Arsip Kategori: Keuangan dan Perbankan

Modal Inti Bank NTT Kurang 1,23 Triliun, Perlu Partisipasi Pemda Se-NTT

496 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | PT. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) menghelat Rapat Pembahasan Rencana Penyertaan Modal pada Kamis, 6 Agustus 2020 di Aula Fernandes Gedung Sasando. Difasilitasi oleh Pemprov NTT, rapat menghadirkan para Sekda, Ketua DPRD, dan Kabag Keuangan dari pemda/pemkot se-NTT. Hadir pada kesempatan tersebut Kepala OJK NTT, Robert Sianipar; Asisten III Setda NTT, Johanna Lisapaly; dan Sekda NTT, Benediktus Polo Maing.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/05/16/dua-langkah-bank-ntt-pemprov-ntt-pemkot-pemda-gapai-modal-inti-3-triliun/

Tujuannya untuk mendorong peran aktif pemda/pemkot untuk menyertakan modal disetor dalam rangka memenuhi modal inti sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengerek syarat minimal modal inti pada bank umum dari saat ini sebesar Rp.100 miliar menjadi Rp.3 triliun. Ketentuan ini diharapkan akan mempercepat proses penggabungan atau konsolidasi pada industri perbankan. Jika tak juga mampu memenuhi syarat modal tersebut, maka bank tersebut harus bersiap turun kelas menjadi Bank Perkreditan Rakyat atau BPR.

Terkait penetapan regulasi OJK tersebut, Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) pun diwajibkan mengikuti regulasi usaha perbankan saat ini berdasarkan modal inti tercantum dalam Peraturan OJK Nomor 6/POJK.03/2016 tentang kegiatan usaha dan jaringan kantor bank berdasarkan modal inti bank dengan perubahan regulasi pada tahun 2020.

Kepala OJK NTT, Robert Sianipar mengungkapkan bahwa saat ini Bank NTT berada di urutan 12 dalam segi modal disetor. “Hingga Juli kemarin (tahun 2020, red) baru mengumpulkan modal disetor mencapai Rp.1,4 triliun, namun jika dilihat perkembangan 5 tahun terakhir, booking fee terus meningkat,” urainya.

Sekda NTT, Benediktus Polo Maing saat memimpin Rapat Pembahasan Rencana Penyertaan Modal didampingi oleh Plt. Dirut Bank NTT, Alex Riwu Kaho; Asisten III Setda NTT, Johanna Lisapaly dan Kepala OJK NTT, Robert Sianipar

Namun, imbuh Robert, rata-rata peningkatan relatif kecil. “Jadi, 22 kabupaten/kota rata-rata penyertaan modal disetor sekitar 60 miliar, harus diupayakan agar modal inti terus meningkat dengan penyertaan modal disetor,” pintanya sembari menyampaikan berdasarkan data yang dihimpun OJK menunjukkan bahwa laba yang diperoleh telah disetor menjadi dividen yang mana rata-rata laba per tahun Bank NTT sekitar 300 miliar.

Plt. Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho mengatakan bahwa berdasarkan perhatian dari OJK NTT, maka manajemen Bank NTT perlu membeberkan tingkat keyakinan sebagai dasar pendorong penambahan modal inti minimum dengan kekuatan modal disetor Bank NTT hingga Desember 2019 sebesar Rp.1,383 miliar dan modal inti Bank NTT sebesar 1,7 triliun.

Alex Riwu Kaho pun membeberkan pertumbuhan modal disetor dari tahun 2016—2020. “ Modal disetor pada tahun 2016 Rp.291 miliar (36,77%), 2017 Rp.204 miliar (18,82%), 2018 Rp.45 miliar (3,54%), 2019 Rp.53 miliar (4,01%), dan tahun 2020 Rp.209 miliar (15,13%),” bebernya.

Terkait Dividen Bank NTT dalam 9 tahun terakhir, Alex Riwu Kaho menyampaikan bahwa dividen yang diberikan kepada para pemegang saham pada tahun 2010 sebesar Rp.114 miliar, sedangkan tahun 2019, dari laba yang dicapai, dividen yang diberikan kepada pemegang saham sebesar Rp.207 miliar. “Sehingga dari total penyertaan modal dari seluruh pemegang saham, maka total dividen yang telah dibayarkan oleh Bank NTT sebesar Rp.1,906 triliun,” tandasnya.

Sehingga, imbuh Alex, berdasarkan Keputusan RUPS Tahunan pada 6 Mei 2020, diputuskan pemotongan 50% untuk penyetoran modal inti, namun putusan tersebut belum sesuai dengan ketentuan pencatatan keuangan pemda, maka akan ditinjau kembali, sehingga seluruh dividen akan disetor tahun buku 2019 secara penuh kepada pemerintah daerah.

Jajaran Direksi Bank NTT, (dari kiri ke kanan); Direktur Umum, Umbu Landu Praing; Direktur Pemasaran Dana, Absalom Sine; dan Direktur Kepatuhan, Hilarius Minggu saat mengikuti rapat pembahasan

Sementara itu, Sekda NTT Benediktus Polo Maing menyampaikan bahwa Bank NTT harus bekerja secara optimal dengan dukungan penuh dari pemprov, pemkot/pemkab untuk menunjang struktur modal agar dapat berkontribusi terhadap pembangunan, sehingga diperlukan pemenuhan modal inti sebesar Rp.3 triliun.

“Saat ini, modal inti Bank NTT sebesar Rp.1,7 triliun dan perlu penambahan sebesar Rp.1,3 triliun dan untuk pemenuhan tersebut dilakukan dengan skema internal atau pun eksternal,” jelasnya.

Skema pemenuhan internal, urai Sekda, melalui pemenuhan dividen sesuai RUPS di Labuan Bajo langsung dipotong 50 persen, namun sesuai regulasi diperlukan perda dan telah diprogramkan dividen yang diterima oleh pemda sebagai pendapatan jadi harus masuk ke rekening baru kemudian dipotong. “Jadi, tidak bisa langsung dipotong dan untuk menganulir keputusan RUPS, maka harus dilakukan RUPS, namun pihak Bank NTT meminta waktu hingga 2 minggu ke depan,” terangnya.

Sekda NTT pun menyampaikan jika menempuh jalur eksternal, dengan menggunakan investor, maka prosesnya pun tidak mudah karena harus melalui tahapan panjang dan tidak mudah. “Terkait hal ini, maka yang diperlukan adalah kepastian dan kesediaan penyertaan modal dan berapa besar nilai modal yang akan disetor oleh masing-masing pemda. Jadi, kita segera melakukan langkah-langkah untuk memastikan setiap kabupaten/kota untuk segera menyiapkan perda dan nilai minimal modal yang akan disetor,” pungkasnya.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto oleh Humas Bank NTT

HUT ke-58 Bank NTT dalam Pandemi Mencapai Kinerja Positif

442 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-58 Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) pada Jumat, 17 Juli 2020, dilaksanakan di halaman Kantor Pusat Bank NTT di Jalan W. J. Lalamentik; dihelat dalam suasana tatanan normal baru atau new normal dengan mengedepankan protokol kesehatan.

Pantauan Garda Indonesia, acara yang dimulai pada pukul 17.00 WITA—selesai ini, para tamu undangan yang akan memasuki lokasi acara, diwajibkan mencuci tangan, dicek suhu tubuh dengan thermal gun dan wajib menggunakan masker.

Mengusung tema “Momentum Bangkit, Bertumbuh dan Berubah” 58 tahun Bank NTT yang telah menempuh perjalanan setengah abad ini dihadiri oleh Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi; Sekda Provinsi NTT, Benediktus Polo Maing; Anggota DPD RI, Abraham Paul Liyanto; Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kupang; Ketua OJK Provinsi NTT, para mitra usaha, dan tamu undangan lain.

Plt. Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho dalam sambutannya menyampaikan bahwa Bank NTT menunjukkan komitmen yang telah dibangun dan menumbuhkan kepercayaan dari para mitra Bank NTT dan sebagai wujud nyata disampaikan dalam kinerja Bank NTT dalam kurun waktu semester pertama tahun 2020.

Suasana Perayaan HUT ke-58 Bank NTT di Kantor Pusat Jalan W J Lalamentik

Pemberitaan juga menjadi energi positif terhadap perkembangan Bank NTT dan pencapaian Dana Pihak Ketiga (DPK) 11,8 Triliun. “DPK yang dicapai memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan Bank NTT yang mana dalam kondisi pandemi,” urainya sembari mengungkapkan posisi kredit per akhir Juni mencapai 10,3 Triliun.

Momentum terus dilakukan perbaikan secara nyata dengan merevitalisasi pejabat dan memasuki era normal baru dengan melakukan kualitas layanan berupa Customer on Boarding.

“Selain itu, bekerja sama dengan DPD REI NTT dengan menciptakan SKIM Rumah Layak Huni dengan harga murah. Dan dilakukan penandatanganan kerja sama Bank NTT, Bank Indonesia, dan Bit Link,” beber Alex Riwu Kaho.

Di samping itu, tandas Alex Riwu Kaho, ke depan administrasi Bank NTT mengutamakan paperless dengan sistem E-Office.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

HUT Ke-58 Bank NTT, Manajemen Keliling Bantu APD & Helat Donor Darah

160 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pada Jumat, 17 Juli 2020, Bank NTT berulang tahun ke 58, beberapa kegiatan telah dilakukan jelang HUT Bank NTT di antaranya ada aksi sosial dengan memberikan CSR kepada pihak rumah sakit dalam bentuk Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker dan face shield, yang diharapkan dapat membantu para petugas medis untuk pelayanan dalam kondisi pandemi Covid-19.

Penyerahan CSR pertama pada Rabu, 24 Juni 2020, sebanyak 1.250 Masker dan 25 face shield diberikan kepada RS.St.Carolus Borromeus Kupang oleh seluruh Direksi Bank NTT yang diterima langsung oleh direktur beserta pengurus.

Selanjutnya, CSR yang kedua berupa 1.500 Masker dan 25 face shield, diserahkan oleh Komisaris Independen Bank NTT didampingi Plt.Direktur Utama dan Direktur Umum kepada Direktur RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang beserta para Wakil Direktur, kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 25 Juni 2020.

CSR berikutnya berupa 1.500 Masker dan 25 face shield diberikan kepada RSUD S.K.Lerik Kota Kupang pada Minggu, 29 Juni 2020, diterima langsung oleh Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore dan didampingi Direktur RSUD S.K.Lerik Kota Kupang dan Kadis Kesehatan Kota Kupang. Penyerahan dilakukan oleh Plt.Direktur Utama Bank NTT,, Harry Alexander Riwu Kaho.

Aksi sosial HUT ke-58 Bank NTT selanjutnya yaitu Aksi Donor Darah yang akan diadakan pada Jumat, 3 Juli 2020 di Kantor PMI pada pukul 09.00—12.00 WITA, diharapkan kepada warga masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini, karena setitik darah yang kita sumbangkan dapat menyelamatkan banyak nyawa banyak orang. Untuk para pendonor akan diberikan suvenir.

Aksi sosial lainnya dari Bank NTT yakni berpartisipasi dalam Gerakan Kupang Hijau (GKH) yang merupakan program Pemerintahan Kota Kupang., dengan menyumbang 5 Pohon Trambesi, 5 Pohon Ketapang Kencana dan 5 Pohon Flamboyan atau sepe [bahasa Melayu Kupang].(*)

Sumber berita (*/Humas Bank NTT)
Foto utama oleh PKP Kota Kupang
Editor (+rony banase)

Terobosan Edukasi Stop Narkoba oleh Bank NTT, Kerja Sama dengan BNNP NTT

123 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Tak hanya mengejar target laba, Bank NTT turut mendukung program pemerintah untuk meminimalkan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dengan diseminasi Informasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) melalui ATM, Internet dan Mobile Banking Bank NTT.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/06/26/puncak-hani-2020-di-tengah-pandemi-diperingati-secara-virtual-se-indonesia/

Per hari Jumat, 26 Juni 2020, masyarakat yang mengakses layanan Internet dan Mobile Banking Bank NTT atau melakukan transaksi via ATM Bank NTT, bakal memperoleh informasi mengenai P4GN. Demikian penyampaian Plt. Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho kepada awak media usai melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) mewakili Bank NTT dan BNN Provinsi NTT yang diwakili oleh Brigjen Pol. Teguh Imam Wahyudi, S.H., M.M.

Turut mendampingi Plt. Direktur Utama Bank NTT, Umbu Landu Praing selaku Direktur Utama Bank NTT dan Direktur Kepatuhan, Hilarius Minggu.

Penandatanganan MoU dilaksanakan dalam sesi rapat virtual saat Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) pada Jumat, 26 Juni 2020 yang mengusung tema “Hidup 100% di Era New Normal, Sadar, Sehat Produktif & Bahagia Tanpa Narkoba”

Di samping itu, urai Harry, Bank NTT mendukung upaya BNNP NTT untuk memberikan imbauan tentang Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba di seluruh gerai dan layanan Bank NTT.

“Bank NTT juga turut mendukung program pencegahan dan pemberantasan narkotika di wilayah Provinsi NTT dan Bank NTT tidak mengambil fee dari BNNP NTT,” ungkap Harry seraya menandaskan bahwa kerja sama ini sebagai komitmen Bank NTT untuk mendukung pembangunan Manusia NTT Bebas Narkotika.

Penulis dan Editor (+rony banase)
Foto utama dan video oleh Humas Bank NTT

Tiga Puluh UMKM di Larantuka Pakai Transaksi Nontunai QRIS Bank NTT

188 Views

Larantuka, Garda Indonesia | Upaya Bank NTT mengenalkan dan mendorong penggunaan uang elektronik dengan melakukan transaksi nontunai terus dilakukan oleh masing-masing kantor cabang perwakilan Bank NTT di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT); termasuk Bank NTT Cabang Larantuka.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/04/15/uang-tunai-sumber-covid-19-ayo-ganti-pakai-qris-bank-ntt/

Transaksi nontunai yang ditawarkan oleh Bank NTT Cabang Larantuka kepada pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) maupun toko adalah sistem pembayaran menggunakan metode QRIS.

QRIS (Quick Response Indonesia Standard) adalah Metode transaksi pembayaran dengan menggunakan Scan kode QR yang sudah distandardisasi oleh Bank Indonesia sehingga seluruh pengguna aplikasi yang menyediakan pembayaran QR dapat bertransaksi di seluruh merchant yang menerima pembayaran QR berbasis QRIS.

Kepala Cabang Bank NTT Larantuka, Christoforus Langkamau menyampaikan bahwa penggunaan QRIS di Larantuka berjalan baik tanpa pengeluhan dari nasabah UMKM dan toko besar merasa senang karena tak perlu melakukan pengembalian uang kecil.

“Termasuk para nasabah juga merasa senang karena tak perlu repot membawa uang tunai dan cukup menggunakan program NTT Pay dan melakukan scan pada batang QRIS,” terang Christo sapaan akrabnya.

Lanjutnya Chris, Untuk pemakaian QRIS di Larantuka ada sekitar 30 usaha kecil termasuk toko besar yang menggunakan fasilitas dari Bank NTT. “Fasilitas QRIS juga perlu terus disosialisasikan kepada masyarakat,” ungkapnya sembari menyampaikan para officer Bank NTT Larantuka melakukan kunjungan ke Duta Cafe untuk melakukan pemasangan QRIS.

Pose bersama Pengelola Duta Cafe Larantuka, Natalia Andhisty (bercelana merah) dengan officer Bank NTT Larantuka

Terpisah, Pengelola Duta Cafe Larantuka, Natalia Andhisty kepada Garda Indonesia menyampaikan kesan terhadap pemakaian QRIS di lokasi usaha yang telah dirintisnya sejak 5 tahun lalu. “Program dari Bank NTT, ada baiknya dengan menggunakan QRIS untuk mengurangi penyebaran virus corona melalui uang tunai,” ujarnya.

Selain itu, imbuh Natalia, pembayaran nontunai dengan QRIS membantu Duta Cafe karena pihaknya tak repot untuk menyiapkan uang kembalian dan transaksi jadi lebih mudah.

Sebelumnya, Direktur Pemasaran Dana Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho kepada media ini pada Rabu, 15 April 2020, menyampaikan dengan memilih menggunakan transaksi non tunai maka selain mendukung imbauan pemerintah dan berbagai lembaga, juga selaras dengan upaya Bank Indonesia dan perbankan untuk mencegah dan memutus mata rantai penyebaran/penularan wabah covid-19.

“Pilihan menggunakan transaksi non tunai untuk mencegah penularan/ penyebaran Covid-19 melalui uang yang beredar, karena kita tak pernah mampu mengendalikan peredaran uang dari tangan ke tangan yang memenuhi standar kesehatan,” tandas Harry.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto utama oleh Natalia Duta Cafe

RUPS BPR Christa Jaya 2020, Tingkat Kesehatan 2019 Cukup Baik & CAR Sehat

216 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Bank Perkreditan Rakyat Christa Jaya (BPR CJP) melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Sabtu, 13 Juni 2020. Berdasarkan Laporan Hasil RUPS atau Laporan Pertanggungjawaban Direksi atas kinerja Tahun Buku 2019 sangat memuaskan di mana di tahun 2019 terjadi peningkatan pertumbuhan yang cukup signifikan dari sisi Aset, Laba, Dana Pihak Ketiga (DPK), Modal, dan Kredit, serta dari penilaian rasio Tingkat Kesehatan Bank juga sangat baik dari sisi CAR, ROA, ROE, dan NPL.

Demikian penyampaian kinerja BPR Christa Jaya Perdana selama tahun 2019 oleh Komisaris Utama BPR Christa Jaya, Christofel Liyanto didampingi Direktur Lanny Tadu dan Wilson Liyanto, Manajer Marketing dan General Affair, dalam sesi konferensi pada Sabtu siang, 13 Juni 2020 di Lantai 3 BPR Christa Jaya, Jalan Frans Seda No.16, Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Secara kuantitatif, urai Chris Liyanto, kinerja pertumbuhan Aset BPR CJP pada Tahun 2019 bertumbuh sebesar 13%, Laba bertumbuh 14%, DPK bertumbuh 10%, Modal bertumbuh 8%, dan Kredit bertumbuh sebesar 10%. Penilaian rasio Tingkat Kesehatan Bank BPR CJP Tahun 2019 cukup baik, Capital Adequacy Ratio (CAR) berada pada predikat SEHAT dengan rasio sebesar 30,62% di mana standar ketentuan yang ditetapkan OJK adalah minimal 12% (≥ 12).

“Rasio Return On Assets (ROA) berada pada predikat SEHAT dengan rasio sebesar 4,17%, di mana standar ketentuan yang ditetapkan OJK adalah ≥ 1,215%. Begitu juga dengan tingkat Non Performing Loan (NPL) yang berada pada predikat SEHAT dengan rasio sebesar 0,26%, di mana ketentuan OJK adalah ≤ 5%. Dan, penilaian Return On Equity (ROE) sebesar 18,94% dengan predikat sehat,” ungkapnya.

Secara industri BPR di NTT, imbuh Chris yang memimpin Christa Jaya hingga menempati rangking 4 (empat) terbaik nasional untuk BPR dengan modal di atas Rp.100 miliar [penghargaan tersebut merupakan prestasi terbaik yang diraih BPR Christa Jaya selain penghargaan dari Info Bank], bahwa khusus untuk Modal dan Laba, BPR CJP tetap masih tetap menjadi No 1. Bahkan untuk Tahun Buku 2019, rasio NPL BPR CJP terendah di antara seluruh BPR di NTT. Ini membuktikan bahwa secara permodalan dan kualitas kredit, BPR CJP masih menjadi yang terbaik.

Lanjut Chris, jika berbicara tentang target BPR CJP di Tahun 2020, saat ini memang tidak dapat dipungkiri dampak dari Covid-19 cukup mengganggu pertumbuhan dari BPR CJP. “Tetapi dapat kita pastikan bahwa posisi BPR CJP sampai saat ini masih sangat stabil. Ini dibuktikan dengan likuiditas BPR CJP yang masih kuat dan dapat bertahan hingga saat ini,” ucapnya yakin.

“Walaupun dalam masa pandemik ini cukup banyak nasabah kita yang menarik dana mereka untuk kebutuhan operasional usaha maupun kebutuhan sehari-hari mereka. Tetapi di sisi lain, permintaan kredit juga meningkat karena sebagian bank/leasing/perusahaan financing menutup layanan kredit mereka, sehingga permintaan kredit kepada BPR CJP meningkat cukup tinggi di masa pandemik ini,” ungkap Chris Liyanto.

Namun, lanjutnya, BPR CJP masih dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Belum lagi bank juga dihadapkan dengan berbagai kebijakan pemerintah, salah satunya adalah relaksasi pembayaran kredit atau penundaan pembayaran. Hal ini memang cukup berdampak pada pendapatan dan laba BPR CJP.

“Tetapi kita tetap bersyukur karena pemerintah cukup reaktif dengan memberikan beberapa kebijakan stimulus dan subsidi bunga yang memang cukup membantu menjaga perekonomian masyarakat. Dan juga bantuan likuiditas bank jangkar atau bank pelaksana yang apabila program ini segera terlaksana sangat membantu menjaga likuiditas industri perbankan,” ucap Chris.

Diakui Chris bahwa memang pendapatan BPR CJP pada Semester I ini mengalami penurunan, tetapi itu untuk menjaga moto yang selalu digaungkan BPR CJP yaitu “Keuntungan Anda adalah kesuksesan Kami, Kesuksesan Anda adalah Kebahagiaan Kami”.

“Jadi, di sini kami ingin menjelaskan bahwa pendapatan yang menurun diakibatkan debitur-debitur kami yang mengalami kerugian atau berkurangnya pendapatan mereka. BPR CJP sebagai bank lokal masyarakat NTT juga menyesuaikan dengan situasi tersebut, yaitu dengan cara memberikan relaksasi kredit berupa penurunan suku bunga dan penundaan pembayaran 3—6 bulan kepada debitur terdampak Covid-19,” terangnya.

Akibatnya, tambah Chris, hal tersebut berdampak terhadap laba BPR CJP tahun 2020. “Tetapi, yang perlu diketahui dan disadari hal ini terjadi di seluruh bisnis dan industri perbankan,” tegasnya.

Oleh karena itu, tandas Chris, itu harapan kami ke depan semoga masa pandemik ini segera berakhir, sehingga ekonomi dan industri keuangan dapat berjalan normal kembali.

“Kami berharap masyarakat NTT dapat terus menjaga kepercayaan terhadap industri perbankan. Kami yakin industri perbankan masih aman dan stabil sampai saat ini. Hal ini penting kami sampaikan agar masyarakat tak perlu panik dan jangan percaya dengan informasi atau berita hoaks yang dapat dipertanggungjawabkan sumber beritanya,” pungkasnya.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

‘Kredit Macet Bank NTT’ Direksi PHK 4 Pegawai & Tagih Tunggakan 25,2 Miliar

1.044 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Komisaris dan Direksi Bank NTT memenuhi undangan Rapat Dengar Pendapat dengan DPRD Provinsi NTT pada Rabu, 10 Juni 2020 sesuai surat yang ditandatangani oleh Wakil Ketua DPRD NTT, dengan agenda pembahasan mengenai “Kredit Macet” yang terjadi di Bank NTT.

Plt. Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho didampingi Komisaris Utama Bank NTT, Juvenile Jodjana; dalam Rapat Dengan Pendapat (RDP) bersama DPRD Provinsi NTT, menguraikan bahwa terkait kredit bermasalah di Bank NTT telah disampaikan dan dilaporkan kepada para pemegang saham dalam RUPS Tahunan dan RUPS Luar Biasa pada 6 Mei 2020 yang dipimpin langsung oleh Gubernur NTT selaku Pemegang Saham Pengendali PT. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur.

Ada pun langkah penyelesaian yang ditempuh Bank NTT, urai Harry yakni dari upaya penagihan oleh Bank telah berhasil tertagih kurang lebih Rp.25.264.236.096,- (Dua puluh lima milliar dua ratus enam puluh empat juta dua ratus tiga puluh enam ribu sembilan puluh enam rupiah [dari total kredit macet sebesar Rp.300 Miliar lebih]) dan telah melaporkan ke Kejaksaan Tinggi NTT untuk penyelesaian kredit bermasalah tersebut.

“Langkah penyelesaian yang kami tempuh berhasil menagih kredit macet mencapai Rp.25 miliar lebih,” urai Harry sembari berkata dengan tertagihnya kredit macet Rp.25 miliar lebih, maka kredit macet Bank NTT tersisa sebesar Rp.300 miliar lebih yang terus diupayakan untuk ditagih.

Plt. Direktur Utama dan Komisaris Utama Bank NTT saat RDP bersama DPRD Provinsi NTT pada Rabu, 10 Juni 2020

Selain itu, imbuh Harry, pihaknya juga telah melaporkan ke Polres Kupang dan saat ini sudah berstatus Tersangka, melakukan gugatan sederhana, somasi, pelelangan agunan melalui Lembaga Lelang, dan upaya–upaya penyelesaian lainnya sesuai teknis Perbankan.

Sanksi lain yang diterapkan manajemen, beber Harry yaitu dengan memberlakukan tindakan tegas kepada para pejabat dan pegawai yang terbukti melanggar ketentuan internal maka sejak tanggal 7 Mei—9 Juni 2020 telah dilakukan pengenaan sanksi tegas berupa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebanyak 4 orang, Demosi dalam jabatan sebanyak 5 orang, Demosi Penurunan Pangkat sebanyak 9 orang, Hukuman Administratif kepegawaian lainnya sebanyak 5 orang dan potensi pemberian sanksi kepegawaian terhadap pegawai yang melanggar ketentuan dalam perkreditan yaitu sebanyak 14 orang [untuk beberapa cabang].

“Perlu disampaikan bahwa pemberian sanksi ini bukan merupakan tujuan tetapi merupakan komitmen Direksi agar terciptanya kegiatan usaha Bank sesuai tata kelola perusahaan yang baik di semua tingkatan organisasi dan tingkatan usaha Bank,” tegas mantan Direktur Pemasaran Dana Bank NTT ini menimpali.

Bank NTT Berkomitmen Menurunkan NPL, Penerapan Manajemen Risiko, dan Menjaga CAR Tetap Terkontrol

Direksi Bank NTT, ujar Plt. Direktur Utama Bank NTT, berkomitmen penuh terhadap rekomendasi RUPS Luar Biasa telah dilakukan upaya-upaya nyata penurunan Non Profit Loan (NPL) dengan langkah-langkah penyelesaian NPL yang terukur sehingga adanya penurunan Rasio NPL dari April 2020 ke Mei 2020, dengan hasil mengalami Penurunan dan Ratio dari 4,34% menjadi 4,21%.

“Pada saat kredit direalisasikan, Bank wajib memitigasi risiko Inherent atau risiko yang melekat pada kredit tersebut yaitu yang dapat berdampak pada terjadinya kredit macet,” tegas Harry.

Suasana RDP Bank NTT dan DPRD Provinsi NTT terkait Kredit Macet di Bank NTT

Namun yang perlu diperhatikan untuk memitigasi risiko itu, urai Harry, yaitu kualitas penerapan manajemen risiko sebagai Risk Control System (RCS) yang terdiri dari 4 (empat) pilar utama yaitu:

Pertama, Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi dengan perlakuan pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi yaitu dalam bentuk jumlah rapat yang dilakukan secara intensif dan secara terus menerus setiap bulannya untuk mencari solusi terhadap permasalahan yang ada dan juga rapat yang dilakukan oleh Direksi, Kepala Divisi dan Pemimpin Cabang baik yang dilakukan secara langsung maupun daring.

“Dewan Komisaris sejak RUPS LB pada tanggal 25 Oktober 2019 telah aktif meminta pertanggungjawaban Direksi untuk penyelesaian kredit-kredit bermasalah tersebut,”ungkap Harry.

Kedua, Kecukupan kebijakan prosedur dan penetapan limit. Bahwa keputusan kredit dengan limit tertentu wajib dilakukan melalui kajian dan keputusan kredit komite yang mana dilibatkan pula Direktorat lain yaitu Kepatuhan maupun Manajemen Risiko dalam pengambilan keputusan kredit serta dilakukan Four Eyes Principles termasuk di dalamnya Revitalisasi SDM Bidang Kredit.

Ketiga, Kecukupan proses Identifikasi, Pengukuran, Pemantauan dan Pengendalian Risiko. Bahwa rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank NTT masih terjaga dengan baik per akhir April yaitu sebesar 20,73%.

“Bank NTT dengan profil Risiko Composite 3 CAR minimal yang harus dibentuk yaitu 11% berarti masih terdapat 9.73% modal yang dapat meng-cover risiko yang ada,” tegas Harry membeberkan.

Dan keempat, tandas Harry, Sistem Pengendalian Intern yang menyeluruh dengan membangun sinergisitas yang menyeluruh antara pemberian kredit sebagai Risk Taking Unit dan fungsi Second Line of Defence dari Manajemen Risiko dan Kepatuhan serta Divisi Pengawasan dan SKAI sebagai Third Line of Defence.(*)

Sumber berita dan foto pendukung (*/Humas Bank NTT)
Editor dan foto utama (+rony banase)

‘Cashback Bank NTT Lewoleba’ Hadiah 3 Mobil bagi Nasabah Tabungan Flobamora

312 Views

Lewoleba-Flores, Garda Indonesia | Bank NTT Lewoleba kembali memberikan apresiasi kepada 3 (tiga) penabung yang berhak membawa pulang mobil. Penyerahan hadiah Tabungan Flobamora Bank NTT Lewoleba, diserahkan langsung oleh Kepala Cabang Bank NTT Lewoleba, Ruben Ludji pada Jumat, 5 Juni 2020.

Ketiga nasabah tersebut menabung selama jangka waktu dan nominal tertentu [Nilai hadiah disesuaikan dengan jumlah nominal tabungan]. Program ini berlaku bagi semua penabung yang mempunyai Tabungan Flobamora di Bank NTT Lewoleba

Pada penyerahan hadiah periode kedua ini, yang berhak dan mujur memperoleh hadiah masing-masing 1 (satu) unit mobil yakni Silvester Stephen Wundiawan [Minibus]; Asmawati Yusuf [Mitsubishi Xpander Cross 3×3]; dan Suster Maria Imakulata Siba Erap [minibus].

Kepala Cabang Bank NTT Lewoleba, Ruben Ludji menyampaikan cashback Bank NTT ini merupakan periode kedua. “Total nominal cashback Bank NTT Lewoleba sebesar Rp.9 miliar terdiri dari 6 unit mobil, 5 unit sepeda motor, kulkas, televisi, dan barang lainnya sesuai kebutuhan nasabah,”urai Ruben.

Kepala Cabang Bank NTT Lewoleba, Ruben Ludji (kanan) menyerahkan simbolis kunci mobil Mitsubishi Xpander Cross kepada Ibu Asmawati Yusuf

Di samping itu, imbuh Ruben, Bank NTT akan terus membangun Kabupaten Lembata bersama pemerintah dan masyarakat Lembata. “Di tengah situasi pandemi Covid-19, Bank NTT akan tetap melayani seluruh masyarakat Lembata tentu dengan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah,” tegasnya.

Sementara, Officer Dana Bank NTT Lewoleba Petrus Gafeor menyampaikan bahwa tim dana cabang Lewoleba selalu berkoordinasi dengan tim dana kantor pusat dalam pengadaan barang cashback Tabungan Flobamora.

“Program cashback periode ke-2 ini, jumlah hadiah yang telah diluncurkan kepada nasabah yakni 4 mobil, 3 motor dan sejumlah barang rumah tangga lainnya,” ungkapnya seraya mengatakan bahwa total uang yang terkumpul pada cashback periode ke-2 ini kurang lebih Rp.5 miliar.

Selain itu, ujar Petrus, dalam melakukan promosi, tim dana tetap mengacu pada protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. “Ke depan diharapkan masyarakat akan lebih menyadari menabung untuk masa depan dimulai dari keluarga,” harapnya.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto (*/Istimewa—Dokumentasi Bank NTT Lewoleba)