Arsip Kategori: Narkotika

Enam Kendala & Hambatan Pelaksanaan P4GN oleh BNN Provinsi NTT

210 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Seksi Pencegahan bidang P2M terus dan intens melindungi masyarakat NTT dari kejahatan narkotika di mana pada tahun 2019 dilakukan langkah-langkah preventif.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Seksi Pencegahan Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (P2M) BNN Provinsi NTT, Markus Raga Djara, S.H., M.Hum. saat press release yang dihelat oleh BNN Provinsi NTT pada Jumat, 4 Oktober 2019 pukul 10.00 WITA—selesai.

Kepada para awak media, Markus Raga Djara menyampaikan langkah ini diambil sebagai solusi yang tepat untuk mematikan pangsa pasar narkotika di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Mengenai upaya pencegahan yang telah dilaksanakan hingga September 2019, Markus Raga Djara menyampaikan bahwa BNNP NTT telah melakukan kegiatan pencegahan berupa advokasi dan diseminasi informasi berupa pelaksanaan advokasi pembangunan berwawasan Anti Narkoba di instansi pemerintah dan swasta, pelaksanaan diseminasi informasi di bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) dan pelaksanaan sosialisasi bahaya narkoba.

Namun upaya pencegahan yang telah dilaksanakan belum maksimal karena dihadapkan pada hambatan dan kendala. Menurut Kasie Pencegahan yang telah mengikuti pelatihan penyidik ini menyampaikan 6 (enam) hambatan dan kendala antara lain :

Pertama, Luas Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang merupakan provinsi kepulauan;

Kedua, Keterbatasan anggaran dalam menjangkau 22 kab/kota;

Ketiga, Keterbatasan anggaran dalam memanfaatkan media (media cetak, elektronik dan online);

Keempat, Keterbatasan personil dan SDM;

Kelima, Kurangnya dukungan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah dalam mendukung upaya P4GN meskipun telah tersedia regulasi berupa Inpres No 6 Tahun 2018, Permendagri 12 Tahun 2019, Instruksi Gubernur No 1 Tahun 2018 tentang P4GN;

Terakhir mengenai kurangnya dukungan instansi swasta di tingkat provinsi dan kabupaten/kota terhadap pelaksanaan P4GN walupun telah ada regulasi berupa Inpres No 6 Tahun 2018, Permendagri No 12 Tahun 2019, Instruksi Gubernur No 1 Tahun 2018 tentang P4GN.

Walupun dihadapkan dengan kondisi tersebut, jelas Markus Raga Djara dan turut memberikan keterangan Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat, Lia Novika, SKM. dan Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan, Hendrik J Rohi. S.H., M.H.; BNN Provinsi NTT melalui Seksi Pencegahan tetap berkomitmen menyebarkan informasi bahaya penyalahgunaan narkoba secara rutin dan bersifat masif demi melindungi generasi bangsa.

“Ke depan, Seksi Pencegahan BNNP NTT akan tetap fokus pada strategi penanganan permasalahan narkotika yaitu supply reduction dan demand reduction, dengan melakukan pencegahan penyalahgunaan narkotika secara masif dan intens serta meningkatkan kerja sama dengan semua stakeholder dalam penyebaran informasi P4GN,” urai Markus Raga Djara.

“Adanya komitmen dan kerja sama yang kuat Seksi Pencegahan BNNP NTT optimis laju angka prevalensi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dapat ditekan,” tandasnya.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

UPP. Katekisasi Jemaat Kaisarea BTN Kolhua & BNNP NTT Edukasi Bahaya Narkoba

265 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Akhir-akhir ini penyalahgunaan narkoba di Indonesia semakin marak. Pengedaran narkoba pun sangat beragam caranya sehingga banyak orang secara tidak sadar terjerumus dalam penyalahgunaan maupun tergolong pengedar.

Hal tersebut perlu diantisipasi sejak dini, seperti yang dilakukan oleh UPP. Katekisasi Jemaat Kaisarea BTN Kolhua, kepada 48 orang katekumen yang dibekali dengan pemahaman tentang narkotika dan bahaya penyalahgunaan narkotika.

Kegiatan belajar di alam terbuka yang merupakan program khusus UPP. Katekisasi Jemaat Kaisarea BTN Kolhua, dilaksanakan di Pantai Lasiana, pada Minggu 22 September 2019. Hadir sebagai pemateri, Kepala Seksi Pencegahan BNNP NTT, Markus Raga Djara didampingi Duta Anti Narkotika NTT 2019, Ivana Ndun.

Dalam penyampaian materinya, Markus menegaskan bahwa penyalahgunaan narkoba akan berdampak pada kecanduan atau ketergantungan. Dampak dari ketergantungan tersebut adalah gangguan fisik, psikis dan juga sosial. “Jika sekali memakai maka akan ketagihan untuk terus mengonsumsi. Itu bisa berakibat fatal,” jelasnya.

Orang yang menggunakan narkoba, lanjut Markus biasanya sulit tidur, gangguan pada kulit, gangguan kesadaran dan mudah berhalusinasi. “Orang yang kecanduan narkoba biasanya halusinasi tinggi, liat perempuan yang lanjut usia sama seperti nona cantik,” kelakar Markus.

Gangguan lainnya, pecandu narkoba mudah menyakiti diri sendiri dan juga lamban dalam bekerja. Markus menegaskan bahwa pengguna narkoba biasanya mudah gelisah, hilang kepercayaan diri, apatis dan sering curiga.

“Dia (pecandu narkoba, red) akan mengalami gangguan mental dan anti sosial. Dia akan melakukan tindakan-tindakan brutal,” jelasnya.

Peserta Katekisasi Jemaat Kaisarea BTN Kolhua tolak bahaya penyalahgunaan narkoba

Pada Kesempatan yang sama, Ivana Ndun mengajak para anggota katekumen untuk memaksimalkan potensi diri yang sudah dikaruniakan oleh Sang Pencipta.

Ivana membagikan beberapa hal penting melalui permainan mengenal diri sendiri dengan menuliskan hal dan sikap positif dari setiap huruf pada nama panggilan.

Dalam penjelasannya, Ivana menanyakan kepada semua yang hadir terkait maksud dari permainan tersebut. Ivana mencoba menjajal pemahaman para anggota katekumen.

Dirinya lalu menjelaskan bahwa dalam kehidupan manusia, perbuatan baik dan buruk itu bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan. Namun yang perlu dikembangkan adalah hal-hal positif.

“Kita harus mengembangkan sikap positif dan juga hal positif dalam duri agar mampu menangkal setiap hal buruk yang bisa saja terjadi dalam hidup kita,” jelas Ivana.

Diakhir penjelasannya, Ivana menegaskan pentingnya mengembangkan potensi diri. Dirinya menjelaskan bahwa setiap orang telah dibekali dengan potensi yang berbeda-beda, jika dikembangkan dengan baik maka hal itu akan menjadi prestasi yang membanggakan pribadi, keluarga dan tentunya mengangkat nama daerah.

“Mari kita kembangkan talenta yang sudah Tuhan berikan untuk turut serta dalam memajukan Indonesia khususnya NTT tanpa narkoba,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua UPP. Katekisasi Jemaat Kaisarea BTN Kolhua, Madelina Saununu Makandolu, menyampaikan bahwa tujuan diadakan kegiatan belajar di alam terbuka agar para anggota katekumen tidak hanya monoton belajar tentang Alkitab, tetapi juga bisa belajar menikmati dan menghargai Ciptaan Tuhan, serta mampu memahami hal-hal buruk yang bisa merusak masa depan dan mampu mengantisipasinya.

“Narkoba itu sangat berbahaya dan saat ini darurat di Indonesia, sehingga kita harus membekali mereka (anggota katekumen, red) dengan pemahaman tentang apa itu narkoba dan bahaya penyalahgunaannya sehingga tidak mudah terjerumus,” jelas Madelina.

Dalam program belajar di alam terbuka, jelas Madelina ada juga permainan (games) Alkitab yang dilakukan di luar ruang agar belajar memahami Alkitab juga bisa menghargai dan merawat ciptaan Yang Maha Kuasa.

Selain program tersebut, program lainnya yang juga dilakukan oleh anggota katekumen di Jemaat Kaisarea setiap tahunnya adalah kegiatan implementasi kasih di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak dan kunjungan ke panti asuhan.

“Mereka sudah belajar tentang kasih di dalam album Alkitab, maka mereka dituntut untuk mampu mengimplementasikan hal itu, bukan hanya sekadar memahami saja,” ujarnya.

Kegiatan yang dilakukan di lapas berupa Ibadah bersama, berbagi (sharing) bersama terkait pengalaman hidup juga memberikan bantuan-bantuan seperti perlengkapan mandi bagi anak-anak yang berada di Lapas.

“Di panti asuhan juga sama seperti di lapas, mereka beribadah bersama, bercerita, berbagi pengalaman bersama,” pungkas Madelina. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Dua Pedagang di Kabupaten Sikka Tertangkap Pakai Narkoba

192 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Tim Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Nusa Tenggara Timur berhasil mengungkapkan 2 (dua) kasus peredaran gelap narkotika di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dua kasus tersebut melibatkan 2 (dua) orang pedagang di Kampung Garam Jalan Diponegoro Maumere, Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur yang tertangkap menggunakan narkoba jenis sabu-sabu atau metamfetamina pada 17 Mei 2019 lalu. Kasus tersebut melibatkan pelaku berinisial I alias A dan I. Dua orang tersebut merupakan pedagang buah asal Makassar.

Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi NTT dalam press release pada Kamis, 19 September 2019 di Kantor BNNP NTT Jalan Palapa 1A Kota Kupang membeberkan kasus penyalahgunaan narkoba tersebut.

“Dari Tempat Kejadian Perkara (TKP), kami menemukan dua paket kecil sabu yang masing-masing berisi 0,1414 gram dan 0,4808 gram dan satu set alat isap, sebuah pemantik, satu bungkus rokok LA, juga satu paket sabu yang tersisa sedikit dan sudah dipakai untuk tes laboratorium,” ujar Kepala Bidang Pemberantasan BNN NTT, Kompol Doni Bramantyo, SIK. didampingi oleh Kabid Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (P2M), Hendrik J Rohi, S.H. dan Kabag Umum, Anwar Gemar, S.Sos.

Penangkapan dilakukan setelah pihak BNN mendapat laporan dari warga sekitar yang sering melihat ada sesuatu yang aneh di kos di mana kedua pelaku ditangkap. Kos tersebut sering dijadikan tempat nongkrong oleh pelaku dan para koleganya.

“Berdasarkan informasi tersebut kita lakukan pendalaman dan pada tanggal 17 Mei malam sekitar pukul 19—22 WITA (7—10 malam) kami mendatangi tempat tersebut. Saat itu mereka sedang menggunakan sehingga kami langsung membawa mereka ke BNNP NTT untuk proses selanjutnya,” ungkap Doni.

Doni menuturkan, sabu-sabu yang dipakai kedua pelaku dibeli oleh I alias A dari L yang juga berasal dari Makassar dan sekarang masuk dalam Daftar pencarian Orang (DPO). DPO L memberikan sabu-sabu tersebut ke I alias A melalui I. Dari hasil screening awal, kedua pelaku diketahui positif menggunakan metamfetamina.

Kasus tersebut sedang diproses di Pengadilan Negeri Maumere. Dua pelaku dijerat dengan tiga pasal UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, yaitu Pasal 114 (1), Pasal 112 (1), dan Pasal 127 (1) huruf a.

“Ancaman hukumannya minimal 5 tahun penjara karena mereka diketahui menguasai, membeli, menyediakan, memiliki, dan menyimpan. Itu nanti akan dinilai oleh hakim berdasarkan alat bukti dan keyakinannya,” terang Doni.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Masalah HIV/Aids & Narkoba Jadi Atensi Tim Penggerak PKK Kota Kupang

167 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Masalah pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, kehamilan anak dan remaja diluar nikah, kasus perkosaan, kekerasan terhadap anak dan remaja, dan masalah HIV/Aids akibat lemahnya kontrol diri dan keluarga, saat ini marak terjadi di Kota Kupang.

Khusus masalah HIV/Aids, data menunjukkan sejak April 2007 hingga April 2019, penderita HIV di Kota Kupang berjumlah 971 orang sedangkan penderita Aids berjumlah 409 orang. Sehingga menjadi tantangan dan atensi (perhatian) dari Tim Penggerak PKK Kota Kupang karena tren kasus terus meningkat dari tahun ke tahun.

Menyadari kondisi tersebut maka Tim Penggerak PKK Kota Kupang melalui Program Kerja pokja I tahun 2019 menginisiasi dan melaksanakan sosialisasi HIV/Aids dan narkoba pada Kamis, 22 Agustus 2019 pukul 08:30 WITA—selesai di Aula Rujab Wali Kota Kupang.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kupang, Lino Do Pareira saat meminta salah satu pelajar untuk menyampaikan penolakan terhadap narkoba dalam Bahasa Melayu Kupang

Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Wali Kota Kupang, dr Hermanus Man ini, menghadirkan 2 (dua) narasumber yakni Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kupang, Lino Do Pareira dan Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Kupang, Drs.Marselinus Mbay, M.Si. diperuntukkan bagi para pelajar se-Kota Kupang dimulai dari tingkat SD dab SMP, Guru, Orang Tua dan anggota TP PKK kecamatan dan kelurahan termasuk forum anak.

Ketua panitia kegiatan, Dra.Hj.Balkis Soraya Tanof, M.Hum. mengatakan sosialisasi ditujukan bagi masyarakat Kota Kupang terutama pelajar agar dapat meningkatkan pengetahuan dan perubahan perilaku dimulai dari keluarga untuk upaya pencegahan HIV/Aids dan penyalahgunaan narkoba terhadap perilaku anak melalui pola asuh keluarga.

“Salah satu faktor penyebab kerentanan seseorang terinfeksi HIV dan Aids berkaitan dengan perilaku seks bebas,” ujar Balkis Soraya dalam laporannya.

Ketua panitia kegiatan, Dra.Hj.Balkis Soraya Tanof, M.Hum.

Menurut Dosen Sosiolog dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang ini, keterbatasan informasi akan berdampak pada perilaku seks bebas. Hal inilah, sebut Balkis Soraya, yang membuat banyak orang terjerumus dan teridentifikasi dan terinfeksi HIV dan Aids.

“Faktor lain, karena mudahnya masyarakat termasuk para pelajar dalam mengakses layanan pornografi yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap perilaku seks,” ungkap Sosiolog yang sering diminta sebagai juri dalam perhelatan pemilihan puteri yang dihelat oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Kota Kupang.

Dirinya juga menyampaikan bahwa minimnya pendidikan seks dalam keluarga yang dianggap sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan dan belum terakomodirnya pendidikan seks dalam kurikulum pendidikan pada institusi pendidikan sehingga salah satu menjadi faktor pendorong meningkatnya jumlah kasus HIV/Aids.

Lanjutnya, di sisi lain persoalan narkoba juga menjadi ancaman bagi remaja karena keterbatasan informasi dan minimnya pemahaman akan dampak buruk penyalahgunaan narkoba.

“Tim Penggerak PKK Kota Kupang sebagai mitra Pemerintah Kota Kupang melalui gerakan masyarakat dari golongan masyarakat paling bawah seharusnya berpartisipasi aktif untuk mewujudkan program inovasi dari pemerintah yakni ‘Kupang Sehat dan Cerdas’ yaitu masyarakat yang sehat jasmani dan rohani dan cerdas secara intelektual untuk ketahanan keluarga dan pembangunan karakter anak sebagai generasi muda yang bebas dari HIV/Aids dan Narkoba,” tandas Balkis Soraya.

Penulis dan editor (+rony banase)

Kabar Gembira!, Pecandu Narkoba Lapor Diri ke BNN Tidak Akan Dipidana

134 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Penyalah guna atau masyarakat pecandu narkoba yang melaporkan diri secara sukarela di Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat maupun Provinsi, tidak akan dipidana.

Hal tersebut disampaikan oleh Plt. Kepala Seksi Penguatan Lembaga Rehabilitasi BNNP NTT, dr. Daulat Samosir, ketika ditemui disela-sela pemeriksaan narkoba bagi mahasiswa baru Undana Kupang, Rabu 7 Agustus 2019 di Klinik Pratama Undana Kupang.

Daulat menyebutkan bahwa masyarakat yang secara sukarela melaporkan diri tidak akan dipidana karena yang bersangkutan secara sadar ingin berhenti dari penyalahgunaan narkotika, sehingga harus dibantu dan tidak boleh dipersulit.

“Yang datang melaporkan diri, bahwa saya pecandu, saya penyalahguna narkotika, tolong bantu saya untuk diobati. Kita akan mengakomodir”, tegas Daulat.

Daulat juga menjelaskan bahwa salah satu hal penting bagi masyarakat yang melaporkan diri akan dilakukan rehabilitasi tanpa pemungutan biaya sepeserpun.

Plt. Kepala Seksi Penguatan Lembaga Rehabilitasi BNNP NTT, dr. Daulat Samosir

“Pemerintah sudah menyiapkan anggaran untuk rehabilitasi”, jelas Daulat.

Daulat menambahkan bahwa perlakuan berbeda akan terjadi bagi masyarakat yang tidak mau melaporkan diri untuk mengikuti proses rehabilitasi. Lanjutnya, masyarakat yang tertangkap menyalah gunakan Narkotika akan dipidana sesuai aturan yang berlaku.

“Kalau tidak melaporkan diri dan ditangkap langsung oleh aparat, itu prosesnya panjang dan jelas akan dipidana “, ucapnya.

Sementara untuk proses rehabilitasi itu sendiri, lanjut Daulat, akan dilakukan secara berjenjang mulai dari pemeriksaan, assessmen untuk menentukan terapi yang akan dijalani oleh pecandu Narkotika tersebut.

“Proses rehabilitasi untuk setiap individu yang menyalah gunakan Narkotika berbeda-beda, tergantung dari hasil assesment, yang dilihat dari lama waktu penyalahgunaan dan tingkat kemarahannya”, ujar Daulat.

Dirinya juga menjelaskan bahwa masyarakat bisa melakukan pemeriksaan secara gratis di BNNP NTT, dengan membawa alat pemeriksaan tersendiri dan akan dibantu oleh BNNP NTT.(*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Komedian Nunung & Suaminya Terjerat Kasus Narkoba

162 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Komedian Nunung Srimulat ditangkap polisi atas kasus narkoba, Jumat, 19 Juli 2019. Pemilik nama lengkap Tri Retno Prayudati ditangkap bersama suaminya, July Jan Sambiran di kediaman mereka yang berlokasi di Jalan Tebet Timur, Jakarta Selatan.

Dotres Narkoba Polda Metro Jaya telah mengamankan sisa paket sabu yang dari rumah Nunung.

Pengungkapan shabu yang menjerat Komedian Nunung dan suaminya sebagai berikut :

  • Tersangka, Hadi Moheriyanto alias Hery alias Tabu, Jl. Lestari VII Kel.Sukapura, Kec.Cilincing, Jakarta Utara;
  • July Jan Sambirin (suami Nunung), Karyawan Swasta, Jl. Tebet Timur III I, Jakarta Selatan;
  • Tri Retno Prayudati alias Nunung, Seniman, Jl. Tebet Timur III I, Jakarta Selatan.

Tempat Kejadian Perkara, Waktu Penangkapan dan Barang Bukti :

  1. Tempat Kejadian Perkara (TKP) 1 dan dilakukan penangkapan yakni pada Jumat, 19 Juli 2019 pukul. 12:30 WIB, di Jl. Tebet Timur III I, Jakarta Selatan dengan Barang Bukti (BB) berupa : 1 (satu) unit HP Nokia dan uang Rp. 3.700.000,- hasil penjualan shabu;
  2. Tempat Kejadian Perkara (TKP) 2 pada Jumat 19 Juli 2019 pukul.13:15 WIB di kediaman tersangka 2 dan 3 dengan Barang Bukti (BB) berupa 1 klip shabu 0,36 gram, 2 klip kecil bekas bungkus shabu, 3 bh sedotan plastik untuk menggunakan shabu, 1 buah sedotan plastik sendok shabu, 1 buah botol larutan cap kaki tiga untuk bong memakai shabu, potongan pecahan pipet kaca untuk memakai shabu, 1 buah korek api gas dan 4 telepon genggam (handphone)

Sedangkan kronologi penangkapan sebagai berikut :

  • Awalnya tim mendapat informasi dari masyarakat bahwa di TKP 2 sering terjadi penyalahgunaan dan transaksi narkoba, sehingga dilakukan penangkapan tersangka 1 dan ditemukan BB tersebut diatas;
  • Hasil interogasi tersangka 1, pada pukul. 12:30 WIB, menyerahkan narkoba pesanan TSK 3 didepan rumahnya dan memperoleh shabu dari DPO E dengan cara tempel di daerah Cibinong, Bogor, Jawa Barat;
  • Pada pukul. 13:15 WIB, dilakukan penggeledahan di TKP 2 ditemukan BB tersebut diatas. Hasil interogasi TSK 2 dan 3, shabu dibeli dari TSK 1 seharga Rp. 1.300.000,-/gram;
  • 0,36 gram shabu sisa pakai yang dibeli 3 hari lalu dari TSK 1 sebanyak 2 gram;
  • TSK 3 telah menyerahkan uang pembayaran shabu Rp. 3.700.000,- kepada TSK 1 yang sebelumnya masih berhutang Rp. 1.100.000,-.
  • TSK 2 dan 3 mengambil shabu dari TSK 1 sebanyak 10x dalam waktu 3 bulan;
  • TSK 2 dan 3 mangakui memakai shabu 5 bulan lalu untuk stamina dalam bekerja;
    • Telah dilakukan cek urine 3 TSK dengan hasil positif narkoba. (*)

Sumber berita (*/Tim IMO Indonesia)
Editor (+rony banase)

HANI 2019: Beta Sehat, Beta Kuat, Beta Hebat. Stop Narkoba!

154 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Narkoba merupakan kejahatan global yang terjadi diberbagai kalangan dan berbagai usia. Narkoba dapat menciptakan kecanduan bagi penggunanya, sehingga masa depan akan menjadi suram serta menjadi sumber bagi masalah-masalah lainnya.

Upaya menghentikan penggunaan narkoba menjadi sasaran utama Badan Narkotika Nasional (BNN), baik di Pusat maupun di daerah. Upaya Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) terus dilakukan melalui berbagai cara. Rabu, 26 Juni 2019, bertempat di Grand Mutiara Ballroom Lantai II, Badan Narkotika Nasional Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2019, dengan mengangkat tema: Milenial Sehat Tanpa Narkoba Menuju Indonesia Emas.

Hadir pada kegiatan tersebut, Asisten I bidang pemerintahan sekda NTT, Drs. Jamaludin Ahmad, M.M., unsur Forkopimda, Kapolda NTT, Irjen Pol. Drs. Raja Erizmen bersama jajaran, Danrem 161/Wirasakti Kupang, Brigjen TNI Syaiful Rahman, S. Sos., beberapa pimpinan Perguruan Tinggi di Kota Kupang, Insan pers serta ratusan kaum milenial dari kalangan mahasiswa dan pelajar.

Peringatan HANI 2019 ditandai dengan penyerahan Piagam penghargaan kepada Danrem 161/Wirasakti Kupang serta Yayasan Warna kasih atas partisipasi mereka dalam mensosialisasikan bahaya narkoba serta melakukan tes urine untuk mencegah penyalahgunaan narkoba.

Pada kesempatan tersebut, dilakukan pengukuhan 6 (enam) orang Duta Anti Narkoba Provinsi NTT, atas nama :Yoseph Mariano Aprio Ngga, Jesicca Ludjiani De Kyrieleison, Ivanna Jublyana Ndoen, Sinyo Demitrio Kurniawan Pandie, Prischa Maylieta Dewi Putri Ratu Kore ,Josua Andrew Kasih Lapuisaly.

Enam orang duta ini, kedepannya akan bersama-sama dengan BNNP NTT akan membahas berbagai program untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang bahaya narkoba.

“Kita akan sama-sama dengan BNNP NTT akan membahas beberapa program untuk sosialisasi tentang bahaya narkoba. Kita juga akan turun ke masyarakat, bekerja sama dengan berbagai komunitas untuk penyuluhan tentang narkoba”, ungkap Ivana Ndoen salah satu Duta Anti Narkoba Provinsi NTT 2019.

Sebagai bentuk dukung dan pernyataan perang terhadap narkoba, Duta Anti Narkoba Provinsi NTT, membacakan Deklarasi dan mengajak semua yang hadir untuk turut memerangi narkoba melalui yel-yel, ” Beta Sehat, Beta Kuat, Beta Hebat. Stop Narkoba!”.

Sementara itu, Asisten I Sekda Provinsi NTT, Jamaludin Ahmad, dalam dialog P4GN, mengatakan bahwa generasi muda merupakan tulang punggung bangsa, sehingga menjaga dan mewujudkan cita-cita mereka merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa.

“Masa depan sebuah bangsa bergantung pada generasi hari ini. Menjaga mereka dan menjauhkan mereka dari hal-hal buruk, termasuk narkoba merupakan tanggung jawab pemerintah”, ungkap Ahmad.

Bentuk dukungan pemerintah terhadap P4GN diwujudkan melalui peraturan yang dikeluarkan oleh gubernur. Pihaknya juga mendorong pembentukan Perda tentang narkoba baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

” Pemerintah mendukung P4GN melalui Instruksi Gubernur Nomor 1 Tahun 2018, namun itu hanya berlaku untuk aparatur negara, dengan sosialisasi dan pemeriksaan urin. Kita mendorong kedepannya bisa dibentuk Perda tentang narkoba baik di lingkup Provinsi maupun pada tingkat Kabupaten/Kota “, ujarnya Ahmad.

Hadir pula sebagai pembicara, Direktur Reserse Narkoba Polda NTT, Koordinator Tindak Pidana Umum Kejaksaan Tinggi NTT, Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Negeri Kupang, mantan pecandu Narkoba serta Kepala BNNP NTT.

Direktur Resnarkoba Polda NTT, Kombes Pol. Cornelis M. Simanjuntak, S. I. K., mengatakan ada 3 (tiga) pintu masuk narkoba. Pengguna biasanya dari kalangan menengah dan juga para pekerja diluar NTT.

” Sepanjang tahun 2018 sampai saat ini sudah ada 39 kasus yang kita tangani. 30 kasus di tahun 2018 dan 9 kasus di tahun 2019 ini. Ada 3 pintu masuk yaitu melalui Flores, Labuan Bajo dan dari pintu darat di perbatasan Timor Leste – Indonesia. Pengguna biasanya dari kalangan menengah, para pendatang juga para pekerja di luar NTT dan mahasiswa yang kuliah di luar NTT “, ujar Simanjuntak.

Sementara itu, mantan pecandu narkoba, Ragu Nadan mengatakan bahwa dirinya menjadi pecandu narkoba selama 18 tahun. Banyak kejahatan akibat dari narkoba yang sudah dilakukannya. Kejahatan dan ketergantungan pada narkoba membuatnya menjadi bosan dan menyerahkan diri untuk dipenjara dengan harapan bisa mengatasi kecanduan narkoba di penjara.

” Saya sejak SMP sudah gunakan narkoba. Awalnya coba-coba saja. Tapi lama kelamaan kecanduan. Dan efeknya saya buat banyak sekali kasus. Berharap bisa lepas dari ketergantungan pada narkoba di dalam penjara. Tapi dipenjara juga banyak pengedarnya”, tutur Ragu.

Lebihnya, dirinya pernah menjalani pengobatan, tetapi hasilnya nihil. Sampai akhirnya dia menjalani rehabilitasi di Bogor dan bisa melepaskan diri dari kecanduan pada narkoba.

“Saya pernah berobat ke Malaysia, tapi masih kecanduan. Akhirnya saya menjalani rehabilitasi selama 3 tahun di Bogor, saya belajar tentang adiksi, lalu saya terapkan pada diri saya. Dan itu berhasil, saya sampai sekarang tidak kecanduan narkoba lagi”, ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Kepala BNNP NTT, Brigjen Pol. Teguh Imam Wahyudi, SH., MM., menyampaikan rencana program yang akan dilakukan BNNP NTT kedepan serta meminta kepada pemerintah Provinsi untuk membantu dalam rangka menciptakan Perda tentang narkoba serta alokasi dana untuk BNNP NTT.

“Kedepannya kami akan membentuk komunitas relawan anti narkoba untuk membantu penyuluhan tentang narkoba. Kami meminta kepada pemerintah untuk pelajaran tentang narkoba dimasukkan dalam pelajaran di sekolah, disinergikan dengan pelajaran lainnya. Kami juga meminta kepada pemerintah untuk membuat Perda khusus tentang narkoba sehingga ada alokasi dana khusus untuk BNNP NTT dalam pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di NTT”, ujar Teguh.

Peringatan HANI 2019 di NTT juga turut dimeriahkan oleh pementasan Band Timor Raggae Family Kupang serta penampilan Tarian Kreasi Baru dari siswi SMA NEGERI 5 Kupang.(*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Duta Anti Narkoba: Milenial Sehat Tanpa Narkoba Menuju Indonesia Emas

242 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2019 diperingati diberbagai tempat dibelahan dunia sebagai bentuk dukungan terhadap Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN), guna menyelamatkan para generasi muda dari ancam kecanduan narkoba.

Kecanduan narkoba bisa menyebabkan terjadinya kemiskinan, kejahatan dan masa depan dari generasi muda menjadi suram akibat kesenangan sesaat yang ditimbulkan dari penyalahgunaan narkoba.

Peringatan HANI 2019 juga dilakukan BNNP NTT, yang berlangsung pada Rabu, 26 Juni 2019 bertempat di Grand Mutiara Ballroom. Peringatan ini ditandai dengan pengukuhan 6 (enam) orang Duta Anti Narkoba Provinsi NTT.

Ke – 6 orang Duta Anti Narkoba ini adalah Yoseph Mariano Aprio Ngga, Jesicca Ludjiani De Kyrieleison, Ivanna Jublyana Ndoen,Sinyo Demitrio Kurniawan Pandie,Prischa Maylieta Dewi Putri Ratu Kore,Josua Andrew Kasih Lapuisaly.

Mereka adalah remaja yang bergabung pada Komunitas Generasi Berencana dibawah naungan BKKBN Provinsi NTT. Tentunya mereka sangat potensial untuk dapat mempromosikan, menggaungkan dan mensosialisasikan tentang bahaya narkoba bagi masa depan remaja.

Kepada Media Garda Indonesia, Ivana Ndoen salah satu Duta Anti Narkoba NTT, mengatakan bahwa mereka adalah Duta Generasi Berencana (Genre). Mereka dipilih dan dibekali dengan berbagai pemahaman tentang narkoba oleh BNNP NTT.

“Kami berenam adalah Duta Genre NTT. BNNP NTT bekerja sama dengan BKKBN NTT lalu kami dipilih oleh BNNP NTT, dan dibekali dengan berbagai materi tentang narkoba”, ujar alumni SMA Negeri 2 Kupang itu.

Dirinya menambahkan bahwa, jumlah Duta Genre NTT berada pada kisaran 40-an lebih orang. Melalui seleksi lalu mereka ditetapkan menjadi Duta Anti Narkoba Provinsi NTT tahun 2019.

” Kita di Genre NTT itu, Dutanya ada sekitar 40-an lebih orang. Kita diseleksi oleh BNNP NTT, dan akhirnya kami 6 orang ditetapkan sebagai Duta Anti Narkoba NTT tahun 2019″, ujar gadis cantik asal Rote itu.

Sementara itu, Prischa Ratu Kore ketika diwawancarai media ini mengatakan bahwa sebelum bergabung di BNNP NTT, mereka di Genre sudah melakukan berbagai kegiatan melalui sosialisasi tentang narkoba juga karena masalah ini juga punya kaitan langsung dengan remaja sebagai generasi masa depan bangsa.

“Kita di Genre juga sudah sering melakukan sosialisasi termasuk tentang narkoba, karena ini sebenarnya merupakan masalah bagi remaja yang membutuhkan perhatian intens guna menghindarkan remaja dari bahaya narkoba, agar masa depan generasi bangsa jangan menjadi suram. Kita kerjakan bersama dengan komunitas-komunitas untuk melakukan sosialisasi”, ungkap Duta Bahasa NTT tahun 2018 itu.

Berkaitan dengan yel-yel ‘Beta Sehat,Beta Kuat, Beta Hebat.Stop Narkoba’, yang sudah diikrarkan di depan para peserta kegiatan, lanjut Prischa gadis cantik dari Sabu itu, mereka akan mendukung setiap program dari BNNP NTT, termasuk kegiatan yang dilakukan rutin setiap minggu.

” Yel-yel tersebut menjadi motivasi bagi kita untuk terus menggaungkan tentang anti narkoba di kalangan remaja juga di masyarakat. Kita dukung semua program dari BNNP NTT, termasuk yang dilakukan rutin setiap hari sabtu di cara free day (CFD). Disana ada mobil BNN yang selalu parkir dan biasanya ada tarian zumba juga kita lakukan edukasi tentang bahaya narkoba “, ungkap mahasiswa Ilmu Komunikasi Undana itu.

Joshua Lapuisaly, dalam pernyataannya, mengatakan kedepan sebagai bentuk tindakan nyata meraka akan mengunjungi masyarakat untuk menyuarakan tentang cara-cara menghindari narkoba kepada masyarakat.

“Kita akan turun langsung ke masyarakat untuk menyuarakan tentang pentingnya menjauhi narkoba dan cara-cara apa yang harus dilakukan masyarakat ketika ada sesama yang diketahui kecanduan narkoba. Itu akan kita lakukan dalam waktu dekat “, tutur Joshua.

Lebih lanjut, Yoseph Ngga, mengungkapkan bahwa BNNP NTT sudah memiliki relawan dan tindakan lanjutnya adalah pembentukan komunitas yang akan hadir ditengah masyarakat untuk memberikan edukasi tentang narkoba.

“BNNP NTT sudah punya relawan, dan itu terbuka untuk siap saja yang mau bergabung, tidak ada syarat, yang terpenting ada kemauan untuk memberikan edukasi. Tindak lanjut dari itu adalah pembentukan komunitas relawan anti korupsi yang nantinya ada ditengah-tengah masyarakat “, ujar mahasiswa kedokteran Undana itu.

Sinyo Pandie, ketika dikonfirmasi via WA, mengatakan sebagai Duta Anti Narkoba mereka akan memanfaatkan media sosial sebagai wadah promosi dan akan mengunjungi setiap komunitas yang belum pernah didatangi.

” Sekarang ini, semua remaja menggunakan media sosial, kta akan manfaatkan ini untuk promosi. Kita juga akan berkunjung ke komunitas yang belum kita datangi “, pungkas Sinyo.

Perlu diketahui bahwa ke-enam Duta Anti Narkoba Provinsi NTT ini akan bersama-sama dengan BNNP NTT membahas program kerja dalam satu tahun dan akan mengeksekusinya bersama demi mencapai Milenial Sehat Tanpa Narkoba Menuju Indonesia Emas.(*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)