Arsip Tag: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

BNPB : Terdapat 177 Tsunami Besar & Kecil Sejak Tahun 1629—2018

44 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis sejak tahun 1629—2018 terdapat 177 kejadian tsunami besar dan kecil dengan sebaran tsunami diawali di Maluku pada tahun 1629 disusul tahun 1648 di Pulau Timor; kemudian pada tahun 1674 tsunami di Ambon yang menelan korban sebanyak 2.243 orang meninggal, kejadian serupa juga terjadi di Banda.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Dr Sutopo Purwo Nugroho,M.Si., melalui rilis yang disampaikan pada Selasa/25 Desember 2018, tsunami yang terjadi Indonesia usai tahun 1674, tsunami terjadi di Maluku pada tahun 1705, disusul tsunami di Sumbawa tahun 1820; tahun 1833 di Bengkulu; tahun 1856 di Sangihe; tahun 1861 di Sumatera Barat; di Krakatau tahun 1883; tahun 1897 di Mindanao; dan tahun 1948 di Panah.

Sutopo melanjutkan, “ Kemudian kisaran tahun 1960 tsunami terjadi di Seram pada tahun 1965; tahun 1968 di Sulteng; di Sulsel tahun 1969, kemudian tsunami pada tahun 1977 di Sumba dan pada tahun 1979 di Lomblen”.

Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejarah gempa dangkal yang mengakibatkan tsunami sering terjadi di kawasan Indonesia Timur.

“Kawasan Indonesia Timur lebih rawan tsunami, namun masih minim riset, selaras tsunami, sosialisasi, dan Mitigasi tsunami (struktural dan non struktural),” ungkap Sutopo.

Pada era tahun 1990-an, gempa 7,8 SR diikuti tsunami setinggi 36m terjadi di Pulau Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tanggal 12 Desember tahun 1992 yang menelan korban 2.600 orang meninggal-hilang, 18.000 rumah rusak di Kabupaten Ende, Ngada, Sikka dan Kabupaten Flores Timur. Disusul tsunami di Banyuwangi pada tahun 1994 dan tahun 1996 di Biak dan Sulawesi Tengah.

Kejadian tsunami di era tahun 2000-an, terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 pukul 07.59 waktu setempat yang menelan korban berdasar data PBB sebanyak 200.000 orang meninggal. Lalu pada tahun 2006 tsunami terjadi di Pangandaran.

Pada tahun 2018, Sutopo menjabarkan terdapat 3 tsunami disertai gempa yakni pada 29 Juli 2018 di Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), lalu pada 28 September 2018 tsunami terjadi di Palu dan Donggala Sulawesi Tengah dan terakhir tsunami di Selat Sunda pada 23 Desember 2018.

Sumber berita (*/humas BNPB)
Penulis dan Editor (+rony banase)

BNPB : Siapkah Anda Menghadapi Bencana?

55 Views

Jakarta,gardaindonesia.id | Tahun 2018 dapat dikatakan sebagai tahun bencana dengan dampak bencana sungguh luar biasa. Selama tahun 2018, hingga Kamis (25/10/18), tercatat 1.999 kejadian bencana di Indonesia. Jumlah ini akan terus bertambah hingga akhir 2018 mendatang.

Saat ini, wilayah Indonesia akan memasuki musim penghujan. Diperkirakan banjir, longsor dan puting beliung akan banyak terjadi selama musim penghujan. Gempa Bumi tidak dapat diprediksi secara pasti. Rata-rata dalam setahun terjadi 5.000 – 6.000 kali gempa. Gempa Bumi dapat terjadi kapan saja terutama di daerah-daerah rawan gempa. Masyarakat dihimbau untuk selalu waspada. Kenali bahayanya dan kurangi risikonya.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB (Jumat,02/11/18), mengatakan dampak yang ditimbulkan bencana sangat besar. Tercatat 3.548 orang meninggal dunia dan hilang, 13.112 orang luka-luka, 3,06 juta jiwa mengungsi dan terdampak bencana, 339.969 rumah rusak berat, 7.810 rumah rusak sedang, 20.608 rumah rusak ringan, dan ribuan fasilitas umum rusak.

“Kerugian ekonomi yang ditimbulkan bencana cukup besar. Sebagai gambaran, gempabumi di Lombok dan Sumbawa menimbulkan kerusakan dan kerugian Rp 17,13 trilyun. Begitu juga gempabumi dan tsunami di Sulawesi Tengah menyebabkan kerugian dan kerusakan lebih dari Rp 18,48 trilyun. Jumlah ini diperkirakan masih akan bertambah,” terang Sutopo Purwo Nugroho.

Lebih lanjut Sutopo menyampaikan Selama tahun 2018, terdapat beberapa bencana yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian cukup besar yaitu banjir bandang di Lampung Tengah pada 26/2/2018 yang menyebabkan 7 orang meninggal dunia. Bencana longsor di Brebes, Jawa Tengah pada 22/2/2018 yang menyebabkan 11 orang meninggal dunia dan 7 orang hilang. Banjir bandang di Mandailing Natal pada 12/10/2018 menyebabkan 17 orang meninggal dunia dan 2 orang hilang.

“Gempa bumi beruntun di Lombok dan Sumbawa pada 29/7/2018, 5/8/2018, dan 19/8/2018 menyebabkan 564 orang meninggal dunia dan 445.343 orang mengungsi. Bencana gempabumi dan tsunami di Sulawesi Tengah pada 28/9/2018 menyebabkan 2.081 orang meninggal dunia, 1.309 orang hilang dan 206.219 orang mengungsi,”jelas Sutopo.

Sutopo menambahkan; dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah korban meninggal dunia dan hilang akibat bencana pada tahun 2018 ini paling besar sejak 2007. Jumlah kejadian bencana, kemungkinan hampir sama dengan jumlah bencana tahun 2016 dan 2017 yaitu 2.306 kejadian bencana dan 2.391 kejadian bencana. Namun dampak yang ditimbulkan akibat bencana pada 2018 sangat besar.

“Selama tahun 2007 hingga 2018, kejadian bencana besar yang menimbulkan korban banyak adalah pada tahun 2009, 2010 dan 2018. Pada tahun 2009 tercatat 1.245 kejadian bencana. Terjadi gempa cukup besar di Jawa Barat dan gempa di Sumatera Barat. Dampak bencana selama tahun 2009 adalah 1.767 orang meninggal dunia dan hilang, 5.160 orang luka-luka, dan 5,53 juta orang mengungsi dan terdampak bencana,”terang Sutopo.

Hasil survey BNPB menyatakan bahwa Tingkat kesiapsiagaan masyarakat dan pemda masih rendah dalam menghadapi bencana besar. Ini dibuktikan berdasarkan polling bencana, ternyata 77% menyatakan belum siap, 14% menyatakan cukup siap, dan 9% menyatakan siap.

Mitigasi bencana, kesiapsiagaan menghadapi bencana, dan pengurangan risiko bencana masih perlu terus ditingkatkan. Pengurangan risiko bencana harus dimaknai sebagai investasi pembangunan nasional.

Sosialisasi dan pendidikan kebencanaan harus ditingkatkan. Masih banyak masyarakat yang belum paham ancaman bencana dan antisipasi yang dilakukan. Pendidikan bencana perlu memasukkan dalam kurikulum pendidikan sejak SD-SMA. Ini sesuai pendapat masyarakat dari polling bencana. 97% menyatakan pendidikan bencana wajib dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan, sedangkan hanya 3% yang menyatakan tidak setuju

“Untuk membantu meningkatkan pengetahuan dan sosialisasi bencana, maka BNPB menerbitkan Buku Saku Menghadapi Bencana. Di dalam buku ini disampakan hal-hal yang mendasar yang perlu diketahui oleh masyarakat, baik ancaman bencana maupun tips-tips menghadapi bencana,”ungkap Sutopo Nugroho. (*/humas BNPB)

BNPB : 1.999 Kejadian Bencana di Tahun 2018,Ribuan Korban Meninggal

61 Views

Jakarta,gardaindonesia.id | Indonesia adalah negara yang rawan bencana. Berbagai bencana selalu menyertai setiap tahunnya. Tren bencana juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Tingginya bahaya bencana, seperti gempa, tsunami, erupsi gunungapi, banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, puting beliung, dan cuaca ekstrem, juga masih tingginya kerentanan dan masih rendahnya kapasitas menyebabkan tingginya risiko bencana. Bencana adalah multidisiplin, multisektor, multidimensi dan multikomplek yang satu sama lain saling berkaitan sehingga memerlukan penanganan yang komprehensif yang berkelanjutan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan selama tahun 2018, hingga Kamis (25/10/2018), tercatat 1.999 kejadian bencana di Indonesia. Jumlah ini akan terus bertambah hingga akhir 2018 mendatang. Dampak yang ditimbulkan bencana sangat besar. Tercatat 3.548 orang meninggal dunia dan hilang, 13.112 orang luka-luka, 3,06 juta jiwa mengungsi dan terdampak bencana, 339.969 rumah rusak berat, 7.810 rumah rusak sedang, 20.608 rumah rusak ringan, dan ribuan fasilitas umum rusak.

Data yang dihimpun Badan Nasional Penanggulang Bencana (BNPB); Kerugian ekonomi yang ditimbulkan bencana cukup besar. Sebagai gambaran, gempabumi di Lombok dan Sumbawa menimbulkan kerusakan dan kerugian Rp 17,13 trilyun. Begitu juga gempabumi dan tsunami di Sulawesi Tengah menyebabkan kerugian dan kerusakan lebih dari Rp 13,82 trilyun. Jumlah ini diperkirakan masih akan bertambah.

Selama tahun 2018, terdapat beberapa bencana yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian cukup besar yaitu banjir bandang di Lampung Tengah pada 26/2/2018 yang menyebabkan 7 orang meninggal dunia. Bencana longsor di Brebes, Jawa Tengah pada 22/2/2018 yang menyebabkan 11 orang meninggal dunia dan 7 orang hilang. Banjir bandang di Mandailing Natal pada 12/10/2018 menyebabkan 17 orang meninggal dunia dan 2 orang hilang. Gempabumi beruntun di Lombok dan Sumbawa pada 29/7/2018, 5/8/2018, dan 19/8/2018 menyebabkan 564 orang meninggal dunia dan 445.343 orang mengungsi. Bencana gempabumi dan tsunami di Sulawesi Tengah pada 28/9/2018 menyebabkan 2.081 orang meninggal dunia, 1.309 orang hilang dan 206.219 orang mengungsi.

Sutopo berujar, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah korban meninggal dunia dan hilang akibat bencana pada tahun 2018 ini paling besar sejak 2007. Jumlah kejadian bencana, kemungkinan hampir sama dengan jumlah bencana tahun 2016 dan 2017 yaitu 2.306 kejadian bencana dan 2.391 kejadian bencana. Namun dampak yang ditimbulkan akibat bencana pada 2018 sangat besar.

“Selama tahun 2007 hingga 2018, kejadian bencana besar yang menimbulkan korban banyak adalah pada tahun 2009, 2010 dan 2018. Pada tahun 2009 tercatat 1.245 kejadian bencana. Terjadi gempa cukup besar di Jawa Barat dan gempa di Sumatera Barat. Dampak bencana selama tahun 2009 adalah 1.767 orang meninggal dunia dan hilang, 5.160 orang luka-luka, dan 5,53 juta orang mengungsi dan terdampak bencana,”ungkap Sutopo.

Lebih lanjut Sutopo menyebutkan pada tahun 2010 tercatat 1.944 kejadian bencana. Beberapa kejadian besar terjadi secara beruntun selama 2010 yaitu banjir bandang Wasior, tsunami Mentawai, erupsi Gunung Merapi, dan erupsi Gunung Bromo. Dampak yang ditimbulkan bencana selama tahun 2010 adalah 1.907 orang meninggal dunia dan hilang, 35.730 orang luka-luka dan 1,66 juta orang mengungsi dan terdampak bencana.

Selama tahun 2018 ini, bencana hidrometeorologi tetap dominan. Jumlah kejadian puting beliung 605 kejadian, banjir 506, kebakaran hutan dan lahan 353, longsor 319, erupsi gunungapi 55, gelombang pasang dan abrasi 33, gempabumi yang merusak 17, dan tsunami 1 kali. Gempabumi yang merusak dan tsunami memang jarang terjadi. Namun saat terjadi gempabumi yang merusak seringkali menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang besar.

Statistik bencana tersebut makin menunjukkan bahwa negara kita rawan bencana. Secara umum tingkat kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana-bencana besar belum siap. Mitigasi bencana, kesiapsiagaan menghadapi bencana, dan pengurangan risiko bencana masih perlu terus ditingkatkan. Pengurangan risiko bencana harus dimaknai sebagai investasi pembangunan nasional. Tanpa itu maka dampak bencana akan selalu menimbulkan korban jiwa besar kerugian ekonomi yang besar.

Tambah Sutopo, saat ini, wilayah Indonesia akan memasuki musim penghujan. Diperkirakan banjir, longsor dan puting beliung akan banyak terjadi selama musim penghujan. Gempabumi tidak dapat diprediksi secara pasti. Rata-rata dalam setahun terjadi 5.000 – 6.000 kali gempa. Gempabumi dapat terjadi kapan saja terutama di daerah-daerah rawan gempa.

“Masyarakat dihimbau untuk selalu waspada. Kenali bahayanya dan kurangi risikonya,”pinta Sutopo. (*/humas BNPB)

11 Titik Longsor di Mandaling Natal Diatasi, 17 Korban Dievakuasi

43 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Evakuasi yang dilakukan tim SAR gabungan bersama relawan dan masyarakat telah menemukan 17 korban meninggal akibat banjir dan banjir bandang di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. 11 titik longsor yang awalnya menutup beberapa ruas jalan di Mandailing Natal juga sudah dapat diatasi. Alat berat dikerahkan untuk membantu evakuasi korban dan membersihkan material longsor.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB kepada media menyampaikan rilis, jumlah korban meninggal dunia tercatat 17 orang hingga malam ini (Jumat, 12/10/18) yaitu 12 orang anak sekolah di Kecamatan Ulu Pungkut, 3 orang pekerja gorong-gorong jalan di Kecamatan Muara Batang Gadis, dan 2 orang yang kecelakaan mobil masuk ke Sungai Aek Batang Gadis saat banjir.

Dari 29 anak sekolah SD Negeri; 23 sekolah sore yang diterjang banjir bandang di Desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal, pada Jumat (12/10/2018) sore, kondisinya 12 anak meninggal dunia dan 17 anak berhasil diselamatkan. Semua korban adalah anak-anak berusia di bawah 12 tahun.

Dari 17 anak yang selamat 7 anak diantaranya luka-luka dan dirawat di Puskesmas setempat. Selain itu 2 orang guru juga ditemukan selamat. Korban selamat ditemukan di bawah reruntuhan bangunan dan sebagian terseret oleh banjir bandang.

Banjir bandang juga menyebabkan 12 rumah hanyut dan rusak total, 9 rumah rusak berat dan 3 bangunan fasilitas umum rusak berat di Desa Muara Saladi. Masyarakat mengungsi di rumah kerabatnya.

Sedangkan 2 korban meninggal yang ditemukan di dalam mobil yang terjebur ke Sungai Aek Batang Gadis adalah seorang pegawai PT. Bank Sumut dan seorang anggota Polri yang sedang mengawal pegawai PT Bank Sumut. Korban telah diserahkan kepada pihak keluarga. Sedangkan korban 3 orang pekerja gorong-gorong jalan di Kecamatan Muara Batang Gadis juga sudah diserahkan pada keluarga.

Hingga malam ini tidak lagi ada laporan kelurga yang merasa kehilangan anggota keluarganya di 11 kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal yang mengalami banjir bandang, banjir dan longsor.

Penanganan darurat masih dilakukan. Bupati telah menetapkan status tanggap darurat banjir dan longsor di Kab Mandailing Natal Sumatera Utara selama 7 hari (12-18 Oktober 2018). BPBD Mandailing Natal bersama BPBD Provinsi Sumatera Utara, TNI, Polri, SAR Daerah, SKPD, PMI, dan relawan menangani darurat bencana. Bantuan terus disalurkan kepada korban dan masyarakat terdampak.

Sementara itu, evakuasi dan penanganan darurat bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di luar Mandailing Natal juga terus dilakukan BPBD bersama aparat setempat. Di Kota Sibolga, 4 korban longsor sudah dimakamkan. Di Tanah Datar korban tercatat menjadi 5 orang meninggal dunia, 1 orang hilang dan 1 orang berhasil diselamatkan. Evakuasi akan dilanjutkan besok pagi. Sedangkan di Padang Pariaman ditemukan 3 orang meninggal dunia dan Pasaman Barat 1 orang meninggal dunia.

Daerah di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat sudah memasuki musim transisi ke musim hujan. Hujan dengan intensitas deras berpotensi terjadi sehingga dapat berpotensi menimbulkan banjir dan tanah longsor. Pemda dan masyarakat dihimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi banjir dan longsor. (*/humas BNPB)

22 Orang Wafat & 15 Hilang Akibat Banjir dan Longsor di Sumut dan Sumbar

50 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Hujan deras yang melanda wilayah di Sumatera Utara dan Sumatera Barat selama Kamis dan Jumat,11—12 Oktober 2018 telah menyebabkan bencana banjir bandang dan longsor di beberapa tempat. Dampak yang ditimbulkan cukup besar.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB mengatakan data sementara yang dilaporkan BPBD Provinsi Sumatera Utara dan Sumatera Barat, banjir dan longsor menyebabkan 20 orang meninggal dunia, 15 orang hilang dan puluhan orang luka-luka di 4 wilayah yaitu di Kabupaten Mandailing Natal, Kota Sibolga, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Pasaman Barat.

Jelas Sutopo, Banjir dan longsor melanda 9 kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara yaitu Kecamatan Natal, Lingga Bayu, Muara Batang Gadis, Naga Juang, Panyambungan Utara, Bukit Malintang, Ulu Pungkut, Kota Nopan dan Batang Natal pada Jumat (12/10/2018) pagi dan sore hari. Data sementara tercatat 13 orang meninggal dunia dan 10 orang hilang di Mandailing Natal.

“11 murid madrasah di Desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, meninggal dunia tertimpa bangunan yang hancur diterjang banjir bandang pada Jumat (12/10/2018) sore saat jam pelajaran sedang berlangsung,“ ungkap Sutopo.

Lanjut Sutopo, Diperkirakan 10 orang hilang. Kejadian berlangsung mendadak. Sungai Aek Saladi tiba-tiba mengalir dengan debit besar dan membawa lumpur dan meluap sehingga menerjang madrasah. Jumlah korban hilang masih dapat berubah karena belum dapat dipastikan. Korban tertimbun lumpur dan material tembok yang roboh.

Sementara itu pada Sabtu (12/10/2018) pagi ditemukan 2 korban meninggal lagi akibat kendaraan masuk sungai dan hanyut. Korban meninggal adalah 1 orang Polri dari Polsek dan 1 orang pegawai PT. Bank Sumut. 2 orang berhasil diselamatkan dari kendaraan yang hanyut.

Dampak banjir bandang dan longsor di Mandailing Natal lain adalah 17 unit rumah roboh, 5 unit rumah hanyut, ratusan rumah terendam banjir dengan ketinggian 1-2 meter di Kecamatan Natal dan Muara Batang Gadis. 8 titik longsor berada di Kecamat Batang Natal.

“Evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban masih dilakukan. Kondisi medan berat karena desa-desa terdampak berada di pegunungan, pinggir hutan dan akses sulit dijangkau karena rusak. BPBD Mandailing Natal, BPBD Provinsi Sumatera Utara, TNI, Polri, SAR Daerah, SKPD, PMI, dan relawan menangani darurat bencana. Bupati telah menetapkan status tanggap darurat banjir dan longsor di Kab Mandailing Natal Sumatera Utara selama 7 hari 12—18 Oktober 2018. Kebutuhan mendesak adalah bahan makanan pokok dan alat berat,“ terang Sutopo.

Hujan juga menyebabkan longsor di beberapa daerah di Kota Sibolga, Sumatera Utara pada Kamis (11/10/2018) pukul 16.30 WIB. Longsor menyebabkan 4 orang meninggal dunia, 1 orang luka berat, dan 3 orang luka ringan. Kerugian material meliputi 25 rumah rusak berat, 4 unit rumah rusak sedang dan sekitar 100 rumah terendam banjir dengan tinggi 60-80 centimeter.

Sementara itu, banjir bandang juga terjadi di Nagari Tanjung Bonai, Jorong Kalo-Kalo, Jorong Ranah Batu di Kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat pada Kamis (11/10/2018) pukul 20.30 WIB. Banjir bandang menyebabkan 4 orang meninggal dunia dan 3 orang hilang. Terdapat korban anak-anak atas nama Anis (2,5) san W.Efendi (10) yang hanyut akibat banjir bandang. Korban meninggal lain adalah Roni (30) dan Yerinda (56). Sedangkan 3 korban hilang adalah Erizal (55), Daswirman (58) dan Yusrizal (45).

Selain terdapat 6 orang luka-luka, 6 unit rumah rusak berat, 3 kedai rusak berat, 1 ruko rusak berat dan 2 jembatan rusak berat. BPBD Tanah Datar bersama TNI, Polri, SKPD, relawan dan masyarakat melakukan evakuasi dan pencarian korban. Pencarian dilakukan menyusuri sungai yang ada. Alat berat digunakan untuk membantu pencarian korban dan membersihkan lumpur.

Bupati Tanah Datar telah menetapkan masa tanggap darurat selama 7 hari (12-18 Oktober 2018). Pembukaan dapur umum untuk relawan dan masyarakat terdampak telah didirikan.

Beberapa wilayah di Kabupaten Pasaman Barat juga terjadi longsor dan banjir pada Kamis (11/10/2018) pukul 19.30 Wib. Wilayah yang mengalami bencana adalah Kecamatan Pasaman, Ranah Batan, Koto Balingka, Sei Beremas, Lembah Melintang, Gunung Tuleh, Talamau, Sasak dan Kinali.

Korban 1 orang meninggal dunia dan 2 orang hilang. Kerusakan meliputi sekitar 500 unit terendam banjir, 3 unit jembatan gantung roboh dan 2 unit rumah hanyut.

BPBD Kab. Pasaman Barat bersama aparat lain melakukan penanganan darurat. BPBD menyalurkan bantuan logistik untuk korban terdampak. Kebutuhan mendesak alat berat, sembako, selimut dan pakaian. Bupati telah menetapkan masa tanggap darurat selama 7 hari 11—17 Oktober 2018. (*/Humas BNPB)

Banjir Bandang Melanda Sumbar; 3 Orang Wafat & 2 Hilang, Puluhan Rumah Terendam

53 Views

Sumbar, gardaindonesia.id | Kejadian Bencana Alam berupa banjir bandang di beberapa tempat di Sumatera Barat (Sumbar) pada hari Kamis/11 Oktober 2018 sejak sore hingga malam hari.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB kepada media menyampaikan data data sebagai berikut:

1. Kabupaten Pesisir Selatan
Koto Rawang, Kecamatan Lengayang genangan air 40-50 cm; Lubuk Kumpai, Kecamatan Bayang banjir dan Korban Jiwa: nihil

2. Kabupaten Kepulauan Mentawai
Desa Goso Oinan, Kecamatan Sipora Utara terjadi Longsor, Dampak: Tertutupnya akses jalan dan terganggunya aktifitas masyarakat

3. Kabupaten Lima Puluh Kota
Wilayah Jorong Lompek Selatan, Kecamatan Lareh Sago Halaban terjadi banjir karena intensitas hujan yang tinggi. Jorong Kampung Dalam Nagari Limbanang 2 unit rumah terendam. Dampak: 3 kerbau hanyut dan ¼ ha tanah persawahan terendam dan Korban Jiwa: nihil

4. Kabupaten Agam
Wilayah Kecamatan Ampek Nagari: 10 unit rumah terendam, 50 jiwa terdampak, 2 unit kedai. Tinggi air 50-70 cm (warga sudah diungsikan) di Joorong Puduang; Longsor menutupi sebagian jalan dan hanya bisa dilewati satu jalur di Jorong Basa
Kecamatan Tanjung Mutiara: Banjir merendam 1 unit rumah warga, 1 peron sawit di Jorong Sungai Nibung Nagari Tiku Selatan; Korban Jiwa: Nihil

5. Kabupaten Pasaman
Banjir setinggi 1 m terjadi di Simpang Tigo Kumpulan, Nagari Limo Koto, Nagari Ganggo Mudiak, Ganggo Hili, Nagari V Koto, Kecamatan Bonjol.
Jorong Kampung Tujuh Nagari Tanjung Palung Timur; Kampung Pisang banjir merendam 38 unit rumah, 1 Madrasah Aliyah, 1 Masjid terendam 50 cm; Kampung Tanjung Pacang banjir merendam 10 unit rumah, ketinggian air 1 m; Kampung Tanjung Alai banjir merendam 60 unit rumah; Kampung Pancahan Baru banjir merendam 60 unit rumah dan 1 masjid, ketinggian air 60 cm, tak ada Korban jiwa

6. Kabupaten Tanah Datar
Pada pukul 18.30 wib hujan deras dan banjir bandang pun terjadi, sebuah jembatan putus tidak bisa dilalui kendaraan, 1 unit rumah dan kedai terkena banjir bandang
Korban Jiwa: 3 orang meninggal dunia, 2 orang hilang.

7. Kabupaten Pasaman Barat
Pada pukul 19.30 wib terjadi banjir di Jambak jalur 3, Jambak jalur 2, Jambak jalur 1 Kenagarian Koto Baru, Kecamatan Luhak Nan Duo. Longsor di Talu 3 tik serta banjir di Batasaman Nagari Aia Gadang arus deras sehingga jalan tidak dapat dilewati kendaraan dari Simpang Empat ke Ujung Gading. 30 unit rumah terendam banjir, ketinggian bervariasi. (*/BNPB)

Gempa Bumi Guncang Jawa Timur & Bali, 3 Orang Meninggal Dunia

35 Views

Jakarta, gardaindonesia.id– Gempa Bumi dengan kekuatan magnitudo M6,4 mengguncang wilayah Jawa Timur dan Bali pada Kamis (11/10/2018) pukul 01.57 WIB. BMKG melaporkan episenter gempabumi terletak pada koordinat 7,47 LS dan 114,43 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 55 km arah timur laut Kota Situbondo, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur pada kedalaman 12 km. Gempa tidak berpotensi tsunami.

Posko BNPB telah mengkonfirmasi dampak gempa ke BPBD Provinsi Jawa Timur. Data sementara dampak gempa dilaporkan 3 orang meninggal dunia dan beberapa rumah mengalami kerusakan. Daerah yang terparah adalah di Kecamatan Gayam Kabupaten Semenep Jawa Timur.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho melalui rilis kepada IMO Indonesia menyampaikan 3 (tiga) orang meninggal dunia adalah: Nuril Kamiliya (L/7) Desa Prambanan, Kec. Gayam, H. Nadhar (P/55) Dsn. Jambusok, Desa Prambanan, Kec. Gayam, Laki-laki Dewasa (masih identifikasi) Desa Prambanan, Kec. Gayam – Sumenep.

“Korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh. Kejadian gempa Kamis dini hari saat korban sedang tidur tiba-tiba gempa mengguncang dan rumah roboh sehingga korban tidak bisa menyelamatkan diri, “terang Sutopo.

Sambung Sutopo, Selain itu beberapa rumah mengalami kerusakan. BPBD Provinsi Jawa Timur dan BPBD Kabupaten Sumenep masih melakukan pendataan. Beberapa Kerusakan rumah diantaranya, Rumah rusak di desa Jambuir, Kec. Gayam Kepulauan Sapudi, di Kopedi Kec.Bluto, Kertasada Kec.Kalianget, Masjid Desa Gendang Timur Kec.Sepudi, Rumah rusak di Nyabakan timur Kec.Batang-Batang – Sumenep.

Gempa M6,4 yang kemudian telah dimutakhirkan menjadi M6,3 oleh BMKG terasa di seluruh wilayah Jawa Timur meliputi Kabupaten/Kota Situbondo, Jember, Banyuwangi, Lumajang, Kab. Probolinggo, Kota Probolinggo, Bondowoso, Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Kab. Pasuruan Kota Pasuruan, Kota Batu, Kota Malang, Kab. Malang, Kab. Blitar, Surabaya, Sidoarjo, Jombang, Kab. Mojokerto, dan Kota Mojokerto.

Guncangan gempa dirasakan cukup kuat oleh masyarakat di Sumenep dan Situbondo selama 2-5 detik. Masyarakat berhamburan keluar rumah. Sedang di daerah lain gempa dirasakan sedang selama 2-5 detik.

Berdasarkan analisis peta gempa dirasakan, intensitas gempa dirasakan III-IV MMI di Denpasar, III MMI di Karangkates, III MMI di Gianyar, III MMI di Lombok Barat, III MMI di Mataram, III MMI di Pandaan. Artinya gempa dirasakan ringan hingga sedang. Secara umum tidak banyak dampak kerusakan akibat gempa.

Sutopo menambahkan, Posko BNPB terus memantau perkembangan dampak gempa dan penanganannya. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi: Kalaksa BPBD Kabupaten Sumenep (Rahman 0812-3530-146) dan Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur (Suban, +62811328601). (*/Humas BNPB)

Tragis; 1.763 Korban Jiwa Gempa & Tsunami Palu-Catatan BNPB

50 Views

Jakarta, gardaindonesia.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, jumlah korban jiwa dalam musibah bencana gempa-tsunami Palu mencapai 1.763 jiwa terhitung sampai Minggu, 7 Oktober 2018.

Kota Palu menjadi wilayah terbanyak dengan korban jiwa mencapai 1.519 orang, Donggala 159 orang, Kabupaten Sigi 69 orang, Parigi Moutong 15 orang dan Pasangkayu, Sulawesi Barat 1 orang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, 1.755 jenazah telah dimakamkan secara massal di TPU Paboya sebanyak 753 jenazah. Di TPU Pantoloan ada 35 jenazah yang juga pemakaman massal, serta 923 jenasah dimakamkan di Pemakaman keluarga. Di Donggala ada 35 jenazah, Biromaru 8 jenazah dan Pasangkayu 1 Jenazah telah dimakamkan.

“Upaya selanjutnya yakni melanjutkan evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban, juga penanganan medis, Rumah Sakit Lapangan, dan Penaganan Jenazah. Termasuk, distribusi logistik dan permakanan untuk pengungsi,” jelas Sutopo, Minggu/7 Oktober 2018.

Dijelaskan Sutopo, evakuasi ditargetkan selesai tanggal 11 Oktober 2018 dengan mengerahkan sebanyak 8.223 personil yang terdiri dari, militer 6.338 personil dan sipil sebanyak 1.560 orang, ditambah personil militer luar negeri 325 orang.

Alutsista TNI yang digunakan mempermudah proses evakuasi antara lain, KRI, Hely dan Pesawat dan alat-alat yang digunakan dalam penanganan gempa dan tsunami sebanyak 87 unit berupa, kendaraan bermotor dan alat berat.

Di Pelabuhan Pantoloan dan Donggala, dijelaskan Sutopo, 5 kapal telah bersandar dan membawa memuat bantuan logistik. 5 kapal itu masing-masing, LCT Harapan II dari Balikpapan yang membawa sembako, 1 unit crane mobil dan 2 genset travo PLN, KN Pasatimpo P.212 yang bersandar di pelabuhan Toli-Toli dengan muatan logistik dan air tawar. KN Pasatimpo akan bertolak menuj Pelabuhan Donggala.

“KLM. Siti Nurhalisa datang dari Tanjung Redep membawa bantuan pakaian bebas. Sedangkan LCT Daya Berguna 3, datang dari berau Tanjung Redep dengan tujuan Pantoloan Donggala dengan membawa 9 kontainer sembako,” ujarnya.

Tercatat, evakuasi pengungsi keluar dari Palu sebanyak 8.110 melalui udara dan laut. Pesawat asing yang terlibat dalam upaya kemanusiaan itu digunakan untuk mengangkut distribusi bantuan dari Balikpapan, Makassar, dan Jakarta. (*/Tim IMO)