Arsip Tag: camat raijua

Listrik Nyala 24 Jam di Pulau Tapak Gajah Mada, Warga Ucap Terima Kasih

627 Views

Ledeunu, Garda Indonesia |  Kini, listrik telah menyala 24 jam di Pulau Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). PT PLN (Persero) menghabiskan biaya Rp 1,4 miliar untuk menerangi 572 warga di pulau yang dipercaya masyarakat setempat memiliki tapak kaki dan sumur Gaja Mada dan mendapat julukan Pulau Sejuta Lontar yang berbatasan langsung dengan wilayah laut Australia.

Dana tersebut digunakan untuk menambah mesin 700 kVA, Kubikel, pembangunan jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 0,7 kms, serta pemasangan Trafo 50 kVA. Hadirnya layanan listrik 24 jam di pulau yang menurut cerita rakyat pernah dikunjungi Raja Majapahit ini, secara resmi menyala tepat pada perayaan HUT ke-76 Republik Indonesia pada Selasa, 17 Agustus 2021.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) NTT, Agustinus Jatmiko menyebutkan, perubahan pola layanan dari 12 jam menjadi 24 jam dilakukan di Desa Ledeke serta desa-desa di sekitarnya yang ada di Pulau Raijua. “PLN hadir hingga ke pulau terdepan yaitu Pulau Raijua dan terus berupaya meningkatkan kualitas layanan kelistrikan kepada masyarakat. Listrik tidak hanya memberikan penerangan, lebih dari itu semoga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.

Selain melayani jam menyala menjadi 24 jam, lanjut Jatmiko, PLN terus mendukung pertumbuhan bauran energi terbarukan di Raijua. Sejak 17 Agustus 2021, PLN mengubah sistem menjadi hybrid antara PLTS kapasitas 150 kWp dan PLTD Raijua sehingga berkontribusi menyumbang 18-25 persen untuk energi hijau dari PLTS yang ada di Pulau Raijua.

“PLN terus berkomitmen untuk meningkatkan keandalan sistem tersebut,” ucap Agustinus Jatmiko.

Camat Raijua, Titus B Duri saat peluncuran listrik 24 pada HUT Ke-76 RI

Tingkatkan Perekonomian Masyarakat Raijua

Kehadiran listrik 24 jam disambut gembira 572 warga Pulau Raijua. Yakob Kiha Uly, salah satu warga Pulau Raijua mengungkapkan, apresiasinya atas kehadiran PLN yang mendukung kehidupan mereka. Pria yang sehari-hari melayani jasa perbaikan alat elektronik di Pulau seluas 36 Km persegi itu antusias dengan layanan listrik yang kini bisa dinikmati secara penuh.

“Kami sangat senang sekali dan sangat berterima kasih kepada PLN yang sudah melayani listrik 24 jam nyala, di mana sebelumnya hanya 12 jam,” ungkap Yakob semringah seraya menambahkan, dengan adanya listrik yang menyala selama 24 jam akan banyak mendukung pertumbuhan aktivitas usaha yang biasa dilakukan pada siang hari di wilayah perbatasan dan terluar itu, termasuk seperti usaha yang dikerjakannya.

Sementara itu, Camat Raijua, Titus B. Duri pada acara peresmian penyalaan listrik tersebut mengatakan, bahwa listrik yang telah menyala selama 24 jam tentu akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Ia pun mengapresiasi seluruh upaya PLN.

“Saya bersama seluruh masyarakat Kecamatan Raijua menyampaikan terima kasih banyak kepada Direktur utama PLN, General Manager PLN Wilayah NTT beserta jajaran atas menyalanya 24 jam listrik PLN di Kecamatan Raijua terhitung mulai hari ini 17 Agustus 2021. Kiranya Tuhan memberkati kita semua,” tandas Titus. (*)

Sumber dan foto (*/Humas PLN)

Pulihkan Listrik di Pulau Raijua, GM PLN UIW NTT Terjun Langsung ke Lokasi

583 Views

Raijua-NTT, Garda Indonesia | Hingga Jumat, 7 Mei 2021, kondisi pemulihan jaringan listrik pasca-badai Siklon Tropis Seroja di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mencapai kondisi maksimal yakni 99,90 %, dari 4.002 gardu terdampak badai sehingga padam, kini tersisa hanya ada 4 (empat) gardu padam yang berada di Pulau Raijua, Kecamatan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebelumnya, 1 gardu utama di Pulau Sabu (Seba, ibu kota Kabupaten Sabu Raijua, red) dan 1 gardu utama di Kabupaten Alor telah berhasil dipulihkan oleh Tim PLN di masing-masing wilayah dan hingga Jumat, 7 Mei 2021, masih terdapat 180 pelanggan masih mengalami padam listrik yang berada di Pulau Raijua.

Pulau Raijua hanya dapat dijangkau dengan kapal kayu nelayan atau kapal cepat tersebut pun menjadi hambatan tersendiri bagi Agustinus Jatmiko dan tim PLN karena harus berjibaku dengan ganasnya laut Sawu (terdapat pertemuan dua massa arus dari Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, red). Kondisi tersebut diperparah dengan rusaknya dermaga, namun telah diperbaiki ala kadarnya oleh Camat dan Masyarakat Raijua.

Asosiasi Pekerja PLN Peduli Kasih Korban Badai Seroja turut memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak Badai Seroja di Pulau Raijua

General Manager PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko kepada Garda Indonesia pada Jumat pagi, 7 Mei 2021 menuturkan dirinya telah berada di Pulau Raijua sejak Rabu, 5 Mei 2021 bersama dengan tim PLN membawa material penunjang untuk memulihkan listrik di Pulau Raijua yang terkenal memiliki tapak kaki, sumur, dan menyimpan perisai Gajah Mada tersebut.

“Saya sedang di Raijua, mulai Rabu, 5 Mei 2021, guna memulihkan 5 gardu. Di sini sinyal susah karena tower BTS Telkomsel ambruk. Saat ini, saya sementara berburu sinyal di Dermaga Raijua,” ujar Agustinus Jatmiko kepada Garda Indonesia sembari mengungkapkan bahwa terkadang sinyal hp bisa diperoleh dari BTS di Pulau Sabu.

Salam kekompakkan General Manager PLN UIW NTT dengan tim PLN sebelum memulihkan jaringan listrik di Pulau Raijua

Agustinus Jatmiko pun menandaskan bahwa pada Kamis malam, 6 Mei 2021 telah berhasil menyalakan 1 (satu) gardu di Pulau Raijua. “Sisa 4 gardu lagi. Kami upayakan percepatannya. Pagi ini (Jumat, 7 Mei 2021, red), personil & tambahan material PLN berangkat dari Kupang menuju Pulau Raijua,” ungkapnya.

General Manager PLN UIW NTT yang tak kenal lelah dan selalu berupaya menelusuri setiap daerah terpencil untuk melihat dan terjun langsung mendorong percepatan pemulihan jaringan listrik ini pun menandaskan sementara berkomunikasi dengan Camat Raijua, Titus Bernadus Duri guna meminjam mobil truk dan mengerahkan warga.

Dermaga Raijua Rusak, Camat dan Masyarakat Perbaiki

Sebelumnya pada Senin, 3 Mei 2021, Camat Raijua Titus Bernadus Duri mengatakan dirinya dan masyarakat telah membangun gelagar dermaga dari batang lontar sehingga bisa digunakan untuk berlabuh kapal ferry dan dilalui oleh mobil truk ekspedisi. Lantai dermaga bertambah rusak dan 6 (enam) tiang bagian depan patah.

“Kami membentangkan batang lontar di dermaga sebagai gelagar agar kendaraan bisa keluar,” ungkap Camat Titus Bernadus Duri.

GM PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko (berkaos lengan panjang coklat dan bermasker hijau) saat berdialog dengan Camat Raijua, Bernadus Titus Duri (berkaos merah) di Mess Pemda Sabu Raijua

Jaringan listrik di Pulau Raijua, imbuh Camat Raijua, padam pasca-badai Siklon Tropis Seroja. “Iya mati (padam) total. Mesin sudah diperbaiki sejak minggu lalu. Gardu juga ada yang rusak, tinggal jaringan dan tiang yang belum diperbaiki,” urainya seraya menyampaikan pihak PLN meminta untuk menginap di Mess Pemda dan meminta bantuan mobil truk.

Camat Titus pun mengungkapkan bahwa  sementara sejak tanggal 12 April 2021, 17 Staf Kecamatan dan 2 orang pemilik gergaji mesin (Chain Saw) membantu PLN dengan memotong pohon yang tumbang menindih kabel dan tiang listrik.

Layanan kepada masyarakat, tandas Camat Raijua, menggunakan genset Kantor Camat, untuk cas hp dan aktivitas internet. “Di kantor desa juga menggunakan genset bantuan Gubernur NTT sebanyak 2 unit. Satu unit genset juga untuk Pustu Ballu untuk melakukan Bakti Psyco Social bersama Yayasan KUN,” pungkasnya.

Penulis dan Editor (+roni banase)

Foto oleh Tim PLN UIW NTT

Hilang Lima Hari, Dua Nelayan Sabu Raijua Pulang dengan Selamat

748 Views

Sabu Raijua, Garda Indonesia | Dua nelayan, warga Kecamatan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sempat dinyatakan hilang selama lebih kurang 5 (lima) hari karena dihantam Badai Siklon Tropis Seroja, pada Minggu, 4 April 2021, akhirnya ditemukan dan diselamatkan oleh kapal luar negeri di Perairan Australia pada Kamis pagi, 8 April 2021.

Penjabat Bupati Sabu Raijua, Doris Rihi kepada Garda Indonesia pada Sabtu malam, 10 April 2021 pukul 22.21 WITA mengungkapkan bahwa informasi dua nelayan selamat dibantu kapal luar negeri tersebut disampaikan oleh Camat Raijua, Titus Bernadus Duri.

“Selamat sore Bapak Bupati. Telah kembali ke Raijua, orang hilang,” tulis Camat Raijua melalui pesan whatsapp.

Adapun dua nelayan tersebut yakni Niba Uli beralamat di RT 18, RW 09, Lingkungan V, Kelurahan Ledeke, Kecamatan Raijua dan Isak Uru Dadi beralamat di RT 06, RW 03, Lingkungan II, Kelurahan Ledeke, Kecamatan Raijua.

Dua Nelayan Raijua yang selamat berpose dengan Camat Raijua, Titus Bernadus Duri (paling kiri bermasker putih) dan aparat setempat

Lanjut Camat Titus, “Diselamatkan oleh kapal Luar negeri di Perairan Australia pada Kamis pagi, 8 April 2021. Mereka dibantu beras 50 kg, air mineral 20 dos, ikan kaleng 2 dus, mie instan 5 dus, minuman kaleng 5 dus, Apel 2 karung, Solar 3 jeriken besar (105 liter), Life Jacket 2 buah.”

Kemudian, imbuh Camat Titus, pada Kamis sore, mereka dituntun ke perairan Indonesia dan tiba di Pulau Dana pada Sabtu pagi, 10 April 2021. “Mereka mendapat bantuan solar lagi 1 jeriken (35 liter) dari kapal nelayan Indonesia yang sedang berada di sekitar Pulau Dana, kemudian melanjutkan perjalanan ke Raijua dan tiba sekitar pukul 15.15 WITA di Pelabuhan Bhee, Kecamatan Raijua,” urainya.

Saat ini, tandas Camat Raijua, mereka telah diantar ke rumah masing-masing di Kelurahan Ledeke.

Penulisdan Editor (+roni banase)

Foto (*/istimewa, koleksi pribadi)

Petani Rumput Laut Dapat Kredit Bank NTT, Camat Raijua : Itu Bukan Bagi Uang

505 Views

Sabu Raijua, Garda Indonesia | Bank NTT Unit Pembantu Raijua memberikan fasilitas kredit Merdeka kepada 10 (sepuluh) petani rumput laut di Kecamatan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua. Penyerahan secara simbolis dilaksanakan pada acara tatap muka Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) bersama para pimpinan SKPD, staf ahli gubernur dengan Bupati, Pimpinan Perangkat Daerah, Kepala Desa, Lurah, Kepala Puskesmas, dan Camat Raijua.

Diserahkan secara simbolis oleh Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho pada Jumat, 23 Oktober 2020. Kesepuluh petani rumput laut yang menerima fasilitas Kredit Merdeka Bank NTT yakni Titus Pade Rohi, Lepatnia Buru Pau, Ester Herlince Dellu, Djuana Agi, Almopad Huke, Rahi Ngahu, Wilfrid Edison Lau Hedo, Kornelis Radja Tuka, Pelipus Semarjur Boni, dan Wageridolof Baki Boni.

Pemimpin Cabang Bank NTT Sabu Raijua, Romi Radjalangu, menyampaikan bahwa program kredit mikro merdeka untuk membebaskan para pengusaha kecil/mikro dari rentenir. “Khusus di Sabu Raijua, kami berikan kepada petani rumput laut di Raijua. Kami juga memberikan sosialisasi terlebih dahulu agar jelas peruntukan dan pengembalian,” urainya.

Harapannya, imbuh Romi, agar mereka bisa besar dan menjadi pengusaha rumput laut dan tak sekadar petani saja.

Mengenai kredit Merdeka Bank NTT, urai Romi, senilai Rp. 5 juta dengan 0% bunga (tak ada bunga), tak ada agunan dengan waktu angsuran 1 tahun sesuai waktu produksi rumput laut.

Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho menyerahkan kredit Merdeka kepada petani rumput laut di Raijua

Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho saat dikonfirmasi usai menyerahkan hadiah cashback Bank NTT kepada salah satu nasabah pada Sabtu sore, 25 Oktober 2020 menerangkan, siap mendukung setiap program pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah provinsi, kabupaten/kota.

“Bank NTT siap mendukung usaha masyarakat khusus industri berbasis potensi daerah seperti garam dan rumput laut yang mampu menopang kekuatan fundamental ekonomi,” jelasnya sembari menegaskan Bank NTT siap mendukung dalam aspek fungsi intermediasi (transaksi dan pembiayaan).

Selain itu, ungkap Alex Riwu Kaho, program Kredit Merdeka merupakan ide dari Bapak Gubernur NTT (Viktor Bungtilu Laiskodat, red) yang bersinergi dengan program Bank Indonesia dan OJK untuk membebaskan masyarakat dari praktik ijon atau rentenir. “Kredit Merdeka, merdeka dari agunan, merdeka dari bunga, dan merdeka dari rentenir dengan 3 (tiga) asas mudah, murah, dan cepat dengan proses waktu hanya 1 jam, “ tandasnya.

Sementara itu, Camat Raijua Titus Bernadus Duri dalam percakapan melalui telepon pada Sabtu, 25 Oktober 2020 pukul 19.02 WITA menyebutkan, saat kunjungan kerja Gubernur NTT ke Raijua tak ada penyerahan bantuan berupa uang dalam amplop kepada para kepala desa.

“Pertemuan dengan para kepala desa hanya berlangsung di Kantor Camat saja, bahkan di penginapan beliau (Gubernur NTT, red) tidak pertemuan, hanya dilangsungkan Tari Pado’a dan Ledo di Desa Bellu (rumah bapak angkat Gubernur NTT),” tegasnya.

Terkait adanya informasi dan postingan di facebook oleh beberapa akun, Camat Raijua Titus Duri sekali menegaskan tak ada bagi uang saat pertemuan tersebut.

“Tidak ada pemberian amplop atau insentif sebesar 5 juta kepada para kepala desa. Yang terjadi itu adalah penyaluran kredit Merdeka dari Bank NTT kepada petani rumput laut,” tegasnya menimpali konfirmasi dari Garda Indonesia.

Penulis dan Editor (+rony banase)
Foto utama oleh Sandro-Humas Bank NTT)

Sulit Air Bersih di Raijua, Harga Satu Tangki 450 Ribu, Pemprov Bantu Mobil Tangki

1.502 Views

Pulau Raijua, Garda Indonesia | Kesulitan air bersih dialami oleh masyarakat di Kecamatan Raijua di Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di dalam pulau seluas 36,97 km2 tersebut didiami oleh 2.558 kepala keluarga dengan kepadatan penduduk 268 orang per kilometer.

Meski tersedia sumur galian di beberapa rumah masyarakat, namun belum dapat memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat karena untuk memperolehnya, harus dengan cara membeli seharga Rp.400.000,- hingga Rp.450.000, – per tangki. Kondisi tersebut, diperparah dengan iklim ekstrem dengan curah hujan minim berkisar hanya 3 (bulan) saja.

Informasi yang dihimpun Garda Indonesia menyebutkan, sumber mata air hanya ada Menanga’ Desa Bellu (kondisi debit air kecil sehingga saat mobil tangki mengambil air, diperlukan waktu berjam-jam) dan mata air Loborawo di Desa Bolua dengan kondisi serupa, malah memprihatinkan karena mata air mulai kecil.

Camat Raijua, Titus Bernadus Duri dalam sesi kunjungan kerja Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) bersama dengan Bupati, Pimpinan Perangkat Daerah, Kepala Desa, Lurah, Kepala Puskesmas, dan Camat Raijua pada Jumat, 23 Oktober 2020 pukul 11.20 WITA—selesai, menyampaikan kesulitan distribusi air ke masyarakat karena tak memiliki mobil tangki.

“Kami kesulitan mobil tangki untuk distribusi air kepada masyarakat, sehingga tarif air satu mobil tangki mencapai 450 ribu. Oleh karena itu kami minta bantuan mobil tangki,” ungkap Camat Raijua kepada Gubernur VBL.

Merespons kondisi memprihatinkan tersebut dan menanggapi permintaan Camat Raijua, Gubernur VBL mengatakan pasti air menjadi kendala, dirinya akan melihat langsung lokasi mata air dan menyiapkan embung-embung.

Selain itu, Pemprov NTT bakal mengirim mobil tangki ke Raijua. “Sudah, nanti kami kirim 2 unit mobil tangki, 1 unit ke Raijua dan 1 unit ke Mesara,” ungkapnya.

Penulis dan Editor (+rony banase)
Foto utama oleh Alfons Madari

Panen Garam dan Rumput Laut di Raijua, Gubernur VBL Cari Pasar bagi Petani

1.651 Views

Raijua, Garda Indonesia | Saat melakukan panen garam di Tambak Garam Dahiae di Kecamatan Raijua, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) merespons kondisi para petani yang memprihatinkan, terlihat menumpuknya stok garam karena kesulitan pangsa pasar.

Tindakan riil yang dilakukan Gubernur NTT yang suka melakukan sidak ke lokasi ini pun langsung menelepon Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto untuk menyediakan pangsa pasar dan dapat membeli garam hasil produksi petani di Sabu Raijua.

Aksi cepat ini dilakukannya, untuk mendorong dan menstimulasi perekonomian masyarakat agar tak terjadi penumpukan stok garam. Estimasi nilai stok garam Sabu Raijua mencapai 7,5 Miliar dan hingga saat ini, masih menjadi momok pangsa pasar bagi petani garam.

Gubernur VBL panen rumput laut di Raijua

Kepada awak media, Gubernur VBL mengungkapkan bahwa stok garam di Kabupaten Sabu Raijua saat ini mencapai 14.000 ton dan belum terjual. “Dengan kehadiran saya hari ini dapat menyiapkan pasar agar dapat dijual dan para petani bisa melanjutkan seluruh upaya menjual garam hasil produksi mereka,” ujarnya.

Langkah kongkretnya, tegas VBL, Pemprov NTT bakal membeli garam hasil produksi petani. “Langkah kongkretnya ya kita beli,” tegasnya.

Perlu diketahui, pada Agustus 2020, Pemda Sabu Raijua telah mengirimkan surat kepada Presiden Jokowi untuk menyampaikan kesigapan distribusi garam untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Pada kesempatan yang sama, Pjs. Bupati Sabu Raijua, Ferdi Kapitan menyampaikan bahwa luas lahan tambak garam di Raijua mencapai 2.000 hektar, namun yang dimanfaatkan hanya sekitar 102 hektar dengan kemampuan produksi per hektar sebesar 20 ton.

Sementara, luas potensi rumput laut di Raijua, imbuh Ferdi, mencapai 8.900 hektar dan baru dimanfaatkan hanya 299 hektar, sehingga peluang potensi yang ada dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

Penulis, editor, foto dan video (+rony banase)