Arsip Tag: virus corona

Saputangan Kafan Buat Tuan Corona

370 Views

Oleh Marsel Robot

Tuan Corona!

Hanya saputangan dari kafan yang kumiliki
Buat membaringkan kata dan doa menjelang keberangkatan
Dan menghapus darah pada ujung tombak takdir
Terbukalah tabir, aku tak punya apa-apa
Dan tak pernah lebih dari apa-apa
Saputangan kafan menghapus belati dan di hati
Dari doa sebentuk cari muka paling klasik

Tuan Corona!

Hanya saputangan kafan yang kumiliki
Menyapu nyanyian requiem dari benua ke benua
Atas perjalanan saudaraku menuju kelam
Hari-hari ini bulan bercahaya darah dikepung tangisan
Kamboja kuburan berbunga duka
Spoi suara piano di ruang rutin ditelan pusara
Jalan pulang ke rumah lebih jauh daripada ke kuburan
Dan atas bukit, gereja kecil tergelincir oleh air mata
Mungkin suara semesta
yang sedang mengukur jarak antara dia dan kita
Kemudian menyegel takdir di pintu kintal cakrawala

Tuan Corona!
Hanya saputangan kafan yang kumiliki
Mengusap kematian sebagai keindahan sakremental
Yang begitu sentimental di atas sabda
kala semesta memulai berfirman dengan wabah
Kerlap api unggun di tengah kota menjanda

Perjalanan kembali ke dalam diri teramat terjal
Tersedak oleh lahar lendir libido beracun
Kehidupan terasa berada di atas koral
Menjadi padang nestapa mengerikan
Sebab, diriku jauh lebih jahat dari jenis wabah saja di muka bumi
Mungkin, akulah wabah ini?

Tuan Corona!
Hanya saputangan kafan yang kumiliki
Menghalau samar pada geladak kala pulang di bawah gerimis tangis
Setelah doa-doa dilarutkan demi melebutkan tanah kubur
Kutitipkan piring, gelas, senduk, dan mantra di atas pusara
Biar matahari terbenam dalam kafan basah
Sebab, Aku belum mampu pergi dengan tegar ke dalam sunyi
Atau belum mampu menjemput kelam dengan senyum
Selain mengantar mawar hitam di tepi makam yang lebam
Mengeja keberangkatan menuju bunda kesunyian (*)

*/Penulis merupakan Sastrawan dan Dosen FKIP Undana Kupang

Foto oleh boneog.com

Kak Seto Ajak Orang Tua Saat WFH Jadi Guru Bagi Anak Perangi Covid-19

85 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Psikolog Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si. atau akrab disapa Kak Seto mengajak orang tua menjadi guru bagi anak-anak menggantikan peran tenaga pendidik di sekolah saat mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap berada di rumah atau Work From Home (WFH), sebagai upaya memutus rantai penyebaran dan penularan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Orang tua dapat mengisi waktu luang bersama anak dengan aktivitas seperti membaca dongeng atau mengajarkan mereka menyanyikan tentang lagu yang berisi tentang edukasi mengenai corona.

“Untuk menghargai anak-anak, tetap harus bisa sediakan kekuatan sabar yang melimpah dan kreativitas. Mengajar bisa sambil menyanyi atau dongeng bisa dengan boneka,” ujar Dr. Seto Mulyadi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, pada Sabtu, 4 April 2020.

Kak Seto mendorong orang tua untuk menjadi guru sesuai dengan tren kekinian yakni penuh dengan kreativitas dan menciptakan suasana yang nyaman dalam belajar. Hal itu bertujuan agar anak-anak tidak stres saat belajar di rumah karena cara mengajar orang tua yang kemungkinan kurang sabar.

Selain ikut mengajarkan anak-anak mata pelajaran di sekolah selama masa Covid-19 ini, orang tua juga didorong agar tidak henti mengedukasi anak-anaknya terkait etika batuk dan bersin serta menjaga kesehatan.

Kemudian anak-anak juga harus diedukasi untuk menjaga jarak satu hingga dua meter dari orang lain jika terpaksa harus keluar rumah. “Saat bersin, menutup dengan siku bagian dalam. Tentu juga diajarkan cuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir. Kita harus tetap produktif di rumah baik bagi ayah dan bunda termasuk bekerja dan beribadah dari rumah,” imbuhnya.

Dengan cara edukatif dan kreatif itu, penularan virus Corona dapat ditekan, yang diawali sinergi dari keluarga. “Ayah, bunda dan anak-anak dengan potensinya, bersinergi menjadi satu untuk bisa memenangkan upaya melawan Corona ini. Mari bersama menang melawan Covid-19 dan Indonesia bisa,” ujar Kak Seto.

Kak Seto hadir di Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tak lain adalah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat cara-cara menumbuhkan energi positif di kalangan keluarga khususnya saat berada di dalam rumah menghindari penyebaran Covid-19.

Ia mengajak para orang tua menerapkan cara GEMBIRA kepada anak-anak yang merupakan kepanjangan dari gerak, emosi cerdas, makan dan minum sehat, beribadah di rumah, istirahat, rukun dan aktif berkarya. (*)

Sumber berita dan foto (*/Agus Wibowo–Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB)
Editor (+rony banase)

Corona dan Karnaval Cinta Kembali Ke Rumah

493 Views

Corona dan Karnaval Cinta Kembali Ke Rumah

Oleh Marsel Robot 

Kala dunia lagi berlumuran duka lantaran kehidupan sedang tersedak oleh virus misterius “corona” yang mewabah sedunia dan mematikan itu, seorang teman mengirim pesan singkat begini, “Bung, apa yang sedang dunia pikirkan saat ini? Saya sedang membayangkan kota-kota menggantang sepi, berubah menjadi kuburan raksasa, rumah-rumah sakit menjadi padang mayat. Lantas, semua orang menghamburkan semacam tangisan naratif (berkisah) di atas kuburan itu tentang dunia yang kian kerdil, dekil, dan hidup mulai susut dalam gulungan kafan.”

Pesan singkat teman ini, tentu di luar logika kodokteran, ilmuwan, atau para penganut teori konspirasi. Ia hanya menaut-nautkan corona dengan keadaan dunia hari-hari ini. Tidak masuk akal, dan memang ada bagian hidup ini yang misterium, tidaklah cukup akal kita untuk menggapainya. Barangkali teman tadi berimajinasi tentang Tete Manis (Tuhan) mencicilkan hari kiamat atau sedang mengusap romantis ubun manusia yang sedang menciptakan surga rasa neraka di bumi. Atau Tete Manis sedang menyembuhkan manusia dari kesurupan yang selama ini lalai pulang rumah, lupa pulang ke dalam diri, dan lupa jalan menuju-Nya. Mungkin selama ini manusia terus keluar dan meliar di jalanan kehidupan, begitu suntuk menimbun rindu pada dirinya yang tak pernah kelar. Atau selama ini manusia terlalu berhala pada benda. Persis yang diwantikan Yuval Noah Harari (2018), “Saat revolusi saintifik, umat manusia membungkam Tuhan juga.”

Efek Domino Corona

Corona menjadi lida maut yang menjulur dari pojok kelam menyedot nyawa dan mematikan kehidupan. Tak ada virus semisterius corona sepanjang abad ini. Rutinitas manusia sebagai manusia dihentikan. Dari sanalah dirasakan efek sosial corona jauh lebih luas daripada virus corona itu sendiri. Kita diingatkan tidak berkumpul melebihi sepuluh orang. Bahkan, di mana satu dua orang berkumpul, diduga berpotensi virus corona. Itu berarti pula, virus corona menggunting konser kemanusiaan atau basa-basi sosial seperti berjabat tangan, berpelukan, berciuman, dan bentuk-bentuk kemunafikan kolektif lainnya.

Demikian pula, acara penting segenting apapun dihindari. Orang diimbau untuk beribadah di rumah, tinggalkan gereja, masjid, rumah adat, meninggalkan pasar, mall, dilarang bepergian. Kita diminta segera melakukan semacam karnaval cinta pulang ke rumah, pulang ke dalam diri, menikmati hari-hari bahagia di ruang tengah bersama keluarga tercinta. Saat jedah ini adalah waktu paling indah melakukan konser kemanusiaan dengan keluarga seraya menghela napas iman yang kian karatan. Bintang pesepak bola Barcelona, Leonal Messi menikmati masa jedah akibat corona dengan imbauan, “Sudah waktunya untuk bertanggung jawab dan tinggal di rumah, ditambah lagi ini adalah waktu yang tepat untuk bersama orang-orang yang Anda cintai, yang tidak selalu bisa Anda lakukan. Sebuah pelukan…” https://amp.kompas.com/bola/read/2020/03/15/10200068/virus-corona-lionel-messi–waktunya-bersama-dengan-orang-tercinta

Kepanikan dunia lebih krusial pula di bidang ekonomi. Perusahaan nasional atau korporasi transnasional berantakan. Perusahaan maskapai, usaha pariwisata tekor berat. Bayangkan, corona justru muncul dari China yang merupakan negara eksportir terbesar dengan ekspansi paling luas di dunia. Virus Corona menyebabkan perekonomian China memburuk dan berdampak langsung pada fluktuasi ekonomi dunia. Keadaan itu pula yang mendorong pertemuan G-20 yang berlangsung 22—23 Februari 2020. Negara-negara yang tergabung dalam G-20 Amerika, China, Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Perancis, Jerman, India, Italia, Jepang, Indonesia, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Inggris, dan Uni Eropa mengehela tema pertemuan masalah corona, dan membangun solidaritas antara negara, lihat http://www.bi.go.id

Virus Hoaks

Dasar manusia. Masih saja jutek, ugal, dan bandel menimpahkan hoaks menjadi beban tambahan di atas duka dunia karena corona. Virus hoaks yang ditularkan melalui media sosial berhamburan untuk menggemburkan keadaan. Indonesia memang negara paling subur untuk membiakkan hoaks. “Sejumlah 196 hoaks yang terdeteksi. Beragam konten hoaks seperti resep penyembuhan (hoaks tentang bawang putih dapat menyembuhkan corona), tokoh terkenal, Sri Paus dan Herry Poter (Daniel Radcliffe) positif corona, Pangeran Uni Emirat Arab dikabarkan Positif Virus corona, pesan perantai pencegahan virus corona yang mengatasnamakan UNICEF, takut corona, warga tiongkok berebut Al-Quran untuk dipelajari”. Pemerintah Malaysia dan Singapura yang akan menyemprotkan racun pembasmi virus corona atau Covid-19 beredar di media sosial. Pesan berantai lewat aplikasi percakapan WhatsApp pada Minggu, 22 Maret 2020.

Setiap hari virus hoaks menular jauh lebih masif daripada virus corona. Virus hoaks memproduksi kepanikan yang sangat luas dan berdampak pada kegelisahan, dan ketakutan. Keadaan itu pula menjadi rentan (daya tahan tubuh menurun), memudahkan corona menyerbuh tubuh. Virus corona dan virus hoaks mempunyai dampak yang sama dengan cara kerja yang berbeda.

Ada dua perusahaan yang secara kasat mata meraup keuntungan besar. Pertama, perusahaan media sosial yang memproduksi video, kesaksian, pesan pendek atau narasi peristiwa. Terbayang jika ratusan jenis hoaks diproduksi setiap hari, ditularkan 30 juta penduduk, maka mudah dibayangkan keuntungan yang diperoleh dari menjual kebohongan atas kedukaan itu. Kedua, perusahaan pembuat masker yang omsetnya berlipat ganda dan mendatangkan laba yang tak pernah diperkirakan sebelumnya.

Barangkali, kita sedang diingatkan. Sebab, waktu dan ruang telah menyatu dengan eksistensi. Corona, melalui gejala yang sederhana dan menular begitu mudah, mematikan, menghentikan kehidupan. Semua orang diminta pulang ke rumah, pulang ke dalam diri meranumkan kemesrahan dengan keluarga. Sesekali memandang fajar dari serambi timur bersama keluarga, sambil membayangkan tangan pencipta-Nya. Atau bersama keluarga membuka jendela barat memandang sunset (matahari terbenam) merayap menuju peraduan tanpa kita turut ke sana. Lilin memori dinyalakan di hati dan di ruang tengah sambil bertanya siapa kita ini. Kita memang sedang membutuhkan jedah kehidupan yang pernah dikeluhkan Anthony Smith (baca Simiers, 2009), “… bahwa dunia secara keseluruhan tidak dapat menawari kita memori, mitos, dan simbol yang kita butuhkan sebagai makhluk manusia.” Atau minimal seperti terucap dalam penggalan puisi di bawah ini:

Masih punya waktu untuk sekadar mewanti
Apakah kita sedang pergi atau sedang pulang ke eksistensi?
Ketika, aku, kau, dan dia hanya bagian dari perkakas dalam kontainer
Pelabuhan teramat jauh, atau tak ada pelabuhan itu
Kaupun tahu, memori mulai mengering di ladang-ladang
Kaupun tahu, roti yang tak sempat kaubagikan bukan milik kita (Em Er)

(*/Penulis merupakan Dosen FKIP Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang)

Tenaga Medis Pasien Korona Wafat, Presiden Jokowi Berbelasungkawa

243 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo menyampaikan dukacita yang mendalam atas wafatnya sejumlah dokter, perawat, dan tenaga medis yang menangani pasien positif virus korona atau Covid-19. Presiden juga mengapresiasi perjuangan dan dedikasi mereka.

“Saya ingin menyampaikan ucapan dukacita yang mendalam, belasungkawa yang dalam, atas berpulangnya dokter, perawat, dan tenaga medis yang telah berpulang ke haribaan Allah SWT. Mereka telah berdedikasi dan berjuang sekuat tenaga dalam rangka menangani virus korona ini,” kata Presiden dalam keterangan pers di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, pada Senin, 23 Maret 2020.

“Atas nama pemerintah, negara, dan rakyat, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kerja keras beliau-beliau, atas perjuangan beliau-beliau, dalam rangka mendedikasikan diri dalam penanganan Covid-19,” imbuhnya.

Di samping itu, Presiden juga mengatakan bahwa pemerintah akan segera mengalokasikan insentif bagi para tenaga medis yang berjuang di tengah pandemi korona ini. Hal tersebut telah dikoordinasikan dan ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

“Kemarin kita telah rapat dan telah diputuskan, telah dihitung oleh Menteri Keuangan, bahwa akan diberikan insentif bulanan kepada tenaga medis,” jelasnya.

Adapun besaran insentif yang akan diterima oleh para tenaga medis yaitu untuk dokter spesialis sebesar Rp.15 juta, dokter umum dan dokter gigi sebesar Rp.10 juta, bidan dan perawat sebesar Rp.7,5 juta, dan tenaga medis lainnya sebesar Rp.5 juta. Selain insentif bulanan, pemerintah juga akan memberikan santunan bagi tenaga medis yang wafat di daerah tanggap darurat.

“Kemudian juga akan diberikan santunan kematian sebesar Rp.300 juta dan ini hanya berlaku untuk daerah yang telah menyatakan tanggap darurat,” tandasnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/BPMI Setpres)
Editor (+rony banase)

Pemerintah Segera Distribusikan 105.000 Alat Pelindung Diri Covid-19

166 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan telah mendistribusikan sebanyak 10.000 alat pelindung diri (APD) kepada sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19 dan dinas kesehatan seluruh provinsi di Tanah Air.

“APD tersebut didistribusikan sejak Sabtu, 21 Maret hingga Minggu, 22 Maret 2020 pagi,” ucap Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi di Jakarta, pada Minggu, 22 Maret 2020 sore.

Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas Covid-19 selanjutnya juga akan segera mendistribusikan 95.000 APD ke seluruh Indonesia demi pemenuhan kebutuhan sesuai skala prioritas. “Meski akan didistribusikan ke seluruh Indonesia, tentunya gugus tugas telah memiliki daftar skala prioritas daerah mana yang sangat membutuhkan,” ucap Oscar.

Petugas Gugus Tugas Penanganan Penyebaran Covid-19 sedang mempersiapkan pengiriman APD

Lebih lanjut menurut Oscar, pendistribusian tersebut dilakukan sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo pada Rapat Terbatas Mengenai Laporan Tim Gugus Tugas Covid-19 yang diselenggarakan pada Kamis, 19 Maret 2020. Dalam ratas tersebut, Presiden meminta perlindungan maksimal untuk para dokter, tenaga medis, dan jajaran yang berada di rumah sakit yang melayani pasien yang terinfeksi Covid-19.

“Pastikan ketersediaan alat pelindung diri (APD) karena mereka berada di garis terdepan sehingga petugas kesehatan harus terlindung dan tidak terpapar oleh Covid-19,” ujar Presiden dalam ratas tersebut.

Data sementara APD yang telah didistribusikan tahap pertama dengan jumlah 45.000 unit untuk DKI Jakarta sebanyak 35.000 unit, Bogor 5.000 unit, Banten 5.000 unit. Kemudian APD tahap berikutnya dengan jumlah 50.000 unit didistribusikan untuk Jawa Barat sebanyak 15.000 unit, Jawa Tengah sebanyak 10.000 unit, Jawa Timur sebanyak 10.000 unit, D.I.Yogyakarta sebanyak 1.000 unit, Bali sebanyak 4.000 unit dan untuk cadangan 10.000 unit.

Sementara itu pada esok hari, Senin 23 Maret 2020, Oscar mengatakan akan dilakukan penyerahan bantuan alat kesehatan hasil kerja sama antara Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok dan Pemerintah Republik Indonesia.

“Penyerahan tersebut akan dilakukan di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta,” tutup Oscar.(*)

Sumber berita dan foto (*/Agus Wibowo–Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB)
Editor (+rony banase)

‘Update Covid-19 NTT’ Per 19 Maret 2020 ODP Capai 41 Orang dan Akan Meningkat

238 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Berdasar data yang di-update sejak Kamis, 19 Maret 2020 pukul 21.00 WITA, dari laporan fasilitas kesehatan dan dinas kesehatan kabupaten/ kota, hingga saat ini jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) menjadi 41 orang. Jika siang ini ada perkembangan di beberapa fasilitas kesehatan, kami akan update dalam beberapa jam ke depan,” tutur Kepala Dinas Kesehatan NTT, drg. Dominikus Mere didampingi Kabiro Humas dan Protokol Setda Pemprov NTT, Dr. Marius Ardu Djelamu, M.Si. dalam jumpa pers pada Jumat, 20 Maret 2020 di ruangan media center Gedung Sasando Kantor Gubernur NTT.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2020/03/20/odp-covid-19-di-kota-kupang-14-orang-asn-kerja-di-rumah-hingga-4-april/

drg Domi Mere mengatakan jumlah ODP sebanyak 41 orang itu terdiri dari 18 orang dari Kota Kupang (sebelumnya 14 orang); 2 (dua) orang dari Lembata, 12 orang dari Sikka, 7 (tujuh) orang dari Manggarai Barat, dan 1 (satu) orang dari Kabupaten Kupang.

“Hampir 9 daerah di Indonesia terpapar Covid-19 dan di NTT berdasarkan forecasting, terdapat penerbangan maskapai langsung dari daerah terpapar seperti Bali langsung ke Sumba, Labuan Bajo, dan Sikka. Dan di daerah terpapar, banyak warga NTT yang bekerja di sana dan tidak menutup kemungkinan mereka akan kembali dan perkiraan saya jumlah ODP akan terus meningkat di minggu mendatang,” ujar Sekretaris Gugus Tugas Penanganan Penyebaran Covid-19 di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Lanjutnya, “Prediksi kita, sumber bertambahnya ODP berasal dari bagian barat sedangkan dari bagian timur yakni Pemerintah Timor Leste telah melakukan lockdown. Maka, Bapak Gubernur NTT telah mengambil langkah antisipasi bagi ASN dengan mengeluarkan Instruksi Gubernur NTT No 2 Tahun 2020 untuk tidak melakukan perjalanan dinas ke luar daerah”.

Sementara itu, Kabiro Humas dan Protokol Pemprov Setda NTT, Dr. Marius Ardu Djelamu menyampaikan ada kecenderungan angka ODP naik dari waktu ke waktu. “Itu berarti masyarakat NTT wajib mengantisipasi penyebaran virus corona (Covid-19), tentunya kita berharap agar Provinsi Nusa Tenggara Timur selalu terjaga dan dibutuhkan komitmen masyarakat untuk menjaga kesehatan,” pintanya.

Marius Ardu Djelamu juga mengimbau setiap warga NTT yang melakukan perjalanan dan datang dari daerah terpapar Covid-19 (Denpasar, Solo, Jakarta, Manado, Surabaya, Jawa Barat, Jogjakarta, Pontianak) agar dapat melakukan isolasi diri selama 14 hari sambil berkonsultasi dengan fasilitas kesehatan, puskesmas atau rumah sakit.

“Gubernur NTT juga telah mengeluarkan instruksi kepada kita semua agar dapat memproteksi diri dan orang lain. Kita juga mengharapkan agar RT/RW, Kepala Desa, Lurah untuk memantau warga yang melakukan perjalanan ke daerah yang terpapar virus corona,” pungkasnya.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Presiden Jokowi dan Ibu Iriana Negatif Covid-19

282 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo beserta Ibu Negara Iriana Joko Widodo mengumumkan hasil tes deteksi Covid-19 Kamis pagi di Istana Bogor, 19 Maret 2020. Dari hasil yang diterima, keduanya dinyatakan negatif Covid-19.

“Saya dan Ibu Iriana sudah melaksanakan tes deteksi Covid-19 empat hari yang lalu dan sudah keluar hasil tesnya. Alhamdulillah dinyatakan negatif,” ucap Presiden.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para tenaga medis yang sedang bekerja dan merawat para pasien yang terinfeksi Covid-19.

“Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para dokter, para perawat, dan seluruh jajaran rumah sakit yang sedang bekerja keras penuh dedikasi dalam melayani dan merawat para pasien yang terinfeksi Covid-19,” kata Presiden didampingi Ibu Negara.

Presiden juga kembali mengimbau masyarakat untuk mencegah penyebaran Covid-19 dengan belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah di rumah.

“Semoga kita semua diberikan kesehatan yang prima,” tutup Presiden.(*)

Sumber berita (*/BPMI Setpres)
Foto oleh okezone.com

NTT Negatif Corona, RS Umbu Rarameha & Gabriel Manek Jadi Tambahan Rujukan

349 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Penyakit Infeksi Emerging (IPE) Covid-19 atau Corona Virus di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur hingga Senin, 16 Maret 2020, masih dalam status negatif atau belum ada pasien yang terpapar.  Penyakit yang merebak di seluruh dunia ini telah berdampak pada 172 orang di Indonesia, merenggut 5 nyawa dan 9 orang berhasil sembuh.

Kondisi negatif corona virus di Provinsi NTT, disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, drg. Dominikus Mere pada sesi presentasi terkait kesiapan medis dan rumah sakit dalam menghadapi penyebarannya di hadapan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL); Ketua DPRD Provinsi NTT, Emila Nomleni; Sekda Provinsi NTT, Benediktus Polo Maing; Forkompinda, Wakil Bupati Belu, Sekda TTU, Ketua PLBN, Kepala Imigrasi, Kepala KKP Kupang, Manajemen RSU W Z Yohanes, dan semua stakeholder yang terkait di Aula Fernandes, Kantor Gubernur NTT.

“Hingga saat ini NTT masih negatif, namun terdapat 3 (tiga) pasien dengan kapasitas Orang Dengan Pemantauan (ODP) dan hasilnya negatif dirawat di RSU W Z Yohanes. 1 pasien ODP dari Lembata saat ini sedang dirawat di RS T C Hillers dengan penyakit penyerta yakni usus buntu, sebelumnya yang bersangkutan menetap di Inggris,” ujar drg Domi.

Lanjutnya, “1 (satu) lagi dari informasi RS Saint Gabriel Atambua dengan kondisi Orang Dalam Pemantauan dan dalam kondisi sehat”.

Sesuai dengan Kemenkes No 169 yakni penetapan 132 Rumah Sakit di Indonesia, imbuh drg. Domi, termasuk 3 (tiga) rumah sakit yakni RSU W Z Yohanes Kupang, RSUD TC Hillers Maumere, dan RSUD Komodo Labuan Bajo. “Saat ini kita juga sudah mempersiapkan peralatan, logistik dan tenaga kesehatan di rumah sakit tersebut, dan kita juga akan membangun tiga posko siaga Covid-19 di NTT,” jelasnya.

Namun demikian, lanjutnya, karena kita sebagai Provinsi Kepulauan dan Terluar maka diusulkan kepada Kemenkes agar dapat ditambahkan 2 (dua) rumah sakit sebagai tempat rujukan penanggulangan penyakit Covid19 yaitu RSUD Umbu Rara Meha Waingapu dan RSUD Saint. Gabriel Belu.

Perihal alat pelindung diri telah diusulkan ke Menteri Kesehatan, ungkap drg. Domi kepada Gubernur VBL, karena kebutuhan di seluruh Indonesia sehingga ada keterbatasan alat pelindung diri, teman-teman dokter meminta untuk dilindungi dengan alat yang memadai, mudah-mudahan tidak terjangkit seperti di tempat lain.

Usai, mendengarkan laporan Kadis Kesehatan NTT, Gubernur Viktor Laiskodat menyampaikan bahwa untuk menjaga sentralisasi penyampaian informasi terkait Covid-19, maka semua informasi harus bersumber dari Kadis Kesehatan Provinsi NTT dan disampaikan oleh Kabiro Humas dan Protokol Setda Pemprov NTT, Dr. Marius Ardu Djelamu, M.Si.

“Informasi harus satu pintu dan penyampaian informasi terkait Covid-19 berasal dari Kabiro Humas dan Protokol Pemprov NTT,” tegas Gubernur VBL.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)