Arsip Kategori: Komunitas

HHCI Edukasi dan Putuskan Mata Rantai Covid-19 di Wilayah Denpasar

64 Views

Denpasar, Garda Indonesia | Sejumlah relawan yang menamakan diri Happy Helping Community Indonesia (HHCI) turun langsung untuk membantu memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Mereka melakukan penyemprotan disinfektan sekaligus memberi pemahaman kepada masyarakat terkait cara-cara pencegahan Covid-19 di Panti Asuhan Tat Twam Asi, pada Senin, 30 Maret 2020.

Ketua Umum Happy Helping Community Indonesia (HHCI), Ida Bagus Wikanda Permana Utama, mengatakan bersama rekannya tergerak secara moral untuk ikut membantu pemerintah yang memang memiliki keterbatasan. “Kami tergerak untuk memutus mata rantai Covid-19. Jangan sampai banyak warga Bali khususnya Denpasar yang jadi korban,” ujarnya.

Bagus Wikanda Permana yang akrab di panggil Agus Awik menambahkan, penyemprotan cairan disinfektan tak hanya dilakukan di rumah-rumah warga saja. Namun juga di fasilitas umum dan sosial seperti kali ini di Panti  Asuhan Tat Twam Asi.

Menurut Agus Awik, penyemprotan disinfektan serupa akan terus dilakukan di sejumlah wilayah lain di Bali. “Selama wabah Covid-19 belum berakhir, gerakan penyemprotan cairan disinfektan akan terus dilakukan,” ucapnya.

Pose bersama usai penyemprotan disinfektan di Panti  Asuhan Tat Twam Asi

Happy Helping Community Indonesia (HHCI) merupakan salah satu komunitas aktif yang bergerak di Pulau Dewata, Bali. HHCI sendiri merupakan sebuah komunitas yang bergerak di bidang sosial kemanusian. Sampai hari ini, komunitas yang dibentuk pada 2 Februari 2020 dan didirikan oleh Ida Bagus Wikanda Permana Utama dan Ferry Kusuma memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk menjadi relawan. kegiatan komunitas selalu diunggah di akun Instagram : http://www.instagram.com/@happyhelping_community.  Twitterhttp://www.twitter.com/@hpyhelping  dan Web https://happyhelpingcommunity.org/

“Jadi jika ada relawan yang tergerak untuk menjadi relawan Happy Helping Community Indonesia (HHCI), bisa mulai mengikuti akun Instagram Happy Helping Community Indonesia (HHCI) tersebut tidak ada syarat khusus, hanya dibutuhkan hati yang tulus untuk membantu sesama dalam mengikuti kegiatan kerelawanan ini dan bisa langsung kunjungi sekretariat kita di Jalan Tukad Bilok No. 6 Renon Denpasar Selatan,” ujar Agus Awik

Penggagas Happy Helping Community Indonesia (HHCI) Ferry Kusuma mengaku akan terus membantu pemerintah dalam menyosialisasikan hal tersebut karena komunitas tersebut memang terdiri dari relawan yang berasal dari berbagai kalangan masyarakat.

“Meskipun demikian, kami memiliki bidang yang khusus bergerak di kemasyarakatan dan sosial. Nah sekarang kegiatan akan kami fokuskan untuk membantu masyarakat dalam memerangi Covid-19,” kata Ferry.

Sedangkan Pimpinan Panti Tat Twam Asi, Ketut Dewi Anggreni menyampaikan ucapan terima kasih kepada Happy Helping Community Indonesia (HHCI) atas dukungan penyemprotan disinfektan di Panti Tat Twam Asi dan memberikan edukasi tentang virus Corona atau COVID-19 yang telah dinyatakan sebagai pandemi global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kepada anak-anak.(*)

Sumber berita dan foto (*/Rudiantara—Tim IMO Bali)
Editor (+rony banase)

PUSPA NTT Bina Pemulung TPA Alak Kupang Kelola Pupuk Bokashi

105 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak Oktober 2018 hingga sekarang telah membina para pemulung di lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Kecamatan Alak Kota Kupang.

Pola pembinaan yang dilakukan dengan melatih sekitar 40 pemulung yang setiap hari mengais rezeki dengan memanfaatkan limbah sampah ini dengan mengedukasi mereka cara mengolah Pupuk Bokashi (bahan organik kaya sumber hidup) yang menggunakan kotoran sapi dan cromolaena odorata (semak bunga putih yang tumbuh liar), arang sekam dan dekomposer (starter) EM4 dan ABG-Degra.

Wadah yang diinisiasi oleh Kementerian PPPA dan memperoleh SK Gubernur NTT ini terus berkiprah sejak dibentuk pada tahun 2018.

Demikian penjelasan Dr. Twen Dami Dato dari Bidang Ketahanan Keluarga PUSPA NTT pada Sabtu, 1 Februari 2020 pukul 15.20 WITA usai mengolah pupuk bokashi bersama para pemulung di TPA Alak Kota Kupang. “Kami bersama Kelompok Pemulung di TPA Alak hari ini mengolah bokashi periode ke-4 yang rencana bakal melakukan panen pada 1 Maret 2020 nanti,” ujar Dr. Twen Dami Dato kepada Garda Indonesia.

Dr Twen Dami Dato (bertopi) sedang mengawasi Kelompok Pemulung TPA Alak mengolah pupuk bokashi

Dosen Fapet Undana Undana Kupang ini menyampaikan bahwa dirinya dan kelompok Pemulung TPA Alak telah mengolah pupuk bokashi sejak Oktober 2018.

“Tahap pertama pada 30 Oktober 2018, dihasilkan pupuk bokashi sebanyak 2,25 ton yang setara dengan Rp.2.230.000,- (Dua juta dua ratus tiga puluh ribu rupiah); Kedua pada 29 Mei 2019 sebanyak 2,3 ton (2,3 juta rupiah); Ketiga pada 26 Juni 2019 dihasilkan 3 ton (3 juta rupiah), dan Keempat 1 Februari 2020 bakal dipanen pada 1 Maret 2020 dengan estimasi sebanyak 2—3 ton,” ungkap Dr. Twen.

Menurut Koordinator Bidang Ketahanan Keluarga PUSPA NTT ini, dari 40 orang yang dilatih sejak awal namun saat ini hanya 3 orang saja yang mau bekerja hingga sekarang. “Namun pada pada periode kelima bakal ikut sekitar 3 orang lagi,” ungkapnya.

Dr Twen Dami Dato menunjukkan pupuk bokashi hasil olahan Kelompok Pemulung TPA Alak Kupang

Lebih lanjut Dr. Twen menyampaikan bahwa pola pemberdayaan yang dilaksanakan oleh PUSPA NTT adalah untuk membuka cara berpikir para pemulung agar dapat memanfaatkan sampah organik yang ada di TPA Alak untuk dijadikan pupuk.

“Memang susah untuk mengubah cara berpikir (mindset) para pemulung agar berminat menekuni di waktu senggang, namun kami berkomitmen dan konsisten melatih dan membina mereka,” tandasnya.

Sementara itu, Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Perlindungan Anak dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi NTT Sylvia R Peku Djawang, S.P., M.M. melalui Kabid Kelembagaan Gender dan Kemitraan, drg. Maria Silalahi, MPHM. yang dihubungi pada Minggu, 2 Februari 2020 pukul 15.11 WITA menyampaikan bahwa peran Pemprov NTT melalui Dinas PPPA dapat memberikan bantuan sosial kepada para Kelompok Pemulung TPA Alak

“Sebenarnya bansos untuk Kelompok Pemulung TPA Alak dapat segera dicairkan namun terkendala karena mereka belum menyusun proposal dan menyerahkan kepada kami,” beber drg Maria.

Lanjutnya, Semoga dalam minggu ini bisa masuk sehingga minggu depan masuk dananya. drg. Maria menambahkan jika Kelompok Pemulung TPA Alak rajin membuat proposal ke pemprov maka pasti akan dibantu oleh Pemprov sepanjang dalam proposal tersebut tercantum nama dan nomor penanggung jawab yang dapat dihubungi, nomor rekening bank dan fotokopi KTP.

“Pengawasannya nanti melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) NTT,” pungkasnya.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto oleh Twen Dami Dato

Kwarcab Denpasar Ajak Pramuka Jadi Patriot Lingkungan

73 Views

Denpasar-Bali, Garda Indonesia | Menjelang tutup tahun 2019, Kwartir Cabang (Kwarcab) Denpasar melakukan tanam pohon keras di sekitar Bumi Perkemahan (Buper) Segara Mantra Scout Camp, Desa Serangan pada Selasa, 17 Desember 2019.

Penanaman dilakukan oleh anggota pramuka penegak dan pandega dari seluruh SMA/SMK di Denpasar dalam rangkaian kegiatan program Pramuka Peduli serta Pramuka Denpasar adalah Patriot Lingkungan.

Ketua Kwartir Cabang Denpasar Dr. I Gusti Lanang Jelantik, M.Si mengatakan kegiatan penanaman pohon ini diselenggarakan Kwartir Cabang Denpasar (Kwarcab) yang merupakan program tahunan Kwarcab. Lingkungan hidup menjadi persoalan penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat. Sebab, hal ini menyangkut keberlangsungan hidup manusia yang menginginkan adanya lingkungan yang bersih, aman dan tenteram.

”Setiap manusia yang hidup di dunia ini memerlukan lingkungan yang bersih dan sehat agar dapat memberikan kenyamanan hidup. Karena itu manusia wajib peduli terhadap lingkungannya, yaitu dengan cara menjaga, memelihara dan menciptakan lingkungan hidup yang baik,” ujar Lanang Jelantik.

Foto bersama Pramuka Kwarcab Denpasar usai melakukan aksi tanam pohon di Bumi Perkemahan (Buper) Segara Mantra Scout Camp

Kwarcab Denpasar mengajak adik-adik untuk mengimplementasikan Dasa Darma Ke-2 yaitu cinta alam dan kasih sayang sesama manusia serta Implementasi Ajaran Tri Hita Karana terhadap Keseimbangan Alam.

“Alam merupakan tempat di mana kita berdiri dan menghirup udara, tempat di mana kita tinggal dan bergerak secara leluasa, bisa kita bayangkan bagaimana ketika alam tak lagi bersahabat, menampakkan kemurkaannya, tentu seperti halnya bencana-bencana yang kita rasakan saat ini. Oleh sebab itu kita harus menumbuhkan kesadaran diri betapa pentingnya menjaga kelestarian alam,” kata Lanang Jelantik yang juga Dosen UNHI.

Selain tanam pohon, ujar Lanang Jelantik, “Kami juga melaksanakan bersih pantai. Semoga kegiatan bersih pesisir pantai serangan ini adalah hal awal untuk mengajak masyarakat dan adik-adik lebih peduli kepada kebersihan sekitar”.

“Kami pramuka Denpasar akan terus melakukan hal positif seperti ini secara berjenjang dan tidak hanya satu kali saja, sehingga kami mengajak masyarakat sekitar untuk bersama menjaga kebersihan lingkungan,” tandasnya.(*)

Sumber berita (*/Rudianto—Tim IMO Indonesia)
Editor (+rony banase)

Dugaan Pungli di LVRI Belu, Ketua Marcab Veteran: Pungutan Itu Atas Dasar Sepakat

229 Views

Atambua, Garda Indonesia | Diberitakan adanya dugaan pungutan liar (pungli) oleh Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Belu terhadap anggota veteran, Andreas Mali Liku, Ketua Markas Cabang Belu Stefanus Atok memberi klarifikasi di Kantor Markas Cabang LVRI Km. 16, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Propinsi NTT, pada Selasa, 10 Desember 2019 petang.

Baca :

https://gardaindonesia.id/2019/12/09/diduga-lvri-cabang-belu-lakukan-pungli-saat-serahkan-sk-100/

Stefanus menyampaikan, sejumlah uang yang telah disetorkan kepada stafnya Modesta Abuk itu, selain sebagai biaya pengiriman berkas, juga atas dasar saling sepakat. Jumlah yang disetorkan itu pun, hanya senilai Rp. 500.000 (lima ratus ribu rupiah) dan diperuntukkan bagi kebutuhan 24 orang stafnya. Kebutuhan yang disebutkan Stefanus, seperti beli sabun, beli pulsa, isi bensin.

“Karena di sini, mereka itu sifatnya sosial saja. Anak- anak yang saya pakai di sini untuk sosial. Tujuannya, datang mereka kerja. Map lengkap bawa pigi (pergi), datang tinggal kita antar itu lima ratus ribu. Artinya mereka itu untuk bisa tarik napas: mau pulsa, mau bensin, personal dan lain- lain. Itulah lima ratus ribu secara tidak langsung bukan memaksa atau pungutan liar, tapi ini melalui sepakat,”urainya.

Stefanus menjelaskan, soal pemberian uang terima kasih dalam bentuk amplop oleh pihak Andreas Mali Liku itu, memang pernah ada. Namun, menurut Stefanus, waktu itu bukan Andreas sendiri yang datang, melainkan orang lain yang mengaku sebagai anak kandung Andreas.

“Dia pernah memberi amplop tipis. Tapi, saya bilang, bapak bukan itu. Masalah amplop, bapak bawa pulang. Mau terima kasih, harus yang bersangkutan. Kalau bukan yang bersangkutan, anak pun saya tidak mau. Biar kasih berapa banyak pun saya tidak mau,” kisahnya.

Karena menurutnya, kalau yang namanya terima kasih itu beda, harus yang bersangkutan. “Kalau bisa bawa bapak tua datang, dia mau kasih terima kasih yang sewajarnya seperti apa ‘kan, bersangkutan. Kalau ada yang kasih, di antara amplop itu ‘kan kalau dua juta lima ratus atau satu juta, dia taruh dua puluh lima juta ‘kan saya tetap terima karena memang saya sudah terima. Jadi, saya bilang maaf adik, bawa pulang. Bukan soal tanda terima kasih itu tidak penting. Yang pentingnya itu, yang bersangkutan datang, tanda terima itu yang bersangkutan jempol atau tanda tangan, itu dulu. Karena hal begini, adik juga saya tidak tahu, anak kandung atau tidak. Dan anak kandung pun tidak bisa, harus bersangkutan yang masih hidup ya wajar. Anak dan mamanya ahli waris, datang. Jadi, saya bilang saya tidak melihat terima kasihnya, bawa pulang. Suruh orang tua datang sendiri. Mereka datang pada tanggal 2 Desember 2019. Kalau lima ratus ribu itu wajar, tidak bisa tidak,” paparnya.

Pada kesempatan itu, Stefanus juga menyinggung foto yang dimuat pada berita. Menurutnya, mungkin ada pihak- pihak yang sudah melaporkan atau sudah diwawancara oleh wartawan. Karena itu, ia meminta agar sumber informasi Garda Indonesia itu perlu dihadirkan di Kantor Marcab Veteran. “Kalau dia foto secara terbuka, tidak mungkin seperti ini. Ini, dia foto diam- diam. Foto itu dia ambil tanggal 31 Maret 2019, saat urus administrasi,” duganya.

Lebih lanjut dikatakan Stefanus, foto tersebut diambil pada saat masih kerja (administrasi), sehingga jumlah uang yang tampak pada foto itu tipis.
“Ini, kita melihat bahwa ini lima ratus ribu. Kalau uang dua belas juta itu tidak tipis seperti ini. Dia mengatakan uang dua belas juta atau apa lagi yang dia kasih lagi ke Modes. Perlu beliau itu hadir untuk kita luruskan. Bilamana ibu Modes menyangkal atau dia menyangkal, saya akan suruh mereka dua jabat tangan (sumpah), karena di antara Tetun dengan Marae itu pemali,” tegasnya.

Stefanus juga menceritakan, awalnya bapak tua (Andreas) itu datang, bertepatan dengan kesibukan mengurus masalah pelemparan mobil, sehingga tidak sempat dilayani. “Jadi saya bilang bapak, bagaimana besok baru bapak datang. (Besoknya) bapak itu datang lagi, saya ada ke rumah adat. Dong (mereka) telepon saya, saya bilang begini, kasih SK-nya, buat tanda terima, kasih bapak tua tanda tangan, tinggal saya tanda tangan cap. Tapi munculnya saya baca, uangnya total sudah empat belas setengah. Ini yang perlu mereka-mereka itu datang. Anak dua itu, entah dia punya anak atau dia punya pengurus lapangan. Karena datang lapornya anak. Saya bilang bapak mereka datang harus bawa orang tuanya, tanda terima itu mau jempol atau mau tanda tangan itu harus yang bersangkutan,” ulasnya.

Stefanus mengemukakan, hal itu dimaksudkan agar ketika ada penyidikan polisi, dirinya tidak terkena jeratan hukum. “Jadi, kita akan menghadirkan orang tuanya. Apa keterangan ini dia punya atau keterangan setingan dari pihak- pihak tertentu. Di dunia ini tidak ada yang bilang, semua mendapat uang negara dengan gratis. Karena 24 orang yang saya perkerjakan di sini, otomatis dia bekerja ya. Pasti saja ia bekerja saat mau beli sabun, pulsa, bensin ya pasti dari itu- itu. Kita harus koordinasi dengan Andreas Mali Liku. Kami juga berterima kasih, sehingga dengan ini kita biar buka. Sini bapak, mari kita luruskan. Karena hal ini perlu saya juga pantau secara dalam, dalam urusan veteran ini. Apakah dua anak ini yang sudah bolak balik dengan bapak tua itu. Apakah anaknya atau siapa?” tandasnya.(*)

Penulis (*/HH)
Editor (+rony banas) Foto oleh liputan6.com

Diduga LVRI Cabang Belu Lakukan Pungli Saat Serahkan SK 100%

251 Views

Atambua, Garda Indonesia | Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Belu yang berkantor di Km. 16, Desa Bakustulama, kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Propinsi NTT, diduga telah melakukan pungutan liar (pungli) terhadap anggota veteran.

Hal ini terungkap ketika salah satu anggota Veteran, Andreas Mali Liku (warga Kecamatan Lamaknen) berhasil memotret proses penyetoran uang kepada seorang staf Marcab Veteran, pada saat hendak mengambil SK-nya yang sudah terbit sejak Mei 2015 di Kantor Markas Cabang LVRI Belu.

Menurut Andreas Mali Liku yang dihubungi awak media via sambungan telepon seluler pada Senin, 9 Desember 2019 siang, mengaku bahwa, SK 100%-nya sudah dia ambil pada Rabu, 4 Desember 2019 lalu. Padahal, lanjutnya, SK 100% itu sudah terbit sejak Mei 2015 dan disimpan di kantor Veteran Cabang Belu. SK itu baru bisa diambil setelah menyetor uang senilai Rp.14.500.000,- (empat belas juta lima ratus ribu rupiah).

“Uang saya sudah kasih. Kasih pertama, dua juta lima ratus. Kasih kedua, dua belas juta. Mereka bilang kasih itu uang dulu baru bisa ambil SK. Saya ada catatan uang berapa yang saya sudah kasih. Itu catatan saya masih simpan”, akunya.

Andreas juga mengatakan, sejumlah uang yang telah ia setorkan itu pun tidak diberikan kuitansi tanda terima oleh pihak Veteran. “Kuitansi tidak ada. Saya minta kuitansi mereka tidak kasih. Mereka bilang kuitansi tidak ada,”ungkap Mali Liku.

Salah seorang staf pengurus administrasi Veteran, Modesta Abuk yang ditemui awak media di Markas Cabang mengaku telah menerima sejumlah uang, tetapi nilainya tidak besar seperti yang dituduhkan tersebut. Modesta mengemukakan bahwa uang yang diterima dirinya itu (seperti yang tampak pada foto), hanya berjumlah Rp. 500.000 sebagai biaya pengiriman berkas.

“Saya terima betul itu uang, tapi hanya lima ratus ribu. Lima ratus ribu itu wajar. Tapi kalau mereka bilang pernah kasih uang sampai empat belas juta lima ratus itu, saya tidak pernah terima,” katanya membantah.

Modesta, yang dihubungi lagi melalui telepon pada hari yang sama mengaku, Veteran Belu tidak pernah siapkan kuitansi tanda terima uang. “Oh, di sini tidak ada kuitansi. Saya tidak tahu kenapa tidak ada kuitansi. Itu bukan saya punya bagian. Saya juga bukan bendahara. Saya hanya membereskan berkasnya saja. Itu, orang konfirmasi di dalam, bukan dengan kami. Itu di pak ketua punya ruangan,” jelasnya.

Sementara, Ketua Marcab LVRI Belu, Stefanus Atok belum berhasil dikonfirmasi lantaran sedang tidak berada di kantor.(*)

Penulis (*/HH)
Editor (+rony banase)

Bupati Ande Agas Didemo Mahasiswa HIPMMATIM Kupang

418 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kebijakan Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas menuai protes dan kritikan dari puluhan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Himpunan Pelajar Mahasiswa Manggarai Timur (HIPMMATIM) Kupang yang melakukan aksi unjuk rasa pada Kamis, 21 November 2019 dengan melakukan long march dari Taman Nostalgia Kota Kupang dan menuju Gedung DPRD NTT.

Beberapa kebijakan yang dikritik oleh HIPMMATIM Kupang yakni keputusan sepihak penetapan tapal batas Kabupaten Manggarai Timur dan Ngada oleh Gubernur NTT, penggusuran hutan bakau (mangrove) di Pantai Borong, Kelurahan Kota Ndora Kecamatan Borong, aktivitas tambang ilegal di padang Mausui Kecamatan Kota Komba yang diduga kuat dibacking oleh Bupati Agas Andreas dan nasib ratusan pegawai tenaga harian lepas (THL) di Manggarai Timur yang terabaikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur sejak bulan Januari 2019 hingga saat ini.

Ketua HIPMMATIM Kupang, Jefry Nyoman kepada media ini menyampaikan bahwa salah satu keputusan Bupati Andreas Agas terkait tapal batas hanya melahirkan konflik antar masyarakat.

“Keputusan ini hanya melahirkan setumpuk konflik berkepanjangan di tengah masyarakat di wilayah perbatasan serta merusak keharmonisan masyarakat perbatasan yang sudah mendarah daging. Keputusan ini dianggap sepihak dan sarat kepentingan kelompok tertentu karena mengesampingkan aspek musyawarah bersama sejumlah tokoh yang memahami sejarah perbatasan itu,” kata Jefry.

Ia pun menambahkan bahwa terkait dengan Tenaga Harian Lepas (THL), selain belum mendapatkan upah, sebagian besar nasib dari THL ini hingga saat ini masih berstatus dirumahkan. Padahal mereka dijanjikan untuk dipanggil kembali sebagai THL, namun Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur justru merekrut THL baru.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa sikap Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur sangat diskriminatif serta sarat kepentingan,” tegas Jefry.

HIPMMATIM Kupang saat berorasi di Gedung DPRD NTT

Dalam aksi unjuk rasa tersebut, massa HIPMMATIM Kupang menyampaikan beberapa tuntutan yakni :

Pertama, Mendesak Bupati Manggarai Timur untuk segera membatalkan keputusan sepihak bersama tanggal 14 Mei 2019 tentang tapal batas Manggarai Timur dan Ngada;

Kedua, Mendesak Bupati Manggarai Timur untuk segera menindaklanjuti temuan PANSUS DPRD Kabupaten Manggarai Timur tanggal 26 Agustus 2019 tentang penyelesaian sengketa perbatasan Manggarai Timur dan Ngada;

Ketiga, Mendesak Pemerintah Provinsi NTT dan Kapolda NTT untuk segera mengusut dan menindak tegas pelaku pembabatan Mangrove di Pantai Borong Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur;

Keempat, Mendesak Pemerintah Provinsi NTT dan Kapolda NTT segera Mengusut tuntas Pelaku Penambangan Ilegal di Padang Mausui, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba Kabupaten Manggarai Timur;

Kelima, Mendesak Pemerintah Provinsi NTT untuk segera menertibkan tambang ilegal di Padang Mausui, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba Kabupaten Manggarai Timur;

Keenam, Mendesak Bupati Manggarai Timur untuk segera membayar gaji Guru BOSDA serta merekrut kembali para THL yang saat ini di rumahkan dengan proses yang transparan dan akuntabel.(*)

Penulis (*/Isto Haukilo)
Editor (+rony banase)

Dialog Kebangsaan IMO Indonesia ‘Pers Pemersatu Bangsa’

110 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Ikatan Media Online (IMO)-Indonesia pada Sabtu siang, 16 November 2019 menggelar Dialog Kebangsaan bertajuk “Pers Pemersatu Bangsa” di Gedung Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Jakarta.

Ketua Umum IMO-Indonesia, Yakub F. Ismail mengatakan tujuan diadakannya dialog tersebut tiada lain untuk meneguhkan peran dan fungsi pers sebagai perekat bangsa.

“Sesuai dengan tema dialog kita hari ini (Pers Pemersatu Bangsa), bahwa tujuan utama kita adalah mempertegas peran dan fungsi pers (IMO-Indonesia) sebagai bagian penting dalam menjaga sekaligus memperkuat semangat keutuhan bangsa,” ujar Yakub saat memberikan sambutannya di hadapan ratusan peserta dialog.

Sebagai salah satu organisasi badan hukum media online terbesar di Indonesia, IMO-Indonesia hadir sebagai pilar penting demokrasi sekaligus ikut mendorong industri pers tanah air dan turut mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kegiatan dialog dihadiri ratusan peserta dari berbagai latar belakang pendidikan maupun profesi turut hadir dalam kegiatan dialog tersebut termasuk perwakilan 20 pengurus Dewan Pengurus Wilayah (DPW) se-Indonesia.

Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut di antaranya, Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen Joni Supriyanto, Ketua Umum Kadin M. Eddy Ganevo, Dewan Pembina LPJK Nasional, Bachtiar Ujung, Ketua Umum IMO-Indonesia Yakub Ismail, dan Pembina IMO-Indonesia Yuspan Zalukhu.

Kasum TNI Letjen Joni Supriyanto didapuk sebagai Ketua Dewan Pembina IMO Indonesia

Dalam paparannya, Kasum TNI Letjen Joni Supriyanto mengungkapkan pentingnya membangun sinergisitas antara intitusi kemiliteran, terutama dunia intelijen dengan pers.

“Intelijen dan pers adalah dua hal yang sulit terpisahkan. Meski keduanya punya perbedaan dalam hal analisa dan prediksi (peristiwa/kejadian), hubungan keduanya sangatlah penting,” ujar Jenderal bintang tiga itu.

Perwira Tinggi TNI Angkatan Darat itu mengakui betapa penting peran pers saat ini. “Kita harus akui bahwa kehadiran pers saat ini sangatlah penting. Sebab, pers merupakan bagian penting dalam semangat demokratisasi,” cetusnya.

Hanya saja, mantan Pangdam Jaya itu menyesalkan dinamika pers yang kerap tidak mencerminkan etika dan semangat jurnalisme. “Beberapa kejadian, khususnya pada peristiwa politik kemarin terkesan media terjebak dalam menyebarkan pemberitaan hoaks. Nah, ini yang menurut saya penting untuk dievaluasi,” ungkap mantan Wakil Badan Intelijen Strategis (Bais) itu.

Meski begitu, dirinya menyebutkan jika kasus serupa hanya terjadi pada beberapa media saja. Sehingga hal itu cukup menjadi bahan evaluasi bagi insan pers ke depan yang semakin baik.

Selain itu, Joni Supriyanto juga sangat mengapresiasi dan turut bangga setelah dirinya didaulat sebagai Ketua Dewan Penasehat IMO-Indonesia.

“Terus terang saya sangat bangga atas kepercayaan yang diberikan oleh IMO untuk menjadi Ketua Dewan Syuro (Dewan Penasehat),” ucap Jenderal bintang tiga itu.

Di akhir acara, atas nama IMO-Indonesia, Ketum IMO Indonesia mengucapkan terima kasih kepada Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo dan Sekjen LPSK Noor Sidharta yang telah memfasilitasi kegiatan dialog IMO-Indonesia. (*)

Sumber berita (*/@yfi–Tim IMO Indonesia) Editor (+rony banase)

HUT ke-69, IDI NTT Harus Militan dalam Melayani dan Mengabdi

78 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-68 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Nusa Tenggara Timur melaksanakan kegiatan Colour Run dengan mengambil titik start di halaman depan gedung Sasando Kantor Gubernur NTT, Sabtu, 16 November 2019.

Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) bersama sekitar 300 peserta berlari menyusuri rute yang telah ditentukan oleh panitia, yakni melewati Transmart – Korem 161 Wirasakti Kupang – GOR Oepoi – Markas Polisi Militer dan Finish kembali di halaman depan Kantor Gubernur NTT.

Komandan Korem 161 Wirasakti Kupang, Brigjen TNI Syaiful Rahman, dalam sambutannya mengharapkan agar di usianya yang sudah tidak muda lagi, IDI harus lebih profesional.

“Usia 69 tahun tidak muda lagi, IDI harus lebih profesional dalam melayani masyarakat NTT. IDI harus lebih memeras keringat demi melayani masyarakat NTT. Dan saya pastikan bahwa Korem bersama Pemerintah Daerah NTT di bawah kepemimpinan Bapak Viktor Laiskodat akan membantu dan mendukung setiap program dari IDI cabang Nusa Tenggara Timur, sepanjang untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat di Nusa Tenggara Timur,” ujar Syaiful Rahman.

Lanjut Syaiful, “Tantangan itu pasti ada, tetapi kalau kita semua mau bergandengan tangan dan bekerja bersama, maka tantangan itu bukanlah penghalang bagi kita semua untuk mewujudkan masyarakat Nusa Tenggara Timur bangkit menuju sejahtera.”

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang NTT, dr.Stef Soka So.B. dalam sambutannya mengatakan bahwa IDI akan berusaha lebih serius untuk melayani masyarakat Nusa Tenggara Timur. “Waktu pasti berubah, IDI juga harus berubah ke arah yang lebih profesional. Kami akan bekerja lebih maksimal dengan tetap menjaga peran dan fungsi kami. Ulang tahun ke 69 ini mengharuskan kami menjadi agen of change dan agen of development, “ kata Stef.

Sementara itu, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat yang ditemui usai pemotongan tumpeng, kembali menantang IDI agar bekerja lebih profesional, tidak memilih – milih dalam melayani, dan juga harus militan dalam mengabdi di Nusa Tenggara Timur. (*)

Sumber berita (*/Sam Babys–Staf Biro Humas dan Protokol Pemprov NTT)
Editor (+rony banase)