Arsip Tag: kabupaten sabu raijua

Pemda Sabu Raijua & Bank NTT Bantu Warga Korban Badai Seroja

175 Views

Sabu Raijua-NTT, Garda Indonesia | Penjabat Bupati Sabu Raijua, Doris Rihi bersama Ketua DPRD, Kapolres, Danramil, Sekda dan Pimpinan Bank NTT, Sabu Raijua bersama rombongan menyerahkan bantuan Bank NTT berupa Seng sebanyak 1. 500 lembar, paku seng 50 kg kepada warga di 6 (enam) kecamatan terdampak Badai Seroja yakni di Kecamatan Sabu Barat, Sabu Tengah, Sabu Timur, Sabu Liae, Hawu Mehara, dan Raijua.

Kepada Garda Indonesia, Penjabat Bupati Sabu Raijua Doris Rihi mengungkapkan, Pemda Sabu Raijua menyerahkan bantuan beras sebanyak 5,5 ton kepada 487 KK atau 1.984 jiwa di Desa Ledeke, Kecamatan Sabu Liae dan Desa Gurimonearu, Kecamatan Hawu Mehara

“Bantuan beras akan dilanjutkan besok (Selasa, 13 April 2021, red) dan seterusnya untuk membantu warga yang terdampak bencana,” tandas Doris Rihi.

Penjabat Bupati Sabu Raijua, Doris Rihi (tengah berbaju putih) bersama warga Sabu Raijua terdampak Badai Seroja

Sementara itu, Selain bantuan di Sabu Raijua, Bank NTT juga telah menyerahkan bantuan di beberapa kabupaten yakni Kabupaten Kupang, Kota Kupang, Malaka, Sumba Timur, dan kabupaten terdampak lainnya.

Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho kepada Garda Indonesia pada Sabtu malam, 10 April 2021, menyampaikan Bank NTT beserta partisipan berbagi kasih dengan para pengungsi korban Badai Seroja di Kota Kupang. “Kami, Bank NTT bersama partisipan mengelilingi semua posko dan memberikan bantuan kepada warga terdampak termasuk para mahasiswa,” ujarnya.

Alex pun menyampaikan Bank NTT telah mendirikan Dapur Umum di Jalan El Tari Kupang untuk membantu masyarakat Kota Kupang yang terdampak Badai Seroja.

Penulis dan Editor (+roni banase)

Foto (*/koleksi pribadi)

Ikan Paus Terdampar di Pulau Sabu, Penyebab & Jadi Objek Wisata Dadakan

418 Views

Oleh Yumi Ke Lele 

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Hari ini Kamis, 10-10-2019 laman facebook saya dipenuhi oleh 2 (dua) peristiwa yang menurut saya penting, yang terjadi di negara Indonesia tercinta. Peristiwa rencana penikaman terhadap seorang Jenderal penjaga NKRI dan peristiwa terdamparnya sekelompok Ikan Paus di Pantai Kolouju, Desa Menia, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Tetapi karena saya sadar, saya hanyalah seorang kaum minoritas, tidak punya pengaruh apa-apa, dan juga buta tentang hukum, maka saya tidak ingin berkomentar tentang rencana penikaman.

Yang bisa saya lakukan hanyalah mendoakan Bapak Presiden Joko Widodo sebagai pucuk pimpinan NKRI, agar diberi kekuatan, kesehatan dan kebijaksanaan dalam memimpin negara demi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang damai sejahtera.

Saya tertarik, dengan peristiwa langka yang terjadi di Kabupaten Sabu Raijua, yang sangat jarang terjadi. Di mana hari ini, ada sekelompok ekor ikan Paus berjumlah 17 ekor, yang terdampar. 10 ekor, bisa diselamatkan warga dengan mendorong kembali ke laut, sedangkan 7 ekor tidak bisa diselamatkan.

Beberapa foto saya ambil dari beberapa teman yang menyebarkannya, baik lewat Whatsapp maupun facebook. Ada banyak komentar terkait penyebab terdamparnya sekelompok ikan paus ini. Dan diantara banyaknya komentar tersebut, ada yang sangat disayangkan, karena menurut saya sangat tidak masuk akal.

Paus Terdampar di Pantai Kolouju

Karena rasa penasaran saya, saya pun mencari tahu pada beberapa artikel Daring (online) terkait penyebab Lumba-Lumba dan Paus terdampar.

Dan inilah beberapa alasan yang saya temukan :

Pertama, Sakit atau Terluka
Mungkin ikan itu sedang diburu oleh predator ataupun sedang berkelahi, sehingga ketika ikan ini kalah mereka akan berlindung mencari tempat yang aman yaitu menuju pesisir dengan kondisi tempat yang dangkal. Kemudian ikan paus/hiu atau lumba-lumba terseret arus serta ditambah dengan surutnya air laut kemudian mereka terdampar.

Kedua, Ditinggal Gerombolan
Ditinggal oleh gerombolan sehingga mereka sendirian. Biasanya pada ikan lumba – lumba. Tetapi jika paus, sering terdampar secara gerombolan. Hewan yang sering terdampar secara masal adalah tipikal hewan yang memiliki pemimpin dalam kelompoknya dan memiliki ikatan sosial juga kesetiaan yang tinggi. Paus pilot adalah contohnya. Inilah kenapa paus pilot lebih sering terdampar dari pada hewan laut lainnya.

Biasanya alasan mereka terdampar karena pemimpin kelompok telah membuat kesalahan navigasi. Atau karena salah satu dari mereka sakit maupun terluka kemudian mencari perairan yang lebih dangkal sehingga lebih mudah bernafas ke permukaan dan membuat yang lainnya untuk mengikutinya. Melihat ciri paus yang terdampar di sabu, cirinya seperti Paus Pilot, yang sering diburu.

Ketiga, Sistem Navigasi Paus Terganggu
Hewan laut seperti paus dan lumba-lumba memiliki sistem navigasinya sendiri sebagai penunjuk arah. Ketika penunjuk arah ini mengalami gangguan atau tidak berfungsi, ini menyebabkan kesalahan navigasi dan pada akhirnya membuat mereka sampai ke perairan dangkal dan terdampar di pantai.

Gangguan navigasi ini disebabkan oleh beberapa hal. Efek sonar adalah hal umum penyebab dari gangguan ini. Penggunaan gelombang suara berfrekuensi tinggi yang dipancarkan di dalam laut untuk mencari kapal selam atau benda-benda lain yang tidak kelihatan oleh Angkatan Laut, mengakibatkan kerusakan pada otak dan sistem pendengaran paus dan lumba-lumba.

Keempat, Gejala alam
Gejala Alam ini bisa karena Gempa bumi akibat gunung meletus, sehingga terjadi aktivitas seismik bawah laut (Gempa bawah laut) atau undersea quake. Hewan laut juga memiliki insting seperti hewan darat, ketika akan terjadi sesuatu yang bahaya mereka akan mencari tempat aman untuk berlindung.

Kelima, Oksigen Menipis
Oksigen bawah laut yang rendah bisa jadi pemicu karena oksigen adalah sumber udara bersih untuk makhluk hidup. Penyebab dari oksigen rendah karena kenaikan suhu bawah air laut sehingga kualitas air yang terangkat memiliki oksigen rendah.

Keenam, Kondisi perairan, ada perubahan secara kimiawi maupun fisik, kemudian bisa saja dia mencari tempat yang lebih aman jadi terdampar. Pencemaran laut, perubahan suhu didasar laut dll, dapat menyebabkan paus/lumba – lumba terdampar.

Peristiwa terdamparnya 17 ekor paus ini, membuat Pantai Kolouju, seketika menjadi ramai. Karena begitu banyak saudara-saudara dan teman – teman saya, yang ingin menyaksikannya. Saya bersyukur, semua punya rasa belas kasihan yang tinggi, sehingga melakukan upaya penyelamatan paus dengan cara mendorong Paus yang terdampar ke laut. Meskipun upaya tersebut, berhasil dilakukan pada 10 ekor saja. Sedangkan 7 ekor lainnya mati.

Kita tidak tahu persis, apa alasan terdamparnya 17 ekor ikan paus ini?. Apakah merupakan gejala alam sebagai tanda akan terjadinya bencana alam atau karena faktor apa? Saya berharap, terdamparnya Paus ini, adalah karena salah satu mengalami gangguan navigasi, sedangkan lainnya ikut terdampar karena faktor kesetiaan terhadap kawan.

Dan ada hal menarik yang sangat berarti bagi saya, di mana Ikan Paus yang merupakan kelompok hewan mamalia air saja, bisa punya sifat kesetiaan yang tinggi terhadap kelompoknya.

Tetapi sayang sekali, kita manusia. Yang katanya makhluk sosial, makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna karena diberi hikmat dan kebijaksanaan, justru sering kali tidak punya sifat kesetiaan seperti kelompok ikan Paus. Justru sering kita temui di mana saling menjual antar teman, saling menjatuhkan antar teman hanya untuk kesenangan pribadi.

Marilah kita belajar pada Paus. Kita tiru semangat kesetiaannya. Masa Paus saja, bisa setia, kita manusia tidak. Tugas kita semua, marilah kita mendoakan NKRI tercinta, khususnya NTT terlebih khusus Pulau Sabu tercinta agar diluputkan dari bencana. (*)

Penulis merupakan salah satu ASN di Pemkot Kupang
Editor (+rony banase)

Wisatawan Mancanegara & Domestik Kagum Pesona Kelabba Maja

414 Views

Sabu Raijua-NTT, Garda Indonesia | Pesona Kelabba Maja, obyek wisata di Kecamatan Mesara Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengusik perhatian dunia melalui pagelaran even Festival Jelajah Pesona Kelabba Maja yang dihelat pada 9—12 September 2019.

Tak hanya penduduk asli Sabu Raijua, wisatawan domestik dan mancanegara turut mengambil bagian menyaksikan pesona Kelabba Maja yang dipercaya oleh masyarakat Sabu sebagai tempat bersemayam para dewa dan tempat pemujaan bagi penganut aliran kepercayaan.

3 (tiga) batu mazbah utama di Kelabba Maja Sabu Raijua

Sepintas pengamatan Garda Indonesia saat berada di lokasi, terdapat 3 (tiga) buah mazbah (*meja tinggi dari kayu, batu; dan sebagainya tempat mempersembahkan kurban, KBBI V versi Luring), seperti yang masih dilakukan oleh penganut aliran kepercayaan Jingitiu (*Sumber https://saburaijuakab.go.id/halaman/agama) ; yang mana beberapa norma kepercayaan asli masih tetap dipertahankan, antara lain penggunaan kalender adat saat menentukan waktu bertanam dan waktu yang tepat untuk melaksanakan upacara. Selain itu, beberapa masyarakat juga masih menerapkan ketentuan hidup adat atau Uku yang konon dipercaya mengatur seluruh kehidupan manusia dan berasal dari leluhur mereka.

Wisatawan Domestik asal Ternate, Deby Coralia Toni (24 tahun)

Seorang wisatawan domestik asal Ternate, Deby Coralia Toni (24 tahun) menyampaikan bahwa NTT sangat cantik dan memperoleh informasi dari teman tentang Festival Kelabba Maja.

“Saya penasaran dan ingin melihat langsung karena saya suka eksplorasi tempat wisata yang belum banyak orang tahu dan saya suka jalan di NTT,” ujar Alumni Universitas Khairun Ternate tahun 2018.

Penyuka traveling ini juga mengatakan akan membuat sebuah video tentang keindahan Sabu Raijua dan membagikan ke chanel youtube dan instagram miliknya.

Selain itu, Deby juga menyampaikan niat untuk mengunjungi Pulau Raijua namun tidak terdapat dalam jadwal (schedule) Festival Jelajah Pesona Kelabba Maja.

Berbeda dengan wisatawan mancanegara asal Perancis, Juliette yang mengunjungi Kelabba Maja bersama suami dan anaknya, Guillaume, Jo dan Elodie. Kepada media ini Juliette mengatakan bahwa suaminya seorang koki (chef) yang sering berkunjung ke Sabu menggunakan perahu layar (sail boat) dari Perancis.

“Kami sekeluarga menggunakan perahu layar dari Perancis, ke Australia kemudian ke Indonesia, Sabu Raijua,” ujarnya pada Kamis, 12 September 2019

“Kami sangat beruntung bisa mengikuti Festival Pesona Jelajah Kelabba dan kami akan menulis tentang pengalaman terbaik kami di sini dan menulis tentang Sabu Raijua di portal berita (website) di http://www.travelthe7seas.com, “ tandas Juliette.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Tarian Sabu Raijua Guncang Norwegia, Warga Oslo Turut Menari

800 Views

Oslo-Norwegia, Garda Indonesia | Penari Sabu Raijua yang menjadi Duta Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam Festival Indonesia di Norwegia; menampilkan 4 (empat) tarian pada even Wonderful Indonesia yang dihelat oleh KBRI Oslo di Norwegia pada 28—30 Juni 2019.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2019/06/24/sabu-raijua-wakil-ntt-dalam-even-wonderful-indonesia-di-oslo-norwegia/

14 penari Sabu Raijua menampilkan 3 (tiga) tarian pada pementasan hari pertama, Sabtu, 29 Juni 2019 di Ajang Festival Indonesia. 3 tarian tersebut yakni Tari Pado’a (Tarian Massal), Tari Ledo Hawu (Tarian Anak Muda), dan Tari Pegodo Aru (Tarian Anak Lesung atau Alu Panjang yang diganti bambu panjang)

Warga Oslo Norwegia larut dalam euforia Tari Ledo Hawu (Tarian Anak Muda)

Kondisi dan suasana saat pementasan Tarian asal Sabu Raijua saat Ajang Festival Indonesia di Oslo Norwegia disampaikan oleh salah satu penari yakni Bebbye Meilany Miha Balo kepada Garda Indonesia (Minggu, 30 Juni 2019 pukul 08:55 waktu Oslo atau pukul 14:54 WITA).

Berikut ini petikan wawancara melalui pesan Whatsapp antara Garda Indonesia dan Beby (panggilan akrab dari Bebbye Meilany Miha Balo), Pelajar SMA Negeri 1 Sabu Timur yang termasuk dalam Tim Kesenian dan Budaya Sabu Raijua :

[30/6 14:54] Garda Indonesia : Sekarang, disitu pukul berapa ?

[30/6 14:55] Beby: 08:55 k

[30/6 14:59] Garda Indonesia: Matahari terbit pukul berapa?

[30/6 14:59] Beby: 03:00 k

[30/6 15:00] Garda Indonesia : Tim Kesenian dan Budaya Sabu Raijua sudah menampilkan tarian apa saja?

[30/6 15:01] Beby: Tari Ledo, Pado’a, Pedogo Aru k (pada Sabtu, 29 Juni 2019). Hari ini, (Minggu, 30 Juni 2019) Kami tampilkan Tarian Haba Ko’o Rai

[30/6 15:01] Garda Indonesia : Bagaimana tanggapan masyarakat Oslo terhadap 3 tarian tersebut?

[30/6 15:03] Beby: Mereka senang k. Dan mereka pun ikut terlibat dalam tarian yang sudah kami tampilkan

[30/6 15:03] Beby: Saat tersebut sangat heboh . Banyak orang yang menonton saat kami pentas

[30/6 15:03] Garda Indonesia : Masyarakat Oslo ikut menari atau minta diajarkan Tarian Sabu?

[30/6 15:03] Beby: Ia k. Ada k. Mereka ikut

[30/6 15:04] Beby: K bisa dilanjutkan sebentar? Kami mau ke tempat pentas.

[30/6 15:04] Garda Indonesia : Ada foto-foto saat mereka ikut menari ? (Sambil mengirim 76 foto saat pentas, Beby pun berlalu menuju ke lokasi pentas hari kedua).

Remaja Oslo Norwegia berinteraksi dan larut dalam Tari Pegodo Aru (Tarian Anak Lesung atau Alu Panjang yang diganti bambu panjang)

Untuk diketahui, KBRI Oslo menyelenggarakan Festival Indonesia 2019, Pameran Budaya, Perdagangan, dan Pariwisata dengan mengusung tema, ‘Wonderful Indonesia, A Land of Diversity’ dilaksanakan dan dirangkai dengan penampilan kesenian budaya dari perwakilan pemerintah daerah yang diundang oleh KBRI Oslo, Seminar dan Pertemuan Bisnis pada 28 Juni 2019.

Rangkaian kegiatan tersebut merupakan bagian dari Sustainable Soft Diplomacy atau promosi terpadu ekonomi, budaya dan pariwisata dalam bentuk festival tahunan yang dihelat pertama kali oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Oslo di Norwegia.

Penulis dan editor (+rony banase)