warga Terpapar dan Terkait Covid-19

396 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Sebagian kita pasti merasa malu atau enggan untuk menyampaikan bahwa kita telah terpapar corona virus disease (Covid-19), namun berbeda dengan yang dilakukan oleh Wayan Astawa terhadap warganya yang terpapar Covid-19, menarik dan patut dijadikan contoh.

Model pendekatan yang dilakukan oleh Lurah Fatubesi, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menarik untuk diulas, namun bukan untuk dielus. Kepada Garda Indonesia pada Selasa siang, 16 Februari 2021, Wayan Astawa membeberkan cara kerjanya dalam memahami kondisi warganya yang terpapar Covid-19 dengan mengunjungi mereka dari rumah ke rumah.

“Di wilayah Fatubesi, posisi saat ini (Februari 2021) terdapat 42 orang yang terpapar Covid-19 dan terdapat tambahan informasi mandiri dari keluarga dan Ketua RT, ada penambahan 5 orang positif Covid-19, sehingga menjadi 47 orang positif,” urai Wayan Astawa.

Lurah Fatubesi, Wayan Astawa saat mengunjungi warga terpapar Covid-19

Lurah Fatubesi yang giat memberikan edukasi humanis di media sosial ini pun membeberkan cara kerja Gugus  Tugas Covid-19 Kelurahan. “Kami bekerja dalam tim, ketika ada informasi warga terpapar Covid-19, lalu saya turun ke lokasi untuk mengecek melalui RT/RW dan mengontak mereka untuk mau di-tracing dan di-swab. Lalu, tim surveyor, puskemas pembantu (Pustu) dan Puskesmas Pasir Panjang, maka laporan masuk ke Gugus Tugas Kelurahan,” urainya.

Kemudian, imbuh Lurah Fatubesi, setelah data masuk, maka warga terpapar Covid-19 diberikan bimbingan kesehatan termasuk obat-obatan berupa vitamin. “Karena dari 3 tim gugus tugas, 2 tim sakit (terpapar Covid-19, red), maka saya yang mengambil alih mengantar obat-obatan itu ke mereka,” ungkapnya.

Dari total 47 Warga Fatubesi yang terpapar Covid-19, urai Wayan Astawa, sekitar 50—60 persen telah dinyatakan negatif atau sembuh. “Data warga terpapar Covid-19 terus berkembang, namun warga yang saya kunjungi tidak ada yang sakit berat atau sekarat (tidak ada yang diisolasi di rumah sakit, red). Puji Tuhan hingga saat ini belum ada yang meninggal dunia akibat Covid-19,” ujarnya.

Wayan Astawa saat berdialog dengan penyintas Covid-19 di Kelurahan Fatubesi

Kelurahan Fatubesi, ungkap Wayan Astawa, dari data warga yang telah sembuh dari Covid-19, pihaknya menyediakan data Penyintas Covid-19. “Kami mendata para penyintas, agar mereka dapat menjadi pendonor plasma darah,” ucapnya.

Lanjut Lurah Fatubesi yang terkenal humoris dan humanis ini, penerapan protokol kesehatan 3 M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) seharusnya sudah sangat membantu untuk melakukan interaksi dan menekan laju penyebaran Covid-19. “Namun, yang terpenting adalah memberikan penguatan secara psikologis kepada warga terpapar Covid-19, karena jika imunitas naik dan terpelihara, maka mereka akan stabil,” tegasnya sembari menyampaikan bahwa jika kita dalam keadaan riang dan gembira, maka kita tak merasa sedang sakit.

Warga Fatubesi, kata Lurah Wayan Astawa, memang membutuhkan vitamin sebagai asupan fisik dan kedekatan emosional sebagai obat psikis. “Itu cara pendekatan saya, karena Covid-19 tak ada obat. Setelah mengonsumsi obat, maka untuk imunitas, dia membutuhkan perhatian dan hiburan agar jangan stres menghadapi masa isolasi mandiri di rumah,” ungkapnya.

Bantuan yang diberikan Kelurahan Fatubesi kepada penyintas Covid-19 dari golongan ekonomi tak mampu

Wayan Astawa pun mengungkapkan Kelurahan Fatubesi juga memberikan perhatian kepada para warga terpapar Covid-19 yang secara ekonomi tak mampu. “Tak semua kami bantu memberikan sembako, namun khusus kepada mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan,” ujarnya seraya mengungkapkan bantuan tersebut merupakan upaya sendiri.

Lalu, terkait penerapan protokol kesehatan dan imbauan kepada para pedagang di Pasar Oeba untuk menaati 3 M, Lurah Fatubesi Wayan Astawa, menandaskan interaksi masyarakat tertinggi berada di pasar. Ia menegaskan bahwa meski tak masuk dalam wilayah administrasi (pengawasan dari Kelurahan Fatubesi), namun ia tetap konsisten memberikan edukasi kepada para pedagang.

“Saya tetap memberikan imbauan yang dikemas dalam bentuk kelakar atau gurauan, karena mereka (pedagang pasar,red), tetap sakit jika terpapar,” pungkasnya.

Penulis dan Editor (+roni banase)

Foto (*/facebook/koleksi pribadi)

Yuk Simak Protokol Aktivitas ‘New Normal’ di Pasar ala Dokter Reisa

226 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Pasar tradisional sejak lama menjadi tempat berkumpulnya masyarakat, sebagai penyokong tulang punggung ekonomi masyarakat. Dari hasil survei profil pasar tahun 2018, oleh Badan Pusat Statistik, ada lebih dari 14.000 pasar tradisional di Indonesia, atau sama dengan hampir 90% dari seluruh jenis pusat perdagangan yang ada di Indonesia.

Namun di tengah pandemi Covid-19, pasar tradisional termasuk dalam kategori tempat yang rentan terjadinya penularan virus corona. Banyak orang yang datang dari segala penjuru kota, sering kali menjadikan pasar penuh sesak, kebersihan yang kurang terjaga, dan standar sanitasi dan higienis yang belum ketat, membuat pasar menjadi tempat yang berisiko.

Menurut Ikatan Pedagang Pasar Indonesia atau IKPPI, lebih dari 400 pedagang di 93 pasar tradisional telah terinfeksi Covid-19 menurut tes cepat yang dilakukan oleh beberapa pemerintah daerah.

Oleh sebab itu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan sebagai bagian dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (Gugus Tugas Nasional) telah mengeluarkan Surat Edaran Menteri Perdagangan Nomor 12 Tahun 2020 tentang pasar yang beradaptasi dengan kebiasaan baru.

Dokter Reisa, sebagai Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional mengatakan, arahan yang pertama dalam SE tersebut adalah agar para pedagang selalu menggunakan masker atau face shield serta sarung tangan selama beraktivitas di pasar.

Dokter Reisa juga menyarankan agar para pedagang tidak menyentuh area wajah dan menganjurkan agar sering mencuci tangan memakai sabun. “Hindari menyentuh wajah, terutama mata, hidung, dan mulut, ketika berdagang. Apalagi, menaik turunkan masker dengan tangan yang kotor. Ingat, cuci tangan sesering mungkin,” pintanya.

Kemudian sesuai SE Mendag Nomor 12/2020 tersebut, pedagang yang diperbolehkan melakukan aktivitas jual beli di pasar adalah mereka yang memiliki suhu tubuh di bawah 37,3 derajat celcius. Selain itu, orang dengan gangguan pernafasan seperti batuk, flu dianjurkan tidak masuk ke pasar.

“Ini adalah panduan badan kesehatan dunia, WHO. Pemeriksaan suhu tubuh bagi para pedagang, wajib dilakukan sebelum pasar dibuka. Tak hanya itu, orang dengan gangguan pernapasan, seperti batuk, atau flu, sebaiknya jangan masuk ke pasar. Risikonya terlalu tinggi,” tutur Reisa.

Dokter Reisa juga menambahkan bahwa para pedagang juga wajib menjaga kebersihan masing-masing kios atau lapak dan sarana umum seperti toilet, tempat parkir dan tempat pembuangan sampah.

Selanjutnya, semua pedagang juga harus negatif Covid-19 yang dibuktikan dari hasil pemeriksaan melalui Polymerase Chain Reaction (PCR) atau tes cepat menggunakan alat rapid test. Ada pun menurut dokter Reisa, pelaksanaan tes tersebut akan difasilitasi oleh pemerintah daerah.

Lebih lanjut, dokter Reisa juga mengatakan bahwa pengunjung pasar juga dibatasi hingga 30 persen dari jumlah pengunjung sebelum pandemi Covid-19. “Pengelola pasar harus mengawasi pergerakan pengunjung di pintu masuk dan pintu keluar pasar, guna mencegah terjadinya kerumunan pembeli,” jelasnya.

“Penjual juga harus membatasi jarak dengan pembeli, minimal satu setengah meter. Tiap kios paling tidak dikunjungi 5 orang saja,” imbuhnya.

Adapun dalam SE Mendag Nomor 12/2020, juga mengatur agar pengelola pasar selalu menjaga kebersihan dengan menyemprot desinfektan secara berkala, setiap 2 hari sekali. Selain itu, pengelola wajib menyediakan tempat cuci tangan, sabun, atau minimal hand sanitizer di area pasar, dan toko swalayan. “Maka pengunjung yang akan masuk ke pasar, diwajibkan untuk mencuci tangan terlebih dahulu,” jelas dokter Reisa.

Kemudian yang terakhir para pedagang juga wajib mengoptimalkan ruang berjualan di tempat terbuka, atau di tempat parkir, dengan physical distancing, jarak antar pedagang sekitar satu setengah, sampai dengan dua meter.

“Sekali lagi, diharapkan kerja sama semua pihak, apabila ada pedagang yang tidak mematuhi protokol tersebut, pihak pengelola pasar dapat memberikan teguran, atau bahkan sanksi,” tandas dokter Reisa.

Kebiasaan Baru di Pasar Tidak Sulit

Dalam penerapan kebiasaan baru di lingkungan pasar, supermarket dan tempat belanja retail lainnya sebenarnya sudah pernah diterapkan dan hal itu tidak sulit dilakukan.

Dokter Reisa mengatakan bahwa protokol yang serupa juga pernah dilakukan pada tahun 2005—2009, ketika wabah flu burung melanda.

Bahkan menurut Dokter Reisa, reformasi pasar tradisional juga sudah dilakukan sejak 14 tahun silam. “Untuk mengendalikan wabah ya, sejak tahun 2005—2009, yaitu wabah flu burung. Jadi, ini bukan hal baru bagi kita untuk membenahi dan menyehatkan pasar. Kalau pasar kita sehat, masyarakat kita makin kuat, agar tetap semangat bersatu melawan Covid-19 sampai menang,” pungkas dokter Reisa. (*)

Sumber berita dan foto (*/Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional)
Editor (+rony banase)