Arsip Tag: kapolda metro jaya

Kalahnya Perusuh di Tangan Komandan yang Teguh

350 Views

Oleh: Rudi S Kamri

Sehari sebelum Aksi 1812 FPI, saya mengirim teks via whatsapp kepada Komandan Aparat Keamanan Jakarta: “Untuk antisipasi demo besok, apa yang akan dilakukan, Jenderal?”, tanya saya

Jenderal yang satu langsung merespons: “Siap, kami sudah antisipasi semua yang akan terjadi, Mas Rudi,” tegasnya.

Selang beberapa saat Jenderal yang satu lagi membalas whatsapp saya: “Kami akan laksanakan ops kemanusiaan dan ops penegakkan hukum pelanggar protokol kesehatan, Mas,” ujarnya.

Setelah menerima dua teks di atas saya langsung tidur pulas. Tanpa rasa khawatir sedikit pun. Meskipun saya tidak tahu apa yang dilakukan oleh kedua Jenderal hebat itu, saya sangat percaya beliau berdua akan melakukan yang terbaik untuk bangsa ini.

Dan ternyata dugaan saya terbukti. Demonstrasi yang digembar-gemborkan akan lebih besar dari aksi 212 empat tahun lalu, ternyata gagal total. Pasukan perusuh yang sudah dipersiapkan oleh panitia dibuat kocar-kacir oleh strategi jitu aparat Polda Metro Jaya yang di-back-up penuh aparat Kodam Jaya.

Mereka dibuat layu sebelum masuk Jakarta. Strategi mereka berantakan. Mereka dilucuti tak berdaya. Kegiatan wajib rapid test dan yang terbukti positif Covid-19 langsung ke Wisma Atlet Kemayoran Jakarta, membuat mereka lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Yang terjadi kerumunan massa yang bisa mencapai seberang Istana Negara hanya beberapa gelintir. Mereka pun seperti orang gagu, teriak tanpa suara karena mobil komando yang akan digunakan orasi diamankan oleh Petugas Keamanan.

Kehadiran Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mohammad Fadil Imran di tengah-tengah prajurit Polri dan TNI mengangkat moral aparat keamanan di lapangan. Suara tegas keras Sang Kapolda, membuat para perusuh pendukung Rizieq Shihab ciut nyali dan akhirnya membubarkan diri. Tidak sampai sore, para perusuh sudah hilang menyelamatkan diri.

Ini langkah tegas dan cerdas Kapolda Metro Jaya dan Pangdam Jaya. Negara seolah hadir kembali di tangan sang komandan yang tegas bersuara dan bersikap. Sedangkan panglima dan para pentolan FPI lenyap tidak berani kelihatan batang hidungnya. Mereka hanya berani berkoar-koar di media milik mereka, tapi membiarkan pasukan unyil di lapangan hilang kendali ambyar terpencar-pencar.

Akhirnya Aksi 1812 tidak bisa beraksi. Ini kekalahan telak agitator FPI dan PA 212. Mereka bertekuk lutut di bawah kaki sang komandan aparat negara yang tegas dan berwibawa. Meskipun ada korban luka dari pihak Polri, hal ini justru membuat belang FPI terbongkar. Ujaran mereka bahwa pasukan unyil FPI tidak bersenjata tajam dan hanya bertangan kosong ternyata hanya bohong. Kebohongan yang terbongkar karena kebodohan.

Selamat atas kerja keras dan cerdas Kapolda Metro Jaya dan Pangdam Jaya serta jajarannya. Terima kasih tak terhingga karena telah menjaga marwah negara dan menciptakan rasa aman dan rasa tidak terancam bagi semua anak bangsa khususnya yang tinggal di Jakarta.

Ke mana Sang Gubernur?  Paparan corona bisa digunakan alasan untuk bersembunyi. Jadi, sedang isolasi mandiri atau melarikan diri, Pak Gub?

Lalu Sang Dalang pun kehilangan peluang

Foto utama (*/beritasatu.com )

Sahabatku Dari Bandung, Kang Dudung

184 Views

Oleh: Rudi S Kamri

Rabu, 16 Desember 2020, saya berkesempatan bertemu Dharmawangsa-1 alias Panglima Kodam Jayakarta, Mayjen TNI Dudung Abdurrachman. Saat masuk di ruang tamunya, beliau sudah menunggu. Beliau menyapa saya dengan sangat ramah seolah kami sahabat lama, padahal ini perjumpaan pertama kami berdua.

“Saya selalu melihat penampilan Mas Rudi di Kanal Anak Bangsa TV dan selalu membaca tulisan Mas Rudi. Keren dan sangat mengedukasi masyarakat,” kata beliau membuka percakapan sambil mengacungkan jempol.

Jujur saya tersanjung dan tersipu. Apalah saya ini, sehingga tulisan dan opini saya sempat dinikmati seorang Pangdam yang paling populer se-Indonesia Raya saat ini. Lalu laiknya kawan akrab, kami mengobrol seru. Beliau bercerita tentang isu aktual yang terjadi sebulan terakhir. Mulai dari perintahnya membabat habis semua baliho di seluruh Jakarta, sampai dukungan penuh kepada Polri khususnya Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Fadil Imran yang selalu memanggilnya dengan sebutan ‘abang’.

Semua diceritakan dengan mata berbinar- binar penuh semangat plus dengan body language yang dinamis.

“Mas Rudi, Panglima Besar Jenderal Sudirman memimpin gerilya melawan tentara Belanda saat umur beliau 34 tahun, masak saya tentara umur sudah 55 tahun, nurunin baliho aja gak berani,” ujarnya dengan serius.

Saya bilang kepada beliau:
“Tahu gak Mas Jenderal, keberanian Mas Jenderal menurunkan baliho MRS, disambut suka cita seluruh masyarakat Indonesia khususnya Jakarta. Kami merasa negara kembali hadir setelah selama empat hari (10—14 November 2020) kami merasa kehilangan eksistensi negara dan hal itu secara psikologis mengangkat moral kami untuk kembali semangat menjaga NKRI,” ujar saya.

Beliau takzim mendengar

“Negara tidak boleh kalah sama ormas radikal, Mas Rudi. Memang dia siapa berani mengacak-acak peraturan negara? Memang dia siapa, merasa bebas melecehkan Presiden, TNI dan Polri serta seenaknya mengancam orang? Saya akan babat habis siapa pun yang memecahbelah bangsa ini,” ujarnya tegas sambil memperlihatkan beberapa video ujaran kasar MRS.

“Gak khawatir dianggap terlalu berani, Mas Jenderal?” tanya saya menggoda.

“Lah Mas Rudi aja berani mengecam dia, apalagi saya tentara,” ujarnya sambil tertawa.

“Saya hanya taat pada perintah pimpinan saya dalam hal ini, KSAD, Panglima TNI dan Presiden, Mas. Selama usaha saya menjaga keamanan Jakarta direstui atasan saya, saya akan terus hajar siapa saja yang mengganggu kebinekaan Indonesia, Pancasila dan NKRI,” tegasnya dengan berapi-api.

Itulah sekilas pembicaraan saya dengan sahabat baru saya Pangdam Jaya, Mayjen TNI Dudung Abdurrachman. Tidak semua pembicaraan saya dengan beliau bisa saya tulis di sini untuk konsumsi publik. Karena menyangkut strategi dan rencana aksi untuk melawan radikalisme dan intoleransi. Tapi jujur, saya menjadi sangat bangga punya pelindung NKRI seperti Mas Jenderal Dudung.

Beliau juga bercerita tentang masa kecil dan remaja yang penuh perjuangan saat menjadi tulang punggung keluarga setelah ditinggal wafat ayahanda di usia 12 tahun. Beliau harus berjualan klepon dan menjadi loper koran di Bandung sebelum berangkat ke sekolah.

“Dari pengalaman masa kecil yang penuh perjuangan itu membuat saya tergerak ingin selalu mengabdi untuk melindungi masyarakat dengan sebaik-baiknya,” pungkas Jenderal kelahiran Bandung, 19 November 1965.

Saya tertegun. “Mas Jenderal, kiprah panjenengan, menginspirasi dan mempersatukan semangat kami rakyat sipil untuk berani bersuara melawan kelompok ormas radikal yang berlindung di balik jubah agama. Dan jujur keberanian Mas Jenderal saya rasa juga memompa semangat Kapolda Metro Jaya untuk berani tegas menegakkan marwah hukum. Jadi tugas Kapolda Metro Jaya akan lebih mudah, karena didukung penuh Pangdam Jaya,” ujar saya.

“Siap Mas Rudi, saya hanya menjalankan amanah yang diberikan pimpinan kepada saya. Tapi tetap terus dibantu dengan narasi dan opini Mas Rudi ya,” kata beliau.

Siap Mas Jenderal. Selanjutnya saya dipamer video suara emas beliau saat bernyanyi. Suaranya sangat bagus dan kebetulan kami punya penyanyi favorit yang sama: Didik Kempot. Kapan-kapan kita harus nyanyi bareng Mas Jenderal, lagu “Pamer Bojo”. Dan akan lebih afdal kalau nanti saya sudah ketemu bojo yang bisa saya pamerin. Beliau tertawa tergelak…..

Pertemuan kami cukup singkat, karena beliau sudah ditunggu Kapolda Metro Jaya di ruang tamu bawah. Kami berpisah untuk segera bertemu lagi untuk wawancara lebih panjang melalui channel TV Youtube saya Kanal Anak Bangsa.

Selamat bertugas Mas Jenderal, Gusti Allah selalu menjaga dan melindungimu.(*)