Arsip Tag: tenun ntt

Bupati TTU Ray Fernandes: Kita Harus Hargai & Hormati Tata Busana Adat

817 Views

Kefa-T.T.U, Garda Indonesia | “Selama kurun waktu 9 (sembilan) tahun kami telah mewajibkan ASN dan masyarakat untuk mengenakan busana adat lengkap,” ujar Bupati Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) usai upacara bendera memperingati HUT ke-97 Kota Kefamenanu pada Minggu, 22 September 2019 di Kantor Bupati TTU.

“Setiap hari kamis sejak sembilan tahun lalu, seluruh aparatur mengenakan atribut adat lengkap,” ungkap Bupati Ray yang tampil elegan dengan balutan busana adat dari Insana.

Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab TTU dengan balutan busana adat lengkap

Pernyataan tersebut disampaikan Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes, S.Pt. kepada para awak media cetak, elektronik dan daring (online) saat wawancara eksklusif dalam rangkaian kegiatan HUT ke-97 Kota Kefamenanu.

Bupati Ray juga menekankan pentingnya menghormati dan menghargai atribut adat. “Kalau kita tidak menghargai tata cara berbusana adat yang benar lalu siapa yang menghormati dan menghargai,” tanya Bupati Ray yang telah memimpin Kabupaten Timor Tengah Utara selama 2 (dua) periode.

Selain itu, ujar Bupati Ray, setiap pengenaan busana adat lengkap menunjukkan strata sosial yang ada di masyarakat Timor Tengah Utara. “Oleh karena itu kita mengharapkan masyarakat dapat memahami dan menggunakan secara benar sehingga tidak mengaburkan makna dan pesan dari atribut adat itu,” pinta Bupati Ray.

Murid SD dan SMP mengenakan busana adat dari daerah masing-masing

Upacara bendera yang dimulai pada pukul 10.00 WITA—selesai tersebut mewajibkan peserta upacara untuk mengenakan pakaian adat dari daerah masing-masing yang memberikan warna menarik dan unik. tak hanya busana ada TTU namun berbagai busana adat nusantara tampak dikenakan oleh murid SD, SMP, SMA/SMK/MAN, Mahasiswa, ASN, Muspida TTU, dan Forkompinda.

Pantauan Garda Indonesia, tampak hadir Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora yang mengenakan busana adat lengkap dari Insana.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

‘Woven Speech Book’: Tenun sebagai Pengetahuan, Menyurat yang Tersirat

583 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Jes Therik, pria kelahiran Atambua, 14 Juni 1942, kembali menghasilkan karya sebuah buku bertajuk ‘Woven Speech’ yang mengisahkan kekayaan dan beragam karya tenun yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sebelumnya di Jakarta, pada tahun 1989, Jes Therik melahirkan Buku perdana tentang tenun yang berjudul ‘Tenun Ikat dari Timur (Ikat In Eastern Archipelago : An Esoteric Beauty of Ancestral Entity) dengan penerbit Pustaka Sinar Harapan.

Foto zaman dahulu, Jes Therik berpose bersama para saudaranya (berdiri di depan nomor ketiga dari kiri)

Buku Woven Speech hanya diterjemahkan dalam Bahasa Inggris setebal 320 halaman dan diterbitkan oleh PT. Selaras Bintang Media ini dibandrol dengan harga Rp.1,5 juta rupiah, diluncurkan ke publik pada Sabtu, 31 Agustus 2019 pukul 19.00 WITA—selesai di Restoran Nelayan Kupang.

Jes Therik dan istrinya bersama karya buku Woven Speech saat peluncuran, Sabtu, 31 Agustus 2019 di Restoran Nelayan Kupang

Peluncuran buku Woven Speech dihadiri oleh mantan Wakil Gubernur NTT, Esthon Funay; Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dr. Wayan Dharmawa; Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat; Dr. Eben Nuban Timo; dan tamu undangan lainnya.

Jes Therik, isteri dan dua anaknya, berpose bersama Julie Sutrisno Laiskodat (memegang buku Woven Speech) dan Mantab Wagub NTT, Esthon Funay (memegang buku sambil dibuka)

Jes Therik saat dikonfirmasi oleh pemandu acara, Fera Therik; menyampaikan bahwa karyanya Woven Speech menghabiskan waktu lebih dari 20 (dua puluh) tahun hingga rampung dan dapat diluncurkan. Woven Speech didesain oleh Helmy Therik dan Rio Therik sebagai salah satu translater dan para profesor di Amerika Serikat dari teman Jes Therik.

Pria 73 tahun yang sempat menjabat sebagai Kadis Pendapatan Daerah Provinsi NTT kemudian hijrah ke Jakarta pada Januari 1981 dan menjabat sebagai Kepala Pemerintah Provinsi NTT ini memiliki 3 (tiga) orang anak, 1 perempuan dan 2 laki-laki (anak pertama Bety Therik, kedua Rio Therik dan ketiga Helmy Therik).

Jes Therik saat menuturkan keberagaman tenun ikat Nusa Tenggara Timur, mengatakan bahwa para leluhur menyampaikan pesan-pesan dalam bahasa spiritual secara simbolis melalui media tenunan.

“Aneka lambang di tenun ikat yang terdapat dalam tradisi tiap etnik, tradisi tiap kerajaan, tradisi tiap suku tentunya mengandung makna yang hanya dipahami oleh anggota suku itu sendiri. Karena itu dalam buku Woven Speech terdapat macam-macam etnik,” ungkap Jes Therik sambil bertutur tentunya proses produksi tenun harus terampil dan memakan waktu cukup lama.

“Berawal dari ungkapan simbolik dalam tradisi lisan dalam kebudayaan kita, saya menyurat sesuatu yang tersirat dalam perikehidupan nenek moyang kami semua di Nusa Tenggara Timur dengan menggunakan tenun hias sebagai obyek pengamatan,” ungkapnya mengapa buku Woven Speech ditulis.

“Tenunan bukan sekadar sebuah kegemaran namun sebuah pengetahuan,” jelas Jes Therik dan menyampaikan bahwa tema tenun hias telah menjadi tema para peneliti dan pakar antropologi yang menelusuri tenun dari berbagai sudut.

Foto bersama Keluarga Besar Jes Therik

Selain itu, menurut Jes Therik, seorang wanita akan disebut sebagai wanita idaman di kampung jika dia pandai menenun. “Jika pandai menenun, sang wanita akan berbicara kepada keluarganya bahwa dirinya bukan anak-anak dan sudah dapat menentukan masa depan dengan menenenun. Menenun merupakan sebuah akta aktualitas bagi dirinya,” bebernya.

Tenunan indah, kata Jes Therik, dapat meningkatkan martabat pemakainya. “Maka, pakailah tenun yang indah sebagai koleksi fashion zaman now,” pintanya dan menyampaikan

Kepada Garda Indonesia, Jes Therik juga menyampaikan pesan moral untuk bekerja dengan baik dan sepenuh hati maka produk akan mewangi seperti mawar bukan dengan paksaan dan bukan karena kebutuhan akan uang, semua orang memang membutuhkan uang tetapi dikerjakan dengan hasrat yang baik maka akan peroleh hasil maksimal (Action speaks louder than words).

Julie Sutrisno Laiskodat (berbaju putih dan bersarung tenun) berswafoto dengan Keluarga Besar Jes Therik

Sementara itu, Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat mengatakan bahwa tenun NTT mempunyai nilai yang luar biasa dan menyampaikan bahwa Pemprov NTT akan membantu biaya cetak buku dalam Bahasa Indonesia.

“Saya bangga sekali dapat hadir di sini dan menyampaikan permohonan maaf karena Pak Viktor Laiskodat tidak dapat hadir karena harus memenuhi panggilan Presiden Jokowi. Karena itu, saya mohon Bapa Jes Therik untuk menandatangani buku Woven Speech untuk saya serahkan ke beliau,” ujar Ketua Dekranasda NTT yang mengenakan balutan tenunan.

Julie Laiskodat juga memaparkan bahwa tidak ada di dunia ini yang memiliki budaya sekaya Nusa Tenggara Timur, Alor memiliki 54 bahasa daerah, Timor Tengah Selatan memiliki 147 motif tenun dan masih banyak kaya ragam budaya daerah lain.

“Tetapi sedihnya banyak orang yang tidak mengetahui sejarah atau cerita dari budaya NTT,” ungkap Pemilik Butik Tenun LeVico di Jakarta.

Julie Laiskodat juga berkata telah berupaya mencari berbagai informasi tentang kekayaan budaya tenun ikat. “Saya sempat bersungut dan waspada karena ilmu kurang tentang tenun ikat namun saya bersyukur karena hari ini ada buku Woven Speech yang dapat membekali saya saat perang di luar negeri,” tutur isteri Gubernur NTT Viktor Laiskodat yang aktif mempromosikan Tenun NTT ke luar negeri.

“Malam ini Pemprov NTT akan mengambil 50 (lima puluh) buku Woven Speech dan meminta Bapa Jes Therik untuk menerbitkan dalam Bahasa Indonesia,” tandas Julie Sutrisno Laiskodat.

Penulis dan editor (+rony banase)

Lepas Karnaval HUT ke-74 RI, Gubernur NTT: Kita Harus Bangga Kenakan Tenun

371 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), pada Senin, 19 Agustus 2019 bertempat di Alun -Alun Rumah Jabatan Gubernur NTT, melepas peserta Pawai Karnaval dalam rangka HUT Ke-74 Kemerdekaan RI.

Peserta karnaval budaya asal Timor Tengah Utara (TTU) dengan ragam dan corak tenun

Ada yang berbeda dari karnaval tahun ini, karena semua tenunan dari seluruh kabupaten di NTT dikenakan oleh para peserta karnaval.

“Salah satu bentuk kecintaan kita kepada provinsi ini yakni mengenakan hasil karya imajinasi luar biasa dari para penenun di NTT”, kata gubernur usai melepas 93 peserta karnaval.

Lanjut Gubernur Viktor, “Sebagai orang NTT, kita harus bangga mengenakan tenunan khas NTT, karena saat ini tenunan dari kita makin dikenal bukan saja di level nasional, tapi juga di dunia internasional.”

Peserta karnaval budaya dengan balutan tenunan asal Kabupaten Alor

“Kalau dulu, ratusan tahun lalu, leluhur kita dengan peralatan yang sangat sederhana mampu menciptakan sebuah inovasi yang bernilai seni tinggi, maka saat ini sebagai gubernur saya mendorong agar kita semua mampu melahirkan karya seni yang lebih luar biasa agar ciri khas NTT semakin dikenal oleh dunia luar,” pinta gubernur.

Tampak hadir pada acara pelepasan karnaval ini, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT (Ibu Julie Sutrisno Laiskodat), Ketua DPRD Provinsi NTT (H. Anwar Pua Geno), Komandan Lantamal VII Kupang (Laksma TNI IG. Kompiang Ariwibawa), Kasrem 161/WS (Kolonel Inf. I Kadek Subawa), dan sejumlah pimpinan OPD lingkup Pemerintah Provinsi NTT. (*)

Sumber berita (*/Sam Babys—Staf Biro Humas dan Protokol Prov. NTT)
Editor (+rony banase)

Tenunan, Sopia dan Se’i Asal NTT Akan ‘Go International’

241 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Selasa, 30 Juli 2019 Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menerima kunjungan Ketua Komisi A DPRD Provinsi Maluku bersama dua orang anggotanya. Kedatangan mereka untuk menggali informasi lebih tentang pembangunan di NTT yang kian berkembang.

Dalam pertemuan ini, Gubernur Laiskodat memperkenalkan 3 (tiga) industri lokal yang menurutnya akan menjadi unggulan di NTT.

“Tenunan, Sopia dan Se’i akan menjadi industri utama di NTT. Saya pastikan sebentar lagi ketiga industri ini akan dikenal di dunia internasional,” begitu kata Gubernur VBL.

“Sejak dulu kala, tenunan sudah dikerjakan oleh para leluhur di NTT, begitu juga sopi. Jadi, pemerintah tidak perlu mengajarkan lagi cara membuatnya. Saat ini, pemerintah hanya perlu fokus pada bagaimana pemasarannya. Demikian juga se’i (daging yang diasap,red), salah-satu makanan khas NTT yang sudah ada sejak dulu,” sambungnya.

“Saya promosi langsung ke dunia internasional. Beberapa waktu lalu, saya membawa anak-anak dari Kabupaten Sabu Raijua untuk memperkenalkan tarian juga tenunan mereka di festifal pariwisata yang berlangsung di Norwegia. Hasilnya sangat luar biasa, semua tenunan yang dibawa habis terjual, bahkan banyak juga yang sempat memesannya,” kata gubernur.

“Sekarang dunia mengenal yang namanya Sopia (Sopi Asli). Awal saya perkenalkan produk ini, banyak yang menentang, tetapi apa hasilnya sekarang? Saat ini negara Rusia meminta produk Sopia ini untuk keperluan pembuatan Vodka. Hal ini tentu akan semakin meningkatkan pendapatan kita,” sambung VBL.

Pose bersama Gubernur NTT Viktor Laiskodat, Kabiro Humas dan Protokol, Marius Djelamu dan Ketua Komisi A DPRD Provinsi Maluku

Tidak lupa, Gubernur kembali memperkenalkan satu-satunya pohon ajaib yang telah diakui khasiatnya oleh WHO.

“Saat ini kelor di NTT sangat diminati oleh Jepang. Bahkan permintaan mereka tidak tanggung-tanggung, 40 ton per minggu,” ujar Laiskodat.

Itulah mengapa Politisi NasDem itu berani mengatakan bahwa dalam waktu tidak lama lagi, NTT akan mampu bersaing dengan daerah lain. Hal itu wajar, karena beberapa produknya sudah dikenal dunia internasional.

Sementara itu Ketua Komisi A DPRD Provinsi Maluku, Melly Frans mengatakan bahwa sosok Viktor Bungtilu Laiskodat saat ini menjadi sangat terkenal. Diutarakannya bahwa hal tersebut karena kebijakan-kebijakan Gubernur Viktor yang sangat luar biasa.

“Banyak berita, baik di televisi maupun media cetak bahkan di media sosial yang membahas tentang kebijakan bapak gubernur. Saya sering ikuti dan ternyata kebijakan-kebijakan itu mulai terlihat hasilnya sekarang ini, sangat luar biasa,” kata Melly.

“Kami yakin, kedepannya NTT pasti akan sangat maju di bawah kepemimpinan Bapak Viktor. Hal ini merupakan sebuah motivasi tersendiri bagi kami di Maluku, agar mampu bekerja lebih baik lagi,” sambung Melly. (*)

Sumber berita (*/Sam Babys—Biro Humas dan Protokol NTT)
Editor (+rony banase)