Arsip Tag: tarian padoa

Hanya Sabu & Ngada Mencatat Ekspresi Budaya Tradisional di Kemenkumham NTT

416 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kekayaan Intelektual bersifat personal dan komunal [indikasi geografis dan ekspresi budaya tradisional] seharusnya menjadi perhatian kita dan terutama pemerintah daerah untuk dicatatkan di Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Begitu banyak Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) yang dimiliki oleh masing-masing kabupaten di Provinsi NTT. Sebenarnya apa itu Ekspresi Budaya Tradisional? Jadi, ekspresi budaya tradisional adalah hasil aktivitas intelektual, pengalaman atau pemahaman yang diekspresikan oleh masyarakat adat dalam konteks tradisi yang sifatnya dinamis dan dapat mengalami perkembangan, termaksud di dalamnya ekspresi dalam bentuk kata-kata, musik, gerakan, benda atau tak benda atau gabungan dari bentuk-bentuk tersebut.

Demikian pemaparan Kepala Kantor Kanwil Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Provinsi NTT, Marciana Dominika Jone, S.H. dalam sesi Sahabat Pengayoman dengan Tema “Perlindungan Hak Cipta dan Kekayaan Intelektual Komunal, Menjaga Kekayaan Budaya NTT Agar Tidak Bernasib Sama Seperti Reog Ponorogo” di RRI Kupang pada Selasa, 16 Juni 2020 pukul 09.00—10.00 WITA.

Kakanwil Kemenkumham NTT (kiri) dalam sesi dialog interaktif di RRI Kupang pada Selasa, 16 Juni 2020

Mercy Jone, sapaan akrab dari Kakanwil Kemenkumham NTT yang menjabat sejak 4 (empat) lalu ini didampingi oleh Erni Mamo Li, SH, M.Hum. Kepala Bidang Pelayanan Hukum dan Kasubbid Pelayanan Kekayaan Intelektual, Dientje Bule Logo hadir sebagai narasumber; menegaskan bahwa banyak sekali jenis-jenis Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) di Nusa Tenggara Timur.

“Ada yang berbentuk verbal dan teks misalnya berupa cerita, puisi, dongeng atau simbol indikasi dan lain sebagainya, seperti di Pulau Sumba ada cerita legenda Fatumalandong, EBT musik seperti lagu-lagu daerah dari tiap daerah di NTT, EBT gerakan seperti tarian daerah misalnya Tarian Pado’a dari Kabupaten Sabu, Hegong dari Sika, serta Tarian Ja’i dari Bajawa yang sudah sangat mendunia,” ungkapnya.

Selain itu, imbuh Mercy, di setiap daerah di NTT, masing-masing daerah mempunyai upacara adat misalnya Reba yang merupakan upacara adat dari Ngada, dilaksanakan setiap tahun untuk mensyukuri hasil panen di daerah tersebut dan setiap upacara adat di daerah mempunyai seremonialnya masing-masing.

Khusus di Provinsi NTT, ungkap Mercy, hingga saat ini hanya Sabu yang mencatatkan 2 (dua) EBT dan Ngada mencatatkan 10 (sepuluh) EBT.

“Pemerintah daerah harus berperan aktif mencatatkan Ekspresi Budaya Tradisional agar generasi muda tahu dari mana dia berasal,” tandas Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham NTT.

Ekspresi Budaya Tradisional (Tari Foti) dari Pulau Rote

Negara Punya Kewajiban Melindungi

Dalam konteks ini, tegas Mercy, negara mempunyai kewajiban untuk melindungi semua peninggalan prasejarah dan sebagainya, caranya dengan mencatatkan kepada Kementerian Hukum dan HAM.

“Tinggal dicatatkan, maka akan langsung dilindungi,” jelas Mercy seraya menyampaikan bahwa proses pencatatan EBT tidak serumit Indikasi Geografis yang harus dilakukan penelitian.

Ekspresi Budaya Tradisional Suku Alor

Topik ini diangkat dan dibahas, urainya, dengan tujuan agar masyarakat akan lebih paham seperti apa dan bagaimana sehingga kekayaan intelektual komunal dan hak cipta kita bisa terlindungi agar tidak diklaim oleh negara/daerah lain seperti kasus Batik, Reog Ponorogo dan Angklung.

Ditambahkan oleh Kabid Pelayanan Hukum, Erni Mamo Li , EBT sangat berhubungan erat dengan hak cipta dan hak cipta sendiri merupakan suatu karya hasil ciptaan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, seni dan sastra yang dihasilkan karena inspirasi, kemampuan, pikiran, imajinasi yang diekspresikan dalam bentuk nyata.

“Suatu karya cipta yang masuk dalam lingkup undang-undang hak cipta itu penciptanya harus diketahui dan terkait dengan EBT yang disampaikan Ibu Kakanwil tadi penciptanya sudah tidak diketahui sehingga pemegang hak cipta dari ekspresi budaya tersebut adalah pemerintah dalam hal ini atas nama seluruh masyarakat sehingga tanggung jawabnya ada pada pemerintah bersama dengan masyarakat pemilik eskpresi budaya tersebut,” terang Erni Mamo.

Di akhir dialog, Erni mengimbau kepada seluruh masyarakat agar mari terus lindungi karya yang merupakan hasil dari ciptaan kita karena dengan melindungi, kita mempunyai hak, tidak hanya hak secara ekonomi tetapi juga hak moral karena sampai dengan kita tidak ada di dunia ini pun hak moral akan tetap ada dan melekat pada karya kita.

Penulis, editor dan foto utama (+rony banase)
Foto pendukung Humas Kemenkumham NTT

PJKR Unkris Kupang Budayakan Olahraga Melalui Gerak Budaya

519 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pemeliharaan kekayaan budaya merupakan tanggung jawab generasi muda sebagai pewaris kekayaan seperti tarian daerah, benda-benda pusaka yang perlu dilakukan melalui pendidikan terutama sejak dini sehingga rasa memiliki terhadap budaya tertanam dalam jiwa para pewaris.

Sabtu, 06 Juli 2019, bertempat di Perpustakaan Umum Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Program Studi (Prodi) Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) UKAW Kupang melaksanakan Festival Gerak Budaya, yang diikuti oleh mahasiswa yang mengambil mata kuliah Sosiologi dan Antropologi Olahraga.

Kegiatan ini merupakan bagian dari proses perkuliahan yaitu ujian akhir yang diramu dalam bentuk Festival Gerak Budaya dengan menampilkan gerak budaya dari masing-masing kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan dipentaskan oleh mahasiswa dari setiap daerah.

“Festival ini merupakan Ujian Akhir Semester (UAS), yang biasanya berupa ujian teori, kita kasih ujian praktek untuk mata kuliah sosiologi dan antropologi olahraga”,ujar Dr. Andreas Jhon Lumba, S. Pd., M. Pd, selaku dosen pengasuh mata kuliah tersebut.

Jhoni, sapaan akrabnya, kepada Media Garda Indonesia mengatakan bahwa mata kuliah sosiologi dan antropologi olahraga, berbicara tentang hubungan manusia sebagai makhluk sosial.

“Mata kuliah ini, berbicara tentang hubungan dan interaksi manusia dengan sesama, manusia dengan Tuhan, manusia dengan makhluk ciptaan lainnya, serta dengan benda mati”, ujar dosen yang memiliki hobi bermain bola kaki itu.

Lebih lanjut, Jhoni mengatakan, mahasiswa harus dibekali dengan pengetahuan dalam menganalisis setiap gerak budaya untuk dapat mengetahui makna dari setiap gerakan tersebut.  “Sejumlah aktivitas gerak budaya jika dianalisis lebih detail maka akan memberikan makna tentang hubungan manusia dan juga gerak olahraga. Sehingga mahasiswa tidak boleh mengabaikan gerak budaya. Itu menjadi fondasi sosial dan olahraga”, ujar pria yang membawa team sepak bola Perss Soe menjuarai ETMC tahun 2000.

Jhoni menambahkan, gerak budaya bonet yang ditampilkan dari mahasiswa asal TTS menunjukkan pola hubungan antar manusia juga berkaitan dengan aktivitas yang harus dilakukan dalam olahraga.

“Dari bonet kita belajar bagaimana hubungan kita dengan sesama. Bahwa persatuan itu sangat penting, karena kehidupan masyarakat akan maju jika bersatu. Begitu juga dalam bidang olahraga permainan tim, butuh kekompakan antar semua atlet didalam tim”, ujarnya.

Selain itu, tarian yang ditampilkan dari Lembata yaitu Tarian Baleo atau gerak budaya penangkapan ikan paus, jelas Jhoni, gerak tersebut penuh semangat dan sebagai mahasiswa semangat tersebut yang harus diadopsi oleh mahasiswa.

” Gerak budaya penangkapan ikan paus ini, menunjukkan bahwa semangat dan kerja keras itu sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita. Mau sukses harus punya semangat dan harus kerja keras. Dan jangan lupa bahwa kerja sama dalam kelompok itu juga sangat membantu “, ungkap dosen yang juga pelatih bola kaki itu.

Dirinya berharap bahwa kekayaan budaya harus tetap dijaga dan dilestarikan, karena dari kebudayaan tersebut kita dapat belajar banyak hal tentang kehidupan manusia dan juga tentang olahraga.

“Ya, kita berharap menjadikan olahraga sebagai budaya begitu pula budaya sebagai olahraga. Karena antara olahraga dan budaya memiliki hubungan timbal balik, juga banyak hal positif yang dapat kita pelajari dari keduanya”, pungkas Jhoni Lumba.

Adapun gerak budaya yang ditampilkan yaitu dari Manggarai dengan gerak budaya Tarian Caci, Alor menampilkan Tarian Lego-Lego dan Caka Lele, Tarian Hedung yang ditampilkan mahasiswa asal Ende, dan dari Kabupaten TTU mempertontonkan Tarian Gong dan Tarian Adat TTU.

Sementara itu, Kabupaten TTS menampilkan Bonet, Kabupaten Kupang tampil dengan Tarian Adat dari Amarasi, Tarian Gemu Fa Mi Re dari Maumere, Kabupaten Malaka tampil dengan gerak Budaya Tebe, mahasiswa Rote Ndao menampilkan Tarian Kebalai.

Sementara itu dari daratan Sumba, Kabupaten Sumba Barat Daya menampilkan Tarian Woleka, Sumba Timur tampil dengan Tarian Kataga, mahasiswa asal Sabu tampil dengan Tarian Pedoa serta mahasiswa Lembata yang menampilkan Tarian Baleo.(*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)