Arsip Tag: Gubernur 1 NTT Viktor Laiskodat

Gubernur Viktor Ajak Keluarga Jawa Bangun NTT Tanpa Pura-pura

276 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id | K2S (Kontak Kerukunan Sosial) sebagai Paguyuban Keluarga Jawa di Kota Kupang Nusa Tenggara Timur memberikan kontribusi nyata dan menjadi bagian dari pembangunan Kota Kupang dan Provinsi NTT.  Salah satu kontribusi nyata K2S di Kota Kupang dengan melakukan penataan dan pemberian fasilitas tambahan di Taman Nostalgia dan Pantai Warna.

Eksistensi Keluarga Jawa di Kota Kupang dan NTT diperkokoh dengan pengukuhan Pengurus Paguyuban K2S Kota Kupang dan Provinsi NTT. Mengusung slogan ‘Ketong Samua Basodara’, pagelaran pentas seni dan pengukuhan pengurus K2S Kota Kupang dan Provinsi NTT, dihadiri oleh Gubernur 1 NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dalam sesi pengukuhan dan pentas seni K2S di areal Waterpark yang dilaksanakan di Waterpark Kota Kupang, Sabtu/27 Desember pukul 19.30–selesai yang dipadati oleh keluarga Jawa yang tergabung dalam Paguyuban K2S.

 

Ketua Panitia Pentas Seni dan Pengukuhan Pengurus K2S, Ir Mutakin menyampaikan dalam laporan tentang pelaksanaan Musyawarah Besar K2S pada 29 September 2018 di Asrama Haji yang diikuti oleh 63 perwakilan kab/kota di Pulau Jawa dan 9 perwakilan Kab/Kota di Provinsi telah memilih Pengurus Baru K2S dengan formatur dr Ikhsan dengan legitimasi sebagai Ketua K2S Kota Kupang dan Ir Poedji Watono sebagai Ketua K2S Provinsi NTT periode 2018—2023.

Ir Mutakim juga menegaskan bahwa Pengurus K2S yang telah terbentuk di 15 kab/kota siap melaksanakan kebijakan Gubernur 1 dan Gubernur 2 NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Nae Soi.

Gubernur Viktor Ajak Saling Bahu Membahu Membangun NTT

Atas nama Pemerintah NTT Gubernur Viktor Laiskodat menyampaikan selamat kepada pengurus baru K2S. Gubernur 1 NTT kemudian menyampaikan pepatah ‘Dimana tanah dipijak disitu langit dijunjung’. Gubernur lalu mengajak semua keluarga Jawa sebagai warga negara Indonesia yang mendiami dan berdomisli di Kota Kupang dan Nusa Tenggara Timur untuk saling mendukung dan membangun bangsa dan negara.

“Sebagai Gubernur saya sangat gembira dengan adanya K2S Keluarga Jawa di Nusa Tenggara Timur. Kita harus kerja bahu membahu dengan menyatukan energi dengan satu tujuan untuk kejayaan dan kesejahteraan dan dengan semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” ujar Gubernur Viktor.

Gubernur Viktor juga mengingatkan untuk membangun imajinasi hebat kedepan dan tidak boleh hidup dalam penuh dengan pura-pura dalam keberagaman, pura-pura baik, pura-pura toleran dan pura-pura menjadi orang soleh. Kehidupan dalam perbedaan merupakan rahmat dari Tuhan.

“Semangat kesatuan dan persatuan juga persaudaraan harus dibangun dalam kejujuran dengan menerima perbedaan karena keluarga Jawa hadir di NTT bukan mengurus orang Jawa namun mengurus orang Indonesia dan hidup dalam kerelaan dan kejujuran hati dan jangan lakukan itu karena sungkan. Hidup harus rileks dan lepas dengan menerima segala perbedaan,” tegas Gubernur Viktor. (+rb peot)

Menjayakan Bahasa dan Sastra Indonesia melalui Semarak Bulan Bahasa

272 Views

Kupang-NTT,gardaindonesia.id | Semarak Bulan Bahasa merupakan agenda rutin dari Kantor Bahasa NTT dan dilaksanakan setiap tahun pada bulan Oktober. Dalam tahun 2018 ini, Semarak Bulan Bahasa bersamaan dengan Kongres Bahasa Indonesia Ke-11 dan terdapat 7 (tujuh) kegiatan lomba dan pemberian penghargaan Bemo RAISA (Bemo Ramah Bahasa Indonesia)

Dilaksanakan di Taman Budaya Gerson Poyk tanggal 24—25 Oktober 2018, berbagai kegiatan yang dilombakan yakni Lomba Musikalisasi Puisi bagi Guru SD/MI, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA Se-Kota dan Kabupaten Kupang; Lomba Mewarnai bagi Siswa TK B; Lomba Mendongeng bagi Guru TK/PAUD; Lomba Baca Puisi bagi Siswa SD/MI; Lomba Bercerita Cerita Rakyat bagi Siswa SMP/MTs; Lomba Cerdas Cermat Bahasa bagi Siswa SMA/SMK/MA dan Lomba Istilah Hari Ini bagi Mahasiswa D-3 dan S1

Kepala Kantor Bahasa Nusa Tenggara Timur(NTT), Valentina Lovina Tanate,S.Pd., sebelum sesi pembukaan Semarak Bulan Bahasa 2018 mengatakan, melalui bahasa; jati diri kita dibentuk karena melalui karya sastra, kepribadian anak-anak tumbuh dan berkembang.

“Kami berharap dengan kegiatan lomba Semarak Bulan Bahasa, anak-anak di Kabupaten dan Kota Kupang semakin mencintai bahasa sebagai sumber ilmu dan suka membaca. Semarak Bulan Bahasa merupakan agenda rutin Kantor Bahasa NTT dan berharap lomba-lomba yang dilaksanakan dapat sesuai dengan tingkat apresiasi sastra di sekolah,” pinta Kepala Kantor Bahasa NTT.

Pacu Literasi Anak Melalui Kecintaan terhadap Bahasa dan Sastra

Degradasi moral terjadi dalam dunia pendidikan saat ini. Moral generasi muda saat ini sangat berbeda jauh dengan generasi sebelumnya (20 tahun lalu) namun masih banyak yang mempunyai perilaku santun dan tata krama baik dan sedikit yang berprilaku negatif.

Sastra merupakan salah satu wadah bagi anak-anak agar bisa mempelajari nilai moral dan nilai kehidupan yang terkandung didalamnya, sastra harus tumbuh dan hidup dalam lingkungan sekolah. Mereka harus dirangsang juga bertumbuh agar kreatifitas dapat bertumbuh. Pembelajaran sastra tidak cukup hanya dengan memasukkan teori tentang sastra namun harus diajarkan bagaimana menikmati dan mengapreasi satra dan memproduksi karya sastra.

“Disinilah permasalahan, literasi kita di NTT masih dibawah standar. Jangankan literasi tulis, literasi baca pun, anak-anak harus dipaksa dulu agar mau membaca. Saya rasa bapak/ibu guru mengalami kesulitan tersebut di sekolah, anak-anak dalam era saat ini lebih memilih gawai (gadget) daripada membaca,” ungkap Valentina, sesaat sebelum pembukaan Semarak Bulan Bahasa, Rabu/24 Oktober 2018.

Kepala Perpustakaan Negara, Ir Frederik Tielman mewakili Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat membuka dengan resmi Semarak Bulan Bahasa 2018. Tampak hadir Kadis Kebudayaan NTT, Piter Manuk, Kadis Pendidikan Kota Kupang, Filmon Lulupoy dan Sekretaris Perhubungan Kota Kupang. (+rb)

Gubernur Viktor Segera Siapkan Studio Musik Untuk Anak-anak NTT

166 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur 1 NTT didampingi Ibu Julie Laiskodat selepas dari kunjungan kerja dari Kabupaten Ende; setiba di Bandara El Tari Kupang langsung mengunjungi anak-anak NTT yang mengikuti Spesial Hunt Kupang Audisi Rising Star Indonesia di T More Hotel Kupang.

Ditemui oleh gardaindonesia.id dalam sesi audisi spesial Hunt Kupang, Rising Star Indonesia, Minggu/21 Oktober 2018 pukul 12.20 WITA di Ruang Alor T More Hotel Kupang, Gubernur Viktor menyampaikan bahwa akan segera menyiapkan sebuah Studio Musik.

“Pasti sesuatu potensi yang harus didorong dan di support oleh pemerintah. Kehadiran saya sebagai bentuk support baik secara moral maupun lain yang dibutuhkan kedepan,“ ujar Gubernur Viktor.

Lanjut Gubernur Viktor, “Saya pikir pertumbuhan ini harus diimbangi dengan kita mempunyai studio yang bagus dan kedepan anak-anak tidak lagi kaget saat berada di Studio Modern,“ ujar Gubernur Viktor.

Saat dikonfirmasi mengenai kurun waktu penyiapan studi, Gubernur Viktor mengatakan tidak lama untuk menyiapkannya. “Gak lama, itu barang murah, untuk buat itu!,“ tegas Gubernur Viktor.

Ketua Forum Seniman Harmoni NTT, Aky Kalla, mengatakan kegiatan audisi berlangsung dari tanggal 20—21 Oktober 2018 dengan proses audisi video selama 2 (dua) minggu. “Kami mencari peserta dengan melakukan pendaftaran dari Sekolah ke sekolah. Kita nangkap bola dengan mengejar video mereka. Jika jarak peserta jauh dilakukan dengan mengirimkan video melalui Whatsapp dan E-mail,“ ujar Aky Kalla

Peserta audisi Rising Star Indonesia Special Hunt Kupang sebanyak 267 peserta dan yang lolos Audisi Video tahap 1 yang berhasil lolos seleksi sebanyak 69 orang dari Alor, Manggarai, Maumere, Larantuka, Sumba, Sabu, Rote, dan Daratan Timor. Audisi Peserta dari luar NTT dari Sidoarja 1 orang dan Surabaya 1 Peserta duet

Aky Kalla mengatakan bahwa anak-anak NTT diberkati Tuhan sangat luar biasa dengan talenta suara namun suara dan nyanyi saja tidak cukup karena harus dibenahi dengan teknik, penjiwaan, sarana, dan harus bisa bermain musik.
“Salah satu hal yang membuat anak-anak NTT belum maju karena belum memiliki sarana berupa Studio Musik. Ini contohnya karena tidak memiliki Studio Musik maka digelar di Alor Room T More Hotel,“ ungkap Aky Kalla

Bersama Wakil Ketua Harmoni, Inna Djara; Aky Kalla mengapresiasi kehadiran Gubernur Viktor bersama Ibu Julie Laiskodat.  “Dengan beliau hadir saja sudah luar biasa dan menjanjikan harapan dengan mendukung anak-anak NTT berkiprah dalam dunia musik,“ Jelas Aky Kalla.

“Beliau (Gubernur Viktor-red) lihat sendiri kenapa harus audisi di hotel karena kita harus menyiapkan sarana yang baik berupa studio. Kami terus menyampaikan dan mendorong beliau untuk segera menyiapkan Studio Musik,“pungkas Aky Kalla. (+rb)

Gubernur Viktor Bertekad Rubah Indeks Persepsi Korupsi Jadi Lebih Baik

107 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur 1 NTT, bertekad merubah Indeks Persepsi Korupsi (IPK) NTT menjadi lebih baik. Karena korupsi berkaitan erat dengan karakter manusia.
“Hari ini IPK NTT adalah keempat yang terburuk dari seluruh Provinsi di Indonesia. Sebagai Gubernur saya ingin agar ke depan turun jauh tingkat persepsi publik terhadap korupsi penyelenggara negara di daerah ini, ” jelas Gubernur Viktor saat membuka Lokakarya Nasional  ‘Menyelamatkan NTT dari Bahaya Korupsi’ di Aula Sekolah Tinggi Hukum Prof.Dr.Yohanes Usfunan,SH,M.H., Nasipanaf, Jumat/19 Oktober 2018.

Menurut Viktor, sedikit saja kita menurunkan tingkat korupsi, NTT akan menjadi lebih baik. Itulah salah satu yang dimaksudkan dengan NTT Bangkit Menuju Sejahtera.
“Kita mau buktikan persepsi publik itu keliru. Korupsi itu bukan masalah undang-undang ada atau tidak, diawasi atau tidak, tetapi tentang bagaimana karakter manusia. Kita ciptakan transparansi dengan E-Budgeting, E-Planning dan E lainnya, tapi operatornya tetap manusia. Kalau manusianya tetap mau curang, tidak ada gunanya,” jelas Viktor dalam kesempatan tersebut.

Lebih lanjut, Gubernur Viktor memimpikan agar ke depannya para Aparatur Sipil Negara (ASN) di NTT untuk mengembangkan jiwa entrepreneurship. Dunia birokrat itu sudah lama punya ilmu untuk menjadi manusia wirausaha.
“Ini cara-cara strategis agar dapat tambahan penghasilan. Dengan cara bekerja, bukan dengan cara mencuri tapi tidak ketahuan.Pendekatan terhadap korupsi bukan saja soal pengawasan dan audit internal, tetapi juga bagaimana seseorang bertumbuh secara ekonomi, “jelas Viktor.

Viktor menyatakan, PNS juga boleh menjadi kaya tapi dengan cara yang benar. Dengan bekerja seperti tanam kelor, tanam bawang, semangka dan lainnya. Ini tidak dilarang oleh Undang-Undang.
“Ini cara kita ke depan agar korupsi tidak tumbuh hebat. Saya punya mimpi kalau satu saat, ada PNS yang ditangkap karena korupsi, itu bukan dari Pemerintah Provinsi NTT,”jelas Viktor.

Pada kesempatan tersebut, Viktor Laiskodat mengapresiasi langkah Prof. Dr. Yohanes Usfunan,SH, M.H untuk kembali ke NTT dan bangun Sekolah Tinggi Hukum. Karena NTT masih banyak kekurangan ahli dalam bidang hukum. Terutama dalam mendesain tatanan hukum kita agar menjadi lebih kuat.
“Saya ingin agar lembaga ini melahirkan manusia yang punya karakter tunduk dan patuh pada hukum. Bukan melahirkan sarjana hukum tapi ahli hukum. Melahirkan pengacara yang berkualitas. Pengacara yang tidak suka membela koruptor kecuali kalau diperintah Undang-Undang dan dibayar negara, “pungkas Viktor Laiskodat.

Sementara itu, Prof. Dr. Yohanes Usfunan, SH, M. H menyatakan, lembaga pendidikannya mendukung penuh langkah Pemerintah Provinsi dalam memciptakan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean governance). Kami siap menghasilkan naskah akademik untuk jadi masukan dalam membuat Peraturan Gubernur (Pergub) misalnya tentang Malu dan Takut Korupsi serta Pergub tentang Desa.

“Persoalan korupsi adalah persoalan krusial. Bangsa ini hadapi tantangan besar dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi. Pencegahan korupsi jauh lebih penting dari pemberantasan korupsi. Pencegahan korupsi dapat dilakukan dengan pendekatan agama, budaya, hukum adat dan pendekatan pemerintahan, “jelas Yohanes. (*/humas + rb)

Gubernur Viktor Tantang Mahasiswa Sekolah Perdamaian Tulis Indonesia Masa Depan

213 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur 1 NTT, menegaskan perdamaian hanya bisa terwujud kalau setiap orang mampu memerangi diri sendiri; mengatasi egoisme dan menerima perbedaan.

“Saya tertarik dengan ungkapan Latin, Ci Vis Pacem Para Bellum artinya kalau mau damai, siaplah untuk berperang. Dalam konteks membangun perdamain berarti mampu memerangi diri, ” jelas Gubernur Viktor saat memberikan sambutan pada kegiatan Sekolah Perdamaian dengan agenda Mengunjungi Situs Agama Lokal dan Mondial di Aula Universitas Kristen Artha Wacana Kupang (UKAW), Kupang, Kamis (18/10/18).

Menurut Viktor Laiskodat, perang terhadap diri berarti berhenti mencintai diri sendiri secara luar biasa serta mulailah mencintai orang lain dan Tuhan yang diimani. Hanya dengan ini,perdamaian akan terwujud.
“Kalau tidak kita lakukan, kita masuk dalam sebuah ego. Saya punya yang benar,kamu salah, kamu salah, kamu salah. Kita pun masuk dalam pertikaian hebat. Bagi saya, menerima perbedaan berarti hadir dalam komunitas yang bukan dirimu, tetapi sangat rileks. Karena tidak ada masalah, “jelas Viktor Laiskodat.

Lebih lanjut Viktor menyatakan, semangat seperti ini telah dinyatakan secara jelas dalam pernyataan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Para pemuda ini punya komitmen yang luar biasa yang menembus segala macam perbedaan.  “Dalam keberagaman dan perbedaan, mereka saling menerima dan memberi untuk menjadi satu kesatuan, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini adalah suatu keajaiban besar dari Tuhan Yang Maha Esa, Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Sang Hyang Widhi. Saya bicara ini bukan sebagai Gubernur tetapi sebagai warga negara yang sadar betul, saya diberi suatu negara yang luar biasa,” jelas Gubernur Viktor.

Gubernur Viktor menguraikan, kita harusnya bangga memiliki Indonesia. Tidak ada di dunia ini seperti Indonesia yang punya satu kesatuan wilayah, hukum dan politik.
“Aneh rasanya, kalau hari ini ada yang berpikir untuk memulai satu kesatuan eksklusif dengan pendekatan agama, suku, ras dan bangsa. Republik ini tidak punya mayoritas dalam segala hal. Kalaupun ada agama mayoritas, ujung-ujungnya juga ada perbedaan suku, ras dan warna kulit, ” jelas Viktor.

Gubernur Viktor Tantang Tulis Indonesia Masa Depan

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Viktor menantang para mahasiswa yang ikut Sekolah Perdamaian agar menulis pengalamannya ke Boti, TTS. Dari perjumpaan dengan orang Boti, refleksikan secara imajinatif tentang NTT dan Indonesia masa depan.

“Sebagai Gubernur, saya ingin baca tulisan itu. Saya ingin baca tulisan saudara, bagaimana kehadiranmu sebagai manusia monoteis hadir di Boti. Anggap saja sebagai hadiah 100 tahun peringatan Sumpah Pemuda. 100 sampai 200 tulisan pun akan saya baca, ” jelas Gubernur Viktor.

Lebih lanjut Gubernur mengungkapkan kebanggaannya pada Suku Boti. Mereka mempertahankan budaya dan cara hidupnya secara dengan solid.
“Perjalanan ke Boti adalah perjalanan keimanan. Perjalanan karya ilmiah. Sekali lagi tulis perjumpaan dengan masyarakat di sana dalam perspektif intelektual dan imanmu. Boti dengan kehidupan dan gaya mereka yang eksotis adalah kebanggan NTT, ” pungkas Gubernur Viktor.

Sementara itu, Rektor Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Frankie Jan Salean mengungkapkan, ada 2 (dua) kegiatan penting yang dilaksanakan selama dua hari yakni Sekolah Perdamaian pada 18 Oktober dan Seminar Internasional dan Nasional tentang perdamaian pada 19 Oktober. “Kegiatan ini bertujuan untuk membangun perdamaian bersama dan pemahaman bersama di antara berbagai agama dan budaya, ” jelas Salean.

Kegiatan yang diinisiasi UKAW melibatkan juga beberapa intstitusi lainnya seperti STFK Ledalero, Maumere, Universitas Widya Mandira Kupang, Universitas San Pedro, Universitas Muhamadyah Kupang serta GMIT.

Para mahasiswa yang terlibat dalam sekolah perdamaian ini di antaranya para calon pendeta, para frater dari Seminari Tinggi Santu Mikhael Kupang, dan mahasiswa Muhamadyah. (*/humas)

Gubernur Viktor Ajak Bebaskan NTT dari Buta Aksara

89 Views

Sumba Barat-NTT,gardaindonesia.id–“Di NTT, jumlah penduduk buta aksara kita sebesar 5,15 persen atau sebanyak 151.546 jiwa. Angka ini menurun signifikan jika dibandingkan data tahun 2015 yang mencapai 7,27 persen penduduk,“ Jelas Asisten III Sekretaris Daerah Provinsi NTT, Ir.Stefanus Ratoe Oedjoe, mewakili Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat saat pembukaan peringatan Hari Aksara Internasioal (HAI) ke-53 yang bertempat di Lapangan Manda Elu Waikabubak, Sumba Barat, Rabu/10 Oktober 2018.

Lebih lanjut Asisten Administrasi Umum, menyampaikan, “Berdasarkan data yang dihimpun Badan Pusat Statistik bersama Pusat Data Statistik Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada Tahun 2017, jumlah penduduk usia 15 hingga 59 tahun yang telah berhasil dibebasaksarakan mencapai 97,93 persen. Artinya tersisa 2,07 persen penduduk atau sebanyak 3.387.035 orang lagi yang belum melek aksara.”

Acara yang Hari Aksara Internasioal (HAI) yang dilaksanakan 2 (dua) tahun sekali itu, Gubernur mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menggunakan data capaian tersebut, sebagai acuan dalam menyusun perencanaan dan penganggaran. Untuk membebaskan NTT dari buta aksara. Menurutnya, hal ini penting dalam memerangi kemiskinan dan keterbelakangan daerah.

Untuk menyukseskan Program Indonesia Membaca, Pemerintah Provinsi NTT juga telah mencanangkan Gerakan Literasi pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2016 lalu. “Gerakan Literasi ini tidak hanya dimaknai sebagai sebuah ajakan untuk membaca dan menulis. Lebih dari itu, gerakan ini diharapkan dapat mengembangkan ketrampilan vokasional, sesuai konteks lokal, untuk meningkatkan kualitas hidup bersama,” tambah Ratoe Oedjoe.

Dalam acara yang sama Bupati Sumba Barat, Agustinus Niga Dapawole menyampaikan selamat datang kepada 875 peserta yang telah hadir, di luar peguyuban yang turut berpartisipasi. Beliau juga menyampaikan terima kasihnya untuk kepercayaan yang diberikan kepada Sumba Barat sebagai tuan rumah kegiatan. Farah Tayba, perwakilan dari Kementerian Luar Negeri Australia dalam sambutannya, ikut memberikan apresiasi untuk penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Nampak hadir Johanna Lisapaly,SH,M.Si Kepala Dinas Pendidikan NTT bersama pejabat yang mewakili Bupati sedaratan Sumba. Turut hadir Mark Hayward, Direktur Program Inovasi bersama wakilnya, Basilius Bengoteku dan Stephany Charter. Bersama mereka turut hadir perwakilan mitra inovasi dari Provinsi Kalimantan Utara, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Perayaan HAI tahun ini diawali dengan karnaval budaya yang melibatkan perwakilan dari 17 kabupaten/kota di NTT.

Mengusung tema Mengembangkan Ketrampilan Literasi yang Berbudaya, turut diselenggarakan 18 perlombaan yang berpusat di bekas Kantor Bupati Sumba Barat. Hasilnya akan diumumkan panitia, saat penutupan acara pada Hari Sabtu, tanggal 13 Oktober 2018. (*/humas + rb)

Dialog Flobamora Fapet Undana dalam rangka Dies Natalis ke-55 Batal Digelar

125 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id –Dies Natalis ke-55 Fakultas Peternakan Undana yang diselenggarakan pada Senin/8 Oktober 2018 dengan Agenda Utama ‘Dialog Flobamora’, Sinergi Fapet dan Pemda Se-NTT dalam rangka mengembalikan NTT sebagai Gudang Ternak; Batal dilaksanakan. Gubernur 1 NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat yang direncanakan menjadi’ Tamu Kehormatan Fakultas Peternakan Undana’ batal hadir. Ketidakhadiran Gubernur Viktor disebabkan adanya agenda lain pada jam yang bersamaan dengan rencana pagelaran Dialog Flobamora.

“Fapet Undana ingin memberikan kontribusi terhadap pembangunan dengan menghadirkan Gubernur 1 NTT untuk memberikan sebuah tantangan atau kebijakan yang berkaitan dengan pembangunan Peternakan di Nusa Tenggara Timur,“ ujar Dekan Fapet Undana: Ir. Gustaf Oematan, MSi., kepada para awak media usai menutup kegiatan Dies Natalis ke-55 Fapet Undana, Senin/8 Oktober 2018 di areal Kampus Fakultas Peternakan Undana Kupang.

Sambung Dekan Fapet, dari hasil diskusi dalam tajuk Dialog Flobamora akan disarikan dan dibuat dalam catatan-catatan penting dan strategis untuk ditindak lanjuti.

“Jika tadi Pak Gubernur datang dan memberikan semacam kebijakan tentang pembangunan peternakan Nusa Tenggara Timur; kami akan memberikan pokok-pokok pikiran dalam bentuk Buku dan Jika Pak Gubernur berkenan menggunakan menerima sebagai saran kami dari akademisi,“ ungkap Ir Gustaf.

Dialog Flobamora, Fapet Undana ingin mendengarkan pandangan atau kebijakan Gubernur 1 NTT Viktor Bungtilu Laiskodat terhadap konsep pemikiran pembangunan 5 (lima) tahun Peternakan di Nusa Tenggara Timur. Konsep pemodelan pengembangan dan pendekatan pembangunan Peternakan di lahan kering berbeda dengan lahan basah.

“Pak Gubernur tidak bisa datang karena ada bersamaan waktu dengan acara lain, kami akan cari waktu lain, “terang Ir Gustaf.

Disamping itu, Wakil Rektor (Warek) I Dr Max Sanam saat menghadiri Dies Natalis ke-55 Fapet Undana mengatakan bahwa telah menjadi Dosen Fapet selama kurun waktu 21 tahun lalu tahun 2010 migrasi ke Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) dan mengakui menjadi besar karena Fapet dan tidak akan melupakannya.

“Saya sampaikan ini bukan terkait dengan situasional yang bersifat seremonial,“ujar Dr Max Sanam.

Lebih Lanjut Dr Max mengatakan, Fapet terlalu besar untuk kita kaitkan dengan hal kecil, situasional yang bersifat seremonial karena faktor koordinasi dan komunikasi serta dinamika para pejabat. “Saya percaya situasi ini juga dialami oleh instansi lain, tidak saja di Undana maupun diluar Undana,“ ujar Dr Max

Masih dalam rangka Dies Natalis ke-55 Fapet Undana akan diselenggarakan Seminar Nasional pada tanggal 5 Nopember 2018 di Hotel On The Rock. “Jika sekarang masih tertunda, Saya yakin dan percaya tanggal 5 Nopember akan terjadi suatu pembahasan akademis yang luar biasa terkait dengan pengembangan peternakan dan akan terjadi diskusi produktif dan Fapet Undana akan mengeluarkan catatan dan rekomendasi penting untuk diserahkan kepada Gubernur NTT.

“Kita akan ‘paksa hadirkan’ Gubernur NTT untuk hadir pada tanggal 5 November sehingga ‘kekecewaan’ yang kita alami saat hari ini bisa terobati,“ ucap Dr Max dengan lugas. (+rb)

Gubernur Viktor Dorong GMIT Jadi Kekuatan Pilar Utama

165 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id– Gubernur Viktor Laiskodat menghadiri kebaktian bersama Jemaat Pniel Oebaki Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, Minggu (7/10/18). Kehadiran Gubernur VBL ditengah Jemaat Pniel Oebaki sehubungan dengan acara peletakan batu pertama pembangunan gedung Gereja Pniel Oebaki.

Gubernur 1 NTT ini mengatakan, Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) harus menjadi kekuatan pilar utama; mengingat, keberadaan GMIT sampai ke pelosok desa harus mampu mereformasi diri dan berani keluar dari zona nyaman.

Lanjut Gubernur, visi GMIT untuk membangun pendidikan dalam memperkenalkan karakter Yesus. Karakter Yesus harus terlihat dalam sistem pendidikan, bukan sistem bergereja. Sebab, ke gereja hanya seminggu sekali tetapi pendidikan itu hadir setiap hari.

“Saya akan senang kalau gedung gereja ini berdiri dan kegiatan sekolah juga hadir di gedung ini. Lewat gedung ini harus memperkenalkan karakter Yesus setiap hari. Gereja boleh ditutup tapi sekolah GMIT harus tetap ada dan berjalan. Itu baru dinamakan membangun karakter Yesus di dalam persekutuan gereja,” pinta Gubernur Viktor Laiskodat.

Dihadapan Jemaat Gereja Pniel Oebaki, Gubernur VBL, berharap fasilitas gereja dipakai untuk kegiatan proses belajar dan mengajar. “Kalau gedung ini dipakai untuk mengenyam pendidikan anak mulai dari tingkat taman kanak-kanak (TK) sampai SLTA maka pemerintah akan menyiapkan buku-bukunya,” tambahnya.

Kebaktian bersama jemaat di gereja Pniel Oebaki Amarasi bersama Gubernur Viktor, dipimpin Pendeta (Pdt) Junus E.E. Inabuy. Sedangkan suara gembala disampaikan Ketua Klasis Amarasi Timur, Pdt Jakob Nubatonis.

Pdt. Jakob Nubatonis, mengucapkan terima kasih atas kehadiran Gubernur VBL. Kata Pdt. Nubatonis, melalui kehadiran Gubernur dan rombongan ditengah Jemaat Pniel Oebaki dapat memberikan aura positif. Jemaat Oebaki yakin figur Gubernur Viktor Laiskodat menjadi simbol gerak perubahan bagi kebangkitan masyarakat NTT dan mampu menampilkan nilai-nilai kerja keras serta disiplin. (*/humas+rb)