Arsip Tag: cegah stunting di ntt

Cegah Stunting di NTT, PKK Tidak Boleh Lagi Berwacana!

432 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Drs. Josef A. Nae Soi, M.M. meminta tim penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk terus melakukan aksi nyata dalam mencegah stunting. Mengurangi wacana dan melakukan evaluasi berkala.

“Stunting kita masih tinggi. Kita tidak boleh lagi berwacana. Saya minta pengurus PKK baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota ke depannya, dua sampai tiga bulan sekali, turun untuk mengecek ke lapangan, lihat stunting sudah turun atau bertambah. Sehingga saat kegiatan jambore tahun berikutnya, kita punya data lengkap tentang stunting, “kata Wagub saat membuka Kegiatan Jambore Kader PKK dan Kader Posyandu Tingkat Provinsi NTT tahun 2019 di halaman Rumah Jabatan Gubernur (Rujab), pada Selasa, 10 September 2019.

Penekanan Sirine tanda dibukanya Jambore PKK

Tema yang diangkat dalam kegiatan Jambore kali ini adalah ‘Dengan Semangat Jambore Kader PKK dan Kader Posyandu Tahun 2019 Bersama Kita Cegah Stunting’. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 9—12 September 2019.

Wagub Josef yakin, dengan kader militan dan tersebar di seluruh pelosok desa se-NTT, PKK mampu untuk melaksanakan program nyata dalam menurunkan stunting. Menurut Wagub, stunting, bukan hanya soal gizi buruk, tapi juga faktor sanitasi lingkungan yang masih rendah.

“Kader adalah orang yang tidak pernah putus asa, orang yang tidak pernah kenal lelah. Punya semangat dan etos kerja yang tinggi sesuai dengan semangat kita untuk bangkit menuju sejahtera. Saya minta hasil-hasil diskusi panel selama kegiatan jambore ini dapat menjadi acuan untuk lakukan aksi di daerah masing-masing. Tidak ada lagi wacana, saatnya kerja, kerja, kerja, evaluasi dan kerja, ” ajak politisi Partai Golkar tersebut.

Lebih lanjut, mantan Penasehat Menteri Hukum dan HAM itu menegaskan, dengan semangat kebersamaan dan kerja keras, NTT pasti akan bangkit dari kemiskinan dan keterbelakangan. Perangkat daerah lingkup pemerintah Provinsi NTT tidak boleh lagi berwacana, tapi bisa bersinergi dengan PKK dalam menyukseskan program dan kegiatannya.

“Nenek moyang kita pasti akan sangat marah bila kita masih miskin. Karena mereka telah mewariskan kekayaan intelektual yang sangat hebat dalam berbagai ragam dan corak tenun yang dipakai oleh-oleh para ibu PKK hari ini. Kita juga punya alam yang sangat indah dan luar biasa. Yang kita butuhkan sekarang adalah kerja bersama dan eksekusi, bukan lagi wacana,” tegas pria asal Ngada tersebut.

Parade kader PKK dalam balutan Tenun Adat NTT

Sementara itu Ketua Panitia, Sinun Petrus Manuk dalam laporannya mengungkapkan, peserta jambore kader PKK dan Posyandu Tahun 2019 diikuti oleh seluruh Kabupaten/Kota se-NTT. Ia memberikan apresiasi atas dukungan dan keterlibatan seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah memberi motivasi, mengetahui daya serap terhadap sumber daya dan meningkatkan kapasitas kader PKK dan Posyandu. Jumlah peserta sebanyak 327 orang. Peserta terbanyak dari Kabupaten Sumba Timur sebanyak 27 orang. Sementara yang paling sedikit dari TTS sejumlah empat orang,” jelas Sinun Manuk.

Ada beberapa kegiatan dalam jambore tersebut adalah pemeriksaan kesehatan ringan, diskusi panel, lomba pidato, lomba penyuluhan Kelompok Kerja (Pokja) I, II, III dan IV, Lomba Pemantauan dan Perawatan bayi umur 0—30 hari, lomba gembira, lomba beregu pesan berantai, lomba beregu permainan ular tangga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Kegiatan Jambore tersebut dibuka dengan Parade Peserta dari depan Aula Rujab menuju tempat upacara diiringi drumben dari siswa/i SMAN 3 Kota Kupang.

Wagub secara simbolis menyematkan tanda peserta kepada perwakilan peserta dari Flores Timur, , Sumba Tengah, Rote Ndao dan Belu.

Tampak hadir pada kesempatan tersebut Unsur Forkompinda Provinsi NTT, Wakil Ketua dan Sekretaris Tim Penggerak PKK Provinsi NTT, Anggota DPRD NTT, pimpinan Perangkat Daerah Provinsi NTT, Ketua PKK Kabupaten/Kota se-NTT, Kader PKK dan Posyandu, organisasi perempuan, insan pers dan undangan lainnya. (*)

Sumber berita (*/Aven Rame—Biro Humas dan Protokol Setda NTT) Foto by Saul Kapitan
Editor (+rony banase)

Dies Natalis XVIII FKM Undana, Stunting jadi Perhatian Utama

508 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Tingginya akan stunting di Nusa Tenggara Timur menjadi perhatian banyak pihak, terutama pemerintahan dan tidak ketinggalan juga pihak kampus sebagai kaum akademisi. Stunting menjadi isu utama yang mendapatkan perhatian penuh Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undana Kupang pada perayaan Dies Natalis XVIII.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Panitia Pelaksana Dies Natalis ke-XVIII FKM Undana Kupang, Indra Yohanes Kiling, Ph.D, yang ditemui media Garda Indonesia pada Kamis, 8 Agustus 2019,disela-sela kegiatan yang berlangsung di gedung perkuliahan FKM Undana.

Indra menjelaskan bahwa FKM Undana berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat NTT terutama pada masalah stunting.

“Anak-anak yang tubuhnya lebih pendek, itu yang jadi fokus kita”, jelas Indra.

Dirinya menjelaskan bahwa saat ini stunting di NTT pada level darurat sehingga memerlukan perhatian penuh, termasuk dari FKM yang basic-nya pada kesehatan masyarakat.

Terkait rangkaian kegiatan yang dilaksanakan dalam menyongsong Dies Natalis FKM pada 14 Agustus 2019 nanti, Indra menyebutkan bahwa pihaknya akan mengadakan seminar berkaitan dengan stunting.

Dirinya menjelaskan bahwa akan hadir pada kegiatan tersebut Ketua tim Pergerakan PKK Provinsi NTT, Perwakilan dari Kementrian Kesehatan, Dinas Kesehatan, LSM terkait seperti Plan International untuk bersama-sama membahas tentang masalah stunting di NTT, serta mencari solusi bersama terkait tindakan yang harus dilakukan.

“Kita akan membahas tentang stunting, fenomena yang sedang terjadi, posisi stunting di NTT serta membahas langkah-langkah yang harus dilakukan bersama”, tegasnya.

Lanjutnya, seminar tersebut akan melibatkan mahasiswa dari FKM sendiri, dari Fakultas Kedokteran Undana, serta dari beberapa STIKES yang ada di Kota Kupang.

“Kita sudah keluarkan undangan, kita berharap ada respon baik dan kita bisa bekerja sama dengan baik untuk mengurangi angka stunting di NTT “, ujarnya.

Selain kegiatan seminar tersebut, pihak FKM juga akan melakukan penelitian terkait stunting juga akan dilakukan pengabdian masyarakat pada tanggal 19 Agustus 2019 bertempat di Desa Lifuleo Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang.

“Pengabdian masyarakat tersebut tentunya hanya bersifat even ya, tapi kita para dosen akan melakukan penelitian juga terkait stunting “, jelas Dosen Prodi Psikologi itu.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Bidang Penalaran dan Keilmuan BEM FKM Undana, David Ndapa Hambur mengatakan bahwa dari ormawa sendiri akan menjalankan penyuluhan kepada masyarakat yang akan dilakukan dalam pengabdian masyarakat tersebut.

Dirinya menyebutkan bahwa masalah stunting adalah masalah serius yang efeknya berkepanjangan dan berdampak terhadap pertumbuhan anak-anak bangsa. Karena kemajuan suatu bangsa tergantung pada generasi penerusnya.

“Untuk mengatasi stunting harus dilakukan dari masa remaja, sehingga kedepan ketika sudah berkeluarga dan punya anak gizinya bisa terpenuhi”, jelas David.

Lanjutnya, stunting juga sangat berpengaruh terhadap kecerdasan anak-anak, sehingga keluarga perlu dibekali pemahan tentang pemenuhan gizi dengan makanan-makanan lokal yang diolah untuk pemenuhan gizi.

Selain itu, terkait ilmu yang dipelajari, dirinya menjelaskan bahwa mahasiswa FKM sudah dibekali dengan pengetahuan tentang pengolahan makanan-makanan lokal yang dapat memperbaiki gizi anak-anak di NTT.

Kita sudah belajar tentang pengolahan makanan lokal untuk pemenuhan gizi”, kelas mahasiswa semester V itu.

Dirinya menjelaskan bahwa kedepan ormawa akan mengusahakan untuk melakukan kegiatan penyuluhan sekaligus pelatihan tentang pengolahan makanan-makanan lokal daerah.

Untuk memeriahkan Dies Natalis XVIII FKM, ada beberapa jenis kegiatan seperti pertandingan tenis meja yang diikuti mahasiswa, dosen dan juga pegawai, ada juga lomba vlog yang akan ditampilkan pada tanggal 14 Agustus mendatang.

Selain itu pada Kamis, 8 Agustus 2019 berlangsung lomba tarian modern yang diikuti oleh 11 tim dengan peserta dosen, mahasiswa serta pegawai dilingkup FKM. Sementara untuk pengumuman juara akan dilakukan pada puncak Dies Natalis nanti.(*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Julie Laiskodat: “Orang NTT Tak Susah Diajak Kolaborasi Cegah Stunting”

381 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Inisiasi PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk mencegah stunting melalui pembentukan Desa Model dan kerja kolaborasi memperoleh dukungan dari OPD lingkup Pemprov NTT, Universitas Indonesia, dan Poltekkes Kemenkes Kupang

Ketua Tim Penggerak PKK NTT, Julie Sutrisno Laiskodat kepada Garda Indonesia pada Rabu, 12 Juni 2019 di sela-sela kegiatan Workshop Integrasi Pencegahan Stunting yang dilaksanakan di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT mengatakan bahwa tahu persis setiap dinas tidak berkolaborasi dengan baik

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2019/06/12/pkk-ntt-inisiasi-desa-model-kerja-kolaboratif-pencegahan-stunting/

“Menurut saya pribadi selama ini mereka (Organisasi Perangkat Daerah,red) masing-masing tidak berkolaborasi secara baik. Kalau mau berantas sebuah masalah saya yakin harus bergandeng tangan”, ujar Julie

Lanjutnya, seperti sapu lidi tak bisa hanya satu namun harus segenggam dijadikan satu (keroyokan) untuk bisa menyapu bersih

“Ini gunanya mengapa PKK menjadi jembatan agar ego sektoral masing-masing ditangguhkan untuk mencegah stunting”, tegas isteri Gubernur NTT Viktor Laiskodat

Juli Laiskodat juga berharap PKK dengan caranya sendiri dapat berkolaborasi dengan berbagai pihak

“Saya melihat bahwa orang NTT tidak susah untuk diajak berkolaborasi hanya tidak tahu chemistry seperti apa”, ungkap Wanita Tangguh yang konsen mengembangkan potensi tenun NTT dan memiliki LeVico Butik di Jakarta

Tim dari Universitas Indonesia dan Poltekkes Kemenkes Kupang berpose bersama Ibu Gubernur dan Wakil Gubernur NTT

Sementara itu, PKK NTT akan bekerja sama dengan Universitas Indonesia untuk mencegah stunting dan memberikan edukasi terhadap para Kader PKK

Prof Dr. Taniawati Supali dari Universitas Indonesia saat diwawancara oleh Garda Indonesia usai memberikan edukasi menyampaikan agar Kader PKK dapat memaksimalkan 4 pokja dan bekerja dengan hati karena masyarakat di NTT haus pelayanan dari petugas kesehatan

“Semua program bagus namun terkadang orang sering menghitung dengan uang. Jadi kita sering bekerja dan tinggal di kampung karena mereka (Orang Desa,red) kalau kita datang pasti sangat welcome (menyambut dengan baik)”, tandas Prof Tania yang pernah mengabdi dan melayani Masyarakat Alor sejak tahun 2000—2011.

Penulis dan editor (+rony banase)