Arsip Tag: valentina lovina tanate

Ganti Valentina Tanate, Syaiful Lubis Resmi Jabat Kepala Kantor Bahasa NTT

460 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Acara Pisah Sambut Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTT dari pejabat lama Valentina Lovina Tanate, S.Pd., M.Hum. kepada pejabat baru Syaiful Bahri Lubis. S.S., M.A. yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Kantor Bahasa Provinsi Jambi; dilaksanakan di Aula Nusantara, LPMP Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Selasa, 1 September 2019.

Kepala Kantor Bahasa NTT periode 2016–2020, Valentina Lovina Tanate, S.Pd.

Pejabat baru Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTT Syaiful Bahri Lubis dalam sambutannya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Mama Valen (sapaan Ibu Valentina) atas segala pengabdian yang telah diberikan selama menjabat sebagai Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTT sejak tahun 2016—2020. Di mana selama pengabdian tersebut sudah begitu banyak gebrakan yang dibuat. Salah satunya adalah Sistem Informasi Surat-Surat Elektronik (SINDE).

Sementara itu, Valentina Lovina Tanate menitipkan Kantor Bahasa Provinsi NTT kepada pejabat baru. “Terima kasih atas dukungan dari semua pihak sehingga saya bisa menyelesaikan tugas saya sebagai Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTT. Saya harapkan pejabat yang baru bisa meneruskan kinerja dengan baik dan saya juga mau agar nantinya bisa memiliki gedung kantor sendiri. Semoga ke depannya Kantor Bahasa NTT semakin maju dan tetap ikut aktif berperan mencerdaskan masyarakat dan juga menyukseskan pembangunan di NTT,” ujar wanita yang akan menjalani tugas yang baru sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah.

Sumber berita dan foto (*/Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Hingga Tahun 2020, Tercatat 72 Bahasa Daerah di Provinsi NTT

1.733 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kantor Bahasa Nusa Tenggara Timur adalah Unit Pelaksana Teknis di bawah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menjalankan tugas dan fungsi pelindungan, pengembangan, dan pembinaan bahasa.

Dalam fungsinya untuk pengembangan, pembinaan, pelindungan terhadap bahasa dan sastra yakni bahasa daerah, Kantor Bahasa Provinsi NTT terus melakukan pembaharuan terhadap khazanah bahasa daerah yang masih terpelihara dan digunakan sebagai komunikasi di berbagai daerah di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd., M.Hum. kepada Garda Indonesia, pada Kamis siang, 28 Mei 2020, mengatakan bahwa terdapat perubahan dan penambahan jumlah bahasa daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Kondisi saat ini, tercatat 72 bahasa daerah di Provinsi NTT,” ungkap Valentina seraya menyampaikan sebelumnya pada tahun 2019 tercatat 68 bahasa daerah.

Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate, S.Pd., M.Hum.

Proses pemutakhiran data jumlah bahasa daerah di Provinsi NTT, ujar Valentina, dilakukan berdasarkan pemetaan terhadap beberapa kabupaten dalam satu tahun. “Untuk tahun 2020, Kantor Bahasa NTT melakukan pemetaan di tiga kabupaten yakni di Ende, Sikka, dan Kabupaten Ngada,” urainya.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2019/02/05/68-bahasa-daerah-di-ntt-ayo-pelihara-lestarikan/

Senada, Peneliti Kebahasaan Kantor Bahasa Provinsi NTT, Salimulloh Tegar Sanubarianto menyampaikan bahwa tercatat penambahan empat bahasa yang telah teridentifikasi yakni bahasa Kodi di Sumba Barat Daya, bahasa Kafoa di Alor, bahasa Lona di Alor, dan bahasa Sar di Alor.

“Sementara, bahasa Loli di Sumba Barat merupakan bahasa daerah yang biasa digunakan di sana (sebelumnya, tercatat bahasa Sumba Barat),” ungkap Salim sapaan akrabnya.

Keempat bahasa tersebut, tandas Salim, bukanlah bahasa yang baru muncul, namun merupakan bahasa yang baru berhasil dipetakan oleh Badan Bahasa dan dimasukkan dalam Peta Bahasa di Indonesia.

Adapun 72 bahasa daerah di Nusa Tenggara Timur dengan perincian sebagai berikut:

  1. Bahasa Abui;
  2. Bahasa Adang;
  3. Bahasa Alor;
  4. Bahasa Anakalang;
  5. Bahasa Bajo;
  6. Bahasa Bajo Delang;
  7. Bahasa Batu;
  8. Bahasa Blagar;
  9. Bahasa Buna (Bunak);
  10. Bahasa Dawan;
  11. Bahasa Deing;
  12. Bahasa Dulolong;
  13. Bahasa Gaura;
  14. Bahasa Hamap;
  15. Bahasa Helong;
  16. Bahasa Hewa;
  17. Bahasa Kabola;
  18. Bahasa Kaera;
  19. Bahasa Kafoa di Alor;
  20. Bahasa Kalela (Kawela);
  21. Bahasa Kamang;
  22. Bahasa Kambera;
  23. Bahasa Kambera Pandawai;
  24. Bahasa Kedang;
  25. Bahasa Kemak;
  26. Bahasa Kiraman;
  27. Bahasa Klamu;
  28. Bahasa Klon;
  29. Bahasa Kodi di Sumba Barat;
  30. Bahasa Kolama;
  31. Bahasa Komodo;
  32. Bahasa Kui;
  33. Bahasa Kulatera;
  34. Bahasa Lababa;
  35. Bahasa Lamaholot;
  36. Bahasa Lamatuka;
  37. Bahasa Lamboya;
  38. Bahasa Lewuka;
  39. Bahasa Lio;
  40. Bahasa Lona di Alor;
  41. Bahasa Loli di Sumba Barat;
  42. Bahasa Lura;
  43. Bahasa Mambora;
  44. Bahasa Manggarai;
  45. Bahasa Manulea;
  46. Bahasa Melayu;
  47. Bahasa Nage;
  48. Bahasa Namut;
  49. Bahasa Ndao;
  50. Bahasa Ndora;
  51. Bahasa Nedebeng;
  52. Bahasa Ngada;
  53. Bahasa Omesuri;
  54. Bahasa Palu’e;
  55. Bahasa Pura;
  56. Bahasa Raijua;
  57. Bahasa Retta;
  58. Bahasa Riung;
  59. Bahasa Rongga;
  60. Bahasa Rote;
  61. Bahasa Sabu;
  62. Bahasa Sar di Alor;
  63. Bahasa Sawila;
  64. Bahasa Sikka;
  65. Bahasa So’a;
  66. Bahasa Tabundung;
  67. Bahasa Teiwa;
  68. Bahasa Tetun;
  69. Bahasa Tewa;
  70. Bahasa Wanukaka (Wanokaka);
  71. Bahasa Wersing (Wirasina);
  72. Bahasa Wewewa (Wejewa).

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto utama oleh imujio.com