Arsip Tag: helmy tukan

‘Kartini Zaman Now’ di Tengah Pandemik Corona

438 Views

Oleh Helmy Tukan

Kartini muda belia meninggal di usia muda, namun karya-karyanya menginspirasi kaum wanita maupun kaum pria di seantero jagad. Ada beberapa karyanya yang selalu kupegang hingga kini, yang selalu membuatku semangat dalam menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga dan wanita karier.

Tahun ini, kita merayakan hari Kartini dalam suasana yang berbeda dan mungkin sangatlah berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kita yang kini mengalami masa di mana muncul wabah virus Corona yang semakin menggerogoti seisi warga dunia. Tak ada kegiatan peringatan hari Kartini di luar rumah, tak ada nyanyian Kartini di sekolah-sekolah, tak terdengar pula puisi-puisi Kartini yang dibawakan oleh siswa-siswi ku di tempat mengajarku di SD Inpres Waibalun, ya.. semua ini karena Corona.

Hari ini, 141 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 21 April 1879, Raden Ajeng Kartini lahir di Rembang, Jawa Tengah. Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Kartini.

Selamat Ulang tahun, Ibu Kartini.

Sosok pejuang sejati yang memperjuangkan nasib kaum wanita seluruh Indonesia. Beliau berasal dari turunan ningrat, seorang wanita cerdas namun mempunyai nasib kurang beruntung. Di usia 12 tahun, Kartini terpaksa dikurung dan dijodohkan oleh sang ayah dan harus menikah dengan pria yang lebih tua darinya. Selama masa kurungan, Kartini banyak menulis dan karyanya selalu dikenang sepanjang masa.

Kita pada masa ini, tak boleh mengalah dengan keadaan, tak boleh menyerah dalam situasi yang sesulit apapun persoalan hidup kita. Sebagai wanita masa kini yang memiliki berbagai peran di segala bidang kehidupan, patut kita berterima kasih pada Ibu Kartini atas segala jasanya memperjuangkan hak kaum wanita Indonesia.

Banyak peran yang dilakonkan oleh kaum wanita sebagai ibu rumah tangga, petani, penjual sayur, guru, pegawai, polisi, anggota DPR, menteri bahkan presiden. Sebagai wanita, kita patut berbangga akan hal ini, karena telah mengambil bagian dalam pembangunan, istilah kerennya disebut emansipasi wanita.

Aku bangga padamu, hai Ibu Kartini . Ini kuucapkan dalam hati setelah aku tersadar telah berada di kantor Dinas PKO Kabupaten Flores Timur. Kutemui banyak kaumku yang menyapa para pegawai yang melintasi lorong-lorong kantor ini. Teringat dalam tas ada tersimpan beberapa lembar masker kain kiriman dari Kupang, dari seorang Kartini Zaman Now, Kaka An Kolin, seorang wanita cerdas, politisi sejati dan pejuang suara kaum terpinggirkan dan juga tentunya pejuang hak-hak perempuan dan anak.

Aku mendapat kiriman masker tadi pagi, dan langsung kubagikan kepada teman-teman kerja juga beberapa pedagang yang aku temui di pasar.

Kartini muda belia, jasamu tak kulupakan, meski kini kami pun dalam kurungan, terisolasi dan menjalani social distancing karena pandemik covid 19, namun kami tetap dan selalu menjadi Kartini sejati; menjalankan peran ganda sebagai istri dan sebagai wanita karier; menjalani tugas rumah tangga, melayani suami dan anak-anak termasuk rutinitas kami sebagai pencari nafkah membantu suami, sebagai guru, dosen, penjual ikan, pedagang, petani, penjual kue.

Ibu Penjual Ikan, Kartini di tengah Pamdemik Corona

Itulah kami, sesama kaummu yang telah merdeka menjalani berbagai profesi seturut bakat dan kemampuan kami. Kini, kami di rumah saja merayakan harimu bersama keluarga tercinta meski sunyi, tapi kami bahagia.

Kartini mudaku, biarlah kutulis lagi kutipan cerita inspirasimu bagi kaummu. Bahwa, hidup cuma sekali jangan disia-siakan:

Penyebab utama kejatuhan kita adalah diri kita sendiri. sikap kita sendiri yang membuat kita jatuh, jadi jangan salahkan orang lain.

Jangan mengeluh; Jangan suka mengeluh akan setiap kepahitan hidup.hadapi dengan senyum karena itu adalah cara Tuhan menguji imanku;

Teruslah bermimpi, Teruslah bermimpi dan raihlah citamu;

Berani mengambil keputusan dan menghadapi segala rintangan hidup,

Menjadi wanita cerdas dengan belajar tekun di rumah maupun di sekolah bahkan di mana dan kapan pun itu, Menghadapi kesulitan dengan tabah karena akan datang kebahagiaan sempurna;

Jangan menyerah, Jika ingin maju jangan menyerah, jangan biarkan penyesalan datang karena selangkah lagi kamu akan menang;

Harus mandiri, ”Adakah yang lebih hina daripada bergantung pada orang lain?”

Kehidupan akan berubah, Tiada awan di langit yang tetap selamanya, tiada mungkin akan terus menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita akan lahir pagi yang membawa keindahan. Itulah kehidupan manusia yang serupa dengan alam;

Angan-angan yang sempurna, Karena ada bunga yang mati, maka banyaklah buah yang tumbuh, karena ada angan-angan muda mati, kadang muncullah angan -angan lain yang lebih sempurna.

Terima Kasih Ibu Kartini, terima kasih Ibu An Kolin atas donasi masker bagi kami warga kota Larantuka. Mari kita bersama menjadi Kartini-Kartini Zaman Now, yang semakin tangguh menghadapi hidup yang penuh tantangan ini. Semoga. (*)

*/Penulis merupakan pegiat literasi dan pendidik di SD Inpres Waibalun Flores Timur

Awan Berarak di Tengah Pandemi

617 Views

Awan Berarak di Tengah Pandemi

Oleh Helmy Tukan, S.Pd

Awan berarak mengejar pelangi tadi sore. Angin meniup dedaunan hijau berhias titik-titik air hujan yang mengguyur basah desaku. Aku tediam menatap pelangi yang tampil mempesona di sela-sela awan kelabu meski samar terlihat namun indahnya mampu menenangkan kalbu yang dilanda kegalauan karena si Nona Corona Virus. Ah…entahlah, aku menyapanya Nona Corona.

Sebuah nama yang indah meski ia hanyalah virus yang mematikan. Hari -hari di awal April begitu merayu diri membelai jiwa pada April tahun kemarin. Namun, apa mau dikata dengan April tahun ini, amat sangat berbeda dan mungkin menjadi sebuah hal yang langka dan fenomenal.

Masa prapaskah yang sunyi semakin sepi ditemani cerita-cerita tentang Virus Corona, tak lagi kudengar cerita tentang ramainya Kota Larantuka menjelang perayaan Semana Santa. Tak lagi terdengar suara-suara orang di ujung kampung melakukan latihan kor perayaan-perayaan suci selama masa paskah, bahkan kini aroma kemenyan dalam Gereja tak lagi tercium, lilin-lilin duka Yesus pada Upacara Lamentasi tak kulihat lagi secara langsung.

Duka hati kian menusuk titik -titik air mati, kian mengaliri wajah sendu ini, dan kini, layar androidku menjadi altar Tuhan, dinding bambu rumahku menjadi tembok bangunan gereja kecilku, lilin kecil di rumah, bunga melati di halaman rumah menjadi penghias di altar kecil rumahku.

Layar hp android hasil keringat suami menjadi andalan bagi kami mengikuti perayaan demi perayaan selama masa-masa sulit ini. Aku terdiam menatap bisu sunyi alam desaku, Waibalun sebuah kampung unik di ujung Kota Reinha Larantuka, sebuah kampung yang masih memegang teguh adat budaya warisan leluhur dan aku bangga akan hal itu.

Kota Reinha di Larantuka Kabupaten Flores Timur, Foto Istimewa

Sore itu, kembali aku mengenang kisah masa kecilku bersama nenek tercinta yang kini telah tiada. Sang nenek merupakan salah satu tokoh adat di Waibalun yang sangat aku sayangi. Darinya aku belajar banyak hal; darinya aku belajar bagaimana menghormati dan menghargai sesama entah dia itu berlaku baik atau pun tak baik dan yang utama tentunya cinta kasih pada sesama.

Kembali aku teringat cerita nenek ketika beliau masih kecil di desa yang masih sangat terbelakang kala itu yang bernama Waibalun, Ya..kampungku tentunya. Masa kecil nenek dihiasi dengan berjuta peristiwa kelabu, masa yang lebih sulit dari masa kita kini tentunya. Untuk makan saja susah, sekolah apalagi juga kehidupan beragama pun dilarang, miris bukan? Itulah fakta yang terjadi kala itu. Namun, karena kegigihan sang buyutku, nenek akhirnya bisa bersekolah dan akirnya menjadi guru agama.

Masa-masa sulit dilalui nenek beserta keluarga, menyusuri pelosok Tanah Lamaholot mewartakan sabda Tuhan, banyak rintangan harus dihadapi, banyak kerikil tajam bahkan duri jalanan yang kian menganga, kadang nenek harus melakukan ajaran secara rahasia; kadang nenek dan seisi kampung harus menerima Komuni Kudus secara sembunyi-sembunyi. Tak jauh beda kah dengan hal yang kita alami sekarang?

Ketika itu, nenek bersama orang-orang di zamannya mengalami masa di mana iman mereka diuji dan pengorbanan harus mereka lakukan hanya untuk sebuah nama yaitu Tuhan Yesus. Ketika itu, sang nenek berusaha menanamkan benih iman ke hati setiap orang, nenek berusaha melakukannya di tengah sulitnya masa di mana para penjajah pun mengonyak-ngoyak Bumi Pertiwi Indonesia.

Nenek dan beberapa teman gurunya mencoba masuk ke dalam hati setiap orang dengan siraman rohani, mencoba merintis dan menyebarkan pengajaran Agama Katolik di kawasan Flores dan aku sangat bangga padanya. Messki nenek harus menanggung segala duka akibat pengajarannya itu, rumah nenek harus dibakar dan nenek beserta keluarga dikejar oleh penjajah di Tanah Lomblen atau yang sekarang bernama Pulau Lembata, dan itu fakta !

Rumah Adat Waibalun

Anganku melayang jauh, tetes air mata jatuh membayangkan wajah tuanya kala itu, dengan semangat nenek bercerita walau kadang tertatih kata demi kata ia ucapkan hanya untuk dapat didengar cucu tersayang. Aku pun membandingkan dua hal ini, cerita masa lalu nenek di saat menjadi guru agama, menyebarkan Agama Katolik di tanah Lamaholot dan kisah kita sekarang, di tengah badai Virus Corona; mampukah kita bertekun dalam doa bersabar dalam cobaan?

Mampukah kita mempertahankan iman yang telah diperjuangkan oleh pendahulu kita pada masa lalu, ataukah kita hanya mampu menjadi onak duri dan kerikil tajam bagi sesama. Mampukah kita menjadikan hati kita altar suci bagi Tuhan? Meski, harus kita jalani sosial distance bahkan mungkin lock down. Apakah kita sanggup menjadi pewarta sabdaNya? Menjalankan hukum cinta kasih bagi sesama yang terkena dampak mewabahnya virus corona, seperti si tukang ojek, para sopir, pedagang kecil di pasar ataupun buruh-buruh di pelabuhan .

Sanggupkah kita menjadi Dewa dan Dewi penolong bagi kaum lemah dan terpinggirkan?

Di akir tulisan ini, aku hanya mau menyampaikan bahwa sesulit apapun situasi hidup kita, seberat apapun salib yang kita pikul saat ini karena Virus Corona maupun karena masalah hidup lainnya, kita hanya berharap pada Tuhan. Masa kita kini adalah masa di mana iman kita akan selalu dicoba.

Yesus hanya mau memberi peringatan kepada kita tentang Makna Cinta kasih yang semakin hari semakin tidak kita jalani. Kita hanya mau mencintai diri kita saja tanpa memandang sesama sedangkan di sana banyak orang lemah yang kurang beruntung dari kita yang mungkin lebih takut akan rasa laparnya hari ini dan esok apakah dapat makan atau tidak hanya karena dampak dari sosial distancing dan kehilangan sumber pendapatan.

Mari bersama kita saling peduli dengan menjadikan hati kita Altar Tuhan yang sesungguhnya di rumah kita masing-masing, dengan demikian kita semakin memaknai Cinta Kasih di manapun, kapanpun, kepada siapapun entah itu sahabat maupun musuh.(*)

Waibalun, Jumat, 10 April 2020

Selamat Paskah, Tetap diam di rumah (stay at home)

*/ Penulis merupakan Guru dan Pegiat Literasi, Pengurus IGI Flotim dan Ketua PKBM Watogokok Waibalun, Flotim, NTT

Wisata Literasi IGI Flotim & Hasrat Menulis Siswa SMPS St. Antonius Padua

430 Views

Oleh Helmy Tukan, S.Pd.

Larantuka, Garda Indonesia | Terik Surya pada sisa hari ini tak sedikitpun melunturkan semangatku bersama teman-teman pengurus Ikatan Guru Indonesia (IGI) Flores Timur untuk terus menyusuri setiap jalan dan kelokan pada tubuh Tanah Lamaholot ini.

Sang Surya begitu angkuh meski ia tahu bahwa senja akan segera hadir untuk menjemputnya pulang, entah kemana akupun tak tahu yang kutahu hanyalah cerita usang tentang senja yang menjadi pembatas antara siang dan malam. Ya itulah alur hidup, selalu berotasi pada garis-garis yang sudah ditentukan oleh Sang Khalik.

Begitupun denganku, bersama teman-teman guru pegiat literasi menghentakkan jalanan dengan banyak tikungan dan tanjakkan. Melewati desa dan dusun keluar dari pusat kotaku, Larantuka. Aku begitu bersemangat meski banyak juga aktivitas harianku ketika IGI memanggil tak sedikitpun ada kata penolakan.

Sore itu tepatnya Jumat, 30 Agustus 2019, IGI Flores Timur mengadakan kegiatan literasi di Desa Leworahang tepatnya di SMPS St. Antonius Padua, sebuah sekolah swasta di desa yang sunyi di pelosok tanah Flores Timur.

Salah satu sekolah yang cukup diunggulkan di Kecamatan Lewoleba Kabupaten Flores Timur. Aku bersama teman, Pa Frans Berek,M.Pd. selaku Ketua IGI Flores Timur dan Pa Paul Tukan,M.Pd. yang juga pengurus IGI Flores Timur.

Abdul Malik, pegiat literasi budaya dan siswa-siswi SMPS St. Antonius Padua

Kegiatan wisata literasi kali ini cukup istimewa karena dihadiri salah seorang peserta Seniman Mengajar Indonesia 2019 dari Kemendikbud yaitu Pa Abdul Malik seorang pegiat literasi budaya. Beliau merupakan penulis aktif di media cetak Tempo, beliau juga seorang penulis budaya yang sangat aktif di bidangnya.

Kehadiran mereka di Flores Timur dengan tujuan utama untuk memberikan penguatan kepada para pemegang peranan penting dalam Festival Budaya Lamaholot (Nubun Tawa) bersama beberapa rekannya. Pa Malik begitu bersemangat menggali kembali budaya Lamaholot yang mungkin akan punah jika tidak dilestarikan.

Kehadiran Pa Malik begitu memberikan semangat yang luar biasa bagi kami. Sebagai pengurus IGI dan juga tentunya bagi anak-anak Sekolah SMPS Antonius, dalam waktu 1 jam, anak-anak sudah menghasilkan karya tulis berupa puisi dan cerpen yang merupakan ruangan kisah kasih pengalaman mereka bersama alam dan bersama orang-orang sekitar mereka.

Aku begitu bangga, salut pada semangat anak-anak ini, tak perlu banyak berteori tentang tulis menulis, cukup give big spirit for us.

Tidak perlu berpikir yang susah-susah, tulislah apa yang kau alami, apa yang pernah kau rasakan. Tarikan penamu di kertas itu, entah apa jadinya nanti yang penting kamu bisa tuangkan segala rasamu.

Pa Malik memberikan banyak pengetahuan dan informasi seputar literasi. Beliau ingin agar kabupaten ini benar-benar menjadi Kabupaten literasi, tidak hanya diatas kertas namun harus dibuktikan melalui aksi nyata. Beliau sangat salut dengan para Guru di SMPS St Antonius yang telah menjadikan sekolahnya sebuah sekolah yang cinta akan budaya literasi.

Ini dibuktikan dengan adanya majalah dinding kelas dan majalah dinding sekolah. Tulisan karya anak yang luar biasa dan pantas diapresiasi. Segala gerak laku siswa-siswi yang menunjukkan anak yang tahu budaya sopan santun. Di akhir kegiatan Pa Malik mengajak Sekolah dan IGI Flores Timur untuk membangun kerjasama yang lebih lanjut. Sekembalinya Pa Malik ke Kota Malang.

Terimakasih Pa Malik, atas kerelaan bisa bersama kami di SMPS St Antonius Padua, terima kasih juga Pa, atas kepercayaan Bapa, menjadikan buku-buku karya guru dan siswa-siswi Flores Timur dalam membuat laporan kegiatan Bapa sebagai seniman mengajar di kabupaten kami.

Terima kasih juga Romo Kepala Sekolah SMPS St Antonius Padua,Rm Yohanes Don Bosco Tokan, Pr.  Semoga di bulan Oktober nanti, IGI Flotim sudah dapat membantu menerbitkan buku karya siswa-siswi sekolah ini.

Share and growing together, IGI Flores Timur. Bisa! (*)

Penulis (*/Guru dan Pegiat Literasi di Flores Timur)
Editor (+rony banase)