Arsip Tag: drg dominikus mere

‘Update Covid-19 NTT’ 3 Pasien Dalam Pengawasan dan 301 ODP

203 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Hingga Kamis, 26 Maret 2020 pukul 14.00 WITA, jumlah orang dengan kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP) Pandemi Covid-19 di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 254 orang,” ungkap Kadis Kesehatan Provinsi NTT Dr. drg. Dominikus Minggu Mere yang didampingi oleh Kabiro Humas dan Protokol Setda Pemprov NTT Dr.Jelamu Ardu Marius kepada awak media di Posko Penanggulangan Covid-19.

Lanjut drg Domi Mere, ODP yang telah selesai pemantauan ada 26 orang, yang sedang dirawat ada 7 orang, dan yang melakukan isolasi mandiri sebanyak 221 orang.

Selain itu, imbuh drg. Domi, terdapat 1 (satu) orang dengan kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dirawat di RS Komodo Labuan Bajo Manggarai Barat.

Terpisah, Juru bicara Covid-19, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si meng-update data terkini terkait penanganan Corono Virus Desease (Covid)-19 di Provinsi NTT. Orang Dalam Pemantauan (ODP) berjumlah 301 orang.

“Ya, hingga malam ini pukul 21.00 WITA jumlah ODP Covid-19 sebanyak 301 orang. Siang tadi berjumlah 254 orang. Ini berarti ada tambahan jumlah ODP sebanyak 47 orang,” beber Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT di ruang biro, pada Kamis malam, 26 Maret 2020.

Dia merinci ODP di Kota Kupang berjumlah 48 orang; yang sembuh 10 orang, sisa 38; yang rawat inap dua (2) ODP di rumah sakit Prof. Dr. W. Z. Johanes Kupang; sedangkan yang 36 ODP melakukan karantina mandiri. Kabupaten Lembata berjumlah 12 orang, sembuh tiga orang dari 9 ODP; karantina mandiri sembilan (9) orang. Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) ODP sebanyak 38 orang dan semuanya karantina rumah. Kabupaten Kupang berjumlah Sembilan (9) ODP dan semuanya karantina mandiri.

Kabupaten Sikka lanjut Marius, berjumlah 39 orang sembuh 11 orang dan jumlah 28 sedang melakukan karantina mandiri. Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sebanyak 15 orang dan semuanya karantina mandiri. Di Kabupaten Manggarai Timur sebanyak enam (6) ODP; rawat inap 1 (satu) orang di rumah sakit Ben Mboi Ruteng; karantina rumah sebanyak lima (5) orang. Kabupaten Flores Timur jumlah lima (5) ODP dan semuanya sedang karantina rumah. Kabupaten Malaka satu (1) dan kini sedang rawat nginap di rumah sakit Prof. Dr. W. Z. Johanes Kupang.

Di Kabupaten Alor 1 (satu) orang dan kini telah sembuh. Kabupaten Sumba Timur jumlah 30 orang dan satu orang sedang rawat inap di rumah sakit Umbu Rarameha; karantina mandiri sebanyak 29 orang. Kabupaten Belu sebanyak 18 orang; satu orang sedang rawat nginap 1 di rumah sakit Prof. Dr. W.Z. Johanes Kupang; dan ada 17 orang yang karantina mandiri.

Di Kabupaten Sumba Barat Daya berjumlah 13 orang dan semuanya sedang melakukan karantina mandiri. Di Kabupaten Ende jumlah 5 ODP (1 (satu) sembuh dan empat sedang karantina mandiri), Kabupaten Manggarai jumlah enam (6) dan semuanya sedang karantina mandiri. Kabupaten Rote Ndao berjumlah 20 ODP, Sumba Tengah sebanyak empat (4), Kabupaten Ngada jumlah 14 ODP, Kabupaten Nagekeo sebanyak 14 orang; dan satu orang sedang rawat inap di rumah sakit TC Hilers Maumere; dan ada 13 orang yang karantina mandiri. Kabupaten Sabu Raijua ada tiga (3) ODP.

“Sehingga total menjadi 301 ODP. Yang sembuh sebanyak 26 orang. Jumlah ODP ini menjadi 275; rawat nginap tujuh (7) orang dan 268 yang sedang karantina mandiri,” jelas Marius dan menegaskan, PDP (Pasien Dalam Pengawasan) berjumlah tiga (3) orang; satu orang meninggal, satu orang sembuh; sisa satu (1) PDP yang kini sedang dirawat di rumah sakit Komodo Labuan Bajo Kabupaten Mabar.

Melihat data yang fluktuatif seperti ini sebut Marius, masyarakat di Provinsi NTT diminta untuk patuh dan taat terhadap protap-protap yang telah dikeluarkan baik oleh WHO maupun otoritas pemerintah yang ada di republik ini.

“Karena itu, kita terus mengimbau agar orang-orang NTT yang sekarang sedang masuk di NTT apakah sebagai TKI atau TKW dari Malaysia; maupun orang-orang NTT yang datang dari berbagai provinsi yang telah terpapar virus corona maka pastikan diri anda sehat dan segera lakukan isolasi secara mandiri,” pesan Marius. (*)

Penulis (+rony banase & Valeri Guru/Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)

Gubernur NTT Apresiasi Sikap Sinode GMIT & Keuskupan Agung Kupang

96 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mengapresiasi sikap dan langkah bijak yang dikeluarkan Ketua Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon dan Keuskupan Agung Kupang (KAK) yang membatasi dan meniadakan misa selama 2 (dua) minggu ke depan. Pembatasan ini sebagai akibat merebaknya penyebaran risiko penularan infeksi Corona Virus Disease atau Covid-19 di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Bapak Gubernur kami memberi apresiasi kepada Ibu Ketua Sinode GMIT yang sudah mengeluarkan kebijakan untuk membatasi kehadiran jemaat di gereja-gereja,” ujar Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si kepada pers di Kupang, pada Sabtu, 21 Maret 2020.

Apresiasi yang sama sebut Marius, juga diberikan kepada pihak Keuskupan Agung Kupang. “Kita juga memberikan apresiasi kepada Keuskupan Agung Kupang yang juga meniadakan misa selama dua minggu ke depan. Kita harapkan keuskupan lain di seluruh NTT untuk membuat kebijakan demi keselamatan umat. Hal ini perlu kami sampaikan kepada masyarakat NTT untuk tidak anggap remeh dengan virus ini,” pinta Marius.

Menurut dia, dari hari ke hari OPD (Orang Dalam Pemantauan) semakin meningkat. Ini menandakan bahwa penyebaran virus di Indonesia termasuk di NTT sangat eskalasi. “Walaupun status mereka ODP tetapi bukan tidak mungkin suatu saat bisa positif. Oleh karena itu, perlu kita antisipasi dengan cermat untuk melindungi kesehatan masyarakat kita. Selalu kita update setiap saat, ODP adalah warga NTT yang pulang dari provinsi terpapar. Sehingga kita perlu memutus mata rantai dan akan kita kaji secepatnya,” ungkap mantan Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT.

Pemerintah Provinsi NTT kata Marius, sangat mengharapkan agar warga masyarakat NTT yang tidak memiliki kepentingan yang mendesak untuk tidak bepergian ke luar NTT. “Warga NTT dimohon untuk tidak bepergian. Begitu juga dengan para ASN untuk tidak melakukan perjalanan dinas. Kita harapkan pejabat pemerintah menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat. Kita dapat mengisolasi diri, dan menjauhkan diri dari daerah yang terpapar virus,” pinta Marius.

Kabiro Humas dan Protokol Setda Pemprov NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius

Bagi yang telah melaksanakan perjalanan ke daerah yang terpapar virus, sebut dia, segera memeriksakan kesehatannya agar tidak menular ke orang lain. “Tidak ada jalan lain bagi warga NTT selain mengisolasi diri, seperti yang dikatakan Bapak Gubernur. Proteksi diri sangat penting karena itu kita telah mengeluarkan beberapa kebijakan seperti instruksi kepada masyarakat NTT untuk melakukan social distancing,” ucap dia.

Dia menambahkan, “Kita harus menggunakan medsos (media sosial) dengan baik dan jangan berspekulasi. Anggaplah virus itu sudah ada di sekitar kita; agar kita jangan menganggap remeh virus ini.”

Marius juga mengajak warga NTT untuk belajar dari pengalaman warga masyarakat di Italia. “Bisa kita lihat dari negara lain yang terpapar virus seperti di Italia. Pada awalnya virus ini disepelekan sehingga pada akhirnya menyebabkan bencana yang luar biasa. Masyarakat NTT diminta untuk selalu bersiaga. Liburan anak sekolah juga diharapkan bukan berarti boleh pergi ke tempat yang ramai, seperti mall dan lain-lain,” katanya.

Kekurangan APD

Di tempat yang sama, Kadis Kesehatan Provinsi NTT, dokter Dominikus Minggu Mere mengaku, berdasarkan laporan dari lapangan ada kekurangan Alat Pelindung Diri (APD).

“Sesuai hasil rapat koordinasi (Rakor) yang diikuti seluruh Sekda kabupaten/kota, beberapa poin penting sudah disepakati berdasarkan keluhan di lapangan adalah kekurangan APD. Pemerintah akan segera menyusun rencana kebutuhan APD. Kita sudah menghitungnya dan tentunya APD tidak hanya di rumah sakit Provinsi tetapi juga untuk rumah sakit Kabupaten. Karena hal ini sudah masuk dalam kriteria bencana, artinya bahwa kita sudah harus mengambil langkah-langkah seperti menyiapkan anggaran tak terduga,” jelas mantan Dirut Rumah Sakit Prof. Dr. W.Z. Johanes Kupang.

Kadis Kesehatan Provinsi NTT, drg. Domi Minggu Mere

Diperlukan langkah strategis dan koordinasi yang efektif antara Pemerintah Provinsi NTT dengan Pemerintah Kabupaten/Kota se NTT. “Perlu sinergi antara provinsi dan kabupaten. Sekembalinya dari Kupang, pada Sekda harus segera memfasilitasi pembentukan Gugus Tugas agar komando di dalam mengatasi problem besar ini bisa diambil alih oleh suatu koordinasi yang kuat, dalam hal ini Sekretaris Daerah,” harap dokter Domi.

Putus Mata Rantai

Di tempat terpisah, Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Cabang Provinsi NTT, dokter Teda Litik mengharapkan, sikap tegas Gubernur NTT untuk memutus mata rantai penyebaran wabah virus Covid-19 di Provinsi NTT. “Saya minta Pak Gubernur harus cepat putus mata rantai penyebaran virus Covid-19 agar tidak ada yang positif di NTT,” pinta dokter Teda Litik, dari balik gagang telpon.

Dia berharap kebijakan untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 ini segera diambil. “Cepat diputuskan jalur penerbangan dan jalur pelayaran dari dan ke Provinsi NTT. Selain itu, dari pusat juga sudah ada imbauan untuk social distancing. Ini akan memutuskan rantai penyebaran dengan cepat dalam dua minggu. Jika saya carier dan saya tetap beraktivitas; ini bisa menyebar ke orang lain. Tetapi jika saya di rumah dan tidak bertemu orang lain dan daya tahan tubuh saya baik maka saya bisa sembuh,” ucap dokter Teda yang pernah bertugas di Negara Timor Leste tahun 1999 silam. (*)

Sumber berita (*/Valeri Guru/Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)

ODP Covid-19 di Kota Kupang 14 Orang, ASN Kerja di Rumah Hingga 4 April

166 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Sejak tanggal 3—18 Maret 2020 kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP) Covid-19 di Nusa Tenggara Timur NTT ada 24 orang yang sebelumnya hanya 15 orang,” terang Kadis Kesehatan Provinsi NTT, drg. Domi Minggu Mere dalam sesi update informasi tentang penyebaran Covid-19 pada Kamis, 19 Maret 2020 di Media Center Kantor Gubernur NTT.

Proses update terus dilakukan, imbuh drg Domi, sebaran ODP terbanyak berada di Kota Kupang 14 orang, Kabupaten Kupang 1 orang, Lembata 2 orang, dan Manggarai Barat 7 orang. “ Khusus ODP di Lembata dirawat di RS TC Hillers Maumere dan kita terus melakukan pembaharuan data secara terus-menerus dari waktu ke waktu,” terangnya didampingi oleh Kabiro Humas dan Protokol Setda Pemprov NTT, Dr. Marius Ardu Djelamu, dan Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum, Valeri Guru.

Perlu diketahui, jelas drg. Domi, bahwa tidak semua ODP diisolasi dan diobservasi di Rumah Sakit, “1 ODP di Kota Kupang saat ini berada di RS W Z Yohanes termasuk 1 (satu) ODP yang berasal dari RS Siloam,” ungkapnya.

Selain itu, beber drg. Domi, Dua hari lalu telah mengadakan rapat koordinasi termasuk dengan Perhimpunan Rumah Sakit Daerah agar semua memahami tentang kebijakan dan tata laksana Covid-19 di wilayah masing-masing.

“Hal-hal mengenai infrastruktur kesehatan termasuk kondisi di daerah agar dapat didukung oleh Pemerintah Provinsi NTT, oleh karena itu perlu dukungan dari berbagai pihak agar mereka dapat bekerja maksimal,” tandas Kadis Kesehatan Provinsi NTT.

Sementara itu, Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore melalui Surat Nomor : BKPPD.443.1/357/III/2020 tanggal 19 Maret 2020 menyampaikan edaran bagi Aparatur Sipil Negara(ASN), guru dan anak sekolah terhitung 20 Maret—4 April 2020 tidak berkantor atau libur dengan melakukan tugas kedinasan dari rumah.

Namun, sebanyak 8 (delapan) dinas pelayanan publik seperti Puskesmas, Rumah Sakit, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Dinas Kebakaran, Dinas Kebersihan, Badan Penanggulangan Bencana dan Perusahaan Daerah tetap buka dengan mengatur jadwal kerja staf atau pelaksana.

Sementara, bagi pejabat setingkat Kepala Bagian, sekretaris dan Kepala Bidang, Kepala Sekolah, Camat, Sekretaris Camat, Lurah, Sekretaris Lurah, serta Bendahara tetap melaksanakan tugas di kantor sebagaimana mestinya. “Kebijakan ini sebagai tindak lanjut edaran menteri pendayagunaan aparatur negara dan reformasi tentang sistem kerja ASN dalam upaya pencegahan penyebaran virus Covid 19 di lingkungan pemerintah,” ujar Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore dalam siaran pers, Kamis, 19 Maret 2020.

Berdasarkan surat pemberitahuan tersebut, bagi ASN golongan IV dan staf atau pelaksana, guru dan anak sekolah agar pelaksanaan tugas kedinasan dengan bekerja dari rumah atau tempat tinggal terhitung 20 Maret—4 April 2020. Ketentuan mengenai sistem kerja pada perangkat daerah diatur oleh masing-masing kepala perangkat daerah.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

NTT Negatif Corona, RS Umbu Rarameha & Gabriel Manek Jadi Tambahan Rujukan

242 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Penyakit Infeksi Emerging (IPE) Covid-19 atau Corona Virus di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur hingga Senin, 16 Maret 2020, masih dalam status negatif atau belum ada pasien yang terpapar.  Penyakit yang merebak di seluruh dunia ini telah berdampak pada 172 orang di Indonesia, merenggut 5 nyawa dan 9 orang berhasil sembuh.

Kondisi negatif corona virus di Provinsi NTT, disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, drg. Dominikus Mere pada sesi presentasi terkait kesiapan medis dan rumah sakit dalam menghadapi penyebarannya di hadapan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL); Ketua DPRD Provinsi NTT, Emila Nomleni; Sekda Provinsi NTT, Benediktus Polo Maing; Forkompinda, Wakil Bupati Belu, Sekda TTU, Ketua PLBN, Kepala Imigrasi, Kepala KKP Kupang, Manajemen RSU W Z Yohanes, dan semua stakeholder yang terkait di Aula Fernandes, Kantor Gubernur NTT.

“Hingga saat ini NTT masih negatif, namun terdapat 3 (tiga) pasien dengan kapasitas Orang Dengan Pemantauan (ODP) dan hasilnya negatif dirawat di RSU W Z Yohanes. 1 pasien ODP dari Lembata saat ini sedang dirawat di RS T C Hillers dengan penyakit penyerta yakni usus buntu, sebelumnya yang bersangkutan menetap di Inggris,” ujar drg Domi.

Lanjutnya, “1 (satu) lagi dari informasi RS Saint Gabriel Atambua dengan kondisi Orang Dalam Pemantauan dan dalam kondisi sehat”.

Sesuai dengan Kemenkes No 169 yakni penetapan 132 Rumah Sakit di Indonesia, imbuh drg. Domi, termasuk 3 (tiga) rumah sakit yakni RSU W Z Yohanes Kupang, RSUD TC Hillers Maumere, dan RSUD Komodo Labuan Bajo. “Saat ini kita juga sudah mempersiapkan peralatan, logistik dan tenaga kesehatan di rumah sakit tersebut, dan kita juga akan membangun tiga posko siaga Covid-19 di NTT,” jelasnya.

Namun demikian, lanjutnya, karena kita sebagai Provinsi Kepulauan dan Terluar maka diusulkan kepada Kemenkes agar dapat ditambahkan 2 (dua) rumah sakit sebagai tempat rujukan penanggulangan penyakit Covid19 yaitu RSUD Umbu Rara Meha Waingapu dan RSUD Saint. Gabriel Belu.

Perihal alat pelindung diri telah diusulkan ke Menteri Kesehatan, ungkap drg. Domi kepada Gubernur VBL, karena kebutuhan di seluruh Indonesia sehingga ada keterbatasan alat pelindung diri, teman-teman dokter meminta untuk dilindungi dengan alat yang memadai, mudah-mudahan tidak terjangkit seperti di tempat lain.

Usai, mendengarkan laporan Kadis Kesehatan NTT, Gubernur Viktor Laiskodat menyampaikan bahwa untuk menjaga sentralisasi penyampaian informasi terkait Covid-19, maka semua informasi harus bersumber dari Kadis Kesehatan Provinsi NTT dan disampaikan oleh Kabiro Humas dan Protokol Setda Pemprov NTT, Dr. Marius Ardu Djelamu, M.Si.

“Informasi harus satu pintu dan penyampaian informasi terkait Covid-19 berasal dari Kabiro Humas dan Protokol Pemprov NTT,” tegas Gubernur VBL.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)